Rabu, 27 Februari 2008

Menulis untuk Media Gereja itu Sulit



Sudah ada banyak tulisan tentang dunia kepenulisan, yang menyatakan bahwa menulis atau mengarang itu gampang. Tapi menurut saya, menulis untuk media gereja itu sulit. Hal ini didasarkan pada analisis terhadap karakteristik pembaca media ini.


Ada teori ilmu komunikasi bahwa jika kita ingin berhasil dalam berkomunikasi, maka kita harus memperhatikan pikiran dan karakteristik khalayak yang akan menerima pesan kita. Kita tidak mungkin menyampaikan teori relativitas kepada anak balita. Sebaliknya, jangan pernah mengajarkan abjad A-B-C-D kepada profesor bidang bahasa. Jika menghendaki pesan kita dipahami dengan benar, maka kita harus mengemas pesan tersebut sesuai dengan pikiran dan karakteristik pihak yang akan menerima pesan pesan kita (disebut komunikan). Karakteristik komunikan terbangun atas demografi, gaya hidup dan kepribadian. Sedangkan pikiran komunikan terdiri dari tiga komponen, yaitu persepsi, sikap dan kebutuhan.

Dengan menggunakan parameter ini, marilah kita menganilisis pembaca media di gereja. Berdasarkan pengamatan penulis, sebagian besar media intra gereja diterbitkan oleh gereja-gereja yang berada di kota. Alasannya, gereja-gereja di kota memiliki sumber daya yang memungkinkan untuk penerbitan, seperti komputer, printer, kamera, percetakan, biaya, tenaga pelaksana dll. Sementara itu, bagi gereja yang berlokasi di pedesaan,--selain karena keterbatasan dana--, mereka relatif belum memerlukan media massa, karena masih terjalin keeratan hubungan pribadi di antara anggota jemaat.

Lalu bagaimana dengan karakteristik pembaca media intra gereja di perkotaan? Anggota jemaat di perkotaan biasanya memiliki waktu yang sangat terbatas. Untuk jemaat di kota besar, bahkan lebih banyak waktu yang tersita untuk kemacetan di jalan raya dan mencari tempat parkir dibandingkan waktu untuk beribadah itu sendiri. Hari Minggu juga dipakai untuk kesempatan berkumpul di antara anggota keluarga. Ada juga yang ingin menggunakan hari libur ini untuk istirahat sepuas-puasnya setelah bekerja keras selama 5-6 hari. Maka biasanya, anggota jemaat enggan berlama-lama berada di gereja. Setengah jam usai ibadah, lingkungan gereja biasanya sudah lengang. Apalagi jika gereja tersebut menyelenggarakan lebih dari empat kali kebaktian. Anggota jemaat dipaksa untuk segera meninggalkan gereja karena pengunjung untuk ‘jam main’ berikutnya sudah berdatangan.

Hal demikian turut mempengaruhi perilaku anggota jemaat dalam menggunakan media intra gereja. Media intra gereja, biasanya dibagikan di gereja sebelum atau sesudah ibadah. Jemaat tidak mungkin membaca media tersebut di gereja karena harus mengikuti ibadah [walau kadang ada juga yang sembunyi-sembunyi membaca terutama jika khotbahnya kepanjangan dan membosankan].

Ketika media intra gereja dibawa pulang ke rumah, maka media ini harus bertarung dengan berbagai stimulus lain untuk menarik minat anggota jemaat. Pulang dari gereja, perhatian anggota jemaat biasanya sudah disibukkan dengan kegiatan apa yang akan dilakukan selanjutnya. Apakah pergi ke mal, rekreasi, bersanjang ke sanak saudara atau di rumah saja. Jika tidak cukup menarik dan bermafaat bagi anggota jemaat, maka nasib media intra gereja berujung di tempat sampah atau pasar loak.

Untuk menghindari nasib tragis ini, maka sebaiknya pengelola media intra gereja memahami fungsi dasar dari media massa. Jika fungsi ini diemban dengan benar, maka media tersebut akan diterima oleh khalayak. Fungsi dasar media massa ada empat yaitu: informasi, edukasi, persuasi dan hiburan. Pada era persaingan bebas saat ini, tidak ada media yang menjalankan keempat fungsi ini secara berimbang. Ada yang memutuskan untuk menonjolkan fungsi informasi, ada yang dominan menjalankan fungsi hiburan dan seterusnya.

Supaya dapat diterima oleh khayalak, maka media intra gereja harus menetapkan positioning-nya terhadap media-media yang sudah ada. Perlu disadari bahwa media intra gereja memiliki pesaing yang tidak ringan. Pesaingnya itu dikelola secara profesional dan dukungan modal yang besar. Persaingan ini dalam bentuk memperebutkan atensi atau minat khalayak. Media intra gereja harus bertarung melawan media televisi, radio, media luar ruang, internet, koran, majalah dan masih banyak lagi. Itu sebabnya, kalau media intra gereja tidak memiliki posisi yang unik di dalam peta persaingan yang sudah brutal ini, maka sejak dini siapkanlah kuburan untuk media intra gereja.

Lalu dimana peluang media intra gereja? Saya melihat kebutuhan khayalak tentang adanya insight atas peristiwa yang terjadi di dunia ini. Ketika keran informasi mengucur deras, manusia justru kebingungan tetes-tetes mana saja yang harus ditenggak. Mereka tidak mungkin menelan semua informasi. Untuk itulah, manusia modern cenderung membutuhkan panduan untuk mencerna informasi yang ada.

Sebagai contoh, kita menjadi bingung ketika membaca berita tentang kesimpulan tim adhoc yang dibentuk oleh DPR untuk kasus lumpur “Lapindo”. Mereka menyimpulkan bahwa tragedi kemanusiaan ini disebabkan oleh bencana alam. Padahal dengan logika sederhana saja, lumpur itu tidak muncrat ke permukaan bumi kalau tidak ada intervensi manusia. Berita tersebut tidak memberi panduan bagaimana kita harus bersikap. Dan memang itulah standar jurnalisme. Berita harus dibuat secara objektif.

Pada kenyataannya, dalam diri manusia, informasi-informasi itu tidak hanya berhenti sebatas pengetahuan (knowledege) saja, tapi lalu berproses menjadi sikap (attitude) dan berujung pada tindakan (action). Pada titik ini kita membutuhkan panduan untuk menentukan sikap. Sikap ini yang kemudian menjadi dasar bagi kita untuk melakukan tindakan. Panduan ini berupa seperangkat nilai dan norma yang diyakini dalam masyarakat.

Media intra gereja jelas tidak mungkin bersaing dengan media-media “sekuler” dalam menyajikan informasi yang terlengkap dan terkini. Namun media intra gereja dapat mengisi “kekurangan” dari media yang sudah ada, yaitu dengan memberikan panduan atas berbagai situasi yang terjadi. Di sinilah peluang media intra gereja sebagai pembawa suara kenabian. Media gereja dapat memberikan panduan kepada pembacanya untuk bersikap terhadap konversi minyak tanah ke gas, terhadap wacana pemberian gelar kepada Soeharto, terhadap konspirasi pembunuhan Munir, terhadap korupsi. Media intra gereja harus tampil untuk memberikan pencerahan terhadap peristiwa-peristiwa yang ada di sekitarnya.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It