Kamis, 29 Maret 2012

Kesempatan Kedua

Amsal 16:1-9

“Dengan kasih dan kesetiaan, kesalahan diampuni, karena takut akan TUHAN orang menjauhi kejahatan.” (Amsal 16:6)

Prestasinya cukup spektakuler. Hanya dalam satu tahun, dia langsung menyabet peringkat dua di perusahannya sebagai wiraniaga yang paling banyak menjual polis asuransi.

Wahyu (nama samaran, 43 thn) adalah mantan narapidana selama 5 tahun karena mengedarkan narkotika. Dia pernah menghuni L.P. Nusakambangan. Selepas dari penjara, dia tidak tahu harus bekerja apa. Sebagai mantan narapidana, dia mendapat stigma buruk dari masyarakat. 

Namun tidak semua orang curiga kepada Wahyu. Ada salah satu anggota jemaat gereja yang memberi kesempatan kepadanya.  Karena punya relasinya yang kuat, pak Jeremia bisa memasukkan Wahyu ke sebuah perusahaan asuransi. pak Jeremia juga memberikan bimbingan dan motivasi kepadanya.

Ternyata kepercayaan dan kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Wahyu. Setelah sukses sebagai agen pemasar top di perusahaannya, Wahyu termasuk dalam 10 besar agen asuransi versi AAJI (Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia).

Pelajaran apa yang bisa kita petik dari kisah ini?

1. Jangan menilai orang semata-mata dari masa lalunya. Setiap orang bisa berubah.

2. Berikan kesempatan kedua pada orang lain untuk memperbaiki diri.

3. Jika kita pernah berbuat kesalahan, bangkitlah kembali untuk memperbaikinya.

4. Pegang teguh kepercayaan yang telah diberikan orang lain kepada kita. Sebab di situlah terletak pintu menuju kesuksesan [purnawan].

Allah saja memberi kesempatan kedua kepada kita. Mengapa kita tidak juga memberikan hal yang sama pada orang lain?

 

Read More

Rabu, 28 Maret 2012

Hati yang Waspada

1 Tesalonika 5:12-22

“Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik. Jauhkanlah dirimu dari segala jenis kejahatan.” (1 Tesalonika 5:21-22)

 

Pukul 17:11,HP saya berbunyi. Saya mengangkatnya. "Halo, nama saya Drs. Wawan Setiawan dari ….[menyebutkan perusahaan telepon]," kata si penelepon,"selamat nomor Bapak telah memenangkan undian.”

“Hadiah ini bebas pajak,”lanjut si penelepon,”Apakah Bapak punya buku tabungan?"

"Tunggu dulu," saya menyela,"bagaimana saya bisa memastikan bahwa ini bukan penipuan?"

"Kalau Bapak tidak percaya, silakan lihat di LaTivi nanti malam," jawab si penelepon,”apakah Bapak punya tabungan? Di bank apa?”

"Saya tidak bisa nengatakannya" jawab saya.

"Bagaimana kalau kartu ATM?" tanya orang itu.

"Saya ‘kan sudah bilang tidak bisa mengatakannya," jawab saya.

"Kalau begitu, bagaimana kalau Bapak mengambil sendiri hadiahnya di kantor kami?" tanya orang itu.

"Rumah saja jauh dari Jakarta," jawab saya.

"Kalau begitu, hadiah bisa diamabil saudara bapak yang ada di Jakarta?"

"Saya tidak punya saudara di Jakarta" jawab saya. Tiba-tiba sambungan telepon terputus.

Sejak awal saya sebenarnya sudah menduga bahwa ini adalah penipuan. Saya sudah pernah membaca modus penipuan semacam ini dari milis yang saya ikuti.

Perkembangan ilmu dan teknologi ternyata juga dimanfaatkan para kriminal untuk melakukan kejahatan. Itu sebabnya, kita perlu waspada dan menjaga keluarga kita dari tindak kejahatan. Jangan sembarang memberikan informasi pribadi kepada orang asing. Misalnya nomor rekening, nomor pin, nomor HP, alamat rumah, tanggal lahir, nama anak-anak dll. Semua itu dapat dijadikan bahan untuk menjahati kita[purnawan].

Berlakulah cerdik. Jangan curigai semua orang, tapi jangan mudah percaya pada semua orang.

Read More

Selasa, 27 Maret 2012

Hidup ini Tidak Adil

Filipi 1:12-26

“Jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah” (Filipi 1:22)

 

Mahema mengalami kecelakaan yang membuatnya lumpuh dari bahu ke bawah. Dia tergantung sepenuhnya pada bantuan Manohar Devadoss, suaminya. Selama tigapuluh tahun lebih, Manohar setia mengangkat isterinya dari kursi roda ke tempat lain dan sebaliknya.

Namun yang luarbiasa, Manohar melakukan itu di dalam keterbatasan penglihatan. Setelah kecelakaan, mata Manohar mengalami gejala retinitis pigmentosa. Sebuah gangguan kesehatan degeneratif yang belum ada obatnya. Dia menjadi butawarna, pandangan matanya menciut seperti sedang mengintip dari lobang kecil.

Meski begitu, sebagai seniman dia masih menghasilkan lukisan. Bagaimana cara dia melukis? Dia memakai obat tetes mata untuk membesarkan kornea mata, memasang lampu yang sangat terang dan menggunakan kaca pembesar khusus.

Setiap tahun mereka bersama-sama membuat kartu ucapan spesial. Manohar yang melukis dan Mahema membuat tulisan singkat untuk menerangkan makna lukisan tersebut. Kartu-kartu ini dijual dan hasilnya disumbangkan untuk badan amal.

Dalam bacaan kita, Paulus mengalami pergumulan yang sangat berat. Jika boleh memilih, dia sebenarnya ingin mati. Tapi karena masih hidup, maka dia memakai kesempatan itu untuk menghasilkan sesuatu yang bermakna.

Hidup ini memang tidak adil. Tapi karena semua orang mengalami hal yang sama, maka hal itu membuat hidup ini menjadi adil. Keputusan ada di tangan kita masing-masing: apakah meratapi ketidakadilan atau menjalani hidup sehingga bermakna bagi kemanusiaan[purnawan].

Buah apa yang sudah Anda hasilkan? Apakah buah yang manis, asam atau pahit?

Read More

Senin, 26 Maret 2012

Bermegah Atas Kelemahan

2 Korintus 12:1-10

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. (2 Korintus 12:9)

 

Mahema, adalah wanita yang menarik, bersemangat dan fasih berbicara. Manohar, suaminya, adalah seorang ilmuwan, penulis, seniman dan penemu di India.. Setelah menikah mereka pindah ke Amerika dan mempunyai anak perempuan bernama Suja.

Mereka menyadari memiliki talenta dan memutuskan untuk membagikan berkat itu di India. Mereka menyebutnya “Seni Memberi”. Sayangnya, mereka mengalami kecelakaan hebat. Akibatnya, Mahema menjadi lumpuh dari bahu sampai ke bawah. Sejak saat itu, Mahema butuh bantuan orang lain.

Lalu bagaimana dengan ide “Seni Memberi” mereka? Bukankah dengan kondisi sekarang Mahema seharusnya yang “menerima”, dan bukan “memberi”? Namun tidak bagi Mahema. Dia lalu menggali kekuatan di dalam dirinya.

Mahema mulai mengajar kursus bahasa Inggris di rumahnya, mengarang seri buku anak-anak dan bergabung ke lembaga amal. Dia juga menjalani fisioterapi sehingga bisa menulis menggunakan bahunya.

Rasa sakit itu masih terasa dan ingatan kecelakaan itu masih melekat, tapi Mahema tidak mau larut dalam kesedihan. "Saya tahu kalau saya masih bisa melayani orang lain," kata Mahema, tersenyum.

Meski giat bekerja melayani Tuhan, rasul Paulus tidak luput dari kelemahan. Sudah tiga kali dia berdoa supaya Tuhan mencabut duri dalam dagingnya. Tapi Tuhan tidak mengabulkannya. Meski begitu Paulus tidak kecewa dan patah semangat. Dia segera membalik paradigma pikirnya tentang penderitaan. Dia mulai menikmati penderitaan itu [purnawan].

Di dalam kelemahan kita, kuasa Allah dapat bekerja lebih leluasa.

Read More

Minggu, 25 Maret 2012

Menolak Hak

1 Korintus 9: 1-27

“Tetapi aku tidak pernah mempergunakan satupun dari hak-hak itu. (1 Korintus 9:15a)

 

Kay Poe dan Esther Kim adalah dua perempuan yang bersahabat sejak umur tujuh tahun. Mereka sama-sama menyukai Taekwondo dan mengikuti pertandingan untuk memperebutkan tiket ke Olimpade 2000 di Sydney.

Keduanya harus bertanding di babak final. Tapi sayangnya Kay mengalami cedera tempurung lutut pada babak semifinal. Meski rangking Kay lebih baik, tapi jika harus bertanding saat itu, maka Esther yang akan menang.

Pada pertandingan final, Esther Kim tiba-tiba mengejutkan penonton. Dia mengundurkan diri dan memberikan kemenangan pada Kay. Karena kemurahan hatinya ini, Komite Olimpiade Internasional memberikan penghargaan Citizenship Through Sports Award dan menanggung biaya menononton Olimpade di Sydney kepada Esther (inspirationalstories.com).

Dalam perikop kita, Paulus mengungkapkan sesungguhnya dia memiliki beberapa hak sebagai pelayan Tuhan. Misalnya mendapatkan hak kecukupan kebutuhan jasmani dari jemaat, hak membawa isteri dalam perjalanan, hak dibebaskan dari pekerjaan tangan. Akan tetapi, Paulus sengaja tidak memanfaatkan fasilitas tersebut. Tujuannya adalah untuk “memenangkan sebanyak mungkin orang” (1 Kor.9:19).

Pada zaman sekarang, semakin banyak orang yang menuntut hak-haknya. Namun mereka menolak jika diajak berkorban untuk kepentingan umum. Contohnya proyek jalan tol di pulau Jawa macet karena pemilik tanah menuntut ganti rugi selangit. Mungkin lebih tepat jika disebut “uang ganti untung.”

Paulus memberi teladan tentang sikap tidak egois. Dia rela tidak menggunakan hak-haknya demi kepentingan orang banyak [purnawan].

Hak memang patut diperjuangkan, tapi ada kalanya sengaja tidak digunakan demi kepentingan umum.

 

 

Read More

Sabtu, 24 Maret 2012

Siaga Satu

Pengkhotbah 4:7-16

“Berdua lebih baik dari pada seorang diri….karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!” (Pengkhotbah 4:9-10)

 

Lo Renhung adalah seorang teknisi komputer di Taipei. Suatu kali ketika chatting internet, ia membaca sebuah pesan singkat, “Saya butuh teman ngobrol.”  Lo Renhung lalu memberikan nomor teleponnya kepada pengirim pesan itu. Tak berapa lama telepon berdering. Seorang wanita menelepon, “Saya tidak bisa tidur. Saya sedang sedih dan kesepian.” Mereka mengobrol selama dua jam dan menjalin pertemanan.

Wanita yang bernama Yu-ting ini ternyata mengalami depresi. Pasalnya, saat ia berusia 15 tahun, papanya berselingkuh. Dia sendiri pernah dua kali gagal berpacaran.

Suatu hari dia memesan kamar hotel dan memasukkan pemanggang barbeque ke kamar. Dia menelan 20 pil tidur dan menyalakan pemanggang supaya racun asap segera membunuhnya. Setelah itu, menelepon Lo Renhung untuk pamitan.

Lo Renhung menjadi panik. Jarak antara tempat dia tinggal dengan hotel itu adalah 300 km. Maka dia memasang pesan dengan subjek “Red Alert” di internet:”Seorang gadis di kota Kaohsiung berusaha bunuh diri….orang-orang yang ada di wilayah Kaohsiung dimohon untuk menemukan dia. Jika bisa ditemukan kurang dari dua jam, mungkin dia masih diselamatkan.”

Pesan itu dibaca Chen Wei Chuan yang tinggal di Kaohsiung. Dia menduga Yu-ting memesan hotel Yi-da. Ia segera menelepon manajer hotel itu. Dugaannya benar. Yu-ting ditemukan terkulai lemas di sana, tapi masih diselamatkan(Reader’s Digest).

Manusia adalah makhluk sosial. Manusia membutuhkan orang lain. Itu sebabnya Pengkhotbah menekankan pentingnya memiliki teman. Apakah Anda punya teman? [purnawan].

Sejak lahir hingga mati, kita membutuhkan orang lain. Jangan hidup egois!

Read More

Jumat, 23 Maret 2012

Ketekunan adalah Kebahagiaan

Yakobus 5:7-11

“Saudara-saudara, turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan. Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan” (Yakobus 5:10-11)

 

Luther Tare adalah orang Dayak yang bermukim di timur laut Kalimantan. Setelah lulus dari sekolah kehutanan, ia bekerja sebagai sopir traktor di sebuah proyek konstruksi di Malaysia yang merusak hutan. Selama 10 tahun ia bergumul menyaksikan kerusakan hutan yang semakin parah.

Tahun 1992, ia memutuskan keluar dari pekerjaannya. Dia menikah dan membeli sebidang tanah menggunakan uang tabungannya. Namun ia tidak menetap di tanah itu karena ia melihat hutan seluas 300 ha. Ia memutuskan untuk melindungi hutan itu dan menamainya Hutan Mitra Alam.

“Kamu tidak akan berhasil,” kata penduduk desa, meremehkannya. Luther memang mengalami banyak kesulitan dalam upaya melindungi hutan itu. Selama puluhan tahun, ia juga harus menampik tawaran uang yang sangat menggiurkan dari para pengusaha. Kegigihannya ini akhirnya diakui oleh pemerintah. Sekarang Hutan Mitra Alam diakui sebagai contoh pengelolaan hutan yang lestari (Reader’s Digest).

Luther telah memberi teladan kepada kita tentang ketekunan. Meski warga di sukunya menganggap usahanya itu konyol dan sia-sia, tapi Luther tidak patah semangat. Rasul Yakobus menyebut orang yang bertekun adalah orang yang berbahagia.

Saat ini kita dipanggil untuk tetap tekun dan sabar dalam menaati  perintah Tuhan. Percayalah, ketekunan ini akan membuahkan hasil yang baik, yaitu kebahagiaan[purnawan].

Orang yang bertekun menanggung segala sesuatu dengan tabah, dan menanti janji Tuhan dengan sabar.

Read More

Kamis, 22 Maret 2012

Pengorbanan Ibu

Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan —dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri—,supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang." (Lukas 2:34-35)

 

Xiong Li adalah seorang artis. Pada Desember 2006, dalam sebuah perjalanan ia mengalami kecelakaan yang mengakibatkan bagian wajahnya terbakar. Namun, ia menolak mengkonsumsi antibiotik untuk mencegah infeksi karena saat itu ia sedang mengandung anaknya. Ia tahu jika meminum obat antibiotik, maka bayi dikandungnya berisiko lahir cacat. Sekarang dia sudah melahirkan bayi yang sehat (Kompas, 2/11/07).

Pengorbanan seorang ibu yang sungguh besar. Dalam Alkitab, kita juga menjumpai pengorbanan besar seorang ibu, yaitu Maria. Ketika Yusuf, Maria dan Yesus pergi ke Bait Allah, mereka bertemu dengan Simeon. Orang yang benar dan saleh ini memberkati keluarga Yesus.

Simeon bernubuat bahwa Yesus akan menjadi sosok yang kontroversial dan menyebabkan perpecahan di kalangan bangsa Israel. Khusus terhadap Maria, ia berkata bahwa “suatu pedang akan menembus jiwamu.”

Para penafsir mengartikan pedang ini sebagai penderitaan pribadi yang akan dialami. Sebagai seorang ibu, dia akan melihat Anaknya akan dimusuhi oleh pemuka agama dan pejabat pemerintah. Bahkan ia akan melihat penderitaan dan kematian Anaknya di kayu salib. Maria juga akan menderita karena menyaksikkan perpecahan bangsa Israel. Hati seorang ibu mana yang tidak akan hancur jika menyaksikkan semua ini?

Yang lebih berat lagi, Maria sudah diberitahu hal ini sejak awal. Namun Maria memilih taat dan bersedia “berkorban” demi rencana keselamatan bagi umat manusia [purnawan].

Jasa seorang ibu sering dilupakan. Bintang penghargaannya adalah ketika menyaksikan anak-anaknya sukses

Read More

Rabu, 21 Maret 2012

Hangus Karena Cinta

Yohanes 2:13-25

Maka teringatlah murid-murid-Nya, bahwa ada tertulis: "Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku." (Yohanes 2:17)

 

Teman saya bercerita, waktu remaja dibebaskan untuk pergi kemana saja asalkan memberitahu orangtua. Suatu hari, dia pergi sampai malam. Ketika pulang ke rumah, dia disambut oleh amarah ayahnya.

Beberapa hari kemudian, teman saya bertanya pada ayahnya. "Mengapa ayah waktu itu marah?" tanya teman saya. "Bukankah saya boleh pergi kemana saja asal memberitahu Ayah lebih dulu?"

"Iya, tapi kamu tidak bilang kapan pulangnya,"jawab sang ayah,"tahu nggak, semalaman jantung ayah deg-degan karena menghawatirkanmu. Kalau kamu bilang akan pulang pukul sekian, ayah jadi tahu kapan harus mulai khawatir jika kamu belum pulang."

“Setelah dewasa saya baru menyadari,” lanjut teman saya, “bahwa sikap marah itu kadang-kadang bisa mengandung perasaan cinta.”

Keluarga Blessing, Bait Allah telah menjadi lahan bisnis bagi Imam Besar dan keluarganya. Mereka memperoleh hak istimewa memonopoli perdagangan hewan korban di Bait Allah.  Tentu saja dengan harga yang lebih mahal daripada harga di pasaran. Yesus harus mengambil tindakan keras untuk membersihkan bait Allah, walau hal itu “menghanguskan-Nya.”

Kadang-kadang tindakan tegas diperlukan demi kebaikan orang yang kita kasihi. Kita harus tega melakukannya. Kirana, anak saya, belum bisa merangkak ketika teman sebayanya sudah bisa. Dia harus menjalani terapi okupasi yang membuatnya menangis kuat-kuat. Kami sebenarnya merasa kasihan, tapi dia harus mengalami itu, demi kebaikannya [purnawan].

Tindakan tegas harus dilakukan jika itu untuk kebaikan keluarga kita

 

Read More

Selasa, 20 Maret 2012

Mengelola Konflik

2 Timotius 2:14-26

“Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran” (2 Timotius 2:23)

 

Seorang pemuda bertanya kepada pasangan kakek-nenek tentang rahasia keawetan pernikahan mereka. “Sejak dari awal pernikahan, kami sudah sepakat jika kelihatannya akan bertengkar hebat, maka saya akan mengambil topi dan pergi berjalan-jalan,” jawab sang kakek.

“Setelah itu bagaimana?” sergah pemuda itu, tak sabar mendengar kelanjutan cerita.

“Setelah beberapa lama, saya akan pulang dan melempar topi melalui pintu rumah,” lanjut sang kakek,”jika isteri saya melempar keluar topi saya, maka mengambil topi itu dan pergi berjalan-jalan lagi.”

Keluarga Blessing, ada tiga alternatif dalam mengelola konflik rumah-tangga. Pertama, mengalah. Jika salah satu pihak mengalah, maka konflik akan berakhir. Ini dapat diterapkan jika pokok pertengkaran adalah soal yang “dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak” (2 Tim. 2:23). Jika ditanggapi serius dapat “menimbulkan pertengkaran.”  Dalam versi Alkitab Authorized Version diterjemahkan gender strifes alias pertengkaran suami-isteri.

Kedua, mempertahankan prinsip. Jika yang menjadi pokok konflik itu menyangkut prinsip-prinsip yang fundamental, maka prinsip-prinsip itu harus. Namun dalam mempertahankannya tidak boleh menggunakan kekerasan, baik secara fisik atau psikis.

Ketiga, dengan kerjasama. Masing-masing pihak bekerja sama untuk mencari solusi yang tepat. Kerjasama dapat terjadi jika ada dialog. Berbeda dengan diskusi yang hanya menggunakan akal sehat, dalam dialog boleh melibatkan perasaan.

Model manakah yang paling baik? Semua model baik. Ada saatnya kita perlu menerapkan prinsip don’t sweat the small thing (“cuekin saja masalah sepele”), dan memilih alternatif pertama.  Tapi ada kalanya kita harus menuntaskan masalah dengan alternatif ketiga[purnawan].

Konflik itu bukan kutukan, itu tergantung pada cara Anda menyikapinya.

Read More

Senin, 19 Maret 2012

Pahit Dulu, Manis Kemudian

Ibrani 12:1-17

“Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.” (Ibrani 12:1)

 

Seorang anak laki-laki Kristen Sudan, lutut dan kakinya dipakukan ke papan dan dibiarkan mati. Akan tetapi dia berhasil diselamatkan. Meski mengalami perlakuan yang mengenaskan, anak laki-laki ini telah mengampuni pelakunya karena Yesus juga dipaku dan mengampuni pelakunya.

Seorang perempuan misionaris Kolombia diculik dan diberitahu bahwa umurnya tinggal dua jam lagi. Perempuan ini berkata kepada penculiknya, jika hidupnya tinggal dua jam lagi, maka dia akan menghabiskannya dengan menceritakan tentang Yesus kepada mereka. Semua kisah nyata ini diceritakan oleh The Voice of Martyrs.

Ibrani 12:1-2 merupakan klimaks dari daftar panjang dari contoh model iman dari Perjanjian Lama (Ibrani 11). Penulis kitab Ibrani melanjutkan tulisannya menggunakan tiga kiasan. Pertama, perlombaan atletik (ay. 1, 12-13). Pergumulan orang Kristen melawan dosa dan penderitaan diibaratkan seperti perlombaan lari. Atlet yang lemah dan letih mudah sekali digoda untuk keluar dari perlombaan.

Kedua,bapak yang mendidik anak-anaknya (ay. 5-11). Kali ini penderitaan manusia ditafsirkan sebagai bukti bahwa Allah mendidik anak-anak yang dikasihi-Nya, supaya bertumbuh dewasa. Sama seperti Yesus, anak-anak Tuhan juga harus belajar dari penderitaan mereka.

Ketiga, akar yang pahit (ay.15). “Akar pahit” ini mengacu Ul. 29:18 tentang larangan beribadah pada berhala. Lalu diikuti dengan cerita tentang Esau. Esau menjadi contoh tentang orang yang merelakan keselamatan (menjual hak kesulungan) dan sesudahnya tidak mampu menyesal. Contoh ini memberi peringatan kepada kita supaya tidak meninggalkan keselamatan demi apapun juga [purnawan].

 

Apapun yang tampak menggiurkan di dunia ini, tak ada apa-apa dibandingkan kemulian sorgawi.

Read More

Minggu, 18 Maret 2012

Pemulihan

II Raja-raja 25:1-21

 “Sebab, sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan memulihkan keadaan umat-Ku Israel dan Yehuda — firman TUHAN — dan Aku akan mengembalikan mereka ke negeri yang telah Kuberikan kepada nenek moyang mereka, dan mereka akan memilikinya.” (Yeremia 30:3)

 

Umat pilihan Allah itu tercerai menjadi 2 kelompok, yaitu Israel (bagian utara) dan Yudea (bagian selatan). Kedua kelompok sama-sama memberontak kepada Allah dan berbuat dosa, sehingga Allah membiarkan mereka diasingkan ke negeri lain. Selama berada di pengasingan ini, Allah tidak meninggalkan mereka sama sekali. Allah mengutus para nabi untuk menyempaikan firman-Nya.

Yeremia adalah nabi yang diutus untuk menyampaikan sabda Tuhan kepada bangsa Yudea. Dia menyampaikan kabar yang menimbulkan pengharapan. “Aku akan memulihkan keadaan umat-Ku Israel dan Yehuda.” Ini adalah kabar tentang pemulihan. Allah akan mengembalikan kedua bangsa itu kembali ke negerinya dan memulihkan mereka kembali. Allah akan menjadi Tuhan mereka, dan bangsa Israel akan menyembah Allah.

Mungkinkah kita mengalami pemulihan setelah melakukan perbuatan dosa yang menjijikkan di hadapan Allah? Tentu saja mungkin. Kerinduan Tuhan adalah memulihkan dan membangun kembali puing-puing di hati manusia. Itu sebabnya Allah mengutus Anak-Nya untuk menjemput kita dari negeri pengasingan. Allah selalu ingin bertahta di hati Anda. Maka izinkanlah Allah membangun kembali bait Allah di dalam diri Anda, sehingga Anda hanya menyembah Allah, bukan yang lain. Daud berseru: “Kembalikan kepadaku sukacita keselamatan yang daripada-Mu, dan jadikanlah aku rela menaati Engkau.” (Mzm 51:12 FAYH). Untuk mengalami pemulihan sukacita dan keselamatan, kita juga harus menaati Allah.

 

SMS from God: Tuhan rindu untuk memulihkan Anda. Bukalah hati Anda supaya Allah memulihkan sukacita Anda.

Read More