Kamis, 09 April 2015

Semua Pekerjaan adalah Ladang Pelayanan

Cara pandang atas dunia kerja modern ini banyak dipengaruhi oleh pemikiran Yunani yang berusia hampir 3000 tahun. Pemikiran mereka berpusat pada manusia dan berusaha menjauhkan diri dari Allah. Protragoras melemparkan pepatah bahwa, “manusia adalah tolak ukur segala hal.”

Pola pikir orang Yunani tidak dapat dipisahkan dari konsep “dualisme”, yaitu gagasan tentang tingkatan yang lebih tinggi dan lebih rendah. Tingkatan lebih tinggi disebut “bentuk” yang terdiri dari  ide, gagasan dan pikiran yang tidak pernah mati. Sedangkan tingkatan yang lebih rendah bersifat rendah dan sementara. Hal yang bersifat rohani dianggap lebih mulia dan lebih tinggi daripada hal bersifat jasmani. Dari sini muncullah pemisahan bidang pekerjaan antara yang sekuler dan rohani. Pekerjaan duniawi atau sekuler lebih rendah daripada pekerjaan rohani.

Pandangan ini menyebabkan orang yang bekerja di sektor biasa atau pemerintah merasa belum melayani Tuhan. Mereka menganggap pekerjaannya itu masih kalah berharga di mata Tuhan dibandingkan dengan pekerjaan di lembaga pelayanan atau gereja.

Akan tetapi pandangan alkitabiah tidak dualistik. Tidak ada yang “lebih tinggi” atau “lebih rendah.” Pemazmur berkata, “Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya” (24:1). Dalam Perjanjian Lama memang ada perbedaan yang jelas antara pekerjaan yang suci dan sekuler, namun perbedaan itu sudah dihapus dalam Perjanjian Lama.

Larry Peabody menulis (Secular Work is Full-Time Service), dalam Perjanjian Baru Allah tidak menggambarkan kehidupan kristiani sebagai kehidupan yang terbagi dua: yang suci dan yang sekuler. Sebaliknya, Dia menunjukkannya sebagai kehidupan yang menyatu, menyeluruh, sehingga kita dapat melayani-Nya dengan sepenuh hati, bahkan dalam pekerjaan kita sehari-hari.

Dalam kebenaran yang mulia dan membebaskan ini, yakni kebenaran di dalam Kristus, Allah telah menunjukkan kebenaran yang seakan mustahil. Dalam Kristus, apa dulu sekuler telah disucikan. Tembok pemisah telah dirobohkan. Semua yang yang diciptakan Allah itu baik dan satu pun tidak ada yang haram, jika semuanya diterima dengan ucapan syukur, sebab semuanya itu dikuduskan oleh Firman Allah dan oleh doa ( 1 Timotius 4:4-5).

Dengan demikian semua pekerjaan itu suci. Semua jenis pekerjaan itu adalah ladang pelayanan kita kepada Tuhan. Tolak ukurnya adalah apakah jenis pekerjaan Anda itu selaras dengan rancangan Allah atau tidak. Jika ya, maka selamat, Anda telah melayani Allah sepenuh waktu [purnawan].

 
Read More

Rabu, 08 April 2015

Sungguh-sungguh

Lima pegawai dinas pajak daerah di China dijatuhi skors karena ketahuan tidur atau membaca koran saat berlangsung konferensi jarak jauh dengan atasan mereka di Beijing. Ironisnya, isi konferensi jarak jauh itu adalah soal memberantas kemalasan saat jam kerja. Kantor berita Xinhua melaporkan, kelima orang itu menempati posisi penting di dinas pajak Provinsi Shanxi, China utara. Tidak dijelaskan berapa lama skors yang mereka terima. Mereka seharusnya berpartisipasi dalam pertemuan jarak jauh itu sebagai bagian dari kampanye mendorong peningkatan disiplin kerja. Kampanye itu digelar untuk mengingatkan pegawai negeri dan pejabat pemerintah bahwa mereka tak boleh meninggalkan pos mereka, bermain kartu atau komputer, atau ”menghadiri aktivitas rekreatif” selama jam kerja.

Banyak orang bekerja karena keterpaksaan. Kepada jemaat di Kolose, Paulus menasihati supaya mereka melakukan segala sesuatu dengan segenap hati. Kata “segenap hati” dalam bahasa aslinya adalah ek psuches yang berarti “berasal dari jiwa.” Itu artinya mereka harus mengerjakan dengan sungguh-sungguh sebagaimana mengerjakan untuk Tuhan, yang mengetahui hati dan jiwa setiap manusia.
“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kolose 3:23)

Segala tindakan dan ucapan manusia itu berasal dari dorongan hati. Jika hatinya mencintai pekerjaan itu, maka dia akan mengerjakannya dengan sungguh-sungguh. Hal itu tercermin dari wajah yang ceria. “Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik”(Kej. 4:7).

Pekerjaan apa yang sedang Anda kerjakan hari ini? Apakah hati Anda berada dalam pekerjaan itu? Apakah Anda sudah bekerja dengan muka berseri-seri?[purnawan]

SMS from God: Orang yang mencintai pekerjaannya biasanya sangat termotivasi oleh antusiasmenya sendiri untuk terus memperbaiki kemampuan diri dan meningkatkan prestasinya
Read More

Senin, 06 April 2015

Permainan

Dua anak Amerika menggunakan pistol mainan untuk merampok permen dan keripik dari rekan-rekan sekelas mereka.  Kelima korban tengah berjalan pulang saat salah satu anak mencabut pistol mainan dan menodong mereka.Para korban yang berusia antara 7 dan 11 tahun mengaku mengenal orang yang merampok mereka. "Pelaku menodongkan pistol ke kepala salah satu korban mereka dan bertanya, 'Mana uangnya?”Kedua bandit kecil itu mengambil permen dan keripik kentang dari tas para korban mereka

Alat permainan dapat membahayakan anak-anak. Untuk itu kita perlu cermat dalam membeli mainan. Misalnya, apakah suaranya terlalu bising? Apakah cat-nya mengandung racun? Apakah ukurannya terlalu kecil sehingga mudah tertelan anak-anak? Waktu kecil, ayah saya menemukan sebutir peluru. Didorong rasa ingin tahu, dia membakarnya dan meledak. Untung, proyektil peluru lewat di antara kedua kakinya.
“Janganlah segan-segan mendidik anakmu. Jika engkau memukul dia dengan rotan, ia tak akan mati,” (Amsal 23:13 BIS)

Bermain adalah hak anak. Permainan memberikan banyak keterampilan pada anak-anak. Namun orangtua punya kewajiban memastikan bahwa permainan itu bermanfaat dan tidak membahayakan anak. Penulis Amsal menegaskan perlunya ketegasan dalam mendidik anak. Ada kalanya kita harus bertindak tegas [rotan] ketika anak bermain hal yang membahayakan[Purnawan].

SMS from God: Ketegasan berbeda dengan kekerasan. Ketegasan diperlukan untuk menyelamatkan anak.

 
Read More

Minggu, 05 April 2015

Kebiasaan

Sarah sudah lama menunggu sebelum akhirnya ada orang yang akan mendonorkan ginjalnya. Namun dia tidak menyangka yang mendonorkan ginjal adalah Melody, putrinya sendiri. Tanpa memberitahu ibunya, Melody (18 tahun) pun langsung menjalankan tes di rumah sakit untuk sebelum mendonorkan ginjalnya.

"Ini merupakan pengorbanan dari seorang remaja, saya hampir tak mempercayai ini. Saya tidak pernah merasakan rasa cinta dari putri saya yang seperti ini," ujar Sarah.

Mengapa Melody melakukan itu? Melody mengatakan, dirinya teringat akan ibunya yang saat itu mengandung adiknya, Ernie. Perjuangan pun dihadapi ibunya saat mengandung. Setelah Ernie lahir, ibunya kembali mengalami masalah yaitu pada ginjalnya.
“Ya Allah, Engkau telah mengajar aku sejak kecilku, dan sampai sekarang aku memberitakan perbuatan-Mu yang ajaib.” (Mazmur 71:17)

Patut mendapat pujian di sini tidak hanya Melody saja, tapi ibunya juga. Dia berhasil mendidik anaknya untuk mau peduli pada orang lain. Sikap hidup seperti ini tidak dibangun dalam sekejap, tapi dibiasakan secara terus-menerus sejak kecil. Hal yang sama dialami oleh pemazmur. Sejak kecil dia telah diajar untuk memuji Allah. Pendidikan itu membuat iman yang diterimanya menjadi keyakinan yang teguh: Allah adalah dasar kehidupan yang tahan uji. Sekalipun timbul tantangan dan kesulitan, ia mempercayakan diri pada Tuhan [purnawan].

 

SMS from God: kebiasaan baik memerlukan waktu bertahun-tahun, tidak dapat dibentuk secara instan.

 
Read More

Sabtu, 04 April 2015

Mengukur Dua Kali

Seorang wanita Amerika tertabrak mobilnya sendiri ketika mencoba menolong seorang pria tua mengejar anjingnya yang melarikan diri. Anjing terrier milik Jack Russel, mengunyah tali sebelum berhasil melarikan diri. Perempuan itu pun langsung menolong Russel yang saat mengejar anjingnya.

Saat menolong Jack, perempuan itu tampaknya lupa menarik rem tangan saat memarkir mobilnya. Mobil itu pun langsung meluncur dengan pintu terbuka dan menghantamnya. Perempuan itu terluka ringan dan mulai membaik.
“Rancangan orang rajin semata-mata mendatangkan kelimpahan, tetapi setiap orang yang tergesa-gesa hanya akan mengalami kekurangan” (Amsal 21:5)

Sebuah kisah konyol, sekaligus tragis. Kita pun mungkin pernah mengalami hal serupa. Penyebabnya karena kita tergesa-gesa dalam melakukan sesuatu. Kita tidak menyediakan waktu yang cukup untuk menyusun rencana dengan baik. Akibatnya, keinginan kita tidak tercapai dengan optimal. Bahkan bisa jadi malah gagal total.

Sebuah kesuksesan dimulai dari perencanaan. Perencanaan yang baik adalah separuh jalan menuju kesuksesan. Bagi tukang kayu, berlaku hukum ini: “Mengukur dua kali, menggergaji sekali.”  Sebelum memotong kayu, tukang kayu harus mengukur dengan cermat. Jika tidak, maka jika terlanjur terpotong, maka kayu itu tidak dapat disatukan kembali.

Jangan tergesa-gesa jika akan melakukan sesuatu. Buatlah rencana dengan matang. Maka menurut penulis Amsal akan menghasilkan kelimpahan[purnawan].

 

SMS from God: Jika Anda tidak membuat perencanaan saat melakukan sesuatu yang besar, maka Anda telah membuat rencana untuk gagal.
Read More

Kamis, 02 April 2015

Semangat yang Patah

Para peneliti mengatakan bahwa walaupun pola hidup berubah lebih sehat seperti, makan makanan yang bergizi, memulai olah raga, tidur 6-8 jam setiap malam, berpantang pada alkohol, rokok dan obat-obat berbahaya lainnya, tapi jika tingkat stress tetap tinggi, maka untuk menjadi lebih sehat sangatlah lambat.

Dalam versi New King James, “semangat yang patah”, berarti “roh/jiwa yang hancur.” Kata ini digunakan untuk melukiskan keadaan manusia yang telah kehilangan gairah hidup. Dia merasakan kesusahan, kekecewaan, kekuatiran, kepedihan hati, kepahitan dll. Terhadap situasi ini, raja Salomo menyebutkan akibatnya, yaitu dapat mengeringkan tulang alias mengganggu kesehatan tubuh.
 “Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.” (Amsal 17:22)

Apa yang kita pikirkan dan rasakan, dapat mempengaruhi kesehatan tubuh. E G White, seorang penulis terkenal menulis: “Penyakit pikiran terjadi dimana-mana. Sembilan dari sepuluh penyakit yang diderita manusia berasal dari pikiran.” Memang, tidak semua penyakit diakibatkan secara langsung oleh pikiran kita.  Contohnya, karena berhubungan seks dengan berganti-ganti pasangan maka seseorang ber-risiko tertular penyakit kelamin, bahkan AIDS.

Situasi pikiran dan batin kita juga berpengaruh terhadap hasil pekerjaan kita. Salomo menulis, “Hari orang berkesusahan buruk semuanya” (Ams.15:15). Orang yang suasana hatinya sedang buruk, biasanya melakukan banyak kesalahan. Untungnya, kita diberi kemampuan untuk mengendalikan suasana hati dan pikiran Anda. Itu artinya, ketika menghadapi kenyataan yang tidak menyenangkan, Anda punya pilihan: patah semangat atau tegar. Saya berharap Anda sepakat dengan saya, yaitu pilihan kedua. [Purnawan]

 

Manusia bukan robot. Dia diberi hikmat dan kehendak bebas untuk mengendalikan pikiran dan perasaannya.
Read More

Rabu, 01 April 2015

Daya Pengampunan

Seorang pria yang mengaku mencuri di toko Seattle Sears berpuluh-puluh tahun lalu mengembalikan uang curian dengan bunganya. Pria paruh baya memberikan sebuah amplop yang ditujukan kepada manajer toko. "Pada tahun 40-an, saya mencuri uang dari mesin kasir sejumlah USD20. Saya ingin mengembalikan uang tersebut sebesar USD100," demikian tulis surat tersebut

Yang menarik, sebenarnya pihak toko memergoki aksi pencurian itu, tapi mereka memutuskan untuk mengampuni dan tidak melapor polisi. Kesabaran itu tidak sia-sia. Ternyata sang pria itu mengakui kesalahannya. Uang itu pun rencananya akan diberikan untuk membantu para keluarga yang tidak mampu.
“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” (1 Yohanes 1:9)

Mengampuni bukan sebuah saran, melainkan perintah Tuhan. Tidak mau mengampuni justru akan merugikan diri sendiri.  Dalam batin kita akan selalu tersimpan sebuah kepahitan yang merusak. Tubuh kita juga ikut terpengaruh: kita terjangkit sakit kepala; pencernaan terkena sembelit, maag dan diare; jantung berdegub kencang dll. Mengetahui hal ini, Allah menwajibkan kita untuk mengampuni. Jika kita tidak mau mengampuni, maka sama seperti hamba itu, kita akan mendapat murka Allah.

Kita mampu mengampuni karena Tuhan telah mengampuni kita. Kita tidak akan kesulitan dalam mengampuni karena Tuhan telah memberi contoh yang indah tentang pengampunan dan memberi kekuatan untuk mengampuni. Mengizinkan pengampunan Tuhan meresap ke dalam hidup kita dan memperbarui kita merupakan langkah pertama menjadi orang yang penuh pengampunan. [purnawan]

SMS from God: Mengampuni itu seperti mengeluarkan racun dalam tubuh kita. Kita terhindar dari bahaya.
Read More