Selasa, 01 Juli 2008

Retret Remaja (hari kedua)

Acara hari kedua dimulai dengan penyampaian materi psikologi remaja oleh pdt. Phan Bien Ton. Dalam paparannya Phan Bien Ton menguraikan bahwa ada delapan tahapan perkembangan psikologis. Pada setiap tahapan terdapat tugas-tugas yang harus dilakukan oleh seseorang. Jika tugas itu dijalankan dengan sukses maka akan memperlancar untuk memasuki tahapan berikutnya. Jika gagal, maka akan terjadi kesulitan-kesulitan. Selanjutnya, pendeta GKI Klaten ini mengajak remaja untuk mengenali tugas perkembangan psikologis remaja.



Setelah rehat untuk makan kudapan, Bu Adelina Anastasia dari Mitra Peduli Keluarga, Semarang menyampaikan materi secara interaktif, dinamis dan atraktif. Mula-mula para remaja diajak untuk melakukan gerakan icebreaker. Di dalam kelompok, mereka membentuk lingkaran kemudian menumpukkan kedua telapak tangan mereka di tengah-tengah lingkaran. Sesuai dengan aba-aba, secara bersama-sama, setiap kelompok harus mencondongkan badan ke kiri, kembali tegak, condong ke kanan, lalu tegak lagi. Demikian seterusnya.

Setelah suasana menjadi segar, bu Adelina lalu mengajak remaja untuk melakukan permainan MENGENALKAN DIRI PADA DUNIA. Sebelumnya, pengelola Mitra Peduli centre ini memberikan contoh:
'Hai.......Namaku Adel
Aku tinggi, kulit putih, muka cakep, agak gendut. Aku anak ke empat dari 6 bersaudara. Kakakku meninggal saat ia umur 18 tahun, saat jadi mahasiswa di fakultas Psikologi UI.Waktu itu aku masih kelas 2 SMA. Aku sedih sekali, karena dia dan aku sangat dekat.
Aku orangnya pintar, baik, dulu pemalu dan minder dan tidak punya teman, sekarang yang kenal aku sangat banyak, tapi yang menjadi temanku ada beberapa. Aku tidak mudah untuk berteman. Bahkan sampai saat ini.'
Selanjutnya dia bercerita dengan apa yang memuatnya bahagia, cita-citanya, bagian dari dirinya yang paling sensitif.

Sesudah makan siang, remaja diajak membuat LIFELINE yaitu semacam grafik yang menunjukkan garis hidup seseorang. Jika dia mengalami kebahagiaan maka garisnya naik, jika mengalami ketidakbahagiaan maka garisnya turun. Sebagai contoh, jika remaja mencapai prestasi tertentu, maka garisnya naik. Tetapi jika kakeknya meninggal, maka garisnya turun.
Sesi berikutnya, bu Adel mengajak remaja untuk menuliskan IDOLA mereka dan alasan memilih IDOLA tersebut. Remaja diminta untuk menuliskan hal-hal baik yang menonjol dari tokoh IDOLA-nya itu.
Penulisan tokoh idola ini berkaitan dengan pembentukan harga diri seseorang. Rumusnya, Harga diri = Nilai ideal:citra diri.

Harga diri seseorang dinilai berdasarkan perbandingan antara nilai ideal dengan citra dirinya. Jika citra dirinya tinggi dan mendekati nilai ideal, maka harga dirinya sangat tinggi. Tapi jika citra diri seseroang jauh dari nilai ideal, maka harga dirinya sangat remaja. Pada masa remaja, mereka biasanya mencari nilai ideal itu dari tokoh idolanya. Jika remaja merasa bahwa dirinya hampir mirip dengan tokoh idolanya, maka dia akan memiliki harga diri yang tinggi.
Untuk meneguhkan kepercayaan diri, maka bu Adel mengajak remaja untuk mencari pengakuan dari teman-temannya. Mereka diberi selembar kertas yang bertuliskan sifat-sifat baik seperti: Baik hati, Tidak sombong, Pintar, Rajin menabung, Naik angkot, Sensitif / peka, Dekat dengan guru, Sayang keluarga, Suka menolong, Populer / terkenal, Enak diajak curhat, Hemat,Dekat dengan Tuhan, Sederhana, Jujur, dan Peduli.
Aktivitas ini sangat seru. Remaja diajak untuk mencari pengakuan dari teman-temannya. Caranya dengan menyodorkan kertas kepadanya. Jika ada sifat-sifat yang sesuai dengan remaja itu, maka temannya akan memberi tandatangan pada kolom sifat yang sesuai.
Aktivitas berikutnya adalah menuliskan impian masing-masing. Setelah itu, remaja diajak untuk menuliskan langkah-langkah yang akan dilakukan untuk mencapai impian itu. Beberapa remaja diminta untuk menyampaikan impiannya kepada orang lain. Ada yang bermimpi menjadi pengusaha, ada yang bermimpi menjadi dokter spesialis anak, ada yang bermimpi menjadi perancang mesin mobil, dll.
Usai makan malam, bu Adel menuntup sessinya dengan mengajak remaja mengadakan refleksi di dalam kelompok. Dengan mengambil tempat di ruang terbuka, beralaskan tikar dan dengan penerangan lilin, remaja diajak untuk menuliskan persoalan-persoalan hidup yang dialami sebagai remaja. Pada kesempatan itu diberikan kepada remaja untuk men-sharing-kan persoalannya di hadapan teman-temannya. Tetapi jika ada remaja yang memutuskan untuk tidak mengungkapkannya pada teman-temannya, maka tidak ada keharusan untuk mengungkapkannaya. Hari kedua diakhiri dengan penjelasan tentang aktivitas Outbond yang akan diadakan pada hari terakhir.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It