Selasa, 06 Januari 2009

Gumbregan

Di kampung saya masih terdapat sebuah tradisi yang berasal dari agama asli Jawa. Tradisi ini bernama "Gumbregan", yang merupakan sebuah ritual doa kepada sang dewi Sri untuk meminta berkah bagi laku pertanian mereka.

Tradisi ini dilaksanakan setiap wuku Gumbreg, nama salah satu bulan pada penanggalan Jawa. Harinya, selalu pada Selasa malam, bertepatan dengan pasaran tertentu, namun saya lupa. Pasaran adalah nama-nama hari dalam kalender Jawa. Dalam satu putaran, orang Jawa mengenal lima nama hari('dino'), yaitu: Pon, Wage, Kliwon, Legi, dan Pahing.

Bagi anak-anak, tradisi ini sangat mengasyikkan dan selalu ditunggu-tunggu. Selepas maghrib, mereka sudah berkumpul sambil membawa cething atau bakul nasi kosong. Setelah itu anak yang tertua akan meneriakkan pantun sederhana: "Kembang jagung, kembang jagung. Sing dituju omahe pak Agung!" Lalu anak-anak yang lain menanggapi dengan teriakan sekencang-kencangnya: "Amiiiiiin!" Teriakan ini memiliki dua fungsi: Pertama, memberitahukan arah tujuan kepada anggota rombongan. Kedua: memberitahu tuan rumah supaya segera bersiap-siap.

Begitu sampai pada rumah yang dituju, tuan rumah segera mengeluarkan tampah (nampan bambu) yang berisi bermacam-macam makanan tradisional. Kebanyakan adalah umbi-umbian, seperti uwi, gembili, garut, ganyong, ubi, singkong, suwek, talas, gadung, dan ketupat. Diterangi lampu minyak tanah dan oncor, sang tuan rumah yang berprofesi sebagai petani lalu mengucapkan doa. Di sinilah sisa-sisa agama Jawa begitu kentara. Sang petani tidak mengucapkan doa menggunakan bahasa Arab atau mantra-mantra Hindu, tapi berbahasa Jawa sehari-hari. Doa ini ditujukan kepada sang Dewi Sri, yaitu sesembahan orang Jawa yang menguasai bidang pertanian.

Dalam bahasa Indonesia, bunyi doanya demikian: “Anak-anak, pada bulan Gumbreg ini kita berdoa kepada Dewi Sri supaya panenan kita melimpah.” Lalu anak-anak berteriak sekencang-kencangnya: ”Nggih!!!”. “Mendoakan juga alat-alat pertanian seperti garu, bajak, cangkul, dan sabit, supaya tidak mudah rusak. Mendoakan juga ternak-ternak seperti sapi, kambing dan ayam supaya kalis dari penyakit.” Setiap satu kalimat berhenti, anak-anak selalu menimpali dengan seruan: “Nggih.”

Usai didoakan, maka sesajen yang sudah disiapkan oleh tuan rumah itu lalu dibagi-bagikan dan dimasukkan ke dalam bakul-bakul yang sudah disusun melingkar di sekililingnya. Pembagian makanan biasanya dilakukan oleh anak yang tertua dalam rombongan kami. Setelah semua habis dibagikan, maka pimpinan rombongan meneriakkan tujuan berikutnya: “Kembang jati, kembang jati. Sing dituju omahe pak Kardi!!”

****

Ketika merenungkan kembali tradisi ini, saya terkagum-kagum betapa para leluhur itu telah memiliki kearifan dalam menyikapi bumi ini. Dalam legenda Jawa, dikisahkan seorang perempuan bernama Dewi Sri yang meninggal secara tragis. Namun secara ajaib, tubuhnya menyatu dengan bumi dan tumbuh tanaman padi di atasnya. Itu sebabnya, orang Jawa sangat memuliakan Dewi Sri.

Dalam dunia pertanian ada unsur ketidakpastian karena ketergantungan pada kondisi alam yang tidak dapat dikendalikan oleh manusia. Hingga saat ini, manusia belum memiliki pengetahuan atau teknologi yang dapat mengendalikan perubahan iklim, maupun memastikan bebas dari serangan hama dan penyakit. Ketidakpastian ini menimbulkan kesadaran di antara manusia pada zaman dulu untuk menghargai alam. Salah satunya tercermin dalam bentuk ritual-ritual yang meminta pertolongan dari Penguasa Alam, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu, manusia zaman dulu juga tidak berlaku sembarangan kepada tanah pertanian.

Sayangnya, akibat “Revolusi Hijau” yang merupakan turunan dari kapitalisme global, kearifan menjadi terpinggirkan. Tradisi seperti ini dianggap takhayul, irasional dan in-efisien. Karena itu, banyak tradisi-tradisi petani yang tidak mendapat lagi dalam pertanian modern.

Dalam pertanian modern, tanah dan tanaman hanya dianggap sebagai salah satu komponen dari industri pertanian. Tanah dan tanaman dipandang tidak lebih dari sekadar “alat” dan “modal” yang dapat dieksploitasi untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya, dengan biaya semurah-murahnya. Maka muncullah istilah “intensifikasi” pertanian. Tanah digenjot untuk menghasilkan sumber pangan (baca: padi), dengan cara pemberian pupuk kimia pabrik, pengolahan tanah menggunakan mesin, pemberantasan hama menggunakan pestisida dan cara memanen pun sudah menggunakan mesin. Sekarang ini jarang sekali ditemui petani yang memetik bulir-bulir padi dengan cara ani-ani, yang dilakukan bersama-sama sambil bersendau-gurau.

Yang memprihatinkan, sampai saat ini Revolusi Hijau ini masih belum dapat mengangkat derajat petani. Yang terjadi, petani justru semakin terpinggirkan karena mengalami ketergantungan dengan pemerintah dan kaum pemodal. Pada musim tanam maka kita akan mendengar berita yang berulang-ulang: Benih mahal, pupuk kimia langka, pestisida pabrik menghilang dari pasaran. Petani kemudian kelimpungan karena terlanjur sangat tergantung pada produsen alat pertanian. Lalu, ketika musim panen tiba, harga gabah dibuat anjlok sehingga untuk kaum petani tidak dapat menutup ongkos produksi. Akibatnya, petani terpaksa berhutang untuk menutupi kehidupan sehari-hari.

****

Inilah saatnya untuk mendefinisikan kembali paradigma kita tentang pertanian. Arus kapitalisme yang serba serakah telah menggerus sektor pertanian. Tanah pertanian menjadi rusak karena ditimbuni dengan pupuk kimia. Keseimbangan alam menjadi terganggu karena penetrasi pestisida yang over dosis. Dan yang lebih memprihatinkan lagi adalah nasib petani yang tak kunjung membaik. Saya tidak memiliki kompetensi di bidang pertanian, namun alangkah baiknya jika para pengambil kebijakan di bidang pertanian sudi untuk menggali kembali nilai-nilai kearifan lokal di setiap peradaban.

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It