Minggu, 31 Agustus 2014

Bahasa tak Terkatakan

Pasangan Anda berkata, “Saya sehat, kok” tapi wajahnya terlihat pucat dan keringatan. Mana yang lebih Anda percayai? Pasti tanda-tanda yang terlihat. Inilah yang disebut bahasa nonverbal. Seperti kata pemazmur, orang yang “bertegang leher” adalah ciri orang yang sedang marah. Dengan mengetahui bahasa tubuh pasangan Anda, maka Anda dapat menghindari pertengkaran.

1. Perhatikan bahu pasangan Anda. Bahu yang membungkuk menandakan dia mengalah. Bahu yang tegap berarti dia siap “perang.” Dengan mengamati perubahan ini dapat menghindari pertengkaran.

2. Duduk dan condongkan kepala Anda ke depan jika bertanya apa yang membuat pasangan Anda sedih. Duduk menandakan Anda siap mendengar dan kepala yang condong ke depan menunjukkan minat Anda.

3. Ketika duduk bersama atau berboncengan, sandarkan Anda ke pasangan Anda. Hal ini menunjukkan Anda ingin lebih dekat padanya.

4. Bola mata membesar ketika melihat hal yang menarik. Tatap mata pasangan Anda untuk mengirimkan sinyal cinta.

5. Jika bertengkar, peganglah segelas air. Posisi tubuh mempengaruhi emosi. Jika pasangan Anda melipat tangan di dada, itu berarti dia sedang defensif. Bukalah itu dengan memberikan segelas air putih. Itu akan mengurangi ketegangan.

6. Tersenyum. Penelitian membuktikan bahwa senyum menimbulkan efek positif.

Dengan memperhatikan bahasa tubuh pasangan Anda dan menggunakan bahasa nonverbal yang tepat, maka rumah tangga Anda akan menjadi lebih harmonis.

SMS from God: Dengan lebih cermat melihat tanda-tanda nonverbal, Anda dapat mencegah “bencana” komunikasi.
Read More

Sabtu, 23 Agustus 2014

Layanan

Sewaktu kuliah, saya tinggal di kota lain, meski masih satu propinsi. Setiap hari Sabtu, saya pulang ke rumah. Ketika balik ke kost, ibu sering membekali saya dengan camilan sederhana buatannya sendiri. Biasanya penganan atau sambal tempe kering yang bisa awet lama.

Layanan ini menunjukkan bahasa kasih ibu kepada saya. Sedangkan layanan bapak saya adalah dengan membuatkan mainan kayu.  Meski bekerja sebagai guru, tapi bapak saya mewarisi keterampilan tukang kayu dari kakek. Mainan buatan bapak saya paling bagus dibanding mainan teman-teman saya.

Layanan ini membuat anak-anak merasa bermakna dan dicintai. Layanan yang dilakukan oleh orangtua akan ditiru oleh anak dalam hal melayani dan tanggungjawab. Jangan harap anak Anda bersedia untuk melayani orang lain jika dia dewasa, jika pada masa kecil dia tidak mendapat teladan dari orangtuanya.
“Tetapi kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya.” (1 Tesalonika 2:7)

Meskipun Anda memiliki pembantu atau babysitter, tapi alangkah baiknya jika berkaitan langsung dengan anak, maka Anda melakukannya sendiri. Misalnya, menyuapi, membuatkan minuman, membawa ke dokter, mendandani, dll. Hal ini tidak akan membuat anak menjadi manja, justru membuat anak merasa aman dan nyaman karena dikasihi. Layanan merupakan bahasa kasih yang mudah dimengerti oleh anak-anak [Purnawan].

 

SMS from God: Layanan yang Anda berikan pada anak, menunjukkan bahwa Anda mengasihi mereka.
Read More

Jumat, 22 Agustus 2014

Hadiah

Waktu kecil, setiap hari Kamis saya selalu menantikan ayah pulang dari mengajar. Ketika mendengar bunyi dering sepeda dibunyikan, saya segera  menghambur dan menyambut tas kerja ayah. Buru-buru saya membuka isi tas untuk mendapatkan majalah anak-anak edisi terbaru.

Pemberian hadiah merupakan salah satu bentuk ungkapan cinta dan diberikan gratis oleh orangtua. Hal ini dapat dipakai sebagai momentum untuk menunjukkan kasih karunia Allah. Para orangtua sering mengaitkan pemberian hadiah dengan syarat-syarat tertentu. “Ayah akan membelikan sepeda baru jika kamu naik kelas” atau “Mama akan memberi tas Gucci, kalau kamu mau ikut paduan suara.” Tampaknya tindakan ini dapat menimbulkan motivasi pada anak. Tapi sesungguhnya motivasinya adalah untuk mendapatkan hadiah itu, bukan demi kemajuannya.
“Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.” (Yakobus 1:17)

Selain itu, pemberian hadiah dengan bersyarat ini justru tidak mencerminkan kasih Bapa kepada anak-anak-Nya. Meski sebenarnya tak layak mendapat “hadiah” keselamatan, tapi Allah tetap memberikannya kepada manusia.  Karena itu, sebaiknya Anda memberikan hadiah kepada anak-anak karena Anda mengasihi mereka. Itu saja. Tidak perlu dikaitkan dengan prestasi atau syarat-syarat tertentu. Hal ini akan mengajarkan pada anak-anak merasakan kasih dari Bapa[Purnawan].

SMS from God: Kita telah mendapat hadiah gratis dari Bapa, maka kita juga memberikan gratis pada anak-anak.
Read More

Kamis, 21 Agustus 2014

Waktu Berkualitas

Seorang anak ingin sekali ditemani oleh papanya untuk bermain. Tapi papanya terlalu sibuk. “Berapa sih gaji papa untuk tiap jam?” tanya sang anak. Papanya menjawab, “Papa digaji 100 ribu/jam.”

“Saya punya uang 50 ribu. Maukah papa bermain denganku selama setengah jam?” tanya anak.

Ilustrasi ini menggambarkan perlunya waktu berkualitas bersama anak.  Waktu yang Anda berikan untuk mendampingi anak menunjukkan bahwa Anda menghargai dan kebersamaan mereka. Kehadiran fisik saja tidak cukup, jika perhatian Anda tercurah di tempat lain. Misalnya Anda mengajak anak bermain di kebun binatang, tapi Anda tetap mengurusi pekerjaan dengan handphone. Anda menemani anak belajar sambil membaca koran. Kebersamaan ini harus disertai dengan pencurahan perhatian sepenuhnya kepada anak. Ini yang disebut waktu berkualitas.

Kehadiran Anda merupakan hadiah yang tergantikan bagi anak-anak Anda. Anak membutuhkan orangtua untuk mendampingi dalam belajar, mengerjakan PR, mengajarkan sopan-santun, membacakan cerita, makan bersama, jalan-jalan santai, bergosip bersama dll. Hal ini akan menambah kedekatan emosional antara orangtua dengan anak.
“Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun.” (Lukas 6:47-48)

Masa anak-anak membentuk pondasi bagi kehidupan manusia. Jika kita mendampingi anak pada masa emas ini, maka kita telah meletakkan dasar-dasar kehidupan yang kokoh bagi anak [Purnawan]

SMS from God: Masa anak tidak dapat diulang. Jika Anda melewatkannya, Anda membuang kesempatan emas.
Read More

Rabu, 20 Agustus 2014

Kata-kata Penegas

Sewaktu SMA, badan saya sangat kurus. Pada pelajaran olahraga, kami diharuskan memegang palang besi yang ada di atas kami. Kemudian mengangkat tubuh kami sehingga wajah melewati besi. Dengan susah payah saya sudah berusaha melakukannya, tapi malah ditertawakan oleh guru olahraga. Namun yang membuat saya sakit hati adalah ucapan sang guru. “Ha…ha…ha…kayak cacing,” komentar guru saya.

Meski saya sudah mengampuni sang guru itu, tapi ingatan saya masih merekam jelas peristiwa itu. Itulah kekuatan kata-kata. Tapi kata-kata juga punya kekuatan positif jika dipakai sebagai kata-kata penegas.

Kata-kata penegas adalah ucapan yang diberikan untuk memberi pujian, dorongan dan meneguhkan bahwa perbuatannya sudah benar. Ucapan ini bisa berupa pujian, “Kamu anak yang pintar.” Bisa juga berupa kata-kata yang membesarkan hati: “Ya, bagus. Kamu pasti bisa.” Atau kata-kata bimbingan: “Sini, ibu ajari.” Kata-kata seperti ini membuat anak bersemangat dan merasa dihargai.
“Dan hendaklah kita saling memperhatikan, supaya kita dapat saling memberi dorongan untuk mengasihi sesama dan melakukan hal-hal yang baik.” (Ibrani 10:24-BIS)

Seperti pengalaman saya, kata-kata yang negatif juga dapat menyebabkan luka-luka batin. Misalnya, ketika sedang mengajari anak-anak mengerjakan PR, kita mengucapkan komentar, “Begitu saja kok tidak bisa.” Jika kata-kata ini diulang-ulang maka anak akan menganggapnya sebagai kebenaran, sehingga membentuk citra diri yang negatif. “Aku memang anak yang bodoh. Belajar sekeras apa pun, tetap saja bodoh.”

Mulai hari ini, pergunakanlah Bahasa Kasih ini. Ucapkan kata-kata penegas untuk anak Anda [Purnawan].

SMS from God: Kata-kata penegas memberikan dorongan dan perhatian kepada anak.
Read More

Selasa, 19 Agustus 2014

Sentuhan Fisik

Dalam dunia psikologi kristiani, dikenal ada 5 Bahasa Kasih, yang terdiri dari: sentuhan fisik, kata-kata penegas, waktu berkualitas, hadiah dan layanan. Dengan mempraktikkan 5 Bahasa Kasih ini dapat menolong kita dalam menyatakan cinta tak bersyarat kepada anak-anak.

Sentuhan fisik adalah bahasa cinta yang paling mudah digunakan tanpa syarat. Orangtua tidak perlu mencari kesempatan khusus ataupun alasan bila hendak melakukan sentuhan fisik. Misalnya jika anak sedih, maka kita menggendongnya, maka anak merasa aman. Jika anak takut, kita memeluknya, maka anak merasa aman. Jika anak berprestasi, kita menepuk pundaknya, maka anak merasa mendapat pengakuan.

Akan tetapi sentuhan fisik juga dapat menimbulkan luka-luka batin pada anak-anak. Contohnya, dengan memukul, menampar, mencolek (yang melecehkan secara seksual), menendang dll. Luka-luka fisik mungkin akan sembuh hanya dalam beberapa hari. Namun luka-luka dalam batin akan membekas selama berbulan-bulan, bertahun-tahun, bahkan mungkin sepanjang hidupnya.
“Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.” (Lukas 15:20)

Salah satu dari indra yang diberikan kepada kita adalah indra perasa. Rangsangan yang terjadi pada kulit kita dapat mempengaruhi emosi kita. Usap-usaplah punggung anak Anda, maka dia akan merasa aman. Dia merasa disayangi. [Purnawan]

SMS from God: Sentuhan fisik tidak butuh biaya atau keterampilan, tapi hasilnya luarbiasa. Cobalah!
Read More

Senin, 18 Agustus 2014

Dukungan Pasangan

Suatu hari seorang raja mengunjungi sebuah desa. Konon kaum istri di desa itu terkenal sangat dominan, sehingga membuat takut para suami. Raja ingin membuktikan kebenarannya. Dia mengumpulkan para suami di tengah lapangan, kemudian menarik garis panjang di tanah.

“Bagi suami-suami yang takut dan tunduk pada perintah istrinya, berdirilah di sebelah kiri garis!” perintah sang raja. Maka berbondong-bondonglah para suami ke sebelah kiri baris.

“Bagi suami-suami yang tidak takut dan tidak mau diperintah istrinya, berdirilah di sebelah kanan garis!” perintah sang raja lagi. Ternyata hanya satu pria yang ada di sana.

Sang raja penasaran dan menghampiri pria itu. “Apa rahasianya sehingga kamu berdiri di sebelah kanan?” tanya raja. “Saya tidak tahu,” jawab pria itu polos, “Saya hanya menuruti saja perintah istri saya.”

Humor ini memberikan pelajaran tentang perlunya kesetaraan dalam relasi suami-istri. Tidak ada yang lebih berkuasa atas yang lain. Yang terjadi adalah relasi yang saling melengkapi dan saling mendukung.
TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." (Kejadian 2:18)

Rev. Billy Graham sangat merasakan dukungan istrinya dalam pelayanannya. “Dia adalah partner hidup saya dan kami dipanggil Allah sebagai satu tim. Tidak ada orang lain yang sanggup menanggung beban yang dibawanya …. Pekerjaan saya selama bertahun-tahun mustahil dapat dilakukan tanpa dukungan dan dorongan dari dia,” kata Billy Graham mengenai Ruth, istrinya (64 tahun), yang meninggal pada 14 Juni 2007. Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda menolong atau merongrong pasangan Anda?[Purnawan]

SMS from God: Anda dapat menjadi penolong atau perongrong pasangan Anda. Pilihan terletak di tangan Anda.
Read More

Minggu, 17 Agustus 2014

Kuasa Pujian

Teman saya, pak Xavier, mengajarkan untuk memuji orang lain untuk hal-hal yang sederhana. Contohnya, jika hidangan di warung makan enak, maka dia akan memberi pujian kepada tukang masak atau pemilik restoran. Saya pun meniru cara ini. Ternyata efeknya dahsyat. Pemilik warung merasa senang dan melayani saya dengan ramah setiap kali saya datang lagi.

Dalam buku “20 Surprisingly Simple Rules and Tools for a Great Marriage”, ada empat jenis pujian:

1. Pujian untuk kepemilikannya. Pujilah benda-benda miliknya, apalagi yang menjadi kesayangannya. "Saya suka gaun yang baru saja kamu beli" atau "Dasimu cocok sekali dengan jasmu.”  Meski kelihatannya dibuat-buat, tapi pujian ini dapat menjadi awal yang baik.

2. Pujian untuk penampilannya. Katakanlah, "Potongan rambutmu membuatmu semakin cantik” atau “Sepatu ini membuatmu tampak berwibawa.”

3. Pujian untuk perbuatannya. Orang akan merasa senang jika hasil pekerjaannya diakui dan dianggap baik. "Hmmm….masakanmu enak. Aku sampai kekenyangan” atau “Kamu rajin sekali membersihkan kamarmu, nak.” Pujian ini tidak hanya memberikan penghargaan tapi juga cinta.

4. Pujian untuk karakternya. Inilah pujian yang paling ampuh dan mengena. Misalnya, pujian untuk kebaikan hati, kemurahan, atau kebijaksanaanya. “Kamu adalah istri yang penyabar” atau “Aku beruntung punya engkau karena sangat mengasihi keluarga.”
“Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat” (Roma 12:10)

Dengan memberi pujian Anda secara langsung menyampaikan pesan kepada orang tersebut bahwa “Kehadiranmu memberi makna pada hidupku.” [Purnawan]

SMS from God: Setiap kata pujian yang tulus itu seperti batang kayu yang dilemparkan ke perapian.
Read More

Sabtu, 16 Agustus 2014

Gaya Komunikasi ala Burung (3)

Pada dua renungan sebelumnya kita sudah mengenali empat gaya komunikasi negatif: Gaya elang, merpati, burung hantu dan burung onta. Saya berharap Anda tidak termasuk dalam salah satu dari empat gaya komunikasi tersebut. Akan tetapi, jika ya, maka Anda tidak perlu cemas. Masih ada langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk memperbaiki pola komunikasi Anda.

Pertama, mengetahui apakah Anda termasuk dalam salah satu ciri-ciri gaya komunikasi tersebut.

Kedua, mengakui bahwa hal tersebut tidak sehat. Katakan di depan cermin, “Aku adalah merpati. Caraku berkomunikasi ini menyakiti pasanganku.” Mengakui dengan cara ini mempermudah Anda mengakuinya nanti di depan pasangan Anda.

Ketiga, bertekad mengubah pola komunikasi. Allah memberi kebebasan pada manusia untuk membuat keputusan. Jika Anda memutuskan untuk berubah, Roh Kudus akan menolong.

Keempat, menggantikan pola lama dengan pola baru. “Merpati” perlu berkata dengan jujur dalam kasih. “Elang” belajar menerima tanggungjawab untuk perbuatannya. “Burung hantu” tidak hanya menggunakan akalnya, tapi juga memakai perasaannya. “Burung onta” bersedia diajak berbicara untuk menyelesaikan masalah.
“Aku harus berbicara, supaya merasa lega, aku harus membuka mulutku dan memberi sanggahan” (Ayub 32:20)

Dalam nats kita, Ayub memutuskan untuk mengangkat bicara. Hal ini dapat membuatnya lega. Dengan menggunakan pola komunikasi yang baik akan senantiasa membuat Anda lega [Purnawan].

 

SMS from God: “Usirlah semua gaya komunikasi ala burung ini, maka kehangatan pernikahan akan datang lagi”
Read More

Kamis, 14 Agustus 2014

Gaya Komunikasi ala Burung (2)

Pada renungan sebelumnya, kita sudah membahas tentang enam gaya komunikasi yang tidak sehat, yaitu saya merpati dan gaya elang. Sekarang kita akan melanjutkan dengan dua gaya berikutnya:

Gaya Burung Hantu. Burung hantu adalah lambang untuk ilmu pengetahuan. Gaya ini selalu memberikan jawaban logis untuk segala hal. Dia selalu memberikan jawaban yang masuk akal sehingga pasangannya enggan untuk berdebat dengannya. Jika pasangannya tampak emosional, dia tetap tenang dan menganalisis kejadian itu.

Seorang istri berkata, “Suami saya ngomong terus selama berjam-jam seolah-olah saya ini anak kecil. Meski saya diberi kesempatan bicara, tapi dia tidak mau mendengarkannya. Maka sekarang saya pilih diam saja.” Tidak ada gunanya mendebat orang yang bergaya burung hantu.

Gaya Burung Onta. Jika ada bahaya, burung ini menyembunyikan kepalanya ke dalam pasir dan sudah merasa aman.  Orang yang bergaya burung onta tidak pernah berkata terus terang kepada pasangannya. Dia berkata-kata dengan berputar-putar untuk menyatakan maksudnya.  Dia enggan diajak berbicara untuk menyelesaikan masalah. “Buat apa menghabiskan enerji untuk ngomongin masalah yang beres dengan sendirinya?” Demikian, alasan yang dikemukakannya. Allah mengajarkan kita untuk “berperkara”, yaitu berbicara bersama atas persoalan tertentu.
“Dengarkanlah Aku dengan berdiam diri, hai pulau-pulau; hendaklah bangsa-bangsa mendapat kekuatan baru! Biarlah mereka datang mendekat, kemudian berbicara; baiklah kita tampil bersama-sama untuk berperkara!” (Yesaya 41:1)

Apakah Anda sesuai dengan ciri-ciri dua gaya komunikasi tersebut? Anda tidak perlu enggan untuk mengakuinya, karena hal ini merupakan pertama untuk memperbaiki kualitas komunikasi Anda[Purnawan]

SMS from God: Gaya burung hantu dan gaya burung onta merusak komunikasi Anda. Enyahkanlah mereka.
Read More

Rabu, 13 Agustus 2014

Gaya Komunikasi ala Burung (1)

Jika ingin menjaga kelanggengan rumah tangga, maka Anda harus mengembangkan komunikasi yang sehat dengan pasangan Anda. Berkomunikasi itu seperti bernapas yang dilakukan terus-menerus. Jika berhenti, maka Anda akan mati.

Dalam berkomunikasi, sebaiknya Anda menghindari empat gaya komunikasi yang negatif berikut ini:

Gaya Merpati: gaya mengalah supaya pasangannya tidak marah. Dia berusaha selalu menyenangkan pasangannya, tidak pernah menentang dan  sering minta maaf meski hanya untuk kesalahan kecil. Biasanya dia berkata, “Terserah, yang penting kamu senang”, “Saya ikut saja keputusanmu

Untuk menghindari konflik, sang “merpati” berusaha menjauh dari keintiman. Ketika Anda berusaha menyimpan pendapat, perasaan atau keinginan Anda, hubungan Anda mungkin akan adem-ayem saja, tapi itu hanya tampak di permukaan saja. Hubungan mesra tidak akan terjadi jika Anda tidak membangun komunikasi yang terbuka dan jujur.

Gaya Elang: Sang elang tidak pernah mau disalahkan, bahkan akan menimpakan kesalahan itu pada pasangannya. Pernyataan yang biasa diucapkan oleh “sang elang” adalah, “Kamu nggak pernah mengerjakan dengan benar” atau “Jika tidak ada kamu, maka segalanya akan baik-baik saja.”

Si elang tampak kuat dan angker. Namun sesungguhnya dia menutupi kelemahan emosinya dengan mencari-cari kesalahan. “Sang elang” tidak peduli pada pendapat pasangannya. Hal ini seperti dalam  Amsal 18:2: “Orang bebal tidak suka kepada pengertian, hanya suka membeberkan isi hatinya”
“Orang bebal tidak suka kepada pengertian, hanya suka membeberkan isi hatinya.” (Amsal 18:2 )

Sekarang saatnya memeriksa diri. Apakah Anda termasuk salah satu dari gaya tersebut? Anda tidak perlu enggan untuk mengakuinya. Sebab ini adalah langkah pertama untuk memperbaiki kualitas komunikasi Anda [Purnawan]

 

SMS from God: Gaya merpati dan gaya elang merusak komunikasi Anda. Enyahkanlah mereka.

 
Read More

Selasa, 12 Agustus 2014

SMS Berantai

"Kartu GSM XXXX  sudah keluar: Rp.6/SMS; Rp. 60/menit; Rp. 600/SMS. Jika dijumlah 666, simbol antikris. Jangan dibeli. Itu kartu pendukung antikris. Sebarkan SMS ini."

Anda mungkin pernah mendapat SMS berantai seperti ini. Mengapa disebut “berantai”? Karena SMS ini berpindah dari satu pengguna HP ke pengguna lainnya. Banyak orang Kristen yang mengikuti saran untuk meneruskan SMS itu ke nomor yang lain. "Toh, aku cuma kehilangan beberapa rupiah.” Mungkin itulah pikir mereka.

Tapi pernahkah kita mengecek kebenaran informasi SMS tersebut sebelum mengirimkannya. Contohnya, pada isi SMS di atas, apakah kita benar-benar yakin bahwa operator seluler itu memang pendukung antikris? Jika informasi itu tidak akurat atau kita tidak yakin akan kebenarannya, maka kita ikut serta dalam dosa kebohongan. Kita telah menyebarkan fitnah.

Kami pernah menjadi korban SMS berantai. Setelah gempa tahun 2006, beredar SMS: “Mohon dukungan doa, pdt. Pelangi [istri saya] belum diketahui keadaannya. Sampai sekarang belum bisa dihubungi.”  Anehnya, tidak satu pun orang yang menanyakan langsung pada kami. Padahal telepon dan HP kami selalu bisa dihubungi.
“Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku.” (Amsal 30:8)

Teknologi SMS itu ibarat pisau. Bisa digunakan untuk hal yang baik atau jahat. Ada seorang Kristen yang rajin mengirim kata-kata motivasi lewat SMS. “Pelayanan” ini ternyata memberi berkat pada orang lain [Purnawan]

 

SMS from God: Manfaatkanlah teknologi untuk mendukung pelayanan. Teknologi adalah berkat Tuhan juga.
Read More

Senin, 11 Agustus 2014

Andalkan Allah

Dalam doa terakhir Yesus ini terungkap seluruh keintiman relasi-Nya dengan Bapa. Lewat kata-kata ini, Yesus menyatakan penyerahan diri-Nya yang total (sebagai manusia) kepada Allah.
Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku." Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya. (Lukas 23:46)

Kata-kata ini merupakan kutipan dari Mazmur 31:6. dalam konteks aslinya, seruan ini disampaikan Pemazmur yang meminta pembebasan dari musuh. Dia mengandalkan Allah. Ayat ini biasa diucapkan di kalangan Yahudi sebagai doa pendek pada malam hari sebelum tidur. Mereka menganggap tidur itu semacam dengan kematian. Itu sebabnya, sebelum tidur mereka menyerahkan nyawa mereka kepada Allah. Mereka percaya bahwa besok pagi mereka akan bangun lagi karena Allah membuat nyawa/roh mereka bekerja kembali lagi. Mereka mengandalkan Allah.

Yesus mengucapkan “doa tidur” ini sebab tahu bahwa Dia akan bangun lagi, pada hari ketiga. Dia mengucapkan kata-kata ini dengan suara yang nyaring. Ini menunjukkan bahwa Yesus tidak mati sebagai seorang yang lemah dan ketakutan, tetapi sebagai seorang yang telah menang dan mengandalkan Allah.

Kepada siapa Anda mengandalkan hidup Anda? Apakah Anda sudah mengandalkan Allah? Ataukah Anda masih mengandalkan harta benda, pengetahuan atau orang lain? Apakah Anda yakin besok pagi Anda masih bisa bangun lagi? Kiranya pertanyaan ini membantu Anda dalam merenungkan dan menghayati hari Paskah ini [purnawan].

SMS from God: Andalkan diri Anda pada Allah, karena Dia yang mengendalikan alam semesta.
Read More

Minggu, 10 Agustus 2014

Sudah Selesai

Dalam dua ucapan sebelumnya, terdapat nada kegetiran. Yesus merasa ditinggalkan oleh Bapa-Nya dan mengalami kehausan. Namun dua ucapan terakhir-Nya memiliki nada kemenangan.

Berabad-abad yang lalu, para nabi telah menubuatkan penderitaan yang akan dialami oleh Mesias. Dia berasal dari keturunan perempuan (Kej. 3:15) dilahirkan dari “seorang gadis” (Yes. 7:14-BIS).

Nubuatan juga mengatakan bahwa Dia berasal dari keturunan Abraham (Kej. 22:18) dan Daud(2 Sam. 7:12,13). Hal ini digenapi Yesus seperti tertulis dalam Matius 1:1 dst. Menurut nubuat, Dia sudah diberi nama sebelum lahir(Yes. 49:1), dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea (Mik. 5:2). Para nabi juga menubuatkan bahwa Dia akan diungsikan ke Mesir, tapi kembali lagi ke Palestina.

Pemazmur menubuatkan Dia akan menenangkan badai dan angin ribut (Mzm. 107:29). Nabi Zakaria menubuatkan Yesus akan masuk ke Yerusalem dengan dielu-elukan orang banyak (Zak. 9:9). Menurut Yesaya, Dia akan dihina dan menderita sengsara (Yes. 53:3) dan ditolak bangsa Yahudi (Yes. 8:14); Dia akan “dibenci tanpa alasan” (Mzm. 69:4). Hingga akhirnya Dia “dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas” (Yes.53:7)
Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: "Sudah selesai." Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya. (Yohanes 19:30)

Selama kurang-lebih 33 tahun, Yesus menggenapi semua nubuatan ini, satu demi satu. Itu sebabnya, dengan perasaan lega Yesus berkata bahwa tugas-Nya di dunia ini sudah selesai. Berkatalah Ia: "Sudah selesai." Dia telah mengerjakan tugas dari Bapa dengan tuntas [purnawan].

SMS from God: Kelegaan akan kita dapatkan jika kita telah menyelesaikan tugas dari Allah.
Read More

Sabtu, 09 Agustus 2014

Aku Haus

Ucapan Aku haus ini menunjuk pada dua ayat Mazmur. “Kekuatanku kering seperti beling, lidahku melekat pada langit-langit mulutku; dan dalam debu maut Kauletakkan aku” (22:15) dan  “ Bahkan, mereka memberi aku makan racun, dan pada waktu aku haus, mereka memberi aku minum anggur asam” (69:2).

Dalam Markus 15:23 diceritakan Yesus menolak anggur bercampur mur yang diberikan kepada-Nya. Campuran ini dapat digunakan untuk meringankan rasa sakit. Yesus telah menetapkan hati untuk mati dengan pikiran yang jernih. Namun ketika diberi anggur asam, Yesus menerimanya. Anggur asam adalah minuman pahit yang biasa diminum oleh pekerja di ladang dan para tentara dari kelas rendah. Tentara Romawi yang berasal dari Italia merasakan udara yang sangat panas di Israel. Karena itu, ketika menjalankan tugas penyaliban itu, mereka membawa bekal air minum, yaitu air putih yang dicampur dengan anggur asam.

Ucapan Yesus ini menunjukkan bahwa Yesus tidak hanya Allah yang sejati, tetapi juga manusia yang sejati. Dia mengalami rasa sakit dan kelemahan dalam tubuh-Nya. Setelah disiksa dan dipanggang di bawah terik matahari selama berjam-jam, tubuh Yesus mengalami dehidrasi (kekurangan cairan). Yesus mengalami penderitaan sebagai manusia. Itu sebabnya, penulis kitab Ibrani dengan sukacita menyatakan bahwa kita memiliki Imam Besar yang dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita (Ibrani 4:15). Dia dapat berempati pada keluhan dan tangisan penderitaan kita, karena Dia pernah mengalaminya [purnawan].

SMS from God: Yesus dapat memahami penderitaan manusia, karena Dia pernah menjadi manusia.
Read More

Jumat, 08 Agustus 2014

Hubungan Akrab

Hubungan Bapa dengan Anak-Nya itu sangat erat. Sebanyak dua kali Bapa telah mendengarkan suara-Nya bahwa Dia mengasihi Yesus. Yang pertama kali pada pembaptisan Yesus (Mrk. 1:11). Yang kedua ketika Yesus dimuliakan di atas gunung (Mrk. 9:7).

Yesus pun sangat mengasihi Bapa-Nya, sehingga Dia senantiasa melakukan kehendak-Nya. Kepada murid-murid-Nya, Dia memberitahukan bahwa “makanan-Nya” adalah melakukan kehendak Bapa (Yoh. 4:34). “ Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri… sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku” (Yoh. 5:30). Dalam Yohanes 14:31, dengan jelas Yesus berkata bahwa ia mengasihi Bapa: “ Tetapi supaya dunia tahu, bahwa Aku mengasihi Bapa dan bahwa Aku melakukan segala sesuatu seperti yang diperintahkan Bapa kepada-Ku.”
“ Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eloi, Eloi, lama sabakhtani?", yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Markus 15:34)

Dengan mengetahui hubungan yang sangat akrab ini, maka kita dapat memahami perasaan Yesus pada waktu tergantung di kayu salib sehingga berseru: “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”

Kebenaran ini menyatakan betapa besar kasih Bapa kepada manusia. Dia begitu mengasihi Anak-Nya, tapi karena begitu besar kasih-Nya kepada dunia maka Dia mengutus Anak-nya ke dunia. Berapa besar pula kasih Yesus yang dengan rela hati menyerahkan nyawa-Nya karena kita. Memang seperti itulah makna anugerah. Allah memberikan keselamatan dan kehidupan dengan cuma-cuma kepada orang berdosa, yang seharusnya mendapat hukuman kekal [purnawan].

SMS from God: “Bapa begitu mengasihi Anak-Nya, tapi juga mengasihi manusia. Itu sebabnya Dia mengutus Anak-Nya untuk menyelamatkan manusia.”
Read More

Rabu, 06 Agustus 2014

Tanggungjawab Keluarga

Dari antara murid dan sahabat Yesus, hanya sedikit yang berani menunjukkan diri pada saat penyaliban. Yohanes menceritakan beberapa orang yang berani mendekati Yesus, yaitu “ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, istri Kleopas dan Maria Magdalena.”  Di sini kita melihat dukungan keluarga yang diberikan kepada Yesus. Tanpa memperhitungkan bahaya dan risiko lainnya, Maria tetap setia mendampingi anak-Nya.

Ketika Yesus melihat Maria, —ibu-Nya—yang didampingi oleh “murid yang dikasihi-Nya”, Dia berkata: "Ibu, inilah, anakmu!" Dan kepada pada murid, Yesus berkata: "Inilah ibumu!" Sajak saat itulah, murid itu lalu menerima Maria sebagai bagian dari anggota keluarga. Tindakan ini menunjukkan kepedulian Yesus kepada ibu-Nya, secara biologis. Dia ingin memastikan ada yang merawat ibu-Nya setelah kepergian-Nya.

Tindakan ini juga memiliki makna simbolik. Dengan melakukan “serah terima” ini, Yesus telah membentuk keluarga yang baru, yaitu kumpulan orang-orang percaya yang disebut dengan gereja. Inilah cikal bakal untuk jemaat yang baru.

Itu sebabnya, maka di antara anggota jemaat harus saling menjaga dan saling menolong, sebab pada dasarnya semuanya adalah satu keluarga. Setiap anggota jemaat memiliki tanggungjawab untuk menjaga anggota keluarga. Untuk saling menguatkan dan kalau perlu saling menegur. Sudahkah Anda menjadi bagian dari keluarga ini? [purnawan].

SMS from God: “c.”
Read More

Senin, 04 Agustus 2014

Berjalan di Taman

Penyaliban Yesus bersama dengan dua penjahat adalah sebuah kesengajaan. Para penguasa hendak menghina Yesus dengan menciptakan kesan bahwa Dia sederajat dengan para pelaku kriminal. Alkitab tidak mencatat nama kedua penjahat yang ada di kedua sisi Yesus ini, namun ada perbedaan sikap di antara mereka. Penjahat yang satu menghujat Dia, tapi penjahat yang lain mengakui Yesus sebagai Allah.

Bisa jadi, penjahat ini bersikap “baik” kepada Yesus karena berada dalam situasi terdesak. Mungkin dia berpikir, “Toh tak ada ruginya untuk meminta tolong kepada orang yang mengaku sebagai Allah. Siapa tahu, Dia memang Allah.” Tidak ada yang tahu motivasinya yang sesungguhnya. Namun jika mempertimbangkan tanggapan Yesus, penjahat ini memiliki niat yang baik. Yesus tentu mengenal isi hati penjahat ini.

Kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”  Kata “Firdaus” berasal dari bahasa Persia. Artinya “sebuah taman yang bertembok.” Jika raja Persia ingin memberi penghormatan khusus kepada rakyatnya, maka dia akan mengundangnya untuk berjalan bersama-sama di dalam taman itu.

Janji Yesus kepada penjahat ini memiliki makna yang dalam. Yesus tahu bahwa Dia akan menang dan akan memerintah sebagai Raja. Hal itu pula yang diimani oleh penjahat tersebut, sehingga Yesus berkenan untuk mengundangnya berjalan bersama-sama Dia di taman Firdaus. Belum terlambat untuk bertobat[purnawan].

 

SMS from God: “Hidup berarti berada bersama Kristus, sebab di mana ada Kristus, di situlah kerajaan-Nya.” St. Ambrosius
Read More

Sabtu, 02 Agustus 2014

Ampunilah Mereka

Nats bacaan ini merupakan salah satu dari 7 Ucapan Yesus di Kayu Salib. Ucapan Yesus yang pertama ini berkaitan dengan pengampunan. Pengampunan merupakan salah satu tema utama dalam pengajaran-Nya. Dia pernah mengajarkan itu kepada murid-murid-Nya untuk mengasihi musuh dan mendoakan mereka (Mat 5:44). Kini, ketika berada pada situasi yang sesungguhnya, Yesus tetap konsisten pada ajaran-Nya itu. Dia tidak membalas kejahatan itu, tetapi justru memintakan pengampunan bagi orang yang telah menganiaya Dia.
Yesus berkata: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." Dan mereka membuang undi untuk membagi pakaian-Nya. (Lukas 23:34)

Pada saat tubuh-Nya telah dipecah-pecahkan dan darah-Nya ditumpahkan, pada saat itulah Yesus bertindak sebagai Perantara antara Allah dan manusia dengan berdoa: “Bapa, ampunilah mereka….” Doa ini diucapkan pada momentum yang sangat pas, karena lewat pengorbanan Yesus di kayu salib, Allah memberikan pengampunan. Hubungan antara manusia dan Allah dipulihkan kembali.

Yesus telah memberi teladan dengan tepat. Ucapan Yesus di kayu salib ini merupakan doa syafaat untuk musuh-musuh-Nya. Dia tidak hanya mendoakan para prajurit Romawi yang menyalibkan-Nya tetapi juga kepada para pemuka agama Yahudi yang sangat membenci Yesus.

Dalam sebuah film, seorang tokoh berucap: “Revenge is sweet” (pembalasan itu nikmat). Namun hati kecil setiap orang yang melakukan pembalasan pasti terselip kekhawatiran munculnya pembalasan dari pihak musuh. Dia tidak merasakan damai sejahtera. [purnawan].

SMS from God: Pembalasan yang paling tepat untuk penganiayaan yang kita terima adalah pengampunan
Read More

Jumat, 01 Agustus 2014

Menangisi Yesus

Sejumlah besar orang yang gemar akan sensasi menggabungkan diri dengan rombongan yang berjalan menuju Golgota. Ada kemungkinan mereka berada dalam rombongan besar ini hanya karena memuaskan rasa ingin tahu saja, bukan karena bersimpati pada Yesus. Namun di antara kerumunan ini terdapat sejumlah perempuan, yaitu penduduk Yerusalem (namun bukan perempuan seperti tertulis pada ayat 49).
“Sejumlah besar orang mengikuti Dia; di antaranya banyak perempuan yang menangisi dan meratapi Dia.” (Lukas 23:27)

Mereka menangisi dan mengaduh, sesuai dengan adat perkabungan di kalangan orang Yahudi. Ungkapan menangisi (Aslinya: memukul-mukuli dadanya) muncul juga dalam kisah pemungut cukai (Luk. 18:13). Ini sebuah tanda berkabung dan keprihatinan.

Yesus berpaling kepada mereka dan berkata: "Hai puteri-puteri Yerusalem, janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu!” (ay. 28). Yesus pernah menangisi Yerusalem yang menolak Dia (Luk. 19:41). Kini, orang-orang yang pernah menolak ini akan mengalami kemalangan yang mengerikan. Yesus menubuatkan kehancuran yang akan dialami oleh penduduk Yerusalem.

 

Ketika melihat film tentang penyaliban Yesus, mungkin ada di antara kita yang ikut terharu dan merasa kasihan pada Yesus. Pertanyaannya, apakah kita pernah menangisi diri kita sendiri? Sebenarnya diri kita sendiri yang patut dikasihani. Kejahatan dan pemberontakan yang kita lakukan layak menerima murka Allah. Kita perlu menyesali dan menangisi diri sendiri dan anggota keluarga kita [purnawan].

SMS from God: Kita seharusnya menangisi kejahatan kita. Kini kita harus bergembira karena Allah menghapus hukuman kita.
Read More