Kamis, 31 Januari 2008

Kirana Berdoa Sendiri

Hari ini (31 Jan), untuk pertama kalinya, Kirana mengucapkan doanya sendiri sebelum tidur. Inilah doa pertamanya:

"Tuhan Yesus, Terimakasih untuk hari ini.

Kirana mau bobo'.

Amin."

Hari-hari sebelumnya, biasanya yang mengucapkan doa adalah Mamanya, kemudian ditirukan oleh Papanya (aku). Maunya sih supaya Kirana juga mau menirukan doa itu. Tapi biasanya dia malah main sendiri, walau tangannya masih dikatupkan dan matanya dipicingkan sedikit. Tapi sedikit-demi sedikit rupanya kata-kata doa itu melekat di ingatannya, sehingga malam ini tanpa disuruh dia langsung mengucapkan doa pertamanya.

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Selasa, 29 Januari 2008

SAYA TIDAK SUKA BUKU ITU




Salah satu tulisan yang diposting ke situs http://www.sabdaspace.org/ mengupas buku saya:
"Tuhan Yesus Tidak Tidur, 100 Renungan Tentang Hikmah di Balik Musibah". Tulisan itu diberi judul: "SAYA TIDAK SUKA BUKU ITU". Berikut isi tulisan itu:

Sumber:http://www.sabdaspace.org/saya_tidak_suka_buku_itu

Tanpa mengurangi rasa hormat, SAYA TIDAK SUKA BUKU ITU. Bukan karena pengarangnya salah satu blogger di Sabdaspace – Komunitas Blogger Kristen, juga bukan karena 100 renungannya, apalagi karena 16 cara mati ketawa ala penyintas gempa. Saya tidak suka buku itu karena harganya amat sangat terlalu murah, Rp. 25.000,- (Dua puluh lima ribu rupiah). Saya tidak tahu, siapa yang menentukan harga jual buku itu yang amat sangat tidak masuk akal. Saya tetap beli buku itu walau sangat tersinggung dengan harganya yang hanya dua puluh lima ribu saja. Kalau saja harga buku itu boleh ditawar, maka saya pasti akan menawar untuk membeli dengan harga 2 kali lipatnya.

Dengan asumsi royalti bagi penulis adalah 10% dari harga jual, maka setiap buku yang terjual akan memberi kesempatan kepada pembelinya untuk berbuat baik dengan harga Rp. 2.500,- (Dua ribu lima ratus). Kesempatan untuk menolong orang lain harganya CUMA dua ribu lima ratus. Sungguh keterlaluan.

Sekali lagi, tanpa mengurangi rasa hormat, SAYA TIDAK SUKA BUKU ITU. Karena sejak bab 1, “Ketika Bumi Berguncang” penulisnya sudah ngeledek pembacanya. Ketika gempa bumi melanda Yogyakarta, sebagian besar pembaca mendengarnya dari radio dan menontonnya di televisi seolah itu adalah kisah dari antah brantah dalam sebuah Film. Inilah yang ditulis oleh pengarang buku itu,

“Gempa bumi!” batin saya. Saya segera melompat dari tempat tidur dan meraih bayi kami. Namun, ternyata ia sudah lebih dulu digendong mamanya. Dengan perasaan yang takut dan kaki gemetar, kami menghambur keluar rumah.”

Lebih lanjut dia menulis,

Darah saya tersirap melihat kedasyatan kekuatan alam ini. Hampir semua bangunan di wilayah ini telah runtuh. Jumlah korban jiwa sangat banyak. Itu belum termasuk korban terluka. Begitu banyaknya korban terluka sehingga rumah sakit umum tidak bisa menampung lagi. Akibatnya, mereka terpaksa dibawa ke rumah sakit jiwa.
Seorang warga berkisah, waktu gempa terjadi ia sudah ada di sawah. Ketika melihat ke arah perkampungan, ia menyaksikan rumah-rumah yang roboh secara bergelombang. “Seperti ada ular yang bergerak di bawah tanah,” katanya memberi kiasan.

Saudara, bukankah dia sedang meledek kita? Bukankah TV menyiarkan, setelah gempa melanda Yogyakarta, maka rakyat Yogya bersuka cita karena dapat bertemu, bersalaman dan berfoto dengan artis dan aktor pujaan mereka lalu wajahnya ditonton oleh para pemirsa dari seluruh Indonesia bahkan negara tetangga?

Aisyah namanya. Saat gempa terjadi, bayi yang masih merah ini masih berusia lima hari. Guncangan di pagi hari itu merobohkan rumah orang tuanya. Ibu bayi ini meninggal karena tertimpa runtuhan tembok. Sedangkan Slamet, bapaknya mengalami retak di tulang selangkangan. Bayi Aisyah sendiri sempat terkubur dalam puing-puing rumah. Neneknyalah yang dengan sekuat tenaga mengorek-ngorek timbunan reruntuhan sampai akhirnya bisa menyelamatkan cucunya itu.

Pak Slamet sempat dirawat di rumah sakit, tetapi dipulangkan karena tidak mampu membayar biaya. Sedangkan bayi Aisyah yang masih lemah ini dirawat di tenda darurat yang serba memprihatinkan, dengan sanitasi yang buruk.

Saudara, setelah Aisyah berhasil diselamatkan oleh neneknya dan dirawat di tenda darurat tanpa menyadari bahwa ibunya TELAH MATI, di Jakarta beredar SMS di antara orang Kristen yang isinya kurang lebih begini, “ PUJI TUHAN, setelah didoakan, akhirnya pusat alam roh Indonesia hancur berantakan dan Tuhan menyatakan kuasaNya. Inilah kesempatan bagi kita untuk memberitakan Injil.”

Salah seorang teman saya bahkan bersaksi lewat telepon tentang penglihatan yang dia peroleh dari Tuhan. Dia menyatakan bahwa bencana Yogyakarta, bahkan bencana Tsunami di Aceh tidak seberapa. Akan terjadi lagi bencana yang lebih besar di mana korbannya lebih dari 500.000 jiwa. Itulah cara Tuhan melampiaskan kemarahanNya karena bangsa ini menolak Injil. Selain teman itu, masih banyak SMS lain yang beredar saat itu di kalangan orang Kristen.

Ketika membaca Prakata buku itu, saya senang karena isinya bukan hanya kisah-kisah di Yogyakarta selama dan setelah gempa bumi, ada kisah lainnya. Namun, untuk terakhir kalinya, tanpa mengurangi rasa hormat, SAYA TIDAK SUKA BUKU ITU karena kisah-kisah lainnya. Berikut ini salah satu kisahnya.

Mas Mono, seperti pemuda lain di desanya, ingin mengejar mimpi hidup sukses ke kota. Ia mendapat pekerjaan sebagai tukang las. Namun naas, teman kerjanya melakukan keteledoran. Temannya menyenggol batang besi yang menyebabkan kabel listrik bertegangan sangat tinggi menggeliat dan menyetrum tubuh mas Mono. Akibatnya, selain mengalami luka bakar tingkat tinggi, mas Mono juga harus merelakan kedua lengannya diamputasi, di batas pergelangan tangannya.

Mimpi sukses itu pupus sudah. Dengan hati hancur, mas Mono pulang ke desanya. Sedih, bingung, putus asa, marah, ingin berontak. Perasaan itu berkecamuk dalam dirinya. Selama setahun mas Mono dirundung duka. Setiap kali mendapat perkunjungan dari anggota gereja, mas Mono lebih suka mengurung diri dalam kamar. Namun malam harinya, mas Mono keluar rumah. Ia tidur di kuburan desanya!

Hingga suatu ketika, mas Mono menghilang. Tentu saja keluarganya kebingungan mencarinya. Dua minggu kemudian, ia muncul lagi. “Kemana saja kamu?” tanya kakak perempuannya. “Ke Bali, mbak,” jawab Mono santai.

Sejak saat itu, mas Mono mulai berubah. Ia mulai belajar naik sepeda. Sebelumnya ia memang sudah bisa mengendarai sepeda. Namun dengan lengan yang buntung dan kaki yang pincang, ia harus menyesuaikan diri lagi.

Saudara-saudara, tolong saya, apa hebatnya kisah mas Mono? Tidak ada kuasa sama sekali! Tidak ada mujizat sama sekali! Coba anda bayangkan bila mas Mono bersaksi di atas mimbar dengan tampang desanya dan logat Jawa medoknya,

“Saudara-saudara karena kelalaian teman saya, maka saya kehilangan kedua telapak tangan saya dan kaki saya menjadi pincang. Karena kejadian itu, setelah putus asa selama setahun, saya bangkit lagi dan mulai belajar naik sepeda.”

Oh my God! Sipincang tanpa telapak tangan bersaksi di mimbar-mimbar gereja tentang usahanya belajar naik sepeda? Mana KUASA Tuhan? Mana MUJIZAT Tuhan?

Saudara-saudara terkasih, tolong jangan beli buku itu. SAYA TIDAK SUKA BUKU ITU, tidak ada MUJIZAT di dalam buku itu. Tidak ada KUASA dalam buku itu. Tidak ada SUARA TUHAN yang berbicara langsung kepada manusia di dalam buku itu. Itu bukan buku tentang para PEMENANG, itu hanya buku yang menceritakan tentang orang-orang yang BERTAHAN hingga akhir pertandingan.

Saudara-saudara yang terkasih, TOLONG, jangan beli buku itu. SAYA TIDAK SUKA BUKU ITU! Sekali anda membelinya, mustahil anda tidak membacanya, sekali anda membacanya, maka percayalah, anda tidak akan mampu bermimpi lagi bahwa:

Bila berdoa dan yakin bahwa Tuhan akan menjadikan anda orang baik, maka anda akan terbangun di pagi hari dan langsung menjadi orang baik.

Bila berdoa dan yakin bahwa Tuhan akan menjadikan anda orang pinter, maka anda akan terbangun di pagi hari dan langsung menjadi orang pinter.

Bila berdoa dan yakin bahwa Tuhan akan menjadikan anda orang kaya, maka anda akan terbangun di pagi hari dan menemukan harta berlimpah.

Karena buku itu hanya mengajarkan anda untuk menjadi orang Kristen seperti yang diajarkan Alkitab.

Diambil dari situs Sabdaspace. Sumber asli:http://www.sabdaspace.org/saya_tidak_suka_buku_itu

===================

Berikut komentar atas tulisan ini pada blog yang sama (komentar yang tidak relevan sudah saya hapus):

Dikirimkan oleh NoSID pada Sab, 2008-01-26 20:08

Hai-hai pake jurus

Psikologi Anti Marketing, bung Denis juga saya yakin paham jurus ini semoga bukunya laku ya Pak Purnawan
----------
Kopi Iseng:
lagi..lagi.. Hai-hai nulis sesuatu yang bikin orang cengar-cengir sambil ck..ck..ck dan geleng-geleng kepala. Tulisan blogger lain bak lukisan lembut indah dan penuh rangkaian bunga, kalau Hai-hai Lukisan Besar,Abstrak,Kasar, dan bermakna tajam.
ada cerita, suatu hari C_Gutz ngajak Chetzy untuk melihat suatu pameran lukisan di Bali, pameran lukisan tersebut memuat lukisan-lukisan yang baru dan nyentrik. setelah berkeliling cukup lama, Chetzy tiba-tiba menatap tajam C-Gutz sambil berkata
"Kamu jauh-jauh mengajak saya kesini hanya untuk melihat coretan-coretan sampah ini !!, lebih baik kita dari tadi makan siang yang enak"

Chetzy terus ngomel masalah lukisan tersebut selama perjalanan pulang. Esoknya di kantor, Chetzy melihat BKO dan C_Gutz lagi ngerumpi, lalu Chetzy mau cerita soal pameran lukisan jelek,
BKO yang sudah tahu dari C_Gutz langsung nyela
"Kamu bilang gak suka pameran lukisan kemarin, tapi kenapa kamu tidak pernah berhenti ngmongin hal itu, sejak pertama kamu melihatnya"
sampai sekarang Chetzy masih inget lukisan itu tidak peduli dia suka atau tidak
**cerita diatas saya 'curi' dan edit dari buku Whatever You Think,Think The Opposite karya Paul Arden
untuk suatu karya yang segar dan baru, kita tidak boleh berharap untuk langsung menyukainya, karena tidak memiliki perbdandingan terhadap karya tersebut.

Seni yang baik mengkomunikasikan dirinya sendiri, itu tidak berarti harus disukai untuk suatu karya seni yang baru dan segar, cobalah membentuk opini kita sendiri, dengan demikian kita bisa menjadi kritikus murni, bukan perpanjangan lidah opini orang lain

---------------------------------------------------------------------------------------------------------

COME HELP CHANGE THE WORLD!

Dikirimkan oleh hai hai pada Mgu, 2008-01-27 00:05

Sebenarnya pak Purnawan bukan penulis asing buatku, aku punya dua buku tulisannya tentang permainan. Sejak melihatnya jualan di pasar Klewer aku sudah menunggu, kapan dia menerbitkan bukunya lagi. Tulisannya khas seorang jurnalis, informatif namun selalu menyisakan ruang bagi pembacanya untuk menarik kesimpulan sendiri. Ibarat kotbah, gaya tulisan demikian adalah gaya kotbah para pendeta dari GKI (Gereja Kristen Indonesia), GKJ (Gereja Kristen Jawa) dan pastor di Gereja Katolik. Ibarat pelukis, tulisan pak Purnawan adalah aliran naturalisme.
Keistimewaan tulisan pak Purnawan adalah gaya bahasanya yang sederhana dan tunggal makna, artinya para pembacanya tidak diberinya kesempatan untuk menafsirkan kalimat bahkan kata yang ditulisnya. Ibarat musik, maka tulisan Pak Purnawan adalah jazz fusion, terasa enteng dan enak ketika didengar begitu saja, namun ketika disimak lebih mendalam, wow … para jazzer pasti tahu apa maksudku. Keistimewaan lainnya adalah kesederhanaan thema yang ditulisnya. Di antara para blogger Sabdaspace saat ini, menurut saya hanya pak John Adisubrata yang dapat menandingi semua keistimewaan tulisan pak Purnawan. Pak Purnawan, mungkin tanpa disadarinya sangat terpengaruh oleh musik gending-gending jawa, sedangkan Pak john, mungkin terpengaruh oleh bakat kartunisnya. Dari keduanya muncul tulisan-tulisan yang selalu menyisakan ruang bagi para pembacanya untuk menarik kesimpulan.
Itulah informasi tambahan mengenai tulisan Pak Purnawan. Jangan berharap saya mengutip terlalu banyak tulisannya, bisa-bisa anda tidak jadi membelinya nanti dan saya dituduh plagiat.
Nosid, kamu salah, saya tidak sedang mempromosikan buku pak Purnawan sama sekali. Saya hanya menuliskan unek-unek saya. Semoga pak Purnawan cukup berbesar hati dan tidak menuduh saya sedang menghakiminya. Kalaupun dia marah, apa boleh buat, pembeli itu raja kan?
-----------------------------------------------------------------------------

ooh jurus anti marketing tohh
Dikirimkan oleh Tiyo (tidak/belum diverifikasi) pada Mgu, 2008-01-27 10:30
kirain hai2 serius.. saya ampir kemakan provokasinya.. abis dia sering nge-kick buku/tulisan org laen sih, haha
----------------------------------------------------------------------
promosi dengan cara berbeda
Dikirimkan oleh josh putra pada Sab, 2008-01-26 23:18
ah saya rasa ko haihai sedang promosi buku itu tapi dengan cara yang berbeda....
kalo kita beli kaset/cd sering kali lagu barunya 2/3 saja, selebihnya untuk menuhin durasinya.
kalo saya jadi penulisnya juga akan melakukan hal yang sama... maklum kejar setoran, 10 cerita mungkin bagus sekali tapi kurang berdaya beli, kalo judulnya pake 100 kan lebih greget.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
100 Kisah Indah dan 16 Mati Ketawa Ala Penyintas
Dikirimkan oleh hai hai pada Mgu, 2008-01-27 00:09
Josh, di dalam buku tersebut memang genap 100 kisah indah dan 16 mati ketawa ala penyintas. Namun yaitu, seperti yang saya kutip. Semua kisah-kisah itu hanya akan mengajarkan para pembacanya untuk menjadi Orang Kristen seperti yang diajarkan Alkitab.


Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Sabtu, 26 Januari 2008

Penyanyi Nggemesi

Saya tidak tahu siapa anak ini dan siapa yang merekamnya. Saya mendapatkannya dari kiriman adik ipar saya. Ih...nggemesi deh...
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Jumat, 25 Januari 2008

Kirana ketika masih Bayi



Gambar diambil pukul 22 WIB
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Rabu, 23 Januari 2008

Pengamen Buta Jalanan

Jika Anda menlusuri jalan Malioboro, mungkin Anda akan bertemu dengan bapak ini. Bapak yang buta ini mengamen menggunakan angklung. tempat mangkalnya biasanya di depan pintu masuk pasar Beringharjo, depan hotel Mutiara, atau emperan Malioboro Mall.



Saksikan video saya yang lain. Klik situs www.beoscope.com
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Santai Sejenak, Nonton Pertunjukan Dangdut

Lagu dangdut berjudul "Pertemuan". Dinyanyikan dalam hajatan pengantin di Jawa Tengah


Lihat karya video clip saya lainnya dengan mengklik link ini
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

"Ensiklopedia" Bakso



Iklim kompetisi yang ketat, ternyata juga mempengaruhi bisnis bakso. Saat ini muncul warung-warung bakso dengan inovasi-inovasi baru. Contohnya warung bakso yang satu ini. Kalau di tempat lain biasanya menggunakan daging sapi (atau babi), tapi di warung bakso ini menawarkan daging ayam. Namanya warung bakso "Kuning Gading". Lokasinya, di sebelah selatan toko buku "Puskat" Kotabaru. Kalau dari arah stadion Kridosono, letaknya setelah gedung Widya Mandala, tetapi sebelum viaduk jembatan Kewek.



Saya pertama kali makan di tempat ini karena diajak Lily Halim setelah melakukan tugas peliputan untuk majalah BAHANA (Soal perbaksoan, Lily Halim memang pakarnya). Selain dagingnya, yang istimewa dari tempat ini adalah porsinya yang sangat besar. Dengan menggunakan mangkok besar, kita disuguhi bakso yang terdiri dari mie kuning, tahu potong, daging ayam, bawang goreng, irisan daun seledri dan tentunya bulatan bakso. Bulatan baksonya pun cukup terasa dagingnya. Kalau kebanyakan bakso lebih banyak tepungnya, tapi kandungan daging dalam bola bakso di sini lumayan banyak. Sehingga terasa sekali tekstur dagingnya.



Untuk ukuran Jogja, tarif di warung ini memang agak mahal. Untuk 2 porsi bakso+2 gelas es teh+krupuk (seribuan)+2 piring nasi+irisan tahu ekstra, kami membayar Rp. 23.500,-





Bakso Rusuk



Warung bakso lain berinovasi dengan menambahkan rusuk sapi. Maka mereka menyebutnya bakso rusuk. Salah satunya adalah bakso rusuk "Samson" yang "enceng-encengan" (berseberangan diagonal) dengan pintu gerbang Akademi Angkatan Udara, Yogyakarta. Jika memesan bakso rusuk spesial, maka Anda akan disuguhi semangkok bakso dengan potongan rusuk sapi seukuran telapangan tangan balita. Tentu saja masih ada daging yang menempel. Selain itu masih ditambahi dengan thethelan (remah-remah daging).



Dagingnya cukup empuk, sehingga tidak dibutuhkan tenaga Samson untuk mengunyahnya. Harga per porsi Rp. 9.000,-



Selain hidangan bakso, yang istimewa di sini adalah es telernya. Menurut saya, rasa kelapa mudanya cukup 'nendhang'. Manisnya pun tidak keterlaluan, sehingga kita tidak justru kehausan setelah meminumnya.





Bakso Luar Negeri



Sementara itu di dekat rumah saya di Klaten, sedang ngentrend warung bakso dengan mengambil nama negara luar negeri. Yang pertama Bakso Arab. Keunikannya pada ukuran baksonya yang sangat besar. Bakso ini diiris pada bagian pada bagian tengahnya, kemudian "dikupas" keluar sehingga menyerupai irisan manisan buah pala. Tujuan pengirisan ini untuk membuat bagian dalam bakso juga telah matang.



Karena ukuran yang "oversize" maka Anda akan kekenyangan jika makan satu porsi saja. Lokasi warung ini di pasar Srago, ringroad selatan, Klaten.



Di dekatnya, sekitar 200 meter, ada warung bakso Jepang. Saya belum tahu mengapa warung bakso ini dinamai warung bakso Jepang. Terus terang saya kecewa dengan hidangan di sini. Tidak ada yang istimewa. Bahkan es campur yang dihidangkan sudah terasa basi. Maka saya berjanji pada isteri saya untuk tidak jajan ke sana lagi.


Ada lagi warung bakso "Nuklir" yang ada di wilayah Bareng, Klaten. Warung bakso ini sering memasang spot iklan di stasiun TV swasta. Tapi saya belum pernah mencoba ke sana.





Isu Daging Tikus



Sekitar tiga tahun yang lalu, bisnis kuliner bakso di Yogyakarta sempat kolaps dihantam isu daging tikus. Entah benar atau tidak, sempat beredar rumor bahwa ada seseorang yang menyaksikan pekerja sebuah warung bakso laris di kota gudeg ini sedang menguliti daging tikus. Sontak beredar kabar bahwa bakso di warung ini menjadi enak karena dicampur dengan daging tikus.



Isu ini sempat membuat penggemar bakso merasa jijik dan ogah menyantap makanan rakyat ini. Tapi waktulah yang membuktikan. Tidak dapat dapat dipungkiri memang ada satu atau dua pedagang bakso yang curang, tapi saya yakin warung bakso yang sudah mapan tidak akan berbuat sebodoh itu, yaitu mempertaruhkan reputasinya demi penghematan yang tidak seberapa.



Saat itu, yang sedang ngetrend adalah bakso urat. Warung bakso urat yang diminati konsumen di antaranya warung bakso "Pak Kumis" dan "Pak Kribo" di sepanjang jalan Gejayan. Sementara di wilayah Selatan, ada warung bakso di dekat lampu merah R.S Bethesda Lempuyangan dan Jl. Sultan Agung.





Bakso Asli



Teman saya yang keturunan Tionghoa mengatakan sebagian besar bakso yang dijual sekarang ini sebenarny sudah tidak asli lagi. Dia beralasan bahwa kata "bak" dalam "bakso" dalam bahasa Mandarin bermakna "babi." Jadi, menurutnya, bakso yang asli sesungguhnya memakai daging babi. Baik untuk kaldu maupun irisan dagingnya.



Namun mengingat sebagian besar masyarakat Indonesia adalah muslim, maka resep ini kemudian dimodifikasi dengan memakai daging sapi. Ternyata makanan ini diterima oleh masyarakat luas.



Namun jika keyakinan Anda tidak melarang mengkonsumsi daging babi, maka Anda dapat mencoba resep bakso yang asli. Di Jogja, bakso "asli" ini dijual di dekat klentheng Kranggan (sebelah utara Tugu). Konon bakso ini cukup enak dan laris. Saya sendiri belum pernah mencobanya dan hanya mendapat informasi dari teman.



Saya pernah mendengar informasi bahwa bakso yang dijual di dekat pelataran parkir R.S. Bethesda juga menggunakan daging babi. Tapi saya tidak dapat mengkonfirmasi kebenaran informasi ini.



Saya pernah mencicipinya. Menurut saya, hidangannya tidak terlalu istimewa. Rasa vetsinnya sangat nendhang sehingga mulut berliur terus sesudah makan. Tempatnya juga sempit dan panas.





Bakso Pahe



Jika dompet sedang lengket, maka biasanya saya jajan bakso keliling yang biasa jualan di depan kos saya. Harganya lumayan murah, tapi bisa untuk mengobati ketagihan saya pada bakso. Hanya dengan dua ribu perak saja, Anda bisa mendapat semangkok bakso lengkap. Bahkan masih ditambahi potongan daging! Kalau tidak percaya, datang saja ke kampung Bangunrejo. Tugu Jogja ke arah barat. Masuknya dari gang di sebelah toko Takrib (depan pasar Pingit). Biasanya dia mangkal di depan rumah Triyoko/Sasongko.





Rupa-rupa



Kalau bicara soal kelengkapan, bakso di tempat kelahiran saya, Gunungkidul, lebih komplit. Dalam semangkok bakso ada bulatan bakso rebus, bola bakso goreng, irisan tahu goreng, mie putih, mie kuning, potongan daging, bawang goreng dan irisan seledri. Sedangkan bakso-bakso di tempat lain, kadang menghilangkan salah satu unsurnya.



Warung bakso di Wonosari yang terkenal adalah di jl. Sumarwi (depan garasi Jangkar), bakso Taman Bunga, bakso Muncul (depan eks SMEAN) dan di desa Kelor, kecamatan Karangmojo.



Bicara soal bakso, saya teringat desa tetangga yang sebagia besar warganya berprofesi sebagai penjual bakso. Desa itu bernama desa Bejiharjo, atau lebih tepatnya dusun Grogol. Karena lahan pertanian di tempat itu tandus, maka sebagian besar pemuda di desa itu merantau ke kota besar. Uniknya, sebagian besar penduduknya berjualan bakso. Jika Anda berlangganan tukang bakso keliling, sekali-sekalu coba tanya asalnya. Siapa tahu dia berasal dari dusun Grogol.

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Kamis, 17 Januari 2008

Pergumulan Bu Murni

Hari ini saya bertemu teman yang sebenarnya lebih pantas menjadi nenek saya. Sebut saja namanya bu Murni. Dia menceritakan pengalaman rohaninya yang menggetarkan. Hampur 20 tahun yang lalu ia mendampingi seorang perempuan yang diculik dan disekap selama berbulan-bulan. Ketika ditemukan, perempuan ini dalam keadaan linglung dan hamil. Diduga karena diperkosa.
Ketika diantarkan ke rumah orangtuanya, orangtuanya tidak mau menerima karena anak perempuannya mengandung bayi haram. Maka, perempuan ini menumpang tinggal di rumah bu Murni. Selama mendampingi perempuan ini, bu Murni mengalami pergumulan yang luar biasa. Dia hampir-hampir tidak mampu melakukan panggilan mulia. Bagaimana tidak, perempuan ini menginginkan supaya bayi yang ada di kandungannya itu digugurkan saja. Hal ini jelas bertentangan iman kristiani yang diyakini bu Murni. Dia mengalami pertentangan batin yang hebat.
Hingga akhirnya bu Murni hanya bisa menangis tersedu-sedu di depan altar gereja. Seluruh isi hatinya ditumpahkan di hadapan Allah. Cukup lama dia berada gereja itu, hingga seluruh pintu gereja ditutup dan hanya disisakan satu pintu untuknya. Ketika tangisannya mulai reda, bu Murni mendengar suara batinnya berkata,"Jika kamu dipanggil Allah, masa' sih Allah tidak memberikan kekuatan dan sarana kepadamu untuk melaksanakan panggilan itu." Suara itu kembali menguatkan semangat untuk menjalankan tugas pelayanannya.
Meski begitu, persoalan aborsi masih menjadi pergumulan batinnya. Suatu ketika, dia diundang untuk mengikuti sebuah konferensi di Beijing. Dalam suatu kesempatan, ada sekelompok orang yang berdemonstrasi di forum ini. Para demonstran ini kebanyakan adalah korban kekerasan seksual di sebuah negara Afrika. Mereka menuntut legalisasi pengguguran kandungan atau aborsi, khususnya untuk kehamilan yang tidak diinginkan. Misalnya karena korban perkosaan atau dipaksa menjadi pekerja seks komersial. Bu Murni pun mengikuti perjalanan demonstrasi ini dari belakang. Tapi hati nuraninya membuatnya merasa tidak nyaman di tengah kerumunan. Maka dia pun keluar dari kelompok demonstran tersebut dan duduk di bawah pohon. Hatinya berkecamuk, "Di manakah posisiku? Apakah aku akan menyetujui pembunuhan ciptaan Tuhan yang ada di dalam kandungan? Tapi bagaimana dengan korban yang harus menderita trauma selama berbulan-bulan karena mengandung janin dari pemerkosanya?"
Cukup lama dia merenung, hingga akhirnya sampai pada sebuah pencerahan, "Tugasmu adalah mendampingi dan menguatkan korban kekerasan. Perkara apakah bayi itu akan dikandung sampai lahir atau tidak, itu adalah keputusan si korban tersebut. Yang penting kamu sudah memberikan segala pertimbangan menurut keyakinanmu." Suara hatinya itu memberi kakuatan baru kepadanya untuk mendampingi perempuan-perempuan korban kekerasan sampai saat ini.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Selasa, 15 Januari 2008

Totalitas Pelayanan

Perjalanan ke Semarang menghantarkan saya bertemu dengan pak Andreas. Dia mengajarkan tentang makna totalitas dalam pelayanan. Pak Andreas ini mempunyai hobi wisata kuliner. Kalau ingin mengetahui tempat-tempat makan yang enak di sekitar Jogja dan Jawa Tengah, maka tanyalah kepadanya. Pria kelahiran Ketandan Jogja ini adalah "ensiklopedia kuliner".
Hobinya yang lain adalah memancing di laut. Dia sudah menjelajahi berbagai pantai. Dia bercerita, bersama teman-temannya, mereka pernah pergi memancing di sebuah pantai di wilayah Panggang, Gunungkidul. Pantai yang masih "perawan" ini hanya bisa dicapai setelah berjalan kaki selama 2 jam. Belum ada jalan yang dapat dilalui kendaraan. Bahkan untuk sampai ke sana, mereka kadang harus membuat jalan sendiri. Sore hari mereka mulai memasang pancing, pagi harinya mereka sudah berkemas-kemas pulang.
Pak Andreas juga gemar memancing di tengah laut. Dia sering menyewa perahu nelayan untuk membawanya ke tempat yang banyak ikannya. Demi meuaskan hobinya ini, maka dia merogoh koceknya untuk membeli kapal sendiri. Dengan begitu, dia bisa lebih leluasa memancing di laut. Namun bersamaan dengan datangnya kapal, datang pula panggilan pelayanan di gerejanya. Dia menyadari jika dia menerima panggilan pelayanan ini, maka dia tidak punya kesempatan untuk memancing lagi. Namun dia memutuskan untuk menerima panggilan itu. Dan memang benar, kesibukkan dalam pekerjaan dan pelayanan, sudah tidak memungkinkannya untuk memancing lagi. Maka perahunya pun jadi pengangguran. Supaya tidak mangkrak, maka perahu yang hanya sekali dipakai itu diberikan kepada orang yang biasa merawat dan mengoperasikan perahu itu. Untunglah, sampai sekarang dia masih bisa melakukan hobinya yang lain yaitu wisata kuliner. Setiap kali ada tamu di gerejanya, maka dia yang menghantar dan mengajak mereka makan. Termasuk saya dan isteri saya. Kami diajak makan serba bandeng di rumah makan dekat Simpang Lima, Semarang.

"Mendengar itu Yesus berkata kepadanya: "Masih tinggal satu hal lagi yang harus kaulakukan: juallah segala yang kaumiliki dan bagi-bagikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku."" (Lukas 18:22 TB)


::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+
http://purnawan-kristanto.blogspot.com
>>>Lihat video karya saya di sini>>>>>
http://www.beoscope.com/purnawan/index.php

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Gigi Kirana Patah Sedikit


Tanggal 13-15, kami sekeluarga pergi ke Semarang. Perjalanan ini sungguh tidak menyenangkan bagi Kirana, anak kami. Awal perjalanan, tubuh kami sudah terguncang-guncang karena melewati jalan-jalan yang sdah berlobang dan tidak rata. Akibatnya, Kirana harus beberapa kali mabuk.
Ketika masuk lobby hotel, Kirana tiba-tiba menangis ketakutan. Dia mengira akan dibawa ke rumah sakit lagi. Memang, akhir-akhir ini kami sering mengunjungi rumah sakit yang meja pendaftarannya seperti meja resepsionis hotel (Kirana harus mengikuti pengobatan selama berbulan-bulan untuk penyakit fleks di paru-parunya). Tapi setelah kami masuk kamar, rasa takutnya perlahan-lahan mulai hilang. Keceriannya mulai terbit. Dia berlari-lari di sela-sela perabotan yang ada di kamar itu. Kirana juga naik turun ranjang dan kursi.
Tapi di sinilah awal malapetaka. Saat-saat ini Kirana sedang membentuk kepercayaan diri. Maunya, dia melakukan semua hal sendiri, tanpa bantuan orang lain. Orang lain yang berusaha membantunya, selalu ditolaknya. Saat itu, dia ingin turun dari ranjang hotel. Dia ingin melakukannya sendiri. Tapi karena memang dia belum lihai benar, maka keseimbangannya tidak tepat. Wajahnya terantuk pada sisi luar ranjang yang terbuat dari kayu. Akibatnya bibirnya terluka di dua tempat dan berdarah. Meski begitu setengah jam kemudian, dia sudah bisa bermain-main lagi. Dia kembali naik-turun kursi dan ranjang. Saat dia naik kursi, Kirana tetap tidak mau dipegangi. Dia menepis tangan bu Marni, pengasuhnya, yang berusaha memegangnya. Akibatnya, dia kehilangan keseimbangan lagi. Sekali lagi, wajahnya terantuk kursi. Kali ini gigi depannya yang patah sedikit dan menjadi miring.
Dua malam berikutnya, Kirana mengalami demam dan muntah-muntah. Selama dua malam, kami harus begadang karena Kirana menjadi rewel. Dia tidak bisa tidur nyenyak. Kirana juga kehilangan selera makan. Dia hanya mau makan buah anggur dan minum teh.
Tapi Puji Tuhan, setelah pulang ke rumah, demamnya sudah hilang. Sekarang dia sudah pulih kembali. Luka di bibirnya sudah mengering.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Rabu, 02 Januari 2008

Bantuan ke Solo Dihentikan

Hari terakhir tahun 2007, rekan di Purwodadi mengabarkan bahwa di sana terendam juga. Banyak warga yang mengungsi ke kota. Sebuah gereja di sana membuka dapur umum di dua desa. Setelah berembug dengan relawan lain, maka kami putuskan untuk mengalihkan beras, yang semula akan disalurkan ke Solo, untuk diberikan ke Purwodadi saja. Supaya tidak 'ngisin-isini', maka bantuan itu dtambahi lagi dengan mie instan, mie kering, abon, kecap dan bumbu dapur. Pukul 15, pdt. Samuel datang membawa pick up L-300. Dia sendiri yang menyopiri dari Purwodadi, ditemani oleh satu kepala desa. Setelah dimuat ke atas mobil, ternyata bantuan bisa memenuhi seluruh bak mobil.
Hari pertama di tahun 2008, kami masih mengirim nasi bungkus untuk makan siang dan makan malam. Saya kebagian mengirimkan nasi bungkus untuk makan malam, menggunakan mobil yang dulu pernah digunakan sebagai klinik kesehatan perjalanan. Karena sudah jarang digunakan, maka mobil ini tidak berjalan dengan mulus. Dalam perjalanan pulang, mobil ini dua kali mogok karena karet streng dinamo sudah kendor. Akibatnya, aki mobil tidak terisi. Celakanya, yang menumpang mobil itu hanya berdua saja, saya dan sopir. Maka terpaksa deh saya mendorong mobil sendirian. Namun puji Tuhan, setelah perbaikan darurat, mobil ini sampai juga ke Klaten meski harus berjalan super pelan.
Hari ini (2 Jan) bantuan kemanusiaan diputuskan untuk dihentikan dengan pertimbangan banjir sudah mulai surut. Selain itu, kekuatan kami juga sudah mulai jauh menyurut. Para relawan sudah mulai kelelahan. Petugas masak di dapur umum juga mulai kecapekan.  Sekali lagi, saya teringat prinsip relawan kemanusian "Melayani harus sampai sakit." Beberapa relawan tidak setuju dengan prinsip ini. Kalau bisa, ya jangan sampai sakit karena akan merepotkan.
Tiga hari ini, kami harus esktra waspada, karena menurut ramalan BMG curah hujan akan mencapai puncaknya. Semoga saja ramalan BMG meleset (seperti yang sudah-sudah).
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Selasa, 01 Januari 2008

Pelayanan Terakhir



Pelayanan terakhir Yayasan Andi. berfoto bersama saat istirahat dalam perjalanan ke Purwokerto.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Eks Karyawan Yayasan Andi



Berfoto bersama di gudang buku
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Y.O.E.L


Y.O.E.L

(Anak pertama dari Sari dan Yoyok)
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Rekoleksi Muntilan


Rekoleksi di wisma "Salam", Muntilan
Kiri ke Kanan: Mateas "Lik Wah:, Wawan, Sasongko, Sugiyanto, Tumirin Blezynzki, Maryadi "Kopi Pahit", Joko Sunyoto, Felix . Belakang Xavier QP
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Rekoleksi di Emalta

Rekoleksi di Emalta
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Temu Kangen eks Yayasan Andi






Berawal dari ide spontan antara saya, pak Xavier dan mas Arie Saptaji, akhirnya di awal tahun ini sukses diadakan temu kangen eks karyawan Andi. Setidaknya ada lebih dari separuh eks karyawan yayasan yang menghadiri pertemuan di Jambon Resto, sebuah rumah makan dan pemancingan di sebelah barat kota Yogyakarta. Mereka datang adalah pak Martin, pak Xavier, Yudi, Krisetiwati Puspitasari, Sasongko, Joko Sunyoto, Chatarina Probowati, Kristi Handari, Kristina Dwi Astuti (Tutik), Suryadi, Anung, Krisna, Arie Saptaji, Sugiyanto dan saya. Masing-masing datang beserta dengan pasangan dan anak-anak mereka, kecuali Sugiyanto, Yudi dan Krisna. Tutik hadir bersama anaknya, tanpa didampingi mas Kelik, suaminya. Sedangkan saya dan isteri tidak membawa Kirana karena hanya naik sepeda motor. Kasihan kalau kehujanan di jalan.


Acara berlangsung santai, diselingi dengan guyonan yang menjadi kebiasaan kami sejak dulu. Sekitar pukul 12, mas Joko menghantarkan doa makan, kemudian kami segera menyikat gurame bakar dan ayam bumbu mentega yang sudah terhidang di meja. Mungkin karena kelaparan, maka semua cething nasi telah tandas dikuras. Padahal masih ada beberapa orang yang belum datang.


Krisna datang terlambat, karena dia menempuh perjalanan dengan bersepeda. Semangatnya sungguh luar biasa! Dia mengayuh sepeda pancal dari bagian tenggara kota menuju bagian bagian barat laut kota. Setelah itu muncul Kristi, Anin dan mas Ganang. Rumah mereka cukup jauh, yaitu di Wates. Sekitar 30 km dari Jogja. Terakhir yang datang adalah Sugiyanto "Ugi". Karena nasi sudah habis, maka kami memesan nasi tambahan untuk mereka yang datang terlambat.


Setelah perut kenyang, masing-masing mendapat giliran untuk menceritakan pengalaman selama ini, khususnya yang sudah "lulus" dari Andi. Dimulai dari pak Martin, mas Arie Saptaji, saya, pak Xavier, terus berlanjut hingga semua mendapat giliran.


Secara umum, acara berlangsung seperti yang kami inginkan. Berkat kegigihan Sari dan Sasongko, keinginan ini akhirnya terwujud. Sayangnya, masih banyak eks karyawan yang tidak bisa datang. Agus Jumianto dan Lili Halim tidak dapat dikontak. Parwanto berhalangan karena sakit sekeluarga. Lik Wah (pak Mateas) harus pergi ke Madiun. Cahyo "Geyol" semula bersedia datang, tapi tidak jadi datang. Filipus, Felix, Lusi, Lina, Maryadi, Heru "Pak Cik", Ko Har (Hariyono), Wiwin, mbak Rini dan Sulistiyani juga tidak dapat hadir dengan alasan masing-masing.



Mungkin ada yang bertanya, mengapa tajuk tulisan mengapa "eks Yayasan Andi"? Apa yang terjadi dengan Yayasan Andi? Sebelumnya perlu dijelaskan bahwa di Yayasan Andi ini mengampu Penebit Buku dan Majalah Rohani (PBMR) Andi. Selain buku-buku rohani, penerbit ini juga menerbitkan majalah rohani populer. Namun kira-kira tiga tahun yang lalu, pendiri yayasan ini memutuskan untuk membubarkan yayasan Andi. Salah satu alasannya adalah untuk mengantisipasi pemberlakukan UU tentang Yayasan. Selanjutnya aset dan karyawan yayasan ini digabungkan ke CV Andi Offset. Nah pertemuan hari ini adalah upaya untuk mengumpulkan kembali karyawan-karyawan yang penah bekerja di yayasan Andi. Sebagian besar masih menjadi karyawan Andi Offset, tapi ada juga yang sudah keluar atau dikeluarkan dari sana.


Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More