Minggu, 23 September 2007

Hati-hati Penipuan Berkedok Fren

Pukul 17:11, telepon Fren kami berbunyi. Di layar HP tertera nomor 08886320127 yang memanggil. Nomor ini belum masuk dalam phonebook kami. Isteri saya yang mengangkatnya. "Halo, nama saya Drs. Wawan Setiawan dari Fren," kata si penelepon,"dengan siapa saya berbicara?" Isteri saya lalu menyebutkan namanya. "Ibu tinggal dimana?" tanya si penelepon. Isteri saya menyebutkan kota tempat kami berdomisili.
"Saya mengucapkan selamat. Nomor Ibu ini telah memenangkan undian dalam rangka bulan Ramadhan," kata si penelepon dengan suara yang bergembira. Sampai di sini, saya mulai curiga. Maka saya mengambil alih telepon.
"Halo, Bapak siapa?" tanya orang yang mengaku Wawan Setiawan. Saya mengatakan bahwa saya suaminya.
"Nama Bapak siapa?"
"Saya Joko" jawab saya berbohong.
"Saya dari Fren, memberitahukan bahwa Bapak Joko memenangkan hadiah undian dalam rangka bulan Ramadhan. Hadiah ini bebas pajak. Apakah Bapak punya buku tabungan untuk mentransfer hadiah?"
"Tunggu dulu," saya menyela,"bagaimana saya bisa memastikan bahwa Anda benar-benar dari Fren dan ini bukan penipuan. Apa buktinya?"
"Kalau Bapak tidak percaya, silakan lihat di LaTivi nanti malam," jawab Bapak itu.
"Saya tidak mau menunggu nanti malam,"sergah saya," Sekarang saya minta Anda meyakinkan saya bahwa Anda benar-benar dari Fren dan bahwa ini bukan penipuan!"
"Ya buktinya sekarang ini kita sedang saling mencocokkan data. Pembicaraan ini direkam, makanya jangan sampai pembicaraan kita ini putus," jawab orang di seberang. Kelihatannya dia mulai jengkel."Sekarang saya ingin tahu, apakah Bapak punya buku tabungan? Di Bank apa?"
"Saya tidak punya buku tabungan" jawab saya berbohong.
"Bagaimana kalau kartu ATM?" tanya orang itu.
"Tabungan saja tidak punya, apalagi kartu ATM," jawab saya.
"Bagaimana kalau Bapak mengambil sendiri hadiahnya? Bapak bisa mengambil di kantor kami di jl. Kebun Sirih" kata orang itu.
"Rumah saja jauh dari Jakarta," jawab saya.
"Apakah Bapak tidak punya Saudara di Jakarta?" tanya si penelepon.
"Tidak punya" jawab saya, lagi-lagi berbohong. Padahal mertua saya ada di Jakarta.
Tidak terdengar suara dari seberang. Rupanya dia telah memutuskan sambungan telepon.
Sejak semula saya sudah mencurigai bahwa ini adalah usaha penipuan karena ada beberapa kejanggalan:
1. Si penelepon menanyakan nama orang yang ditelepon. Mestinya, kalau ingin memberitahukan kemenangan, dia sudah tahu siapa yang akan ditelepon.  Ketika saya mengaku dengan nama "Joko", si penelepon percaya begitu saja. Padahal nomor telepon itu terdaftar atas nama saya [Purnawan]. Kalau dia benar-benar dari Fren, dia mestinya bisa memeriksa database-nya.
2. Si penelepon melakukan blunder dengan menyebut nama LaTivi. Kalau mau membuat acara pengundian pemenang, maka Fren pasti akan memilih stasiun TV yang masih "bersaudara" dengannya yaitu group MNC (TPI, RCTI, Global). Pemegang saham Fren adalah pemegang saham MNC juga.
3. Pengambilan hadiah bisa diwakilkan oleh orang lain. Memang dengan surat kuasa bisa saja dilakukan, tapi biasanya penyelenggara undian berharap pemenang menerima langsung. Ini untuk kepentingan publikasi.
 
Saya berkali-kali menerima SMS hoax yang memberitahukan saya memenangkan undian. Biasanya SMS sampah seperti ini langsung saya hapus. Namun baru kali ini saya mendapat telepon langsung dari si penipu. Ini modus baru. Saya menduga, si penipu berani menelepon karena ongkos telepon antar Fren memang murah.  Biasanya jika sang mangsa terpikat, dia digiring untuk pergi ke ATM terdekat. Selama itu, hubungan telepon tidak boleh terputus. Dengan teknik persuasi yang tinggi, si penelepon menggiring sang mangsa untuk mentransfer uang ke rekeningnya.
 
Kita perlu waspada dan kritis terhadap penyalahgunaan teknologi.
 
 
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It