Kamis, 29 Mei 2008

Meraup Buku Sebanyak-banyaknya

Hari ini saya mendapat kesempatan meraup buku sebanyak-banyaknya. Dengan hanya menggunakan satu tangan, saya dibebaskan memilih buku yang disukai dalam dua kotak besar, kemudian membopongnya ke tempat semula. Seberapa banyak buku yang diraup,boleh dibawa pulang semuanya. Itulah bonus yang saya terima ketika mengunjungi Gramedia Fair, di Jogja Exhibition Centre (29/5).
Sebelum berangkat, saya mengambil royalti di sebuah penerbitan di kota saya. Jumlah buku yang terjual kurang menggembirakan, tapi jumlah uang yang diterimakan lumayan besar juga. Jumlah yang diterimakan sudah dipotong dengan utang saya pada penerbit. Dulu ketika buku akan diterbitkan, saya memang mengutang pembayaran uang muka karena butuh biaya untuk pernikahan. Setiap kali menerima royalti, maka jumlah uang yang saya diterima terlenih dahulu dipotong untuk membayar cicilan "utang" saya. Syukurlah, utang saya tahun ini sudah lunas.
Setelah menyelesaikan beberapa urusan, bersama isteri, saya segera meluncur ke Jogja. Begitu masuk pameran, seorang penjaga stan yang sudah sepuh segera menyapa kami dengan ramah,'Apakah mau hadiah sedan Picanto?' Ah, siapa sih yang tidak mau, batin saya. Tapi saya sadar bahwa ini adalah terik pemasaran.
Bapak itu kemudian menanyakan profesi saya. Saya menjawab, 'Pekerjaan saya mendampingi isteri.' Bapak itu kemudian berpaling pada isteri saya. 'Kalau ibu profesinya apa?'
'Saya rohaniwan,' jawab isteri saya.
Dengan sigap, bapak yang rambutnya sudah putih itu segera mengambil sebuah buku ekslusif tentang Yesus. Bukunya dicetak fullcolor di atas kertas art paper dan cukup tebal. Di dalamnya, terdapat banyak lukisan-lukisan klasik tentang Yesus. Harganya juga sangat ekslusif: Rp. 450.000,-
'Kalau ibu membeli ini, akan mendapat empat kupon undian berhadiah Picanto,'bujuk bapak penjual itu ramah.
Isteri saya tidak berminat.
'Kalau ibu tidak cukup membawa uang cash, bisa dicicil empat kali, kok,' desak bapak itu.
Isteri saya menggeleng sambil menggamit tangan saya untuk berlalu.
'Kalau begitu, sudilah memberi kehormatan mengisi buku tamu kami?' pinta bapak itu.
Isteri saya menurut.
--***---
Perjalanan menyusuri stan dapat diibaratkan seperti anak ayam yang masuk ke dalam lumbung padi. Sungguh sebuah kegiarangan. Semua buku mendapat potongan harga. Kami pun segera berbelanja buku untuk melengkapi koleksi perpustakaan pribadi kami.
Saat masuk ke stan penerbitan rohani, saya melihat buku karangan teman saya, yang diobral sampai 70 persen. Saya kemudian merenung, dengan diskon sebesar itu, apa yang didapatkan penerbit? Setelah dipotong royalti 10 persen untuk pengarang, maka penerbit hanya mendapat 20 persennya. Dalam rumus umum penerbitan, jumlah sebesar itu hanya mencakup ongkos cetak saja.
Setelah menjelajahi separuh stan, ternyata perut sudah keroncongan. Maka kami putuskan untuk mengisinya lebih dulu di kantin yang ada di arena pameran itu. Setelah itu, kami meneruskan perburuan kami. Mendekati stan penerbit Andi, pundak saya dicablek dari belakang. Ternyata Alip, mantan rekan kerja satu perusahaan dulu. Rupanya dia sedang bertugas jaga stan.
Usai berbasa-basi sejenak, kami berlalu dan sampai di stan buku-buku bekas yang diimpor dari luar negeri. Koleksi yang ditawarkan sangat banyak dan sangat terjangkau. Cara memberi harganya pun cukup unik. Setiap buku diberi label stiker dengan warna tertentu. Setiap warna menandakan harga buku tersebut. Misalnya, warna hijau, berarti harganya Rp. 16.000,- Harga paling mahal mencapai Rp. 76.000,-
Wah, ini kesempatan yang langka. Dengan sangat bernafsu, kami menyisir buku-buku yang dipajang. Saya mendapatkan buku 'Hudson Taylor Spiritual Secret'. Buku tentang misionaris ke daratan Cina yang legendaris itu hanya dibandrol Rp.16.000,- Isteri saya menemukan buku 'Joy and Strength' yang diberi kata pengantar Ruth Bell Graham, istei penghkhotbah terkenal. Kami juga menemukan Daily GuidePost, On the Wings of Angels, dan Dumbo:Flying Elephants untuk anak kami.
Dengan menenteng tiga tas plastik berisi buku, kami pun memutuskan untuk pulang. Tapi ketika melintas panggung pameran, ternyata sedang digelar acara meraup buku sebanyak-banyaknya. Setiap pengunjung yang berbelanja senilai tertentu, berhak meraup buku sebanyak-banyaknya.
Saya bertanya, apakah nota-nota boleh digabung sehingga mencapai nilai belanja yang dipersyaratkan? Panitia menjawab boleh. Maka saya tunjukkan seluruh nota kami, yang jika digabung bisa untuk tiga kali meraup buku. Melihat itu, rupanya panitia kemudian berubah pikiran. Mereka berkilah, satu orang hanya boleh tampil sekali.
'Kalau begitu, bagaimana kalau saya dan isteri yang tampil? Ini 'kan dua orang yang berbeda?' tanya saya. Semula panitia mengizinkan, tapi mereka berubah pikiran lagi. Katanya, nota-nota pembelian tidak boleh digabungkan. Lho bagaimana sih? Tadi mereka bilang boleh, tapi sekarang tidak boleh. Tapi karena tidak mau kemaruk, maka kamu pun mengalah. Jadi hanya saya yang boleh mewakili karena kebetulan kami punya satu nota yang jumlah pembeliannya sesuai dengan ketentuan.
Seperti yang diceritakan di awal tulisan, saya meraup buku. Saya berhasil membopong 23 buku, yang semuanya boleh dibawa pulang dengan gratis.
Sebelum pulang, kami menunjukkan nota pembelian untuk meminta kupon undian. Kami berhak mendapat tiga kupon undian. Setelah diisi, kami pun pulang disertai doa semoga mendapatkan keberuntungan. Harapan kami tidak muluk-muluk:'pikantuk Picanto mawon sampun cekap' (mendapat Picanto saja sudah cukup).
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Sabtu, 24 Mei 2008

Lagu: "Cublak-cublak Suweng"

Kirana menyanyikan tembang dolanan anak-anak jawa, "Cublak-cublak Suweng". Mestinya dinyanyikan dengan teman-teman-temannya. Satu anak tengkurap, sedangkan anak-anak lainnya meletakkan tangan di punggung anak ini. Kemudian ada biji kacang diedarkan sambil menyanyikan lagu ini.
Begitu lagu selesai, anak yang tengkurap ini menebak siapa yang memegang biji kacang.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Minggu, 18 Mei 2008

Sekolah Kepenulisan "Gloria"

Sekolah Kepenulisan "Gloria" Diselenggarakan oleh penerbit Gloria dan Komunitas "Penjunan"

A. Latar Belakang:
Selama dekade terakhir, ada kegairahan baru di bidang penulisan, dan masih kita rasakan hingga saat ini. Iklim kebebasan pada masa reformasi, tumbuhnya penerbitan baru dan perkembangan internet merupakan faktor pendukung timbulnya fenomena ini.
Jumlah penerbit yang bertambah, memunculkan kebutuhan ketersediaan naskah-naskah buku yang baik. Gayung pun bersambut. Banyak naskah buku yang ditawarkan kepada penerbit. Sayangnya, dari sekian banyak naskah yang tersedia, hanya sedikit yang memenuhi syarat. Kelemahan utama naskah-naskah tersebut adalah cara penulisan yang tidak memenuhi standar dan tema yang dibahas tidak sesuai dengan kebutuhan pasar.
Karena prihatin dengan hal tersebut maka penerbit Gloria bekerja sama dengan Komunitas Penjunan (Penulis dan Jurnalis Nasrani) rindu untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan bagi jemaat Tuhan agar mampu menjadi penulis yang andal. Diharapkan, setelah mengikuti sekolah penulisan ini, peserta mampu menemukan tema yang menarik, kemudian mengemasnya menjadi sebuah tulisan yang layak untuk diterbitkan.

B. Tujuan:
Memotivasi peserta sekolah untuk menuangkan pemikiran, pengalaman, isi hati mereka dalam bentuk tulisan. Tulisan yang mereka hasilkan adalah tulisan yang memenuhi syarat secara komersial dan layak diterbitkan: dalam bentuk artikel lepas atau buku.

C. Sasaran Peserta:
Kegiatan ini akan diikuti oleh sekitar 60 peserta yang berasal dari berbagai latar belakang kelompok sosial, meliputi:
1. Mahasiswa/pelajar.
2. Aktivis, staf atau pengerja gereja.
3. Kaum profesional.
4. Ibu rumah tangga.
5. Pendeta/Gembala.
6. Guru
D. Materi Pelajaran:
1) Motivasi pelayanan literatur
2) Menemukan ide penulisan
3) Menyusun kerangka tulisan
4) Teknik penulisan (kosa kata sampai tatabahasa)
5) Penulisan Ulang - Penyuntingan
6) Kode etik, tata cara pengiriman naskah, hak dan kewajiban penulis
7) Mengenal dunia penerbitan/trend perbukuan
E. Metode:
1) Ceramah
2) Diskusi/Sharing
3) Penugasan
4) Kunjungan ke penerbit
5) Seminar Penulisan

F. Proses Belajar:
Peserta mula-mula disentuh kesadarannya tentang arti penting pelayanan literatur. Setelah itu, peserta akan dipandu untuk menemukan ide penulisan yang akan dikembangkan selama program ini berlangsung. Selama delapan kali pertemuan, peserta akan mendapatkan pelajaran teknik kepenulisan dari penulis yang sudah berpengalaman. Sementara itu, di luar kelas, peserta diharapkan melanjutkan ide penulisan yang sudah mereka pilih. Peserta juga diberi kesempatan untuk mendapatkan mentoring/bimbingan dari fasilitator sebelum atau sesudah pengajaran di kelas. Dimungkinkan juga mentoring/bimbingan melalui email.

Di akhir program, akan digelar acara Seminar Kepenulisan. Dalam seminar ini, Andrias Harefa akan membagikan pengalaman dan pengetahuan di bidang kepenulisan. Acara ini juga sekaligus untuk menutup program Sekolah Kepenulisan.

G. Pelaksanaan:
Setiap hari Rabu, Juli-Agustus 2008
Pukul 16.00-18.00
Tempat Gloria Graha, Jl. F. M. Noto no. 19 Kotabaru, Yogyakarta

H. Fasilitator dan Pemberi Materi:
1. Ev. Xavier Quentin Pranata
Mantan Pemimpin Redaksi Bahana, pengkhotbah, dan penulis buku. Perintis komunitas "Penjunan" (Penulis dan Jurnalis Nasrani).

2. Purnawan Kristanto
Penulis buku (21 judul), renungan, penerjemah, mantan redaktur majalah Bahana. Moderator milis komunitas "Penjunan" komunitas-penjunan@yahoogroups.com dan kontributor beoscope.com

3. Arie Saptaji
Penulis (buku, artikel dan rennugan), penyunting lepas dan penerjemah.

4. Agustina Wijayani
Penulis dan editor pada penerbit "Gloria" Yogyakarta.

5. Bayu Probo
Editor, copywriter, staf penelitian dan pengembangan Penerbit Buku Rohani ANDI, penulis buku

6. Lusiana Hutabarat
Pernah menjadi editor Penerbit Buku Rohani "Andi" dan wartawan TransTV.

7. Bpk. Istoto dari penerbit Kanisius.

I. Indikator Keberhasilan:
Program ini dianggap berhasil apabila terdapat hal-hal berikut ini:
·Antusiasme partisipan mengikuti program ini (diketahui dari penugasan dan presensi partisipan)
·Partisipan mendapatkan dasar-dasar penulisan yang baik dan mendapatkan manfaat dari program ini (diketahui melalui angket).
·Peserta mampu termotivasi menulis, yang ditunjukkan dengan menulis naskah buku (sangat berhasil), kerangka penulisan buku (berhasil) atau menentukan tema tulisan (kurang berhasil).
·Terbentuknya jejaring penulis-penulis potensial di DIY dan sekitarnya.

J. Syarat untuk Peserta
1. Mengisi Formulir Pendaftaran yang tersedia.
2. Membayar biaya pelatihan sebesar Rp180.000,-
3. Menyerahkan pas foto 3X4 sebanyak 3 lembar.
4. Menyerahkan tulisan dengan tema: "Tentang aku, talentaku dan pengalaman pekerjaan/pelayananku" Panjang tulisan sekitar 1.000 s/d 3.000 kata.
5. Pendaftaran ditutup paling lambat 26 Juni 2008. atau jika jumlah pendaftar sudah memenuhi target.

K. Fasilitas
1. Pembicara yang merupakan praktisi yang sudah berpengalaman di bidang kepenulisan.
2. Bimbingan menulis dari fasilitator
3. Makalah untuk setiap materi
4. Map/Tas eksklusif untuk menyimpan materi pelatihan
5. Sertifikat
6. Praktik dan kunjungan ke penerbitan
7. Ruang kuliah ber-AC.

L. Informasi dan Pendaftaran:
Santi
Penerbit Gloria
Jl. Faridan M. Noto 19
Yogyakarta 55224
Email: penerbitan@glorianet.org
Telp. 0274 56362, 565905
Atau:
Purnawan Kristanto
Email: Purnawank@gmail.com
Tlp. (0272) 327776
Hp. 0812-231237
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Selasa, 13 Mei 2008

Gethuk Kethek

Oleh-oleh khas Salatiga yang satu ini bikin penasaran. Bagaimana tidak, kita harus memesan lebih dulu. Kalau nekad datang tanpa pemesanan, siap-siap saja gigit jari karena tidak ada oleh-oleh tersisa yang dapat dibeli.

Namanya pun unik, “Gethuk Kethek”. Dalam bahasa Jawa “kethek” berarti monyet. Apakah gethuk itu berbahan baku daging monyet? Tentu saja tidak. Nama “kethek” sengaja dipakai sebagai penanda yang menbedakan dengan pengrajin gethuk lainnya. Kebetulan di depan rumah pengrajin ini ada monyet jawa yang dipelihara oleh pemiliknya. Ada rumor yang mengatakan bahwa monyet ini merupakan penglaris pengrajin gethuk ini. Kalau dipikir dengan akal sehat, mungkin ada benarnya juga karena dengan menggunakan monyet sebagai merek, ternyata gethuk ini punya brandname yang kuat.

Sekitar pukul setengah sembilan, kami mampir ke sini untuk memesan gethuk. Kami perkirakan urusan kami baru selesai setelah pukul 15.00. Maka kami memesan gethuk pada jam 15.30. Jangan heran, kalau Anda ditanya akan mengambil pesanan pada pukul berapa karena memasak gethuk dalam beberapa gelombang. Sebagai misal, mereka memasak pada pukul 13.00 dan 15.00. Setiap kali mereka memasak, hampir dapat dipastikan semuanya sudah dipesan. Kalau Anda nekad datang tanpa pesan dulu, atau mengambil gethuk di luar jadwal, maka siap-siap saja gigit jari. Ini yang kami alami. Urusan kami ternyata selesai lebih awal. Dengan berharap kepada peruntungan, kami mencoba mengambil pesanan ke sana. Ternyata memang sia-sia karena kami tetap harus menunggu sesuai jadwal.

Untuk membunuh waktu, kami pun mencari makan siang Nasi Goreng Pete di bilangan Ahmad Yani (Kisah ini ada tulisan sendiri). Pukul tiga sore, kami kembali ke “Gethuk Kethek”. Sampai di sana, kami dapat menyaksikan cara membuat gethuk.

Keunikan “Gethuk Kethek” adalah pada cara melembutkan singkong. Biasanya, cara membuat gethuk adalah mengukus singkong utuh, kemudian ditambahi gula jawa dan ditumbuk hingga lembut dan padat. Namun di sini, singkong ditumbuk secara terpisah hingga sangat halus. Tidak ada “sontrot” (kayu keras di tengah singking) yang tertinggal. Tumbukan singkong rebus ini kemudian ditambahi parutan kelapa muda, penambah aroma dan gula pasir. Semua bahan dicampur jadi satu kemudian diuleni di dalam ember plastik, hingga bercampur. Kemudian dibentuk menjadi bola besar.

Selanjutnya, bola gethuk ini dicomot sedikit demi sedikit, diisikan pada cetakan seperti cetakan tahu dan dipadatkan. Setelah terisi semua, gethuk dikeluarkan dari cetakan. Dengan demikian, ukuran gethuk menjadi seragam. Inilah bedanya lagi dengan gethuk tradisional. Dalam gethuk tradisional, setelah ditumbuk, gethuk dibentuk menjadi balok besar, baru kemudian diiris menjadi potongan kecil-kecil.

Untuk bungkus gethuk dijual seharga Rp. 7.000,- dengan isi sebanyak 20 potong. Atau Rp.350,-/potong. Tersedia juga pilihan gethuk goreng, seharga Rp. 500,-/potong. Kelebihan gethuk ini adalah teksturnya yang lembut, sehingga tidak membuat seret tenggorokan. Rasanya manis dan gurih. Rasa gurih didapatkan dari parutan kelapa, yang sekaligus memberi tekstur renyah ketika dikunyah.

Nah, jika Anda penasaran ingin membeli gethuk kethek omo, jangan lupa telepon dulu. Kalau tidak, bisa jadi Anda akan seperti “kethek ditulup” sesampainya di sana.

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Gudeg Koyor

Hari Selasa, 13 Mei, bersama dengan bu Tanti, Dina dan Bopa, kami pergi ke Salib Putih, Salatiga untuk survei tempat outbond. “Kita berangkat pagi-pagi saja,” ajak bu Tanti. “Kalau kepagian, saya belum bangun, bu,” jawab saya yang memang suka begadang. “Kalau bisa berangkat pagi, kita bisa sarapan gudeg koyor di Pasar Sapi,” kata bu Tanti berusaha meyakinkan,”Soalnya kalau sudah lewat jam sepuluh, koyornya sudah habis.

”Wah, kalau ini sih harus dibela-belain bangun pagi. Saya pun setuju berangkat jam tujuh pagi. Dengan disopiri mas Eko, pagi itu kami meluncur ke arah Jatinom. Inilah jalur alternatif yang paling dekat menuju Boyolali. Sayangnya jalur yang sudah padat ini dalam keadaan yang rusak. Di sana-sini banyak terdapat tambalan membuat jalan bergelombang.

Siksaan ini baru berakhir jika sudah mencapai Mojosongo, Boyolali, karena sudah masuk ke jalur utama Solo-Semarang.Pukul setengah sembilan, kendaraan sudah masuk ke kota Salatiga. Ketika sampai di lampu merah ABC, kami mampir sejenak ke “Gethuk Kethek” untuk pesan oleh-oleh (cerita tentang ini akan dikisahkan sendiri).

Setelah itu meneruskan perjalanan menuju Pasar Sapi, Salatiga. Tak membuang waktu, kami segera berjalan menuju warung gudheg koyor milik Hj. Sukini pada deretan paling Barat kios di pasar tersebut. Di sana sudah ada sempat bapak-bapak yang sedang menikmati hidangan. Dengan sigap pemilik warung melayani kami. Saya tentu saja memesan gudheg koyor. Ternyata saya mendapat tiga potong koyor yang besar-besar.

Oh, ya . . . Mungkin Anda belum tahu apa koyor itu. Saya sebenarnya juga tidak tahu secara persis sih. Tapi kata bu Tanti, koyor itu adalah otot sapi, terutama bagian kakinya. Mendengar kata “otot” maka saya membayangkan daging yang liat, alot dan susah dikunyah. Ternyata dugaan saya keliru. Daging koyor itu sangat empuk. Bahkan mudah sekali dipotong kecil-kecil menggunakan sendok. Kalau mendengar kata “sapi”, secara otomatis saya juga membayangkan baunya yang amis. Jika berbau amis, maka saya enggan menyantap daging itu. Ternyata daging pada gudeg ini tidak beraroma amis. Mungkin karena tertutup kuatnya aroma bumbu-bumbu yang menyertainya.Daging koyor ini dimasak serupa dengan bumbu krecek (krupuk dari kulit sapi), yaitu menggunakan kuas santan yang super kental dan pedas. Wuiiiih, bayangkan berapa tuh kadar kolesterolnya. Kalau Anda takut sama kandungan kolesterolnya, maka Anda dapat mengganti koyor dengan daging ayam. Ini yang dipilih oleh Dina. Tapi buat apa jauh-jauh ke Salatiga kalau tidak punya nyali menghadapi kolesterol ini?

Satu porsi gudeg mampu membuat perut kenyang dan terasa panas karena pengaruh lombok dan dagingnya. Kami pun meneruskan perjalanan.

Baca juga Gethuk Kethek dan Nasi Goreng Babat Iso Pete

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Larangan Lagu Pujian di TELKOMSEL

Persaingan antar operator seluler sudah sangat sengit. Akibatnya, TELKOMSEL melarang karyawannya menggunakan apa pun yang berkaitan dengan perusahaan pesaing. Untuk itu, TELKOMSEL melarang karyawannya menyanyikan lagu-lagu berikut. Alasannya, dalam syairnya terdapat kata-kata "MENTARI" (produk Indosat), "BEBAS" (Produk Excelcomindo) dan "CERIA" (milik Sampoerna). Jika ingin tetap menyanyikannya, maka mereka harus mengganti kata tersebut dengan "SIMPATI" Contoh: "Yesus segala-galanya, MENTARI hidupku" diganti Yesus segala-galanya, SIMPATI hidupku.

A. Berikut daftar lagu yang dilarang karena mengandung kata MENTARI:

KJ.144A SUARA YESUS KUDENGAR

'Ku datang pada Tuhanku, MENTARI mulia .

KJ.277 TUHANKU SEG'RA 'KAN KEMBALI

Dan mungkin di saat menurun MENTARI, di malam gelap .

KJ.292 TABUH GENDANG!

Habis mendung Ia berikan sinar MENTARI yang cerah! .

KJ.396 YESUS SEGALA-GALANYA

Yesus segala-galanya, MENTARI hidupku.

NKB.007 NYANYIKANLAH NYANYIAN BARU

Puji Dia, wahai MENTARI, .

NKB.035 SELURUH ALAM TAK HENTI

MENTARI, bintang berseri bernyanyilah merdu. .

NKB.036 TERANG MENTARI MEREKAH

Terang MENTARI merekah, g'lap pun enyah. .

NKB.106 HIDUP DALAM SUKACITA

Bagai sinar sang MENTARI, bagai angin yang kencang; .

NKB.133 SYUKUR PADAMU, YA ALLAH

Syukur atas bunga mawar, harum indah, tak terp'ri. Syukur atas awan hitam dan MENTARI berseri. .

NKB.173 'KU TAK DAPAT MAJU SENDIRI

Bila badai hidup menerpaku, MENTARI pun tak berseri.

PKJ.021 MARI SEMUA, KINI BERNYANYILAH

Sinar MENTARI, curah hujan tanda karunia rahmat Tuhan, .

PKJ.027 NYANYIKANLAH NYANYIAN BARU

Puji Dia, wahai MENTARI, wahai bulan, sembahlah Dia terus. .

B. Berikut daftar lagu yang dilarang karena mengandung kata BEBAS:

KJ.009 PUJI, HAI JIWAKU, PUJI TUHAN

4. Orang tertindas di bela haknya dan orang lapar pun kenyang yang diperbudak diBEBASkannya,

KJ.024A DARI LEMBAH SENGSARAKU

Penolong kaum percaya. Umat-nya diBEBASkan-nya

KJ.074 SEISI PADANG BELANTARA

Umat kudus pelintasnya, BEBAS ancaman dan bahaya, menuju sion mulia.

KJ.079 MAHATERPUJI ALLAHKU

2. Yang dalam nista tercengk'ram akan diBEBASkan-nya;

KJ.085 KUSONGSONG BAGAIMANA

4. Di saat 'ku terpasung, Kau memBEBASkanku; segala aib dan malu terhapus olehMu.

KJ.108 TAKHTA MULIA DI TEMPAT BAKA

3. Oleh FirmanMu yang kekal teguh KauBEBASkan manusia.

KJ.114 MARI, LIHATLAH SEMUA

Buat aku asuhanMu, suci oleh kurbanMu, BEBAS oleh tangunganMu, kaya oleh miskinMu.

KJ.147 PETUGAS DI PABEAN

4. Bersabda Tuhan Yesus, "Ku masuk dunia supaya KuBEBASkan mereka yang penuh cela."

KJ.160 SANG ANAKDOMBA YAN KUDUS

Anakku, terimalah di pundakmu akibat dosa dunia; BEBASkanlah dosa manusia

C. Berikut daftar lagu yang dilarang karena mengandung kata CERIA:

KJ.020 O HARI ISTIRAHAT

1. O hari istirahat, CERIA dan cerah, pelipur hari sarat, o hari mulia!

KJ.230 KAMI BERDOA, YA ROH KUDUS

2. Cahya ilahi, pancarkanlah kasih kristus dalam dunia, agar kami tinggal di dalam dia yang membuka sorga CERIA. Tolong kami!

KJ.313 HAI BERDANDANLAH, JIWAKU

Dosamu masuk di terang CERIA, bersemaraklah

NKB.037 TERBITLAH KINI SANG MATAHARI

2. Seluruh satwa riang bernyanyi menyambut pagi dengan CERIA.

NKB.150 DI SEB'RANG SANA

1. Di seb'rang sana pagi CERIA, bersama tuhan selamanya.

NKB.172 DALAM RUMAH BAPAKU

Nanti pada suatu hari yang CERIA kita pun berkumpul dalam rumah Hu.

NKB.201 DI JALAN HIDUPKU

Di buatnya terang CERIA, itulah Yesus, Jurus'lamatku.

PKJ.167 BURUNG MURAI BERNYANYI

Burung murai bernyanyi riang gembira, tanda malam berganti siang CERIA.

PKJ.169 SURYA KENCANA, RIANG DAN RAMAH

Kini 'ku bangun; dengan rasa kagum kupandang langit CERIA jernih.

Jika Anda tidak percaya tetapi tertawa setelah membaca isi email ini, itulah yang saya harapkan. Berarti Anda termasuk orang yang punya selera humor dan cerdas.

Wawan

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Minggu, 11 Mei 2008

SMS Berantai masih Berlanjut




Setelah menulis tentang SMS Berantai yang isinya hoax tentang antikris, saya mendapat banyak tanggapan. Baik secara publik maupun via japri (jalur pribadi). Bahkan ada orang yang punya ciri khas memakai istilah "TRIUNITAS" mengirim email yang sungguh sulit untuk dipahami.
Yang menarik, ada orang yang mengirimkan gambar yang mirip potongan fragmen perkamen. Menurut pengirim, di perkamen itu lambang 666 mirip dengan dengan lambang AXIS. Sebagai perbandingan, dia menyertakan juga logo AXIS.



Tanggapan saya terhadap gambar ini adalah:
1. Apakah pengirim email sudah memastikan bahwa potongan perkamen tersebut benar-benar asli? Soalnya, dengan sentuhan teknologi komputer, kita mudah sekali memanipulasi gambar tersebut. Sebagai buktinya, saya menggunakan Photoshop untuk menambahkan nama saya di situ. Bukankah tulisan itu mirip sekali dengan dokumen kuno?


2. Saya mencoba membuka kitab Wahyu "Byzantine Majority Greek Text", ternyata angka 666 yang tertulis di situ berbeda sekali dengan logo AXIS [lihat lampiran]. Sedangkan versi Westcott-Hort Greek Text malah tidak menuliskan angka 666, melainkan menyebutkannya dengan kata-kata. Dengan kata lain, tulisan yang diklaim sebagai huruf 666 dalam gambar tersebut adalah PALSU.
Kompas on-line sudah memuat bantahan dari pihak AXIS. Jadi jelaslah sudah bahwa isi SMS bahwa AXIS adalah antichrist adalah hoax alias bohong.
Belum reda isu soal AXIS ini, sekarang muncul SMS hoax lainnya. Bunyinya begini: "Syalom, tanggal 11-13 Mei 2008, akan dilepas roket satelit 666 ke angkasa untuk menangkap jiwa lewat nomor hp. Jadi dihimbau tanggal 11-13 harap lepas kartu HP untuk sementara dan berdoa selalu agar Yesus campurtangan untuk menggagalkan segalanya. Amin. Sebarkan ke teman, saudara dan kerabat lain. Ingat satu SMS selamatkan satu jiwa."
Sekali lagi saya mengelus dada. Pembuat SMS ini sudah keterlaluan dalam membodohi orang banyak. Coba dipikir, negara mana sih yang mau keluar biaya yang sangat besar untuk melepas satelit seperti ini? Lagipula negara mana yang punya ideologi untuk "menangkap jiwa melalui HP"? Pelepasan satelit ke ruang angkasa bukan peristiwa yang main-main. Setiap peluncurannya tidak bisa dilakukan sembunyi-sembunyi. Pasti dilakukan secara publik. Kalau memang benar roket ini diluncurkan oleh antikris, pasti peristiwa ini akan menimbulkan kehebohan yang besar. Lagipula, negara-negara yang sudah mampu mengirim satelit ke luar angkasa itu masih dapat terbilang dengan jari tangan kanan.
Jika peristiwa ini diketahui secara publik, mengapa negara-negara lain tidak memberikan reaksi atas rencana ini. Taruh kata, yang meluncurkan satelit ini adalah negeri Perancis, maka negara Amerika Serikat pasti akan terancam dengan program ini. Bagaimana tidak. Bayangkan jika jiwa-jiwa penduduk Amerika yang punya HP tersedot jiwanya. Apa itu tidak menjadi ancaman serius bagi mereka? Bayangkan jika presiden Bush dan jajaran menterinya tiba-tiba menjadi bego gara-garanya jiwanya ditangkap oleh HP mereka. Lucu juga membayangkannya. [Wah bisa jadi ide untuk cerita film fiksi ilmiah tuh].
Jika isu itu benar, maka bayangkan apa yang terjadi pada orang yang punya HP lebih dari satu. HP mana yang akan menangkap jiwanya? Apakah HP yang sinyalnya paling kuat atau HP yang paling dekat dengan pemiliknya? Bayangkan pula jika semua HP menyedot jiwanya, bisa habis tak bersisa tuh jiwanya.hi...hi.hi..
Tulisan ini dibuat pada tanggal 11 Mei dan dikirim tanggal 12 Mei. Ternyata jiwa saya masih setia bermukim di badan saya. Jadi jangan percaya mentah-mentah deh dengan hoax semacam ini. Jika mendapat SMS seperti itu, jangan sebarkan ke teman, saudara dan kerabat lain. Meminjam istilah mereka: "Ingat satu SMS menguntungkan perusahaan seluler Rp. 50-Rp. 200,-/SMS."
Meski begitu saya setuju jika tanggal 11-13 Mei 2008 kita bersama-sama melepas kartu HP. Ini untuk membuktikan bahwa kita masih tetap hidup tanpa HP. Mari kita boikot perusahaan seluler itu biar mereka menurunkan tarif pada tataran yang pantas.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More