Minggu, 29 Juni 2008

Langit Salatiga

Langit Salatiga di sore hari. Dilihat dari Salib Putih
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Retret Remaja






Tepat pukul 13.00, bus Harapan Jaya yang membawa rombongan Komisi Remaja GKI Klaten meluncur menuju Salatiga. Sebanyak 57 remaja dan 7 kakak pembimbing akan mengadakan retret di Wisma Remaja Salib Putih Salatiga. Bus merangkan pelan melewati jalur Jatinom-Boyolali yang tidak seberapa lebar.

Melewati Boyolali, mesin bis menunjukkan gejala-gejala tidak sehat. Setiap kali melewati tanjakan, asap putih keluar dari kabin mesin disertai bau yang menyengat. Sesampai di daerah Ampel, tepatnya depan gereja Katolik, asap putih semakin tebal keluar dari mesin. Sopir terpaksa meminggirkan bis untuk mengecek mesin. Ternyata radiator kepanasan. Setelah diutak-utik seadanya, akhirnya kru bis menyerah.





Mereka tidak sanggup mengantarkan rombongan sampai di Salatiga, Setelah melalui perundingan dengan kru bis, maka akhirnya diputuskan untuk menyewa bis di sekitar Sruen, Boyolali untuk mengantarkan rombongan sampai Salib Putih. Sedangkan biaya sewa dua minibis ini akan diperhitungkan kemudian dengan pemilik bis Harapan Jaya.

Dengan dua bis kecil ditambah dengan dua mobil gereja (Mitsubishi L300 dan Ford Everest), maka rombongan dihantar sampai di penginapan.
Setelah beristirahat, makan snack dan mandi, remaja-remaja siap mengikuti acara pembukaan yang dipimpin oleh Kak Agus Mulia. Dengan mengutip surat Paulus kepada Timotius, kak Agus Mulia menekankan perlunya remaja menjadi teladan bagi oranglain, tekun belajar dan mampu mengendalikan diri.

Setelah makan malam, acara dilanjutkan dengan api unggun. Mereka telah membuat 10 kelompok yang masing-masing menunjukkan bakatnya dalam api unggun ini. Ada yang mempertunjukkan parodi iklan, medley lagu rohani, plesetan lagu, sosiodrama kisah Alkitab, menyanyi acapela dll.


Pukul sebelas malam, acara keakraban ini ditutup dengan makan sosis dan singkong.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Sabtu, 28 Juni 2008

LOMBA MENULIS DI SABDA SPACE

Bencana alam dan bencana akibat ulah manusia bertubi-tubi menghantam bangsa Indonesia. Situasi perekonomian pun juga belum kunjung membaik, bahkan justru semakin sulit dengan adanya kenaikan BBM. Masyarakat semakin garang terhadap sesamanya.

Tapi di balik itu, tentu masih ada butir-butir air bening di balik kegersangan ini. Masih ada orang yang tegar dan tak mengeluh di dalam deraan kehidupan. Masih ada orang yang mau peduli dan mengulurkan tangan pada sesamanya. Masih ada orang yang kreatif dalam menyiasati keterbatasan.

Jika Anda menemukan kisah-kisah kehidupan yang inspiratif, ikutkanlah dalam lomba penulisan di SABDA Space. Lomba ini digagas dan diselenggarakan oleh salah satu user SABDA Space, Purnawan Kristanto.

1. TEMA

Pengalaman pribadi atau orang lain yang dapat memberikan inspirasi, menumbuhkan motivasi, dan menguatkan iman (kristen).

2. SYARAT TULISAN
1. Naskah harus asli buatan pengarang. Bukan saduran, terjemahan atau jiplakan.
2. Isinya mengandung opini / kesan pribadi penulis terhadap peristiwa yang diceritakan.
3. Belum pernah menjadi pemenang lomba penulisan.
4. Belum pernah dipublikasikan baik dalam bentuk buku maupun "online".
5. Ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik, kreatif, dan komunikatif.
6. Panjang tulisan 500 s/d 2000 kata
7. Tambahan foto atau gambar diperkenankan, tapi tidak memengaruhi penilaian. Foto atau gambar dilarang melanggar hak cipta orang lain.
8. Isi tulisan tidak bertentangan dengan SARA, tidak mengandung unsur pornografi, tidak bermuatan politik, dan tidak menghasut pihak lain.
9. Hak cipta dan tanggung jawab isi ada pada penulis.
10. Nama tokoh, kota dan identitas pribadi lain dalam kisah tersebut dapat disamarkan.
11. Boleh mengutip ayat Alkitab.

3. PROSEDUR LOMBA
1. Peserta lomba adalah user SABDA Space, kecuali para juri.
2. Tulisan harus diposting di SABDA Space dari tanggal 1 Juli s/d 31 Juli 2008, pukul 23.59 WIB.
3. Peserta boleh mengirimkan lebih dari satu tulisan.
4. Setiap tulisan yang dilombakan harus dimasukkan ke kategori "Lomba Menulis SABDA Space"
5. Peserta boleh memberi komentar atas tulisan peserta lain. Komentar peserta tidak memengaruhi penilaian dewan juri terhadap blog yang bersangkutan.
4. PENILAIAN
1. Ada dua kategori pemenang:
1. Tulisan Paling Inspiratif (3 pemenang).
2. Komentator Terbaik (2 pemenang).
2. Penentuan pemenang berdasarkan penilaian 3 Yuri, yaitu:
1. Purnawan Kristanto
Penulis buku (21 judul), renungan, penerjemah, mantan redaktur majalah Bahana dan moderator milis komunitas "Penjunan" (Penulis dan Jurnalis Nasrani).
2. Arie Saptaji
Penulis buku (25 judul) dan penerjemah freelance.
3. Bayu Probo
Editor, copywriter, staf penelitian dan pengembangan Penerbit Buku Rohani ANDI, penulis buku.
3. Keputusan juri bersifat mutlak.
5. HADIAH
1. Ada lima judul buku yang disediakan untuk lima pemenang. Semua buku ditandatangani langsung oleh pengarangnya.

















a. "Tuhan Yesus Tidak Tidur", oleh Purnawan Kristanto















b. "77 Permainan Asyik", oleh Purnawan Kristanto















c. "Menghilangkan Salah Ejaan dalam Bahasa Indonesia Menggunakan Fitur Spelling Checker di Ms Word" oleh Bayu Probo














d. "Lintasan Cinta" kumpulan cerpen, oleh Arie Saptaji.















e. "Sibuk bagi Tuhan", kumpulan renungan, oleh Arie Saptaji.
2. Nama-nama pemenang akan diumumkan pada tanggal 20 Agustus 2008.
3. Hadiah akan dikirimkan langsung kepada pemenang oleh penyelenggara lomba.
4. Penentuan judul buku yang dikirimkan kepada pemenang adalah wewenang penyelenggara lomba.

Demikian kabar gembira mengenai Lomba Menulis di SABDA Space. Gunakan kesempatan ini untuk mempertajam kemampuan menulis Anda, sekaligus untuk berbagi berkat melalui tulisan kepada orang lain.

Ayo, menulis!
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Minggu, 15 Juni 2008

Hare Gene, [ternyata] Masih Ada yang Jujur

'Apakah benar ini pak Purnawan Kristanto?' tanya seseorang di seberang handpohone.
'Ya, benar,' jawab saya penasaran. Dari layar HP, nomor ini dari Jogja, tapi saya tidak kenal.
'Ketika menonton pembukaan Festival Kesenian Yogyakarta, saya menemukan flashdisk,' jawab orang di seberang,'setelah saya

buka isinya, saya menemukan nomor HP ini. Apakah Bapak kehilangan flashdisk?'
Saya mengiyakan. Kami kemudian membuat janjian bertemu untuk penyerahan flashdisk ini. Namanya pak Tomo, bekerja di sebuah instansi pemerintah di bawah Departemen Pekerjaan Umum. Kantornya ada di jalan Munggur Demangan.
Saya kehilangan flashdisk itu ketika mengambil gambar video pada pembukaan FKY, 7 Juni 2008 di depan gedung Agung. Saya masukkan flashdisk itu di saku celana. Karena keasyikan mengambil gambar, maka saya tidak menyadari kalau menjatuhkan flashdisk itu.
Saya sebenarnya tidak terlalu berharap mendapatkan kembali flashdisk itu. Kapasitasnya hanya 128 MB. Harga di pasar pun tidak terlalu mahal. Namun yang tak ternilai adalah data dan nilai historinsya. Di dalam flash itu terdapat data-data tulisan saya. Selain itu, flash itu yang menemani saya melewati masa-masa sulit ketika menjadi relawan di posko kemanusiaan. Lewat flash itu, saya menyebarkan informasi-informasi terkini seputar bencana gempa, baik lewat situs maupun lewat email.
Seandainya penemu flash itu memformatnya kemudian memakainya untuk kepentingannya, saya bisa memakluminya. Tapi pak Tomo ternyata berpikiran lain. Dia mau meluangkan waktu untuk menelepon saya, bahkan mau berkorban pulsa untuk itu. Ketika saya menemui beliau di kantor, dia segera mambuka laci meja kerjanya dan memberikan flash dengan ramah. Selain mengucapkan terimakasih, saya lalu menyerahkan dua bungkus oleh-oleh khas Klaten kepadanya. Mula-mula dia menolak. Menurutnya, dia mengembalikan barang yang hilang itu tanpa menginginkan imbalan.
Saya berkata,'Ini bukan imbalan, pak. Ini tanda persahabatan dari saya.'
Akhirnya pak Tomo bersedia menerima bingkisan saya.
Dari peristiwa ini, saya mendapat dua pelajaran:
1. Jangan nggebyah uyah atau meng-generalisasi
Saya punya anggapan orang yang menemukan flashdisk pasti akan memakainya untuk kepentingan diri sendiri. Atau setidak-tidaknya, hanya menyimpannya saja. Namun ternyata, masih ada orang yang tulus dan berbaik hati. Saya yakin tidak hanya pak Tomo saja punya hati seperti itu. Masih ada banyak orang yang punya keluhuran yang sama.
2. Jangan ceroboh
Ini penyakit lama saya. Saya ini kurang cermat dalam menyimpan benda. Kalau menerima uang kembalian, saya langsung memasukkannya di kantong celana, bukan di dompet. Kalau mau pergi, biasanya didahului dengan acara mengobok-obok meja kerja saya untuk menemukan kunci sepeda motor. Biasanya saya lupa dimana menaruh kunci itu.
Kamera digital saya juga pernah ketinggalan di tempat pemancingan. Untungnya pengelola pemancingan itu bersedia menyimpan kamera digital. Yang lebih parah lagi, saya dua kali meninggalkan PDA saya. Pertama, ketika jadi fasilitator pelatihan di Telkom, Jogja, saya pulang tanpa membawa PDA. Untunglah, bang Yudiman segera berlari menyusulkannya. Kedua, sebenarnya yang ini tidak sepenuhnya kesalahan saya. Saya dan isteri saya makan siang di luar. Saya pikir, PDA itu sudah dimasukkan tas oleh isteri saya. Ternyata ketinggalan. Ketika nomor PDA ditelepon, ternyata sudah 'diamankan' oleh pemilik rumah makan.
Saya masih mencari cara untuk menghilangkan 'penyakit' saya ini. Sungguh susah mengubah kebiasaan puluhan tahun ini. Mungkin karena jengkel, ibu saya pernah berkata, 'Hidung Wawan itu kalau tidak tertempel di situ, pasti juga lupa dimana menaruhnya.'
Saya pernah membaca artikel di internet tentang cara mengorganisasi barang-barang sehingga rapi dan mudah ditemukan kembali. 'Wah artikel ini sangat bermanfaat,' kata saya dalam hati. Saya lalu menge-print-nya dan menyimpannya. Tapi sampai sekarang saya belum menemukan dimana saya simpan artikel itu!

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Minggu, 08 Juni 2008

Apakah ini Sebuah Mukjizat?

Hari Minggu (9/6), pendeta kami menceritakan pengalamannya ketika dia masih mahasiswa teologi dan stase (praktik kuliah lapangan) di Madiun. Suatu hari Sabtu, salah satu anak remaja, yang merupakan anggota gereja, mandi di sungai Bengawan Solo dan tenggelam. Setelah diubek-ubek dan dicari di tempat biasa ditemukan mayat orang yang tenggelam, hasilnya tetap nihil.

Minggu malamnya, usai melayani di gereja mahasiswa teologi ini mengunjungi orangtua korban untuk memberi penguatan dan ikut berdoa. Saat masih dia di sana, ada seorang warga desa yang datang ke rumah itu.

"Saya membawa jimat dari mbah Kalap," kata warga desa itu sambil menunjukkan benda sesuatu,"letakkanlah jimat ini di bawah bantal. Jenazah anakmu pasti bisa ditemukan, soalnya jimat ini sudah berkali-kali menemukan jenazah orang yang tenggelam di sungai."

Dia menyerahkan jimat itu lalu pamitan pulang. Kedua orangtua yang menerima jimat ini menjadi bingung.

"Kami sebaiknya bagaimana?" tanya mereka pada mahasiswa teologi.

"Sebaiknya pasrah dan percaya pada Tuhan Yesus saja," saran mahasiswa itu. Mereka mengangguk setuju dan menaruh jimat itu begitu saja di meja.

Beberapa lama kemudian, warga desa yang memberi jimat itu datang kembali. Mungkin untuk memeriksa apakah sarannya sudah dilaksanakan atau belum. Begitu melihat bahwa jimat itu hanya digeletakkan di meja, maka terbitlah amarahnya.

"Kalian ini tidak tahu berterimakasih," katanya dengan nada tinggi, "sudah ditolong, tapi disuruh meletakkan jimat ini dibawah bantal saja tidak mau" Dia masih lagi mengucapkan kata-kata yang tidak menyenangkan, kemudian mengambil jimat dan membawanya pergi.

Bapak dan Ibu anggota gereja ini hanya mengelus dada. "Siapa yang minta tolong dia," kata sang ibu,"lha wong dia datang sendiri. Eh, kok malah marah-marah."

"Kalau dengan jimat itu dia berhasil menemukan jenazah anak kami, tentu orang-orang akan semakin percaya pada kesaktian dukun itu," kata suaminya.

Maka mereka bertiga bertelut untuk berseru kepada Tuhan dalam doa, "Tuhan jangan sampai orang itu menemukan jenazah anak kami dengan menggunakan jimatnya," pinta mereka dengan sungguh-sungguh, "jangan biarkan nama-Mu dipermalukan."

Saat itu kira-kira pukul sepuluh malam. Usai berdoa, kedua orangtua itu berpamitan untuk tidur karena sudah sangat kecapekan. Akan tetapi mahasiswa teologi ini tetap melanjutkan doanya. Kira-kira pukul tiga pagi, dia mendengar suara yang jernih. "Sekarang beristirahatlah. Jenazah anak itu sudah ditemukan." Maka mahasiswa teologi itu segera berangkat tidur.

***

Pada malam itu juga, di sebuah tempat di bagian hilir sungai Bengawan Solo, seorang pendeta yang berangkat tidur karena kelelahan setelah melayani ibadah pada hari Minggu. Sekitar pukul malam, dia merasa seperti ada yang membangunkannya. "Bangunlah, pergilah ke sungai." Begitulah terdengar sebuah suara di telinganya.

Akan tetapi karena sudah terlalu letih, pendeta ini melanjutkan tidurnya. Namun menjelang pukul tiga pagi, tiba-tiba dia merasa seperti digulingkan dari tempat tidurnya. Dia merasa kaget dan seketika itu juga kantuknya hilang. Dia merasa ada sebuah dorongan yang kuat untuk pergi ke pinggir sungai. Dia menuruti dorongan itu, dan ketika sampai di tepi sungai, dia mencium bau sesuatu yang menyengat. Setelah dicari-cari dan diamati dengan teliti, ternyata bau yang tidak sedap itu adalah bau mayat. Dia lalu teringat, di gereja induknya ada anak remaja yang tenggelam di sungai. Sudah dua hari dicari, mayatnya belum ditemukan. Ketika dia mengamati wajah mayat itu, dia langsung mengenali dia ada;ah remaja yang tenggelam itu.

Pagi itu juga, dia memanggil tukang becak untuk mengantarkan jenazah remaja itu ke rumah orangtuanya.

***

Penemuan jenasah anak remaja itu kemudian ramai menjadi bahan perbincangan banyak orang. Di desa itu, alur sungai Bengawan Solo berbentuk kelokan. Orang yang tenggelam di sungai itu selalu ditemukan di sisi luar kelokan. Itu sebabnya, orang-orang mencari jenazah di sisi luar kelokan itu karena jenazah orang yang tenggelam di sungai, selalu ditemukan terdampar di sana. Akan tetapi, baru kali itu ada jenazah orang tenggelam yang terdampar di kelokan sebelah dalam. Ini hampir mustahil terjadi. Apakah ini sebuah mukjizat?

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More