Kamis, 31 Juli 2014

Dipaksa Memikul Salib

Menurut hukum Romawi, seorang hukuman biasanya diarak lebih dulu mengelilingi kota. Dia dikawal oleh empat serdadu di bawah pimpinan seorang centurio. Seorang serdadu berjalan paling depan membawa papan tulis yang mencantumkan perbuatan jahat orang tersebut.

Menurut kebiasaan, si terhukum sendiri yang harus mengusung salibnya. Mungkin karena sudah terlalu lemah, maka Yesus tidak kuat memikul kayu salib itu. Para serdadu lalu melihat sekeliling untuk melihat apakah ada orang yang dapat dipaksa untuk mengambil alih beban Yesus. Tetapi mereka tidak menemukan murid atau sahabat Yesus untuk menolong-Nya. Maka mereka memaksa Simon dari Kirene untuk memikul salib itu.
“ Ketika mereka membawa Yesus, mereka menahan seorang yang bernama Simon dari Kirene, yang baru datang dari luar kota, lalu diletakkan salib itu di atas bahunya, supaya dipikulnya sambil mengikuti Yesus.” (Lukas 23:26)

Menurut Markus 15:20, Simon ini adalah ayah Alexander dan Rufus. Simon sedang dalam perjalanan pulang dari luar kota. Kota Kirene terletak di Afrika utara (kini Libia) dan menjadi pusat perantauan Yahudi pada abad I. [Menurut Kisah 2:10, hari raya Pentakosta digelar di Yerusalem yang dihadiri orang Kirene pula].

Lukas menggambarkan bahwa Simon menerima tugas itu begitu saja, tanpa berkata-kata. Dia tidak protes meski pemaksaan itu mungkin mengubah rencana dan tujuannya pada hari itu. Nats hari ini memberikan teladan bahwa ada waktunya kita “dipaksa” untuk memikul salib. Kita sudah punya rencana sendiri, tapi semua itu berantakan karena dipaksa untuk memikul salib. Namun meneladani Simon, hendaknya kita menjalaninya tanpa banyak mencari-cari alasan [purnawan].

SMS from God: Tidak ada satu pun salib yang enak dipikul. Kadang kita harus dipaksa supaya mau memikul salib.
If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It