Senin, 28 Juli 2008

Terobosan Pelayanan Literatur

Tulisan ini dipicu oleh pertanyaan rekan saya, "Mengapa pelayanan literatur tidak banyak diminati, bahkan terkesan kurang dihargai oleh gereja?" Sebelum menjawab pertanyaan itu, saya justru ingin mempertanyakan pertanyaan tersebut: Benarkah pelayanan literatur kurang dihargai gereja? Ukuran apa yang dipakai sebagai pembanding sehingga didapatkan kesimpulan "kurang dihargai"?

Jika yang dipakai sebagai ukuran pembanding adalah jumlah penerbit Kristen, asumsi tersebut ada benarnya. Menurut data IKAPI, sampai dengan tahun 2000 terdapat 433 penerbit yang tercatat sebagai anggota ikatan penerbit ini. Sementara itu jumlah penerbit Kristen yang saya hitung, berdasarkan buku-buku koleksi perpustakaan saya, ada 25 penerbit.[i]

Sekarang, mari kita bandingkan jumlah penerbit dengan jumlah penduduk Indonesia. Menurut Departeman Kesehatan jumlah penduduk Indonesia sampai tahun 2007 diperkirakan sebesar 211.000.598 orang.[ii]  Sedangkan menurut Biro Pusat Statistik (BPS), komposisi penduduk berdasarkan agama adalah sebagai berikut: sebanyak 88,22 persen jumlah penduduk mengaku sebagai Muslim, 5,9 persen Kristen Protestan, 3,1 persen Kristen Katholik, 1,8 persen Hindu, 0,8 persen Budha, dan 0,2 persen "lain-lain", termasuk agama-agama tradisional, kelompok Kristen lainnya, dan Yahudi.  Berdasarkan persentase tersebut, maka jumlah penduduk Kristen (Protestan dan Katolik) sekitar 18.990.000 orang.

Apabila dihitung berdasarkan rasio, maka secara nasional setiap satu penerbit buku harus melayani 487.298 penduduk. Sedangkan secara khusus, setiap penerbit Kristen harus melayani lebih banyak orang, yaitu 759.600 orang Kristen. Rasio jumlah penerbit Kristen masih memprihatinkan bilsa dibandingkan rasio secara nasional.

Jika kita hanya mempertimbangkan aspek kwantitas jumlah penerbit Kristen, maka asumsi pelayanan "pelayanan literatur kurang dihargai gereja" adalah pernyataan yang benar. Akan tetapi jika dilihat dari jumlah judul buku dan jumlah eksemplar yang dihasilkan penerbit Kristen, mungkin kesimpulannya akan berbeda. Sayangnya, sampai kini belum ada data pasti tentang jumlah buku yang terbit di Indonesia.

 

Tetap Bertahan

Di luar angka-angka itu, kita perlu mempertimbangkan aspek kwalitatifnya. Sejak tahun 1980-an, saya sudah mengenal penerbit kristen seperti Badan Penerbit Kristen (BPK) Gunung Mulia, Kanisius, Kalam Hidup, Lembaga Literatur Baptis, Gandum Mas dan Yakkin. Hampir tiga dekade kemudian, saya masih mendapati bahwa penerbit-penerbit tersebut masih bertahan, bahkan ada yang berkembang semakin maju. Belakangan, juga muncul penerbit-penerbit Kristen baru seperti Andi, Metanoia, Betlehem, Immanuel, Gloria, Khairos dll.

Jika kita memakai logika hukum pasar, maka penerbit-penerbit tersebut tidak akan bertahan jika tidak diminati oleh gereja. Hukum pasar berbunyi, jika ada permintaan, tentu akan ada persediaan. Fakta bahwa penerbit-penerbit Kristen masih bisa beroperasi hingga kini, bahkan muncul penerbit yang baru, ini membuktikan bahwa ada permintaan umat Kristen terhadap bacaan rohani. Secara tidak langsung ini menunjukkan bahwa umat Kristen telah memberikan dukungan terhadap pelayanan litaretur.

Dalam ilmu komunikasi, ada dua paradigma penerbitan: penerbitan misionaris dan paradigma pasar. Penerbit yang berparadigma misionaris menerbitkan buku sesuai dengan ideologi mereka. Mereka tidak peduli entah buku itu laku terjual dan dibaca, atau tidak. Yang penting adalah menyebarkan ideologi [baca: pengajaran] mereka seluas-luasnya. Sementara penerbit yang menganut aliran pasar selalu menerbitkan buku-buku yang diminati dan dibeli oleh pasar atau konsumen. Mereka kadang mengabaikan aspek nilai-nilai luhur. Apa pun keinginan pembaca, akan selalu mereka ikuti. Yang penting buku terbitan mereka laris-manis.

Lalu dimana posisi penerbit Kristen? Ada yang memakai paradigma misionaris murni. Penebit ini mendapat kucuran dana untuk biaya produksi. Meski buku itu tidak laku, tapi mereka tidak peduli. Meski demikian, jumlah penebit jenis ini hanya sedikit. Demikian juga penerbitan Kristen yang menganut paradigma pasar.

Kebanyakan penerbit kristiani berada di antara dua kutub ini. Meski mengandalkan pemasukkan dari hasil penjualan buku, tapi mereka tidak akan serta-merta melayani selera pasar begitu saja. Masih ada nilai-nilai idealis yang menjadi kekang kendalinya. Inilah uniknya penerbitan kristen. Di satu sisi mereka mengemban panggilan sorgawi, dengan nilai-nilai luhurnya; tapi di sisi lain mereka juga harus menghidupi dirinya sendiri.

Kenyataan ini menghantarkan pada kesadaran bahwa sesungguhnya gereja telah menghargai pelayanan literatur. Bentuknya adalah dengan membeli buku-buku rohani terbitan mereka. Jika gereja tidak menghargai hasil karya penerbit Kristen, maka maka penerbit-penerbit Kristen sudah rontok satu demi satu dan tidak ada orang yang mau mendirikan penerbitan Kristen baru.

 

Dihargai? Ya; Diminati? Belum

Mungkin kegelisahan itu lebih tepat dirumuskan begini: Mengapa hanya sedikit orang yang berminat dalam pelayanan literatur? Lebih spesifik lagi, Mengapa hanya sedikit orang yang mau menjadi penulis? Tak dapat dipungkiri, jumlah penulis kalah jumlah bila dibandingkan dengan pelayanan lain, seperti pelayanan berkhotbah, mengajar sekolah minggu atau pemimpin pujian.

Mengapa hal ini terjadi? Ada penyebab makro dan penyebab mikro. Penyebab makro adalah orientasi pembangunan yang materialistis. Saat menerima Habibie Award bidang budaya, Taufik Ismail mengatakan, budaya membaca dan menulis masyarakat Indonesia sekarang jauh menurun jika dibandingkan dengan masa penjajahan Belanda. Keadaan ini antara lain disebabkan oleh orientasi pembangunan pemerintah yang terlalu materialistis. Pemerintah cenderung memprioritaskan pembangunan fisik. Akibatnya, bacaan sastra dianggap tidak penting.[iii]

Dalam strategi pembangunan nasional, pemerintah lebih memprioritaskan laju pertumbuhan yang tinggi. Untuk menunjang hal ini, maka penyediaan sarana dan prasarana fisik digiatkan.  Imbasnya, maka masyarakat pun ikut-ikutan berorientasi pada materi. Kebanyakan orangtua mendambakan anak-anak mereka kelak menjadi insinyur, dokter, akuntan, pengacara atau pengusaha. Hanya sedikit sekali orangtua menggadhang-gadhang anak mereka menjadi penulis, sastrawan, pelukis, atau jurnalis. Kesuksesan seseorang diukur berdasarkan materi (baca:kekayaan) yang diraupnya.

Secara mikro, ada beberapa faktor penyebab kelangkaan penulis kristiani:

Pertama, dibutuhkan ketrampilan khusus untuk melayani bidang literatur. Ada orang mengatakan, "menulis itu mudah", "semua orang bisa menulis." Pernyataan itu memang benar. Kalau sekadar menulis itu tidak susah, namun menulis yang berkwalitas baik dan dapat dipertanggungjawabkan itu bukan perkara yang gampang. Ada kaidah-kaidah yang harus diikuti. Hal ini tidak dapat diraih dalam sekejap. Ketajaman pena harus selalu diasah dalam ketekunan dan keuletan. Saya tidak bermaksud meremehkan bidang pelayanan lain, tapi langkah awal untuk menulis lebih sulit dilakukan daripada memulai bidang pelayanan lain.

Kedua, penghasilan dari menulis belum menjanjikan. Akibatnya hanya sedikit orang yang "berani" mendedikasikan hidupnya menjadi penulis secara total. Supaya lebih jelas, mari kita berhitung pendapatan yang diterima penulis yang telah menghasilkan 2 judul buku dengan royalti 10 persen. Perhitungannya sebagai berikut:

Buku A

Harga jual: Rp 35.000,-

Terjual: 600 eksemplar.

Maka penghasilan buku A: (( Rp 35.000,- X 600 eksemplar ) x royalti 10%) - pajak 15 %= Rp 1.785.000,-

 

Buku B

Harga jual: Rp 45.000,-

Terjual: 1.000 eksemplar

Maka penghasilan buku B: (( Rp 45.000 X 1.000 kopi ) x royalti 10%) - pajak 15 % = Rp 3.825.000,-

Penerbit biasanya membayarkan royalti setiap 6 bulan. Jadi penghasilan si penulis selama 6 bulan adalah Rp 5.610.000,- atau rata-rata Rp 935.000,- per bulan. Angka ini jelas kurang menjanjikan. (Bandingkan dengan honor yang diberikan oleh sebuah gereja untuk sekali khotbah Rp. 1.000.000,-!!). Maka tidak heran jika tidak banyak orang yang terpanggil untuk menekuni pelayanan literatur. Sudah honornya sedikit, tidak ada gemerlapnya lagi!

Realitas ini jelas mempengaruhi ketersediaan naskah buku yang ditulis oleh penulis Kristen Indonesia. Hanya ada sedikit naskah buku yang memang dipersiapkan dan ditulis secara khusus. Kebanyakan jenis buku kristiani yang ada merupakan hasil sampingan dari kegiatan pelayanan lain. Bahkan ada yang menjadikannya sekadar hobi. 

 

Terobosan Baru

Mengapa harus ada pelayanan literatur? Apakah pelayanan literatur merupakan metode pelayanan yang terbaik? Untuk pertanyaan yang terakhir, jawabannya adalah tidak! Tidak ada bidang pelayanan yang terbaik dan cocok di segala setiap situasi. Setiap bidang pelayanan memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Berikut ini kelebihan pelayanan literatur:

a. Karena tercetak, maka pesan yang disampaikan dapat disimpan dan dibaca ulang. Bandingkan dengan mendengarkan secara lisan. Contohnya saat mendengarkan khotbah. Begitu khotbah selesai, maka jemaat tidak dapat mendengarkan khotbah itu lagi (kecuali jika direkam). Sedangkan jika ditulis, maka pesan itu dapat dibaca ulang kapan saja. Jika ada bagian yang belum kita mengerti, kita dapat membaca bagian itu berkali-kali, merenungkannya berulang-ulang sehingga mengerti. Hal ini tidak mungkin dilakukan saat mendengarkan khotbah.

Saat mendengarkan khotbah, kita harus terus-menerus menyimaknya. Sementara dengan membaca, kita punya kesempatan untuk berhenti sejenak, merenungkan pesan yang baru saja kita terima untuk memahami maksudnya, kemudian kita melanjutkan membaca pesan berikutnya.

Karena dapat disimpan, maka pesan yang tercetak tersebut dapat bertahan lama, sekalipun penulisnya sudah meninggal dunia. Sampai sekarang kita masih bisa mengenal pemikiran Agustinus, C.S. Lewis, Eka Dharma Putera karena mereka menuliskan ide-ide dan pengalaman rohaninya.

b. Dapat menjadi alternatif penginjilan. Dalam situasi sosial-politik seperti saat ini metode penginjilan secara langsung dapat menimbulkan gejolak yang negatif.  Namun melalui bacaan, kita masih dapat mengabarkan Kabar Gembira ini pada orang lain. Ketika ada hambatan untuk berkomunikasi antar pribadi, maka bacaan dapat menerobos pintu penghalang tersebut.

c. Lebih efisien. Biaya yang dikeluarkan untuk ongkos cetak atau pulsa (untuk internet) cukup terjangkau, tapi pesan yang dibawanya dapat menjangkau secara massal. Pelayanan literatur jelas lebih murah dibandingkan kita memproduksi program televisi, film atau radio.

Saya yakin Anda pun sepakat bahwa pelayanan literatur itu penting. Namun hambatan utamanya adalah sedikitnya orang yang berkomitmen sebagai penulis secara total. Untuk itulah, harus ada terobosan yang mengatasi persoalan ini. Sebagai orang penulis, dengan jujur saya mengakui, bahwa hampir tidak mungkin kalau hanya mengandalkan pendapatan dari menulis buku saja. Saya masih harus ngobyek dengan menerima pekerjaan lain seperti menerjemahkan tulisan, menyunting naskah orang lain, mengerjakan proyek penulisan biografi, membuat desain grafis, dll. Saya cukup beruntung karena isteri saya juga mendapatkan penghasilan sehingga beban ekonomi keluarga dapat ditanggung bersama.

Bagi penulis yang baru saja memulai menekuni dunia literatur, persoalan ekonomi keluarga ini akan menjadi pergumulan hidupnya. Namun jika dia sudah bisa menghasilkan 7-10 judul buku, penghasilannya sudah mulai stabil. Namun persoalannya, untuk menghasilkan karya sebanyak itu diperlukan waktu 3-5 tahun (dengan asumsi dia menghasilkan 2 buku per tahun). Lalu darimana dia mendapatkan penghasilan selama 3-5 tahun tersebut?

Di sinilah pentingnya terobosan baru. Saya melihat perlu adanya suppoting ministry atau lembaga yang menyokong kehidupan penulis. Ide ini mengadopsi dari dunia LSM. Ada sebuah lembaga donatur, bernama Ashoka, yang menghususkan diri memberi dukungan finansial terhadap biaya hidup pegiat LSM dan keluarganya. Tujuan pemberian ini supaya pegiat LSM tidak tidak perlu lagi mengkhawatirkan biaya hidup keluarganya, sehingga ia dapat mengkonsentrasikan diri pada pekerjaannya.

Di dunia pelayanan Kristen, kita mengenal beberapa lembaga yang memberi dukungan dana kepada hamba-hamba Tuhan yang dikirim sebagai misionaris ke tempat terpencil. Karena jumlah anggota jemaatnya yang masih sedikit,  maka jemaat setempat tidak dapat mencukup kebutuhan hidup hamba Tuhan ini.  Akibatnya, hamba Tuhan ini harus mencari penghasilan tambahan. Jika hal ini dilakukan, maka konsentrasi pelayanan mereka terpecah, dan buntutnya pelayanan mereka tidak berkembang. Untuk mengatasi kendala ini, hadirlah lembaga pelayanan yang ikut menyokong kehidupan para hamba Tuhan pionir ini,secara finansial.

Sepatutnya konsep semacam ini juga diberlakukan dalam pelayanan literatur. Langkah pertama adalah membentuk persepsi di kalangan umat Kristen bahwa penulis sesungguhnya misonaris juga. Tugas misionaris adalah mengabarkan Kabar Baik kepada orang lain di seluruh dunia. Bukankah hal yang sama juga dilakukan oleh penulis? Ketika kita mengirim misionaris mengabarkan Injil ke Kalimantan, bukankah penulis juga mengabarkan Kabar Baik ini ke Kalimantan? Demikian juga di tempat-tempat lain. Kabar Baik yang ditulis ini bahkan dapat menjangkau tempat-tempat yang tidak bisa didatangi oleh para misionaris.

Setelah menempatkan penulis sebagai misionaris, maka langkah berikutnya adalah merintis lembaga misi yang menawarkan dukungan keuangan kepada penulis. Mekanismenya sebagai berikut: penulis mengajukan proposal penulisan kepada lembaga ini. Jika naskah tersebut dinilai baik dan bermanfaat bagi kehidupan orang Kristen, maka lembaga ini memberikan living cost kepada penulis dalam jangka waktu tertentu. Dengan begitu, penulis dapat berkonsentrasi dalam menulis. Jika jumlah buku yang dihasilkannya sudah banyak dan kehidupannya sudah mandiri, maka sokongan ini dihentikan untuk dialihkan kepada penulis pemula lainnya. Dengan cara seperti ini, maka akan banyak lahir penulis-penulis Kristen yang berdedikasi.

Langkah yang terakhir dilakukan pada tataran gereja. Gereja merupakan penyokong utama dalam pelayanan literatur. Teologi yang dikembangkan oleh gereja itu sangat mempengaruhi kondisi pelayanan literatur. Gereja yang berkiblat ke luar negeri biasanya kurang mengembangkan teologi lokal dan cenderung mengimpor pernak-pernik ibadah dan pengajaran dari gereja "induknya" di luar negeri. Pada gilirannya, gereja tersebut lebih suka menerjemahkan buku-buku penulis dari luar negeri daripada menulis dan menerbitkannya sendiri. Sebagai penulis saya sudah pernah merasakan dampaknya. Buku saya terhambat terbit selama dua tahun karena penerbit mengutamakan buku-buku karya pembicara luar negeri, yang saat itu diundang ke Indonesia. Kalau gereja di Indonesi lebih tekun mengembangkan teologi kontekstual, maka mereka akan menghasilkan banyak buku pengajaran. Tentu ini akan menggairahkan pelayanan literatur.

Jika kita dapat mewujudkan tiga terobosan tersebut, saya punya keyakinan pelayanan literatur kita akan semakin semarak****



[i] Belum termasuk penebit renungan, traktat atau intragereja.

[ii] http://bankdata.depkes.go.id

[iii] Kompas, 4 Desember 2007

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Kamis, 24 Juli 2008

MENULIS BUKU YANG LARIS

Banyak (calon) penulis mengeluhkan bahwa kesulitan terbesar mereka adalah menemukan tema tulisan.  Masalahnya bukan karena ketiadaan tema, melainkan karena ada banyak tema yang dapat digali. Kita justru kesulitan memilih satu tema di antara lautan tema yang tersedia. Hal itu mirip anak kecil yang dibawa ke toko mainan. Dia justru kebingungan ketika harus memilih satu jenis mainan yang dikehendakinya.
Ada dua ukuran yang dapat dipakai untuk menentukan tema:
Pertama, Anda harus memilih tema yang Anda kuasai atau setidaknya bisa Anda pelajari.  Semakin Anda menguasai tema itu, semakin lihai Anda menyusun karangan berdasarkan sudut pandang Anda.  Contohnya, ketika terjadi pemadaman listrik di Jawa Bali, saya menulis artikel di harian Bernas berdasarkan perspektif Perlindungan Konsumen.  Tulisan saya dimuat karena saya memakai sudut pandang yang unik  
Karena itu, saya menganjurkan pada setiap penulis untuk menggali keunikan yang dia miliki. Keunikan inilah yang memberi nilai lebih pada pengarang.  Pada pertemuan kemarin, saya mengobrol dengan peserta dari SD Kalam Kudus. Dia mengasuh Majalah Dinding di sekolahnya dan membuat hasta karya dari kertas yang cukup bagus. Ini sebuah peluang menulis yang bagus. Tidak semua orang punya pengalaman mengasuh majalah dinding. Jika dia mau menuangkan pengalamannya dalam tulisan itu, saya yakin ada banyak guru yang akan membacanya. Demikian juga ketrampilannya dalam membuat hasta karya. Ada banyak guru Sekolah Minggu dan TK yang membutuhkan ide-ide segar untuk diterapkan di sekolahnya. Mereka akan akan membeli buku semacam ini.
Anda dapat menggali tema dari dalam diri Anda sendiri. Caranya adalah dengan melakukan pengenalan diri dan merumuskannya dalam sebuah tulisan. Pengenalan diri ini meliputi pengalaman kerja, pengalaman pelayanan, pengalaman hidup, pengalaman rohani minat, hobi, obsesi, kelebihan diri, jejaring yang dimiliki dll. Dari tulisan itu, kita akan dapat menarik sebuah tema yang dapat diangkat.
Kedua, memilih tema-tema yang dibutuhkan oleh orang banyak. Dengan kata lain, penulis harus berwawasan pasar. Seperti apa sih naskah buku yang laku itu? Nah ini yang sulit dipastikan. Jangankan penulis pemula, pihak penerbit yang sudah punya pengalaman puluhan tahun sekalipun, kadangkala masih terpeleset dalam memprediksi tema-tema buku yang laris di pasar.  Dalam kasus tertentu, ada penerbit yang merasa seperti mendapat "durian runtuh" lantaran buku yang diterbitkannya, tanpa dinyana menjadi buku terlaris (best seller).
Meskipun begitu, bukan berarti bahwa tidak ada cara untuk memprediksi tema-tema yang bakal laris-manis.  Berikut ini beberapa cara yang bisa dipakai:
 
a. Melihat daftar buku terlaris (best seller)
Cara ini cukup mudah dan cukup valid karena berdasarkan pada angka-angka yang telah terbukti di lapangan.  Dengan mengikuti tema apa saja yang sedang ngetop di pasar saat itu, maka kemungkinan besar buku itu akan ikut pula laris di pasar.  Selain itu juga rajin melihat buku-buku baru (New Release) yang ada di toko buku. Dengan begitu, kita bisa mengetahui tren atau arah tema-tema buku yang sedang disukai saat ini.
 
b. Melakukan Analisis Khalayak
Setiap orang sebenarnya berkepentingan dengan marketing. Sadar atau tidak, kita ini adalah marketer. Dari urusan membujuk pacar, sampai jualan suatu produk, kita sebenarnya berurusan dengan prinsip-prinsip marketing. Begitu juga penulis. Karena itu, sebelum menulis sesuatu, kita harus sadar mengenai siapa target readers, lalu bertanya bagaimana cara "memuaskan pelanggan", yaitu target readers kita itu. Kiatnya adalah: mengenali harapan pelanggan, lalu memberi sedikit lebih dari yang diharapkan.
Di benak orang yang sedang mencari produk atau jasa, entah terucap atau tidak, selalu ada pertanyaan yang bunyinya: apa untungku dengan produk atau jasa itu? Apa manfaatnya bagiku? Keberhasilan Anda sebagai penulis akan ditentukan oleh seberapa jelas dan tegas Anda bisa menjawab pertanyaan pelanggan seperti itu. Jika kebutuhan ini terpenuhi maka niscaya buku itu akan laris dengan sendirinya.
Contoh kasus: Buku "77 Permainan Asyik" yang saya tulis adalah hasil pengamatan saya.    Sebagai guru Sekolah Minggu dan pemimpin PA, saya kesulitan mencari buku tentang permainan.  Buku yang tersedia di pasar ketika itu hanyalah terbitan Kalam Hidup dan BPK.  Itu pun tidak semua permainannya, cocok digunakan.  Karena itulah, saya menciptakan permainan sendiri.  Tiba-tiba terbersit ide, "mengapa tidak saya buat menjadi buku?"  Maka saya memutuskan untuk membukukannya.  Dalam menulis ini, saya berusaha membayangkan kebutuhan guru Sekolah Minggu dan pemimpin persekutuan, yang akan menjadi target reader (TR) dari buku saya ini.
Sebuah naskah harus ditulis dengan sasaran pembaca yang jelas. Sasaran yang jelas ini  amat membantu penerbit maupun penulis.
• Bagi Penerbit: TR Menentukan Pangsa Pasar
Untuk menyetujui atau menolak penerbitan suatu naskah, penerbit tentu memikirkan siapa calon pembacanya: pembaca umum‚ atau pembaca spesifik (specialized readers). Ada kemungkinan penerbit memilih menjadi niche player, yaitu pemain dalam bidang yang sempit, tetapi memiliki potensi pangsa pasar yang besar.
Dalam kondisi real dan menyangkut naskah tertentu, tidak dapat langsung disimpulkan bahwa pembaca umum pasti menyajikan pangsa pasar besar, atau sebaliknya bahwa pembaca spesifik menyajikan pangsa pasar kecil.
• Bagi Penulis: TR Menentukan Pilihan Logika dan Gaya Tutur
Bagi penulis, pemilahan pembaca itu langsung menyodorkan pilihan logika tutur dan gaya penulisan karya tulisnya. Karya tulis yang dimaksudkan untuk pembaca umum tentu harus menghindari penggunaan bahasa/istilah teknis yang mengandaikan kualifikasi dalam bidang ilmu tertentu guna memahaminya. Logika tutur dan pilihan-pilihan katanya perlu diusahakan agar dapat dipahami hanya dengan common sense, dengan akal sehat.
Di sini ada akrobrat tersendiri yang perlu dikuasai oleh penulis: di satu pihak tidak boleh terlalu mengandaikan bahwa pembaca tahu apa yang dimaksudkan, di lain pihak dia dituntut untuk tidak terlalu menjelaskan sampai terkesan terlalu menggurui.
Apabila seorang penulis membayangkan pembacanya adalah para specialized readers, ia dapat memasukkan istilah-istilah teknis dan logika yang biasa dipakai di bidang yang bersangkutan. Di sini penulis agak leluasa untuk mengandaikan bahwa pembacanya akan tahu apa yang ia maksudkan.
 
c. Melakukan Analisis Pasar
Pada dua cara yang pertama, metode yang digunakan adalah dengan mengikuti trend (kecenderungan) yang ada di pasar.  Kemana arah angin bertiup di situlah kita berusaha mengikuti.  Kita hanya berusaha memenuhi permintaan pasar (demand).  Kelemahannya, jika kita menjadi pemain baru di bidang ini, maka kita akan mengalami entry barrier (hambatan untuk masuk) ke pasar yang sangat tinggi. Kita ibaratnya seekor semut pendatang yang ikut-ikutan  berebut secuil kue, yang sebelumnya telah jadi bahan rebutan banyak semut lainnya (dan lebih kuat).  Jika kita tidak punya cukup kekuatan (misalnya punya keunikan, isi lebih baik, modal lebih kuat, harga lebih murah dsbnya), maka kita akan kalah.
Maka cara lain yang bisa ditempuh adalah  menciptakan permintaan baru (create demmand).  Kita menciptakan produk yang sama sekali baru, yang belum pernah ada di pasar.  Namun untuk itu diperlukan inovasi dan strategi promosi yang intensif untuk memberitahu konsumen bahwa ada produk baru dan mereka membutuhkan produk ini.  Contohnya produk teh botol Sosro. Pada mulanya, orang menilai bahwa teh yang dimasukkan dalam botol itu adalah produk yang aneh (karena teh biasanya dimasukkan dalam gelas).  Tetapi Sosro berhasil meyakinkan orang bahwa pada jaman modern ini, orang membutuhkan kepraktisan.  Kita tidak perlu lagi repot-tepot menyeduh teh apabila kedatangan tamu (apalagi jika tamunya ratusan seperti dalam resepsi pernikahan atau seminar seperti ini).  Hal yang sama juga terjadi pada produk Aqua. "Ini lebih gila lagi.  Masa' air putih dibotolin.  Mending, kalau isinya air teh," pikir orang ketika itu.  Tapi lihatlah hasilnya sekarang! Aqua menjadi market leader untuk produk Air Minum Dalam Kemasan (AMDK).   Yang ingin saya katakan, jika Anda merasa tidak mampu "berebut kue" dengan pelaku pasar yang lebih kuat, maka ciptakanlah kue Anda sendiri dan nikmatilah sendiri.
 
 
 
TIPS MEMILIH TEMA
1. Apa yang saya ketahui dari tema ini?
Apakah saya menguasai tema ini atau saya perlu mempelajarinya? Darimana bahan-bahan saya peroleh--dari pengalaman langsung, pengamatan, atau membaca? Bagaimanakah pengatahuan saya memberikan perspektif yang lain kepada pembaca?
2. Apa fokus dari tema saya?
Apakah tema saya terlalu umum (bernafsu mencakup semua hal)? Bagaimana membatasi tema saya menjadi lebih detil, sehingga saya bisa menampilkan lebih terperinci?
3. Apa yang penting dalam tema saya?
Nilai penting apa yang terkandung dalam tema saya? Apakah ada pemikiran segar dan inovatif yang akan membantu pembaca?
4. Apa yang menarik dari tema saya?
Apakah saya sungguh-sungguh tertarik pada tema ini? Biasanya saya tertarik pada tema apa? Mampukah saya menarik perhatian pembaca dengan tulisan saya ini?
5.  Apakah tema saya ini bisa dikelola?
Bisakah saya menulis tema ini dalam bentuk tertentu dan dengan jumlah halaman tertentu? Apakah saya merasa memahami dan mengusasi tema saya, ataukah saya masih bingung? Apakah tema saya terlalu rumit? Bagaumana saya bisa mengendalikannya?
 
Pernah disampaikan pada Sekolah Penulisan Gloria, 2008
http://purnawan.web.id/
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Tiga Jurus Menulis Buku

" Duapuluh tahun lagi sejak sekarang, engkau akan kecewa karena tidak melakukan apa yang seharusnya kau lakukan.  Angkatlah sauhmu. Tinggalkan dermaga aman. Kembangkanlah layarmu.  Jelajahi! Impikan! Temukan!"
--- Mark Twain
 
Saya terinspirasi ucapan Paulus Lie pada pertemuan pertama Sekolah Penulisan "Gloria" yang kemarin. Pendeta GKI Gejayan sekaligus ketua PGI DIY ini mengatakan bahwa kita tidak akan langsung menikmati buah dari penulisan buku. Kita baru bisa mulai menikmatinya beberapa tahun kemudian. Akan tetapi jika kita tidak memulainya dari sekarang, maka kita akan menyesal di kemudian hari. Hal yang sama dikatakan oleh Mark Twain. Jika Anda ingin melakukan sesuatu yang berarti, maka sekarang saatnya untuk memulai. Kita tidak pernah bisa memanen sesuatu jika tidak pernah mulai menaburkan benih dari sekarang. Sekarang saatnya untuk menabur. Sekarang saatnya mulai menulis buku.
Ada beberapa orang yang memang dapat menulis dengan sangat mudah. Setiap kali duduk dan mulai menulis, dia tidak akan berhenti menulis hingga dapat menyelesaikan tulisan. Contohnya Jack Kerouac yang menghasilkan novel On the Road dalam waktu empat puluh hari. Dia sengaja memasang kertas gulung (continous paper) di mesin ketiknya, supaya dapat terus-menerus mencurahkan kata demi kata tanpa harus terganggu dengan urusan mengganti kertas.
Akan tetapi sebagian besar orang tidak memiliki karunia seperti ini. Meskipun baru saja duduk di depan komputer atau mesin ketik, dia sudah menemukan kebuntuan. Hampir semua penulis pernah mengalami frustasi seperti ini. Menulis itu bukan pekerjaan atau jenis pelayanan mudah. Dibutuhkan ketrampilan dan disiplin tertentu untuk terjun ke dalamya. Akan tetapi banyak kesempatan yang terbuka di bidang pelayanan literatur ini. Yang perlu kita lakukan hanyalah mengembangkan sebuah keyakinan dan kepercayaan diri untuk mengatasi segala halangan frustasi di dalam penulisan.
Untungnya, kepercayaan diri ini tidak didapatkan secara misterius. Anda dapat dapat memperolehnya dengan kerja keras dan belajar dari pengalaman—baik diri sendiri maupun orang lain.
 
TAHAPAN PENULISAN
Jika Anda belum pernah menulis buku, bukan berarti Anda tidak dapat menulis buku. Yang perlu Anda ketahui adalah "jurus rahasia"  menulis buku. Ada tiga jurus rahasia yang harus dikuasai supaya dapat menjadi pendekar di dunia kepenulisan. Jurus pertama harus dilatih dan dikuasai lebih dulu sebelum berlatih jurus kedua. Demikian juga jurus kedua dan ketiga.

Jurus Pertama: Perencanaan
Perencanaan perlu dikuasai dan dilatih supaya kita memiliki pedoman dalam menulis. Ini yang akan menjadi bintang pemandu kita, seperti bintang yang telah memandu orang Majus sampai kepada bayi Yesus. Salah satu habit yang dirumuskan Stephen Covey, di antara Seven Habit for Highly Effective People, adalah "Beginning with the End". Artinya, dalam memulai sesuatu, kita perlu membayangkan lebih dulu hasil akhirnya akan seperti apa. Jika kita sudah memiliki bayangan yang jelas, maka kita tidak akan kehilangan arah dan kehilangan semangat dalam penulisan. Dengan membuat rencana tulisan berarti kita telah merumuskan mimpi kita.
Tahap perencanaan meliputi pemilihan tema, penentuan tujuan penulisan dan strategi yang dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut.
 
Jurus Kedua: Menulis Kasar (Drafting)
Menulis draft dapat diibaratkan layaknya pelukis yang menggambar sketsa. Dia menggores pena secara garis besar. Meski begitu, kita sudah bisa melihat perwujudan kasar dari lukisan yang akan dibuatnya. Pada tahapan ini, Anda mulai menyusun kerangka karangan. Pelajaran ini sudah kita dapatkan dalam pelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar. Meski begitu, alat ini masih ampuh dan belum ketinggalan zaman.
Begitu Anda sudah memiliki kerangka tulisan, maka Anda mulai mengumpulkan informasi-informasi yang dibutuhkan. Jika tema sudah digenggam, langkah berikutnya adalah mencari bahan-bahan informasi pendukungnya.  Seperti koki yang sudah memutuskan jenis masakan tertentu, dia lalu belanja bahan-bahan yang dibutuhkan. 
Sampai di sini, proses penulisan menjadi mudah. Yang kita lakukan adalah  menempelkan "daging" pada kerangka itu.  Artinya, kita tinggal menuliskan detil atau rincian dari setiap tulang kerangka.  Yang dibutuhkan di sini adalah sikap konsisten pada kerangka itu.
Setumpuk informasi yang terkumpul itu kemudian disusun sehingga membentuk sebuah tulisan yang utuh. Layaknya menyusun kain perca, Anda menggabungkan potongan demi potongan dengan cara menjahitkan antar kain perca. Pekerjaan merangkai sari informasi menjadi tulisan baru ini dikenal sebagai mengkompilasikan (merangkum bahan informasi).
Perangkuman ini mengandung dua tugas penting:
(1). Mencakup pelbagai pokok pernyataan
(2) Mengemukakan kembali kumpulan pernyataan itu dengan kata-kata lain dan kalimat baru secara ringkas.
Selama rangkuman itu tidak menunjukkan lebih dari satu sumber informasi, maka hasilnya belum bisa disebut rangkuman tetapi jiplakan yang diringkas. Agar rangkuman itu enak dibaca,  maka kumpulan informasi itu harus disusun berdasarkan urut-urutan tertentu (Kronologis, Lokal, Klimaks, Familiaritas, Akseptabilitas, Kausal, Logis dan Apresiatif. )
 
Jurus Ketiga: Revisi
Jurus revisi perlu dikuasai untuk meningkatkan kualitas tulisan kita. Sebagai jurus pamungkas, revisi menjadi andalan kita di dalam merobohkan tembok editor. Pada tahapan ini Anda perlu melakukan evaluasi dan memeriksa tulisan Anda. Apakah ada pengalimatan yang kurang tepat, ejaan yang masih salah, bagian tulisan yang pelu dibuang atau dikembangkan, dll. Dan yang tak kalah pentingnya adalah memeriksa apakah isi tulisan tersebut sudah sesuai dengan tujuan semula, atau tidak.
Tidak satu pun naskah buku yang sudah sempurna dan siap diterbitkan tanpa mengalami revisi.  Jika Anda sudah selesai menulis, simpanlah dulu naskah itu dan lupakan selama beberapa hari. Gantilah melakukan aktivitas lain.  Beberapa hari kemudian, bacalah kembali naskah itu dengan pikiran yang baru. Hampir pasti, Anda bakal menemukan kesalahan dan kekurangan yang sebelumnya Anda tidak sadari.
 
Pernah disampaikan pada Sekolah Penulisan Gloria, 2008
http://purnawan.web.id/
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Minggu, 13 Juli 2008

IKLAN TV MERUSAK POLA KONSUMSI ANAK

Tak banyak hal lain dalam kebudayaan kita yang mampu menandingi kemampuan televisi yang luar biasa untuk menyentuh anak-anak dan mempengaruhi cara berpikir serta perilaku mereka (Peggy Chairen, pendiri Action for Children Television).

Anak-anak bukanlah orang dewasa mini karena mereka belum mempunyai kematangan cara berpikir dan bertindak. Ia berada pada tahap sosialisasi dengan melakukan pencarian informasi di sekitarnya dalam rangka membentuk identitas diri dan kepribadiannya. Sumber informasi utama bagi anak adalah dari keluarga. Setelah itu, ia mengumpulkan informasi lainnya dari teman sebaya, sekolah, masyarakat dan media massa.


Pada keluarga modern sekarang ini ada kecenderungan semakin sedikitnya waktu untuk berinteraksi antara orang tua dan anak-anak karena kesibukan kerja. Sementara itu, semakin tingginya angka kriminalitas dan semrawutnya lalu lintas di perkotaan , meningkatkan kecemasan orang tua terhadap keselamatan anak-anaknya. Karena itu, mereka merasa lebih tenang bila anak mereka berdiam diri di rumah seusai sekolah. Perubahan sosial ini berarti menambah intensitas anak di dalam menonton televisi. Padahal kita ketahui, di luar acara keagamaan, tidak ada satupun acara TV swasta yang tidak diselingi penayangan iklan. Semakin bagus acara itu, semakin banyak pula iklannya. Hal ini tidak dapat dihindarkan karena sumber pembiayaan stasiun TV swasta adalah dari iklan saja. Setiap upaya pembuatan acara TV selalu dilandasi motif untuk menjual, menjual dan menjual. Sehingga seperti kata Milton Chen dalam bukunya Chlidren and Television, "acara TV komersial yang kita saksikan hanyalah umpan untuk mendekatkan kita dengan iklan".

Daya Tarik Emosional
Pada umumnya fungsi dari iklan adalah untuk memberi informasi dan melakukan persuasi. Tujuan dari pemberian informasi adalah untuk (a) memperkenalkan produk baru atau perubahan pada produk lama, (b) menginformasikan karakteristik suatu produk, dan ©. memberi informasi tentang harga dan ketersediannya. Sedangkan tujuan dari persuasi adalah untuk meyakinkan konsumen tentang manfaat (benefit) suatu produk, untuk mengajak konsumen agar membeli produk dan untuk mengurangi keragu-raguan setelah membeli atau mengkonsumsi produk.
Untuk mengkomunikasikan pesan-pesan itu, kalangan pengiklan bisa menggunakan daya tarik emosional yaitu dengan menyentuh rasa senang, gembira, kasihan, gengsi, takut sedih dll, atau daya tarik rasional dengan memberi informasi tentang kelebihan dan kekurangan suatu produk.
Untuk iklan yang ditujukan buat anak-anak, pengiklan lebih sering memakai daya tarik emosional karena didukung kenyataan bahwa 75 % keputusan manusia dilandasi oleh faktor emosi. Selain itu daya tarik emosi juga mempunyai keunggulan yaitu (a). lebih menarik perhatian anak (b). klaim pada iklan lebih gampang diingat dan, ©. dapat menjadi faktor diferensiasi dari produk sejenis yang jadi pesaingnya. Sebagai contoh, kebanyakan kandungan miultivitamin hampir sama, tapi merek multivitamin yang diiklankan oleh Joshua ternyata lebih laris manis. Karena itulah para pembuat iklan anak lebih senang menampilkan tokoh idola anak-anak-anak, membuat visualiasi yang menerbitkan selera memberikan hadiah (gimmick), atau memakai musik yang riang gembira daripada memberikan informasi yang obyektif. dan memadai.
Umumnya anak-anak belum mampu menapis informasi dari iklan yang dapat dipakai untuk membuat keputusan dalam membeli suatu produk. Hal ini ditunjukkan hasil penelitian LP2K (Lembaga Pembinaan dan Perlindungan Konsumen) tahun 1995, bahwa 94,2 % responden anak-anak pernah membeli produk yang diiklankan TV karena tertarik pada bintang iklannya. Survei serupa oleh CERC (Consumer Education and Research Center) di India, mendapati 75 % anak-anak mengaku pernah meminta orang tua membelikan produk yang diiklankan TV. Mereka juga hapal siapa teman, tetangga atau saudaranya yang memakai produk yang sama.

Iklan Pangan
Di banyak negara, termasuk Indonesia, iklan yang paling sering muncul pada acara yang ditujukan untuk anak-anak adalah kateogri pangan. Kenyataan ini perlu dicermati secara kritis karena iklan bisa membentuk pola makan yang buruk pada masa anak-anak. Padahal makanan yang dikonsumsi pada masa anak-anak ini akan menjadi dasar bagi kondisi kesehatan di masa dewasa dan tua nanti.
Efek yang paling disoroti adalah munculnya gejala obesitas (kegemukan) yang dikaitkan dengan intensitas menonton TV. Semakin seringnya anak nongkrong di depan TV apalagi ditambahi dengan aktifitas ngemil, berarti semakin sedikit anak melakukan aktifitas fisik yang bisa membakar kalori menjadi energi. Kelebihan kalori ini kemudian disimpan menjadi lemak yang menyebabkan kegemukan. Jurnal Pediatrics terbitan Amerika Serikat menyebutkan bahwa setiap penambahan alokasi waktu menonton TV sebesar 1 jam akan meningkatkan kemungkinan obesitas sebesar 2 persen.
Penelitian LP2K juga menunjukkan bahwa waktu menonton anak di Semarang, rata-rata 4 jam/hari. Sedangkan penelitian Pratanthi Pudji Lestari (1996) di Bogor mendapati anak-anak yang obesitas menonton TV selama 4,65 jam/hari dan anak yang tidak obesitas 3,13 jam/hari. Padahal idealnya tidak lebih dari 2 jam/hari. Penelitian ini mendukung hasil penelitian di AS bahwa ada kecenderunbgan anak-anak meluangkan waktu untuk menonton TV lebih banyak daripada kegiatan apapun lainnya kecuali tidur.
Selain obesitas, persoalan lain yang perlu diperhatikan adalah kandungan zat-zat gizi dalam makanan yang digemari anak-anak. Pertama, kandungan garam. Garam mengandung unsur Natrium dan Sodium yang berfungsi sebagai elektrolit tubuh. Makanan yang kurang garam memang terasa hambar, namun kandungan garam yang berlebihan bisa menimbulkan ketidak-seimbangan elektrolit tubuh. Hal ini sangat riskan bagi penderita tekanan darah tinggi dan penyakit jantung.
Menurut penelitian Puslitbang Gizi Bogor (1995), kandungan garam pada makananan jajanan hasil olahan pabrik lebih tinggi daripada hasil olahan rumah tangga. Biskuit yang rasanya manis, ternyata kandungan garamnya sangat tinggi (1.395,5 mg/100 gram makanan). Demikian juga dalam mie instant untuk berbagai merek dan rasa, apalagi dalam bumbunya, kandungan garamnya sangat tinggi. Setiap bungkus bumbu mie instant mengandung 3.448-4.940 mg. Kandungannya lebih tinggi lagi terdapat pada mie instant rasa pedas (tampaknya setiap penambahan rasa pedas perlu disertai penambahan rasa asin. ). Padahal angka kecukupan garam untuk anak-anak adalah 2.858 mg/hari.
Kedua, kandungan kolesterol. Kolesterol adalah unsur penting dalam lemak dari keluarga sterol. Kolesterol yang tinggi dapat menyebabkan pengapuran pembuluh darah yang menyumbat arteri koroner. Penyumbatan ini menyebabkan terganggunya suplai oksigen ke otak sehingga berresiko terkena serangan stroke.
Hasil penelitian terakhir menunjukan bahwa penyakit jantung koroner sebenarnya mulai timbul pada masa anak-anak. Studi di AS menunjukkan 25 dari 100 anak mempunyai tingkat kolesterol yang sudah mendekati batas aman. Penelitian lain menemukan bahwa pengapuran pembuluh darah terjadi justru pada usia 5-10 tahun. Pada remaja usia 18 tahun sudah ditemukan adanya garis lemak yang melapisi pembulunh darah koroner.
Lalu bagaimana kandungan lemak pada makanan? Hasil pengujian YLKI (1997) terhadap fast food menunjukkan adanya perbedaan yang nyata antara komposisi gizi produk yang dipasarkan di Indonesia dan di AS. Perbedaan yang paling mencolok adalah kandungan lemak yang lebih tinggi di Indonesia. Konsumsi lemak yang dianjurkan adalah 20 % dari total kecukupan energi. Hasil pengujian menunjukkan 1 porsi burger keju menyumbang lemak 26,4 % dari total kecukupan energi untuk anak, 1 porsi kentang goreng 42 % dan ayam goreng 41,7 %. Di sini terlihat bahwa sumbangan lemak dari fast food sangat tinggi. Padahal jumlah itu belum termasuk jika anak menambah porsi atau makanan lain yang dikonsumsi dalam satu hari itu.
Ketiga kandungan MSG (MonoSodium Glutamate).Banyak makanan jajanan anak (snack) dan mie isntant yang mengandung MSG. Fungsi MSG adalah sebagai penyedap rasa berupa rasa gurih. MSG sebenarnya tidak mempunyai nilai gizi, malah tidak ada manfaat sama sekali bagi tubuh manusia. Bahkan pemakaian yang berlebihan (di atas 120 mg/kg berat badan/hari) dapat membahayakan kesehatan. Akibat yang sudah diketahui adalah timbulnya Sindroma Restoran Cina. Gejalanya berupa rasa haus, mual, pegal-pegal pada tengkuk, sakit dada dan sesak napas yang timbul 20-30 menit setelah mengkonsumsi MSG yang berlebihan. Akibat lainnya adalah resiko penyakit kanker. Penelitian di Jepang menyimpulkan bahwa MSG jika dipanaskan pada suhu sangat tinggi bisa berubah menjadi karsinogenik (menyebabkan penyakit kanker). Tapi untuk hal ini masih ada silang pendapat para pakar.
Keempat, kandungan gula. Anak-anak sangat menyukai makanan yang manis-manis seperti permen, coklat, minuman ringan, sirup, kue dll. Gula adalah sumber kalori yang tinggi. Bila tidak dibakar, gula bisa berunbah menjadi lemak. Selain itu, gula juga bisa menyebabkan kerusakan gigi (karies) pada anak-anak.

Pengaturan Iklan
Mengingat adanya efek negatif dari iklan yang ditujukan pada anak-anak khususnya iklan makanan, sudah sepatutnya mulai dibuat peraturan periklanan untuk anak-anak. Sayangnya masalah iklan untuk anak-anak ini belum diatur secara spesifik dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen no 8/1999. Padahal di negara-negara maju yang "lebih kapitalistik" dari Indonesia, mereka sudah lama peduli pada nasib anak-anak dan mulai membatasi iklan pada acara TV anak-anak.
Negara Swedia dan Norwegia melarang iklan untuk anak di bawah 12 tahun dan sama sekali melarang iklan di acara TV untuk anak. Australia melarang iklan pada acara anak pra sekolah dan menetapkan iklan makanan tidak boleh memberikan penafsiran ganda. Negara Belgia melarang penayangan iklan 5 menit sebelum dan sesudah acara anak dan iklan permen harus mencantumkan gambar sikat gigi. Negara Denmark dan Finlandia melarang sponsorship di acara anak. Di Denmark iklan snack, minuman ringan dan coklat dilarang mengklaim sebagai pengganti makanan. Negara Inggris menentukan bahwa iklan tidak boleh mendorong konsumsi sesering mungkin. Sedangkan AS mewajibkan setiap iklan makanan harus mendorong agar anak menjadi sadar gizi.
Karena itulah, sudah saatnya bagi pihak-pihak yang peduli pada perlindungan anak-anak untuk segera melakukan tindakan untuk menghentikan eksploitasi kepentingan komersial terhadap anak-anak . Caranya adalah dengan mendesakkan pengaturan iklan anak-anak pada UU Penyiaran.***

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Teknik Penulisan Feature

Oleh: Purnawan Kristanto

Para jurnalis yang sudah lama berkecimpung di dunia jurnalistik tahu bahwa kadangkala dalam sebuah peristiwa tidak hanya berupa satu buah kejadian saja. Bisa jadi dalam sebuah peristiwa terdiri dari banyak fragmen-fragmen kejadian yang layak diberitakan. Di dalam teknik penulisan berita langsung (straight news), jurnalis akan merangkum semua fakta-fakta itu ke dalam sebuah berita lempang dan singkat. Ini biasanya terjadi pada media-media yang menuntut aktualitas yang tinggi seperti koran, radio, TV dan internet.

Namun media yang tidak begitu diikat oleh waktu seperti tabloid mingguan atau majalah bulanan, jika mereka ikut-ikutan menulis seperti ini, tentu medianya tidak akan laku karena sudah basi. Karena itulah mereka harus menggali berita dari sudut pandang yang unik dengan tema yang awet alias tak lekang oleh waktu.

Sebagai contoh, dalam sebuah bencana di kota Y, terjadi kejadian sebagai berikut:
• Sambaran petir dan angin badai meruntuhkan atap gedung berlantai lima
• Runtuhan atap itu menimpa mobil yang sedang melintas
• Pengemudinya, seorang remaja putri, menginggal dunia
• Dua penumpang terluka
Aturan dasar dalam menulis berita lempang adalah menempatkan hal-hal yang paling penting di awal berita. Aturan ini tidak menjadi masalah sepanjang kisah ini hanya mempunyai satu peristiwa yang ditekankan. Namun ketika ada banyak peristiwa yang penting juga untuk diberitakan, maka tugas jurnalis menjadi semakin rumit. Untuk mengatasi hal ini, ada dua pilihan yang bisa dilakukan:

1. Merangkum semua fakta –dengan urutan penting ke tidak penting—pada paragraf pertama, atau
2. Memberi tekanan pada peristiwa tertentu yang paling penting di awal paragraf.

Jika peristiwa di atas ditulis dalam sebuah berita lempang, hasilnya sebagai berikut:
“Atap sebuah gedung berlantai lima, runtuh setelah tersambar petir dan tersapu angin badai tadi malam. Runtuhan atap itu menimpa mobil yang sedang melintas, sehingga menewaskan Anastasia Suminem (18 tahun) yang mengemudi mobil itu. Sedangkan dua penumpang lainnya menderita luka-luka serius.”

Berita seperti ini biasanya dimuat di koran harian. Namun ketika redaktur tabloid wanita akan mengangkat peristiwa ini, ia harus mencari sudut pandang lain. Ia memberi tugas reporternya untuk mengangkat kisah korban yang meninggal. Inilah hasilnya:

“Seorang remaja putri meninggal dunia (Jumat, 18/4) ketika mobil yang dikendarainya tertimpa atap gedung berlantai lima yang runtuh setelah tersambar petir. Selain itu, dua penumpang yang duduk di belakang menderita luka-luka serius. Saat itu mobil mereka sedang terjebak di kemacetan lalu lintas.

Anastasia Suminem (18 tahun) adalah seorang sekretaris PT. Sukar Maju. Ia sedang melintas jl. Sudirman ketika puluhan kubik bata, kayu, besi dan genting itu menghempas mobilnya. Timbunan material itu meringsekkan badan mobil bagian depan sehingga menewaskan Anastasia seketika itu juga.

Anastasia adalah seorang karyawati yang menuru penuturan Kristina, rekan kerjanya adalah karyawan periang yang tidak sungkan-sungkan memberi bantuan pada orang lain. Sifat suka menolongnya ini tercermin ketika ia menawarkan untuk mengantarkan pulang Yosafat Tukiyo (23 th) dan Maria Magdalena Pariyem (20 th). Padahal arah rumah Anastasia berlawanan dengan kedua rekannya ini.. …. “ kisah selanjutnya menceritakan tentang Anastasia.

Sementara itu, editor majalah bulanan memandangnya dari sisi lain. Ia tertarik pada petir yang menyambar pada saat jam-jam sibuk. Pada saat itu, jalanan macet karena banyak orang pulang kantor pada waktu yang bersamaan. Untuk itu, ia menugaskan anak buahnya untuk mewawancarai pakar Cuaca dan mencari informasi seputar perilaku petir.

Nah, begitulah. Untuk peristiwa yang sama, kita bisa menuliskan dalam dua atau lebih berita yang berbeda. Inilah yang disebut pemilihan sudut berita atau news angle. Pemilihan news angle sebuah media ini biasanya dipengaruhi oleh kebijaksanaan redaksional dan karakteristik pembacanya. Masih ingat kecelakaan tragis Lady Di? Untuk peristiwa yang sama, sebuah tabloid gosip mengangkat sisi perselingkuhan, majalah bulanan mengupas ulah para Paparazi ,sedangkan majalah berita berusaha menelusuri penyebab kecelakaan. Berbeda-beda ‘kan?

Ketika sebuah media sudah mendapat point of interest dari sebuah kisah, mereka akan memusatkan perhatian pada satu hal itu saja. Mereka mengumpulkan dan menggali fakta di balik berita lempang untuk disusun menjadi sebuah berita kisah atau news feature. Karena relatif tidak terikat oleh waktu, penulis berita kisah punya kesempatan untuk menyusun kalimat yang menghidupkan imajinasi pembaca. Tulisan ini menarik perhatian pembaca hingg masuk ke dalam cerita itu dengan membantu mengidentifikasi diri dalam tokoh utama. Feature dapat menyentuh emosi pembaca sehingga mereka penasaran, skpetis, kagum, heran, tertawa, menangis, dongkol, senang dsb.

Menurut Wiliamson, “Feature adalah tulisan kreatif yang terutama dirancang untuk memberi informasi sambil menghibur tentang suatu kejadian situasi atau aspek kehidupan seseorang”.

Masih kata Wiliamson, feature menekankan unsur kreativitas (dalam penciptaan), informatif (isinya) dan menghibur (gaya penulisannya) dan boleh subyektif (penuturannya). Ketiga syarat utama ini mutlak ada dalam feature, sedangkan unsur subyektifitas tidak mutlak. Kalau ada juga boleh, terutama untuk feature sisi manuniawi (human interest).

Berdasarkan Fakta

Bentuk penulisan cenderung bergaya feature: "mengisahkan sebuah cerita." Penulis feature pada hakikatnya adalah seorang yang berkisah. Ia melukis gambar dengan kata-kata; ia menghidupkan imajinasi pembaca.
Penulis feature tentu membutuhkan imajinasi yang baik untuk menjahit kata-kata dan rangkaian kata menjadi cerita yang menarik. Tapi, seperti juga bentuk-bentuk jurnalisme lainnya, imajinasi penulis tidak boleh mewarnai fakta-fakta dalam ceritanya.

Pendeknya, cerita khayalan tidak boleh ada dalam penulisan feature. Ada sebuah kisah tragis seorang wartawati reporter harian Washington Post, Janet Cooke, yang pada tahun tersebut memenangi Hadiah Pulitzer. Hadiah prestisius ini menjadi idaman jurnalis di "Negeri Paman Sam" itu. Ia tergoda memasukkan unsur fiksi dalam feature. Akibat kebohongan ini, karirnya pupus. Kisahnya begini:

Janet berhasil menulis sebuah feature yang sangat menarik, mengharukan, dan tentu saja bagus. Feature yang diberinya judul "Jimmy's World" itu mengalahkan calon-calon lain dan memenangi Pulitzer untuk jenis timeless feature. Washington Post tentu saja bangga dengan karya reporternya yang berusia 26 tahun itu. Sayangnya, kebanggaan yang belakangan menjadi skandal itu telah mencoreng wajah harian terkemuka di Amerika tersebut.

Janet ternyata "mengarang" feature yang indah itu. Tulisannya tidak berangkat dari fakta. Jimmy, tokoh yang digambarkannya itu, ternyata tokoh imajinasi yang hanya hidup dalam benaknya. Artinya, tulisannya bukan karya jurnalistik, tetapi fiksi. Karena perbuatannya itu, Hadiah Pulitzer yang diterimanya dicabut dan ia dipaksa berhenti dari Washington Post.
Mengapa kasus memalukan ini terbongkar? Dalam riwayat hidupnya yang diterbitkan di surat kabar setelah ia memenangi hadiah itu, ia menyebutkan nama dua universitas tempat ia dulu memperoleh gelar sarjana. Tak lama setelah biografi singkat Janet Cooke muncul di berbagai media, kedua universitas yang disebutnya menelepon Washington Post dan menyampaikan bantahan. Janet tidak pernah kuliah di sana.

Kecurigaan bermula di sini. Para editor atasan Janet segera menginterogasi reporter itu beberapa jam. Bagaikan mendengar suara guntur di siang hari yang sangat terik, mereka sangat terperanjat dengan pengakuan Janet bahwa karya tulisnya adalah sebuah pabrikasi. Bagaimana mungkin mereka bisa percaya? Kisah anak berusia delapan tahun yang kecanduan heroin dan menggelandang di jalan-jalan ghetto itu dideskripsikannya dengan sangat emosional, penuh kutipan yang sangat meyakinkan. Dunia yang dipaparkannya adalah dunia yang sebagian besar orang tidak pernah memasukinya, tidak juga Janet Cooke sendiri. (GAMMA Digital News Nomor: 26-3 - 21-08-2001)

Seorang jurnalis profesional tidak akan menipu pembacanya, walau sedikit, karena ia sadar terhadap etika dan bahaya yang bakal mengancam.

Etika menyebutkan bahwa opini dan fiksi tidak boleh ada, kecuali pada bagian tertentu surat kabar. Tajuk rencana, tentu saja, merupakan tempat mengutarakan pendapat. Dan edisi Minggu surat kabar diterbitkan untuk menampung fiksi (misalnya cerita pendek).

Feature tidak boleh berupa fiksi, dan setiap "pewarnaan" fakta-fakta tidak boleh menipu pembaca. Bila penipuan seperti itu terungkap, kepercayaan orang pada kita akan hancur.

Sumber-Sumber Feature

Ada seorang anggota jemaat di gereja sekitar Malioboro. Namanya Mohammad Mustofa. Sehari-harinya dia adalah pedagang kaki lima di bilangan Malioboro. Namun setiap kali ada acara Pemahaman Alkitab, Bapak ini selalu menutup dagangannya hari itu. Aspek ini bisa menjadi cantelan penulisan feature bagaimana dia mengatur waktu antara kegiatan gereja dengan mencari nafkah.
Di sekitar kita ada banyak bahan-bahan yang dapat diracik menjadi sebuah berita kisah. Kuncinya adalah kesediaan kita untuk menggali lebih dalam dari peristiwa-peristiwa di sekitar kita. Namun sebagai petunjuk saja, kita bisa menggali dari peristiwa berikut ini:

• Peristiwa luar biasa : ganjil, aneh, seperti kebetulan, kepribadian yang unik.
• Peristiwa biasa : orang biasa, tempat biasa dan benda biasa tetapi orang selalu ingin mengetahui hal-hal itu.
Sebagai contoh, setiap kali melintasi perempatan Gramedia, kita selalu menjumpai anak-anak jalanan. Setiap orang yang melintas ingin tahu berapa penghasilan mereka sehari? Apakah ada yang mengkoordinir? bagaimana makan mereka? Apakah mereka tidak pernah sakit karena polusi? Apakah mereka masih punya keluarga?
• Peristiwa Dramatis: pemenang undian, Orang Kaya Baru, pengelaman heroik, selamat dari kecelakaan dsb.
• Panduan bagi pembaca: Nasehat dan kiat-kiat untuk pembaca, misalnya cara menghindari perampokan, cara memilih helm “standard” yang sudah memenuhi standard, resep, kerajinan tangan dll.
• Informasi: Statitistik, pelajaran, gambar, sejarah dll

Cara Menulis Feature

Sebagian besar penulis feature tetap menggunakan penulisan jurnalistik dasar, karena ia tahu bahwa teknik-teknik itu sangat efektif untuk berkomunikasi. Tapi bila ada aturan yang mengurangi kelincahannya untuk mengisahkan suatu cerita, ia segera menerobos aturan itu.
Struktur tulisan feature disusun seperti kerucut terbalik yang terdiri dari lead, jembatan di antara lead dan tubuh, tubuh tulisan dan penutup. Bagian atasnya berupa lapisan lead dan jembatan yang sama pentingya, dan bagian tengahnya berupa tubuh tulisan yang makin ke bawah makin kurang ke-penting-annya. Bagian bawahnya berupa alenia penutup yang bulat.



Penutup
Kunci penulisan feature yang baik terletak pada paragraf pertama, yaitu lead. Mencoba menangkap minat pembaca tanpa lead yang baik sama dengan mengail ikan tanpa umpan. (jenis-jenis lead bisa dilihat pada makalah Penulisan Berita)
Lead feature berisi hal yang paling penting untuk mengarahkan perhatian pembaca pada suatu hal yang akan dijadikan sudut pandang dimulainya penulisan.
Jembatan bertugas sebagai perantara antara lead dan tubuh yang dengan lead masih terkait, tetapi ke tubuh tulisan sudah mulai masuk. Ia semata-mata melukiskan identitas dan situasi dari hal yang akan dituturkan nanti.

Tubuh feature berisi situsi dan proses disertai penjelasan mendalam tentang mengapa dan bagaimana. Pada human interest feature, situasi yang dituturkannya disertai pendapat atau pandangan yang subyektif dari penulisnya mengenai situasi yang diutarakan. Tetapi pada bentuk feature ilmiah populer situasi dan proses yang ditutrkan tidak disertai pendapat subyektif, melainkan tetap dipertahankan keobyektifitasan pandangannya.

Penutup feature berupa alenia berisi pesan yang mengesankan.
Suatu feature memerlukan -- bahkan mungkin harus -- ending karena dua sebab:
1. Menghadapi feature hampir tak ada alasan untuk terburu-buru dari segi proses redaksionalnya. Editor tidak lagi harus asal memotong dari bawah. Ia punya waktu cukup untuk membaca naskah secara cermat dan meringkasnya sesuai dengan ruangan yang tersedia.
Bahkan feature yang dibatasi deadline diperbaiki dengan sangat hati-hati oleh editor, karena ia sadar bahwa kebanyakan feature tak bisa asal dipotong dari bawah. Feature mempunyai penutup (ending) yang ikut menjadikan tulisan itu menarik.
2. Ending bukan muncul tiba-tiba, tapi lazimnya merupakan hasil proses penuturan di atasnya yang mengalir. Ingat bahwa seorang penulis feature pada prinsipnya adalah tukang cerita. Ia dengan hati-hati mengatur kata-katanya secara efektif untuk mengkomunikasikan ceritanya. Umumnya, sebuah cerita mendorong untuk terciptanya suatu "penyelesaian" atau klimaks. Penutup tidak sekadar layak, tapi mutlak perlu bagi banyak feature. Karena itu memotong bagian akhir sebuah feature, akan membuat tulisan tersebut terasa belum selesai.
Beberapa jenis penutup:
• Penutup ringkasan. Penutup ini bersifat ikhtisar, hanya mengikat ujung-ujung bagian cerita yang lepas-lepas dan menunjuk kembali ke lead.
• Penyengat. Penutup yang mengagetkan bisa membuat pembaca seolah-olah terlonjak. Penulis hanya menggunakan tubuh cerita untuk menyiapkan pembaca pada kesimpulan yang tidak terduga-duga. Penutup seperti ini mirip dengan kecenderungan film modern yang menutup cerita dengan mengalahkan orang "yang baik-baik" oleh "orang jahat".
• Klimaks. Penutup ini sering ditemukan pada cerita yang ditulis secara kronologis. Ini seperti sastra tradisional. Hanya saja dalam feature, penulis berhenti bila penyelesaian cerita sudah jelas, dan tidak menambah bagian setelah klimaks seperti cerita tradisional.
• Tak ada penyelesaian. Penulis dengan sengaja mengakhiri cerita dengan menekankan pada sebuah pertanyaan pokok yang tidak terjawab. Selesai membaca, pembaca tetap tidak jelas apakah tokoh cerita menang atau kalah. Ia menyelesaikan cerita sebelum tercapai klimaks, karena penyelesaiannya memang belum diketahui, atau karena penulisnya sengaja ingin membuat pembaca tergantung-gantung.

Seorang penulis harus dengan hati-hati dalam menilai ending-nya, menimbang~nimbangnya apakah penutup itu merupakan akhir yang logis bagi cerita itu. Bila merasakan bahwa ending-nya lemah atau tidak wajar, ia cukup melihat beberapa paragrap sebelumnya, untuk mendapat penutup yang sempurna dan masuk akal.

Menulis penutup feature sebenarnya termasuk gampang. Kembalilah kepada peranan "tukang cerita" dan biarkanlah cerita Anda mengakhiri dirinya sendiri, secara wajar.

Pustaka

Slamet Soeseno, “Teknik Penulisan Ilmiah Populer; Kiat Menulis Non Fiksi Untuk Majalah, Gramedia Pustaka Utama
Williamson, “Feature Writing for Newspeper, Hastings House, New York
Julian Harris dkk, The Complete Reporter”, Macmillan Publishing, New York
Makalah Satrio Arismunandar

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Selasa, 01 Juli 2008

Retret Remaja (hari ketiga)

Hari terakhir diawali dengan kecelakaan kecil. Tim Mapala UNY yang bertanggungjawab menyelanggarakan aktivitas Flying Fox ternyata kesulitan memasang tali utama yang dipakai untuk meluncur peserta. Tali yang terpasang kurang tegang, sehingga ketika diberi beban manusia, tali tersebut mengendor sehingga orang tersebut hampir menyentuh tanah. Ini tentu berbahaya sebab peserta bisa terbanting ke tanah ketika meluncur dengan kecepatan tinggi.

Untuk itu, maka tim mapala meminta bantuan 10 remaja yang badannya kuat-kuat untuk menarik tali tersebut sehingga ketegangannya cukup kuat. Ditambah bantuan 10 remaja, kakak pembimbing, tim dari mapala dan penduduk setempat, maka jumlahnya mencapai 20-orang. Dengan sekuat tenaga mereka menarik tali tersebut kuat-kuat.



Setelah beberapa kali usaha keras, ternyata kemajuannya hanya sedikit-sedikit. Problemnya karena penarikan tali kurang serempak. Maka penarikan tali dilakukan lagi dengan satu komando dan pengerahan tenaga yang maksimal. Pada hitungan ketiga, mereka menarik tali dengan serempak dan mengerahkan segenap keluatan tenaga. Tapi celaka....ternyata sambungan tali antara tali utama dengan tali penarik itu tidak kuat hingga putus. Akibatnya, mereka tidak dapat mempertahankan keseimbangan dan jatuh terguling-guling ke bawah. Ada yang mendarat dengan pnggungnya, ada yang tertindih orang di depannya, ada juga yang tersambar tali hingga memar-memar. Peristiwa itu membuat remaja menjadi syok sehingga diputuskan untuk membatalkan aktivitas flying fox dan sebagai gantinya adalah menaiki tali menggunakan prusik.

Meskipun begitu, aktivitas outbond yang lain tetap dilaksanakan sesuai rencana. Dimulai terlambat satu jam dari jadwal, peserta berjalan menuruni bukit menuju pos pertama yaitu spiderweb. Ada jalinan tali yang menyerupai jaring laba-laba. Tugas para remaja adalah menerobos tali tersebut tanpa menyentuh talinya. Untuk itu diperlukan perencanaan dan kerjasama kelompok.

Pada pos kedua, para remaja diajak melintasi sungai kering menggunakan tali. Panitia sudah mementangkan tali melintasi sungai. Tugas para remaja adalah bergelayutan pada tali supaya sampai di seberang.Pos ketiga relatif ringan. Tugas mereka adalah melemparkan balon berisi air kemudian mendudukinya hingga pecah. Setelah itu mereka mendaki bukit kembali untuk menuju pos keempat. Di sini sebenarnya akan diadalah aktivitas flying fox, tetapi kemudian diganti dengan naik tali menggunakan prusik. Pada pos terakhir, peserta diajak kembali bekerja sama untuk mengambil air dari dalam kolam air menggunakan ember untuk dituangkan ke wadah lain. Namun ini tidak mudah karena ember tersebut diikat dengan tali yang ujung-ujugnya dipengang oleh peserta.



Karena dimulai terlambat, maka sampai dengan pukul 13.00 aktivitas outbond belum selesai. Padahal menurut ketentuan hotel, kami harus checkout paling lambat pukul 14.00. Maka dengan sangat menyesal, panitia akhirnya menghentikan kegiatan outbond ini meskipun ada beberapa kelompok yang belum menyelesaikan semua pos.

Setelah makan siang dan berkemas-kemas, maka pada pukul 3 sore, rombongan remaja GKI Klaten berangkat pulang menggunakan satu bis dan satu mobil gereja L-300.

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Retret Remaja (hari kedua)

Acara hari kedua dimulai dengan penyampaian materi psikologi remaja oleh pdt. Phan Bien Ton. Dalam paparannya Phan Bien Ton menguraikan bahwa ada delapan tahapan perkembangan psikologis. Pada setiap tahapan terdapat tugas-tugas yang harus dilakukan oleh seseorang. Jika tugas itu dijalankan dengan sukses maka akan memperlancar untuk memasuki tahapan berikutnya. Jika gagal, maka akan terjadi kesulitan-kesulitan. Selanjutnya, pendeta GKI Klaten ini mengajak remaja untuk mengenali tugas perkembangan psikologis remaja.



Setelah rehat untuk makan kudapan, Bu Adelina Anastasia dari Mitra Peduli Keluarga, Semarang menyampaikan materi secara interaktif, dinamis dan atraktif. Mula-mula para remaja diajak untuk melakukan gerakan icebreaker. Di dalam kelompok, mereka membentuk lingkaran kemudian menumpukkan kedua telapak tangan mereka di tengah-tengah lingkaran. Sesuai dengan aba-aba, secara bersama-sama, setiap kelompok harus mencondongkan badan ke kiri, kembali tegak, condong ke kanan, lalu tegak lagi. Demikian seterusnya.

Setelah suasana menjadi segar, bu Adelina lalu mengajak remaja untuk melakukan permainan MENGENALKAN DIRI PADA DUNIA. Sebelumnya, pengelola Mitra Peduli centre ini memberikan contoh:
'Hai.......Namaku Adel
Aku tinggi, kulit putih, muka cakep, agak gendut. Aku anak ke empat dari 6 bersaudara. Kakakku meninggal saat ia umur 18 tahun, saat jadi mahasiswa di fakultas Psikologi UI.Waktu itu aku masih kelas 2 SMA. Aku sedih sekali, karena dia dan aku sangat dekat.
Aku orangnya pintar, baik, dulu pemalu dan minder dan tidak punya teman, sekarang yang kenal aku sangat banyak, tapi yang menjadi temanku ada beberapa. Aku tidak mudah untuk berteman. Bahkan sampai saat ini.'
Selanjutnya dia bercerita dengan apa yang memuatnya bahagia, cita-citanya, bagian dari dirinya yang paling sensitif.

Sesudah makan siang, remaja diajak membuat LIFELINE yaitu semacam grafik yang menunjukkan garis hidup seseorang. Jika dia mengalami kebahagiaan maka garisnya naik, jika mengalami ketidakbahagiaan maka garisnya turun. Sebagai contoh, jika remaja mencapai prestasi tertentu, maka garisnya naik. Tetapi jika kakeknya meninggal, maka garisnya turun.
Sesi berikutnya, bu Adel mengajak remaja untuk menuliskan IDOLA mereka dan alasan memilih IDOLA tersebut. Remaja diminta untuk menuliskan hal-hal baik yang menonjol dari tokoh IDOLA-nya itu.
Penulisan tokoh idola ini berkaitan dengan pembentukan harga diri seseorang. Rumusnya, Harga diri = Nilai ideal:citra diri.

Harga diri seseorang dinilai berdasarkan perbandingan antara nilai ideal dengan citra dirinya. Jika citra dirinya tinggi dan mendekati nilai ideal, maka harga dirinya sangat tinggi. Tapi jika citra diri seseroang jauh dari nilai ideal, maka harga dirinya sangat remaja. Pada masa remaja, mereka biasanya mencari nilai ideal itu dari tokoh idolanya. Jika remaja merasa bahwa dirinya hampir mirip dengan tokoh idolanya, maka dia akan memiliki harga diri yang tinggi.
Untuk meneguhkan kepercayaan diri, maka bu Adel mengajak remaja untuk mencari pengakuan dari teman-temannya. Mereka diberi selembar kertas yang bertuliskan sifat-sifat baik seperti: Baik hati, Tidak sombong, Pintar, Rajin menabung, Naik angkot, Sensitif / peka, Dekat dengan guru, Sayang keluarga, Suka menolong, Populer / terkenal, Enak diajak curhat, Hemat,Dekat dengan Tuhan, Sederhana, Jujur, dan Peduli.
Aktivitas ini sangat seru. Remaja diajak untuk mencari pengakuan dari teman-temannya. Caranya dengan menyodorkan kertas kepadanya. Jika ada sifat-sifat yang sesuai dengan remaja itu, maka temannya akan memberi tandatangan pada kolom sifat yang sesuai.
Aktivitas berikutnya adalah menuliskan impian masing-masing. Setelah itu, remaja diajak untuk menuliskan langkah-langkah yang akan dilakukan untuk mencapai impian itu. Beberapa remaja diminta untuk menyampaikan impiannya kepada orang lain. Ada yang bermimpi menjadi pengusaha, ada yang bermimpi menjadi dokter spesialis anak, ada yang bermimpi menjadi perancang mesin mobil, dll.
Usai makan malam, bu Adel menuntup sessinya dengan mengajak remaja mengadakan refleksi di dalam kelompok. Dengan mengambil tempat di ruang terbuka, beralaskan tikar dan dengan penerangan lilin, remaja diajak untuk menuliskan persoalan-persoalan hidup yang dialami sebagai remaja. Pada kesempatan itu diberikan kepada remaja untuk men-sharing-kan persoalannya di hadapan teman-temannya. Tetapi jika ada remaja yang memutuskan untuk tidak mengungkapkannya pada teman-temannya, maka tidak ada keharusan untuk mengungkapkannaya. Hari kedua diakhiri dengan penjelasan tentang aktivitas Outbond yang akan diadakan pada hari terakhir.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More