Sabtu, 20 September 2014

Harta yang tak Ternilai

Legenda kuno menceritakan seorang Petapa yang menemukan batu permata yang sangat berharga. Tak berapa lama, dia bertemu dengan seorang Pengembara yang minta sedekah kepadanya. Ketika Petapa membuka tasnya, Pengembara melihat kilauan batu permata. Dengan spontan dia meminta permata itu. Tak disangka, Petapa memberikan batu permata itu kepadanya.

Sang Pengembara berlalu dengan kegembiraan yang meluap-luap. Dia sudah membayangkan segepok uang dari hasil penjualan batu permata itu. Tapi beberapa hari kemudian, Pengembara itu menemui Petapa kembali. Dia batal menjual batu permata dan mengembalikannya kepada Petapa.

“Mengapa Anda mengembalikan batu permata yang berharga ini?” tanya Petapa.

“Saya ingin minta sesuatu yang lebih berharga dari batu permata ini,” jawab Pengembara.

“Apa itu?”

“Saya minta diajari supaya bisa memiliki kerelaan hati, seperti ketika Anda memberikan batu permata ini.”

Keluarga Blessing, dalam sebuah seminar, seorang pendeta bertanya, “Siapa yang ingin mendapat karunia rohani memberi?” Audiens tampak ragu-ragu. Pendeta lalu bertanya lagi,”Siapa yang ingin diberkati berupa harta yang melimpah?” Semua mengangkat tangan.

Pendeta itu tersenyum, lalu bekata. “Kalau Tuhan memberikan karunia rohani  memberi pada seseorang, tentu Dia akan memberinya berkat supaya dapat dibagi-bagikan pada orang lain.” Kalau kita memberika sesuatu dengan sukarela, maka pemberian itu akan memberi berkat pada si penerima dan si pemberi juga. Belajarlah memberi dengan sukarela[Purnawan].

SMS from God:Kita dapat memberikan sesuatu tanpa mengasihi, tapi kita tidak dapat mengasihi tanpa memberi.

 
Read More

Jumat, 19 September 2014

Komunitas Tidak Merokok

Saat ini setiap tahun ada 4,9 juta kematian akibat rokok. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi tahun 2020 penyakit akibat rokok akan menjadi masalah kesehatan utama dunia dengan 8,4 juta kematian tiap tahun, separuhnya terjadi di Asia.

Angka perkiraan konsumsi tembakau di Indonesua 28,7 persen. Jika penduduk Indonesia 220 juta, ada 63,14 juta perokok. Dampak negatif merokok antara lain kanker paru, penyakit jantung koroner, stroke, bronkitis kronik dan emfisema. Merokok juga mengakibatkan gangguan kesuburan dan impotensi.

Ada perokok yang berkilah, “Merokok adalah hak saya. Ini tubuh saya sendiri kok.” Pernyataannya tidak tepat, karena asap rokok juga membahayakan orang lain yang ikut mengisap asap rokok. Bahkan perokok pasif ini mendapat ancaman yang lebih besar. Pasalnya, perokok hanya mengisap 30 persen asap, sisanya terisap orang sekitarnya.
 “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” (1 Korintus 15:33)

Gereja semestinya sudah mengantisipasi hal ini. Kalau saat ini banyak lembaga pelayanan Kristen yang membuka tempat rehabilitasi pecandu narkotika, ada baiknya juga mulai merintis tempat rehabilitasi untuk pecandu rokok.

Selain itu, perlu juga kembangkan komunitas orang tidak merokok. Saya baru menyadari bahwa sebagian besar aktivis di gereja saya kebanyakan tidak merokok. Pergaulan sangat mempengaruhi sikap kita terhadap rokok. Sebagian besar orang mulai merokok karena bergaul dengan orang yang merokok. Jika begitu, bagaimana kalau prosesnya dibalik begini: Orang-orang memutuskan untuk tidak merokok karena bergaul dengan orang-orang yang tidak merokok [Purnawan].

SMS from God:

Ada bahaya besar tersembunyi di balik asap rokok. Ini dapat menghancurkan kehidupan manusia.

 
Read More

Kamis, 18 September 2014

Akal Bulus

Di wilayah perang, seorang serdadu menjual belatinya karena kehabisan uang. Supaya tidak ketahuan, dia menggantinya dengan belati kayu. Rencananya, kalau maju perang lagi, dia akan mengambil belati milik serdadu yang sudah mati.

Rencana belum terlaksana, tiba-tiba komandannya melakukan inspeksi. Komandan ingin memeriksa belatinya.

“Maaf Komandan,” jawab serdadu. “Saya sudah bersumpah pada ayah bahwa saya tidak akan mencabut belati ini dari sarungnya, kecuali jika akan dipakai untuk membunuh musuh.”

Namun Komandan tetap ngotot ingin memeriksa belatinya.

Sambil memandang ke langit, si Serdadu berkata, “Kiranya Tuhan mengubah belatiku menjadi kayu, karena aku telah melanggar sumpahku.”
 “Engkau menaruh kesalahan kami di hadapan-Mu, dan dosa kami yang tersembunyi dalam cahaya wajah-Mu.” (Mazmur 90:8)

Daud berselingkuh dengan Batsyeba. Padahal Batsyeba sudah bersuami, yaitu Uria, salah satu tentara elit Daud. Akibat hubungan gelap itu, Batsyeba mengandung. Untuk menutupinya, Daud membuat rencana licik. Ia menyuruh Uria pulang. Harapannya, Uria berhubungan seks dengan isterinya sehingga nanti dia menganggap bayi di kandungan Batsyeba adalah anaknya sendiri.

Akan tetapi Uria menolak pulang. Maka dibuatlah rencana lain. Daud membuat Uria mabuk dan tidur dengan hamba-hambanya. Kemudian ia menyuruh Yoab supaya menempatkan Uria di wilayah pertempuran paling berbahaya sehingga dia tewas. Rencananya kelihatannya berhasil, tapi lewat nabi Natan, Allah menelanjangi dosa-dosa Daud. “Tetapi hal yang telah dilakukan Daud itu adalah jahat di mata TUHAN” (2 Samuel 11:27). Tidak ada yang tersembunyi dari pandangan Allah [Purnawan].

 

SMS from God: Serapi apa pun kita membungkus kebusukan kejahatan kita, suatu saat pasti akan dibeberkan oleh Allah
Read More

Rabu, 17 September 2014

Disiplin dan Disciple

Ben Carpenter adalah pemuda 21 tahun yang cacat fisik sehingga harus menggunakan kursi roda. Suatu sore, ketika menyeberang di sebuah perempatan di Michigan, AS, secara tidak sengaja pegangan kursi rodanya tersangkut bumper depan truk semitrailer.

Sopir truk tidak menyadari hal ini dan tetap menjalankan kendaraannya. Akibatnya Carpenter terdorong dengan kecepatan 80 km/jam. Untungnya ada pengendara lain yang melihat kejadian ini dan menelepon polisi. Polisi segera menghentikan truk ini.

Sisi baik dari peristiwa ini adalah Carpenter tidak tergilas truk dan tidak mengalami luka-luka. Kursi rodanya pun tidak mengalami kerusakan parah. Hanya sebagian bannya saja yang mengalami aus. Carpenter bisa selamat karena dia disiplin dalam menggunakan  sabuk pengaman ketika duduk di kursinya.
 “Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan.” (1 Timotius 6:11)

Disiplin hampir mirip dengan kata disciple (murid). Apa persamaan di antara keduanya? Sama-sama patuh. Sama seperti murid patuh pada gurunya, orang yang berdisiplin adalah orang yang patuh pada peraturan.

Harus diakui tingkat kepatuhan kita pada hukum masih rendah. Seperti iklan rokok: “Taat hanya kalau ada yang lihat.” Memakai sabuk pengaman jika ada polisi. Membayar pajak jika sudah ditagih.

Hukum dibuat untuk menegakkan keadilan. Kepada Timotius, Paulus menasehati supaya ia mengejar keadilan. Karena hal itu merupakan ciri-ciri anak terang. “Karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran” (Ef.5:9). [Purnawan].

SMS from God: Sepanjang hukum itu demi keadilan, maka sebagai anak terang kita wajib mengejarnya
Read More

Selasa, 16 September 2014

Demi Kemanusiaan

Di sebuah lembaga pelayanan, salah satu stafnya meminta pinjaman kepada kantornya. Gajinya telah habis dipakai untuk memperbaiki rumah kontrakan supaya layak ditempati.

Kepala tata usaha menyampaikan hal ini pada pimpinannya. “Stafmu itu belum genap setahun bekerja di sini,”jawab pimpinan tegas. “Menurut peraturan, dia belum punya hak meminjam dari kantor.”

Kepala tata usaha menanggapi, “Saya sudah lebih dari setahun bekerja di sini. Berarti saya berhak meminjam uang sejumlah itu dari kantor, tapi saya akan meminjamkan lagi kepada staf saya. Menurut peraturan, itu boleh ‘kan?”

“Boleh,” jawab pimpinan singkat.

Dalam bacaan Alkitab kita, diceritakan Yesus diperhadapkan pada dua pilihan: menaati hukum Taurat tentang hari Sabat atau menyembuhkan orang sakit. Menurut Taurat, orang Yahudi dilarang melakukan pekerjaan. Termasuk juga menyembuhkan orang sakit.

Dalam Zakharia 7:9, kita melihat bahwa antara hukum dan kasih itu bagaikan dua sisi dalam satu mata uang.  Namun ketika harus membuat prioritas, Yesus menempatkan kasih di atas hukum. Meski melanggar Taurat, Yesus tetap menyembuhkan orang yang mati sebelah tangannya. Bagi Yesus, manusia itu lebih berharga dari apa pun yang ada dunia ini.

Hukum atau peraturan dibuat untuk menciptakan ketertiban dan keadilan. Sedapat mungkin kita harus menaati hukum dan peraturan. Namun ketika diperhadapkan pada pilihan: taat pada hukum atau melanggar hukum demi kemanusiaan, maka dengarkan hati nurani Anda. [Purnawan].

SMS from God: Manusia itu lebih berharga dari apa pun. Jika sudah menyangkut kemanusiaan, maka hal tersebut harus diutamakan.
Read More

Senin, 15 September 2014

Harga yang Harus Dibayar

Ada seorang pria yang mengendarai mobil semalaman. Menjelang pagi, dia berhenti di samping lapangan olahraga dan bersiap tidur. Belum lama memejamkan mata, terdengar ketukan di jendela mobilnya. “Ada apa?” tanya pria sambil menurunkan kaca mobil. Seorang berpakaian olahraga melongok ke dalam. “Maaf, pak. Numpang tanya, pukul berapa sekarang?” tanya orang itu. “6:15” jawab sopir singkat, lalu tidur lagi.

Sepuluh menit kemudian, terdengar ketukan lagi. “Numpang tanya, jam berapa sekarang?” tanya si pengetuk. “6:25!” jawab pengemudi kesal.  Dia memejamkan mata lagi. Supaya tidak diganggu lagi, maka si pengemudi mengambil secarik kertas dan menulis “Saya tidak tahu sekarang pukul berapa.” Ia menempelkannya di kaca mobil.

Tak berapa lama, terdengar ketukan lagi. “Ada apa?” tanya pengemudi semakin jengkel. “Maaf pak, saya membaca tulisan ini di mobil Bapak,”kata sang pengetuk. ”Saya mau memberitahu kalau sekarang ini pukul 6:45.”
 “Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.” (Markus 6:34)

Ada harga yang harus dibayar, saat kita memutuskan untuk melayani Tuhan. Salah satunya adalah berkurangnya kenyamanan dan wilayah privasi kita.  Misalnya, kalau Anda seorang pekerja, maka waktu yang seharusnya dipakai untuk bersantai tapi digunakan untuk pelayanan.

Yesus mengajak murid-murid-Nya ke tempat sunyi supaya dapat beristirahat. Akan tetapi ada banyak orang yang mengikuti-Nya. Melihat hal ini, Yesus tergerak oleh belas kasihan. Dia batal beristirahat dan melayani mereka. Jika kita sudah memiliki hati yang penuh belas kasihan (compassion), maka kita tidak merasa terganggu meski kenyamanan dan privasi kita terganggu [Purnawan].

 

SMS from God:Tanpa dilandasi belas kasihan, pelayanan yang Anda lakukan tidak akan bertahan lama.
Read More

Minggu, 14 September 2014

Terlalu Mudah

Sebuah perusahaan bernama Betty Crocker menjual kue instan. Cukup dengan menambahi air ke dalamnya, maka kue yang enak sudah dapat dinikmati. Ini cukup praktis di zaman modern ini.

Tapi apa yang terjadi? Inovasi ini ternyata tidak laku di pasar. Mengapa begitu? Setelah meneliti, perusahaan itu mendapat jawaban yang mengejutkan. Konsumen enggan membeli kue instan itu karena menganggap cara membuatnya terlalu mudah. Mereka juga ingin terlibat dalam proses pembuatannya.

Maka Betty Crocker pun mengubah formula produknya. Selain air, konsumen juga harus menambahkan telur. Ketika produk ini dijual, ternyata sukses terjual.

Banyak orang yang tidak percaya bahwa supaya bisa masuk sorga cukup dengan percaya pada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Itu terlalu mudah. Mereka ingin berbuat sesuatu untuk mendapatkan keselamatan. Maka ada orang yang hidup asketis (hidup sangat sederhana), melakukan puasa, memberikan amal, melakukan perbuatan baik, dll. Seperti konsumen Betty Crocker, mereka ingin terlibat dalam proses mendapatkan keselamatan itu.
 “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah.” (Efesus 2:8)

Akan tetapi Paulus menegaskan bahwa keselamatan itu adalah hadiah Tuhan. Tuhan tahu bahwa usaha manusia tidak akan pernah cukup untuk mendapatkan keselamatan.  Itu sebabnya, Dia telah menyiapkan keselamatan yang diberikan gratis kepada manusia. Yang perlu dilakukan oleh manusia adalah menerimanya. Semudah itu.

Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda masih merasa perlu berbuat sesuatu untuk mendapatkan keselamatan? Itu akan sia-sia saja. Anda cukup percaya bahwa Yesus mampu menyelamatkan Anda. [Purnawan]

 

SMS from God: Keselamatan itu gratis tapi bukan sesuatu yang murahan. Ia harus dibayar dengan darah yang mahal.

 
Read More

Sabtu, 13 September 2014

Tomas, si Peragu?

Jika saya menyebut nama Yudas Iskariot, kata apa yang segera terlintas di kepala Anda? Apakah kata yang terlintas adalah “pengkhianat”? Bagaimana jika saya menyebut Yakobus dan Yohanes? Apakah terlintas kata “anak guruh”? Bagaimana jika saya menyebut nama Tomas? Apakah dengan spontan Anda berkata dalam hati “si Peragu”?

Ketiga injil Sinoptik, hanya menyebut Tomas secara sepintas-lalu (Mat.10:3; Mrk.3:18;Luk.6:15). Akan tetapi dalam injil Yohanes, ia digambarkan sebagai pribadi yang unik. Ketika Yesus berjalan menuju Yerusalem, para murid khawatir bahwa hal itu akan mendatangkan kematian bagi mereka. Namun tanpa disangka-sangka Tomas berkata, "Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia" (Yoh.11:16 ). Ini sebuah pernyataan yang berasal dari orang yang penuh keyakinan. Tapi mengapa kita hanya mengingatnya sebagai Tomas si Peragu?

Memang dalam injil Yohanes diceritakan bahwa Tomas tidak akan percaya akan kebangkitan Yesus kalau tidak mendapat bukti secara langsung. Namun ketika ia akhirnya bertemu langsung dengan Yesus yang hidup, Tomaslah yang memberikan pengakuan paling mendalam kepada Yesus.  Tomas berkata"Ya Tuhanku dan Allahku!" (Yoh.20:28). Kata-kata yang tegas ini tidak mungkin berasal dari mulut orang yang ragu-ragu.

Kita kadang gegabah dalam memberi label pada seseorang: “si Pemarah”, “Pembohong Besar”, “si Gendut Pemalas” dll. Celakanya, label itu didasarkan pada satu sisi yang menonjol dari seseorang, sehingga kita gagal memahaminya sebagai manusia yang kompleks dan utuh [Purnawan].

SMS from God: Hati-hati dalam menilai seseorang. Dalamnya laut dapat kita duga, dalam hati manusia siapa tahu.
Read More

Jumat, 12 September 2014

Kebebasan Finansial

Tidak ada yang menyangka Alice Harris memiliki uang sangat banyak. Maklum perempuan berusia 97 tahun itu hanyalah seorang pemilik toko kecil yang menjual bahan makanan di sebuah pedesaan di negara bagian New York.  Karena itu, banyak tetangganya kaget ketika tahu bahwa Alice telah mewariskan uang 1 juta dollar atau hampir Rp. 9 miliar pada sebuah sekolah sebelum dia meninggal.

“Tidak seorang pun tahu bahwa dia punya uang sebanyak itu,”kata Becky Mosher yang membeli toko kecil itu dari Alice. Alice yang tidak punya anak ini dikenal sebagai orang yang hemat. “Dia tidak banyak menghabiskan uang dan tidak pernah pergi kemana-mana,” ujar Mosher.

Apa persamaan dan perbedaan antara hemat dan pelit? Keduanya sama-sama berusaha mengurangi pengeluaran uang sedikit mungkin. Bedanya, orang yang pelit adalah orang yang dikuasai oleh hartanya. Sedangkan orang hemat adalah orang yang mampu menguasai dan mengelola harta dengan bijak.

Saat ini ada istilah “kebebasan finansial”, yang artinya sebuah keadaan dimana seseorang telah mandiri dari sisi keuangan. Dengan kemandirian ini, kebutuhan hidup seseorang dapat tercukupi. Namun di balik keadaan ini, tersembunyi ancaman serius. Orang itu dapat diperbudak oleh uang.

Alice memberi kita teladan bagaimana dia bebas dari jeratan uang. Meski hartanya berlimpah, tapi dia menggunakannya seperlunya saja. Itu bukan karena dia pelit, melainkan karena punya tujuan lebih besar yaitu untuk memberkati orang lain [Purnawan].

SMS from God: Jika Tuhan menghendaki Anda menjadi berkat bagi orang lain, maka Dia akan lebih dulu memberkati Anda.
Read More

Kamis, 11 September 2014

Pelajaran Merendahkandiri

Ibu Inge (nama samaran) adalah pengikut Kristus yang taat. Usianya di atas 50 tahun dan sudah setahun menjanda. Suatu hari, dia menarik uang di bank. Di tempat parkir, tiba-tiba ada 3 orang yang menyapanya dengan sangat ramah, walau bu Inge sendiri merasa tidak kenal. “Sedang apa, Bu,” tanya salah seorang pria dengan hangat.

“Ambil uang,” jawab bu Inge. “Ambil berapa?” Bu Inge menyebutkan nilai nominal tertentu. “Ah, masih kurang. Ayo ambil lagi!” kata penyapa itu sambil menggamit lengan bu Inge dan mengajaknya kembali masuk bank.

Anehnya, bu Inge menurut saja. Dia kembali ke kasir dan mengambil seluruh tabungannya. Setelah itu, bu Inge ‘dibimbing’ masuk ke sebuah mobil. Di dalam mobil, mereka membujuk supaya bu Inge menitipkan segepok uang kepada mereka. Ini demi keamanan, kata mereka.  Mereka juga meminta perhiasan dan HP milik bu Inge.

Beberapa saat setelah diturunkan di pinggir jalan, bu Inge baru sadar bahwa telah ditipu habis-habisan. Dia segera melapor ke polisi.

“Tuhan, apa maksud-Mu atas semua ini?”tanya bu Inge dalam doa. Lalu suara hatinya berkata,”Kamu ambil uang itu untuk apa, sih?” Dia ingat sehari sebelumnya, tersinggung pada ucapan seseorang yang berkaitan dengan uang. Untuk menjaga harga dirinya, maka dia akan ‘menyumpal’ mulut orang itu dengan uang.

“Tuhan rupanya sedang mengajarkan tentang merendahkan diri kepadaku,”kata bu Inge kepada saya. “Memang benar, ucapan ini: yen pingin andhap asor, kowe kudu nganti ndlosor [Merendahkan diri itu harus sampai mencium tanah].” [Purnawan]

 

SMS from God: Yesus sudah memberi teladan dalam merendahkan diri. Sebagai hamba, Dia taat sampai mati.
Read More

Rabu, 10 September 2014

Mukjizat di Depan Mata

Salah satu anggota jemaat kami terserang penyakit demam berdarah. Jumlah trombosit dalam darahnya terus menurus dengan drastis. Pertama kali masuk rumah sakit, jumlah trombositnya hanya 50 ribu. Padahal angka minimalnya adalah 150 ribu.

Dia harus banyak minum jus buah jambu merah yang dipercaya dapat meningkatkan kadar trombosit. Akan tetapi belum terlihat perubahan yang berarti. Mengetahui hal ini, orangtua pasien mengirim SMS ke banyak anggota jemaat untuk meminta dukungan doa. Tengah malam itu, kami bersama-sama berdoa.

Beberapa jemaat yang bergolongan darah B dikontak untuk bersiap-siap, jika sewaktu-waktu diminta mendonorkan darahnya. Sehari kemudian kadar tombositnya semakin melorot ke angka 25 ribu, 19 ribu, bahkan sampai hanya 12 ribu.

Pada situasi ini, orangtua pasien sempat panik dan cemas. Mereka sudah bersungguh-sungguh meminta mukjizat dari Tuhan, tapi kadar trombosit anaknya malah terus menurun. Hingga suatu saat mereka menerima SMS ini: “Ambang batas minimal untuk kadar trombosit adalah 150 ribu. Anak Anda masih dapat bertahan dengan angka 12 ribu, bukankah itu sebuah mukjizat?” Mereka mendapat penguatan dari SMS ini.

Setelah ditransfusi, kadar trombosit pasien ini mulai naik dan sekarang sudah sembuh. Dalam acara persekutuan, orangtua pasien bersaksi: “Ketika kita minta mukjizat, kita sering memintanya harus sesuai dengan kehendak kita. Ketika mukjizat itu datang dalam bentuk yang tidak sesuai dengan keinginan kita, maka kita sering menganggapnya bukan sebagai mukjizat.

Maka kata Yesus kepadanya: "Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya." (Yohanes 4:48)

[Purnawan]

 

SMS from God: Tuhan itu maha kreatif dan punya banyak cara untuk menyatakan kuasa-Nya. Diperlukan kepekaan rohani untuk mengetahuinya.

 
Read More

Selasa, 02 September 2014

Kesepian

Sebuah perusahaan makanan di Jepang, Takasaki, merekam suara wanita untuk menjelaskan produk-produk mereka. Rekaman suara ini dapat diakses melalui telepon bebas pulsa.

Adalah Riroyuki Namoto (38 th), salah satu orang yang menggunakan fasilitas ini. Dia telah menelepon sebanyak lebih dari 500 kali. Dia sebenarnya tidak berminat membeli produk itu, tapi hanya terobsesi pada suara wanita dalam rekaman itu. Akibatnya, perusahaan Takasaki harus membayar tagihan telepon sekitar Rp. 330 juta, dengan total panggilan 3.100 jam.

“Kesepian” itulah kata yang tepat untuk menggambarkan kehidupan Riroyuki. Karena kesibukan kerja, dia tidak punya kesempatan untuk bersosialisasi. Hampir seluruh waktunya tersita untuk pekerjaan. Hal ini mengingkari kodrat dasar manusia sebagai makhluk sosial. Pada dasarnya, setiap manusia memiliki naluri alami untuk berhubungan dengan manusia yang lain.

Itu sebabnya, pusat-pusat hiburan ramai dikunjungi pada akhir pekan. Tujuan utamanya sebenarnya adalah untuk bertemu dan berteman dengan manusia yang lain. Inilah peluang bagi gereja yang ada di kota-kota besar. Gereja sebaiknya menjadi tempat untuk mencari teman dan menjalin persahabatan.

Sayangnya, kebanyakan jemaat buru-buru pulang begitu ibadah telah selesai. Hanya sedikit orang yang masih tinggal agak lama untuk sekadar bercakap-cakap. Hari ini, cobalah untuk memikirkan inovasi apa yang dapat Anda buat untuk gereja Anda. Jadikan gereja Anda sebagai pusat hiburan yang sehat [purnawan].

SMS from God: Hilangkan kesan bahwa gereja itu dingin dan angker. Buatlah jadi hangat dan ramah.
Read More