Senin, 17 September 2007

Jurnal Pelatihan Hari ke -5

(Ditemani boneka, anak-anak menonton film tentang bencana)
Pukul delapan pagi, semua partisipan sudah meluncur ke tujuan masing-masing. Saya masuk dalam kelompok yang akan bercerita di depan anak-anak SDN 8 Sanur. Sesampai di sana, anak-anak SD sedang bermain-main di halaman. Ada yang main basket, ada yang menari, ada yang kejar-kejaran. Kami segera menyiapkan ruangan, yaitu dua ruangan kelas yang dijadikan satu. Pihak sekolah mencopot batas antar kelas yang terbuat dari papan tripleks.
Melihat kondisi ruangan, saya agak kecewa karena terlalu sempit dan panas. Tapi apa boleh buat, hanya itu yang ada. The show must go on! Panitia segera memasang layar dan memasang LCD. Sound system sederhana dipasang.
Ada tiga film yang akan dibawakan pada hari itu, yaitu gempa, tsunami dan peace building. Sebelum dan setelah pemutaran film, anak-anak diajak berinteraksi dengan boneka. Bersama dengan Saipul. Arman dan Monika, saya mendapat bagian terakhir yaitu tentang peace building.
Tugas ini cukup berat, mengingat anak-anak sudah duduk selama 1,5 jam. Udara mulai terasa panas. Suasananya sangat gaduh karena anak-anak kelas lain juga ingin ikut melihat (Acara ini hanya diikuti oleh anak kelas V dan VI). Meski begitu, anak-anak mengikuti acara ini dengan antusias. Metode pemakaian boneka terbukti efektif untuk menjalin interaksi dengan anak-anak. Film yang diputar juga menarik perhatian anak-anak. Mereka menyimak jalan cerita tiga film itu dengan sungguh-sungguh. Pukul 11 siang, acara sosialiasi ini pun usai.
Kami cepat-cepat kembali ke hotel untuk mengembalikan peralatan boneka, karena kami mendapat waktu bebas selama 3 jam. Ini kesempatan bagi kami untuk berbelanja oleh-oleh. Jadwal pelatihan yang sangat padat, hampir tidak memberikan waktu untuk berjalan-jalan dan berbelanja.
Saya ingin berbelanja ke Pasar Seni Sukawati. Konon harganya jauh lebih murah daripada di Sanur. Masalahnya, ongkos perjalanan pergi ke sana sangat mahal. Untuk sewa taxi selama dua jam saja kami harus mengosongkan kocek sebanyak Rp. 150.000,- Alternatifnya adalah dengan patungan. Saya mengajak Silvano, Monika, Indra, Rika dan satu teman dari lembaga donor (saya tidak tahu namanya). Kesepakatannya, adalah berbagi ongkos taxi bersama.
Taxi meluncur melintasi jalan by pas Ngurah Rai menuju Sukawati. Sesampai di Sukawati, saya segera memasuki kios demi kios untuk mencari barang yang diinginkan. Harganya memang jauh lebih murah, asalkan kita lihai menawar. Sebagai contoh kaos ukuran L/XL ditawarkan oleh penjual seharga Rp. 35.000,- ternyata bisa dibawa pulang dengan menukar uang Rp. 15.000,- saja. Baju batik yang ditawarkan seharga Rp. 50.000,- bisa turun sampai Rp. 20.000,-
Puas membeli oleh-oleh, saya ingin membeli arak Bali dengan harga Rp. 25.000,-. Tapi saya ragu-ragu apakah minuman beralkohol ini bisa masuk ke dalam kabin pesawat atau tidak. Teman saya, Rika, mengambil risiko itu. Dia membeli sebotol dan beberapa bungkus kacang Bali.
Sekitar jam 14.00, kami pulang ke hotel menggunakan taxi yang sama. Saya duduk di kursi depan, sementara teman-teman yang lain berdesakan di bangku belakang. Sesampai di hotel, teman-teman menyodorkan uang seratus ribu. “Nih, masih kurang limapuluh ribu. Kamu tambahi ya,” kata Rika. “Busyet! Kesepakatannya adalah berbagi, kenapa saya harus membayar lebih mahal,” begitu batinku. Tapi karena sudah ditunggu oleh sopir taxi, maka saya mengeluarkan selembar 50 ribuan dari dompet, kemudian menyerahkan pada sopir taxi. Sambil berjalan menuju kamar, saya menghibur diri, “Sudah, nggak apa-apa. Kamu ‘kan duduk enak di depan, sedangkan teman-temanmu harus berdesak-desakan di belakang.”
***
Usai makan siang dan istirahat sebentar, kami melakukan evaluasi kegiatan yang dilakukan di sekolah tadi pagi. Meski masih ada kekurangan di sana-sini, namun semua partisipan merasa puas pada hasil kegiatan tersebut. Kami senang karena bisa menjalin kerjasama tim meski dengan persiapan yang singkat.
Ade kemudian 10 orang yang akan melakukan pertunjukkan boneka. Kami diajak keluar ruangan dan berkumpul di dekat kolam renang. Sepuluh orang yang terpilih tadi ditugasi memainkan boneka, sedangkan sisanya menjadi audiens dan memberikan umpan balik. Tujuan dari kegiatan ini adalah mengajarkan tentang perbedaan permainan boneka di dalam dan di luar ruangan.


Peace Building
Setelah istirahat selama 15 menit, kami segera memasuki sessi Peace Building yang dipandu oleh Taka Gani dari Jesuit Refugee Services. Namun karena paginya sudah melakukan aktivitas yang berat di sekolah dasar, maka stamina partisipan melorot drastis. Apalagi ada sebagian partisipan yang menjalankan ibadah puasa.
Melihat situasi ini, Taka Gani mengajak partisipan untuk relaksasi. Partisipan dipersilahkan berbaring, kemudian mbak Taka memutar musik yang lembut. Selama beberapa menit, kami melemaskan otot-otot yang tegang dan mengheningkan pikiran.
Menurut mbak Taka, relaksasi ini merupakan salah satu alat yang penting dalam aktivitas Peace Building. “Sebelum bekerja untuk perdamaian, kita harus lebih dulu menjadi damai. Kita harus berdamai dengan diri sendiri,” kata mbak Taka.
Ia kemudian mengajukan pertanyaan: Kalau mendangar tentang peace builidng, apa yang terlintas di kepala Anda? Partisipan memberikan beberapa jawaban: “Karena ribut jadi perlu damai ; untuk membangun budaya damai ; kesejahteraan ; ini adalah solusi yang terbaik; mencari jati diri; harmonis; mengakomodir perbedaan; tulus; membangun kebersamaan, keseimbangan, keserasian; menerima perbedaan, persahabatan, kedamaian, cinta kasih, kasih sayang, mempersatukan perbedaan, menghargai, toleransi”
Apa itu Peace Building? Apa tujuannya? Peace Building adalah usaha mempromosikan keamanan manusia dalam masyarakat yang terkena konflik. Tujuannya untuk memperkuat kapasitas masyarakat untuk mengatasi konflik tanpa menggunakan kekerasan, sebagai sarana untuk mencapai keamanan yang berkelanjutan. Kegiatan yang terkait dengan peace building mulai dikenalkan tahun 1992 oleh Butros-Butros Gali. Ketika itu dunia masih banyak terjadi perang.
Di Indonesia, Peace Building ini memiliki arti yang sangat penting mengingat telah terjadi konflik di beberapa daerah. Mbak Taka kemudian meminta partisipan berbagi pengalaman pada saat mengalami situasi konflik.
Sylvano menceritakan pengalamannya ketika mementaskan teater di Timor Leste. Bersama dengan aktivis Bibi Bulak, ia masuk ke 30 tempat pengungsian yang rawan konflik. Pada saat itu sedang terjadi konfik antara suku yang bermukim di wilayah barat dan suku yang ada di bagian timur.
Di dalam Bibi Bulak, para aktivisnya berasal dari dua suku ini. Untuk itu, mereka saling melindungi. Ketika mereka berada di komunitas suku yang di wilayah timur, maka aktivis yang dari suku tersebut melindungi teman-temannya yang berasal dari suku di barat. Demikian sebaliknya.
Saiful kemudian berbagi pengalamannya di Poso. Menurutnya, efektivitas perjanjian Malino I dan II karena lebih banyak melibatkan tokoh formal. Padahal pemimpin yang ditaati oleh masyarakat adalah tokoh informal. Untuk itu, berusaha menjalin kontak dengan tokoh agama dan tokoh masyarakat adat.
Mbak Indra berbagi pengalaman saat menangani korban Tsunami di Aceh. Sebelum MoU antara GAM dengan pemerintah, dia mengalami kesulitan dalam menjalankan tugas kemanusiaan. Tapi sepelah MoU, kondisi sudah lebih baik meskipun masih ada trauma dan kecurigaan.
Yang menarik adalah pengalaman Sukhri. Sebagai pendudukAceh, dulu dia bingung harus berpihak pada siapa: TNI atau GAM. Semua memiliki resiko. Kalau berpihak GAM, maka dia pasti akan “hilang”, tidak ketahuan kemana. Kalau berpihak pada TNI, maka dia bisa dibunuh. Dia menceritakan salah satu keluarganya yang dipenggal oleh GAM dan kepalanya diletakkan di atas nampan.

Dari sharing pengalaman ini ditarik sebuah pelajaran bahwa konflik menyebabkan kita hilang kepercayaan pada orang lain. Kita menjadi curiga, takut, khawatir dan merasa terancam pada orang lain. Perasaan seperti ini tidak mudah dihilangkan. Kalau ada luka-luka fisik akibat bencana, kita bisa menyembuhkan dengan cepat. Namun yang lebih sulit disembuhkan adalah luka-luka batin. Karena itu Peace Building membutuhkan proses yang sangat panjang.
Sessi ini kemudian diakhiri dengan relaksasi lagi.

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It