Selasa, 18 September 2007

Jurnal Pelatihan Hari ke -6

Latihan dimulai dengan diskusi tentang peace education. Peace education atau pendidikan damai adalah salah satu bagian dari peace building. Mengapa pendidikan damai itu perlu diberikan pada anak-anak? Karena dalam kehidupan ini kita tidak mungkin menghindari ketidaksepakatan. Yang penting adalah kita tidak menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan ketidaksepakatan ini. Untuk mencegah terus berlangsungnya siklus kekerasan, pendidikan semestinya mempromosikan damai dan toleransi, bukannya kebencian dan kecurigaan.
“Budaya Damai adalah transisi dari logika pemaksaan dan ketakutan menjadi kekuatan motivasi dan kasih sayang," kata Taka Gani, mengutip Federico Mayor, dari UNESCO. Berkaitan dengan ini, maka PBB telah menatapkan bahwa tahun 2001-2010 adalah Dekade Internasional untuk Budaya Damai dan Anti-Kekerasan terhadap Anak-Anak di Dunia.


***
Jika mendengar “konflik” apa yang terlintas di benak Anda? Ketika hal ini ditanyakan pada partisipan maka sebagian besar mengasosiakannya dengan situasi yang negatif. Padahal sebenarnya konflik itu positif. Untuk itu peace education diperlukan supaya anak-anak dapat menyikapi konflik secara tepat.
lebih melihat kepada diri sendiri.
***
Usai coffe break, partisipan diajak menjawab tiga pertanyaan ini:
Apa arti damai bagi diri sendiri?
Apa arti damai bagi dunia?
Bagaimana saya sebagai individu bisa membantu dunia menjadi damai?
Partisipan membagikan jawaban masing-masing. Setelah itu, mbak Taka menjelaskan tentang siklus “buah pikiranà perasaanà tindakanà kebiasaanàbuah pikiran”. Apa yang ada di kepala kita dapat menimbulkan perasaan. Perasaan itu mendorong tindakan untuk mengambil tindakan. Tindakan yang dilakukan berulang-ulang akan menciptakan kebiasaan dan kebiasaan inilah yang membentuk pikiran kita.
Dengan memahami siklus ini, aktivis dapat menyadari bahwa kekerasan menjadi lingkaran setan yang sulit diputuskan. Untuk itu, dalam pendidikan damai diajarkan tentang pentingnya berpikir positif.

Sessi terakhir Taka Gani mengajarkan ketrampilan mendengarkan aktif. Dalam Peace Building, ketrampilan ini merupakan syarat dasar untuk menyelesaikan konflik. Kita harus meyakinkan pihak-pihak yang berkonflik bahwa kita siap dan bersedia mendengarkan persoalan mereka.
Partisipan dibagi menjadi berkelompok, masing-masing tiga orang. Secara bergantian setiap anggota kelompok berperan sebagai orang yang berbicara, pendengar dan pengamat. Tugas pendengar adalah mendengarkan omongan lawan bicaranya secara sungguh-sungguh. Dalam mendengar itu, ia harus merefleksikan isi atau emosi lawan bicaranya. Dia harus menghindari bertanya, memberi solusi dan mengalihkan perhatian
Sementara itu, tugas pengamat adalah mengamati apakah si pendengar telah menjalankan tugasnya dengan baik atau tidak. Si pengamat juga harus mencatat, apakah si pendengar melanggar larangan ini:
Menuduh
Mengkritik dengan tajam
Menyalahkan
Merendahkan
Mengalihkan perhatian
Memberi solusi
Menghakimi
Menghukum
Mengasihani
***
Demikianlah catatan saya saat mengikuti Pelatihan Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat, di Bali. Saya pulang ke Klaten pada hari Senin, 17 September 2007. Di bandara, saya baru tahu bahwa arak Bali bisa dibawa masuk ke dalam kabin. Saya lalu mencari arak itu di kios bandara. Ternyata harganya dua kali lipat lebih mahal. Akhirnya saya mengurungkan niat itu.
Di bawah terik matahari Bali, kami boarding di gerbang 16. Sebelumnya, kami sempat dibuat bingung. Pada boarding pass tertulis gerbang 16, tapi pengumuman pihak bandara mengatakan kami harus lewat gerbang 17. Mendengar itu, kami buru-buru menuju gerbang 17 yang berlawanan arah. Di depan gerbang 17, kami ditolak oleh petugas. Katanya, gerbang ini untuk tujuan Jakarta. Sedangkan tujuan Jogja, melalui gerbang 16. Dengan perasaan dongkol kami berbalik lagi ke gerbang 16.
Sama seperti keberangkatan, udara di dalam kabin terasa sangat panas namun saya sudah tidak kaget lagi. Ketika di udara, suhu kabin mulai terasa dingin. Sampai di Jogja, cuaca sedikit berawan. Pesawat kami harus memutar dulu sampai di atas sungai Progo untuk menunggu giliran pendaratan. Kami mendarat mulus di Jogja. Sambil turun dari pesawat saya menyanyikan lagu KLA “Pulang ke kotamu, ada setangkup haru rasa rindu……” Selalu ada alasan untuk pulang ke Jogja.

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It