Kamis, 08 Mei 2014

Aturan Kaku

Matius 12: 9-15a

Bukankah manusia jauh lebih berharga dari pada domba? Karena itu boleh berbuat baik pada hari Sabat. (Mat 12:12)

 

Urusan ke kamar kecil memang masalah mendasar dan tidak dapat ditunda. Seorang pengunjung di gedung konser New York City menuntut pengelola gedung. Lindsay Ekizian dilarang menggunakan kamar kecil di gedung, padahal dia sedang hamil. Maklumlah, ibu hamil memang sering kali ingin pergi ke kamar kecil. Ketika itu, Ekizian sedang makan malam di samping gedung pertunjukan itu. Pengawas gedung mengatakan ada kamar kecil lain di blok sebelah. Ekizian mengetahui posisi kamar kecil di gedung pertunjukan itu karena beberapa hari sebelumnya menonton pertunjukan komedi di sana. Pengelola gedung itu tidak mau tahu keadaan Ekizian yang kebelet dan akhirnya mengompol. Ekizian menyalahkan manajemen gedung karena menyebabkan dia malu akibat celana panjangnya yang basah.

Pengelola gedung adalah contoh orang yang legalis. Dia berpendapat, kalau aturannya begitu, ya harus dijalankan begitu adanya. Meskipun ada orang yang hamil yang sudah sangat kebelet pipis, namun dia tidak peduli. Aturan ya aturan. Tidak ada perkecualian, meskipun itu demi alasan kemanusiaan. Demikian pula yang dilakukan oleh orang Yahudi. Mereka menempatkan aturan-aturan agama di atas segala-galanya.

Aturan menetapkan bahwa pada hari Sabat mereka tidak boleh melakukan aktivitas yang berat. Sekalipun ada orang sakit, maka mereka tidak akan melakukan tindakan dengan segera. Mereka harus menunggu hari Sabat berlalu lebih dulu.Peraturan memang dibuat untuk menciptakan ketertiban. Itu demi tujuan baik. Namun jika aturan itu sudah mengingkari rasa kemanusiaan, maka pelaksanaannya perlu dievaluasi [Purnawan].

SMS from God: Aturan itu hanya alat menuju ketertiban. Ketertiban itu demi kesejahteraan manusia. Jangan sampai manusia yang diperalat peraturan.
If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It