Selasa, 23 September 2008

Penjual Belalang

Bagi sebagian besar orang, belalang kayu dianggap sebagai hama. Tapi bagi warga Gunungkidul, belalang adalah camilan yang lezat. Itu sebabnya, sepanjang jalan antara Wonosari dan Semanu atau tepatnya di desa Mijahan, ada beberapa orang yang menjajakan hasil tangkapan belalang kayu.

Belalang kayu ini ditangkap dengan cara mengoleskan lem tikus pada ujung galah bambu. Ujung galah ini kemudian ditempelkan pada badan belalang hingga mudah ditangkap. Pada zaman dulu, sebelum ada lem tikut, perekat yang digunakan adalah getah nangka.
Diantara para penjual belalang hidup itu, ada Samino dan Katno. Kedua penduduk desa Pacarejo ini menangkap sudah empat tahun menangkap belalang di ladang-ladang, kemudian pada tengah hari menjajakannya di pinggir jalan. Harga tiap renteng belalang bervariasi antara Rp. 10 ribu- Rp. 10 ribu, tergantung jumlah belalang setiap renteng. Untuk rentengan belalang sejumlah 75 ekor, mereka menawarkan harga 20 ribu rupiah. Tapi jika pembeli pandai menawar, bisa dia bisa mendapatkan harga di bawah itu.


Setiap hari Samino dan Katno dapat membawa pulang uang sejumlah 30-40 ribu rupiah. Meski pendapatan dari menangkap belalang cukup menggiurkan, tapi mereka hanya menangkap belalang di musim kemarau saja. Alasannya, selain karena menggarap ladang, mereka juga tidak mau merusak tanaman di ladang orang lain karena kegiatan mereka dalam menangkap belalang.

Videografer: Purnawan Kristanto
Lokasi : Kabupaten Gunungkidul
Tanggal: 22 September 2008

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It