Senin, 03 September 2007

Kisah Sukses Mantan Napi

    Prestasinya cukup spektakuler. Hanya dalam satu tahun, dia langsung menyabet peringkat dua di perusahannya sebagai wiraniaga yang paling banyak menjual polis asuransi. Sebagai hadiahnya, dia boleh melancong ke Swiss gratis. Tapi karena ada kendala teknis, tempat tujuannya diubah ke Beijing. Tahun berikutnya, tahun 2006, peringkatnya melorot satu tingkat, ke peringkat tiga. Dia sengaja mengurangi targetnya karena banyak nasabahnya yang sedang mengalami kesulitan ekonomi.
    Sebut saja namanya, Wahyu (bukan nama sebenarnya). Bapak berusia 43 tahun ini sekarang dengan bangga mengaku bahwa dia hanya lulusan STM jurusan listrik. Dia ingin menunjukkan bahwa dengan pendidikan yang minim pun bukan alasan untuk mencapai sukses, asal mau bekerja keras dan berkomitmen tinggi. Namun di balik itu, ada satu hal yang tidak banyak diketahui orang. Dia adalah mantan narapidana selama 5 tahun dan di antaranya pernah menghuni L.P. Nusakambangan. Dia dihukum karena mengedarkan narkotika.
    Selama Wahyu dalam penjara, anak dan isterinya mengalami masa-masa yang berat.  Termasuk juga dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.  Melihat hal ini, setiap bulan sebuah gereja memberikan beras kepada keluarga ini. Ketika Wahyu selesai menjalani hukuman, dia tidak tahu harus bekerja apa. Sebagai mantan narapidana, dia mendapat stigma buruk dari masyarakat. 
    Namun tidak semua orang curiga kepada Wahyu. Ada salah satu anggota jemaat yang memberi kesempatan kepadanya.  Sebut saya namanya pak Jeremia. Berkat relasinya yang kuat, pak Jeremia bisa memasukkan Wahyu ke sebuah perusahaan asuransi. Namun pak Jeremia tidak berhenti di sini. Dengan sabar dia memberikan bimbingan dan motivasi kepada Wahyu. Dia memberikan beberapa langkah strategis. "Kalau kamu melakukan langkah-langkah ini, aku jamin kamu akan sukses," kata pak Jeremia.
    Ternyata kepercayaan dan kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Wahyu. Setelah sukses sebagai agen pemasar top di perusahaannya, Wahyu menetapkan target baru. Dia ingin masuk dalam daftar  agen pemasaran asuransi paling sukses secara nasional. Langkah ke sana sudah dimulai. Tahun 2007 ini, dia masuk dalam 10 besar agen asuransi versi AAJI (Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia).
    Pelajaran apa yang bisa kita petik dari kisah ini?
1. Jangan menilai orang semata-mata dari masa lalunya. Setiap orang bisa berubah (entah itu ke arah perbaikan atau sebaliknya). Orang yang masa lalunya kelam, tidak selamanya akan menjadi orang yang jahat.
2. Berikan kesempatan kedua pada orang lain untuk memperbaiki diri.
3. Jika kita pernah berbuat kesalahan, bangkitlah kembali untuk memperbaikinya.
4. Pegang teguh kepercayaan yang telah diberikan orang lain kepada kita. Sebab di situlah terletak pintu menuju kesuksesan.
 
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It