Rabu, 03 Oktober 2007

Umpan Ampuh untuk Mengail Ide



Bagi penulis, “ide” adalah makhluk yang menggemaskan. Kedatangannya tak dapat dijadwal tepat waktu, mirip sekali dengan pelayanan kereta api di Indonesia. Ketika kita sangat membutuhkan, dia malah jual mahal, bersembunyi entah dimana. Ketika kita sedang tidak siap menulis, dia malah menari-nari menggoda otak kita.
Namun tidak usah khawatir. Anda sebenarnya dapat memasang umpan yang jitu untuk mengail ide pada saat membutuhkannya. Anda memiliki tiga jenis umpan, yaitu umpan ingatan, umpan pengamatan dan umpan riset.
1. Ingatan
Theodore Roosevelt berkata, “Do what you can, with what you have, where you are.” Kita dapat memulai mendapatkan bahan cerita dari apa yang sudah kita miliki saat ini, yaitu ingatan atau memori.
Pengalaman dan masa lalu Anda merupakan sumber cerita yang tak ada habis-habisnya. Sejak kecil kita mengumpulkan banyak kenangan mengenai orang, tempat, peristiwa dan benda-benda lainnya. Ingatan ini seringkali muncul begitu saja tanda diduga, terutama ketika dipicu oleh keadaan tertentu. Mencium parfum tertentu, mengingatkan pada cinta pertama Anda. Suara sirine memunculkan memori tentang tragedi yang pernah dialami di masa lampau. Melihat album foto membawa angan-angan Anda kembali mengenang masa kecil.
Namun ketika akan membuat cerita, ada kalanya pemicuan tersebut tidak terjadi sehingga kita kesulitan membangkitkan kenangan di masa lalu. Hal ini dapat disiasati dengan memakai empat metode berikut ini:



a. Kode Kata
Salah satu kunci untuk membuka peti ingatan kita adalah dengan kode kata. Cara yang dipakai adalah memilih kata kunci dari tema cerita atau premise yang sudah ditentukan. Kata ini dipakai sebagai pijakan awal yang akan menuntun kita untuk menemukan satu tema cerita yang spesifik. Setiap kata akan memicu Anda untuk memikirkan beberapa pengalaman. Ketika Anda mengingat kembali satu pengalaman, hal itu akan mendorong Anda untuk menghubungkannya dengan pengalaman lain yang mungkin terlupakan.
Berikut contohnya:
· Bunga
· Tukang Kebun
· Sederhana
· Anak banyak
· Nakal
· Polisi
· Kegaduhan
Perhatikan daftar di atas dimulai dari kata yang netral “bunga”. Kata tersebut berhubungan dengan “tukang kebun.” Demikian seterusnya, hingga akhirnya kita menemukan bahan cerita. Dari serangkaian kata-kata ini didapatlah bahan cerita tentang kehidupan tukang kebun yang sederhana, punya anak banyak tapi nakal-nakal sehingga terpaksa berurusan dengan polisi.
Anda bisa memulai metode ini dengan satu kata kunci dari pengajaran yang hendak Anda sampaikan. Misalnya, ketaatan, kerendahan hati, ketegaran, kasih, sukacita dll.

b. Curah Gagasan (Brainstorming)
Metode ini merupakan pengembangan dari metode kode kata. Berawal dari sebuah kata, kita menuliskan semua ide yang berkaitan dengan kata tersebut. Hal ini dapat diibaratkan seperti mencurahkan air di dalam gelas ke dalam baskom. Seluruh isi gelas dituangkan semuanya. Tidak ada yang dipilih-pilih. Demikian juga dalam menuliskan ide, tuliskanlah apa saja yang terlintas di otak Anda, tanpa menyeleksinya. Anda tidak perlu memusingkan urut-urutannya, alur logika atau ejaan tulisan.
Contoh:
Ikan
Rasul Petrus menjala ikan
Yesus ikut makan ikan
Ikan bakar bebas kolesterol
Memancing itu asyik
Menjala hasilnya lebih banyak
Yunus pernah ditelan oleh ikan besar
Hati-hati tertusuk duri ikan
Ketika semua ide sudah dituangkan, selanjutnya bacalah daftar ide Anda. Apakah Anda dapat menarik sebuah benang merah di antara daftar itu? Apakah ada ide yang perlu dibuang? Apakah ada kaitan diantara ide tersebut? Setelah membaca kembali daftar ide di atas, saya mendapat ide membuat cerita tentang petualangan dua ekor ikan pada zaman Yesus. Salah satu ikan tersebut tersangkut dalam jaring yang ditebarkan Petrus.

c. Menulis Bebas
Metode ini hampir mirip dengan melamun. Caranya diawali dengan suatu kata tertentu, Anda menulis secara bebas. Tidak harus berkaitan dengan kata kunci tertentu (inilah perbedaan dengan curah gagasan). Tujuan utamanya adalah menulis kalimat sebanyak-banyaknya dalam waktu tertentu (5-10 menit) tanpa berhenti. Anda tidak perlu merisaukan arah tulisan tersebut dan ketepatan ejaan. Tulis saja dengan bebas.
Contoh:
Cerita apa yang bisa kubuat? Ah aku belum punya ide sama sekali. Ide, ide, ide…mengapa ketika dibutuhkan justru tidak datang. Tapi ketika sedang tidak butuh, engkau datang tiba-tiba tanpa memberitahu dulu. Datangmu seperti pencuri. Tidak tahu kapan engkau datang. Engkau datang tanpa mengetuk, dan pergi tanpa permisi. Eh, ya…Tuhan Yesus ‘kan pernah juga memakai perumpamaan ini untuk menggambarkan waktu kedatangan-Nya yang kedua. Kita tidak akan pernah tahu, kapan Dia akan datang lagi sebagai Hakim Agung. Tapi di situlah asyiknya. Kita seperti bermain tebak-tebakan. Apakah hari ini Dia akan datang…. tidak….. datang… tidak… datang… tidak… datang… tidak. Apakah itu seperti menebak seperti ketika menghitung suara tokek? Enggak juga sih. Yesus sudah memberi tanda-tanda. Kita tinggal membaca tanda-tanda zaman saja, maka kita tahu kapan Dia akan datang. Yang dibutuhkan adalah soal kepekaan. Kita harus peka dalam membaca zaman. Ngomong-ngomong soal kepekaan. Dalam bahasa Inggris disebut sensibilitas. Akar katanya adalah sense. Menurut kamus berarti: pikiran, perasaan, kebijaksanaan dan indera. Itu artinya untuk mengasah kepekaan berarti kita melatih menggunakan indera, otak, hati dan roh.
Perhatikan contoh di atas. Berawal dari ketiadaan ide, tulisan tersebut bergerak bebas tanpa fokus yang jelas, namun dengan cara itu justru memunculkan gagasan-gagasan baru. Ini seperti melamun yang ngelantur kemana-mana.
Jika dirasa sudah cukup, maka baca kembali hasil tulisan bebas tersebut. Temukanlah ide-ide menarik yang dapat dikembangkan. Dari tulisan di atas, kita dapat mengembangkan cerita tentang menyambut kedatangan Yesus.

d. Pemetaan Pikiran
Pemetaan pikiran (mind mapping) adalah sistem perekaman pikiran supaya kita biasa menggunakan otak kiri maupun otak kanan dengan baik. Seluruh bagian otak digunakan untuk berpikir. Untuk melakukan ini, kita dapat menggunakan kata-kata kunci, lambang, dan warna. Mind mapping memungkinkan kita membangkitkan dan mengatur pikiran-pikiran pada waktu yang sama.
· Catat poin utama, pikiran atau ide utama.
· Lingkari gagasan utama, kemudian gunakanlah cabang-cabang yang saling menyambung untuk menunjukkan ide-ide yang berhubungan.
· Dalam membuat catatan, petakan hal-hal yang sedang Anda pikirkan. Anda akan membangkitkan lebih banyak ide, melihat hubungan di antara kata-kata kunci, dan lebih bersenang-senang!
Selesai melakukan pemetaan, lihat peta tersebut secara umum. Temukanlah apakah Anda dapat menarik jalinan cerita dari peta otak tersebut.

2. Pengamatan
Meskipun ingatan dapat menjadi sumber cerita yang kaya, tetapi Anda tidak semua hal masuk ke dalam ingatan Anda. Contohnya, kalau Anda dibesarkan di gunung, Anda mungkin tidak punya kenangan atas kehidupan di laut. Kalau Anda lahir dan besar di kota, Anda mungkin tidak memiliki kenangan atau pengalaman sebagai penggembala. Untuk itu, Anda dapat memakai teknik pengamatan atau observasi.
Di dalam kemiliteran sebelum menyerbu sebuah kota, sang perwira biasanya mengirimkan unit mata-mata untuk menyusup ke sasaran serbu. Tugas mereka adalah mengamati situasi di dalam kota dan mengumpulkan informasi intelijen sebanyak-banyaknya. Misalnya mencatat keadaan jalan, pembangkit listrik, instalasi militer, sarana komunikasi, jumlah penduduk dll.
Mirip dengan agen spionase, dalam metode ini Anda mendatangi sebuah tempat dan mencatat apa saja yang menonjol dan berkesan bagi Anda. Berikut caranya:
a. Bawalah bloknot dan alat tulis. Datangilah sebuah tempat yang ingin Anda amati, kemudian tentukan sudut pandang Anda. Ada empat sudut sudut pandang:
a.1. Sudut pandang wisatawan
Posisi mata Anda sejajar dengan objek yang akan diamati. Anda dapat mengamati salah satu sisi objek yang diamati:sebelah muka, belakang dan samping.
a.2. Sudut pandang burung
Posisi mata Anda di atas objek yang diamati. Misalnya, Anda mengamati lapangan parkir dari puncak gedung, menyaksikan pertandingan sepakbola dari tribun atas, melihat perkotaan dari pesawat terbang.
a.3. Sudut pandang katak
Posisi mata Anda di bawa objek yang diamati. Misalnya, Anda melihat patung jendral Sudirman di Jakarta, melihat puncak Monas, memeriksa kolong mobil dll.
a.4. Sudut pandang komidi putar
Pada komidi putar, kita dapat melihat seluruh sisi objek karena objek itu berputar. Karena tidak semua objek dapat diputar, maka dalam hal ini si pengamatlah yang berputar. Ia mengelilingi objek untuk mengamati semua sisinya.
b. Perhatikan objek tersebut dan tuliskan apa saja yang dapat Anda lihat, dengar, cium dan rasa. Pergunakan semua indera yang Anda miliki. Sama seperti dalam curah gagasan, Anda tidak perlu memusingkan masalah susunan kalimat, penulisan ejaan, alur logika dll. Tugas pokok Anda adalah menuliskan kesan dominan yang tertangkap oleh indera-indera Anda.
c. Setelah 15 menit, bacalah catatan yang Anda buat. Lihat objek yang diamati sekali lagi, untuk mengetahui jika ada sesuatu yang ketinggalan untuk dicatat. Akhirnya, tuliskan komentar singkat berdasarkan catatan tersebut.
Contoh
Lokasi: Alun-alun
Waktu: 15.00-17.00
Cuaca: Cerah
· Lapangan berdebu. Rumput kering karena lama tidak turun hujan
· Anak-anak laki-laki asyik bermain sepakbola. Bolanya sudah butut
· Ibu mengajak bayi jalan-jalan sambil menyuapi
· Bau busuk tercium dari selokan yang mampet
· Udara terasa hangat, angin berhembus semilir
· Seorang pengamen asyik menghitung hasil ngamennya di bawah pohon beringin
· Seorang anak menangis keras minta jajan es krim
· Penjual sate keliling membakar sate ayam di atas gerobak dorongnya. Baunya enak


3. Riset
Ada pepatah mengatakan, “Learn from other people's mistakes, life isn't long enough to make them all yourself.” Meski kelihatannya bercanda, tapi ada kebenaran indah di dalam kebenaran ini. Kita harus belajar dari orang lain. Tidak hanya dari kesalahan mereka saja, tetapi juga dari keberhasilan mereka.
Dengan belajar dari orang lain, kita bisa menghemat waktu, biaya dan sumberdaya lainnya. Sebagai contoh, Anda mungkin belum pernah melihat padang rumput di Israel karena untuk pergi ke sana membutuhkan ongkos besar. Hal ini dapat disiasati dengan riset, yaitu meminta informasi dari orang lain. Ada beberapa langkah yang baik untuk memulai riset:
a. Mulailah dengan perpustakaan pribadi. Kumpulkan kliping dari berbagai macam koran dan majalah yang menarik. Selain itu, Anda pun perlu melengkapi perpustakaan dengan buku‑buku tafsir yang baik, telaah Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, kamus‑kamus, konkordansi lengkap, ensiklopedia dan bermacam buku teologia, sejarah, arkeologi, penelitian penulis lain, geografi, kebudayaan dan lain sebagainya. Makin lengkap perpustakaan Anda, makin mudah Anda dalam membuat cerita menulis.
b. Gunakan sumber‑sumber informasi. Di Indonesia ada LINK (Lembaga Informasi Kristen), Pusat Perpustakaan Nasional dan sebagainya. Nah, mengapa kita tidak memanfaatkan sumber‑sumber informasi yang bisa memperkaya dan memberi bobot pada cerita Anda?
c. Mengunjungi para pakar. Di samping sumber‑sumber tertulis di atas, Anda pun bisa mendapatkan informasi dari berbagai pakar menurut bidang keahlian mereka masing‑masing. Mereka biasanya senang membagikan ilmu dan keahlian yang mereka miliki, asal kita menanyakan secara sopan serta menjelaskan untuk apa informasi yang kita tanyakan itu. Kalau sumber 'hidup' ini jaraknya dekat, kita bisa langsung datang ke rumahnya dengan perjanjian lebih dulu. Kalau jaraknya jauh, dan cerita dikejar oleh deadline, Anda bisa menyuratinya lebih dulu.
d. Akses internet. Kalau Anda memiliki komputer, modem dan saluran telepon, maka Anda bisa “menjelajahi dunia”. Ada informasi melimpah yang bisa didapatkan dari internet. Gunakan search engine semacam Google.com, Yahoo.com, Ask.com untuk mendapatkan informasi yang diinginkan.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More