Rabu, 30 April 2008

Sekali Lagi Tentang SMS Berantai

"Kartu GSM XXXX [nama disamarkan] sudah keluar: Rp.6/SMS; Rp. 60/menit; Rp. 600/SMS. Jika dijumlah 666, simbol antikris. Jangan dibeli. Itu kartu pendukung antikris, milik [nama perusahaan di Timur Tengah]. Sebarkan SMS ini. Satu SMS selamatkan satu jiwa"

Itulah bunyi SMS yang saya terima, dan saya yakin banyak orang Kristen lain yang menerima pesan serupa. Saya hanya senyum-senyum sendiri. Sekali lagi, orang Kristen menjadi sasaran dan korban perang disinformasi. Celakanya, banyak orang Kristen yang dengan semangat 45, rela hati mengeluarkan ongkos satu SMS untuk disebarkan ke nomor yang lain. "Ah, cuma kehilangan beberapa rupiah. Tapi yang penting dapat menyelamatkan jiwa orang lain." Begitulah kira-kira pikiran orang Kristen yang lugu tersebut.
Kelihatannya hanya sederhana, yaitu meneruskan SMS, tapi di balik itu ada persoalan yang perlu dikritiki:
Pertama, apakah isi informasi tersebut sudah benar atau hanya rumor belaka? Apakah pembuat pesan tersebut sudah mengkonfirmasi perusahaan yang bersangkutan dan mereka mengakui bahwa mereka pendukung antikiris? Atau setidak-tidaknya, si pembuat SMS itu sudah memiliki data-data yang akurat untuk mendukung pernyataan tersebut? Jika dia hanya mendasarkan diri pada logika "othak-athik gathuk" alias menebak-nebak berdasarkan prasangka, maka dapat dipastikan isinya adalah kebohongan. Nah, jika kita meneruskan SMS yang isinya kebohongan itu, maka kita pun turut serta dalam dosa kebohongan massal tersebut. Atau menurut istilah teman muslim, "kebohongan berjamaah"
Kedua, apakah perusahaan GSM tersebut berbuat sebodoh itu dengan menyatakan diri sebagai pendukung antikris, dengan konsekuensi akan diboikot orang Kristen dan Islam? Mayoritas penduduk Indonesia adalah orang Islam, dan dalam Al Quran ada sosok Dajjal yang digambarkan menentang Isa A.S. Dajjal ini sama dengan antikris dalam terminologi kekristenan.
Tapi mengapa menampilkan angka yang serba enam? Menurut saya sih, ini kebetulan saja. Sebagai perusahaan baru, mereka harus menghitung tarif yang lebih kompetitif daripada pesaing yang sudah lama beroperasi. Maka ketemulah angka sekitar angka enam tersebut. Dengan mempertimbangkan aspek promosi, maka diciptakan tarif yang menggunakan angka serba enam supaya mudah diingat.
Ketiga, mungkinkah rumor ini sengaja diciptakan oleh operator telepon lama, yang merasa tersaingi oleh operator GSM yang baru.
Meski begitu ada, ada satu hal baik yang termuat dalam SMS berantai ini: Kita perlu cermat dalam memilih operator telepon yang akan kita pakai. Selain aspek tarif dan pelayanan yang diberikan, kita juga perlu mempertimbangkan perilaku perusahaan tersebut. Apakah perusahaan tersebut melakukan monopoli? Apakah perusahaan tersebut telah adil? Apakah telah peduli pada lingkungan? Apakah peduli pada masyarakat? Apakah membayar upah pekerjanya dengan layak? Apakah tidak mengemplang pajak? Singkatnya, apakah perusahaan tersebut telah menjalankan prinsip-prinsip Good Corporate Governance. Jika ya, maka kita layak memilih operator telepon tersebut.

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Minggu, 20 April 2008

NOSTALGILA MASA KECIL [2a/3]

Hidup di pedesaan yang jauh dari pusat hiburan dan mainan tidak membuat kami kehilangan masa kecil yang ceria. Kami justru lebih kreatif membuat sendiri alat permainan kami. Kali ini akan saya bagikan alat mainan perang-perangan yang biasa kami mainkan waktu kecil:



1.Senapan Kenthos

Alat permainan ini dapat mengeluarkan bunyi letusan yang nyaring. Hebatnya lagi, dapat melesatkan peluru dari ujung larasnya. Laras senapan ini dibuat dari pucuk bambu dengan diameter 3-5 cm dan panjang 20-30 cm. Kemudian dibuat batang pendorong peluru yang dibuat dari bambu yang lebih tebal. Diameternya harus lebih kecil daripada diameter larasnya supaya bisa masuk; Dan juga lebih pendek 2-3 cm daripada larasnya.

Cara memainkannya adalah memasukkan “peluru” yaitu bunga lamtoro/mlandhing muda (disebut kenthos). Bisa juga menggunakan kertas basah yang dibikin bola kecil. Peluru ini dimasukkan dalam lobang di pangkal laras, kemudian didorong pelan sampai ujung laras, tetapi tidak sampai keluar.

Setelah itu dimasukkan peluru yang kedua di pangkal laras. Peluru ini harus dimampatkan hingga tidak ada udara dalam laras yang bisa keluar. Setelah itu, peluru didorong kuat-kuat dengan bambu pendorong. Ketika peluru kedua didorong, maka udara di antara peluru kedua dan pertama mengalami tekanan yang sangat kuat. Jika peluru yang di ujung senapan sudah tidak kuat menahan tekanan, maka peluru tersebut akan melesat keluar dengan kecepatan tinggi disertai bunyi ledakan yang berasal dari tekanan udara yang berhasil keluar.

Untuk memperkuat efek ledakan, maka kami menambahkan potongan botol plastik, yang telah dilubangi bagian dasarnya, pada ujung laras senapan.

Senapan kenthos ini asyik jika digunakan untuk perang-perangan. Jika mengenai seseorang, pelurunya tidak sampai melukai, tapi cukup untuk membuat kulit menjadi merah.



2. Senapan Batang Daun Pisang

Jenis mainan ini hanya untuk menghasilkan suara seperti ledakan senapan. Caranya daun pisang diambil batangnya. Kemudian pada sisi-sisi luar dikerat sepanjang 10-15 meter, kemudian ditekuk keluar. Cara memainkannya adalah dengan menutup keratan tadi dengan kecepatan tinggi sehingga terdengar bunyi “plok…plok…plok….plok” Seperti senapan mesin.



3. Meriam Bambu

Untuk menyambut hari raya lebaran, kami biasa membuat meriam bambu. Saya rasa hal ini tidak hanya di desa saya saja. Di daerah-daerah lain, juga ada tradisi ini. Bahan meriam ini dibuat dari bambu ori. Panjangnya 2-3 meter. Menggunakan kayu bulat atau linggis, sekat-sekat setiap ruas dilubangi, kecuali sekat ruas bagian pangkal. Kemudian di dekat ruas dibuat lobang kecil dengan diameter 5-10 cm.

Cara memainkannya adalah meletakkan meriam di atas tanah. Ujung meriam diganjal batu kecil agar lebih tinggi. Kemudian minyak tanah dituangkan ke dalam meriam melalui lubang kecil di pangkal meriam.

Mula-mula minyak tanah tersebut dipanasi dulu dengan cara memasukkan api ke dalam meriam menggunakan ranting kecil. Setelah itu melalui lobang kecil itu, asapnya ditipu-tiup agar keluar lewat ujung meriam. Lama-lama, setelah suhu di dalam meriam mulai panas, maka akan terdengar ledakan-ledakan ketika nyala api pada ranting kering dimasukkan ke dalam lobang kecil di pangkal meriam…buuuuum!
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Jumat, 18 April 2008

NOSTALGI[L]A MASA KECIL


Hari ini (Jumat, 18/4), saya mengunjungi Museum Anak "Kolong Tangga" di Taman Budaya Yogyakarta. Di tempat ini dipamerkan ratusan mainan anak-anak sejak zaman Majapahit, hingga zaman modern.


Melihat-lihat isi museum seolah-olah dibawa oleh mesin waktu kembali masa kecil saya. Mainan yang dipajang mengingatkan kembali akan masa kanak-kanak. Mainan dalam foto ini contohnya.Di kampung saya, mainan kapal ini sering dijual pada pertunjukan wayang kulit. Bahannya terbuat dari seng . Cara mainnya adalah dengan menuangkan minyak kelapa pada kapas, kemudian dibakar dan dimasukkan ke dalam kapal mainan tersebut. Jika sudah panas, maka akan terdengar bunyi klotok-klothok dan kapalnya bergerak sendiri.

Kali ini saya akan menurunkan tiga tulisan: (1) Makanan Masa Kecil; (2) Alat Permainan Masa Kecil; (3) Dolanan Anak.

Pada bagian pertama ini, saya ingin mengenang makanan ketika saya masih kecil. Karena hidup di wilayah yang cukup gersang, kami justru mengembangkan berbagai jenis makanan yang bervariasi.

1. Thiwul

Pada zaman dahulu, Gunungkidul memang pernah dikenal sebagai wilayah yang kekurangan pangan. Karena beras susah didapatkan, maka warga Gunungkidul mengkonsumsi thiwul, yaitu makanan yang berbahan pokok ketela pohon. Cara pengolahannya, ketela pohon dikupas, kemudian dijemur hingga kering. Namanya gaplek.

Gaplek ini dapat disimpan secara berbulan-bulan. Cara memasaknya: gaplek ditumbuk hingga menjadi tepung, kemudan diberi sedikit air dan digoyang-goyang di atas tampah. Jika sudah terbentuk gumpalan-gumpalan kecil, kemudian dikukus menggunakan kukusan dan dandang yang terbuat dari kuningan. Jika sudah masak maka disebut nasi thiwul.

Cara makan thiwul yang enak adalah dengan ikan asin, sambal bawang dan lalapan biji mandhing (lamtoro). Selain sebagai makanan pokok, thiwul juga dapat dijadikan sebagai camilan. Caranya dengan menambahkan parutan kelapa muda. Cara ini disebut dikrawu. Bisa juga dengan menambahkan gula, sehingga terasa manis.

Selain nasi thiwul, gaplek juga dapat menghasilkan gathot. Gaplek yang berwarna keitam-hitaman tidak cocok jika dijadikan nasi thiwul. Daripada dibuang, maka gaplek jenis ini dapat dijadikan gathot. Caranya cukup dengan dikukus, kemudian dimakan dengan parutan kelapa atau dibikin manis.

Selain thiwul, kami juga mengkonsumsi jenis pangan non beras lainnya seperti nasi jagung, nasi cathel (sorgum), dan nasi jawawut. Kebutuhan karbohidrat juga terpenuhi dari umbi-umbian. Sejauh yang saya ingat, jenis umbia-umbian yang sering dikonsumsi adalah uwi, gembili, gadhung, suwek, ubi rambat, garut, ganyong dan bentul.

Kalau Anda ingin mencicipi makanan jenis ini, datanglah ke kampung saya pada waktu upacara Gumbrekan. Upacara ini berupa doa untuk memohon perlindungan untuk alat-alat pertanian (garu, luku, cangkul, sabil dll) dan ternak. Sebagai sesajennya, para petani mengeluarkan makanan tradisional ini. Ini mirip hari raya Halowen. Pada malam hari anak-anak mendatangi setiap rumah petani. Pemiliki rumah mengeluarkan sesajen, mengucapkan doa, kemudian membagikan makanan itu pada anak-anak. Biasanya saya membawa pulang satu cething penuh aneka jenis makanan.

2. Serangga

Untuk memenuhi kebutuhan protein, maka kami menyantap serangga. Ada berbagai jenis serangga yang biasa kami makan. Yang paling sering diburu adalah belalang kayu. Hama tanaman ini rasanya seperti udang. Cara memasaknya bisa dengan cara dibakar saja, digoreng atau dibacem.

Dulu kami berburu belalang dengan membawa galah bambu yang dipakai untuk memukul belalang pada ranting pohon. Cara menangkap belalang paling mudah adalah setelah turun hujan. Karena sayapnya basah oleh air hujan, maka belalang cenderung terbang menurun, sehingga bisa kami sergap di atas tanah. Cara lainnya adalah dengan metode nyuluh. Pada malam hari kami membawa lampu petromaks. Lampu ini diletakkan di bawah pohon yang diperkirakan banyak bertengger belalang. Setelah itu kami menggoyang-goyang batang pohon itu sehingga belalang itu terbang. Secara naluriah, belalang akan terbang menuju sumber cahaya sehingga mudah ditangkap.

Jenis serangga lain yang juga diburu adalah Jangkrik. Namun rasanya tidak seenak belalang karena ada rasa getirnya. Cara memburuknya adalah membongkar batu-batuan. Tapi harus hati-hati karena bisa tersengat kalajengking atau dipatok ular.

Jika sedang beruntung, maka kami bisa mendapatkan Gondhing atau ratu rayap. Rasanya konon gurih, karena saya belum pernah mencicipi yang ini. Namun rayap yang berjenis laron juga sangat gurih. Biasanya muncul pada malam hari di awal musim hujan.

Kami juga memakan telur semut atau kroto. Cara memasajnya adalah dibikin pepes. Telur-telur semut dibumbui bawang merah dan garam, dibungkus dengan daun jati kemudian diletakkan di atas bara api.

Pada musim semi, kami juga berburu ulat pohon jati dan ulat pohon trembesi. Sebenarnya bukan ulat yang kami konsumsi, melainkan ulat yang sudah kepompong. Kalau melihat ketika masih menjadi ulat memang terlihat menjijikkan. Tapi kalau sudah menjadi kepompong, maka hewan ini dapat menjadi makanan yang lezat.

Yang terakhir, jangan lupakan juga olan-olan. Hewan sejenis ulat ini sering bersarang di pokok/pangkal pohon turi. Bentuknya putih, gemuk dan empuk. Kalau dipegang bikin geli.

3. Rujak Babal

Sebagai desert-nya atau makan penutup, ada sajian rujak babal (nangka muda)

Bumbu: bawang, garam, kencur, gula jawa, Lombok, terasi bakar.

Bahan: babal (nangka mudha), pace/mengkudu, ubi rambat mentah, daun pepaya mentah, lamtoro/mandhing yang masih muda, jambu mete.

Alat: Lumpang dan alu

Pertama-tama bumbu ditumbuk dalam lumping. Setelah halus, masukkan semua bahan rujak, kemudian tumbuk menjadi halus.

Kalau Anda baru pertama kali mencicipi rujak ini pasti akan kaget. Anda akan dibuat batuk-batuk. Ini adalah efek dari kombinasi jambu mete dan pedasnya lombok. Sekali mencicipi pasti ketagihan karena ada berbagai macam rasa yang unik. Selain pedas, asam dan manis, Anda juga dapat mencecap efek pahit dari daun pepaya dan rasa getir yang ditimbulkan oleh pace. Ada juga rasa sepat yang dihasilkan oleh nangka muda. Yang tak kalah seru adalah sensasi klethuk-klethuk dari pace dan ubi mentah ketika dikunyah [Purnawan Kristanto]

[Bersambung]

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Kamis, 17 April 2008

Tips Berinternet Murah

Bagi orang yang tinggal di kota kecil, seperti Klaten tempat tinggal saya, pilihan untuk koneksi internet yang cepat tapi murah itu sangat terbatas. Bagi rumah yang sudah memiliki sambungan telepon kabel, bisa memanfaatkan telkomnet instant. Tapi kecepatannya hanya 52 kbps, padahal tarifnya sekitar 10 ribu/jam. Kalau mau yang lebih cepat, tersedia Telkom Speedy. Tapi pemakaian minimumnya masih terlalu mahal. Untuk paket personal, pelanggan harus membayar 200 ribu. bulan. Padahal pengeluaran saya untuk internet belum mencapai 80 ribu/bulan.

Maka pilihan yang ketiga adalah menggunakan warnet. Tarifnya 2500-3000/jam. Tapi ini pun ada kelemahannya. Jika pengunjung sedang babak, maka niscaya koneksi akan sangat lambat. Untuk membuka halaman Gmail saja bisa membutuhkan waktu 3 menit.

Seiring dengan maraknya telekomunikasi nir kabel, memang tersedia makin banyak pilihan. Tapi rata-rata tarifnya masih mahal. Terutama untuk GSM.

Maka ketika Starone sampai di kota saya maka saya pun berminat untuk menggunakannya. Bagaimana tidak untuk kuota 1 GB, hanya dipatok tarif 99 ribu. Sayangnya paket ini untuk sementara belum bisa diambil karena Starone sedang memantapkan jaringan lebih dulu. Pilihan yang tersedia adalah paket pra bayar dengan tarif Rp.75,-/menit. Bila dibandingkan dengan telkomnet instan yang saya pakai selama ini, tarif ini jauh lebih murah.

Untuk mendapatkan koneksi Straone, maka kita harus menyediakan modem lebih dulu. Bisa dengan HP CDMA yang memiliki modem, bisa dengan modem USB, atau PCMCIA Card. Harga antara HP dan USB yang bisa untuk modem sebenarnya hampir sama. Tapi saya cenderung memilih USB modem dengan pertimbangan kemampuannya lebih baik karena khusus untuk modem, bila dibandingkan dengan HP yang harus berbagi dengan fitur-fitur yang lain.

Karyawan di galeri Indosat menyarankan supaya memilih merek Huawei saja. Tapi setelah cari tahu harganya, ternyata mendekati satu juta. Maka pilihan berikutnya adalah Venus. Tapi karyawan itu mewanti-wanti bahwa merek ini cepat panas. Jika dipakai terlalu lama, maka alat ini menjadi panas dan bisa merusak chip Starone. Namun harganya terjangkau. Saya memberli seharga Rp. 420 ribu di ELS Komputer, Terban. Memang benar, modem ini cepat sekali panas. Tapi saya ambil positifnya saja. Karena cepat panas, maka saya tidak berani berlama-lama on line. Dengan begitu, biaya koneksi terkontrol.

Meski tarifnya relatif lebih murah, namun sebaiknya kita juga tetap bijak di dalam menjelajahi dunia maya. Dengan persepsi biaya murah, maka ada kemungkinan kita keenakan di dalam berselancar sehingga biaya koneksi jadi membengkak. Berikut ini tips-tips berinternet murah, berdasarkan pengalaman saya:

Tetapkan lebih dulu tujuan Anda di dalam berinternet. Misalnya untuk mencari data-data tertentu. Lebih baik jika ditulis lebih dulu jenis data yang akan dicari. Termasuk juga dalam menentukan kata-kata kunci atau "keyword" yang akan diketik pada mesin pencari. Ini akan lebih menghemat waktu daripada Anda masih kebingungan ketika sudah terkoneksi, padahal tarif terus berjalan.

Ada dua jenis koneksi, yaitu time based dan volume based. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya. Tarif time based, mendasarkan tarif berdasarkan pada durasi waktu yang Anda habiskan dalam berinternet. Semakin lama Anda terkoneksi, maka semakin mahal tagihannya. Jika memilih jenis ini, sebaiknya membuka browser lebih dari satu. Unduhlah data sebanyak-banyaknya. Sedangkan tarif volume based menghitungkan besaran biaya berdasarkan jumlah byte yang Anda unduh. Tak peduli berapa lama Anda terkoneksi, tapi jika arus data yang keluar masuk sangat besar, maka tarifnya akan melambung.

Untuk email, sebaiknya gunakan fasilitas Outlook Express. Program ini dapat mengunduh email dan menyimpan di komputer kita. Jika semua email sudah terambil, maka putuskan koneksi internet. Jawablah secara offline. Setelah semua email sudah siap, lakukan koneksi internet dan kirimkan semua email Anda. Dengan cara ini, dapat lebih menghemat daripada kita membalas email sembari masih on-line. Tidak semua alamat email dapat menggunakan Outlook Express, hanya yang memiliki fasilitas POP3 saja. Contohnya, Telkom.net dan Gmail.com.

Kalau Anda ngeblog di Multiply dan Blogspot, sebaiknya Anda memanfaatkan fasilitas posting lewat email. Caranya, pada setting di masing-masing blog buatlah alamat email blog Anda. Alamat email ini digunakan sebagai alamat tujuan ketika mengirimkan posting. Setelah itu, Anda dapat mengirimkan tulisan melalui email Anda.

Pakailah fitler spam dan jangan terlalu banyak ikut milis. Ingat, setiap byte yang terkirim ke email Anda berarti Anda keluar uang.

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Rabu, 16 April 2008

Metode Penginjilan

Suatu kali seorang wanita mendatangi D.L. Moody. Dia mengatakan bahwa tidak suka dengan metode penginjilan Moody. "Saya sebenarnya juga tidak terlalu menyukai metode saya. Lalu apa metode Anda?" tanya Moody. Wanita itu menjawab bahwa tidak punya. "Kalau begitu, metode saya masih lebih baik daripada metode Anda," tukas Moody.

Mengritik orang lain memang mudah. Pertanyaannya adalah apakah kita mampu dan sudah melakukannya lebih baik daripada orang itu?

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Selasa, 15 April 2008

Pertobatan Ayah Howard Hendricks

Howard Hendricks, seorang hamba Tuhan kenamaan di Amerika Serikat menceritakan pertobatan ayahnya, sebagai berikut:

Telepon berbunyi. Pendeta muda dari Arlington, Virginia menelepon saya.

"Sedang apa, nih?" tanyanya.

"Sedang belajar," jawab saya.

"Apakah kamu sedang duduk?"

"Ya, kenapa?"

"Sore ini, ayahmu menerima Kristus."

"Apa? Jangan bercanda, ah!" teriak saya.

Saya hampir tidak percaya pada ucapannya mengingat pengalaman selama bertahun-tahun dengan ayah saya. Sejak saya menerima Kristus, ketika masih anak-anak, keinginan terbesar saya adalah supaya seluruh anggota keluarga saya ikut diselamatkan. Berkali-kali saya mengajak ayah berbicara tentang Injil, tetapi tanggapannya selalu tidak antusias. Saya sebenarnya tidak begitu dekat dengan ayah saya, tapi bagaimanapun juga dialah yang membentuk saya hingga menjadi seperti sekarang ini.


Ayah saya adalah seorang tentara. Dia telah bertempur di berbagai tempat di dunia. Setiap kali dia berangkat berperang, saya sangat mengkhawatirkan kepada kebutuhan rohaninya. Saya bersama keluarga saya selalu mendoakan dia. Namun setiap saat sikapnya selalu sama saja: "Nak, jangan mengkhawatirkan ayah. Ayah nanti akan bekerja sama dengan Tuhan"(dia merasa seolah-olah Tuhan itu bisa dimanipulasi seperti pegawai di Pentagon).

Tuhan lalu mengirimkan seseorang ke dalam hidupnya. Namanya Butch Hardman. Suatu hari, Butch sedang menunggu keberangkatan pesawat di Detroit. Seorang teman Butch menghadiahkan kaset yang isinya adalah khotbah saya. Temannya berkata pada Butch,"Pernah mendengar khotbah Hendricks? Sebaiknya kamu mendengarkan ini."

Di dalam kaset itu saya mengatakan tentang kebutuhan rohani ayah saya. Ketika mendengarkan itu Butch teringat pada ayahnya sendiri. Sebelum ayahnya meninggal, Butch bersyukur punya kesempatan membagikan kasih Kristus kepada ayahnya.

Beberapa bulan kemudian Butch menghadiri konferensi para pendeta di Philadelphia dimana saya diundang sebagai pembicara. Dia menjabat tangan saya setelah saya berbicara. Dari sinilah menjadi awal dari sebuah peristiwa luar biasa di Arlington.

Butch kembali ke Arlington. Ketika sedang menyopiri bis gereja setelah mengantar semua penumpangnya, Butch melihat ada seorang pria yang berdiri di sudut jalan. Wajah orang itu mengingatkannya pada wajah saya (Howard Hendricks). Dia meminggirkan bis dan menghampiri pria itu.

"Maaf kalau saya salah, tapi apakah Anda ayah dari Howard Hendricks?"

Pria itu terpana,"Hmmm...ya...apakah Anda murid anak saya?"

"Tidak. Tapi dia sudah membantu saya. Apakah Anda punya waktu untuk minum kopi sebentar saja?"

Pertemuan yang diatur oleh Roh Kudus itu segera berlanjut dengan persahabatan. Tapi Butch merasakan ayah saya menjadi curiga ketika mengetahui bahwa dia berteman dengan pendeta. Untuk itu, Butch tidak segera mengundang ayah saya untuk datang ke gerejanya. Dia hanya mampir ke tempat tinggalnya sepulang dari kantor untuk minum kopi. Meskipun tidak tahan pada asap rokok ayah saya, tapi dia berusaha menyabarkan diri. Termasuk ketika harus mendengarkan pengalamannya bertempur yang seolah tak ada habis-habisnya. Lama-kelamaan Butch mengetahui bahwa ayah saya ternyata menderita kanker tenggorokan yang sudah parah.

Beberapa bulan berikutnya, Butch berada di sisi tempat tidur ayah. "Pak. Hendricks, Saya akan pergi untuk beberapa lama ke Tanah Suci di Yerusalem. Sebelum itu, bolehkah saya menceritakan sesuatu pada Anda?"

Ayah setuju. Butch mulai menceritakan percakapan antara Yesus dengan Nikodemus yang ditulis dalam kitab Yohanes. Singkat kata, ayah menerima ajakan Butch untuk menerima Kristus sebagai Juruselamatnya. Tiba-tiba ayah saya bangun dari tempat tidurnya dan berdiri dengan sempurna sambil memberi hormat. "Sekarang saya berada di bawah Komandan yang baru!" Malam itu juga Butch menelepon saya di Dallas, memberitakan kabar gembira ini.

Terakhir kali saya melihat ayah, saya hampir tidak percaya bahwa dia adalah pria yang saya kenal dulu. Meskipun tubuhnya sudah kurus kering, tetapi wajahnya bersinar mencerminkan rohnya yang menyala-nyala.

Saat ayah saya meninggal, dia berpesan supaya Butch Hardman yang memimpin upacara penguburun dengan cara kemiliteran di Arlington . Dalam khotbahnya, Butch menyampaikan Injil Yesus kepada anggota keluarga dan militer yang melayat. Saat tembakan salvo dilepaskan, saya tahu bahwa Tuhan telah mendengar doa saya selama 42 tahun.

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Senin, 14 April 2008

Baby Sitter Dua Malam

Selasa, 15 April 2008
Pulang dari menonton Solo Batik Carnival kami mampir dulu di warung makan "Malioboro", depan alun-alun Mangkunegaran Solo. Kami memesan satu ayam goreng utuh untuk dimakan berenam. Kata isteri saya, ayam gorengnya lumayan enak.
Saat sedang bersantap, tiba-tiba HP isteri saya berbunyi. Bu Amik menelepon untuk menawarkan baby sitter. Memang ini yang sangat kami butuhkan saat ini. Selama ini kami memang kerepotan jika akan mengadakan pelayanan karena belum ada orang yang bisa momong Kirana.
Malamnya, bu Amik mengantarkan mbak Puji ke rumah pastori. Asalnya dari Gedangsari. Meski muslim, dia bercerita pernah ikut keluarga pendeta di Jogja. Tapi ketika ditanya pendeta dari gereja mana, dia tidak tahu.
Seperti biasa, Kirana tidak segera mau jika diajak oleh orang asing. Dia memberontak ketika mau digendong. Kami beritahu bahwa butuh waktu yang agak lama bagi Kirana untuk mengenal dan dekat pada orang yang masih baru. Makanya, kami minta supaya Mbak Puji mendekati dengan sabar saja.
Hari kedua, Kirana masih emoh dimomong mbak Puji. Tapi malamnya, dia sudah mau bercanda dengan mbak Puji, meski masih harus kami temani. Kami sudah mulai lega karena Kirana sudah mau dipasangi jepit pada rambutnya oleh mbak Puji. Tadi malam, Kirana berangkat tidur agak awal. Mungkin karena kecapekan dalam bercanda.
Pagi tadi, tiba-tiba mbak Puji minta pamit. Katanya, dia hanya biasa bekerja sebagai pembantu rumah tangga, dia tidak telaten kalau momon anak kecil. Ya sudah. Meski dengan berat hati, kami antarkan dia pulang.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Minggu, 13 April 2008

Oleh-oleh dari Solo Batik Carnival











Malaysia boleh saja mengklaim bahwa batik adalah milik mereka, tapi Solo telah berhasil menampilkan sebuah karnaval batik bertaraf internasional. Dengan menggandeng penyelenggara Jember Fashion Carnival, hari Minggu (13/4) pemerintah kota Solo menyelenggarakan "Solo Batik Carnival".



Sesuai dengan namanya, karnaval ini memang mengusung batik sebagai tema utama. Di tangan desain muda yang progresif, batik telah mengalami metamorphosa yang menakjubkan. Batik yang selama ini dicitrakan elegan, formal dan kaku, hari itu benar-benar mengalami perubahan drastis. Semua peserta tampil secara seronok. Warna-warna batik yang cenderung kalem, dikombinasikan dengan warna-warna yang cerah seperti merah, kuning dan hijau. Selain itu, peserta karnaval juga mengenakan aksesoris yang sangat mencolok. Entah itu pada baju, maupun pada tutup kepala.


Menurut publikasi dari panitia, acara ini dimulai pukul 14.00. Bersama dengan Kirana, istri dan dua anak tetangga, kami berangkat dari Klaten pukul 13.00. Ketika hampir sampai di Purwosari, arus jalan dialihkan ke kiri melewati Manahan. Beberapa ruas jalan sudah ditutup oleh polisi. Akhirnya kami memutuskan untuk mengambil tempat di simpang empat depan alun-alun Mangkunegaran.



Sampai setengah empat sore belum kelihatan tanda-tanda kedatangan peserta karnaval. Anak-anak sudah mulai tidak sabar. Saya juga mulai gelisah. Jika nanti kesorean, maka cahaya matahari sudah redup. Ini tentu menyulitkan untuk pengambilan gambar. Saya berencana merekamnya dengan kamera video untuk diunggah ke situs www.beoscope.com.



Maka saya putuskan untuk menyongsong rombongan karnaval. Rute perjalanan karnaval adalah berangkat dari Solo Point Centre menuju ke arah timur dan berakhir di depan balaikota. Setelah berjalan 1 km, saya melihat rombongan empat mobil pemadam kebakaran yang berjalan beriringan sambil membunyikan sirine. Di belakangnya, ada dua mobil tangki air. "Wah, sudah mulai nih," batin saya girang. Maka saya pun mulai menyiapkan kamera video. Ternyata saya kecele. Mobil-mobil itu hanya bertugas menyirami aspal di jalan Slamet Riyadi, supaya tidak berdebu.



Saya pun terus berjalan ke arah Barat. Tak berapa lama, terlihat rombongan kereta-kereta berkuda. Tampaknya, kereta itu berasal dari kraton kasunanan Surakarta.



"Objek yang bagus," batin saya bersorak. Saya segera beraksi merekam kereta-kereta bersejarah. Akan tetapi ketika melihat isi penumpang, dalam hati saya merasa kecewa. Sebagian besar penumpang ternyata berpakaian seadanya. Walaupun mereka berpakaian batik, tapi desainnya hanya seadanya. Padahal untuk karnaval, tentu membutuhkan tampilan yang luar biasa [Oh, ya…ada Marie Elka Pangestu, di dalam kereta paling depan].



Rombongan kereta ini berhenti untuk menunggu rombongan di belakangnya yang tertinggal jauh. Karena tak sabar, saya berjalan melewati rombongan kereta berkuda ini. Ketika sampai pada kereta terakhir, tiba-tiba penonton yang ada di pinggir jalan, berteriak histeris. Ada apa gerangan? Saya jadi penasaran. Rupanya ada gadis cantik berbaju merah muda keluar dari mobil, lalu buru-buru naik kereta paling belakang.


"Titi Kamal, itu Titi Kamal," teriak penonton histeris. Saya baru ngeh, ternyata yang di depan saya adalah bintang film "Mendadak Dangdut" dan si pelantun lagu "Jablay". Buru-buru saya mengarahkan kamera kepada Titi Kamal. Tangan kiri kemudian merogoh kamera digital. Maka jadilah saya "pendekar dua kamera". Tangan kanan kamera video, tangan kiri memegang kamera digital.



Puas mengambil gambar Titi Kamal, saya meneruskan perjalanan terus barat. Dari kejauhan terlihat seorang pria kurus menunggang kuda sendirian. Sementara orang-orang berjalan di belakangnya. Setelah didekati ternyata si penunggang kuda itu adalah Joko Widodo, walikota Solo. Agak serong di belakangnya, ada seorang pria berkumis yang berjalan. Dia adalah pak Rudi, wakil walikota. Meskipun disediakan kuda juga, tapi dia memilih berjalan kaki. Di belakang mereka, ada sejumlah orang berpakaian prajurit.


Setelah rombongan Walikota berlalu, ada jeda yang cukup lama dengan rombongan peserta karnaval batik yang sesungguhnya. Jeda ini hampir mencapai bilangan seperempat jam. Beberapa penonton terlihat mulai pulang. Saya pun jadi bimbang, apakah akan menunggu peserta utama atau pulang. Istri saya sudah menelepon dan memberitahu bahwa anak-anak sudah bosan dan minta pulang [ternyata rombongan paling depan bahkan belum sampai di tempat istri saya menunggu].



Saya hampir saja memutuskan untuk pulang saja, ketika peserta utama mulai terlihat. Semangat saya muncul kembali. Saya sambar kamera video dan kamera digital, kemudian merangsek ke tengah jalan. Dalam hal ini saya salut kepada panitia karnaval ini. Mereka cukup kooperatif dengan para fotografer dan videografer yang ingin mengabadikan peristiwa budaya ini. Sepanjang jalan, saya melihat ada puluhan orang yang menjinjing kamera. Mulai dari kamera saku, kamera HP, kamera digital, sampai dengan kamera untuk profesional.


Memang tak rugi menunggu lebih dari jam. Peserta karnaval tampil secara aktraktif dan cukup meriah. Sungguh sebuah tontonan yang fantastis.



Meski begitu, ada beberapa catatan yang mungkin berguna untuk evaluasi panitia. Bagi fotografer dan kameraperson, arah perjalanan karnaval yang dari barat ke timur ini sungguh tidak menguntungkan. Karena diselenggarakan pada sore hari, ketika matahari ada di sebelah barat, maka para fotografer dan kameraperson ini harus menentang matahari jika ingin mengambil wajah peserta karnaval. Akibatnya, gambar yang dihasilkan memiliki efek siluet. Hanya bayangan saja, sementara wajah peserta tidak kelihatan. Hal ini dapat disiasati dengan menggunakan lampu kilat atau menggunakan reflector sebagai cahaya pengisi. Namun hal ini menghasilkan gambar yang tidak alami dan juga merepotkan si perekam gambar. Alangkah baiknya jika arah perjalanan dibalik saja dari arah timur menuju barat.


Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Kamis, 03 April 2008

Buku Karya Purnawan Kristanto

SECRET BIBLE CODES; 77 Permainan Sandi Alkitab untuk Dipecahkan
Pengarang: Purnawan Kristanto
Penerbit : PBMR Andi
Tahun : 2007
Tebal : 143 halaman

Manusia adalah Homo Ludens (makhluk bermain). Maksudnya seorang pribadi yang ingin bertingkah laku secara bebas karena inti dan arti dari permainan adalah
menyenangkan. Namun permainan yang terdapat dalam buku Secret Bible Code ini mempunyai daya gugah spiritual karena di dalamnya terdapat dua unsur yang bertentangan, yaitu serius dan santai. Serius karena Anda diajak untuk memperhatikan setiap kata dalam Alkitab. Santai karena Anda diajak untuk bermain. Dengan demikian Anda dapat mempelajari Alkitab secara menyenangkan.

Buku ini menyajikan banyak kode rahasia yang membuat Anda tertantang dan penasaran untuk segera memecahkannya. Jika Anda berhasil memecahkannya, di balik kode rahasia itu tersimpan pertanyaan dan soal. Setelah itu, Anda masih harus mencari jawabannya dalam Alkitab. Pertanyaan-pertanyaan dalam kode rahasia ini dibagi dalam enam kelompok, yaitu tokoh, kota, gunung, sungai, tumbuhan dan hewan.

Buku ini sangat bermanfaat untuk menguji pengetahuan Anda tentang Alkitab, memeriahkan acara persekutuan, komsel, KTB da
n Sekolah Minggu. Wujudkanlah diri Anda sebagai makhluk bermain dengan memecahkan setiap kode rahasia itu!

TUHAN YESUS TIDAK TIDUR

Pengarang: Purnawan Kristanto
Penerbit : PBMR Andi
Tahun : 2007
Tebal : 218 halaman

Kecelakaan dan bencana alam yang bertubi-tubi mendera bangsa Indonesia mulai dari kecelakaan pesawat terbang, kapal laut, gempa bumi sampai lumpur Lapindo yang menggoreskan luka mendalam di benak sejumlah korban dan pa

ra penyintas (orang-orang yang selamat dari musibah). Berbagai peristiwa yang mengharu biru, kesaksian akan perlindungan dan keselamatan yang nyata dari Tuhan, dan kesadaran akan keterbatasan manusia di tengah bencana yang dahsyat ini menjadi inspirasi bagi penulis untuk menuliskan permenungan di balik setiap kejadian dan mengambil hikmahnya. Di balik bencana ada hikmah yang bisa dipetik walaupun pahit. Kita sudah selayaknya berserah dalam segala situasi kehidupan yang berubah tiada tentu.

Melalui "Tuhan Yesus tidak Tidur", pembaca diajak menemukan mutiara ilahi di balik kepedihan dan di antara gelimang air mata kesedihan serta keputusasaan. Tidak hanya itu, penulis juga ingin mempersembahkan sekelumit kisah konyol ketika ia berkesempatan menjadi relawan untuk menolong para korban gempa di Yogya

77 Permainan Asyik jilid 1

Pernahkah Anda berpikir bahwa sebuah permainan juga mengandung unsur lain? Anda bisa juga memanfaatkan untuk melatih kerjasama antarpeserta, belajar bagaimana bersaing dengan sehat, menjalin persahabatan serta mengembangkan kepribadian.

Empat kategori permainan dalam buku ini akan membantu Anda untuk:

  1. Memecahkan suasana beku karena para peserta belum saling mengenal.

  2. Membangkitkan kembali semangat peserta yang telah drop

  3. Menguji tingkat pengetahuan peserta tentang Alkitab

  4. Menggairahkan pertemuan dengan permainan ketangkasan.

Di tengah maraknya dunia informasi, acara Sekolah Minggu, Persekutuan Pemuda dan lain-lain dapat tergeser apabila tidak dikemas secara menarik.

Buku akan menambah wawasan Anda untuk memeriahkan acara-acara tersebut.


77 Permainan Asyik 2

Pengarang: Purnawan Kristanto
Penerbit : PBMR Andi
Tahun : 2001

Tebal : 128 halaman

Ketika suasana tidak menyenangkan, terasa kaku dan membosankan, kita

membutuhkan suatu kesegaran baru. Lalu bagaimana cara kita menciptakan kesegaran itu?

Teknik permainan yang kreatif merupakan suatu cara yang dap

at digunakan

untuk menyegarkan kembali suasana seperti itu.

Beraneka permainan mulai dari memecahkan suasana yang kaku sampai permainan yang melibatkan aktivitas fisik dapat Anda temukan dalam buku ini.

77 Permainan Asyik ini Sengaja dikemas bagi Anda yang membutuhkan kesegaran baru.

77 Permainan Asyik Jilid 3

Pengarang: Purnawan Kristanto
Penerbit : PBMR Andi
Tahun : 2003
Tebal : 150 halaman
Pernahkah Anda berpikir bahwa ternyata kartu bekas, kulit telur, sedotan dan lain-lain bisa digunakan untuk permainan?

Nah, “77 Permainan Asyik 3” ini akan mengajak dan memberi isnpirasi Anda dengan bermain-main menggunakan alat yang sangat mudah ditemukan di sekitar Anda.

Semua permainan yang ada dalam buku ini dirancang sebagai kita jitu untuk mencairkan suasana beku; khususnya untuk memeriahkan acara Natal, Paskah,

Tahun Baru, Ulang Tahun, perayann Valentine.

Dengan demikian, acara yang telah Anda rancang pun akan terasa semakin seru!


100 Permainan Asyik

Pengarang: Purnawan Kristanto
Penerbit : PBMR Andi


Seringkali kita kebingungan ketika sedang memimpin sebuah acara, tetapi

suasananya terlihat kaku. Peserta seakan asyik dengan diri mereka sendiori atau mereka tidak bergairah sehingga kita kesulitan menarik perhatian mereka terhadap acara yang kita kemas.

Apakah Anda juga merasa demikian? Jika ya, Anda sebaiknya memilih biku ini karena buku 100 Permainan Asyik ini akan mencairkan kebekuan suasana dengan tiga jenis permainan: Permainan Spontan, Permainan dengan persiapan, permainan yang dirancang untuk tujuan tertentu



Humor Cinta

Pengarang: Purnawan Kristanto
Penerbit : PBMR Andi
Tahun : 2007
Tebal : 103 halaman

Seorang pemuda mendatangi mamanya dengan penuh semangat. Dia memberitahu bahwa sedang jatuh cinta pada seorang gadis. Dia ingin mengenalkan pacarnya itu pada Mamanya. "Supaya asyik, aku akan bawa 3 orang wanita. Nah, saya minta Mama menebak mana yang pacarku."

Mamanya setuju.

Dan betul, hari berikutnya pemuda itu mengajak tiga wanita ke rumahnya. Setelah berbasa-basi sejenak, dia meminta Mamanya mulai menebak.

Dengan cepat Mamanya menebak, "Pasti yang di tengah!"

"Hebat. Bagaimana Mama bisa menebak dengan tepat?"

"Gampang saja. Mama tidak suka yang di tengah itu."



Kehidupan pernikahan ternyata memiliki dinamika yang jauh berbeda dengan kehidupan lajang. Menyelaraskan dua insan dengan riwayat kehidupan masing-masing, bukanlah perkara gampang. Dibutuhkan kesediaan untuk berkorban dan kemampuan berempati di antara kedua pasangan itu.

Meski demikian, kehidupan pernikahan itu juga layak untuk dinikmati. Ada banyak kesenangan yang tidak didapatkan di dalam kehidupan lajang. Pasangan yang dapat menggali dan menikmati kesenangan ini, niscaya dapat melestarikan kehidupan pernikahan mereka.

Di dalam kehidupan pernikahan, humor merupakan alat yang ampuh untuk menciptakan suasana yang menyenangkan. Dengan tertawa bersama, kita dapat mendayung bahtera keluarga dengan kayuhan yang ringan.

Melalui buku ini, pengarang ingin membagikan koleksi humornya. Cobalah membacanya bersama-sama dengan pasangan Anda, maka Anda akan merasakan atmosfir yang menyenangkan. Selamat berbahagia.



Serial Humor Ceria;

Judul:

  1. Ada Waktu untuk Tertawa (68 halaman)

  2. Sekali Lagi Kukatakan: Bersukacitalah (60 halaman)

  3. Tertawa Sehat (76 halaman)

  4. Tuhan Telah Membuat Aky Tertawa (56 halaman)

  5. Hati yang Gembira Membuat Wajah Berseri-seri (56 halaman)

  6. Aku Mau Bersukacita & Bersukaria karena Tuhan (47 halaman)

Pengarang: Purnawan Kristanto
Penerbit : Metanoia Jakarta


Kita seringkali menganggap kerohanian sebagai sesuatu yang serius. Apakah tidak ada sisi-sisi yang lucu dalam kehidupan kekristenan? Apakah tidak ada senyum dan tawa dalam kehidupan kekristenan?

Dalam buku ini penulis menyajikan cerita-cerita humor yang inspirasinya berasal dari tokoh-tokoh dalam Alkitab, dari kehidupan keristenan sehari-hari meupun kehidupan Kristen di dalam gereja.

Dalam buku ini penulis secara tersirat menyampaikan pesan bahwa kehidupan kekristenan juga mengandung senyum, tawa dan humor.

Dapatkan humor-humor yang 100 % rohani ini dalam buku serial "Humor Ceria" ini. Diterbitkan oleh Metanoia Jakarta.


77 Permainan Asyik

Pengarang: Purnawan Kristanto
Penerbit : Metanoia, Jakarta
Tebal : 96 halaman


Seringkali panjangnya acara dalam suatu persekutuan, seminar atau pun acara sejenis lainnya membuat peserta jenuh. Oleh karena itu, buku ini hadir untuk menawarkan kesegaran, membangkitkan semangat, melalui berbagai jenis permainan seru.

Buku ini berisi 77 Permainan yang dapat diaplikasikan dalam berbagai acara. Selain dapat membangkitkan semangat para peserta, mereka pun mendapatkan kesegaran yang baru.


77 Permainan [yang benar-benar] Asyik

Pengarang: Purnawan Kristanto

Tahun: 2007
Penerbit : Metanoia, Jakarta

Tebal : 92 halaman

Kebosanan, kelelahan dan kejenuhan seringkali menghinggapi para peserta acara seminar, persekutuan dan acara-acara yang sejenis. Tidak adanya variasi dan kurangnnya kreativitas dalam menyusun sebuah acaa dapat membuat peserta kurang bersemangat untuk mengikuti acara tersebut.

Mencoba memberikan solusi untuk masalah tersebut, buku ini menawarkan berbagai bentuk permainan asyik yang bisa digunakan sebagai ice breaker dalam persekutuan, seminar, atau acara lainnya. Jenis-jenis permainan yang ada dalam buku ini pun sudah dirancang sedemikian rupa sehingga dapat diterapkan dan dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan acara yang Anda adakan. Peralatan yang dibutukhkan dalam permainan ini pun sederhana dan mudah dibuat atau ditemukan di lingkungan sekitar Anda.

Kiranya buku ini dapat memberikan tambahan kreativitas kepada Anda dalam menyusun suatu acara dan dapat membantu Anda menghilangkan kejenuhan dalam kegiatan-kegiatan yang monoton. Selamat bermain!


Misteri Gerbong Tua

Buku Fiksi untuk Remaja. Pernah memenangkan Juara Harapan III Penulisan Keagamaan tingkat Nasional, jenjang SMP yang diadakan oleh Departeman Agama, RI.


ANGIN malam berhembus semilir mengelus pipi dan telinga Dani. Terasa dingin menyentuh kulit. Tiba-tiba, seluruh bulu kuduk Dani berdiri. Namun begitu, hawa dingin itu seolah tak mampu menghapus titik-titik keringat yang bertebaran di keningnya. Dengan perlahan-lahan Dani menapaki bentangan rel kereta api yang diterangi sinar bulan purnama. Dia menengok ke kanan dan ke kiri. Suasana sangat sepi. Hanya terdengar suara jangkerik dari balik rerumputan. Tidak terlihat ada sosok orang di sekitar tempat itu.

"Mengapa sih aku tadi memilih lewat sini," keluh Dani dalam hati, seolah menyesali keputusannya. Sayangnya, memang hanya itulah jalan pintas terdekat untuk pulang ke kamar kos-nya. Biasanya dia pulang naik bis kota. Tapi hari itu dia kemalaman karena harus mengurus perizinan untuk mengumpulkan bahan tulisan tentang anak-anak jalanan di stasiun Lempuyangan. Padahal jika sudah lewat pukul delapan malam, semua bis kota di Jogja sudah masuk garasi. Tidak ada satu bis pun yang beroperasi. Bis kota baru akan ada pada pukul setengah enam pagi. Kalau sudah begini, dia hanya punya tiga pilihan: naik taksi, naik becak atau jalan kaki. Dani memilih yang terakhir. Alasannya sederhana saja, duitnya sudah cekak alias menipis. Transfer uang dari orang tua yang ada di Kupang baru akan datang sepuluh hari lagi.

Jantung Dani berdegub semakin kencang ketika langkah-langkah kakinya semakin mendekati gerbong tua di belakang gudang semen. Dani sudah sering mendengar cerita seputar gerbong itu. Kata orang-orang, gerbong itu dihuni oleh roh halus. Menurut kabar burung, roh-roh itu adalah para arwah dari penumpang yang tewas ketika gerbong itu bersama rangkaian kereta lainnya bertabrakan di Cirebon tiga tahun lalu. Beberapa orang mengaku pernah melihat penampakan tubuh korban dengan wujud yang mengerikan.

Dani bergidig membayangkan semua itu. Ia berusaha menepis bayangan itu dari pikiranya.

"Mengapa aku harus takut? Toh, semua makhluk di dunia ini adalah ciptaan Tuhan. Kalau aku percaya pada Tuhan, aku tidak akan apa-apa," kata Dani dalam hati, "Tuhan, tolong aku!"

Setelah berdoa, hati Dani mulai tenang. Dia melangkahkan kaki dengan mantap melintas di samping gerbong tua. Dari sudut matanya, dia melihat di bawah gerbong itu ada kemenyan, taburan bunga, dan sisa sesajen dari orang yang mengeramatkan tempat itu. Memang ada beberapa orang yang sering semedi di tempat itu untuk mencari kesaktian. Ada juga yang minta nomor togel. "Ada-ada saja," batin Dani sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Di zaman teknologi yang canggih, masih banyak orang yang percaya pada takhayul, kata Dani lagi.

Semakin mendekati gerbong itu, Dani semakin bisa melihat sosok gerbong itu yang terkesan dingin, angkuh dan suram. Atap gerbong berkilau keperak-perakan ditimpa sinar bulan. Sinarnya menghujam tepat tegak lurus dari langit. Terlihat ada lingkaran besar di langit yang mengelilingi bulan purnama. Dani lalu teringat suatu mitos yang mengatakan kalau terbentuk cincin seperti itu di langit, berarti ada orang yang bunuh diri. "Padahal itu 'kan efek Halo," sanggah Dani dalam hati sambil mengingat pelajaran tentang Astronomi. Meski tahu asal-usulnya, tak urung Dani merasa merinding juga, karena lingkaran itu menciptakan pemandangan yang magis.

Dani lalu menyapukan pandangannya ke dinding gerbong. Kaca-kaca gerbong itu sudah pecah-pecah bekas dilempari oleh tangan-tangan ysng iseng. Cat gerbong juga sudah mengelupas di sana-sini dan kusam, ditimpa coretan cat semprot yang bertuliskan nama-nama geng anak remaja.

Tinggal sepuluh langkah lagi, Dani bisa membelok di ujung gerbong lalu masuk ke gang sebuah kecil. Ujung gang itu langsung sampai di stadion Kridosono. Dari situ dia bisa berjalan lurus ke Utara sampai di simpang empat Korem, kemudian belok kanan masuk ke kampung Sagan. Di situlah dia menyewa kamar kos. Begitulah rencananya.

Dengan setengah berlari, Dani segera berbelok di pojok gerbong. Dia ingin cepat-cepat meninggalkan tempat yang misterius ini.

"Wooooaaaa….!"

Tiba-tiba Dani berteriak keras. Dia hampir saja menabrak sosok manusia. Untuk sesaat lututnya terasa gemetar. Dadanya berdegub kencang. Di hadapannya berdiri seorang pria yang memakai mantel panjang lusuh. Rambutnya yang panjang menyembul di balik topi pelaut yang menutup kedua telinganya. Kumis dan jenggotnya memanjang karena tidak dicukur berhari-hari. Mata pria itu menatap tajam ke arah Dani. Sorot matanya itu setajam jarum jahit yang seolah-olah menghujam tepat di membelah ulu hati Dani. Saat itu, Dani merasa seperti seekor tikus yang sedang terpergok oleh kucing. Dia hanya bisa berdiri mematung, tidak berani bergerak sedikitpun. Untuk beberapa saat, kedua orang itu berdiri berhadap-hadapan tanpa bersuara.

Tiba-tiba pria itu menangkap tangan kanan Dani. Telapak tangan pria itu terasa dingin dan mencekal tangan Dani dengan kuat.

"Hei, ngapain kamu di sini!" hardik pria itu.

Dani ingin menjawab tetapi suaranya tercekat di tenggorokan. Dia menengok kiri -kanan, tetapi tidak ada orang lain di sekitar itu.

"Hey, kamu tuli ya?!!" bentak pria itu lagi.

"Eh…ti…ti…tidak, pak?" jawab Dani tergagap.

"Tidak apa?!!"

"Tidak tuli, pak"

"Kalau tidak tuli, mengapa tidak menjawab pertanyaanku tadi?" bentak pria itu lagi. Suaranya lantang dan menakutkan.

"Eh, anu…saya mau pulang," jawab Dani dengan nada yang bergetar.

"Bohong! Di sini bukan jalan umum. Kamu pasti cari-cari sesuatu di sini," kata pria itu masih dengan suara yang keras. Pria itu semakin kuat menggenggam tangan Dani. Dani berusaha berontak, tapi kalah kuat. Dani lalu melirik ke tangan pria itu. Lengannya memang kokoh dan berotot. Dia merasa bahwa tidak mungkin menyamai kekuatannya. Sekilas Dani melihat bahwa di punggung telapak tangan pria itu ada goresan tattoo bergambar burung hantu.

"Sungguh, pak. Saya tidak bohong. Soalnya di sini ada jalan pintas. Saya mau pulang ke Sagan," jawab Dani dengan setengah menghiba.

"Betul, kamu tidak mencari sesuatu di sini?"

Dani menggelengkan kepalanya cepat-cepat.

Pria itu lalu melepaskan genggamannya, "Ya sudah pulang sana. Tapi jangan berkeliaran lagi di sini, ya! Awas, kalau aku melihat kamu ada di sekitar sini lagi!" Tanpa menunggu perintah yang kedua kalinya, Dani segera berlari meninggalkan tempat itu. Dia menembus kegelapan gang yang menuju stadion Kridosono.

Sesampai di Kridosono, Dani berhenti berlari. Napasnya terengah-engah. Keringat membasahi kaosnya. Dia duduk sebentar di bangku warung bakso yang sudah tutup untuk menenangkan perasaannya. Untung, dia masih menyimpan botol berisi air putih. Dani menenggak langsung dari botolnya, sambil menata degup jantungnya. Setelah agak tenang, dia meneruskan perjalanan pulang menuju ke kos-nya.







Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Rabu, 02 April 2008

Catatan Harian:Gagal Wawancara Walikota

Rabu, 02 April 2007
Hari ini, saya dijadwalkan mengadakan wawancara dengan Herry Zuhdianto, walikota Yogyakarta. Permohonan wawancara sudah disampaikan sebulan yang lalu, tapi baru bisa dipenuhi sekarang. Hasil wawancara akan dimuat dalam situs video www.beoscope.com. Saya lalu mengontak Fidelis Felix untuk menemani wawancara. Saya kurang yakin dengan kamera saya karena beberapa kali ngadat. Jangan sampai untuk wawncara sepenting itu, tiba-tiba kamera video tidak berfungsi normal. Maka rencananya Felix, yang pernah menjadi Camera Person Jogja TV, mengambil gambar close up Walikota, sedangkan saya mengambil gambar panoramik sebagai insert.

Malam harinya saya sudah memulai mengisi baterai kamera secara penuh. Tripod juga sudah disiapkan. Pukul setengah dua belas siang, saya pun meluncur ke Jogja. Mampir sejenak di toko Central untuk membeli 3 buah kaset video Hi-8, kemudian menuju ke balaikota. Saya janjian ketemu Felix di depan pintu masuk. Dia membawa kamera Panasonic yang cukup besar, seri M9000. Dia kalungkan begitu saja di depannya, sementara tripod yang besar digantungkan di pinggangnya. Sedangkan di punggungnya bertengger ransel yang berisi lampu dan baterai kamera. "Wah seperti mau maju perang saja," ledek saya. Sementara bawaan saya cukup kompak. Saya membawa kamera handycam yang masuk dalam tas kamera. Di dalamnya sudah ada kaset, baterai, kamera foto digital dan PDA. Sedangkan cantelan sepeda motor, saya gantungkan tripod kecil.

Bersama-sama kami kemudian berjalan ke bagian protokol. Setelah mengutarakan maksud kedatangan, kami kemudian diantar menuju ruang rapat untuk pengambilan gambar. Ruangan tersebut sangat sederhana, penuh dengan meja dan kursi. Saya agak ragu, apakah ruangan ini layak untuk pengambilan gambar video. Tapi ya sudah. Kami pun segera memasang peralatan kamera. Saya dan Felix segera memasangkan kamera video kami masing-masing ke tripod dan mengatur sudut pengambila gambar.

Pukul satu siang, seorang staf dari Dinas Pariwisata Pemerintah Kota masuk ruangan. Dia kemudian menjelaskan bahwa sudah menyiapkan jawaban-jawaban yang diberikan oleh "pak Kepala". (Dalam surat permohonan, saya sudah melampirkan daftar pertanyaan yang akan diajukan dalam wawancara tersebut). Sampai pukul setengah dua, seperti yang dijanjikan, walikota belum juga muncul. Yang datang malah Kepala Dinas Pariwisata Pemkot. Setelah mengobrol selama sekitar 15 menit, seorang staf perempuan memberitahu bahwa sampai saat ini Walikota belum selesai mengikuti Sertijab (Serah terima jabatan) di sebuah instansi. Jadi dia tidak bisa diwawancara. Maka sebagai gantinya, Walikota menunjuk Kepala Dinas Pariwisata Pemkot Yogja untuk melayani wawancara.

Semangat saya langsung melorot tajam. Memang yang lebih kompeten menjawab pertanyaan yang saya ajukan adalah Kepala Dinas Pariwisata karena semuanya berkaitan dengan kepariwisataan. Meski begitu dalam dunia jurnalistik ada adagium: "Name make news"---orang yang ternama itu memiliki nilai berita yang tinggi. Nilai berita wawancara dengan walikota lebih bernilai tinggi daripada dengan stafnya. Tapi apa boleh buat, wawancara saya lakukan selama kurang dari 10 menit.

Usai wawancara, kami naik sepeda motor beriringan ke kontrakan Felix di Nglempongsari (sebelah utara monumen Jogja Kembali). Di langit, mendung bergelayut sangat berat. Tanmpaknya bakal segera tercurah. Meski belum hujan, kami putuskan memakai jas hujan. Ini melindungi kamera dari air hujan, terutama kamera Felix karena tidak dimasukkan ke dalam wadahnya sama sekali. Benar juga, sampai di kawasan UGM, hujan turun sangat lebat. Hanya dalam hitungan menit, jalan-jalan di seputar UGM sudah tergenang sampai mata kaki (Ini peringatan awal bagi kota Jogja. Pada zaman saya kuliah dulu, tidak ada cerita jalan tergenang oleh air hujan, selebat apapun hujan tercurah).

Sampai di simpang empat mBarek atau depan pos polisi Bulaksumur, kami terhalang oleh genangan air setinggi sekitar 20 cm. Tampaknya air dari selokan Mataram meluber ke jalan. Tidak ada pilihan lain, saya menerjang genangan air itu. Untuk menerjang banjir ada triknya. Caranya, persneling diturunkan dan gas ditarik agak kuat. Selain itu, sebaiknya mengekor dengan jarak dekat pada mobil yang ada di depan kita. Ban mobil akan menyibakkan air ke samping, sehingga permukaan air menjadi lebih rendah.

Felix agak teringgal di belakang. Rupanya dia hampir terpeleset di genangan air ini. Saat menyusuri jalan Kaliurang, hujan semakin lebat. Sampai di lampu merah Kethungan, kami berbelok ke kiri, menyusuri ringroad utara. Ketika sampai di tikungan Plemburan, kami dihadang genangan air lagi. Kali ini genangannya cukup panjang. Tampaknya drainase di jalan ini kurang berfungsi baik. Kami berjalan di jalur lambat. Sementara itu di jalur cepat, air juga tergenang. Akibatnya, berkali-kali kami disembur air oleh karena mobil yang melaju kencang di samping kami. Sialan!!!

Sampai di rumah kontrakan Felix, hujan belum reda. Celana saya basah kuyup. Sepatu dan kaos kaki juga dipenuhi air. Untunglah kamera video tetap terlindung kering. Setelah hujan reda, pukul 16.10 saya pamitan pulang. Sampai di Maguwo, mampir sejenak di warung bakso "Mas Kribo" untuk makan siang.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Selasa, 01 April 2008

Kesaksian Pdt. Iwan Kosasih (Part 1)

Pada acara Reuni, dalam rangka HUT ke-40 GKI Klaten, pdt. Iwan Kosasih dari Australia menyampaikan kesaksiannya yang sangat indah.
Berikut bagian pertama dari kesaksiannya


Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More