Kamis, 25 September 2008

Videoku Ditayangkan Metro TV












Hari ini Metro TV mengirimkan SMS bahwa video yang saya kirimkan akan ditayangkan di acara Iwitness Metro TV.
Seminggu sebelumnya, Dessy dari Metro TV menelepon bahwa dia tertarik pada video klip "Belalang Goreng" yang saya upload ke situs I Witness. Dia bermaksud akan menayangkan pada program I Witness. Untuk itu, Dessy menanyakan apakah saya masih menyimpan materi video yang belum diedit. Saya bilang sudah saya hapus karena kualitas gambarnya kurang bagus. Saya mengambil gambar menggunakan kamera handphone sehingga resolusinya sangat kecil. Saya menawarkan untuk mengambil ulang gambar itu, dan dia setuju.
Senin, 22 September saya pergi Gunungkidul untuk mengambil gambar video tersebut. Saya langsung kirimkan CD video tersebut menggunakan jasa eksepedisi. Selasa sore CD itu harus sampai di redaksi I Witness.
Senin sore, Dessy menelepon meminta untuk mengunggah video tersebut pada I witness. Dia khawatir kiriman CD belum sampai ketika tenggat waktu penyuntingan terlewati.
Saya pun mengunggah video tersebut dalam dua bagian. Masing-masing berukuran di atas 25 MB. Ternyata keduanya gagal. Saya pun memecah-mecah lagi menjadi lima video lebih kecil. Masing-masing berukuran sekitar 12-15 MB. Saya berhasil mengunggah 3 video klip.
Ketika waktu penayangan tiba, maka dengan penuh antusias saya menantikannya. Beberapa teman saya SMS untuk memberitahu hal ini. Video saya ternyata ditayangkan pada segmen ketiga. Saat melihat video, saya sedang mengadakan workshop penulisan buku. Kegiatan workshop terhenti sejenak untuk menyaksikan karya saya.
Tapi hasilnya ternyata mengecewakan saya secara pribadi. Ternyata redaksi I Witness malah menggunakan materi video klip yang lama, yang saya anggap kurang layak tayang. Sementara hasil pengambilan gambar yang lebih bagus, malah hanya dipakai beberapa detik saya. Yah, mau apalagi.....otoritas ada di tangan mereka. Mungkin mereka tidak sempat menerima keping CD yang saya kirim via jasa kurir, sementara tenggat waktu tak dapat dikompromikan.
Sekarang, saya tinggal menunggu kiriman honor dari Metro. Semoga saja bisa untuk membelikan susu anak saya yang semakin melambung tinggi.

Penjual Belalang [1]
Penjual Belalang [2]
Memasak Belalang
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Selasa, 23 September 2008

Penjual Belalang

Bagi sebagian besar orang, belalang kayu dianggap sebagai hama. Tapi bagi warga Gunungkidul, belalang adalah camilan yang lezat. Itu sebabnya, sepanjang jalan antara Wonosari dan Semanu atau tepatnya di desa Mijahan, ada beberapa orang yang menjajakan hasil tangkapan belalang kayu.

Belalang kayu ini ditangkap dengan cara mengoleskan lem tikus pada ujung galah bambu. Ujung galah ini kemudian ditempelkan pada badan belalang hingga mudah ditangkap. Pada zaman dulu, sebelum ada lem tikut, perekat yang digunakan adalah getah nangka.
Diantara para penjual belalang hidup itu, ada Samino dan Katno. Kedua penduduk desa Pacarejo ini menangkap sudah empat tahun menangkap belalang di ladang-ladang, kemudian pada tengah hari menjajakannya di pinggir jalan. Harga tiap renteng belalang bervariasi antara Rp. 10 ribu- Rp. 10 ribu, tergantung jumlah belalang setiap renteng. Untuk rentengan belalang sejumlah 75 ekor, mereka menawarkan harga 20 ribu rupiah. Tapi jika pembeli pandai menawar, bisa dia bisa mendapatkan harga di bawah itu.


Setiap hari Samino dan Katno dapat membawa pulang uang sejumlah 30-40 ribu rupiah. Meski pendapatan dari menangkap belalang cukup menggiurkan, tapi mereka hanya menangkap belalang di musim kemarau saja. Alasannya, selain karena menggarap ladang, mereka juga tidak mau merusak tanaman di ladang orang lain karena kegiatan mereka dalam menangkap belalang.

Videografer: Purnawan Kristanto
Lokasi : Kabupaten Gunungkidul
Tanggal: 22 September 2008

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Jumat, 19 September 2008

Pertemuan Komunitas Penjunan

Kesempatan kunjungan ke Jakarta saya manfaatkan untuk bertemu dengan rekan-rekan di Komunitas Penjunan (Penulis dan jurnalis Nasrani), Selasa (16/9). Pertemuan ini adalah hasil inisiatif Darsum Sansulung. Dia mendapatkan pinjaman ruang pertemuan di Gedung Kana, Gondangdia Lama. Bahkan ada juga konsumsi gratis dari gereja yang dipimpin oleh rev. Daniel Ong.
Meski paling jauh, tapi saya justru yang paling awal datang (selain Darsum sebagai tuan rumah). Tak berapa lama, mas Bayu Probo dan Mita, menyusul datang. Keduanya berasal dari Jogja, tapi sudah bekerja di Jakarta. Sambil menunggu teman yang belum datang, kami disodori nasi bungkus (dibungkus sterofoam) oleh bung Darsum.
Sekitar pukul setengah delapan malam, pertemuan pun dimulai. Ini adalah pertemua Komunitas Penjunan yang kedua. Pertemuan yang pertama diselanggarakan dua tahun yang lalu di Apartemen Semanggi, atas usaha Ita Siregar. Sebagian peserta pertemuan yang pertama, datang kembali ke pertemuan kedua ini. Diantaranya adalah: Darsum, Ita Siregar, Okta Wiguna dan saya sendiri. Namun ada juga peserta yang baru hadir pertama kalinya. Untuk itu, acara pertama adalah perkenalan antar peserta.
Meski sudah lama menjalin interaksi lewat milis Komunitas Penjunan, ternyata masih banyak hal-hal baru yang belum diketahui di antara anggota milis ini. Misalnya, dengan mengenali tulisan-tulisan di milis, saya menduga Ayub Bansole adalah sosok yang temperamental dan emosional, ternyata setelah bertemu langsung ternyata bertolak belakang dengan kenyataannya. Pria dari Nusatenggara ini ternyata berperilaku halus dan santun dalam bertutur.
Pertemuan ini diikuti oleh 16 orang, masing-masing adalah: Purnawan, Binsar, Bayu Probo, Mita, Rebecca, Hidrasto, Haris, Ken Ken, Rini, Ayub Bansole, Jojo Rajarjo, Okta Wiguna, Ita Siregar dan Darsum Sansulung. Dalam pertemuan ini dibahas kemungkinan untuk menyelenggarakan kegiatan bersama. Bentuknya adalah pelatihan penulisan tingkat dasar dan tingkat lanjut. Untuk pelatihan tingkat dasar angkatan I, sudah diselenggarakan oleh Darsum, Okta dan Ita Siregar. Saat ini mereka sedang mempersiapkan untuk pelatihan gelombang II. Sementara itu, untuk pelatihan tingkat lanjut masih sedang digodog. Namun ada usulan agar mengadopsi platform Sekolah Penulisan Gloria, yang diselenggarakan oleh Komunitas Penjunan di Jogja dengan penerbit Gloria.
Sekitar pukul 10 malam, pertemua diakhiri dengan bertukar no HP dan kartu nama. Ada beberapa orang yang masih tinggal untuk mengobrol. Okta mengusulkan untuk melanjutkan obrolan di tempat lain yang lebih santai. Darsum mengusulkan mencari tempat di wilayah Jakarta Timur saja, karena sebagain besar kami akan pulang ke sana. Tapi bagi Okta dan Mita itu kejauhan, karena dia tinggal di Jakarta Selatan. Karena tidak ada kata sepakat, maka pertemuan santai diundur hari Kamis di Sarinah Plaza. Kampi pun membubarkan diri. Bung Darsum mendapat pinjaman mobil gereja untuk mengantar saya sampai di Cililitan. Dari sana, saya lalu naik ojek ke rumah mertua.
Sampai di rumah, tugas sudah menanti, yaitu menemani Kirana begadang. Dia baru berangkat tidur jam 12 malam.

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Dititipkan Di Jakarta

Meskipun ditinggal mamanya untuk Sidang Sinode selama 3 hari, tetapi Kirana (2 thn 5 bulan) tidak begitu rewel. Dia hanya tiga kali mengajukan protes pada saya,"Mama kok nggak pulang-pulang sih? Mama kok kerja terus!"
Karena sidangnya diselenggarakan di Cisarua, Bogor, maka Kirana [dan papanya] dititipkan pada eyang putri di Halim, Jakarta Timur. Hari pertama, Kirana memang agak rewel. Dasar orang udik, begitu datang, dia langsung mengajak melihat ayam dan kambing. Setelah dicari kesana-sini, akhirnya ada juga kambing di lapangan sepak bola.
Malamnya, Kirana tidak mau tidur sambil berbaring karena belum terbiasa di tempat tidur yang baru. Dia minta digendong papanya, kemudian tidur di pundak. Jika dicoba untuk dibaringkan, maka dia akan bangun dan menangis.
Pukul 1 dini hari, akhirnya dia berhasil dibaringkan di tempat tidur. Namun karena udara yang sangat gerah dan nyamuk yang berjumlah satu batalyon, pukul 3 pagi Kirana terbangung sambil menangis. Cukup lama saya harus menggendong supaya dia bisa tertidur kembali.
Udara di Jakarta bulan ini memang sedang panas-panasnya. Orang Jakarta saja mengeluh kepanasan, apalagi kami yang berasal dari Klaten. Baju kami basah oleh keringat. Berkali-kali saya membuka lemari es untuk minum air dingin. Dalam hal ini, saya salut pada orang-orang Jakarta yang sedang berpuasa. Dalam cuaca yang sangat panas begini, mereka masih bisa menahan lapar dan haus.
Menjelang sore, Kirana bermain di ruang depan sambil bermain masak-masakan. Lantai yang dingin dam angin sepoi-sepoi dari arah pintu dan jendela rupanya menimbulkan hawa kantuk. Lama-lama dia pun tertidur di lantai. Ini lain dari biasanya, karena Kirana itu ogah jika disuruh tidur siang. Mungkin karena udara yang panas dan kecapekan selama perjalanan, Kirana akhirnya tidur siang juga. Cukup lama dia tertidur di lantai itu. Sekitar 3 jam lebih. Eyangnya tidak berani memindah karena jika tubuhnya diangkat dia pasti bangun dan mungkin akan ngambek.

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Senin, 15 September 2008

Perjalanan Ke Jakarta

Tanggal 14-19, kami sekeluarga pergi ke Jakarta. Istriku harus menghadiri sidang sinode wilayah Jateng di Cisarua, Bogor. Sedangkan aku dan Kirana 'dititipkan' pada Mama di Jakarta.
Kami berangkat menggunakan kereta Argo Dwipangga, 14 September, pukul 20.25 dari stasiun Klaten. Kereta datang tepat waktu dan kondisi kereta masih nyaman.
Photobucket
Di dalam kereta, mulanya Kirana masih minta pangku. Tetapi begitu sudah beradaptasi, maka seperti biasa, dia tidak bisa diam. Untungnya, kursi di sebelah kami kosong satu. Aku duduk di kursi kosong itu, sehingga Kirana bisa leluasa dalam berativitas.
Meski ruang lingkupnya hanya di antara dua kursi dan di lorong kereta, tetapi ada saja yang dikerjakan oleh Kirana. Penumpang yang lain sudah tertidur, dan hanya Kirana yang masih aktif. Mulutnya pun tak berhenti mengoceh. Lewat pukul 24.00, mata Kirana masih terang-benderang, sementara mamanya sudah mulai mengantuk. Maka dimulailah ritual tidur: Mamanya berkali-kali meminta Kirana tidur, sementara Kirana sendiri masih mencari-cari alasan untuk bermain. Kalau sudah begitu, mamanya biasanya mulai jengkel.
Pendingin di dalam kereta lumayan dingin. Para penumpang menggunakan selimut yang dibagikan kru kereta untuk menghangatkan badan. Seementara Kirana tidak mau sama sekali diselmuti. Mungkin karena udara yang dingin, Kirana minta diantar ke toliet sebanyak empat kali.
Photobucket
Kalau di rumah, sebelum tidur biasanya Kirana harus BAB dulu. Rupanya irama tubuhnya juga tidak berubah meski di atas kereta. Setelah minta di antar ke toliet untuk BAB, maka sekitar pukul 1 pagi, Kirana berangkat tidur.
Pukul 04.35, kami turun di stasiun Jatinegara. Dengan bawaan yang banyak, kami berjalan ke luar stasiun untuk mencari taksi. Aku membawa satu tas besar, satu tas kecil, satu kardus oleh-oleh dan tas laptop. Sedangkan istriku menggendong Kirana sambil membawa satu tas perlengkapan Kirana dan satu tas berisi bekal makanan di kereta.
Cukup lama juga kami menanti taksi. Sebenarnya ada cukup banyak taksi yang mangkal di sana, tapi kami memilih menanti taksi Bluebird saja yang bisa dipercaya. Akhirnya, ada taksi Bluebird yang menurunkan penumpang di stasiun. Kampi pun langsung menggunakan taksi itu. Pukul 05.30, kami sudah sampai di rumah Mama di kawasan Halim.
Photobucket
Karena kehebohan para penyambut, Kirana terbangun dari tidurnya. Sejak itu, dia melek sampai pukul 1 malam lagi. Memang beberapa kali dia sempat tidur, tapi lamanya tidak sampai setengah jam setiap kali tidur. Anak ini memang betah melek! Orangtuanya sampai kewalahan harus menemani dia bermain.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Sabtu, 13 September 2008

Buku Inspiratif:"Kepakkan Sayapmu!"

Saya ingin membagikan suacita. Telah terbit lagi buku karya saya yang terbaru!
Judul: "Kepakkan Sayapmu; Kisah-kisah Inspiratif yang Membangkitkan Semangat."
Penerbit: Manna Media Publishing
Berikut saya kutipkan kata pengantarnya:


From Cover Buku

Sebuah nasihat bijak mengatakan, "Belajarlah dari kesalahan orang lain, karena kamu tidak akan hidup selama itu melakukan semua kesalahan itu."

Manusia adalah makhluk yang cerdas. Dia belajar dari kesalahan supaya tidak melakukan lagi kesalahan yang serupa. Lebih dari itu, manusia juga dapat belajar dari orang lain. Tidak hanya dari kesalahan yang dilakukan oleh orang lain, tetapi juga dari keberhasilannya.

Buku ini menyajikan kisah-kisah singkat kehidupan yang menyentuh hati. Sebagian besar dari cerita ini adalah penggalan kehidupan tokoh-tokoh dunia, yang sungguh-sungguh beriman kepada Kristus. Setiap cerita mengandung kebijaksanaan (wisdom). Di sini kita dapat melihat bagaimana tokoh-tokoh iman tersebut menerapkan prinsip-prinsip alkitabiah dalam pelayanan dan kehidupannya sehari-hari.

Saya mengumpulkan cerita-cerita ini dalam rangka mencari ilustrasi renungan, yang saya sampaikan dalam persekutuan kelompok dan kebaktian remaja di gereja saya. Ketika saya amati, ternyata pendengar renungan mendapatkan berkat cerita-cerita ini. Saya berharap, dengan membaca buku ini, Anda pun ikut terinspirasi oleh cerita ini. Anda mendapatkan kekuatan baru untuk menjalani hidup ini. Seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; Anda berlari dan tidak menjadi lesu, Anda berjalan dan tidak menjadi lelah (Yes. 40:31).


Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More