Selasa, 13 Mei 2008

Gethuk Kethek

Oleh-oleh khas Salatiga yang satu ini bikin penasaran. Bagaimana tidak, kita harus memesan lebih dulu. Kalau nekad datang tanpa pemesanan, siap-siap saja gigit jari karena tidak ada oleh-oleh tersisa yang dapat dibeli.

Namanya pun unik, “Gethuk Kethek”. Dalam bahasa Jawa “kethek” berarti monyet. Apakah gethuk itu berbahan baku daging monyet? Tentu saja tidak. Nama “kethek” sengaja dipakai sebagai penanda yang menbedakan dengan pengrajin gethuk lainnya. Kebetulan di depan rumah pengrajin ini ada monyet jawa yang dipelihara oleh pemiliknya. Ada rumor yang mengatakan bahwa monyet ini merupakan penglaris pengrajin gethuk ini. Kalau dipikir dengan akal sehat, mungkin ada benarnya juga karena dengan menggunakan monyet sebagai merek, ternyata gethuk ini punya brandname yang kuat.

Sekitar pukul setengah sembilan, kami mampir ke sini untuk memesan gethuk. Kami perkirakan urusan kami baru selesai setelah pukul 15.00. Maka kami memesan gethuk pada jam 15.30. Jangan heran, kalau Anda ditanya akan mengambil pesanan pada pukul berapa karena memasak gethuk dalam beberapa gelombang. Sebagai misal, mereka memasak pada pukul 13.00 dan 15.00. Setiap kali mereka memasak, hampir dapat dipastikan semuanya sudah dipesan. Kalau Anda nekad datang tanpa pesan dulu, atau mengambil gethuk di luar jadwal, maka siap-siap saja gigit jari. Ini yang kami alami. Urusan kami ternyata selesai lebih awal. Dengan berharap kepada peruntungan, kami mencoba mengambil pesanan ke sana. Ternyata memang sia-sia karena kami tetap harus menunggu sesuai jadwal.

Untuk membunuh waktu, kami pun mencari makan siang Nasi Goreng Pete di bilangan Ahmad Yani (Kisah ini ada tulisan sendiri). Pukul tiga sore, kami kembali ke “Gethuk Kethek”. Sampai di sana, kami dapat menyaksikan cara membuat gethuk.

Keunikan “Gethuk Kethek” adalah pada cara melembutkan singkong. Biasanya, cara membuat gethuk adalah mengukus singkong utuh, kemudian ditambahi gula jawa dan ditumbuk hingga lembut dan padat. Namun di sini, singkong ditumbuk secara terpisah hingga sangat halus. Tidak ada “sontrot” (kayu keras di tengah singking) yang tertinggal. Tumbukan singkong rebus ini kemudian ditambahi parutan kelapa muda, penambah aroma dan gula pasir. Semua bahan dicampur jadi satu kemudian diuleni di dalam ember plastik, hingga bercampur. Kemudian dibentuk menjadi bola besar.

Selanjutnya, bola gethuk ini dicomot sedikit demi sedikit, diisikan pada cetakan seperti cetakan tahu dan dipadatkan. Setelah terisi semua, gethuk dikeluarkan dari cetakan. Dengan demikian, ukuran gethuk menjadi seragam. Inilah bedanya lagi dengan gethuk tradisional. Dalam gethuk tradisional, setelah ditumbuk, gethuk dibentuk menjadi balok besar, baru kemudian diiris menjadi potongan kecil-kecil.

Untuk bungkus gethuk dijual seharga Rp. 7.000,- dengan isi sebanyak 20 potong. Atau Rp.350,-/potong. Tersedia juga pilihan gethuk goreng, seharga Rp. 500,-/potong. Kelebihan gethuk ini adalah teksturnya yang lembut, sehingga tidak membuat seret tenggorokan. Rasanya manis dan gurih. Rasa gurih didapatkan dari parutan kelapa, yang sekaligus memberi tekstur renyah ketika dikunyah.

Nah, jika Anda penasaran ingin membeli gethuk kethek omo, jangan lupa telepon dulu. Kalau tidak, bisa jadi Anda akan seperti “kethek ditulup” sesampainya di sana.

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It