Sabtu, 24 November 2007

Menghindar dari Perangkap Trauma

Bencana sekecil apapun pasti meninggalkan jejak goresan yang tak terhapuskan dalam kenangan manusia. Sesaat setelah bencana, korban menjadi tertegun dan bingung. Dia tidak percaya atas apa yang terjadi. Dia masih berusaha menolak realitas di depan matanya.

Beberapa waktu kemudian, muncul berbagai reaksi lanjutan dari peristiwa yang traumatis seperti ini:

Perasaan memuncak dan tak terduga. Korban menjadi mudah tersinggung. Suasana hatinya mudah berubah-ubah. Dia mengalami kecemasan, kegugupan dan tertekan.

Pola pikir dan perilakunya terpengaruh trauma. Dia sering kali teringat lagi pada peristiwa itu. Kenangan ini muncul begitu saja, tanpa sebab, yang menyebabkan reaksi fisik seperti jantung berdebar atau keringat dingin. Dia juga kesulitan berkonsentasi, membuat keputusan dan mudah bingung. Pola tidur dan makannya juga terganggu.

Reaksi emosi yang berulang-ulang. Peringatan yang berkaitan dengan bencana itu bisa memicu lembali kenangan buruknya. Misalnya peringatan setahun bencana itu, suara sirene, suara gaduh, atau melihat pemandangan mengenaskan. "Pemicuan" kenangan ini disertai kekhawatiran bahwa kejadian itu akan terulang lagi.

Hubungan antar manusia menjadi tegang. Sering terjadi konflik di antara anggota keluarga atau antara korban dengan relawan kemanusiaan. Jika korban enggan berkonflik, dia menarik diri untuk mengisolasi diri.

Trauma psikis yang sangat berat kemungkinan besar akan disertai dengan gangguan fisik seperti kepala pusing, perut mual dan dada nyeri.  Bagaimana jika Anda mengalami peristiwa traumatis? Apa yang bisa Anda lakukan untuk memulihkan diri?

Persiapkan diri Anda. Sadarilah bahwa Anda akan mengalami masa-masa yang sulit. Biarkanlah Anda menangisi semua kehilangan Anda. Bersabarlah terhadap perubahan emosi Anda.

 Minta bantuan orang lain. Carilah orang yang rela mendengarkan keluh kesah dan berempati kepada Anda. Tapi ingat, pertolongan itu bisa sia-sia jika orang itu juga pernah mengalami atau menyaksikan bencana yang membuatnya trauma. Curahkan isi hati Anda pada keluarga atau sahabat Anda. Anda bisa juga menuangkannya dalam buku harian.

Temuilah Lembaga Swadaya Masyarakat.  Ada LSM yang memberi bantuan pemulihan trauma akibat bencana alam, konflik sosial atau korban penjahatan (misalnya perkosaan). Carilah LSM yang berpengalaman dan punya tenaga yang terlatih dan profesional. Biasanya mereka memfasilitasi kelompok diskusi yang anggotanya terdiri dari para korban. Diskusi ini mendorong antar korban untuk saling menghibur dan menguatkan.

Lakukan kebiasaan sehat. Olahraga yang teratur dapat meningkatkan daya tahan Anda terhadap stres. Makan dengan gizi seimbang dan istirahat yang cukup. Jika kesulitan tidur, gunakan teknik relaksasi. Hindari penggunaan alkohol dan obat tidur.

Ciptakan kembali pola rutinitas. Makan, tidur dan bangun pada jam-jam tertentu.

Hindari membuat keputusan besar. Misalnya berganti pekerjaan, berhutang dalam jumlah besar atau menikah. Keputusan ini berpotensi menimbulkan stres yang tinggi.

Sumber: www.psychworks.com; www.agnr.umd.edu; www.fcs.uga.edu

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It