Rabu, 28 November 2007

Homoseks: Keturunan atau Lingkungan?

Apakah homoseks itu karena pembawaan sejak lahir atau karena dibentuk oleh lingkungan? Topik ini mengalir dalam bincang-bincang saya dengan bu Nunuk dan Tutik, sambil menyantap makan siang (27/Nop).

Apa yang menyebabkan seseorang memiliki orientasi seks yang menyukai sesama jenis? Ada sebagian orang yang berpendapat bahwa orientasi ini dibentuk oleh faktor genetika di dalam tubuhnya. Sebagai contoh, ada anak-anak laki yang sejak kecil berperilaku lemah gemulai layaknya kaum perempuan. Jalannya genit, cara bicaranya lembut dan lebih senang bermain dengan teman perempuan.

Saya berpendapat, teori yang pertama ini memiliki implikasi teologis yang sangat serius. Jika seseorang dibentuk oleh gen-gen yang memiliki orientasi seksual menyukai sesama jenis, maka itu mengandung implikasi bahwa Allah merestui homoseksual. Buktinya, Allah memberikan gen-gen yang "bukan laki-laki" dan "bukan perempuan"

"Sebelum kamu menyimpulkan demikian, renungkanlah penjelasan berikut ini," kata bu Nunuk sambil menyuap makanan. Dia mengunyah sebentar, kemudian melanjutkan penjelasannya,"Pernahkah kamu kamu memikirkan dalam konteks apa teologi bi-seksual, yaitu ajaran yang hanya mengakui dua jenis kelamin: laki-laki dan perempuan itu dibuat? Dalam konteks budaya Patrarkhi di Timur Tengah. Pernah nggak kamu memikirkan bahwa bisa saja terjadi bias budaya di dalam pengajaran teologi biseksual?"

Saya terkesima mendengar penjelasan bu Nunuk. Nasi yang saya telan, seakan tercekat di tenggorokan. Saya buru-buru mengambil air minum untuk menggelontor makanan itu.

"Aku tahu, kamu pasti kaget mendengar logika ini," kata bu Nunuk sambil tersenyum, "Pada mulanya, aku pun terkejut karena hal ini bertentangan dengan iman Katolikku. Tetapi sebagai aktivis HAM, aku berkewajiban berpikir terbuka dan menerima pendapat dari siapa pun," lanjut anggota Komnas Perempuan ini.

"Bisa jadi, selama ini ada orientasi seksual ketiga, yaitu di luar orientasi laki-laki suka dengan perempuan dan perempuan suka dengan laki-laki. Namun selama berabad-abad hal ini direpresi dan ditekan oleh budaya Patriakhi."

"Saya belum bisa menerima pendapat bahwa Allah mungkin menciptakan orientasi seksual yang ketiga ini, bu" jawab saya jujur. "Meski begitu, saya coba memahaminya begini: Memang akhir-akhir ini terjadi perubahan genetika di dalam tubuh manusia. Hal ini akibat dari kemajuan teknologi, peningkatan tingkat kesehatan, membaiknya asupan makanan, tapi juga karena pencemaran. Sebagai contoh, manusia purba memiliki rahang dan gigi yang sangat kuat. Hal ini dibutuhkan untuk mengoyak dan mengigit daging dan makanan lainnya. Namun seiring dengan kemajuan peradaban, bentuk rahang dan gigi manusia mengalami perubahan."

"Maka tak mustahil, perubahan-perubahan ini juga mempengaruhi kromosom pembentuk orientasi seksual manusia. Misalnya, peternak ayam potong sering menyuntikkan hormon estrogen pada hewan ternaknya. Jika dikonsumsi secara berlebihan oleh kaum pria, maka ada kecenderungan pertumbuhan payudara pada kaum pria."

Bu Nunuk manggut-manggut. "Teori yang lain mengatakan bahwa orientasi homoseksual itu dibentuk oleh faktor lingkungan," kata bu Nunuk menimpali ucapan saya. "Pengalaman saya selama mengkonseling beberapa orang, ternyata ada orang yang menjadi homoseks karena pengalaman traumatis di masa lalu. Misalnya, ada anak perempuan yang melihat bapaknya sering menghajar ibunya. Akibatnya dia menjadi benci pada ayahnya dan semua kaum laki-laki."

"Orang yang seperti ini bisa mengalami perubahan,"lanjut pegiat lembaga konsumen ini," kalau punya kemauan yang kuat, dia bisa mengubah orientasi seksualnya menjadi menyukai lawan jenis."

Persoalannya, teori yang mana yang harus saya yakini? Untuk saat ini, saya belum bisa memutuskannya. Saya lalu teringat teman saya. Isterinya minggat bersama dengan teman perempuannya. Dia minta cerai, tapi teman saya menolak. Dia berkeyakinan, apa yang dipersatukan oleh Allah itu tidak dapat dipisahkan oleh manusia.

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Sabtu, 24 November 2007

Naskah Drama Natal

 

Menjelang perayaan Natal, biasanya gereja sibuk mempersiapkan diri dan latihan untuk dipentaskan pada perayaan Natal. Salah satu di antaranya adalah menyiapkan pementasan drama.  Sayangnya, saat ini belum banyak terdapat naskah-naskah drama untuk Natal.

Itu sebabnya, saya ingin membagikan dua naskah mini drama. Salah satu naskah ini pernah sukses dipentaskan di depan anak-anak retardasi mental di Panti Asuhan "Elisabeth," Salatiga.

Berikut sinopsis ceritanya:

1. Mencari Karung Santa

Drama ini bersifat interaktif. Penonton akan dilibatkan untuk melakukan aktivitas tertentu. Misalnya menempelkan gambar pada tempat yang cocok, menyanyi bersama, menghitung bersama dll.

Menjelang bulan Desember, Bu Santa Claus menyiapkan hadiah untuk dibagikan kepada anak-anak di seluruh dunia. Pak Santa sedang tidak ada di rumah karena sedang memperbaiki kereta saljunya. Bu Santa memasukkan semua hadiahnya ke dalam karung.

Sementara itu di sebuah pegunungan, tidak jauh dari rumah Santa Claus, hiduplah lima raksasa. Kelima raksasa itu bernama Raksasa Egois, Raksasa Iri Hati, Raksasa Kebencian, Raksasa Kemarahan dan Raksasa Pemberontak. Mereka sedang mengadakan rapat. Semua raksasa tidak senang pada pekerjaan Santa karena membuat anak-anak di seluruh dunia. Akibatnya, mereka tidak dapat menggoda anak-anak supaya berbuat jahat. Dalam rapat itu diputuskan akan mencuri karung hadiah Santa Claus.

Bu Santa pun harus mencari karung itu. Di tengah jalan, dia bertemu dengan Dora, Diego dan Bud. Santa menceritakan masalah yang dia hadapi. Mereka bergabung dengan perjalanan Santa.

Dalam perjalanan itu mereka menemui berbagai hambatan dari Kelima Raksasa. Supaya mendapatkan karung tersebut, Miss Santa cs harus bisa melewati semua tantangan. Untuk itu mereka harus meminta tolong penonton.

Berkat kekompakan dan kerjasama akhirnya bu Santa berhasil menemukan kembali karungnya yang hilang.  Dia segera membagi-bagikan isi karung kepada penonton.

 

2. Pengharapan di Tengah Kesesakan

Di padang Efrata, Zakaria bertengkar dengan Zebulon. Mereka berebut padang penggembalaan. Simeon menengahi pertengkaran itu. Mereka sepakat untuk menyampaikan persoalan ini kepada majikan masing-masing.

Di tempat lain, Naftali dan Dina (adik-adik Simeon) dikejar-kejar tentara Romawi karena mengamen di pasar. Dia bersembunyi di dalam rumah. Tentara Romawi menyusul sampai di rumah. Sarah (ibu Naftali) memintakan maaf untuk anak-anaknya. Tentara Romawi bersedia melepaskan setelah meminta uang suap.

Di rumah pak Yoas, Simeon menyampaikan persoalan di padang Efrata kepada majikannya itu. Pak Yoas malah mengeluhkan keadaan yang semakin sulit. Padang rumput semakin susah didapat karena dipakai oleh tentara Romawi untuk membangun benteng pertahanan dan pasar. Padang-padang rumput yang tersisa juga dikuasai oleh tentara Romawi. Setiap peternak harus membayar sewa untuk menggembalakan di situ. Yoas tidak merasa tidak mampu membayar sewa. Yoas punya rencana untuk berhenti berternak domba saja.

Simeon pulang ke padang Efrata dengan hati gundah. Kalau Yoas benar-benar menutup usahanya, maka dia akan kehilangan pekerjaan. Padahal dia harus menghidupi ibunya, yang sudah menjanda dan Naftali, adiknya. Saat Simeon sampai di padang Efrata, ibu dan adiknya sudah menyusul di sana. Mereka memberitahukan bahwa kehabisan uang untuk makan besok. Simeon hampir putus asa. Sebelum pulang, ibunya mengingatkan Simeon tentang janji Tuhan yang akan mengirimkan seorang Mesias, yang akan memerintah dengan adil. Simeon menanggapinya dengan dingin.

Tak lama kemudian, terjadi peristiwa luarbiasa. Malaikat mendatangi Simeon dan kawan-kawannya, untuk memberitahukan kedatangan Juruselamat. Para gembala segera pergi ke Betlehem, seperti yang diperintahkan malaikat. Sesudah itu Simeon pulang untuk memberitakan dua kabar baik. Pertama, kabar baik tentang kedatangan juruselamat. Kedua, tentang perkenalannya dengan para Majus di Betlehem. Para Majus itu memberitahukan ada padang rumput yang sangat subur dan luas di sebelah Timur. Simeon lalu berpamitan untuk  untuk menggembala di sana.

Jika Anda tertarik, silakan unduh naskah dalam format PDF pada situs saya:

Drama Natal

Menjelang perayaan Natal, biasanya gereja sibuk mempersiapkan diri dan latihan untuk dipentaskan pada perayaan Natal. Salah satu di antaranya adalah menyiapkan pementasan drama.  Sayangnya, saat ini belum banyak terdapat naskah-naskah drama untuk Natal.

Itu sebabnya, saya ingin membagikan dua naskah mini drama. Salah satu naskah ini pernah sukses dipentaskan di depan anak-anak retardasi mental di Panti Asuhan "Elisabeth," Salatiga.

Berikut sinopsis ceritanya:

1. Mencari Karung Santa

Drama ini bersifat interaktif. Penonton akan dilibatkan untuk melakukan aktivitas tertentu. Misalnya menempelkan gambar pada tempat yang cocok, menyanyi bersama, menghitung bersama dll.

Menjelang bulan Desember, Bu Santa Claus menyiapkan hadiah untuk dibagikan kepada anak-anak di seluruh dunia. Pak Santa sedang tidak ada di rumah karena sedang memperbaiki kereta saljunya. Bu Santa memasukkan semua hadiahnya ke dalam karung.

Sementara itu di sebuah pegunungan, tidak jauh dari rumah Santa Claus, hiduplah lima raksasa. Kelima raksasa itu bernama Raksasa Egois, Raksasa Iri Hati, Raksasa Kebencian, Raksasa Kemarahan dan Raksasa Pemberontak. Mereka sedang mengadakan rapat. Semua raksasa tidak senang pada pekerjaan Santa karena membuat anak-anak di seluruh dunia. Akibatnya, mereka tidak dapat menggoda anak-anak supaya berbuat jahat. Dalam rapat itu diputuskan akan mencuri karung hadiah Santa Claus.

Bu Santa pun harus mencari karung itu. Di tengah jalan, dia bertemu dengan Dora, Diego dan Bud. Santa menceritakan masalah yang dia hadapi. Mereka bergabung dengan perjalanan Santa.

Dalam perjalanan itu mereka menemui berbagai hambatan dari Kelima Raksasa. Supaya mendapatkan karung tersebut, Miss Santa cs harus bisa melewati semua tantangan. Untuk itu mereka harus meminta tolong penonton.

Berkat kekompakan dan kerjasama akhirnya bu Santa berhasil menemukan kembali karungnya yang hilang.  Dia segera membagi-bagikan isi karung kepada penonton.

 

2. Pengharapan di Tengah Kesesakan

Di padang Efrata, Zakaria bertengkar dengan Zebulon. Mereka berebut padang penggembalaan. Simeon menengahi pertengkaran itu. Mereka sepakat untuk menyampaikan persoalan ini kepada majikan masing-masing.

Di tempat lain, Naftali dan Dina (adik-adik Simeon) dikejar-kejar tentara Romawi karena mengamen di pasar. Dia bersembunyi di dalam rumah. Tentara Romawi menyusul sampai di rumah. Sarah (ibu Naftali) memintakan maaf untuk anak-anaknya. Tentara Romawi bersedia melepaskan setelah meminta uang suap.

Di rumah pak Yoas, Simeon menyampaikan persoalan di padang Efrata kepada majikannya itu. Pak Yoas malah mengeluhkan keadaan yang semakin sulit. Padang rumput semakin susah didapat karena dipakai oleh tentara Romawi untuk membangun benteng pertahanan dan pasar. Padang-padang rumput yang tersisa juga dikuasai oleh tentara Romawi. Setiap peternak harus membayar sewa untuk menggembalakan di situ. Yoas tidak merasa tidak mampu membayar sewa. Yoas punya rencana untuk berhenti berternak domba saja.

Simeon pulang ke padang Efrata dengan hati gundah. Kalau Yoas benar-benar menutup usahanya, maka dia akan kehilangan pekerjaan. Padahal dia harus menghidupi ibunya, yang sudah menjanda dan Naftali, adiknya. Saat Simeon sampai di padang Efrata, ibu dan adiknya sudah menyusul di sana. Mereka memberitahukan bahwa kehabisan uang untuk makan besok. Simeon hampir putus asa. Sebelum pulang, ibunya mengingatkan Simeon tentang janji Tuhan yang akan mengirimkan seorang Mesias, yang akan memerintah dengan adil. Simeon menanggapinya dengan dingin.

Tak lama kemudian, terjadi peristiwa luarbiasa. Malaikat mendatangi Simeon dan kawan-kawannya, untuk memberitahukan kedatangan Juruselamat. Para gembala segera pergi ke Betlehem, seperti yang diperintahkan malaikat. Sesudah itu Simeon pulang untuk memberitakan dua kabar baik. Pertama, kabar baik tentang kedatangan juruselamat. Kedua, tentang perkenalannya dengan para Majus di Betlehem. Para Majus itu memberitahukan ada padang rumput yang sangat subur dan luas di sebelah Timur. Simeon lalu berpamitan untuk  untuk menggembala di sana.

Jika Anda tertarik, silakan unduh naskah dalam format PDF pada situs saya:

http://www.geocities.com/purnawankristanto/download.html

 

 

 

 

"If any man wishes to write in a clear style, let him be first clear in his thoughts; and if any would write in a noble style, let him first possess a noble soul"
~ Johann Wolfgang von Goethe                                                                                                                      
::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+
** Kunjungi Blog saya:
http://purnawan-kristanto.blogspot.com
http://kisah-inspiratif.blogspot.com/
** Kunjungi situs saya:
http://www.geocities.com/purnawankristanto/
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Naskah Drama Natal

Menjelang perayaan Natal, biasanya gereja sibuk mempersiapkan diri dan latihan untuk dipentaskan pada perayaan Natal. Salah satu di antaranya adalah menyiapkan pementasan drama.  Sayangnya, saat ini belum banyak terdapat naskah-naskah drama untuk Natal.

Itu sebabnya, saya ingin membagikan dua naskah mini drama. Salah satu naskah ini pernah sukses dipentaskan di depan anak-anak retardasi mental di Panti Asuhan "Elisabeth," Salatiga.

Berikut sinopsis ceritanya:

1. Mencari Karung Santa

Drama ini bersifat interaktif. Penonton akan dilibatkan untuk melakukan aktivitas tertentu. Misalnya menempelkan gambar pada tempat yang cocok, menyanyi bersama, menghitung bersama dll.

Menjelang bulan Desember, Bu Santa Claus menyiapkan hadiah untuk dibagikan kepada anak-anak di seluruh dunia. Pak Santa sedang tidak ada di rumah karena sedang memperbaiki kereta saljunya. Bu Santa memasukkan semua hadiahnya ke dalam karung.

Sementara itu di sebuah pegunungan, tidak jauh dari rumah Santa Claus, hiduplah lima raksasa. Kelima raksasa itu bernama Raksasa Egois, Raksasa Iri Hati, Raksasa Kebencian, Raksasa Kemarahan dan Raksasa Pemberontak. Mereka sedang mengadakan rapat. Semua raksasa tidak senang pada pekerjaan Santa karena membuat anak-anak di seluruh dunia. Akibatnya, mereka tidak dapat menggoda anak-anak supaya berbuat jahat. Dalam rapat itu diputuskan akan mencuri karung hadiah Santa Claus.

Bu Santa pun harus mencari karung itu. Di tengah jalan, dia bertemu dengan Dora, Diego dan Bud. Santa menceritakan masalah yang dia hadapi. Mereka bergabung dengan perjalanan Santa.

Dalam perjalanan itu mereka menemui berbagai hambatan dari Kelima Raksasa. Supaya mendapatkan karung tersebut, Miss Santa cs harus bisa melewati semua tantangan. Untuk itu mereka harus meminta tolong penonton.

Berkat kekompakan dan kerjasama akhirnya bu Santa berhasil menemukan kembali karungnya yang hilang.  Dia segera membagi-bagikan isi karung kepada penonton.

 

2. Pengharapan di Tengah Kesesakan

Di padang Efrata, Zakaria bertengkar dengan Zebulon. Mereka berebut padang penggembalaan. Simeon menengahi pertengkaran itu. Mereka sepakat untuk menyampaikan persoalan ini kepada majikan masing-masing.

Di tempat lain, Naftali dan Dina (adik-adik Simeon) dikejar-kejar tentara Romawi karena mengamen di pasar. Dia bersembunyi di dalam rumah. Tentara Romawi menyusul sampai di rumah. Sarah (ibu Naftali) memintakan maaf untuk anak-anaknya. Tentara Romawi bersedia melepaskan setelah meminta uang suap.

Di rumah pak Yoas, Simeon menyampaikan persoalan di padang Efrata kepada majikannya itu. Pak Yoas malah mengeluhkan keadaan yang semakin sulit. Padang rumput semakin susah didapat karena dipakai oleh tentara Romawi untuk membangun benteng pertahanan dan pasar. Padang-padang rumput yang tersisa juga dikuasai oleh tentara Romawi. Setiap peternak harus membayar sewa untuk menggembalakan di situ. Yoas tidak merasa tidak mampu membayar sewa. Yoas punya rencana untuk berhenti berternak domba saja.

Simeon pulang ke padang Efrata dengan hati gundah. Kalau Yoas benar-benar menutup usahanya, maka dia akan kehilangan pekerjaan. Padahal dia harus menghidupi ibunya, yang sudah menjanda dan Naftali, adiknya. Saat Simeon sampai di padang Efrata, ibu dan adiknya sudah menyusul di sana. Mereka memberitahukan bahwa kehabisan uang untuk makan besok. Simeon hampir putus asa. Sebelum pulang, ibunya mengingatkan Simeon tentang janji Tuhan yang akan mengirimkan seorang Mesias, yang akan memerintah dengan adil. Simeon menanggapinya dengan dingin.

Tak lama kemudian, terjadi peristiwa luarbiasa. Malaikat mendatangi Simeon dan kawan-kawannya, untuk memberitahukan kedatangan Juruselamat. Para gembala segera pergi ke Betlehem, seperti yang diperintahkan malaikat. Sesudah itu Simeon pulang untuk memberitakan dua kabar baik. Pertama, kabar baik tentang kedatangan juruselamat. Kedua, tentang perkenalannya dengan para Majus di Betlehem. Para Majus itu memberitahukan ada padang rumput yang sangat subur dan luas di sebelah Timur. Simeon lalu berpamitan untuk  untuk menggembala di sana.

Jika Anda tertarik, silakan unduh naskah dalam format PDF pada situs saya:

http://www.geocities.com/purnawankristanto/download.html

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Sedan Hijauku Hilang (Cerpen Natal)

 Cerpen: Purnawan Kristanto

 

Memandang keluar dari jendela bis, aku melihat banyak perubahan yang terjadi di kampung halamanku. Aku menyaksikan banyak yang sudah berubah sejak aku meninggalkan kabupaten Gunungkidul sejak dua puluh tahun yang lalu. Jalannya masih berliku-liku, namun sudah mulus dengan aspal hotmix. Angkutan umum dari Jogja ke Wonosari juga sudah banyak. Kata sopir yang kutumpangi, setiap 3 menit sekali ada bis yang berangkat dari terminal.

Dulu, jumlah kendaran umum masih sedikit. Meski seluruh kursi sudah terisi penuh, sopir belum juga menjalankan kendaraannya. Dia masih akan menjejalkan penumpang sehingga deretan kursi untuk empat orang, harus diisi lima penumpang. Itu saja masih ditambah bangku kecil yang disebut dingklik yang diletakkan di dekat pintu samping. Penumpang yang tidak mendapat tempat duduk harus bergelayutan di pintu mobil atau duduk di atap mobil.

Mobil berjalan terseok-seok meninggalkan jejak asap dan debu. Perjalanan menyelusuri punggung bukit kapur itu sungguh menyiksa. Kami  melewati jalan-jalan yang berkelok-kelok dengan tanjakan yang curam. Setiap kali mobil merayapi tanjakan, kenek selalu memegang balok kayu seukuran paha manusia. Sewaktu-waktu mobil tidak kuat menanjak, dengan sigap dia melompat turun dan menyorongkan balok itu di belakang ban supaya mobil tidak melorot. Setelah itu, sebagian penumpang harus turun supaya beban menjadi ringan. Mereka harus berjalan kaki hingga puncak tanjakan.

Aku lebih suka duduk di atap kendaraan. Meski sedikit berbahaya, tapi di tempat ini bisa menghirup udara segar. Kalau duduk di dalam, mulutku menjadi mual-mual karena menghirup hawa panas bercampur keringat penumpang. Itu saja masih ditingkahi bau minyak angin yang dioles-oleskan penumpang untuk mencegah mabuk. Apalagi kalau pas hari pasaran. Aroma belanjaan seperti ikan asin, bawang dan terasi semakin menambah pengap.

Aku menyandarkan kepalaku di sandaran jok dan mencoba memejamkan mata. Tiba-tiba wajahku terpercik air. Rupanya tetesan air hujan memercik lewat jendela bis yang sengaja kubuka.  Hmmm.... aku senang mencium bau tanah kering yang tersiram air hujan. Warga desa kami selalu menyambut hujan dengan sukacita, karena itu berarti kami mulai bisa menanami ladang. Kami juga tidak lagi harus meminum air telaga yang kecoklaktan. Pada musim kemarau, belik dan sumur menjadi kering. Satu-satunya sumber air yang tersisa adalah telaga di pinggiri desa yang bersama-sama dipakai untuk mandi, mencuci baju, dan memandikan sapi. Entah mengapa, kami jarang sakit meskipun mengkonsumsi air yang tidak hiegenis itu. Mungkin ini karunia Tuhan.

Hujan mengingatkan aku pada perayaan Natal di desaku. Tidak ada perayaan Natal tanpa guyuran hujan. Dulu, aku biasa berpayung daun pisang ketika berangkat ke perayaan Natal. Sepatu kubungkus plastik, lalu aku berlari menerabas jalan berlumpur dengan bertelanjang kaki. Sampai di balai desa, barulah aku mencuci kaki dan memakai sepatu.

Sehari sebelumnya, seluruh jemaat mulai dari anak-anak sudah sibuk menyiapkan perayaan itu. Anak-anak datang ke balai desa sambil membawa kayu bakar dan gulungan daun pisang yang sudah dilepaskan dari batangnya. Kayu bakar dipakai untuk memasak.Daun pisang digunakan untuk membungkus nasi. Kaum pria sibuk menyiapkan panggung dan menata kursi. Beberapa pemuda menebang pucuk pohon cemara di hutan pinggrian desa dan menghiasinya. Ibu-ibu menanak nasi dan menyiapkan lauk-pauk. Setelah matang, nasi dan lauk dibungkus dengan daun pisang. Kedua ujungnya dilipat dan ditusuk dengan batang lidi sehingga secara sepintas seperti mobil sedan. Iti sebabnya sambil bergurau kami sering menjulukinya "sedan hijau". Nasi panas yang menyentuh daun pisang itu menimbulkan aroma masakan khas. Beda sekali jika nasi itu dibungkus dengan kertas minyak atau piring.

Natal yang sederhana, namun kami merasakan kehangatan kebersamaan sejak menyiapkan perayaan itu. Begitu memasuki bulan Desember, anak-anak Sekolah Minggu mulai giat menghapalkan ayat yang akan dipertunjukkan pada tamu undangan. Aku paling senang melatih drama anak-anak, memakai naskah buatanku sendiri.  Karena berbagai keterbatasan di desa saya memanfaatkan korden jendela dan sprei sebagai jubah pemeran orang-orang di tanah Palestina.

Sudah dua puluh tahun aku tidak merayakan Natal di desa.Seperti apakah Natal di desaku? Semoga saja masih seperti dulu. Bis berhenti di simpang tiga Mbranang. Aku turun di sini.

"Selamat datang, Mas," sambut Titus yang menjemputku dengan sepeda motor. Wah, anak ini sudah menjadi pemuda, batinku. Dia pernah menjadi murid Sekolah Mingguku. Waktu kecil, badannya kurus. Perutnya buncit karena cacingan. Hidungnya sering beringus. Tapi sekarang sudah menjadi pemuda yang berbadan tegap.

"Perayaan Natal nanti malam dimulai jam berapa?" tanyaku sambil melangkah di boncengan sepeda motor.

"Jam tujuh, di gedung gereja, Mas" jawab Titus.

"Lho, biasanya di Balai Desa, to?"

"Sekarang sudah lain, Mas?"

"Lain bagaimana maksudnya?".

"Sudah tiga tahun ini kami tidak boleh Natalan di Balai Desa?"

"Lho, mengapa begitu" tanyaku heran.

"Entahlah," jawab Titus,"Katanya sih ada peraturan kalau Balai Desa tidak boleh dipakai untuk kegiatan keagamaan."

"Alasanya apa?"

"Kata pak Lurah, ini untuk menjaga kerukunan antar umat beragama."

Aku tercenung sesaat. Lho, apa hubungannya penggunaan balai desa dengan kerukunan? Bukankah selama ini semaunya baik-baik saja? Sama seperti Lebaran, perayaan Natal sudah menjadi hari besar yang dirayakan seluruh warga desaku. Setiap kali perayaan Natal, hampir seluruh warga desa berbondong-bondong Balai Desa untuk melihat pertunjukkan hiburan. Maklumlah, di desa tidak banyak hiburan. Tapi aku diberitahu Titus kalau tradisi itu sudah menghilang. Perayaan keagamaan di desaku kini hanya menjadi milik umat agama itu saja.

Sampai di rumah, berbaring sejenak untuk melepas penat. Tidak banyak yang berubah di kamarku. Poster Gabriel Batistuta, pemain bola yang kukagumi,  masih terpampang di pintu lemari. Kain tirai jendela kamar juga tidak berganti. Warnanya sudah memudar, tapi bersih dan harum. Kasurnya terasa empuk. Pasti baru saja dijemur.

Menjelang petang, aku mandi. Sekarang aku tidak perlu lagi mandi di telaga karena orangtua sudah berlangganan air PAM. Airnya cukup jernih karena diambil dari sungai bawah tanah. Aku sudah tak sabar untuk segera pergi ke gereja. Hujan sudah turun sejak pukul tiga sore. Kami sekeluarga berangkat bersama-sama, menyusuri jalan desa yang sudah dikonblok..

Aha itu dia si Aris! "Selamat hari Natal. Sekarang kerja dimana?" sapaku.

Aris mengeluarkan kartu namanya. Rupanya dia menjadi Webmaster sebuah situs berita. Aku masih ingat, dulu pakaiannya selalu kusut. Kamarnya berantakan.Buku-buku berserakan di lantai. Berbagai komponen elektronik tersebar di berbagai tempat Orang ini memang jenius. Mungkin itulah sebabnya dia tidak sempat mengurus diri. Tapi penampilannya sekarang cukup rapi. Rambutnya masih panjang, tetapi diikat rapi di belakang.

Nah, itu Wahyudi, si pedagang kain di pasar Tanah Abang. Waktu kecil, dia jago main ketapel. Kami suka berburu tupai di kebun kelapa milik mbah Kromosentono. Itu ada Suwardi, yang waktu kecil suka mencari belalang kayu untuk tambahan lauk.. Wah, sekarang dia menjabat Dirjen di Departeman Keuangan. Wah, sudah sukses anak ini. Hey, bukankah itu Yuli., si ibu Bidan? Dulu, teman- teman sering menjodoh-jodohkan aku dengan gadis hitam manis ini.

Aku senang teman-temanku sudah sukses. Mereka pulang kampung dengan mengendarai. Tak lupa, mereka menggenggam Handphone model terbaru. Ada yang dilengkapi kamera digital. Ada pula yang berbentuk PDA. Selama acara berlangsung, HP mereka tak henti-henti berbunyi. Mereka terlihat sibuk membalas SMS. Mungkin itu ucapan selamat Natal dari relasi mereka.

Aku memilih duduk di pojok belakang. Acara sambutan-sambutan itu membuatku tersisa. Dari sejak aku kecil sampai kini isi sambutan ya hanya itu-itu saja. Orang yang memberi sambutan pun hanya orang itu-itu juga. Mengapa sih tidak dihilangkan saja?

"Wah tidak bisa, Wan" kata Ayahku saat aku mengusulkan agar sambutan itu dikurangi saja. "Itu adalah bagian tradisi dan penghormatan kita kepada orang yang dituakan."

"Tradisi 'kan bisa diubah. Lha wong Undang-undang Dasar saja sekarang bisa diubah kok," batinku sambil ngedumel.

Nah ini dia, waktunya makan. Aku sudah mengidamkan "sedan hijau" itu. Sudah lama aku tidak menikmati nasi merah, sayur lombok, sambel kering, plus telur ayam kampung yang dibungkus daun pisang. Aku menelan air ludah. Tapi,.... lho yang dibagikan kok bungkusan sterofoam? Mana bungkusan "sedan hijau itu? Dengan ogah-ogahan aku membuka tutup sterofoam itu. Isinya nasi dan ayam goreng tepung dari sebuah restoran siap saji dari Amerika. Hmm...globalisasi sudah merembes sampai di Gunungkidul, bantinku.

"Lho mana sedan hijaunya?" bisikku pada Titus.

"Sekarang sudah diganti, Mas. Jemaat sekarang sudah ogah direpoti urusan menyiapkan makanan," jawab Titus sambil membuka kotak stereofoam. Minumnya juga sudah diganti. Tidak lagi segelas teh melati, tapi air putih dalam kemasan gelas plastik

"Dengan memesan makanan begini, 'kan lebih praktis dan lebih bergengsi," lanjut Titus sambil melahap makanan. Aku menyisihkan bungkusan itu. Tiba-tiba, aku kehilangan selera makanan, padahal sejak siang tadi sengaja kukosongkan perutku demi sedan hijau itu.

"Tapi mengapa tidak memesan makanan yang khas di sini saja?" tanyaku kecewa.

"Kami sudah bosan dengan menu yang itu-itu saja. Lagi pula ini sumbangan dari mas Joko Susilo. Itu lho, teman Mas yang menjadi akuntan publik,"terang Titus dengan mulut penuh. Dia lalu mengatakan bahwa jemaat tidak lagi dipungut iuran untuk biaya Natal ini. Semua biaya sudah disumbang oleh teman-temanku yang sudah sukses itu.  Ada yang menyumbang makanan. Ada yang menanggung dekorasi dan video. Ada yang membayari penari profesional. Ada juga yang nanggap grup lawak untuk acara hiburan.

"Pantas ada banyak umbul-umbul dan spanduk perusahaan di depan gereja. Jadi, mereka mensponsori perayaan Natal ini, to?" tanyaku kaget.

Titus mengangguk bangga. Aku terdiam.

 Teman-temanku membanggakan keberhasilan mereka. Lalu apa yang bisa kubanggakan? Seorang penulis lepas sepertiku, jelas tidak punya logo perusahaan untuk kupasang di spanduk di depan gereja. Aha! Sebaiknya kutulis saja ceritaku ini, lalu kukirimkan ke koran. Semoga Natal tahun depan aku bisa memfotokopi cerpenku yang sudah dimuat dan menunjukkan pada  orang-orang di desaku.

Gunungkidul, Desember 2004

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Keajaiban Kasih

Kasih itu suatu keajaiban

Dan senantiasa demikian

Karena kasih tetap merupakan

Rahasia indah dari kehidupan !

 

Kasih bekerja dalam berbagai cara

Yang mengherankan

Dan mengagumkan tiada terkira

Dan tiada apapun dalam kehidupan

Yang kasih tak sanggup ubahkan,

 

Kasih dapat mengubahkan

Keadaan serba biasa

Menjadi luar biasa dan indah

Lembut dan penuh anugerah !

 

Kasih tiada serakah

Mau mengerti dan ramah

Karena kasih melihat dengan hati

Dan bukan dengan akal budi !

 

Kasih adalah jawaban

Yang dicari setiap insan

Kasih adalah bahasa

Sarana tiap hati berbicara,

 

Kasih tak dapat diperniagakan

Tak ternilai tetapi cuma-cuma

Kasih itu adalah keajaiban

Merupakan rahasia yang mengagumkan

 

Puisi ini pernah dibacakan pada Pertunangan kami, [Purnawan dan Pelangi]

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Menghindar dari Perangkap Trauma

Bencana sekecil apapun pasti meninggalkan jejak goresan yang tak terhapuskan dalam kenangan manusia. Sesaat setelah bencana, korban menjadi tertegun dan bingung. Dia tidak percaya atas apa yang terjadi. Dia masih berusaha menolak realitas di depan matanya.

Beberapa waktu kemudian, muncul berbagai reaksi lanjutan dari peristiwa yang traumatis seperti ini:

Perasaan memuncak dan tak terduga. Korban menjadi mudah tersinggung. Suasana hatinya mudah berubah-ubah. Dia mengalami kecemasan, kegugupan dan tertekan.

Pola pikir dan perilakunya terpengaruh trauma. Dia sering kali teringat lagi pada peristiwa itu. Kenangan ini muncul begitu saja, tanpa sebab, yang menyebabkan reaksi fisik seperti jantung berdebar atau keringat dingin. Dia juga kesulitan berkonsentasi, membuat keputusan dan mudah bingung. Pola tidur dan makannya juga terganggu.

Reaksi emosi yang berulang-ulang. Peringatan yang berkaitan dengan bencana itu bisa memicu lembali kenangan buruknya. Misalnya peringatan setahun bencana itu, suara sirene, suara gaduh, atau melihat pemandangan mengenaskan. "Pemicuan" kenangan ini disertai kekhawatiran bahwa kejadian itu akan terulang lagi.

Hubungan antar manusia menjadi tegang. Sering terjadi konflik di antara anggota keluarga atau antara korban dengan relawan kemanusiaan. Jika korban enggan berkonflik, dia menarik diri untuk mengisolasi diri.

Trauma psikis yang sangat berat kemungkinan besar akan disertai dengan gangguan fisik seperti kepala pusing, perut mual dan dada nyeri.  Bagaimana jika Anda mengalami peristiwa traumatis? Apa yang bisa Anda lakukan untuk memulihkan diri?

Persiapkan diri Anda. Sadarilah bahwa Anda akan mengalami masa-masa yang sulit. Biarkanlah Anda menangisi semua kehilangan Anda. Bersabarlah terhadap perubahan emosi Anda.

 Minta bantuan orang lain. Carilah orang yang rela mendengarkan keluh kesah dan berempati kepada Anda. Tapi ingat, pertolongan itu bisa sia-sia jika orang itu juga pernah mengalami atau menyaksikan bencana yang membuatnya trauma. Curahkan isi hati Anda pada keluarga atau sahabat Anda. Anda bisa juga menuangkannya dalam buku harian.

Temuilah Lembaga Swadaya Masyarakat.  Ada LSM yang memberi bantuan pemulihan trauma akibat bencana alam, konflik sosial atau korban penjahatan (misalnya perkosaan). Carilah LSM yang berpengalaman dan punya tenaga yang terlatih dan profesional. Biasanya mereka memfasilitasi kelompok diskusi yang anggotanya terdiri dari para korban. Diskusi ini mendorong antar korban untuk saling menghibur dan menguatkan.

Lakukan kebiasaan sehat. Olahraga yang teratur dapat meningkatkan daya tahan Anda terhadap stres. Makan dengan gizi seimbang dan istirahat yang cukup. Jika kesulitan tidur, gunakan teknik relaksasi. Hindari penggunaan alkohol dan obat tidur.

Ciptakan kembali pola rutinitas. Makan, tidur dan bangun pada jam-jam tertentu.

Hindari membuat keputusan besar. Misalnya berganti pekerjaan, berhutang dalam jumlah besar atau menikah. Keputusan ini berpotensi menimbulkan stres yang tinggi.

Sumber: www.psychworks.com; www.agnr.umd.edu; www.fcs.uga.edu

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Rabu, 21 November 2007

Video Panggung Boneka

Bulan September 2007 saya mengikuti Pelatihan Penanggulangan Gempa Berbasis Masyarakat di Bali. Dalam pelatihan tersebut, kami diajari cara menggunakan boneka. Sekembalinya ke tempat masing-masing, setiap peserta dibekali dengan film boneka tentang bencana, boneka muppet dan komik. Peserta diharapkan untuk memutar video tersebut di komunitas masing-masing dan menggunakan boneka sebagai media interaksi dengan anak-anak.
Berikut ini saya upload video tentang gempa. Ceritanya ckup bagus, informatif dan menarik untuk ditonton. Jika ada pengunjung yang ingin informasi lebih lanjut entang program ini, silakan kontak saya. Terimakasih.
Untuk melihat video tersebut, klik di sini:

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Belalang Goreng (Fried Locust)

Bagi sebagian besar orang, belalang dianggap sebagai hama. Tapi masyarakat Gunungkidul mengubah hama itu menjadi camilan yang lezat. Rasanya seperti udang goreng. Silakan coba makanan khas tempat kelahiran saya ini. Tapi hati-hati bagi orang yang alergi.Lihat video tentang belalang goreng ini, di sini!

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Selasa, 06 November 2007

Gereja pun Jadi Sasaran Penipuan

Para penipu sudah benar-benar nekat. Gereja pun sekarang menjadi target penipuan. Selasa sore (6 Nop), telepon di rumah kami berdering. "Apa betul ini (menyebut nama gereja kami)?" tanya penelepon. Dari suaranya, kelihatannya berdialek dari Indonesia bagian Timur.
"Ini rumah pastori. Silakan Bapak telepon kantor gereja," jawab saya.
"Apakah bisa bicara dengan pendetanya?" si penelepon tidak menggubris jawaban saya.
"Ini darimana?" tanya saya.
"Saya dari Depag," jawab suara di seberang [Cling.....! Saya teringat peristiwa serupa setahun yang lalu].
"Apa yang bisa saya bantu?" tanya saya.
"Apa bisa bicara dengan pendetanya?"
"Ya saya pendetanya," jawab saya berbohong. Padahal yang jadi pendeta itu isteri saya.
"Nama Bapak siapa?" tanyanya [Lho...Anda yang menelepon, tapi Anda tidak tahu siapa yang akan Anda telepon, batin saya]
"Lho Anda mencari siapa?" tanya saya mengelak.
"Saya mencari pendetanya"
"Ya saya pendetanya." [Isteri saya melihat sambil tersenyum-senyum]
"Oke, kalau begitu Bapak diminta untuk menelepon Dirjen Pembimas Kristen, Bapak....(menyebut seorang nama Jawa dengan nama baptis)."
"Ada perlu apa saya harus menelepon beliau?" tanya saya.
"Ada urusan yang sangat penting" jawabnya.
"Yang punya kepentingan itu 'kan dari Depag. Kalau memang itu sangat penting, mengapa bukan bapak dirjen Pembimas sendiri yang menelepon ke sini. Mengapa saya yang harus menelepon?" jawab saya.
Tuuuut...tuuuuut....tut!!! Telepon dimatikan.
Mungkin saya telah bersikap ketus dan kasar. Tapi ini bukan pengalaman yang pertama. Setahun yang lalu, isteri saya menerima telepon yang mengaku dari Depag.  Si penelepon mengatakan bahwa gereja kami akan menerima bantuan dari Depag. Namun ujung-ujungnya, mereka minta duit. Saat itu isteri saya menjawab, "Kalau bantuan itu memang benar, silakan kirim surat resmi ke Majelis Jemaat gereja. Nanti kami akan menanggapinya secara resmi." Saat itu juga telepon diputus.
Semoga kisah ini bermanfaat supaya kita tetap waspada.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More