Selasa, 15 Juli 2014

Teror

Sering ditelepon belum tentu membahagiakan si penerima telepon. Di Austria, seorang perempuan yang membombardir anak lelakinya dengan telepon selama dua setengah tahun terakhir akhirnya didenda oleh pengadilan. Alasannya, si ibu telah membuat hidup si anak tidak nyaman karena merasa diawasi terus-menerus sepanjang hari.

Ibu yang berusia 73 tahun itu bisa menelepon anak lelakinya tidak hanya satu dua kali, tetapi hingga mencapai 49 kali dalam satu hari untuk bertanya dan membicarakan berbagai macam hal.  Kasus itu dibawa ke pengadilan oleh anak lelakinya yang tidak tahan menerima panggilan telepon terlalu sering dari ibunya.
“Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.” (Kejadian 2:24)

Setiap anak yang sudah menikah wajib meninggalkan ayah dan ibunya. Kata "meninggalkan" tidak hanya bermakna fisik saja, tetapi juga bermakna sosial. Ketika dia menikah dengan pasangannya, maka mereka telah membentuk keluarga baru yang memiliki wilayah otoritas sendiri. Pasangan itu bertanggung jawab terhadap keluarganya sendiri. Pihak lain, termasuk orangtua atau mertua, tidak boleh mengintervensi keluarga baru. Mereka boleh memberi saran, tetapi pengambilan keputusan ada di tangan keluarga yang baru ini.

Apa yang dilakukan oleh ibu di Austria ini sudah dapat dikategorikan sebagai intervensi. Para orangtua harus rela melepas "kepergian" anak-anak mereka untuk membentuk keluarga baru. Sedangkan sang anak juga tetap perlu menjaga relasi dengan para orangtua mereka sekalipun telah berkeluarga [Purnawan].

SMS from God: Hubungan yang indah dapat terjalin jika dilandasi sikap saling menghormati.
If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It