Kamis, 20 Maret 2008

Hanas: Tangan yang Tak Kelihatan

Dalam panggung politik, kita mengenal istilah "tangan-tangan yang tak kelihatan" yaitu sebuah kondisi yang menunjukkan sosok yang sangat berpengaruh besar, tapi bermain di belakang layar. Orang ini memiliki pengaruh dan kekuasaan yang sangat besar, sehingga mampu menekan penguasa yang sedang menjabat untuk memenuhi keinginnya.

Dalam kitab Perjanjian Baru, kita menemukan tokoh yang sesuai dengan gambaran seperti itu, yaitu Hanas. Pernahkah Anda bertanya dalam hati, mengapa setelah Yesus ditangkap di taman Getsemane, Dia dibawa menghadap Hanas? Padahal jabatan Imam Besar saat itu dipegang oleh Kayafas. Siapakah Hanas itu?

Hanas adalah anak Set. Menurut OLB Lexicon-Greek, nama Hanas berarti "rendah hati." Menurut Westcott and Hort, Hanas adalah nama Yunani untuk "chanan" (bahasa Ibrani). Artinya adalah "murah hati" dan "ramah". Sedangkan menurut Ensiklopedi Perjanjian Baru, Hanas memiliki padanan kata Hananya yang berarti "Tuhan telah berbelas kasihan."

Akan tetapi perilaku sehari-hari Hanas justru bertolak belakang dengan makna namanya yang sangat indah. Debut Hanas di bidang politik dan keagamaan dimulai pada usia 37 tahun saat diangkat menjadi Imam Besar oleh Sulpicius Quirinus, Gubernur Siria (tahun 6 M). Dia menggantikan Yoasar.

Setelah menjabat kurang lebih sepuluh tahun, jabatannya dicopot oleh Velerius Gratus yang menjabat prokurator Yudea, pada awal pemerintahan kaisar Tiberius. Jabatan Imam Besar dialihkan kepada Ismail bin Fabi. Tak lama kemudian, wangsa Hanas berhasil mendapatkan kembali jabatan ini. Kali ini dijabat oleh Eliezer, anaknya (kemungkinan sama dengan Aleksander dalam Kisah 4:6). Namun hal ini tidak berlangsung lama karena kursi Imam Besar kemudian diduduki oleh Simon, anak Kamithus. Kelihaian Hanas kembali terbukti dengan mendudukan anggota keluarganya kepada jabatan Imam Besar, tahun 18 M. Kali ini yang menjabat adalah Kayafas, anak menantunya.

Pada masa jabatan Kayafas ini, Yesus memulai dan mengakhiri masa pelayanan-Nya yang singkat di dunia. Ketika konspirasi antara pemuka agama dan Yudas berhasil menangkap Yesus, mereka lebih dulu menghadapkan tawanan mereka itu kepada Hanas. Ini sungguh ganjil karena yang menjabat Imam Besar pada saat itu adalah Kayafas. Namun mereka malah menggelandang Yesus ke hadapan ayah mertua Kayafas, yaitu Hanas.

Di sini, Hanas melakukan penyelidikan pendahuluan sebelum mengirimkannya kepada Kayafas. Peristiwa pemeriksaan ini hanya tercatat dalam kitab Yohanes. Sedangkan Injil Sipnotik lainnya tidak menyebutkan peristiwa ini. Kemungkinan besar karena para penulis Injil Sipnotik menganggap bahwa pemeriksaan ini hanya bersifat informal, jadi meraka merasa tidak perlu mencatatnya. Pemeriksaan awal dilakukan untuk mengumpulkan bukti-bukti yang akan dipakai dalam pengadilan yang formal(Yoh. 18:13-14).

Sekalipun itu hanya pemeriksaan informal, namun di sinilah titik awal yang menentukan arah seluruh proses selanjutnya. Sebab sesudah diinterogasi oleh Hanas, Kayafas hanya tinggal mengajukan permohonan resmi kepada Pilatus, supaya Yesus dihukum mati.

*****

Pemeriksaan yang dilakukan oleh Hanas menunjukkan betapa kuat pengaruh kekuasaan yang dimiliki oleh Hanas. Indikasi kekuatan Hanas yang lain berupa penyebutan namanya, yang mendahului nama Kayafas, pejabat resmi Imam Besar.

"Pada waktu Hanas dan Kayafas menjadi Imam Besar, datanglah firman Allah kepada Yohanes, anak Zakharia, di padang gurun" (Lukas 3:2).

"Dengan Imam Besar Hanas dan Kayafas, Yohanes dan Aleksander dan semua orang lain yang termasuk keturunan Imam Besar" (Kisah 4:6).

Beberapa ahli menganalisis, mekipun pemerintah Romawi hanya mengakui Kayafas sebagai Imam Besar yang resmi, namun Hanas karena pengaruh pribadinya yang kuat mampu mengambil bagian kekuasaan secara praktis. Hanas memiliki pengalaman, kemampuan dan kekuatan karakter yang mampu melampui kekuasaan resmi Kayafas. Secara de jure, jabatan dipegang oleh Kayafas, tetapi secara de facto, praksis kekuasaan dijalankan oleh mertuanya. Kayafas hanya menjadi boneka Hanas.

Sumber kekuasaan Hanas lainnya adalah dari tradisi Yahudi. Menurut hukum Musa jabatan Imam Besar jabatan seumur hidup. Sekalipun Hanas tidak menjabat Imam Besar secara resmi, namun masyarakat tetap mengakuinya sebagai "Imam Besar."

Sejarahwan Yahudi, Yosephus melukiskan karakter yang dimiliki oleh Hanas ini. Sebagaimana umumnya kaum aristokrat Saduki,Hanas memiliki sifat yang arogan, cerdik, ambisius dan kaya. Dia dan keluarganya sangat dikenal kemaruk alias tamak.

Sumber kekayaannya ini berasal dari hasil perdagangan hewan korban untuk bait Allah, seperti domba, merpati, anggur dan minyak. Anak-anaknya mendirikan "perusahaan" yang memegang monopoli perdagangan hewan korban. Mereka telah merampok uang rakyat, karena mematok harga yang terlalu tinggi. Itu sebabnya Yesus menjadi murka dan mengobrak-abrik pasar hewan tersebut. Yesus marah karena mereka telah menjadikan rumah doa sebagai sarang penyamun, sebuah tempat untuk mengeruk keuntungan pribadi.Kitab Talmud malah menuliskan kutukan terhadap keluarga Hanas, "Celakalah keluarga Hanas! Celakalah hai ular beludak" (Pes 57a).

"Rumah Hanas", yang sangat kaya dan tidak bermoral itu, dikutuk di dalam Talmud, sebagai "pemimpin para imam yang korup", yang kehadirannya telah mencemari tempat suci (Edersheim, Life and Times of Jesus the Messiah I, 263 f.).

*****

Kelihaian Hanas dalam bidang politik keagamaan tidak hanya berhenti pada Kayafas saja. Setelah anak menantunya itu, Hanas berhasil menempatkan keempat anak laki-lakinya yang lain sebagai Imam Besar. Masing-masing adalah:

Yonatan (tahun 36–37 dan 44)

Teofilus (tahun 37–41)

Matias (tahun 43)

Hanas II bin Hanas (tahun 63)

Yosephus menulis: "Banyak orang mengatakan bahwa imam besar Hanas adalah orang yang sangat kaya. Dia memiliki lima anak laki-laki, yang selain dirinya, juga menjabat Imam Besar dalam periode waktu yang lama, sebuah hal yang belum pernah terjadi dalam jabatan Imam Besar kita." " (Jewish Antiquities XX, 9.1)

Dari sejarah diketahui bahwa semasa berkuasanya wangsa Hanas, umat Kristen kehilangan tokoh-tokohnya yang penting. Wangsa Hanas tampaknya sangat membenci Yesus dan para pengikut-Nya. Setelah Yesus, umat Kristen kehilangan Stefanus (martir pertama). Hanas, yang saat itu menjabat pimpinan Sanhedrim, hadir untuk mengadili Petrus dan Yohanes (Kis. 4:6).

Namun dia tidak sempat melihat anaknya yang kelima, Hanas II, menjabat Imam Besar karena keburu meninggal.Hanas yunior ini yang menghukum mati Yakobus, saudara Yesus, dengan dirajam dengan batu sampai mati.

Dari sejarah pula kita dapat belajar bahwa nafsu terhadap kekuasaan dan kekayaan dapat membutakan hati nurani manusia. Meskipun dalam pekerjaan dan jabatannya, Hanas dekat sekali dengan nilai-nilai moral dan religi, tapi hal itu tidak dijadikannya penuntun dalam kehidupannya. Dia justru memilih cara-cara yang tak bermoral. Dia bahkan menggunakan jalan kekerasan untuk menghalau orang-orang yang menghalangi jalan untuk melanggengkan kekuasaannya.

Namun kita mendapat pelajaran juga bahwa tindakan seperti itu tidak akan pernah langgeng. Kekuasaan, harta dan kehormatan akan berlalu. Semua hal yang kelihatan di dunia ini hanya bersifat semu. Semuanya akan lenyap sebagaimana rumput kering. Akan tetap iman dan keyakinan akan abadi. Kekerasan tidak akan pernah dapat memadamkan keyakinan dan iman seseorang. Meski mendapat represi yang dahsyat tetapi para pengikut Kristus tetap meyakini iman mereka. Api Injil ini akan terus merambat dan membakar dunia. Mungkin untuk sesaat, api itu dapat dipadamkan, tapi api itu pasti muncul lagi. Kalau tidak di tempat tersebut dapat dipadamkan, tapi api itu pasti akan muncul di tempat lain. Ini akan berlanjut hingga mencapai ujung dunia.

Referensi:

Easton's Revised Bible Dictionary

Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Yayasan Komunikasi Bina Kasih /OMF)

International Standard Bible Encyclopedia

Smith's Revised Bible Dictionary

Stefan Leks, tafsir Injil Matius, Tafsir Sipnotik, Kanisius

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Senin, 17 Maret 2008

Catatan Harian: Kirana Alergi

Senin, 17 Maret 2008
Semalam, saya dan isteri menghadiri pesta pernikahan salah satu anggota jemaat di Diamond Covention Hall, Solo. Sebenarnya, kami tidak ada niat pergi ke sana, sebab dik Anggie harus memimpin ibadah sampai pukul enam sore. Padahal acaranya dimulai pukul tujuh malam. Namun mempelai pria jauh-jauh hari telah berkali-kali berpesan: "Datang ke pesta pernikahan kami, ya. Terlambat tidak apa-apa. Pokoknya kami tunggu, sampai jam berapa pun." Ya sudah, akhirnya kami pinjam mobil gereja. Sampai di sana, pukul setengah delapan, acara sudah dimulai.
Pesta ini bernauansa kebudayaan Tionghoa. Menggunakan cara Peng Cu. Setiap tamu diatur duduk melingkar meja bundar. Setiap meja terdiri dari delapan kursi. Karena datang terlambat, kami mendapat tempat duduk di belakang. Kami cukup nyaman karena tidak menjadi pusat perhatian. Acara pernikahan berlangsung meriah dan megah. Masakan yang dihidangkan cukup ekslusif. Sayangnya, ada satu jenis makanan yang "haram" bagi saya, yaitu udang, karena saya alergi binatang ini. Terpaksa deh saya hanya bisa menyaksikan isteri saya menyantap udang. Hidangan penutupnya adalah es krim, yang dibungkus menggunakan alumunium foil. Saya langsung teringat anak di rumah. Dengan menempuh risiko malu, saya ambil dua potong es krim berbentuk balok, saya bungkus pakai tisu, setelah seeetttt....masuk kantong celana. He..he...he...demi anak, malu pun nggak apa-apa.
Keesokan harinya, ternyata santapan udang ini berbuntut panjang. Karena isteri saya masih menyusui Kirana, anak kami, ternyata ASI-nya juga mengandung protein udang. Tubuh Kirana muncul bintik-bintik merah akibat alergi udang, yang berasal dari ASI mamanya.
Pagi tadi saya menyelesaikan laporan pelaksanaan program pemutaran film boneka untuk IDEP. Namun pekerjaan tidak segera selesai karena harus disambi momong Kirana. Mamanya ngantor di gereja, sementara pembantu rumah tangga sibuk membersihkan rumah. Akhirnya, saya yang ketiban sampur mengasuh anak.
Ketika akan ngeprint, saya baru ingat bahwa kertas HVS habis. Saya keluar sebentar membeli kertas satu rim. Lumayan mendapat diskon 15 %. Mumpun ada di luar rumah, sekalian saja saya potong rambut yang sudah agak gondrong. Tiga Minggu lalu, Agus Permadi menggoda saya, "Sudah memasuki perayaan Paskah. Potong tuh rambutmu."
"Memangnya kenapa?" tanya saya.
"Kalau gondrog, nanti kami dikira Yesus dan disalib" katanya sambil tertawa.
Usai potong rambut, saya ngeprint laporan dan mengeposkan ke kantor pos. Setelah itu istirahat sebentar. Sorenya, ada janjian dengan Guru-guru Sekolah Minggu untuk menengok salah satu Guru Sekolah Minggu yang baru saja melahirkan. Janjian pukul enam sore, tapi molor sampai setengah jam. Kebiasaan ini yang tidak saya sukai pada GSM di GKI Klaten. Mereka selalu datang terlambat. Paling tidak 15 menit sesudah jam yang disepakati.
Pulang dari 'njagong' bayi, kami sekalian mampir di warung mbak Cindhil untuk memesan makan malam. Hari ini, tidak memasak di rumah.
Sampai di rumah, Kirana sebenarnya sudah ngantuk. Tapi agak rewel. Nangisnya kenceng banget. Itu biasanya karena keinginannya tidak segera dipenuhi. Dia pingin menyusu, tapi Mamanya tidak segare tanggap. Akhirnya dia ngambek.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Rabu, 12 Maret 2008

Catatan Harian:Melayat ke Gumulan

Rabu, 12 Maret 2008
Bu Marni, pembantu kami, tidak masuk kerja karena sedang sakit Flu. Mungkin dia ketularan kami, yang lebih dulu terkena flu. Jadinya, hari ini sangat repot. Kirana belum mendapatkan mbak yang momong dia. Biasanya kalau kami ada kegiatan di luar, ya dititipkan bu Marni. Kalau sudah begitu, pekerjaan mengurus rumah tangga dia tinggalkan.
Padahal hari ini ada layatan di salah satu anggota jemaat kami. Yang meninggal memang bukan anggota jemaat di gereja kami. Tapi salah satu anggota keluarganya adalah anggota jemaat gereja kami. Kirana kami titipkan pada mbak Yayuk, penjaga kolportase gereja. Pukul setengah satu, kami berangkat. Sampai di sana, upacara penghiburan sudah dimulai, dipimpin pdt. Wiwik Wulandari dari GKJ Gumulan.
Usai melayat, perut lapar sekali. Pagi belum sempat sarapan karena banyak pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Sampai di rumah, kami langsung meluncur ke "Tenda Biru", sebuah warung kaki lima yang menjual masakan sayur dan lauk-pauk. Kalau tidak masak, kami biasa membeli makanan di sini.
Pulangnya, kami mampir ke rumah mbak Yayuk untuk menjemput Kirana. Tapi rumahnya terkunci. Kata tetangga, Kirana dan mbak Yayuk sedang bobo' siang. Ya sudah, kami tinggal pulang. Nanti habis makan siang, kami jemput lagi.
Usai malan siang, dik Anggie pamitan akan membeli bahan kain untuk baju, sekalian menjemput Kirana. Saya di rumah, menyelesaikan pekerjaan yang masih menumpuk.
Sore hari, saya mendapat tugas mengambil gambar video acara Persekutuan Pasangan Suami Isteri yang diadakan oleh Komisi Dewasa. Pembicaranya pnt. Hadyan Tanwikrama (capen GKI Gejayan). Tetapi satu jam sebelum "jam main", hujan turun deras sekali. Sudah lima hari ini hujang mengguyur kota kami dengan hebat. Wah, apa ada yang berangkat nih, pikir saya.
Tepat pukul enam sore, sesuai undangan, hujan berhenti. Pengurus Komisi Dewasa sudah siap. Tapi hingga pukul 18:20, pak Hadyan belum nongol juga. Pak Risditya Chandra mulai gelisah. Dia menanyakan nomor telepon pak Hadyan pada saya. Saya harus pulang ke Pastori dulu, soalnya Hp saya ada di rumah. Namun ketika saya kembali ke gedung narwastu, tempat persekutuan, pak Hadyan sudah muncul bersama isteri dan anaknya.
Mungkin karena hujan, Pasutri yang datang tidak banyak. Tidak lebih dari sepuluh pasangan. Ada juga jemaat yang datang sendiri, tanpa pasangannya. Kebanyakan jemaat perempuan.
Kirana kami ajak ke persekutuan tersebut. Sepanjang acara berlangsung, dia selalu minta kerupuk udang, yang tersedia di meja belakang. Paling tidak, dia sudah makan 3 keping. Padahal dia sedang batuk dan alergi udang. Tapi supaya nggak rewel, terpaksa deh kami turuti kemauannya.
Sampai di rumahnya, mamanya Kirana sudah mengantuk dan kecapekan. Dia pingin segera tidur, tapi Kirana masih ingin ditemani bermain-main. Akibatnya, Mamanya menjadi jengkel dan agak marah. Saya kemudian yang menemani dia bermain. Pukul setengah sebelas, Kirana sudah tidur. Saya pun segera ikut tidur karena juga sudah mengantuk dan kecapekan.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Selasa, 11 Maret 2008

Catatan Harian: Kesal pada Kospin Asli Motor

Selasa, 11 Maret 2008
Pagi ini, bu Tanti menagih rancangan permainan untuk acara Paskah Bersama SD dan SMP Kristen. Duh, padahal belum dikerjakan. Terpaksa saya buru-buru mengerjakannya. Setelah itu mengurus Deposito yang ada di Kospin. Sebenarnya sudah jatuh tempo tanggal 8 Maret, tapi baru hari ini bisa mengurus. Rencananya, kami ingin mempepanjang, bahkan menambahi jumlah uang yang akan dideposito.
Namun kami kaget karena ternyata kami kena denda 1 persen. Alasannya, kami telat mengurus deposito. Padahal dulu mereka sudah berjanji akan menelepon kami jika deposito sudah jatuh tempo untuk menanyakan apakah akan terus atau tidak. Tapi ternyata mereka tidak menelepon. Alasannya, nomor telepon yang kami berikan telah hilang. Saya jadi jengkel, "Berarti kalian yang tidak profesional, tapi kami yang harus menanggung kerugian." Yang semakin bikin kami jengkel adalah mereka menjanjikan bunga 13% tahun. Hal ini sudah ditulis dalam tanda terima. Tapi dalam perhitungan bunga, mereka hanya memberikan bunga 12%. Ketika kami tanyakan, mereka beralasan bahwa bunga yang diberikan terlalu tinggi. Maka mereka menurunkan tanpa memberitahu kami. Wah, ini namanya mau menang sendiri. Sudah kerjanya tidak profesional, mereka seenaknya sendiri menurunkan bunga.
Maka kami putuskan untuk membatalkan menambah deposito di Kospin Asli Klaten. Sebagai konsumen, saya nerasa tidak puas.
Selesai urusan dengan Asli Motor, kami pergi ke tukang sol sepatu untuk ambil sepatu sandal saya yang diservis di sana. Sampai di rumah, saya segera ambil kaset video dan transfer kaset menggunakan komputer gereja. Transfer hampir selesai, hujan turun sangat deras. Menunggu hujan reda, saya tidur sebentar di bangku panjang gereja.
Pukul enam, ada rapat Panitia Paskah di gereja. Tumben, rapat kali ini bisa selesai lebih cepat. Pukul setengah delapan malam rapat sudah usai.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Catatan Harian: Wawancara dengan Pakar Bambu


Senin, 10 Maret 2008
Pukul sembilan saya punya janjian untuk mewawancarai pak Morisco, pakar konstruksi bambu,dari UGM. Pukul tujuh, saya sudah siap-siap, tapi baru ingat kalau STNK sepeda motor masih diurus mas Ari untuk perpanjangan. Saya telepon gereja, tapi tidak diangkat. Mungkin sedang doa pagi.
Pukul delapan kurang sedikit, saya telepon gereja, tapi mas Ari sudah pergi. Katanya, hari ini baru akan diurus.
Saya jadi bingung. Apakah harus naik bis atau nekat pergi tanpa membawa STNK? Kalau naik bis umum, saya perhitungkan waktunya tidak cukup. Maka saya ambil keputusan untuk nekat pergi tanpa membawa STNK. Kalau nanti dihadang razia, ya pasrah saja.
Untunglah, sampai ke Jogja, tidak ada razia surat-surat kendaraan. Sesampai di kampus Fakultas Teknik, saya sempat tanya sana-sini, sebelum menemukan Lab Struktur, Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan. Saya punya janjian mewawancarai bapak Morisco.
Dalam wawancara itu, pak Morisco cerita bahwa ketertarikannya pada bambu sebenarnya tidak sengaja. Waktu itu dia mendapat bantuan alat laboratorium untuk menguji kekuatan baja. Salah satu syarat untuk menerima bantuan itu adalah melakukan pengujian menggunakan alat yang baru datang. Akan tetapi, dia tidak punya cukup dana untuk mengadakan baja sebagai bahan untuk pengujian. Maka dia memutuskan untuk mengganti baja dengan bambu. Akan tetapi penemuannya justru mengejutkan. Ternyata kekuatan bambu melebihi kekuatan baja.
Dari situlah, dia kemudian menciptakan konstruksi jembatan menggunakan bahan dari bambu. Setelah di uji, jembatan dari bambu ini mampu menahan empat mobil sekaligus, atau sekitar empat ton. Dari sini, dia kemudian mengembangkan kontsruksi rumah tahan gempa, menggunakan bahan dari bambu. Yang menarik lagi, dia juga mengembangkan papan laminasi dari bambu. Ternyata bambu dapat dibuat seperti papan-papan kayu sehingga dapat dibuat berbagai mebel.
Malamnya, saya bersama isteri dan anak membeli susu di Matahari. Pulangnya, kami mampir di alun-alun untuk membeli wedhang ronde dan jagung bakar.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Catatan Harian: Ke Boyolali

9 Maret 2008
Pukul setengah enam pagi, Kirana sudah ditinggal mamanya pergi ke Boyolali. Dik Anggie harus melayani kebaktian di GKI Boyolali. Maka menjadi tugasku untuk mengurus Kirana. Pukul setengah tujuh, Kirana sudah bangun. Dia minta kue wijen, kemudian bermain-main sepeda di ruang depan.
Pukul delapan, Kirana mengajak ke kamar untuk menonton VCD Bambi. Di kamar kami memang diletakkan TV 14" dan player DVD. Biasanya, Kirana minta diputar film bambi atau cerita boneka sebelum tidur. Pagi itu, sambil berbaring dia menonton film Bambi. Lama-lama ketiduran lagi.
Pukul sembilan, Kirana belum juga bangun. Padahal di ruang depan, anak-anak seusianya sudah datang. Mereka mau ikut acara Sekolah Minggu kelas Kana. Kelas ini untuk anak-anak Balita. Tempatnya memang di rumah pastori. Karena belum bangun, maka Kirana tidak ikut Sekolah Minggu.
Pukul setengah sepuluh, Mamanya sudah pulang dari Boyolali. Kirana ikut bangun.
Siangnya, Kirana bermain ke rumah temannya. Sampai sore, dia belum juga. Maka saya putuskan untuk ikut isteri ke Boyolali. Dia harus melayani lagi kebaktian sore di GKI Boyolali. Kami diantar dengan mobil gereja, disopiri koh Yanuar. Sepanjang jalan, hujan turun sangat deras. Air hujan melimpah menggenangi jalan sampai 10 cm.
Sampai di Boyolali, belum ada satu jemaat pun yang datang. Ternyata, untuk kebaktian sore memang tidak banyak jemaat yang datang. Di luar majelis dan pelayan kebaktian, jemaat yang datang berjumlah kurang dari 10 orang.
Pulang ke Klaten, hujan masih turun, tapi cuma gerimis. Sampai di Klaten, kami putuskan untuk jajan dulu. Kami ingin mencoba Bakso Bakar yang baru saja buka di Sangkal Putung. Pengunjungnya ramai, kami harus antre untuk memesan bakso bakar. Mungkin karena masih baru, sehingga banyak orang yang penasaran. Di sini, pengunjung bebas mengambil sendiri jenis bakso yang diingini. Tapi untuk bakso bakar, harus menunggu giliran baksonya dibakar. Kami sudah menghabiskan semangkok bakso yang biasa, tapi pesanan bakso bakarnya tak kunjung datang. Akhirnya, kami putuskan untuk membungkus bakso bakar dan membawanya pulang sebagai oleh-oleh. Secara pribadi, aku tidak terkesan dengan jenis masakan ini. Tidak ada hal yang istimewa yang dapat membuatku ingin datang lagi ke sana.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Rabu, 05 Maret 2008

Kena Gempa, Gereja di Pesu Belum Bisa Dibangun

Angin semilir dari persawahan menghembusi jemaat Kristen di desa Pesu, kecamatan Wedi, kecamatan Klaten. Sudah hampir dua tahun mereka beribadah di bawah tenda darurat. Gedung gereja mereka roboh digoyang gempa, tanggal 27 Mei 2007. Hingga kini, izin untuk membangun gedung gereja belum dikeluarkan oleh pemerintah kabupaten Klaten.
Desa Pesu termasuk di dalam wilayah kerusakan terparah akibat gempa di kabupaten Klaten. Di desa ini saja ada 36 orang yang meninggal dunia dan ratusan luka-luka parah. Lebih dari 90 persen rumah roboh atau harus dirobohkan karena rusak parah. Sumanto (52 tahun) dan keluarganya merasa beruntung tidak menjadi korban gempa. Padahal saat itu isterinya sedang tergolek lemah di rumah usai menjalani operasi batu ginjal. Ketika goncangan terjadi, Sumanto harus memilih antara menyelamatkan diri atau menemani isterinya. Putri bungsunya, Oki Devi (14 tahun) sedang memberi makan ayam di luar rumah.
"Saya memanggil Oki masuk ke dalam kamar," kenang Sumanto. Pikirnya, jika memang harus mati, biarlah mereka mati bersama-sama. "Tanah bergoyang-goyang keras sekali. Kami bertiga hanya bisa berdoa sekuat tenaga, 'Tuhan jika Engkau berkehendak memanggil saat ini, kami sudah siap. Tapi kalau boleh, selamatkanlah kami." Lalu terdengar gemuruh bangunan-bangunan yang roboh.
Rumah Sumanto tidak roboh, tapi retak-retak parah. Begitu goncangan berhenti, Sumanto bergegas membopong isterinya keluar dan membaringkannya di bawah pohon. Setelah itu, ia membantu tetangga-tetangganya yang terjepit balok kayu dan potongan tembok. "Saya ikut menggendong para korban ke pinggir jalan supaya bisa diangkut ke rumah sakit," papar tukang kayu ini.
Menjelang siang, warga berkumpul di sebidang tanah kosong. Mereka masih terkesima dan belum tahu harus berbuat apa. Sumanto mengambil inisiatif membuka dapur umum. Dia mengumpulkan bahan makanan yang tersisa dan dimasak untuk makan siang. Pukul satu siang, bantuan dari Gerakan Kemanusiaan Indonesia yang berbasis di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Klaten menyalurkan bantuan logistik, tenda dan lampu.




Gereja Roboh
Gereja GKI Klaten bakal jemaat Pesu, tempat Sumanto beribadah juga roboh. Tapi setelah puing-puing dibersihkan, keesokan hari sudah dapat dipakai untuk kebaktian hari Minggu. Suasana ibadah sangat mengharukan karena jemaat hanya beralaskan tikar dan beratap langit. Di luar hari Minggu, lokasi gereja itu digunakan sebagai klinik kesehatan darurat dan posko penyaluran logistik.
Pihak gereja memutuskan tidak akan buru-buru membangun kembali gedung gereja yang roboh. Dana bantuan yang mengalir melalui melalui gereja digunakan untuk membantu warga sekitar membangun kembali rumah-rumah yang roboh dan rusak parah. Memanfaatkan sisa-sisa bangunan, gereja dan warga bersama-sama membangun rumah inti (core house) berukuran 21 m2. Hingga bulan Februari 2008, gereja sudah membangun lebih dari 2500 rumah inti.
Sumanto juga mendapatkan bantuan untuk memperbaiki rumahnya. Meskipun tidak roboh, tapi akhirnya rumahnya harus dirobohkan juga karena tidak memenuhi syarat keamanan. "Selama setahun saya tidak bisa bekerja. Saya harus membangun rumah kami lagi," kata ayah tiga anak perempuan ini. Lalu darimana ia mendapatkan uang? "Saya mengandalkan bantuan dari pemerintah, dermawan dan kiriman anak saya yang bekerja di Malaysia. Saya juga pinjam uang dari sana-sini," kata Sumanto. "Saya yakin ini adalah campur tangan dari Tuhan. Kalau bukan karya Tuhan, mana mungkin ada orang yang mau memberi pinjaman kepada pengangguran," jelas Sumanto dengan suara bergetar. Sekarang Sumanto sudah bisa bekerja lagi sebagai tukang kayu. Dia mendapat pesanan membuat daun pintu dari kayu.




Menunggu Izin
Setelah tidak ada warga sekitar yang masih tinggal di bawah tenda, maka gereja memutuskan saatnya membangun gedung gereja kembali. Bulan Oktober 2007, mereka mengajukan izin ke pemerintah kabupaten, disertai syarat lengkap seperti dalam ketentuan peraturan. Namun pada saat yang sama, ada sebagian warga yang menentang keberadaan gereja. Akibatnya, izin itu belum dikeluarkan sampai sekarang.
Berlarut-larutnya pemberian izin ini sangat disesalkan oleh Sumanto. "Setiap orang 'kan punya hak untuk beribadah sesuai keyakinan masing-masing," kata Sumanto. Dia juga menyesalkan sikap warga yang menentang gereja. "Mereka mau menerima bantuan dari gereja, tapi mengapa mereka tidak mau mengizinkan kami beribadah di tempat yang layak?"sesal Sumanto. Meski begitu, dia bersyukur karena masih bisa beribadah, walau di tenda darurat. "Yang beribadah itu 'kan jiwa dan rohnya. Gereja bukanlah gedungnya,"katanya sambil mengutip lagu Sekolah Minggu.
Sampai saat ini, berkas permohonan izin ini mendeg di meja FKUB. Alasannya, para anggota FKUB sangat sibuk oleh kegiatan agama masing-masing sehingga belum sempat mengadakan pertemuan untuk membahas berkas permohonan izin pendirian tempat ibadah. Ini artinya Sumanto dan jemaat di sekitarnya masih harus beribadah di bangunan darurat.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Catatan harian:Meliput Tamansari

Kamis, 06 Maret 2008

Pagi-pagi saya sudah mengerjakan video klip tentang Lazarus yang diminta Agus Permadi. Sedianya akan digunakan untuk pengajaran Sekolah Minggu. Saya mengambil dari film Gospel John. Ketika sedang asyik mengedit, datanglah pak Tukijo. Bapak ini dulu pernah meminjam uang 300 ribu. Konon, katanya untuk menebus jenazah anaknya dari Rumah Sakit karena mati kegigit ular. Dia datang untuk mohon maaf karena belum bisa membayar hutang. Aku bilang, ya nggak apa-apa. Kami malah sudah lupa kalau memberi hutang. Pada dasarnya, dulu waktu meminjamkan uang kepadanya memang tidak berharap uangnya pasti akan kembali. Dikembalikan ya syukur, nggak balik juga nggak apa. Hitung-hitung untuk menolong orang lain.

Baru saja meraih mouse komputer, bu Tanti menelepon. Dia mengingatkan tugas saya untuk memimpin acara Paskah Bersama di SD dan SMP Kristen. Dia juga menginfromasikan bahwa pesertanya ada 200-an anak-anak. Duh..dengan jumlah sebanyak itu, saya diharapkan menyampaikan Firman Tuhan, tapi dengan metode kelompok.

Usai mengerjakan video klip, saya segera mandi. Usai mandi, kak Debby sudah datang untuk mengambil video klip. Pada saat yang bersamaan, pak Bambang juga datang untuk mengembalikan tiga buku pinjamannya. Dia meminjam satu buku lain.

Pukul sebelas, saya mengeluarkan sepeda motor. Ada banyak yang harus dikerjakan hari ini. Pertama, mengeposkan surat ke walikota Solo. Setelah itu, mengantarkan surat ke bupati Klaten. Saya serahkan pada pos Satpol PP. Kemudian meluncur langsung ke Jogja. Tujuannya adalah balaikota di Timoho untuk mengantar surat ke Walikota Jogja. Semua surat isinya permohonan wawancara.

Urusan surat beres, maka giliran berikutnya urusan perut. Di rumah tidak sempat mengisi perut karena saat mau sarapan, nasi di magij jar berubah jadi kuning berbau busuk. Akhir-akhir ini, magic jar kami mengalami masalah. Nasi yang di dalamnya tidak dapat bertahan lama.

Saya pilih makan kupat tahu di selatan stadion Mandala Krida. Setelah perut kenyang, saya mampir sejenak di kantor Lembaga Konsumen Yogyakarta yang ada di dekat situ. Ngobrol-ngobrol santai dengan mbak Prih dan mbak Nanik.

Sekitar pukul satu, meluncur lagi ke Alun-alun. Tujuannya adalah Jogja Gallery, yang dulu pernah jadi bioskop Soboharsono. Ada pameran lukisan di situ. Saya ingin mengambil gambar video untuk diunggah ke situs beoscope. Sambutan staf di sana cukup baik dan kooperatif.

Berikutnya berkendara ke Tamansari. Di sana saya juga mengadakan liputan untuk situs yang sama. Tiket masuk Rp. 2.500,-; tiket foto Rp. 2.000,-; parkir Rp.1.000,- Sebenarnya masih ada dua tempat wisata di dekat situ, yaitu sumur gumuling dan masjid bawah tanah. Tapi saya putuskan untuk pulang saja karena sudah ngantuk dan capek. Soalnya, malamnya begadang sampai pukul 3 pagi. Padahal saya baru saja sembuh dari sakit flu.

Sebelum pulang, saya mampir dulu di warnet wilayah Mrican. Ada tiga video klip yang harus diunggah. Pukul empat keluar dari warnet, cuaca mendung. Sampai di bandara, hujan mulai turun. Kehujanan sampai di Klaten.

Sampai di rumah, segera mandi air hangat, makan dan tidur sebentar. Mumpung tidak diganggu Kirana...he...he...he.. Satu jam kemudian, Kirana sudah duduk di samping tempat tidur. Ya sudah deh, harus mengikuti segala kemauannya. Mamanya ada rapat Pleno. Maka, saya harus jadi teman bermainnya. Mulai dari nonton VCD Bambi, menggambar, main sepeda sampai memakaikan pampers dan menggantikan baju yang basah karena keringat. Pukul setengah sebelas malam, mamanya baru pulang.

Sebelum tidur, Kirana rewel sejenak karena tangannya merasa gatal.

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

It Was Bahana Office Magazine

Inilah DAPUR REDAKSI BAHANA. Kalau saya mengatakan "Dapur" saya tidak sedang menggunakan bahasa kiasan karena tempatnya memang ada diapur rumah pemilik majalah ini (Tapi pemiliknya sudah pindah ke rumah lain).
Di situ terlihat Kwan Men Yon, seorang mahasiswa magang. Kemudian muncul gambar Yudi sedang mendesain majalah. Giliran berikutnya, pak Xavier terlihat sedang bekerja,....eh tidak ding, sedang SMS-an. Untung saja tidak ketahuan Personalia.
Sari juga terekam. Dia sedang menggunakan komputer saya. Setelah itu dia gantian memakai komputer Yudi. Begitulah Sari. Dia suka ngrusuhi komputer orang lain...he...he...he bercanda. Jangan marah ya Sari.
Sekarangs emuanya hanya kenangan indah

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Komsel Jomblo

Dulu, di Yayasan Andi pernah ada Kelompok Sel yang khusus untuk karyawan yang masih bujangan. Inilah salah satu dokumentasinya. Di situ terlihat ada Sari, Felix, Anung, Filipus, Tumirin, Yudi, Krisna dan saya sendiri. Sebenarnya masih ada anggota lain yang tidak kelihatan, yaitu Sulis.
Sekarang semua itu tinggal kenangan karena Yayasan ANDI sudah dilikuidasi. Selain itu, anggotanya juga sudah padha menikah kecuali Krisna dan Yudi. Entah bagaimana dengan Filipus, apakah sudah menikah atau belum.


Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Selasa, 04 Maret 2008

Jurnalisme yang Membawa Damai

“Berbahagialah orang yang membawa damai di antara manusia; Allah akan mengaku mereka sebagai anak-anak-Nya
Dalam ilmu junalistik, unsur konflik merupakan salah satu kriteria suatu peristiwa layak diberitakan. Setiap hari kita disuguhi berita-berita yang mengandung konflik seperti peperangan, pertikaian kelompok, kerusuhan, saling hujat, penganiayaan dan sebaginya. Memang dalam menyajikannya, para jurnalis sedapat mungkin mengikuti kaidah jurnalistik seperti keberimbangan, obyektifitas, akurasi, faktual, dan sebagainya. Akan tetapi ternyata peliputan konflik dengan kaidah jurnalistik klasik ini tidak tepat. Mengapa? Karena justru melestarikan konflik.
Teori jurnalistik klasik mengajarkan bahwa tugas para jurnalis adalah “melaporkan fakta apa adanya.” Fungsi pers semata-mata menjadi cermin atas realitas dalam masyarakat. Namun dalam dunia yang semakin peka media (a media-savy world) ini, banyak orang yang mahir mengemas fakta untuk dijadikan bahan berita oleh jurnalis. Kelompok-kelompok yang bertikai sudah itu menyadari pentingnya strategi bermedia dalam memperjuangkan kepentingan mereka.
Padahal fakta-fakta yang disodorkan oleh suatu kelompok yang diberitakan oleh jurnalis ini akan menyulut reaksi kelompok lain. Dengan dalih menggunakan hak jawab, kelompok lain akan menanggapi berita yang dianggap “merugikan” kelompoknya. Demikian seterusnya sehingga media terjebak dalam “lingkaran reaksi” (feedback of loop). Media menjadi sarana tarik-menarik kepentingan pihak-pihak yang bertikai. Berdasarkan hal ini, kemudian muncul pertanyaan etis: “Apa yang bisa dilakukan oleh pers dalam memutus lingkaran setan ini dan mendukung terjadinya perdamaian?” Media tidak boleh hanya menonton saja, tetapi harus berbuat sesuatu dalam mendukung upaya perdamaian. Kegelisahan para jurnalis ini menghantarkan mereka pada paradigma alternatif, yaitu jurnalisme perdamaian.

Sumber Konflik
Dalam berbagai liputan selama ini kata “konflik” sering diasosiasikan dengan “kekerasan.” Padahal keduanya berbeda. Konflik bisa bermakna positif dan konstruktif apabila dikelola secara efektif dan beradab. Menurut Peter du Toit, konflik bisa terjadi karena adanya perebutan sumber-sumber yang terbatas, stereotype, ketiadaan dialog, ketidak-percayaan, hal yang tidak terselesaikan di masa lalu, kekuasaan yang tidak terbagi rata atau tiadanya penghargaan di antara kelompok masyarakat.
Konflik selalu ada. Manusia hidup selalu berkonflik. Konflik ada di alam dan hadir dalam kehidypan manusia. Konflik selalu mempunyai dua sisi, yaitu risiko dan peluang. Konflik dapat menciptakan energi yang bersifat destruktif, tetapi bisa juga kreatif. Ibarat gesekan, konflik dapat menimbulkan api yang melalap semua yang berharga tetapi, juga bisa menghasilkan bentuk batu yang indah.
Yang menjadi persoalan adalah bagaimana masyarakat menyelesaikan konflik itu. Dalam berbagai konflik yang diliput jurnalis, seringkali penyelesainnya mengarah ke hasil menang-kalah (win-lose solution). Dalam penyelesaian ini, ada kelompok yang lebih diuntungkan dibandingkan kelompok yang lain. Memang untuk sementara upaya ini bisa menghentikan pertikaian, tapi sebenarnya seperti menyimpan bara dalam timbunan sekam. Sebab pihak yang dirugikan menunggu kesempatan untuk membalas lagi. Dalam pendekatan ini, perdamaian = kemenangan + genjatan senjata.
Inilah yang disebut Johan Galtung (1998) sebagai jurnalisme perang. Jurnalisme perang, kata Galtung cenderung terfokus pada kekerasan sebagai penyebabnya dan enggan menggali asal-usul strutural sebuah konflik itu secara mendalam. Jurnalisme perang terlampau terkonsentrasi pada efek-efek yang terlihat, seperti korban tewas atau terluka, kerusakan material yang kelihatan, bukan kerusakan psikologis, struktur atau budaya.
Jurnalisme perang mereduksi pihak-pihak yang berkonflik menjadi dua dalam polarisasi “lawan-kawan.” Mereka cenderung menjelek-jelekkan pihak “lawan” dan mengangungkan pihak “kawan.” Bukankah pendekatan ini juga banyak kita temui dalam media Kristen? Apalagi akhir-akhir ini, ada banyak orang Kristen dan gereja yang mengalami penganiayaan. Dalam menulis berita perusakan gereja, misalnya, jurnalis Kristen lebih menonjolkan tingkat kerusakan yang kelihatan atau jumlah korban yang ada. Pemberitaan seperti ini tidak akan pernah mencerdaskan pembaca (orang Kristen) karena hanya memuaskan selera keingin-tahuan. Yang terjadi justru lestarinya prasangka orang Kristen terhadap kelomppok-kelompok yang dianggap menentang kekristenan di tanah air ini.

Jurnalisme Perdamaian
Sebagai antitesis dari jurnalisme perang, hadirlah Jurnalisme Perdamaian. Apa itu jurnalisme perdamaian? Menurut Annabel McGoldrick dan Jake Lynch (2000), Jurnalisme Perdamaian (JP) melaporkan suatu kejadian dengan bingkai yang lebih luas, yang lebih berimbang dan lebih akurat, yang didasarkan pada informasi tentang konflik dan perubahan-perubahan yang terjadi. Tugas utamanya adalah memetakan konflik, mengidentifikas pihak-pihak yang terlibat, dan menganalisis tujuan-tujuan mereka. Pendekatan JP adalah memberikan jalan baru bagi pihak-pihak yang bertikai untuk menyelesaikan konflik secara kreatif dan tidak memakai jalan kekerasan. Prinsip ini disederhanakan dengan rumus Perdamaian= Non-kekerasan + kreatifitas.
Dalam JP, penyelesaian konflik yang dipakai adalah pendekatan menang-menang (win-win soluttion) dengan memperbanyak alternatif-alternatif penyelesaian konflik. Dalam hal ini peran pers menurut Abdul Razak dalam Jurnal Pers Indonesia (no.4/1997) adalah menggambarkan situasi dan merumuskan realitas. Rumusan ini mempengaruhi persepsi, reaksi dan pilihan solusi. Pers bukan sekadar media penyampai informasi, melainkan juga membangun debat publik yang sehat tentang kepentingan umum. Peran pers di sini adalah dengan merumuskan (1)masalah, (2)penyebab, (3)alternatif penyelesaian, (4)evaluasi alternatif, (5)pilihan alternatif tebaik, (6)sistem dan mekanisme pelaksanaan, (7) evaluasi dan feedback.
Dengan strategi menelusuri akar konflik ini, para jurnalis berusaha menghindari menyalahkan salah satu pihak sebagai penyebab konflik. Yang mereka lakukan adalah dengan memaparkan masalah yang sebenarnya, dampak yang telah ditimbulkannya, lalu menawarkan alternatif penyelesaiannya.

Peluang Media Kristen

Memang untuk mewujudkan JP ini bukan pekerjaan yang mudah, bahkan cenderung rumit. Bagaimana tidak, sebab di sini berita-berita lempang (straight news) saja tidak cukup. Untuk menjelaskan dan menelusuri urat-urat konflik memerlukan waktu yang lebih lama dan ruang yang lebih banyak. Dalam jurnalistik bentuk tulisan seperti ini dinamakan jurnalisme interpretatif.
Padahal dalam tingkat persaingan antar media yang sengit sekarang ini, setiap media harus bisa “berteriak” mengatasi media-media lain. Caranya bermacam-macam. Bisa dengan penyajian yang lebih cepat, sudut pemberitaan (news angle) yang menarik, perwajahan yang ciamik dan judul-judul yang sensansional. Bagi media Kristiani yang kebanyakan kristiani terbit bulanan, rentang waktu yang lama ini dapat menjadi peluan untuk menerapkan prinsip JP. Pengelola media kristiani punya kesempatan banyak untuk menyiapkan reportase yang analistis, holistik dan tajam.
Memang tulisan-tulisan seperti ini kalah laris dibandingkan dengan berita-beriuta sensansional yang terdapat dalam tabloid. Namun situasi konflik yang melibatkan sebagian umat Kristen, pendekatan JP masih (atau semakin) relevan dalam membawa suara-suara kenabian. Sikap ini yang diambil wartawan Kompas, Maria Hartiningsih:” Setiap jurnalis mempunyai ideologi, demikian juga saya. Ideologi saya adalah memberi sumbangan pada perdamaian dan keadilan …Yang mendorong saya untuk berbuat sesuatu dalam tugas jurnalistik saya, yaitu ketika saya melihat banyak orang tidak bersalah yang jadi korban. Terutama kaum perempuan dan anak-anak itu telah memberi semangat saya untuk memberi sumbangan pada proses rekonsiliasi di negeri ini.” Berbahagialah jurnalis yang membawa damai.

Tulisan ini memenangkan juara II dalam lomba penulisan yang digelar oleh majalah "Genta Kelana", Bandung
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Catatan Harian:Susah Tidur

Rabu, 05 Maret 2008
Setelah klenger selama tiga hari karena disergap flu, malam ini saya malah tidak bisa tidur sampai jam dua pagi. Ampun, deh. Sudah glebag sana, glebag sini, tapi rasa kantuk itu enggan juga mampir. Padahal kata dokter, saya tidak boleh begadang karena liver saya sudah mulai protes. Menurut hasil uji lab, nilai SGOT dan SGPT sudah melampau ambang batas normal.
“Mas Wawan jangan terlalu capek dan jangan begadang,” saran dokter Hendro,”untuk memperkuat fungsi hati, cobalah untuk meminum temulawak dan vitamin B.” Saya ikuti neasehatnya. Mula-mula, saya membeli serbuk temulawak instan, tapi saya merasa bahwa kandungannya kurang nendang. Maka saya membeli pil ekstrak temulawak. Tapi kok ya belum sreg rasanya. Maka saya minta tolong pembantu saya untuk membeli irisan temulawak, kayu manis dan adas pulowaras di pasar tradisional. Semuanya direbus jadi satu memakai periuk tanah. Setelah itu diminum airnya. Rasanya pahit campur getir karena nir campuran gula. Tapi demi sehat, saya rela meminum setiap hari.
Hari ini Kirana, tidur agak sorean. Pukul sembilan malam dia sudah tidur. Mungkin karena siangnya tidak tidur siang dan rewel melulu. Sudah berminggu-minggu Kirana selalu tidur malam. Paling tidak di atas pukul sepuluh malam. Bahkan pernah baru terlelap menjelang pukul satu pagi. Ini membuat mamanya sebel karena mau tak mau harus menemaninya ‘begadang’. Padahal mamanya Kirana sebenarnya sudah ngantuk karena kecapekan.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Berkisah Memakai Kamera



Ada ungkapan, gambar dan foto bisa mewakili lebih dari seribu kata-kata. Ketika akhirnya Soeharto tunduk pada kemauan IMF, sua-sana ini terekam dengan apik pada saat penanda-tanganan MOU. Soe-harto terlihat sedang menandatangi berkas MOU dengan posisi menunduk, sementara pejabat IMF mengawasi di belakang sambil melipat tangan di dadanya.
Demikianlah, begitu vitalnya foto bagi penerbitan pers. Coba ba-yangkan betapa menjemukannya sebuah koran yang tidak dihiasi foto sama sekali. Lebih jauh lagi, fungsinya tidak sekadar mempermanis penampilan saja, tetapi juga mengisi kekurangan yang tidak bisa diisi oleh jurnalisme kata-kata. Semua berita yang ditulis jurnalis di dasar-kan atas kemampuan otak untuk merekam dan merekonstruksi suatu peritiwa. Dengan cara ini, jurnalis tidak bisa sepenuhnya obyektif karena ia sendiri tidak bisa lepas dari pengaruh nilai-nilai yang di-yakininya. Selain itu kemampuan manusia untuk mengingat fakta juga ada batasnya. Apalagi harus mengingat puluhan fakta dalam waktu singkat.
Foto sanggup menyajikan fakta secara relatif lebih realistik dan obyektif. Foto sanggup membuat pembaca percaya bahwa suatu peristiwa benar-benar terjadi. Dalam fotografi jurnalistik, masalah yang mendasar adalah bagaimana sebuah foto dapat melukiskan dan merekam sebuah peristiwa secara tepat. Nilai foto berita terletak pada sejauh mana foto itu menggugah minat khalayak banyak. Kare-nanya, foto berita harus memiliki kemampuan konseptual dan ketram-pilan teknis. Pengetahuan konseptual berkaitan dengan isi (picture content). Sedangkan ketrampilan, berkaitan dengan penyajian teknis yang matang.

Foto yang Berkisah
Inti dari foto berita ialah kemampuan mengabadikan unsur cerita dan sanggup mengisahkan cerita dengan baik. Seperti diketahui, dalam berita harus mengandung unsur 5 W + 1 H. Apabila semua un-sur ini terpenuhi, sebenarnya berita itu sudah memenuhi syarat mini-mal. Namun yang namanya naluri manusia, selalu saja ingin tahu ke-lanjutan sebuah berita. Berbagai pertanyaan muncul di benak pem-baca yang berusaha membayangkan kelanjutan berita itu. Imajinasi pun berkembang sesuai penafsiran masing-masing, hingga terjadi ket-idak-pastian. Dengan hadirnya foto yang merekam peristiwa apa adanya, maka berakhirlah segala fantasi itu. Hanya dengan memasang foto gedung federal di Oklahoma city yang ‘krowak’ (menganga) separo akibat ledakan bom yang dipasang Timothy McVeigh, pem-baca bisa membayangkan kedahsyatan kekuatan bom itu. Foto jurnal-istik hadir melengkapi unsur How dalam sebuah berita.
Teknik-teknik yang terdapat dalam fotografi bisa kita pakai untuk memberi tekanan tertentu pada sebuah peristiwa. Misalnya untuk menggambarkan gerak, kita bisa memakai teknik panning (dengan speed rendah kamera mengikuti gerakan subyek) atau blur (dengan speed rendah, kamera tidak bergerak). Untuk menangkap momen-momen dramatis, kita bisa memakai kecepatan rana yang tinggi.
Dalam ilmu jurnalistik, ada dua macam peristiwa: pertama peristiwa yang dapat terjadi tanpa diduga. Kedua, peristiwa yang terencana. Untuk yang pertama, orang yang kebetulan berada di tempat kejadian dengan membawa kamera, -meskipun bukan seorang jurnalis-, ia bisa membuat foto jurnalistik. Meskipun secara teknis ti-dak memuaskan, namun karena ia beruntung berada di tempat ke-jadian pada waktu yang tepat, nilai fotonya bernilai tinggi. Ketika truk tangki BBM terbakar hebat yang menyebabkam kerangka baja jem-batan Krasak meleleh, kebetulan ada pemilik studio foto yang berhasil memotret kejadian itu. Hasil jepretannya menjadi satu-satunya foto yang dipajang di hampir semua koran di Indonesia.
Sedangkan untuk peristiwa yang terencana, seorang jurnalis foto punya kesempatan untuk mempersiapkan peralatan fottonya. Misal-kan saja, dia berencana meliput kongres di sebuah gedung dengan pencahayaan kurang. Sebelum berangkat, dia mestinya sudah mem-bawa film berkecepatan tinggi, lampu blitz berkekuatan besar, tripod dan lensa dengan bukaan diafragma lebar. Dengan persiapan yang matang, hasilnya relatif lebih memuaskan.
Jurnalis juga bisa meminta susunan acara pada panitia sehingga ia bisa memperkirakan momentum yang bernilai jurnalistik tinggi. Dia pun bisa mengamati dituasi tempat pertemuan supaya mendapat sudut pengambilan (angle) foto yang bagus.

Foto Potret
Termasuk dalam kategori pertistiwa yang terencana ini adalah janjian wawancara dengan nara sumber. Di sini, foto jurnalistik digu-nakan untuk menampilkan sosok nara sumber yang diwawancarai. Ini yang disebut foto potret. Sosok yang dipajang bukan sekedar foto pose (karena terlihat dingin, kaku dan datar), melainkan gambaran ekspresi yang alami. Untuk mendapatkannya biasanya digunakan teknik candid camera (kamera tersembunyi), yaitu memotret tanpa disadari oleh subyek foto. Namun dalam wawancara hal ini sulit dila-kukan karena nara sumber jelas sudah menyadari kehadiran sang fotografer. Untuk itu, trik yang biasa dilakukan adalah dengan wawancara oleh dua jurnalis. Jurnalis pertama bertugas mengajukan pertanyaan dan mengalihkan perhatian nara sumber, sementara jur-nalis lainnya berkonsentrasi mengatur dan membidikkan kamera.
Sebelum melakukan pemotertan, si jurnalis sebaiknya lebih dulu mempelajari latar belakang nara sumber. Misalnya kebiasaan dia, sisi menariknya yang perlu ditonjolkan, hobinya, ciri tubuh yang khas dsbnya. Dengan demikian ia mepersiapkan konsep pemotretan sejak awal. Bila ia ingin menonjolkan wajah dan bentuk kepala dengan head shoot (misalnya karena sang tokoh punya kerut-kertut yang eksotis), jurnalis itu harus memasang lesa tele. Namun jika ia ingin menampi-lakn orang lengkap dengan atmosfer kerjanya, ia bisa memakai lensa sudut lebar.
Kesalahan yang biasa terjadi pada fotografi potret atau close up ini adalah terjadinya mata merah (red eye). Setelah dicetak, mata or-ang yang kita potret ternyata terlihat memancarkan api berwarna merah. Hal ini terjadi karena mata orang itu memantulkan sinar blitz yang datang tepat dari arah mukanya. Untuk menhindari hal ini cara yang ditempuh adalah dengan memotret dari samping, memakai ca-haya pengisi (fill in) atau dengan memantulkan sinar lampu kilat ke samping (bouncing). Cara yang terakhir ini lebih praktis. Selain itu juga menciptakan kesan tiga dimensi.

Komposisi
Foto yang secara teknis memenuhi syarat, belum tentu menarik perhatian orang. Foto yang baik tidak cukup hanya tepat pencaha-yaan atau gambarnya tajam, tetapi juga bagaimana pengaturan kom-posisi foto.
Komposisi adalah rangkaian elemen gambar dalam suatu format. Komposisi yang bagus menimbulkan kesan yang mengigit dan ber-dampak kuat. Dalam hal ini kita perlu meminjam ilmu dari seni rupa. Berikut ini dasar-dasar komposisi:
• Dalil 1/3 Bagian
Foto yang berkomposisi kuat adalah foto yang tidak terlalu ban-yak memasukkan subyek foto. Satu subyek saja sudah dapat menarik perhatian asalkan ditempatkan dengan tepat. Menurut ilmu kom-posisi, umumnya subyek akan lebih menarik jika tidak diletakkan di pusat gambar.
Buatlah dua garis imajiner masing-masing secara vertikal dan horizontal, yang membagi bidang gambar menjadi 3 bagian (lihat gambar). Menurut dalil 1/3 bagian (Rule of third) dengan menempat-kan subyek pada titik perpotongan garis-garis itu, gambar menjadi le-bih menarik. Dalil ini juga dapat digunakan untuk menempatkan garis cakrawala (horizon).

• Garis
Garis adalah elemen gambar yang paling mendasar. Garis dapat memimbing mata ke pusat perhatian gambar. Misalnya jalan, pagar, atau tepi pantai. Seringkali garis pembimbing ini berbentuk huruf S dan C untuk menimbulkan kesan manis. Garis horizontal menunjuk-kan kesan stabil atau tenang, sedangkan vertikal menunjukkan suatu gerakan. Hindarilah garis utama yang membagi bidang dua sama be-sar atau membimbing mata ke luar bingkai gambar.



• Kedalaman (dimensi)
Pada dasarnya foto adalah bidang 2 dimensi. Tetapi kita dapat menimbulkan elemen kedalaman yang menimbulkan kesan 3 dimensi. Dengan kata lain, kita menimbulkan ilusi jarak, menciptakan ruang yang sebenarnya tidak ada dalam bidang gambar. Hal ini dapat dici-trakan dengan garis-garis yang bertambah sempit. Misalnya jalan raya atau rel KA, obyek yang bertautan, perbedaan ukuran dimensi, obyek yang jauh terlihat lebih kecil daripada yang dekat dsbnya.
• Keseimbangan
Keseimbangan formal dihasilkan bila obyek dengan ukuran/berat visual sama ditempatkan di setiap sisi gambar, atau subyek utama berada di pusat gambar. Dalam fotografi seringkali digunakan keseim-bangan non-formal untuk keseimbangan visual. Misalnya dua obyek kecil dipakai untuk mengimbangi obyek yang besar.
• Irama
Komposisi yang baik mempunyai kesatuan. Ini dapat diperkuat dengan irama yang berbentuk pengulangan garis, tekstur, bentuk, dan warna dalam gambar. Misalnya pola jendela, teras sawah, dan gelom-bang lautan. Tetapi pola ini membosankan jika tidak terdapat point of intererest.
• Latar Belakang
Ketika meotret, jangan hanya terpau pada subyek utama. Per-hatikan juga latar belakangnya. Mengapa? Latar belakang bisa meru-sak gambar. Mata Anda bisa memfokuskan pada subyek utama dan ti-dak menghiraukan latar belakang yang ramai. Tetapi kamera tidak. Contohnya, tiang listrik ada tepat di belakang kepala, sehingga seakan-akan tiang itu tumbuh dari dalam kepalanya. Dengan mengge-ser sedikit akan mengatasi problem itu.
Latar belakang yang menggangu juga dapat dihindari dengan mendekati subyek. Cara lainnya dengan penyinaran dari belakang un-tuk memisahkan subyek dari latar belakang. Langit, rumah, air dan pasir sangat ideal menjadi latar belakang.
• Pembingkaian (framing)
Bidang terang akan menarik perhatian mata. Tetapi bidang ter-ang yang ada di bagian atas atau tepi gambar akan mengalihkan per-hatian dari subyek utama. Untuk itu perlu dilakukan pembingkaian. Misalnya bila langit putih polos, kita dapat menyertakan ranting pohon di bagian tepi untuk menjadi bingkai.
• Sudut pengambilan (Angle)
Masalah terakhir supaya mencapai foto yang berkesan adalah sudut pengambilan foto (angle). Sering kita melihat foto lebih menarik setelah diambil dengan angle yang tidak lazim. Bagaimana mencari angle yang unik? Ada tiga angle dalam fotografi:
• Eye level Viewing: sudut pengambilan gambar seperti mata manusia melihat. Dalam angle ini tidak banyak keunikannya. Jika memutuskan memakai angle ini, maka subyek foto sendiri haruslah sudah unik dan menarik.
• Bird Eye Viewing: Sudut pengambilan dari atas. Angle ini ibarat burung terbang yang melihat ke bawah. Keunikannya dapat memberi kesan luas dan obyek terihat kecil. Angle ini tepat dipakai untuk mo-tret orang yang sedang bertelut berdoa sehingga seolah-olah Tuhan memandang mereka.
• Low Angle: Sudut pengambilan foto dengan jongkok atau duduk.
• Frog Eye : Sudut pengambilan foto dengan meletakkan kamera di tanah. Si pemotrert harus (maaf) menungging atau tengkurap un-tuk bisa memotret. Dua teknik yang terakhir dipakai untuk menimbul-kan kesan tinggi, besar dan agung.
Akhirnya, supaya bisa membuat foto yang menarik sekaligus bernilai berita tinggi tidak bisa diciptakan secara sekejap tau dengan mengucapkan “sim salabim abrakadabra”. Meskipun kadang-kadang membutuhkan faktor keberuntungan, namun yang lebih berpengaruh adalah soal jam terbang fotografer. Semakin sering ia melakukan pemotretan, kepekaan jurnalistik semakin terasah. Orang yang beruntung mendapat momentum langka sekalipun, kalau hidung jur-nalisnya tidak sensitif, dia tidak bisa membuat foto yang bernilai berita
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Susah Tidur

Catatan Harian: Rabu, 05 Maret 2008

Setelah klenger selama tiga hari karena disergap flu, malam ini saya malah tidak bisa tidur sampai jam dua pagi. Ampun, deh. Sudah glebag sana, glebag sini, tapi rasa kantuk itu enggan juga mampir. Padahal kata dokter, saya tidak boleh begadang karena liver saya sudah mulai protes. Menurut hasil uji lab, nilai SGOT dan SGPT sudah melampau ambang batas normal.

"Mas Wawan jangan terlalu capek dan jangan begadang," saran dokter Hendro,"untuk memperkuat fungsi hati, cobalah untuk meminum temulawak dan vitamin B." Saya ikuti neasehatnya. Mula-mula, saya membeli serbuk temulawak instan, tapi saya merasa bahwa kandungannya kurang nendang. Maka saya membeli pil ekstrak temulawak. Tapi kok ya belum sreg rasanya. Maka saya minta tolong pembantu saya untuk membeli irisan temulawak, kayu manis dan adas pulowaras di pasar tradisional. Semuanya direbus jadi satu memakai periuk tanah. Setelah itu diminum airnya. Rasanya pahit campur getir karena nir campuran gula. Tapi demi sehat, saya rela meminum setiap hari.

Hari ini Kirana, tidur agak sorean. Pukul sembilan malam dia sudah tidur. Mungkin karena siangnya tidak tidur siang dan rewel melulu. Sudah berminggu-minggu Kirana selalu tidur malam. Paling tidak di atas pukul sepuluh malam. Bahkan pernah baru terlelap menjelang pukul satu pagi. Ini membuat mamanya sebel karena mau tak mau harus menemaninya 'begadang'. Padahal mamanya Kirana sebenarnya sudah ngantuk karena kecapekan.

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More