Senin, 27 Juli 2015

Jagalah Hati

Restoran siap saji di Thailand membuat blunder di Facebook. Saat gempa di sekitar Aceh pada tanggal 12 April 2012, yang memicu peringatan tsunami, restoran ini mengirim pesan agar masyarakat bergegas ke rumah untuk memantau berita dan memesan satu kotak menu ayam goreng.

Ketika warga Negeri Gajah Putih itu diminta menjauhi kawasan pantai, restoran ini menulis pesan di Facebook resmi mereka: “Ayo lekas pulang dan mengikuti berita soal gempa. Dan jangan lupa memesan menu favorit Anda.”

Akibat pesan itu, restoran berlogo seorang kolonel ini diterjang ‘tsunami’ kecaman. Masyarakat menuding restoran ini tidak peka dan egois.
 Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang. (Matius 15:11)

Yesus mengecam perilaku orang Farisi dan ahli Taurat yang munafik. Mereka sangat teguh menjalankan perintah agama dan mematuhi hukum Taurat. Akan tetapi hati mereka sebanarnya jauh dari Tuhan. Mereka dengan patuh menolak makanan yang dianggap najis, tapi hati mereka sebenarnya telah menajiskan dirinya sendiri.

Inilah yang dikecam oleh Tuhan Yesus. Hati mereka dipenuhi dengan kedengkian, sehingga perkataan yang keluar dari mulut mereka bagaikan pisau tajam  yang menyayat hati orang lain.

Kita pun bisa terpeleset seperti yang dialami oleh restoran siap saji itu. Karena itu hendaknya kita selalu memelihara hati kita tetap murni, sehingga kata-kata yang meluap dari hati kita adalah kata-kata yang menghibur, membangun dan memberi pengharapan pada orang lain [purnawan].

 

SMS from God: Jagalah hatimu supaya tidak menjadi najis. Berilah telinga kepada bisikan Roh Kudus.
Read More

Minggu, 26 Juli 2015

Rahasia

Robert Louis Stevenson menulis, “Kebohongan yang paling kejam itu adalah kebohongan yang dikatakan dengan diam-diam.” Pada zaman dengan teknologi komunikasi yang canggih ini mudah sekali membuat rumor atau informasi bohong. Saya sering menemukan informasi palsu yang beredar luas secara diam-dial melalui SMS, email atau broadcast di blackberry message. Kadang informasi itu merugikan pihak tertentu, namun yang bersangkutan tidak dapat membantah atau memberikan penjelasan yang benar karena semuanya bersifat diam-diam.
“Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan tersingkap.” (Markus 4:22)

Berbicara secara langsung adalah kebiasaan baik yang perlu dipupuk dalam pernikahan. Jika kita masih membicarakan orang lain secara diam-diam, maka ada kemungkinan terjadi distorsi komunikasi karena ada sebagian dari kebenaran yang sengaja disimpan sebagai rahasia. Akibatnya, pihak lain kemudian menafsirkan, menghubung-hubungkan dan membuat kesimpulan yang  justru bertolak belakang dengan kebenaran.

Pada kasus tertentu, terlalu lugas berbicara memang dapat mengganggu relasi yang baik. Akan tetapi terlalu banyak menyimpan rahasia juga tidak baik. Nats hari ini menyatakan bahwa pada akhirnya nanti semua rahasia akan disingkapkan. Tidak akan ada misteri yang terselubung. Untuk itulah sebaiknya kita mulai jujur dan mengungkapkan rahasia kita di depan Allah. Tuhan tidak pernah mengkhianati kita dengan menggosipkan rahasia pribadi kita. Dia dapat dipercaya. Demikian juga hendaknya kita juga bisa menjaga kepercayaan ketika orang lain, terutama pasangan kita, menceritakan rahasianya.

SMS from God: Hidup yang terbuka di depan Allah dan pasangan kita adalah kunci untuk hidup yang tenteram
Read More

CLBK

Pernah dengar CLBK? Itu singkatan dari “Cinta Lama Bersemi Kembali.” Fenomena ini marak akhir-akhir ini seiring dengan semakin banyaknya pengguna media sosial lewat internet. Dengan fasilitas teknologi informasi, si pengguna dapat menemukan kembali teman-temannya yang sudah puluhan tahun berpisah. Termasuk di antaranya berhubungan kembali dengan orang yang pernah menjadi teman istimewa di masa lalu. Maka cinta lama yang sudah pupus itu bersemi kembali. Akibatnya, hal ini mengguncang kehidupan pernikahan karena pasangannya menjadi cemburu.

Kecemburuan dalam pernikahan ternyata setua dengan umur peradaban manusia. Pada zaman Musa bahkan ada peraturan yang harus dilakukan jika seorang suami merasa cemburu pada isterinya. Bagaimana caranya supaya tidak muncul fenomena CLBK?

Kita harus selalu mendoakan kehidupan pernikahan kita. Tidak seorang pun orang yang kebal terhadap godaan dosa perzinahan. Bahkan seorang pendeta pun bisa terjerat ke dalamnya. Dengan menyadari hal ini, maka kita sudah membangun benteng pertahanan.

Setelah itu, kita perlu menjalin komunikasi yang terbuka dengan pasangan kita. Kita perlu membuka pintu sehingga pasangan kita mengenal kehidupan pribadi kita. Misalnya dengan memberikan akses kepada pasangan kita untuk membaca SMS yang ada di HP kita, memberikan password kepada pasangan kita untuk mengecek email atau akun media sosial kita. Dengan demikian, kita sedang mencegah diri sendiri agar tidak bertindak sembunyi-sembunyi. Pasangan kita pun terhindar dari kecemburuan karena mengetahui setiap saat dapat mengecek kehidupan pribadi kita [Purnawan].
“Maka haruslah orang itu membawa isterinya kepada imam. Dan orang itu harus membawa persembahan karena perempuan itu sebanyak sepersepuluh efa tepung jelai, yang ke atasnya tidak dituangkannya minyak dan yang tidak dibubuhinya kemenyan, karena korban itu ialah korban sajian cemburuan, suatu korban peringatan yang mengingatkan kepada kedurjanaan.” (Bilangan 5:15)

SMS from God: Hati-hati dalam menggunakan alat komunikasi. Jangan sampai Anda membuat Anda tidak setia lagi pada pasangan Anda.
Read More

Jumat, 24 Juli 2015

Persembahan dalam Pernikahan

“Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik.” (Mikha 6:8)

Dalam bacaan ini, Allah merasa muak dengan semua bentuk pengorbanan yang diberikan oleh bangsa Israel. Mereka melakukannya bukan sebagai bentuk cinta kepada Allah, melainkan sebagai semacam penyuapan agar Allah tidak memurkai mereka. Nabi Mikha mengatakan bahwa Allah tidak berkenan dengan “ribuan domba jantan” dan “puluhan ribu curahan minyak.”

Daripada menerima persembahan berupa benda-benda tersebut, Allah lebih berkenan menerima persembahan berupa perbuatan yang adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati.

Demikian juga dalam pernikahan kita dipanggil untuk mengasihi dan memberi hormat (Ef 5:33). Kita juga perlu berperilaku yang menunjukkan adanya belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran (Kol 3:12). Selain itu, kita juga perlu menghindar supaya tidak menjadi hamba uang dengan cara mencukupkan diri dengan apa yang kita miliki (Ibr 13:5).

Kita juga berusaha agar tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri (Flp 2:3-4). Itulah yang disebut dalam Mikha sebagai “apa yang baik.” Hendaknya itu juga menjadi persembahan yang hidup di dalam kehidupan pernikahan [Purnawan].

 

SMS from God: Dalam Alkitab, Allah telah memberitahukan hal-hal baik yang patut dilakukan oleh manusia. Itu akan membuat-Nya berkenan
Read More

Kamis, 23 Juli 2015

Identitas

Di galangan kapal, seorang kapten naik ke kapal yang baru saja dibuat. Sayup-sayup dia mendengar suara-suara: “Aku adalah baling-baling”, “Aku adalah lunas”, “Aku adalah papan kayu”, “Aku adalah lampu.” Masing-masing bangga dengan identitasnya.

Ketika kapal itu mulai melaut, badai besar menghantamnya. Masing-masing bagian kapal berusaha menyelamatkan diri dari badai ganas itu. Lalu sang kapten segera mengambil kendali. Dia memerintahkan semua bagian kapal untuk bekerja sama. Di tengah deru angin topan, sayup-sayup sang kapten mendengar kembali suara-suara dari bagian kapal. Kali ini suara mereka seragam, “Aku adalah kapal!”
Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya. (Daniel 6:10)

Daniel adalah orang yang berada di negeri asing, dan penguasa berusaha untuk mengubah identitasnya. Akan tetapi Daniel menampakkan identitasnya dengan jelas sebagai orang yang menyembah Allah. Daniel tidak akan “menjual” keyakinannya itu meskipun berada di dalam tekanan yang berat. Dia tetap menyembah Tuhan sebanyak 3 kali dalam sehari dan melakukan ibadah seperti biasanya meskipun ada ancaman terhadap nyawanya.

Kapten di dalam kapal pernikahan kita adalah Tuhan Yesus. Dia memanggil kita untuk menanggalkan identitas lama dan mengenakan identitas yang baru yaitu sebagai suami atau isteri. Bersama pasangan kita, Yesus memerintahkan kita untuk bekerja sama di dalam bahtera pernikahan. Sebagaimana yang telah dilakukan Daniel, hendaknya kita juga mengetahui dan mempertahankan identitas kita sebagai suami atau isteri yang menyembah Allah. Dan bersama dengan sang Kapten, kita akan mampu mengarungi samudera pernikahan yang ganas [purnawan].

SMS from God: Kita adalah pasangan suami-isteri Kristen. Itu adalah identitas kita. Hendaknya kita hidup sesuai dengan identitas kita itu.
Read More

Rabu, 22 Juli 2015

Kacamata Hitam

Dalam sebuah acara persekutuan, saya meminta setiap orang untuk menuliskan kekurangan dirinya. Ada banyak hasil yang didapatkan dalam sekejap. Namun ketika mereka diminta untuk menuliskan kelebihan yang dimiliki, ternyata hasil yang didapat lebih sedikit.  Demikianlah, manusia cenderung mudah menemukan sisi buruk daripada sisi baik.

Yesus mengajarkan, jika kita memandang orang lain dengan kacamata hakim, maka kita akan melihat orang lain sebagai tersangka, bukan sebagai teman. Akan tetapi ketika kita mulai menaruh hormat dan memandang orang lain sebagai citra Allah, maka kita memasuki hubungan antar manusia yang hangat.

Dampak kacamata ini sangat kuat di dalam pernikahan. Dua orang yang hidup bersama dalam waktu yang lama akan mulai saling mengenal. Termasuk mengetahui sisi kekurangan dari pasangannya. Mereka mudah sekali berubah menjadi hakim bagi pasangannya.
“Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” (Matius 7:1-2)

Yesus mengingatkan kita agar tidak mudah menghakimi orang lain. Itu bukan berarti kita harus menutup mata pada kesalahan atau kekurangan pasangan kita. Ajaran Yesus ini adalah mengajak kita supaya kita tidak puas dan berhenti saat ada orang lain berbuat salah, namun kita lalu mencari cara untuk membantunya agar hidupnya menjadi lebih baik. Sama seperti kasih dan pengampunan yang telah ditunjukkan oleh Kristus, demikian juga kita hendaknya memperlakukan pasangan kita.  [purnawan].

SMS from God: Menilai seseorang menggunakan kacamata hakim, membuat kita memandangnya sebagai terdakwa. Kristus memandang manusia sebagai citra diri Allah.
Read More

Tertuduh oleh Masa Lalu

Ada suami-isteri yang sudah menikah selama 40 tahun lebih. Mereka mendatangi seorang hamba Tuhan untuk konseling. Mereka mengaku dihantui oleh dosa seksual yang mereka lakukan sebelum menikah. Saat itu mereka belum menjadi Kristen. Setelah menikah, mereka hidup dalam kekudusan, namun dosa masa lalu itu selalu membuat mereka merasa tertuduh,

Hamba Tuhan itu berpikir sejenak, lalu menanyakan lagu favorit masing-masing. Dengan serempak pasutri ini menyebutkan judul lagu yang sama, yaitu “Kendati Hidupku Tent’ram (It Is Well With My Soul). Hamba Tuhan menyuruh pasutri ini menyanyikan lagu itu bersama-sama sebelum tidur.

Seminggu kemudian, pasutri mendatangi hamba Tuhan ini lagi. “Kami melakukan saran Anda. Sebelum tidur, kami bersama menyanyi, “kata sang suami dengan mata berkaca-kaca, “kami merasa terberkati saat menyanyikan syair, “Yesusku mengangkat di salib kejam, dosaku dan aib sepenuh. Hutangku dibayar dan aku lepas, puji Tuhan, wahai jiwaku.’”
“Sesungguhnya, Aku akan mendatangkan kepada mereka kesehatan dan kesembuhan, dan Aku akan menyembuhkan mereka dan akan menyingkapkan kepada mereka kesejahteraan dan keamanan yang berlimpah-limpah.” (Yeremia 33:6)

Kitab Yeremia menyebutkan tentang akibat dari dosa. Saat sang nabi mengucapkan nubuat ini, Yerusalem sedang dikepung oleh tentara Babilonia. Akibat ketidaksetiaan Israel, maka kota ini akan dipenuhi oleh tubuh orang mati.

Akan tetapi cerita tak berhenti di sini. Murka Allah tidak berlangsung selamanya. Allah berjanji akan menyembuhkan dan memulihkan Israel. “Dan kota ini akan menjadi pokok kegirangan: ternama, terpuji dan terhormat bagi-Ku di depan segala bangsa di bumi yang telah mendengar tentang segala kebajikan yang Kulakukan kepadanya” ( ay.9) [purnawan].

 

SMS from God: Jangan sampai masa lalu Anda menghantui masa kini Anda. Allah memberikan pengampunan dan pemulihan.
Read More

Selasa, 21 Juli 2015

Kekasih yang Lain

Nabi Yeremia sering disebut sebagai “nabi yang menangis” karena sering mengungkapkan kesedihannya melihat kehancuran moral kaum Yehuda. Dia menggambarkan kebejatan Yehuda itu seperti orang yang sedang berselingkuh.

Perselingkuhan Yehuda ini dalam rupa-rupa penyembahan berhala, perilaku tak bermoral dan ketidakadilan. Bangsa Israel menaati peraturan agama, namun mereka tidak memberi tempat bagi Tuhan di hati mereka. Allah memandang bahwa keputusan umat untuk mengandalkan diri sendiri dan tidak lagi bergantung pada Allah adalah setara dengan  perzinahan. Hal ini karena umat Israel tidak setia lagi kepada Allah.

Kita pasti tidak pernah membayangkan akan memiliki hubungan perselingkuhan di dalam pernikahan. Kebanyakan perselingkuhan tidak terjadi secara tiba-tiba, namun dimulai dengan ketidaksetiaan yang kecil. Mula-mula dianggap remeh karena hanya ketidaksetiaan kecil, namun tanpa disadari perlahan-lahan membesar sehingga meledak dan menggoncang pernikahan.
“Engkau telah berzinah dengan banyak kekasih, dan mau kembali kepada-Ku? demikianlah firman TUHAN.” (Yeremia 3:1)

Jika kita ingin menjaga kekudusan pernikahan, maka kita harus menolak setiap godaan ketidaksetiaan. Kita mesti kerap bertanya pada diri sendiri: Apakah penggunaan uangku untuk kepentingan keluargaku atau hanya memenuhi keinginanku? Apakah aku lebih banyak memikirkan kepentingan diri sendiri daripada pasanganku? Apakah aku sering mengorbankan  waktu yang mestinya untuk keluarga demi pekerjaanku?

“Kekasih yang lain” itu tidak hanya berupa manusia saja, tetapi bisa juga pekerjaan, minat, hobi, uang atau benda yang dapat mengalihkan kesetiaan kita dari pasangan hidup kita. [purnawan]

SMS from God: Ada banyak godaan untuk membuat kita tidak setia. Hendaknya kita jangan menganggap remeh terhadap godaan-godaan kecil
Read More

Minggu, 19 Juli 2015

Manis atau Masam?

Dalam bacaan ini, Allah menggambarkan diri-Nya sebagai pemilik kebun anggur dan Israel sebagai kebun anggirnya. Dia telah menetapkan lahan untuk menanam anggur, mengolah tanah dan melindungi kebun itu. Tetapi yang buah yang dihasilkan ternyata tidak sesuai dengan harapan. Tentu saja pemilik kebun anggurnya menjadi kecewa. Israel telah gagal memenuhi harapan Allah. Meskipun mereka masih melakukan ritual-ritual ibadah bagi Allah itu tidak ada artinya. Israel telah mengabaikan hal-hal yang dipandang lebih luhur seperti memelihara orang miskin, yatim piatu dan para janda.  Mereka menghasilkan panenan yang mengecewakan.
“Apa lagi yang harus Kulakukan terhadap kebun anggur itu? Aku mengharapkan kebun itu menghasilkan buah anggur yang manis, tetapi mengapa hasilnya buah anggur yang masam?” (Yes 5:4 FAYH)

Dalam pernikahan, Allah juga melakukan seperti petani anggur. Dia menyiapkan lahan, menyingkirkan batu dan memasang pagar pengaman. Allah menanam Anda pada ladang pernikahan yang subur untuk menghasilkan buah yang baik. Akan tetapi petani anggur tidak melakukan semuanya. Pohon anggur itu juga harus melakukan bagiannya yaitu bertumbuh dan menghasilkan buah.

Akhir-akhir ini semakin banyak pernikahan yang menghasilkan buah anggur yang asam. Buah yang mengecewakan petani anggur. Selain itu, ada juga pasangan yang menebas kehidupan “pohon anggur” itu dengan pisau perceraian.

Pernikahan itu tidak dinilai berdasarkan tingkat romantismenya tetapi berdasarkan buah yang dihasilkannya. Allah telah mempersiapkan segala sesuatunya, namun kita juga harus melakukan bagian kita: Saling mendukung, saling mengampuni, saling melayani, saling mengasihi dll. Dengan begitu maka pernikahan kita akan menghasilkan buah lebat dan manis yang memuaskan Allah sebagai pengusaha kebun anggur [purnawan].

 

SMS from God: Hidup pernikahan yang menghasilkan buah saja belum cukup. Pernikahan Anda harus menghasilkan buah yang manis.
Read More

Pengalaman dan Mengandalkan Tuhan

Seorang perempuan berusia 80 tahun berhasil melakukan pendaratan darurat di Wisconsin setelah sang pilot, yang juga suaminya, meninggal di udara. Helen Collins tetap tenang ketika dia mendaratkan pesawat kecil Cessna di bandara Cherryland, bahkan saat itu dia sudah mengetahui bahwa suaminya sudah meninggal.

Menurut James Collins, putranya, ibunya pernah mengambil kursus dasar penerbangan, yakni lepas landas dan mendarat, 30 tahun lalu. Itu pun atas permintaan ayahnya untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu terhadapnya saat dia mengajak istrinya terbang.

Helen Collins tidak pernah mendapat lisensi terbang. Tetapi, dia sudah ratusan kali mendampingi suaminya, John Collins, mengemudikan pesawat. Secara tidak sengaja, dia belajar dari mengamati suaminya. Hal ini sama dengan Daud. Dia belum pernah maju perang, namun dia sudah punya pengalaman melawan hewan yang tubuhnya lebih besar daripada dirinya.
“Baik singa maupun beruang telah dihajar oleh hambamu ini. Dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia akan sama seperti salah satu dari pada binatang itu, karena ia telah mencemooh barisan dari pada Allah yang hidup” (1 Samuel 17:36)

Daud juga menyadari bahwa memiliki sumber kekuatan yang dahsyat yaitu dari Allah pencipta langit-bumi. Kombinasi antara pengalaman dan penyerahan diri pada Allah menjadi modal utama Daud untuk menjadi pahlawan Israel pada hari itu [purnawan].
SMS from God: Apa saja yang menjadi “Goliat” Anda hari ini? Dengan kekuatan dari Allah, beranikah Anda melawannya?
Read More

Sabtu, 18 Juli 2015

Nilai Keluarga

 

Ketika gempa dan tsunami menghantam Jepang, Hideaki Akaiwa (43 thn) sedang bekerja. Satu-satunya yang ada di pikirannya adalah menyelamatkan istri (20 thn) dan ibunya. Akaiwa tidak mau menunggu kedatangan tim penyelamat. Dia segera menyambar baju dan perlengkapan menyelam.

Akaiwa berenang sekuat tenaga melawan arus air laut untuk mencapai rumahnya. “Airnya dingin, gelap dan menakutkan,” kenang Akaiwa, ‘saya berenang di antara puing-puing.” Dia berhasil menyelamatkan istrinya.

Berikutnya dia mencari kabar ibunya. Berhari-hari dia mengecek setiap tempat pengungsian. Tapi hasilnya nihil. Suatu hari, tetangganya mengaku melihat ibu Akaiwa mengungsi di sebuah rumah. Akaiwa merenangi air sedalam leher manusia. Dia berhasil menemukan ibunya yang terjebak di lantai 2 sebuah rumah. Kondisinya panik karena selama 4 hari belum mendapat bantuan.

Setelah memastikan keluarganya selamat, Akaiwa tidak berhenti. Dia kembali terjun ke lokasi bencana untuk menyelamatkan orang-orang yang kalis dari musibah.
“Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.” (Yohanes 19:27)

Jepang adalah negara yang maju dan modern. Meski begitu, mereka tetap memegang teguh nilai-nilai dalam keluarga. Yesus juga menghargai keluarga. Itu sebabnya, sebelum wafat, Dia masih memikirkan ibu-Nya. Dia ingin memastikan bahwa ibunya tetap berada di dalam keluarga. Seberapa besar arti keluarga Anda? [Purnawan]

SMS from God: Keluarga seharusnya menjadi tempat paling hangat dan benteng paling kokoh bagi anggotanya.
Read More

Kamis, 16 Juli 2015

Setia Kawan

Video tentang dua ekor anjing yang tersesat setelah gempa dan tsunami di Jepang telah membantu para korban mengatasi kedukaan mereka. Dailymail melaporkan, dalam kondisi gemetar dan kotor, salah satu dari kedua anjing itu menjaga temannya yang terluka di antara puing-puing sebuah desa di timur laut Jepang. Kesetiaan sang anjing pada temannya ini menjadi sumber inspirasi masyarakat Jepang untuk saling menguatkan dalam menghadapi tragedi tersebut.
“Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.” (Efesus 4:2)

Dalam situasi kehidupan yang sulit, manusia sering memilih untuk mengutamakan diri sendiri. Saya menjadi relawan di dua bencana, yaitu gempa bumi dan erupsi Merapi. Saat bantuan minim, muncul sikap egois di kalangan para pengungsi. Warga desa yang ada berada di ujung menghentikan semua bantuan yang datang. Bantuan itu mereka gunakan sendiri. Warga desa yang bermukim di wilayah lebih dalam tidak mendapat bagian dari bantuan tersebut.

Paulus mendorong jemaat di Efesus untuk saling membantu. Ini menjadi pertanda bahwa mereka saling mengasihi. Selain itu, mereka juga harus menunjukkan sikap yang selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Perhatikan kata “selalu.” Itu artinya, sikap dan perbuatan itu dilakukan sepanjang waktu dalam segala situasi  [Purnawan].

SMS from God: Suka membantu adalah ciri khas yang melekat pada orang Kristen.
Read More

Rabu, 15 Juli 2015

Rela Berbagi

Seorang polisi Jepang yang merupakan imigran Vietnam menulis surat kepada temannya di kampung halaman. Dia bertugas di Fukushima saat terjadi gempa. Surat ini dimuat di New America Media. Dia menceritakan kerasnya kehidupan paska gempa. “Kami hidup tanpa air dan listrik, dan ransum makanan mendekati nol,” tulisnya.

Suatu hari, dia ditugasi mengawal pembagian makanan di sebuah tempat pengungsian. Antreannya sangat panjang. “Aku melihat seorang anak kecil sekitar 9 tahun. Dia hanya mengenakan kaos oblong dan celana pendek dalam suhu yang sangat dingin. Dia berdiri di akhir antrean. Aku khawatir bahwa pada saat gilirannya tiba tidak ada makanan yang tersisa.” Anak ini yatim piatu. Ayah, ibu dan adiknya tersapu tsunami.

Terdorong oleh belas kasihan, polisi melepas jaketnya dan mengenakannya pada anak ini. Dia juga menyerahkan ransum makanan kepada anak ini. Alih-alih segera menyantapnya, anak ini justru meletakkan pemberian itu di tumpukan makanan yang akan dibagikan. "Aku lihat banyak orang yang lebih lapar dari aku Jika aku menaruhnya di sana, maka mereka akan membagikan makanan secara merata, " kata anak kecil itu.
“Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?” (Yohanes 6:9)

Kerelaan berbagi juga ditunjukkan oleh seorang anak ketika ada lebih dari 5 ribu orang yang kelaparan. Sikap yang rela berbagi ini tidak muncul begitu saja. Pasti keluarganya telah mendidik dan membiasakan sikap yang mulia ini. Bagaimana dengan keluarga Anda? [purnawan].

 

SMS from God: Semua berkat yang kita dapatkan merupakan pemberian Allah. Kita wajib membagikan sebagian ke orang lain.
Read More

Selasa, 14 Juli 2015

Pemimpin

Sopir taksi di Vietnam diserang penumpangnya karena tak mau jalan terus saat lampu merah. Yang ironis, penumpangnya adalah Mayor Bui Minh Thang, orang nomor dua di divisi lalu lintas kepolisian provinsi Hau Giang, Vietnam. Ketika sopir itu tetap berhenti, Thang merebut kendali setir, mengancam akan menembaknya, dan menyerangnya menggunakan sabuk.

Kebetulan insiden itu terjadi di depan kantor polisi di kota Can Tho sehingga keduanya diminta masuk untuk ditanyai. Ceritanya belum berakhir karena Thang juga mengancam polisi yang memeriksa dan meminta seorang polisi untuk berlutut dan minta maaf. Usut punya usut, ternyata Thang mabuk berat setelah minum anggur dan bir sebelum naik taksi (harian Tuoi Tre).
“Tetapi kamu tidaklah demikian, melainkan yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan.” (Lukas 22:26)

Pemimpin itu posisi atau mandat? Banyak orang masih memahami pemimpin adalah orang yang berposisi lebih tinggi daripada orang lain. Itu sebabnya, ketika menjabat sebagai pemimpin maka mereka meminta keistimewaan dan hak khusus. Maka muncul istilah VIP (Very Important Person), sebuah layanan khusus yang diberikan kepada pemimpin. Ada konvoi khusus yang dikawal oleh mobil polisi jika pemimpin pergi jauh. Mereka boleh melanggar aturan lalu lintas.

Yesus membalikkan paradigma ini. Menurut Yesus, pemimpin adalah seorang pelayan. Pemimpin adalah sebuah mandat untuk melayani pengikutnya. Seorang pemimpin adalah orang memberikan diri untuk menyejahterakan pengikutnya. Kalau perlu mengurbankan diri demi pengikutnya [purnawan].

SMS from God: Menjadi pemimpin berarti harus siap untuk merendahkan diri dan melayani para pengikutnya.
Read More

Minggu, 12 Juli 2015

Berperilaku Utuh

Gereja Katolik Polandia menggelar Hari Doa nasional bagi pengemudi negara itu sebagai upaya untuk menggunakan semangat Kristen dalam meredam kemarahan di jalanan. Gereja juga menyelenggarakan dua hari retret bagi para pengemudi. Dalam retret itu mereka dapat merefleksikan sikap mereka ketika berada di belakang kemudi.

Cara mengemudi yang agresif dan buruk berkontribusi signifikan pada tingkat kematian yang tinggi di jalan-jalan Polandia, yang merupakan salah satu yang terburuk di negara maju. "Banyak di antara kami berperilaku seperti orang tidak percaya ketika sedang mengemudi," kata Pastor Marian Midura, penyelenggara hari doa itu. "Meski kami menggantung rosario, membawa gambar orang-orang kudus di dalam mobil, kami tetap tidak menghormati pengemudi lain."
“Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.” (Matius 5:37)

Yesus menghendaki kita memiliki integritas. Integritas itu artinya “utuh.”  Antara pikiran, ucapan dan tindakan menjadi satu kesatuan yang utuh. Jika di gereja, kita diajar untuk “saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat” (Rm 12:10), itu artinya di jalan pun ajaran ini juga berlaku.

Jalan raya adalah tempat yang berbahaya. Ada banyak orang kehilangan nyawa di jalan. Sebagai orang Kristen, kita harus mengembangkan sikap yang bertanggungjawab. Tidak mengemudi ugal-ugalan, taat aturan, dan santun berkendara. Itu adalah aplikasi dari perintah “mengasihi” dan ‘memberi hormat” [Purnawan].

 

SMS from God: Orang yang santun di gereja, mestinya juga santun ketika ada di jalan.
Read More

Sabtu, 11 Juli 2015

Prahara Egoisme

Pasangan pengantin baru ini mengalami enam kali bencana alam saat bulan madu. Stefan dan Erika Svanstrom dari Swedia berbulan madu di Munich, Jerman, tapi terjebak badai salju terburuk di Eropa. Mereka beralih ke Cairns, Australia yang kemudian dilanda salah satu badai paling ganas dalam sejarah Australia. Mereka lalu pindah Brisbane, tetapi kota itu mengalami banjir besar. Mereka pergi ke Perth, tapi harus meloloskan diri dari amukan kebakaran hutan.

Saat mendarat di airport Christchurch, Selandia Baru, kota itu baru saja diguncang gempa berkekuatan 6,3. Karena kota itu hancur, mereka terbang ke Tokyo, Jepang. Di sana mereka diguncang gempa terbesar dalam sejarah Jepang.

Stefan Svanstrom mengatakan, meski mengalami semua itu, pernikahan mereka tetap kokoh. "Saya tahu perkawinan harus melewati sejumlah rintangan. Namun, saya pikir, kami telah melalui sebagian besar dari rintangan itu. Kami sudah mengalami sejumlah bencana, tetapi hal terpenting adalah bahwa kami tetap bersama-sama dan bahagia," kata Svanstrom kepada harian Swedia, Expressen.
“Para istri, hendaklah Saudara menaklukkan diri kepada suami masing-masing, karena itulah yang telah direncanakan Allah bagi Saudara. Dan para suami, hendaklah Saudara mengasihi istri dan bersikap baik kepadanya serta janganlah berlaku kasar terhadap dia.” (Kolose 3:18-19 FAYH)

Di luar bencana alam, ada prahara yang lebih dahsyat yang dapat menghempaskan biduk pernikahan yaitu badai egoisme. Masing-masing pihak merasa paling benar. Tidak ada yang mau mengalah. Maka, mereka masuk masa-masa yang sulit. Jalan keluarnya adalah istri yang  menundukkan diri dan suami yang mengasihi istri [Purnawan].

SMS from God: Dalam pernikahan, dua pribadi bisa menjadi satu jika masing-masing pihak mau merendahkan diri di hadapan pasangannya
Read More

Belajar dari Hewan

Seekor rusa selama beberapa hari telah menjaga angsa betina yang sedang mengerami telur di sebuah kompleks pemakaman di New York, bak adegan yang biasanya muncul di film anak-anak. Selama sedikitnya empat hari, rusa jantan itu berdiri dan berjaga-jaga di dekat sarang angsa betina Kanada sementara angsa tersebut mengerami telurnya.

Pegawai pemakaman baru sadar mengenai keadaan itu setelah rusa itu menghalangi saat mereka berusaha menangkap dan menempatkan kembali angsa liar itu. Rusa tersebut, yang menempatkan dirinya sebagai pelindung dari setiap mobil atau pejalan kaki yang mendekati sarang angsa itu.
“Hai pemalas, belajarlah dari semut. Belajarlah dari cara hidupnya dan jadilah bijaksana!” (Amsal 6:6 FAYH)

Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang tertinggi dan mulia. Meski begitu, penulis amsal mendorong manusia untuk belajar kepada hewan. Dalam Amsal dituliskan supaya kita belajar kerajinan dan keuletan kepada semut. Inilah kelebihan manusia, yaitu bisa “belajar.” Sebagian besar hewan berperilaku menuruti naluri. Memang ada beberapa hewan yang bisa belajar, namun tidak bisa mempelajari hal yang kompleks.

Dengan belajar maka manusia dapat meningkatkan kualitas hidupnya. Belajar itu tidak harus dengan bersekolah atau ikut kursus. Belajar bisa dilakukan dengan membaca, mengamati, menirukan, mendengarkan, mencicipi dll. Sepanjang otak dan panca indra masih berfungsi, kita masih bisa belajar. Dan belajar itu adalah hal yang menyenangkan. Apa yang Anda pelajari hari ini? [purnawan].

 

SMS from God: Tingkatkan kapasitas Anda dengan belajar hal-hal yang baru. Itu akan membuat hidup Anda bergairah.
Read More

Jumat, 10 Juli 2015

Mimpi Besar

Pelaut Inggris berusia 85 tahun mewujudkan mimpinya semasa kecil dengan berlayar melintasi Samudra Atlantik. Seperti diberitakan Associated Press, Anthony Smith dan tiga temannya mendarat di Philipsburg, St Maarten, di Karibia,  setelah berlayar selama dua bulan. ”Sebagian orang bilang ini gila. Tetapi, apa lagi yang akan Anda lakukan pada usia seperti ini?” kata Smith. Dia ingin membuktikan, orang tua bisa menjalani petualangan yang berbahaya.

Mereka juga ingin mengumpulkan dana untuk lembaga nonprofit WaterAid yang menyediakan air layak minum bagi masyarakat tak mampu. Uniknya, modal mereka berlayar diperoleh karena Smith ditabrak mobil hingga pinggangnya patah. ”Saya dapat uang ganti rugi. Apa yang akan Anda lakukan dengan uang itu? Saya sih membeli perahu layar,” katanya.
“Jadi sekarang, sesungguhnya TUHAN telah memelihara hidupku, seperti yang dijanjikan-Nya. Kini sudah empat puluh lima tahun lamanya, sejak diucapkan TUHAN firman itu kepada Musa, dan selama itu orang Israel mengembara di padang gurun. Jadi sekarang, telah berumur delapan puluh lima tahun aku hari ini” (Yosua 14:10)

Semangat yang sama juga dimiliki oleh Kaleb. Pada waktu Kaleb berusia 40 tahun, Musa berjanji akan memberikan tanah Hebron kepadanya. Namun sampai Kaleb berusia 85 tahun dan Musa sudah digantikan oleh Yosua, janji itu belum digenapi. Meski demikian selama 45 tahun, mata Kaleb selalu tertuju ke Hebron itu. Meski tubuhnya tidak sekuat dulu, namun tekadnya masih kuat. Dia meminta izin Yosua untuk merebut tanah yang dijanjikan kepadanya itu.

Apa mimpi besar Anda hari ini? Mimpi akan memberi tenaga kepada kita untuk menjalani kehidupan ini dengan bergairah. Jika mimpi belum terwujud juga, jangan cepat menyerah. Banyak orang butuh waktu puluhan tahun untuk mengubah mimpinya menjadi nyata. Jangan menyerah! [Purnawan].

 

SMS from God: Untuk bermimpi besar itu tidak membutuhkan biaya. Bermimpilah! Tapi jangan lupa untuk bangun dan mewujudkan mimpi itu.
Read More

Kamis, 09 Juli 2015

Keluarga yang Rukun

 

Sesekali waktu, keluarga kami mencari makan malam di luar. Sebelum berangkat kami biasanya mendiskusikan akan makan di mana. Bagi Kirana (4,5 tahun), anak kami, kriteria utama tempat makan adalah jarak. Dia selalu memilih tempat makan yang jauh. Semakin jauh, dia merasa semakin senang, meski masakannya biasa saja. Sebaliknya, walau masakannya enak, tapi kalau jaraknya dekat rumah, maka bagi Kirana tempat itu tidak asyik.

Rupanya bagi Kirana, acara makan malam itu bukan sekadar mengisi perut yang kosong. Perjalanan yang jauh dan lama merupakan kesempatan untuk berinteraksi di dalam keluarga. Acara makan malam adalah kesempatan bagi keluarga untuk bercengkerama.  Saat makan, Kirana hanya menyantap beberapa sendok. Namun itu sudah cukup memuaskannya.
“Betapa mengagumkan dan betapa menyenangkan apabila kaum keluarga hidup dalam kerukunan.” (Mazmur 133:1 FAYH)

Pemazmur mengatakan keluarga yang hidup dalam kerukunan memiliki suasana yang menyenangkan. Tidak hanya itu, keluarga yang rukun juga membuat orang lain kagum. Keluarga yang hidup rukun membuat anggota keluarganya selalu merasa rindu untuk pulang ke rumah. Theodore Roosevelt, mantan Presiden AS berkata,"Aku lebih suka melewatkan waktu bersama dengan keluargaku daripada dengan petinggi-petinggi dunia manapun.”

Di dalam keluarga yang rukun ini, Allah berjanji akan mencurahkan berkat-berkat-Nya dengan deras. Sederas embun yang mengalir dari gunung-gunung di Hermon menuju Sion. Setelah pulang bekerja, ke manakah Anda pergi? Apakah tak sabar untuk pulang ke rumah? [Purnawan]

 

SMS from God: tempat perteduhan yang paling menyenangkan adalah keluarga. Di sini kita bisa berperilaku apa adanya. Kita tidak perlu berpura-pura.
Read More

Rabu, 08 Juli 2015

Hidup dalam Kasih

Seorang perempuan di Solo ditinggalkan suaminya yang menikah lagi. Dia harus mengurus enam anak yang masih kecil, padahal penghasilannya pas-pasan. Berkat kegigihan dan keuletannya, akhirnya semua anaknya bisa mandiri meski hidup sederhana.

Menjelang usia  senja, mantan suaminya ini sakit parah dan ditinggal pergi oleh istrinya dalam keadaan sekarat. Tidak ada yang merawatnya. Mendengar kabar ini, perempuan Solo ini membuat keputusan yang mengejutkan. Dia menjemput mantan suaminya ini dan membawanya pulang ke rumah. Banyak orang yang tidak habis mengerti perbuatannya. Bahkan anak-anaknya pun memprotes ibunya karena mereka masih sakit hati atas tingkah bapaknya. Namun perempuan ini tetap kokoh pada pendiriannya. Dia merawat pria yang pernah mengkhianati dirinya dengan penuh kasih sampai akhirnya mantan suaminya meninggal dunia.

“Mengapa ibu melakukan itu?” tanya pendetanya kagum.

“Entahlah pak. Saya hanya merasa harus melakukannya saja,” jawabnya.
“Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.” (Yohanes 15:12)

Setiap pengikut Kristus pasti mengasihi orang lain. Ini adalah sebuah keniscayaan karena setiap pengikut Kristus pasti berada dalam lingkup kasih-Nya.  Perempuan Solo ini tidak bisa menjawab dengan kata-kata mengapa dia memutuskan untuk merawat pria yang menyakiti hatinya. Itu adalah sebuah tindakan kasih. Sebuah perbuatan yang didorong oleh kasih sudah cukup untuk menunjukkan bahwa dia adalah pengikut Kristus.

Tengoklah sekitar Anda! Apakah ada yang sedang membutuhkan kasih? Ulurkan tangan Anda untuk merengkuhnya [Purnawan].

 

 

 

SMS from God: Hukum “mata diganti mata” hanya akan membuat dunia ini menjadi buta—Mahatma Gandhi
Read More

Selasa, 07 Juli 2015

Doa Bertiga

Suatu hari seorang pendeta mengadakan perjalanan ke sebuah pulau terpencil. Dia ingin memberitakan Injil ke sana.  Ternyata pulau itu hanya dihuni tiga orang dan semuanya sudah mengenal Kristus.  Pendeta terkesima dan ingin menjajaki pengetahuan rohani mereka.

“Yang kami tahu hanya berdoa,” kata penduduk asli.

“Tolong tunjukkan kalau kalian berdoa,” pinta pendeta.

“Kami berdoa begini: ‘Hey, Engkau bertiga, ampunilah kami bertiga.’ Itu saja,” jawab mereka.

Maka pendeta memutuskan untuk memberikan pengajaran, termasuk mengajarkan Doa Bapa Kami, kepada mereka.

Setahun kemudian, pendeta naik sampan untuk mengunjungi pulau itu kembali. Saat mendekati pantai, tiga penduduk asli bergegas menghampiri pendeta. “Maaf pendeta, kami melupakan Doa Bapa Kami yang Anda ajarkan. Bisakah Anda mengajari kami lagi,” seru mereka sambil berjalan di atas air.

Pendeta terdiam sejenak. “Kalian tidak perlu lagi belajar berdoa pada saya. Apa pun doa kalian, pasti didengarkan Tuhan,” seru pendeta takjub.

 
“Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.” (Roma 8:26)

Dalam doa, bahasa dapat digunakan untuk menyampaikan keinginan kita kepada Tuhan. Akan tetapi rumusan kata-kata tidak menjadi syarat utama untuk berdoa. Sekali pun kita sudah tidak bisa berkata-kata lagi, Roh Kudus akan membantu kita menyampaikan keluhan-keluhan kita kepada Allah.  Allah kita adalah Tuhan yang maha tahu. Dia mengenal hati anak-anakNya dan mendampingi dalam pergumulan mereka[Purnawan].

 

SMS from God: Saat kita angkat tangan dan berserah kepada Allah, maka Allah segera turun tangan.
Read More