Rabu, 09 Juli 2014

Bapa Gereja

Banyak orang membayangkan bahwa gereja purba sudah menggunakan kitab suci yang isinya sama dengan Alkitab yang kita miliki saat ini. Anggapan ini salah besar. Sesudah zaman rasul-rasul, gereja menggunakan berbagai teks-teks kuno yang tersebar di berbagai tempat. Gereja A mungkin menggunakan teks X, sementara gereja B menggunakan gereja Y.

Itu sebabnya, gereja lalu menyeleksi tulisan-tulisan yang dianggap suci itu. Proses seleksi ini disebut kanon. Istilah "kanon" berarti "buluh."  Pada zaman dulu, buluh digunakan untuk pengukuran atau pengaturan. Fungsinya sama dengan mistar dari kayu atau plastik pada zaman sekarang. Selain untuk mengukur, mistar juga digunakan untuk membuat garis yang membatasi kolom-kolom. Karena itu secara harfiah kanon dapat dikatakan sebagai daftar yang ditulis di dalam kolom. Kanon adalah daftar kitab-kitab-kitab yang dipakai gereja dalam ibadahnya.
“Kami minta kepadamu, saudara-saudara, supaya kamu menghormati mereka yang bekerja keras di antara kamu, yang memimpin kamu dalam Tuhan dan yang menegor kamu” (1 Tesalonika 5:12)

Proses kanon ini memakan waktu selama ratusan tahun dan mengalami debat yang sengit dan banyak pengurbanan dari bapa-bapa gereja. Kita yang saat ini tinggal menikmati hasil karya mereka sering melupakan jasa-jasa mereka. Apa pun aliran gereja kita, mestinya kita tidak melupakan jasa-jasa yang telah diberikan oleh Bapa-bapa gereja. Kita telah berhutang budi kepada mereka. Pernahkah Anda mensyukuri Alkitab yang sering Anda baca itu? [Purnawan]

SMS from God: Menghargai warisan dari gereja adalah bagian dari ungkapan syukur kita.
If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It