Rabu, 30 April 2008

Sekali Lagi Tentang SMS Berantai

"Kartu GSM XXXX [nama disamarkan] sudah keluar: Rp.6/SMS; Rp. 60/menit; Rp. 600/SMS. Jika dijumlah 666, simbol antikris. Jangan dibeli. Itu kartu pendukung antikris, milik [nama perusahaan di Timur Tengah]. Sebarkan SMS ini. Satu SMS selamatkan satu jiwa"

Itulah bunyi SMS yang saya terima, dan saya yakin banyak orang Kristen lain yang menerima pesan serupa. Saya hanya senyum-senyum sendiri. Sekali lagi, orang Kristen menjadi sasaran dan korban perang disinformasi. Celakanya, banyak orang Kristen yang dengan semangat 45, rela hati mengeluarkan ongkos satu SMS untuk disebarkan ke nomor yang lain. "Ah, cuma kehilangan beberapa rupiah. Tapi yang penting dapat menyelamatkan jiwa orang lain." Begitulah kira-kira pikiran orang Kristen yang lugu tersebut.
Kelihatannya hanya sederhana, yaitu meneruskan SMS, tapi di balik itu ada persoalan yang perlu dikritiki:
Pertama, apakah isi informasi tersebut sudah benar atau hanya rumor belaka? Apakah pembuat pesan tersebut sudah mengkonfirmasi perusahaan yang bersangkutan dan mereka mengakui bahwa mereka pendukung antikiris? Atau setidak-tidaknya, si pembuat SMS itu sudah memiliki data-data yang akurat untuk mendukung pernyataan tersebut? Jika dia hanya mendasarkan diri pada logika "othak-athik gathuk" alias menebak-nebak berdasarkan prasangka, maka dapat dipastikan isinya adalah kebohongan. Nah, jika kita meneruskan SMS yang isinya kebohongan itu, maka kita pun turut serta dalam dosa kebohongan massal tersebut. Atau menurut istilah teman muslim, "kebohongan berjamaah"
Kedua, apakah perusahaan GSM tersebut berbuat sebodoh itu dengan menyatakan diri sebagai pendukung antikris, dengan konsekuensi akan diboikot orang Kristen dan Islam? Mayoritas penduduk Indonesia adalah orang Islam, dan dalam Al Quran ada sosok Dajjal yang digambarkan menentang Isa A.S. Dajjal ini sama dengan antikris dalam terminologi kekristenan.
Tapi mengapa menampilkan angka yang serba enam? Menurut saya sih, ini kebetulan saja. Sebagai perusahaan baru, mereka harus menghitung tarif yang lebih kompetitif daripada pesaing yang sudah lama beroperasi. Maka ketemulah angka sekitar angka enam tersebut. Dengan mempertimbangkan aspek promosi, maka diciptakan tarif yang menggunakan angka serba enam supaya mudah diingat.
Ketiga, mungkinkah rumor ini sengaja diciptakan oleh operator telepon lama, yang merasa tersaingi oleh operator GSM yang baru.
Meski begitu ada, ada satu hal baik yang termuat dalam SMS berantai ini: Kita perlu cermat dalam memilih operator telepon yang akan kita pakai. Selain aspek tarif dan pelayanan yang diberikan, kita juga perlu mempertimbangkan perilaku perusahaan tersebut. Apakah perusahaan tersebut melakukan monopoli? Apakah perusahaan tersebut telah adil? Apakah telah peduli pada lingkungan? Apakah peduli pada masyarakat? Apakah membayar upah pekerjanya dengan layak? Apakah tidak mengemplang pajak? Singkatnya, apakah perusahaan tersebut telah menjalankan prinsip-prinsip Good Corporate Governance. Jika ya, maka kita layak memilih operator telepon tersebut.

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It