Senin, 19 Januari 2009

Cover Bukuku

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Minggu, 11 Januari 2009

Kura-kura yang Mengajak Anakku Suka Buku

Tulisan saya ini terinspirasi dari tulisan Clara Anita yang berjudul "Tikus Kecil yang Mengajari Anakku Membaca".

kirana2

Ada satu kata yang pantang diucapkan kepada Kirana (2,5 tahun), anak kami, yaitu: “Tidur.” Setiap kali disuruh tidur, dia pasti akan melawan. Meski jarum jam sudah melewati angka 10 malam, namun dia masih ingin bermain-main. Maka kami pun memakai siasat supaya mau naik ke tempat tidur yaitu dengan membacakan buku kesukaannya, “Franklin.” Serial buku karya Paulette Bourgeois dan Brenda Clark ini diterbitkan oleh penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Edisi yang sedang digemari Kirana adalah “Franklin naik Sepeda”. Buku ini menceritakan perjuangan Franklin, si kura-kura, untuk bisa mengendarai sepeda tanpa bantuan roda penolong. Semua teman-temannya sudah bisa naik sepeda tanpa roda penolong, hanya Franklin sendiri yang belum bisa. Akibatnya dia terkucil karena malu bermain-main dengan teman-temannya. Sudah berkali-kali dia mencoba, tapi selalu jatuh sehingga Franklin hampir merasa putus asa.
Franklin menemukan keberaniannya kembali justru ketika melihat Beaver, si beruang, temannya, kesulitan bergelantungan di papan ayun di taman. Padahal soal naik sepeda, Beaver adalah jagonya. Di taman itu, Franklin juga bertemu dengan Porcupine, si landak, yang sedang belajar menggunakan sepatu roda. Dia menggunakan pelindung lutut, siku dan helm di kepala.
“Itu dia!” Tiba-tiba dia punya ide. Franklin meniru Porcupine menggunakan pelindung tubuh sehingga dia bisa mengendarai sepeda.franklin
***
Cerita buku ini cukup sederhana sehingga dapat dipahami oleh anak Balita. Buku ini juga kaya dengan ilustrasi full color sehingga menarik minat anak. Namun sayangnya, ada beberapa edisi yang agak sulit dipahami anak Indonesia karena mengambil setting di dunia barat. Sebagai contoh edisi Helowin dan Peri Gigi, kurang kontekstual dengan kondisi budaya Indonesia. Meski begitu, masih ada sisi baiknya juga. Anak-anak akan lebih banyak mengenal budaya dari negeri lain.
Manfaat dari membacakan buku ini adalah pertambahan kosa kata pada anak-anak. Selama dua bulan terakhir, kami hanya membacakan edisi “Franklin Naik Sepeda”. Itu saja tidak setiap malam dibacakan. Yang mengherankan, Kirana banyak mengingat kata-kata dalam buku tersebut. Sebagai contoh, ketika kami membacakan kalimat: “Franklin sudah bisa berhitung . . . “ Dia segera menimpali, “. . . dan mengikat tali sepatunya sendiri.” Dia memang tidak mengingat semua kalimat dalam buku tersebut, tapi dia banyak mengingat kata-kata, terutama pada bagian yang seru.
Nama-nama tokoh dalam buku ini sengaja dibiarkan dalam bahasa aslinya, bahasa Inggris, tetapi diberi keterangan sesudahnya. Dengan demikian, anak-anak diajarkan mengenal nama-nama hewan dalam bahasa Inggris. Sebagai contoh: Fox, si rubah; Bear si beruang; Moose, si rusa; Snail, si siput; Rabbit, si Kelinci; dan Hawk, si elang.
Tips Membacakan Buku untuk Anak
Berikut ini tips untuk membacakan buku bagi anak, berdasarkan pengalaman kami. Semoga ada manfaatnya:
1. Bacalah buku dengan antusias
Bacakan buku dengan konsentrasi penuh dan sungguh-sungguh. Bacalah dengan nada dan irama yang bervariasi. Antusiasme Anda dapat menular kepada anak. Anak dapat merasakan ketika Anda membaca dengan ogah-ogahan. Suatu hari, karena capek, istri saya membacakan dengan asal-asalan. Kirana langsung protes, “Kok membacanya kayak gitu sih.”
2. Singkirkan gangguan di sekeliling
Matikan televisi dan potensi gangguan lain. Ajak seluruh anggota keluarga untuk mendukung, dengan ikut mendengarkan cerita.
3. Bacalah dengan dinamis
Jangan segan-segan untuk memberi efek tertentu untuk menarik minat anak. Misalnya, ketika Fox, si rubah, memukul bola tinggi-tinggi, maka pembaca lalu menirukan bola yang sedang melambung tinggi dengan tangannya, sambil berbunyi: ”Wiiiii……..”
4. Jangan memaksa
Jika anak menolak untuk mendengarkan, jangan memaksa dia. Membaca buku harusnya menjadi peristiwa yang menyenangkan. Dengan memaksa, justru membuat dia akan trauma dan membenci buku.
5. Tetap membaca meski anak kelihatan cuek
Tips ini secara sepintas bertentangan dengan tips ke-4. Namun ada bedanya. Di sini, sang anak tidak menolak. Dia tetap mendengarkan tapi dilakukan sambil melakukan aktivitas lain. Sebagai contoh, Kirana mendengarkan sambil melompat-lompat di tempat tidur. Namun sesungguhnya telinganya tetap menyimak cerita tersebut. Hal ini kami ketahui karena dia dapat menceritakan kembali jalan cerita yang baru saja dibacakan.
6. Membacakan nama penulis dan ilustratornya
Biasakanlah anak menghormati karya pengarang dan ilustrator buku. Caranya dengan membaca judul buku dan nama pengarang/ilustrator.

kirana3

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Selasa, 06 Januari 2009

Gumbregan

Di kampung saya masih terdapat sebuah tradisi yang berasal dari agama asli Jawa. Tradisi ini bernama "Gumbregan", yang merupakan sebuah ritual doa kepada sang dewi Sri untuk meminta berkah bagi laku pertanian mereka.

Tradisi ini dilaksanakan setiap wuku Gumbreg, nama salah satu bulan pada penanggalan Jawa. Harinya, selalu pada Selasa malam, bertepatan dengan pasaran tertentu, namun saya lupa. Pasaran adalah nama-nama hari dalam kalender Jawa. Dalam satu putaran, orang Jawa mengenal lima nama hari('dino'), yaitu: Pon, Wage, Kliwon, Legi, dan Pahing.

Bagi anak-anak, tradisi ini sangat mengasyikkan dan selalu ditunggu-tunggu. Selepas maghrib, mereka sudah berkumpul sambil membawa cething atau bakul nasi kosong. Setelah itu anak yang tertua akan meneriakkan pantun sederhana: "Kembang jagung, kembang jagung. Sing dituju omahe pak Agung!" Lalu anak-anak yang lain menanggapi dengan teriakan sekencang-kencangnya: "Amiiiiiin!" Teriakan ini memiliki dua fungsi: Pertama, memberitahukan arah tujuan kepada anggota rombongan. Kedua: memberitahu tuan rumah supaya segera bersiap-siap.

Begitu sampai pada rumah yang dituju, tuan rumah segera mengeluarkan tampah (nampan bambu) yang berisi bermacam-macam makanan tradisional. Kebanyakan adalah umbi-umbian, seperti uwi, gembili, garut, ganyong, ubi, singkong, suwek, talas, gadung, dan ketupat. Diterangi lampu minyak tanah dan oncor, sang tuan rumah yang berprofesi sebagai petani lalu mengucapkan doa. Di sinilah sisa-sisa agama Jawa begitu kentara. Sang petani tidak mengucapkan doa menggunakan bahasa Arab atau mantra-mantra Hindu, tapi berbahasa Jawa sehari-hari. Doa ini ditujukan kepada sang Dewi Sri, yaitu sesembahan orang Jawa yang menguasai bidang pertanian.

Dalam bahasa Indonesia, bunyi doanya demikian: “Anak-anak, pada bulan Gumbreg ini kita berdoa kepada Dewi Sri supaya panenan kita melimpah.” Lalu anak-anak berteriak sekencang-kencangnya: ”Nggih!!!”. “Mendoakan juga alat-alat pertanian seperti garu, bajak, cangkul, dan sabit, supaya tidak mudah rusak. Mendoakan juga ternak-ternak seperti sapi, kambing dan ayam supaya kalis dari penyakit.” Setiap satu kalimat berhenti, anak-anak selalu menimpali dengan seruan: “Nggih.”

Usai didoakan, maka sesajen yang sudah disiapkan oleh tuan rumah itu lalu dibagi-bagikan dan dimasukkan ke dalam bakul-bakul yang sudah disusun melingkar di sekililingnya. Pembagian makanan biasanya dilakukan oleh anak yang tertua dalam rombongan kami. Setelah semua habis dibagikan, maka pimpinan rombongan meneriakkan tujuan berikutnya: “Kembang jati, kembang jati. Sing dituju omahe pak Kardi!!”

****

Ketika merenungkan kembali tradisi ini, saya terkagum-kagum betapa para leluhur itu telah memiliki kearifan dalam menyikapi bumi ini. Dalam legenda Jawa, dikisahkan seorang perempuan bernama Dewi Sri yang meninggal secara tragis. Namun secara ajaib, tubuhnya menyatu dengan bumi dan tumbuh tanaman padi di atasnya. Itu sebabnya, orang Jawa sangat memuliakan Dewi Sri.

Dalam dunia pertanian ada unsur ketidakpastian karena ketergantungan pada kondisi alam yang tidak dapat dikendalikan oleh manusia. Hingga saat ini, manusia belum memiliki pengetahuan atau teknologi yang dapat mengendalikan perubahan iklim, maupun memastikan bebas dari serangan hama dan penyakit. Ketidakpastian ini menimbulkan kesadaran di antara manusia pada zaman dulu untuk menghargai alam. Salah satunya tercermin dalam bentuk ritual-ritual yang meminta pertolongan dari Penguasa Alam, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu, manusia zaman dulu juga tidak berlaku sembarangan kepada tanah pertanian.

Sayangnya, akibat “Revolusi Hijau” yang merupakan turunan dari kapitalisme global, kearifan menjadi terpinggirkan. Tradisi seperti ini dianggap takhayul, irasional dan in-efisien. Karena itu, banyak tradisi-tradisi petani yang tidak mendapat lagi dalam pertanian modern.

Dalam pertanian modern, tanah dan tanaman hanya dianggap sebagai salah satu komponen dari industri pertanian. Tanah dan tanaman dipandang tidak lebih dari sekadar “alat” dan “modal” yang dapat dieksploitasi untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya, dengan biaya semurah-murahnya. Maka muncullah istilah “intensifikasi” pertanian. Tanah digenjot untuk menghasilkan sumber pangan (baca: padi), dengan cara pemberian pupuk kimia pabrik, pengolahan tanah menggunakan mesin, pemberantasan hama menggunakan pestisida dan cara memanen pun sudah menggunakan mesin. Sekarang ini jarang sekali ditemui petani yang memetik bulir-bulir padi dengan cara ani-ani, yang dilakukan bersama-sama sambil bersendau-gurau.

Yang memprihatinkan, sampai saat ini Revolusi Hijau ini masih belum dapat mengangkat derajat petani. Yang terjadi, petani justru semakin terpinggirkan karena mengalami ketergantungan dengan pemerintah dan kaum pemodal. Pada musim tanam maka kita akan mendengar berita yang berulang-ulang: Benih mahal, pupuk kimia langka, pestisida pabrik menghilang dari pasaran. Petani kemudian kelimpungan karena terlanjur sangat tergantung pada produsen alat pertanian. Lalu, ketika musim panen tiba, harga gabah dibuat anjlok sehingga untuk kaum petani tidak dapat menutup ongkos produksi. Akibatnya, petani terpaksa berhutang untuk menutupi kehidupan sehari-hari.

****

Inilah saatnya untuk mendefinisikan kembali paradigma kita tentang pertanian. Arus kapitalisme yang serba serakah telah menggerus sektor pertanian. Tanah pertanian menjadi rusak karena ditimbuni dengan pupuk kimia. Keseimbangan alam menjadi terganggu karena penetrasi pestisida yang over dosis. Dan yang lebih memprihatinkan lagi adalah nasib petani yang tak kunjung membaik. Saya tidak memiliki kompetensi di bidang pertanian, namun alangkah baiknya jika para pengambil kebijakan di bidang pertanian sudi untuk menggali kembali nilai-nilai kearifan lokal di setiap peradaban.

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More