Jumat, 08 Agustus 2014

Hubungan Akrab

Hubungan Bapa dengan Anak-Nya itu sangat erat. Sebanyak dua kali Bapa telah mendengarkan suara-Nya bahwa Dia mengasihi Yesus. Yang pertama kali pada pembaptisan Yesus (Mrk. 1:11). Yang kedua ketika Yesus dimuliakan di atas gunung (Mrk. 9:7).

Yesus pun sangat mengasihi Bapa-Nya, sehingga Dia senantiasa melakukan kehendak-Nya. Kepada murid-murid-Nya, Dia memberitahukan bahwa “makanan-Nya” adalah melakukan kehendak Bapa (Yoh. 4:34). “ Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri… sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku” (Yoh. 5:30). Dalam Yohanes 14:31, dengan jelas Yesus berkata bahwa ia mengasihi Bapa: “ Tetapi supaya dunia tahu, bahwa Aku mengasihi Bapa dan bahwa Aku melakukan segala sesuatu seperti yang diperintahkan Bapa kepada-Ku.”
“ Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eloi, Eloi, lama sabakhtani?", yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Markus 15:34)

Dengan mengetahui hubungan yang sangat akrab ini, maka kita dapat memahami perasaan Yesus pada waktu tergantung di kayu salib sehingga berseru: “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”

Kebenaran ini menyatakan betapa besar kasih Bapa kepada manusia. Dia begitu mengasihi Anak-Nya, tapi karena begitu besar kasih-Nya kepada dunia maka Dia mengutus Anak-nya ke dunia. Berapa besar pula kasih Yesus yang dengan rela hati menyerahkan nyawa-Nya karena kita. Memang seperti itulah makna anugerah. Allah memberikan keselamatan dan kehidupan dengan cuma-cuma kepada orang berdosa, yang seharusnya mendapat hukuman kekal [purnawan].

SMS from God: “Bapa begitu mengasihi Anak-Nya, tapi juga mengasihi manusia. Itu sebabnya Dia mengutus Anak-Nya untuk menyelamatkan manusia.”
If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It