Minggu, 30 Desember 2007

Nasi bungkus diminta lagi

Minggu siang (30 Des), pdt. Surya menelepon bahwa mereka membutuhkan nasi bungkus lagi. Sore hari sebelumnya, mereka menyatakan bahwa penyaluran bantuan nasi bungkus sudah dihentikan karena air telah surut dan pengungsi sudah pulang ke rumah masing-masing. Padahal kami sudah terlanjur mengerahkan jemaat untuk memasak. Daripada mubazir, maka hari Minggu sore kami akan membagikan nasi bungkus itu dari rumah ke rumah. Untuk itu, kami mendapat tenaga bantuan dari GSM (Guru Sekolah Minggu).
 
Tiba-tiba saya teringat salah satu prinsip relawan kemanusiaan: "Dalam situasi yang tidak normal, jangan berpikir normal." Situasi di wilayah bencana dapat berubah dengan cepat. Untuk itu harus ditanggapi dengan cepat. Kadang harus melanggar prosedur yang ditetapkan sendiri. Namun ada beberapa orang yang tidak paham prinsip ini. Ketika kami memutuskan untuk memobilisasi bantuan dari jemaat, ada salah satu jemaat yang mengingatkan bahwa "harus ada koordinasi" dulu dengan pihak-pihak yang berwenang di gereja. "Kalau harus menunggu rapat-rapat, korban keburu meninggal,"kata saya,"yang penting sekarang kita bergerak dulu dan bantuan dapat dipertanggungjwabkan."
 
Karena diminta lagi, maka nasi bungkus yang sedianya akan dibagikan langsung, kami kirimkan lagi ke gereja di Sangkrah. Yang menjadi masalah, saya sudah berjanji kepada salah satu Tempat Pembinaan Jemaat(TPJ) di Dadapsari untuk memberikan nasi bungkus. Sebegai gantinya kami menawarkan mie instant, beras, selimut, air minum kemasan dan pakaian pantas pakai. Mereka menerimanya.
 
 Saat menurunkan nasi bungkus di Sangkrah, para jemaat sedang beribadah. Supaya tidak mengganggu ibadah, kami buru-buru meluncur ke Dadapsari, sebuah perkampungan padat di pinggir aliran sungai. Karena tempatnya lebih rendah (daerah ledhok) maka pada banjir besar Minggu lalu, wilayah ini tergenang sampai sebatas kepala. Bantuan langsung diturunkan di TPJ. Warga menyambutnya dengan antusias. Berkali-kali mereka mengucapkan "Terimakasih" dan "Puji Tuhan." Menurut informasi teman, bantuan tersebut segera dibagikan dan dimasak.
 
Dalam perjalanan pulang, saya merenung. Kampung Dadapsari itu berada di belakang sebuah pusat perbelanjaan. Saya bertanya dalam hati, apakah pusat perbelanjaan itu telah memberikan bantuan kepada lingkungan di sekitarnya? Secara ekonomi, sebenarnya kota Solo memiliki kemampuan yang kuat untuk menolong diri sendiri. Namun saya menaangkap kesan bahwa pusat-pusat ekonomi di kota bengawan belum menunjukkan adanya sense of disaster. Aktivitas pusat-pusat perbelanjaan masih ramai. Business as usual.
 
Sesungguhnya pemerintah kota Solo dapat mengerahkan bantuan dari perusahaan dan bisnis perdagangan sebagai bagian dari Corporate Social Responsibility mereka. Saatnya bagi pelaku-pelaku bisnis untuk menjalankan salah satu pinsip etika bisnis yaitu kepedulian sosial. Untuk jangka panjang, sesungguhnya ini untuk keuntungan korporasi mereka juga. Dalam istilah rohaninya, "Tabur-tuai".
 
Senin, jam 9, pdt.Yanoe memberitahu bahwa air naik lagi di Solo. Warga mengungsi lagi. Mereka meminta tambahan bantuan nasi bungkus.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Sabtu, 29 Desember 2007

Banjir Surut

Sabtu (29/12) ini cuaca sangat cerah. Di banyak tempat air sudah surut. Daerah-daerah yang sehari sebelumnya digebangi air setinggi sekitar 30 cm, hari ini sudah tampak kering. Debit aliran sungai juga sudah berkurang, menyisakan sampah berserakan di sana-sini. Para pengungsi sudah kembali ke rumah masing-masing untuk mulai bersih-bersih.
Penduduk yang mengungsi di sebuah gereja di Sangkrah sudah pulang. Hal ini cukup menguntungkan mengingat hari Minggu besok tempat itu digunakan untuk beribadah. Hari ini kami dua kali mengirimkan nasi bungkus pada siang dan sore hari. Saat kami mengantarkan ransum untuk sore hari, relawan di Sangkrah menyatakan bahwa bantuan nasi bungkus sudah bisa dihentikan. Nanti kalau membutuhkan lagi, mereka akan menelepon lagi. Tapi untuk esok hari kami sudah terlanjur berbelanja dan menyiapkan nasi bungkus. Maka kami putuskan untuk membagikan langsung nasi bungkus itu satu-persatu ke para pengungsi. Untuk ini, kami mendapat bantuan dari para GSM (Guru Sekolah Minggu).
Semoga saja di hari-hari mendatang curah hujan tidak sehebat dua minggu terakhir. Dalam perjalanan pulang seorang teman membuat lelucon, "Kita salah dalam memberikan bantuan. Mestinya bukan nasi bungkus, melainkan dukun penolak hujan. Kalau hujan tidak datang 'kan tidak ada bencana banjir." Ada-ada saja.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Jumat, 28 Desember 2007

Catatan Perjalanan ke Solo baru

Teknologi SMS memang luar biasa. Dengan menyebarkan berita darurat via SMS, hanya dalam waktu setengah hari, kami dapat mengumpulkan bantuan sebanyak satu pick up untuk bencana banjir di Solo.
Dari komunikasi dengan teman-teman di Solo didapatkan informasi bahwa pengungsi sangat membutuhkan nasi bungkus karena sejak semalam banyak yang belum makan. Mereka tidak dapat memasak karena masih tergenang air. Sedangkan untuk mendapatkan bahan pangan dari tempat lain juga masih kesulitan. Selain itu mereka membutuhkan selimut dan baju kering. Teman yang lain meminta bahan pangan dan beras karena mereka membuka dapur umum. Mereka juga membutuhkan lampu badai dan genset.
Kami menyiapkan dua mobil pengangkut. Namun ketika akan berangkat, kami kebingungan menentukan rute perjalanan karena dari informasi yang didapat, sejumlah jalan utama di kota Solo ditutup karena tergenang air. Akhirnya kami memutuskan untuk melewati Baki, Sukoharjo. Pertimbangannya jika mobil kami tidak mampu menerobos halangan air, maka bantuan akan dititipkan di kantor salah satu jemaat yang tidak kebanjiran. Kemudian dari sana akan diangkuti menggunakan jip off road yang mesinnya ada di atas.
Namun ternyata air sudah mulai surut, sehingga kami bisa menembus Solo Baru. Kami berhenti di daerah Grogol, karena ada posko banjir yang dibuka teman di sana. Kami membagikan nasi bungkus yang segera dibagikan. Namun rupanya teman-teman di posko itu belum melakukan koordinasi yang baik sehingga mereka masih kebingungan apa yang harus dilakukan. Padahal banjir di sana sudah mencapai atap rumah tapi mereka tidak punya perahu atau rakit untuk distribusi bantuan. Alat komunikasi juga minim (Belajar dari pengalaman di posko gempa, alat komunikasi HT sangat membantu kerja kemanusiaan. Selain itu, handphone CDMA juga terbukti murah dan handal. Apalagi tidak ada BTS yang rusak karena bencana)
Setelah itu kami bergerak ke sebuah gereja di Coyudan. Air di jalan masih setinggi sekitar 20 meter, tapi iring-iringan mobil kami masih bisa menembusnya. Sesampai di sana, kami segera menemui pengurus gerejanya. Kami menanyakan bantuan apa yang dibutuhkan. Pengurus menjawab bahwa gerejanya tidak butuh apa-apa. Mereka sudah memiliki dana untuk menyediakan makanan selama dua minggu. Rupanya mereka hanya memberikan bantuan untuk anggota jemaat saja, tidak kepada pengungsi lain.  Karena gereja itu tidak membutuhkan bantuan, maka kami segera bergerak ke gereja di Sangkrah. Sebelum keluar dari gereja di Coyudan, mobil teman yang menyusul baru saja sampai. Dia membawa bantuan biskuit dan air minum yang cukup banyak. Rencananya akan disalurkan ke gereja di Coyudan itu. Tapi karena mereka tidak membutuhkan maka biskuit tersebut kami alihkan ke Sangkrah.
Sampai di Sangkrah sekitar pukul 3 sore. Di depan gereja terpasang kain putih dengan tulisan cat pylox seadanya "Posko Bencana Banjir." Di sana kami bertemu dengan teman-teman relawan. Tanpa disangka, kami melakukan "reuni" lagi. Teman-teman di Sangkrah ini termasuk relawan yang paling cepat datang ke Klaten ketika terjadi gempa 27 Mei 2007. Mereka membantu kami dengan sepenuh hati. Apa saja yang kami butuhkan, mereka berusaha mencarikannya. Mereka juga mengirimkan relawan-relawan. Selain itu, beberapa orang setiap sore mengunjungi posko kami selepas jam kerja. Maka sekarang waktunya bagi kami untuk "membalas budi."
Bantuan segera diturunkan beramai-ramai. Setengah jam kemudian, kami berpamitan karena langit sudah menghitam. Kami khawatir terjadi banjir lagi sehingga mengalami kesulitan pulang. Benar juga, hujan deras menyertai sepanjang perjalanan. Sesampai di Klaten, mobil yang lain sudah siap meluncur ke Sangkrah sambil membawa nasi bungkus. Siang tadi kami mengerahkan ibu-ibu untuk membuat dapur umum.
 
Untuk melihat video liputan saya tentang banjir, silahkan klik link berikut:
http://www.beoscope.com/watch.php?id=20070000095
 
 
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Jumat, 21 Desember 2007

Pengalaman Christmas Carol

Setiap kali mengikuti acara Christmas Carol, selalu ada saja pengalaman rohani yang aku dapatkan. Tahun ini, aku kebagian tugas membawakan renungan untuk kelompok III. Semuanya ada lima kelompok yang mendapat tugas mengunjungi orang-orang yang karena kondisi badannya lemah mereka tidak dapat merayakan Natal bersama-sama.

Setelah mendapat taklimat singkat dari gereja, setiap kelompok kemudian masuk ke dalam mobil masing-masing kemudian meluncur ke rumah-rumah anggota jemaat. Tiga tempat pertama yang kami kunjungi adalah orang-orang yag sudah lanjut usia. Meskipun pendengaran mereka sudah berkurang, tapi mereka terlihat senang. Pada setiap rumah, kami menyanyikan lagu-lagu Natal, mendengarkan renungan singkat, menyalakan lilin, berdoa syafaat dan membagikan bingkisan.

Ketika mengunjungi rumah yang keempat, hatiku berdesir melihat orang yang kami kunjungi. Adalah seorang anak perempuan berusia sepuluh tahun yang tergolek lunglai di tempat tidur. Virus polio dengan ganas menggerogoti kekuatan tubuhnya. Jangankan untuk berjalan, untuk duduk tegak saja dia tak perempuan manis ini tak berdaya. Dia harus dipangku dan ditopang ibunya supaya bisa duduk.

Tapi ketika kami menyanyikan lagu Natal, wajahnya menjadi cerah. Tangan dan kakinya bergerak tak beraturan. Menggapai-gapai kian kemari. Namun justru aku justru ingin menangis. Ya Tuhan, gadis kecil ini yang mestinya berjalan dan berlari menjelajahi dunianya, tapi sekarang dunianya sekarang ini hanya tempat tidur dan sekitar rumahnya. Renungan apa yang harus aku sampaikan kepadanya? Apakah aku bisa menyampaikan renungan tanpa harus mengeluarkan air mata?

Ketika akhirnya harus menyampaikan renungan, aku hanya membacakan kisah kelahiran Yesus dari kitab Matius. Suaraku tertahan di tenggorokan. Mataku kabur karena basah oleh air mata. Setelah itu, kami lebih banyak menyanyikan lagu-lagu Natal. Nampaknya gadis kecil ini lebih senang mendengarkan nyanyian.

Kunjungan kelima adalah kepada seorang nenek yang sudah tua, tapi masih sangat sehat. Hanya daya pendengarannya saja yang sudah berkurang. Kunjungan keenam adalah seorang perempuan dewasa yang tergolek koma. Sudah berbulan-bulan dia terbaring lemah. Perempuan yang berusia sekitar 25 tahun ini mengalami kecelakaan di Semarang. Sepeda motor yang ditumpanginya diseruduk oleh truk, yang kemudian melarikan diri. Sejak kecelakaan itu, perempuan ini belum mengalami kesadaran secara penuh.

Sekali lagi aku bingung harus menyampaikan renungan apa. Akhirnya aku putuskan untuk membaca salah satu pasal dari kitab Mazmur saja. Ketika berpamitan pulang, aku genggam tangannya. Terasa dingin, tapi dia memberikkan reaksi. Dia menggerakkan tangannya. Saat koh Yoyok mengucapkan kata-kata penghiburan, perempuan ini memberikan reaksi. Ekspresi wajahnya berubah. Meskipun tidak bisa berkata-kata, dia kelihatan senang dengan perkunjungan kami.

Tujuan terakhir kami adalah seorang ibu berusia limapuluan tahun yang dirawat di Rumah Sakit Islam. Saat memasuki kompleks rumah sakit, kami ragu-ragu apakah diperbolehkan menyanyikan pujian Natal di sana? Apakah tidak mengganggu pasien lain? Maka kami putuskan untuk menyampaikan renungan, berdoa syafaat dan memberikan bingkisan saja.

Winner, salah satu anggota rombongan, memulai acara dengan menyampaikan maksud kedatangan kami. Kemudian aku dipersilahkan menyampaikan renungan singkat. Selepas renungan, acara berikutnya adalah penyalaaan lilin. Aku tiba-tiba digerakkan untuk mengajak semua orang di ruangan itu untuk menyanyikan lagu Malam Kudus. Ternyata lagu itu sangat menyentuh hati sang ibu yang sedang sakit. Dia menitikkan air mata. Anggota keluarganya yang lain juga ikut terharu. "Terimakasih karena sudah menghadirkan perayaan Natal di tempat ini," kata ibu itu sambil terisak,"ini banyak memberikan penghiburan kepada kami."

Sekitar pukul setengah satu siang, kami menghadiri acara Christmas Carol. Semoga tahun depan tidak banyak orang yang harus kami kunjungi.

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Rabu, 19 Desember 2007

Pengumuman Ngawur

Ketika melewati pertokoan dan perkantoran saya sering membaca tulisan ini:
"Tidak menerima sumbangan dalam bentuk apa pun, kecuali seizin ketua RT"
Komentar: Kalau ada orang asing yang baru belajar bahasa Indonesia, dia pasti akan heran membaca tulisan itu: "Ternyata orang Indonesia itu sangat baik hati dan suka memberi ya. Buktinya, toko dan kantor sampai kewalahan menerima sumbangan sehingga memasang tulisan seperti ini."
 
Ada lagi tulisan di perumahan yang berbunyi:
"Ngamen gratis"
Komentar: Pemilik rumah ini sungguh baik hati. Kalau ada pengamen yang ingin mengamen di depan rumahnya, tidak perlu membayar alias gratis. 
 
Lain lagi bunyi pengumuman di sebuah rumah sakit:
INSTRUKSI
No.: 005/Ins.Dir/RS.I&A/THS/Ska/VII/91
Untuk meningkatkan penggunaan ASI, maka diinstruksikan kepada seluruh pegawai yang bertugas untuk :
Memberikan penyuluhan gizi kepada semua ibu hamil dan meneteki setiapkali ibu-ibu tersebut datang, kapan saja..
Komentar : Hiiii....amit-amit jangan sampai jadi pegawai di Rumah Sakit itu. Bayangkan kalau tiap hari ada 50 ibu-ibu yang datang, apa nggak 'gempor' pegawai itu karena harus meneteki ibu-ibu...  

 
Terakhir, di sebuah tempat parkir ada tulisan:
"Bagi yang membawa sepeda, harap dikunci."
Komentar: Ngeri....ah kalau harus dikunci. Bagian mana dari tubuh pemilik sepeda yang harus dicanteli gembok??!!!
 
 
"If any man wishes to write in a clear style, let him be first clear in his thoughts; and if any would write in a noble style, let him first possess a noble soul"
~ Johann Wolfgang von Goethe                                                                                                                      
::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+
http://purnawan-kristanto.blogspot.com
http://kisah-inspiratif.blogspot.com/
http://www.geocities.com/purnawankristanto/
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Selasa, 11 Desember 2007

Nostalgia SMA


Inilah foto kenangan ketika saya bersekolah di SMA 1 Negeri Wonosari. Foto diambil dalam perjalanan pulang, di jalan sebelah kantor kecamatan Wonosari. Tampak bangunan di belakang adalah sekolah kami.

Dari kiri ke kanan: Saya (naik sepeda), Suwarto yang dipanggil 'Simbah', Hariyantno yang dipanggil Hatno, Umi Anjariyah, Budi Kusumaningsing, Kardiyono yang dipanggil "Kalil", Ismadi (belakang) dan Oni Astuti (kelihatan sepotong). Dimana mereka kini?


Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More