Senin, 17 September 2007

Jurnal Pelatihan Hari ke-1

Seperti biasa, acara pelatihan selalu didahului dengan acara pembukaan. Selain peserta pelatihan, acara pembukaan ini dihadiri oleh pejabat pemerintah dan dari utusan dari lembaga donor. Dalam sambutannya, Georgina Jordan dari (Trocaire) memaparkan bahwa Trocaire lebih memilih fokus pada mitigasi bencana daripada merespon terhadap bencana. Els Coolen dari Jesuit Refugee Services (JRS) menjelaskan tentang JRS dan keterkaitannya dalam workshop ini.
Sementara itu Helen Bassini, menjelaskan tentang sejarah No Strings. Mereka telah menggunakan boneka untuk memberikan informasi kepada anak-anak tentang bencana di Srilangka dan tentang ranjau darat di Afghanistan.
Selanjutnya, dengan dipandu oleh Ade Andreawan partisipan diajak menuliskan harapan mereka. Setelah itu, Ronald dan Amanda langsung mengajarkan dasar-dasar pertunjukkan boneka:
Sebelum memainkan boneka, rapikan dulu rambut dan baju boneka. Soalnya, jika ada yang tidak rapi, maka hal ini akan mengalihkan perhatian anak-anak.Misalnya, baju boneka tersingkap. Hal ini membuat anak-anak tertawa.
Cara memegang boneka adalah dengan berdiri tegak dan mengangkat tangan tinggi-tinggi. Usahakan supaya boneka lebih tinggi daripada pemain boneka. Hal ini dimaksudkan supaya fokus perhatian anak-anak adalah pada boneka, bukan pada pemain boneka.
Jagalah mata boneka agar tetap menatap ke arah boneka.
Partisipan kemudian diberi kesempatan untuk latihan memegang boneka. Ternyata tidak mudah seperti kelihatannya. Memegang boneka tinggi-tinggi dalam waktu yang lama ternyata membuat lengan dan leher menjadi pegal-pegal.

Gerakan Menoleh
Latihan berikutnya adalah gerakan menoleh. Ron mengajarkan cara untuk menjalin interaksi antara boneka dan anak-anak, yaitu dengan menggerakkan boneka seolah-olah menyapukan pandangan ke arah penonton. Caranya, mula-mula menengok penuh ke kiri dan berhenti sejenak. Kemudian menatap lurus ke depan, berhenti sejenak. Menengok kanan secara penuh, berhenti sejenak. Menatap lurus, berhenti sejenak.
Setelah itu, menengok sedikit ke kiri, menatap lurus, menengok sedikit ke kanan dan terakhir menatap lurus. Dan boneka siap berkomunikasi dengan anak.
Sebelum coffe break, Ron memberi kesempatan pada partisipan untuk bertanya.
Q: Mengapa kita harus mengangkat boneka setinggi mungkin?
A: Karena bila banyak penonton hadir mereka dapat melihatnya. Juga untuk memisahkan fokus penonton kepada boneka, bukan pedalang.

Q: Bagaimana cara memegang boneka yang benar?
A: Lengan lurus ke atas. Lengan kita menjadi tulang belakang boneka. Ingat untuk selalu menegakannya. Jagalah jarak antara pedalang dengan boneka. Jangan sampai boneka terlalu dekat dengan pedalang sehingga anak-anak lebih memperhatikan pedalang daripada boneka.

Q: Bagaiman jika kita kidal, bolehkah memegang dengan tangan kiri?
A: Tidak masalah selama hal ini membuat kita nyaman

Q: Seberapa besar kita sebaiknya menggerakkan boneka?
A: Kadang-kadang gerakan kecil dapat membuat perbedaan yang besar, lebih daripada gerakan
besar. Banyaklah berlatih sehingga kita dapat belajar bahwa gerakan kecil seringkali diperlukan dan penting. Ini juga lebih enak bagi pedalang karena tidak membuat cepat lelah.

Q: Seberapa sering dan seberapa cepatkah kita harus menggerakan boneka?
A: Perlahan namun pasti. Lebih baik, dengan beberapa kali berhenti. Ini akan lebih mengena.

Q: Mana yang lebih penting , apakah tingginya boneka atau kontak mata boneka dengan
audience ?
A: Yang penting audience melihat bonekanya, bukan orang yang memainkannya.

Q: Bagaimana kalau orang yang memainkannya ingin berinteraksi dengan boneka?
A: Bisa saja pedalang berinteraksi dengan boenakanya. Untuk itu kita buisa menyejajarkan boneka dengan pedalang. Tapi yang penting tulang punggung boneka harus tetap tegak.

Latihan Lip Sync
Latihan berikutnya adalah menggerakkan mulut boneka selaras dengan omongan pedalang. Tekniknya cukup sederhana yaitu menggerakan jari jempol membuka dan menutup dengan empat jari lainnya. Yang boleh bergerak hanya jempolnya saja. Ketika berlatih tanpa boneka, hal ini mudah dilakukan. Tapi ketika sudah memegang boneka, gerakan ini sulit dilakukan, terutama menjaga supaya empat jari lainnya tetap stabil.
Sebagai permulaan, Ron mengajak partisipan berlatih berhitung dari satu sampai sepuluh, menggunakan boneka. Caranya, setiap terucap satu suku kata, maka mulut boneka membuka satu kali. Contoh, jika pedalang berkata “Sa-tu” maka mulut boneka terbuka sebanyak dua kali. Kalau berkata “se-pu-luh”, maka mulut boneka membuka tiga kali.

Berikutnya, Ron mengajarkan teknik berjalan. Ron mengajarkan cara membuat boneka seolah-olah sedang berjalan. Tekniknya adalag menggerakkan boneka maju, pandangan lurus ke depan (sesekali boleh menengok), lengan terayun-ayun kecil untuk menciptakan kesan sedang melenggang. Usahakan supaya boneka terayun dengan irama yang tetap.

Memainkan Boneka dengan Tandem
Sessi terakhir diisi dengan memainkan boneka secara teknik. Satu boneka dipegang oleh dua orang. Satu orang memegang boneka dan menggerakkan mulut; satu orang lagi menggerakkan tangan (mengusap hidung, pegang kepala, memajukan tangan ke depan, melambai). Partisipan dibagi secara berpasang-pasangan dan diberi satu boneka.
Selanjutnya setiap pasangan diminta mencari pasangan lainnya untuk membentuk satu tim. Tiap tim ditugaskan membuat satu scene pertunjukkan, dengan memainkan dua boneka. Waktu yang diberikan untuk mempersiapkan diri kurang lebih 10 menit.
Secara bergiliran setiap tim mendapat kesempatan untuk memperagakan sebuah adegan cerita
pendek yang mempraktekkan semua gerakan boneka (berjalan, gerak bibir, gerak tangan,
gerak tubuh, kepala, focus pandangan mata, dsb).
Pelatihan berakhir pukul sembilan malam. Cukup melelahkan, tapi peserta merasa senang dan menikmati workshop ini.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It