Minggu, 23 September 2007

Kirana Sudah Bisa Berjalan

Pada tanggal 19 September Kirana, anak kami, akhirnya bisa berjalan. Saya tidak menduga prosesnya sedemikian cepat. Saya menyesal tidak dapat menyaksikkan langkah kecil pertamanya karena saat itu saya sedang mengikuti pelatihan di Bali. Sementara Kirana dan mamanya berlibur ke eyangnya di Jakarta.
Ketika saya tinggal, Kirana bahkan belum bisa berdiri tegak tanpa topangan apa-apa. Kalau ingin berdiri, dia harus menyandarkan punggungnya di dinding atau lemari. Beberapa anak biasanya melewati tahapan berdiri tegak dulu, kemudian mencoba melangkahkan kaki. Tapi Kirana tidak. Dia mencoba berdiri dan langsung berjalan dengan penuh percaya diri.
Menurut cerita mamanya, orang-orang di sekitar Kirana menirukan suara gamelan reog “tung dang tung, tung dang tung”. Dengan mengikuti irama itu, Kirana mendapat dorongan untuk mulai melangkahkan kakinya.
Mulai sekarang, kami harus lebih memasang mata lebar-lebar, sebab ia mulai menjelajahi setiap sudut rumah. Kalau terlena sedikit, dia bisa nyelonong keluar rumah, menuruni tangga yang curam. Kami merasa senang, tapi harus mulai waspada.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Hati-hati Penipuan Berkedok Fren

Pukul 17:11, telepon Fren kami berbunyi. Di layar HP tertera nomor 08886320127 yang memanggil. Nomor ini belum masuk dalam phonebook kami. Isteri saya yang mengangkatnya. "Halo, nama saya Drs. Wawan Setiawan dari Fren," kata si penelepon,"dengan siapa saya berbicara?" Isteri saya lalu menyebutkan namanya. "Ibu tinggal dimana?" tanya si penelepon. Isteri saya menyebutkan kota tempat kami berdomisili.
"Saya mengucapkan selamat. Nomor Ibu ini telah memenangkan undian dalam rangka bulan Ramadhan," kata si penelepon dengan suara yang bergembira. Sampai di sini, saya mulai curiga. Maka saya mengambil alih telepon.
"Halo, Bapak siapa?" tanya orang yang mengaku Wawan Setiawan. Saya mengatakan bahwa saya suaminya.
"Nama Bapak siapa?"
"Saya Joko" jawab saya berbohong.
"Saya dari Fren, memberitahukan bahwa Bapak Joko memenangkan hadiah undian dalam rangka bulan Ramadhan. Hadiah ini bebas pajak. Apakah Bapak punya buku tabungan untuk mentransfer hadiah?"
"Tunggu dulu," saya menyela,"bagaimana saya bisa memastikan bahwa Anda benar-benar dari Fren dan ini bukan penipuan. Apa buktinya?"
"Kalau Bapak tidak percaya, silakan lihat di LaTivi nanti malam," jawab Bapak itu.
"Saya tidak mau menunggu nanti malam,"sergah saya," Sekarang saya minta Anda meyakinkan saya bahwa Anda benar-benar dari Fren dan bahwa ini bukan penipuan!"
"Ya buktinya sekarang ini kita sedang saling mencocokkan data. Pembicaraan ini direkam, makanya jangan sampai pembicaraan kita ini putus," jawab orang di seberang. Kelihatannya dia mulai jengkel."Sekarang saya ingin tahu, apakah Bapak punya buku tabungan? Di Bank apa?"
"Saya tidak punya buku tabungan" jawab saya berbohong.
"Bagaimana kalau kartu ATM?" tanya orang itu.
"Tabungan saja tidak punya, apalagi kartu ATM," jawab saya.
"Bagaimana kalau Bapak mengambil sendiri hadiahnya? Bapak bisa mengambil di kantor kami di jl. Kebun Sirih" kata orang itu.
"Rumah saja jauh dari Jakarta," jawab saya.
"Apakah Bapak tidak punya Saudara di Jakarta?" tanya si penelepon.
"Tidak punya" jawab saya, lagi-lagi berbohong. Padahal mertua saya ada di Jakarta.
Tidak terdengar suara dari seberang. Rupanya dia telah memutuskan sambungan telepon.
Sejak semula saya sudah mencurigai bahwa ini adalah usaha penipuan karena ada beberapa kejanggalan:
1. Si penelepon menanyakan nama orang yang ditelepon. Mestinya, kalau ingin memberitahukan kemenangan, dia sudah tahu siapa yang akan ditelepon.  Ketika saya mengaku dengan nama "Joko", si penelepon percaya begitu saja. Padahal nomor telepon itu terdaftar atas nama saya [Purnawan]. Kalau dia benar-benar dari Fren, dia mestinya bisa memeriksa database-nya.
2. Si penelepon melakukan blunder dengan menyebut nama LaTivi. Kalau mau membuat acara pengundian pemenang, maka Fren pasti akan memilih stasiun TV yang masih "bersaudara" dengannya yaitu group MNC (TPI, RCTI, Global). Pemegang saham Fren adalah pemegang saham MNC juga.
3. Pengambilan hadiah bisa diwakilkan oleh orang lain. Memang dengan surat kuasa bisa saja dilakukan, tapi biasanya penyelenggara undian berharap pemenang menerima langsung. Ini untuk kepentingan publikasi.
 
Saya berkali-kali menerima SMS hoax yang memberitahukan saya memenangkan undian. Biasanya SMS sampah seperti ini langsung saya hapus. Namun baru kali ini saya mendapat telepon langsung dari si penipu. Ini modus baru. Saya menduga, si penipu berani menelepon karena ongkos telepon antar Fren memang murah.  Biasanya jika sang mangsa terpikat, dia digiring untuk pergi ke ATM terdekat. Selama itu, hubungan telepon tidak boleh terputus. Dengan teknik persuasi yang tinggi, si penelepon menggiring sang mangsa untuk mentransfer uang ke rekeningnya.
 
Kita perlu waspada dan kritis terhadap penyalahgunaan teknologi.
 
 
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Selasa, 18 September 2007

Galeri Foto Pelatihan





Boneka Muppet

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Galeri Foto

Berlatih di pinggir kolam renang
Ade Andreawan dan kembarannya




Peserta pelatihan berfoto bersama di pinggir kolam renang










Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Jurnal Pelatihan Hari ke -6

Latihan dimulai dengan diskusi tentang peace education. Peace education atau pendidikan damai adalah salah satu bagian dari peace building. Mengapa pendidikan damai itu perlu diberikan pada anak-anak? Karena dalam kehidupan ini kita tidak mungkin menghindari ketidaksepakatan. Yang penting adalah kita tidak menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan ketidaksepakatan ini. Untuk mencegah terus berlangsungnya siklus kekerasan, pendidikan semestinya mempromosikan damai dan toleransi, bukannya kebencian dan kecurigaan.
“Budaya Damai adalah transisi dari logika pemaksaan dan ketakutan menjadi kekuatan motivasi dan kasih sayang," kata Taka Gani, mengutip Federico Mayor, dari UNESCO. Berkaitan dengan ini, maka PBB telah menatapkan bahwa tahun 2001-2010 adalah Dekade Internasional untuk Budaya Damai dan Anti-Kekerasan terhadap Anak-Anak di Dunia.


***
Jika mendengar “konflik” apa yang terlintas di benak Anda? Ketika hal ini ditanyakan pada partisipan maka sebagian besar mengasosiakannya dengan situasi yang negatif. Padahal sebenarnya konflik itu positif. Untuk itu peace education diperlukan supaya anak-anak dapat menyikapi konflik secara tepat.
lebih melihat kepada diri sendiri.
***
Usai coffe break, partisipan diajak menjawab tiga pertanyaan ini:
Apa arti damai bagi diri sendiri?
Apa arti damai bagi dunia?
Bagaimana saya sebagai individu bisa membantu dunia menjadi damai?
Partisipan membagikan jawaban masing-masing. Setelah itu, mbak Taka menjelaskan tentang siklus “buah pikiranà perasaanà tindakanà kebiasaanàbuah pikiran”. Apa yang ada di kepala kita dapat menimbulkan perasaan. Perasaan itu mendorong tindakan untuk mengambil tindakan. Tindakan yang dilakukan berulang-ulang akan menciptakan kebiasaan dan kebiasaan inilah yang membentuk pikiran kita.
Dengan memahami siklus ini, aktivis dapat menyadari bahwa kekerasan menjadi lingkaran setan yang sulit diputuskan. Untuk itu, dalam pendidikan damai diajarkan tentang pentingnya berpikir positif.

Sessi terakhir Taka Gani mengajarkan ketrampilan mendengarkan aktif. Dalam Peace Building, ketrampilan ini merupakan syarat dasar untuk menyelesaikan konflik. Kita harus meyakinkan pihak-pihak yang berkonflik bahwa kita siap dan bersedia mendengarkan persoalan mereka.
Partisipan dibagi menjadi berkelompok, masing-masing tiga orang. Secara bergantian setiap anggota kelompok berperan sebagai orang yang berbicara, pendengar dan pengamat. Tugas pendengar adalah mendengarkan omongan lawan bicaranya secara sungguh-sungguh. Dalam mendengar itu, ia harus merefleksikan isi atau emosi lawan bicaranya. Dia harus menghindari bertanya, memberi solusi dan mengalihkan perhatian
Sementara itu, tugas pengamat adalah mengamati apakah si pendengar telah menjalankan tugasnya dengan baik atau tidak. Si pengamat juga harus mencatat, apakah si pendengar melanggar larangan ini:
Menuduh
Mengkritik dengan tajam
Menyalahkan
Merendahkan
Mengalihkan perhatian
Memberi solusi
Menghakimi
Menghukum
Mengasihani
***
Demikianlah catatan saya saat mengikuti Pelatihan Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat, di Bali. Saya pulang ke Klaten pada hari Senin, 17 September 2007. Di bandara, saya baru tahu bahwa arak Bali bisa dibawa masuk ke dalam kabin. Saya lalu mencari arak itu di kios bandara. Ternyata harganya dua kali lipat lebih mahal. Akhirnya saya mengurungkan niat itu.
Di bawah terik matahari Bali, kami boarding di gerbang 16. Sebelumnya, kami sempat dibuat bingung. Pada boarding pass tertulis gerbang 16, tapi pengumuman pihak bandara mengatakan kami harus lewat gerbang 17. Mendengar itu, kami buru-buru menuju gerbang 17 yang berlawanan arah. Di depan gerbang 17, kami ditolak oleh petugas. Katanya, gerbang ini untuk tujuan Jakarta. Sedangkan tujuan Jogja, melalui gerbang 16. Dengan perasaan dongkol kami berbalik lagi ke gerbang 16.
Sama seperti keberangkatan, udara di dalam kabin terasa sangat panas namun saya sudah tidak kaget lagi. Ketika di udara, suhu kabin mulai terasa dingin. Sampai di Jogja, cuaca sedikit berawan. Pesawat kami harus memutar dulu sampai di atas sungai Progo untuk menunggu giliran pendaratan. Kami mendarat mulus di Jogja. Sambil turun dari pesawat saya menyanyikan lagu KLA “Pulang ke kotamu, ada setangkup haru rasa rindu……” Selalu ada alasan untuk pulang ke Jogja.

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Senin, 17 September 2007

Jurnal Pelatihan Hari ke -5

(Ditemani boneka, anak-anak menonton film tentang bencana)
Pukul delapan pagi, semua partisipan sudah meluncur ke tujuan masing-masing. Saya masuk dalam kelompok yang akan bercerita di depan anak-anak SDN 8 Sanur. Sesampai di sana, anak-anak SD sedang bermain-main di halaman. Ada yang main basket, ada yang menari, ada yang kejar-kejaran. Kami segera menyiapkan ruangan, yaitu dua ruangan kelas yang dijadikan satu. Pihak sekolah mencopot batas antar kelas yang terbuat dari papan tripleks.
Melihat kondisi ruangan, saya agak kecewa karena terlalu sempit dan panas. Tapi apa boleh buat, hanya itu yang ada. The show must go on! Panitia segera memasang layar dan memasang LCD. Sound system sederhana dipasang.
Ada tiga film yang akan dibawakan pada hari itu, yaitu gempa, tsunami dan peace building. Sebelum dan setelah pemutaran film, anak-anak diajak berinteraksi dengan boneka. Bersama dengan Saipul. Arman dan Monika, saya mendapat bagian terakhir yaitu tentang peace building.
Tugas ini cukup berat, mengingat anak-anak sudah duduk selama 1,5 jam. Udara mulai terasa panas. Suasananya sangat gaduh karena anak-anak kelas lain juga ingin ikut melihat (Acara ini hanya diikuti oleh anak kelas V dan VI). Meski begitu, anak-anak mengikuti acara ini dengan antusias. Metode pemakaian boneka terbukti efektif untuk menjalin interaksi dengan anak-anak. Film yang diputar juga menarik perhatian anak-anak. Mereka menyimak jalan cerita tiga film itu dengan sungguh-sungguh. Pukul 11 siang, acara sosialiasi ini pun usai.
Kami cepat-cepat kembali ke hotel untuk mengembalikan peralatan boneka, karena kami mendapat waktu bebas selama 3 jam. Ini kesempatan bagi kami untuk berbelanja oleh-oleh. Jadwal pelatihan yang sangat padat, hampir tidak memberikan waktu untuk berjalan-jalan dan berbelanja.
Saya ingin berbelanja ke Pasar Seni Sukawati. Konon harganya jauh lebih murah daripada di Sanur. Masalahnya, ongkos perjalanan pergi ke sana sangat mahal. Untuk sewa taxi selama dua jam saja kami harus mengosongkan kocek sebanyak Rp. 150.000,- Alternatifnya adalah dengan patungan. Saya mengajak Silvano, Monika, Indra, Rika dan satu teman dari lembaga donor (saya tidak tahu namanya). Kesepakatannya, adalah berbagi ongkos taxi bersama.
Taxi meluncur melintasi jalan by pas Ngurah Rai menuju Sukawati. Sesampai di Sukawati, saya segera memasuki kios demi kios untuk mencari barang yang diinginkan. Harganya memang jauh lebih murah, asalkan kita lihai menawar. Sebagai contoh kaos ukuran L/XL ditawarkan oleh penjual seharga Rp. 35.000,- ternyata bisa dibawa pulang dengan menukar uang Rp. 15.000,- saja. Baju batik yang ditawarkan seharga Rp. 50.000,- bisa turun sampai Rp. 20.000,-
Puas membeli oleh-oleh, saya ingin membeli arak Bali dengan harga Rp. 25.000,-. Tapi saya ragu-ragu apakah minuman beralkohol ini bisa masuk ke dalam kabin pesawat atau tidak. Teman saya, Rika, mengambil risiko itu. Dia membeli sebotol dan beberapa bungkus kacang Bali.
Sekitar jam 14.00, kami pulang ke hotel menggunakan taxi yang sama. Saya duduk di kursi depan, sementara teman-teman yang lain berdesakan di bangku belakang. Sesampai di hotel, teman-teman menyodorkan uang seratus ribu. “Nih, masih kurang limapuluh ribu. Kamu tambahi ya,” kata Rika. “Busyet! Kesepakatannya adalah berbagi, kenapa saya harus membayar lebih mahal,” begitu batinku. Tapi karena sudah ditunggu oleh sopir taxi, maka saya mengeluarkan selembar 50 ribuan dari dompet, kemudian menyerahkan pada sopir taxi. Sambil berjalan menuju kamar, saya menghibur diri, “Sudah, nggak apa-apa. Kamu ‘kan duduk enak di depan, sedangkan teman-temanmu harus berdesak-desakan di belakang.”
***
Usai makan siang dan istirahat sebentar, kami melakukan evaluasi kegiatan yang dilakukan di sekolah tadi pagi. Meski masih ada kekurangan di sana-sini, namun semua partisipan merasa puas pada hasil kegiatan tersebut. Kami senang karena bisa menjalin kerjasama tim meski dengan persiapan yang singkat.
Ade kemudian 10 orang yang akan melakukan pertunjukkan boneka. Kami diajak keluar ruangan dan berkumpul di dekat kolam renang. Sepuluh orang yang terpilih tadi ditugasi memainkan boneka, sedangkan sisanya menjadi audiens dan memberikan umpan balik. Tujuan dari kegiatan ini adalah mengajarkan tentang perbedaan permainan boneka di dalam dan di luar ruangan.


Peace Building
Setelah istirahat selama 15 menit, kami segera memasuki sessi Peace Building yang dipandu oleh Taka Gani dari Jesuit Refugee Services. Namun karena paginya sudah melakukan aktivitas yang berat di sekolah dasar, maka stamina partisipan melorot drastis. Apalagi ada sebagian partisipan yang menjalankan ibadah puasa.
Melihat situasi ini, Taka Gani mengajak partisipan untuk relaksasi. Partisipan dipersilahkan berbaring, kemudian mbak Taka memutar musik yang lembut. Selama beberapa menit, kami melemaskan otot-otot yang tegang dan mengheningkan pikiran.
Menurut mbak Taka, relaksasi ini merupakan salah satu alat yang penting dalam aktivitas Peace Building. “Sebelum bekerja untuk perdamaian, kita harus lebih dulu menjadi damai. Kita harus berdamai dengan diri sendiri,” kata mbak Taka.
Ia kemudian mengajukan pertanyaan: Kalau mendangar tentang peace builidng, apa yang terlintas di kepala Anda? Partisipan memberikan beberapa jawaban: “Karena ribut jadi perlu damai ; untuk membangun budaya damai ; kesejahteraan ; ini adalah solusi yang terbaik; mencari jati diri; harmonis; mengakomodir perbedaan; tulus; membangun kebersamaan, keseimbangan, keserasian; menerima perbedaan, persahabatan, kedamaian, cinta kasih, kasih sayang, mempersatukan perbedaan, menghargai, toleransi”
Apa itu Peace Building? Apa tujuannya? Peace Building adalah usaha mempromosikan keamanan manusia dalam masyarakat yang terkena konflik. Tujuannya untuk memperkuat kapasitas masyarakat untuk mengatasi konflik tanpa menggunakan kekerasan, sebagai sarana untuk mencapai keamanan yang berkelanjutan. Kegiatan yang terkait dengan peace building mulai dikenalkan tahun 1992 oleh Butros-Butros Gali. Ketika itu dunia masih banyak terjadi perang.
Di Indonesia, Peace Building ini memiliki arti yang sangat penting mengingat telah terjadi konflik di beberapa daerah. Mbak Taka kemudian meminta partisipan berbagi pengalaman pada saat mengalami situasi konflik.
Sylvano menceritakan pengalamannya ketika mementaskan teater di Timor Leste. Bersama dengan aktivis Bibi Bulak, ia masuk ke 30 tempat pengungsian yang rawan konflik. Pada saat itu sedang terjadi konfik antara suku yang bermukim di wilayah barat dan suku yang ada di bagian timur.
Di dalam Bibi Bulak, para aktivisnya berasal dari dua suku ini. Untuk itu, mereka saling melindungi. Ketika mereka berada di komunitas suku yang di wilayah timur, maka aktivis yang dari suku tersebut melindungi teman-temannya yang berasal dari suku di barat. Demikian sebaliknya.
Saiful kemudian berbagi pengalamannya di Poso. Menurutnya, efektivitas perjanjian Malino I dan II karena lebih banyak melibatkan tokoh formal. Padahal pemimpin yang ditaati oleh masyarakat adalah tokoh informal. Untuk itu, berusaha menjalin kontak dengan tokoh agama dan tokoh masyarakat adat.
Mbak Indra berbagi pengalaman saat menangani korban Tsunami di Aceh. Sebelum MoU antara GAM dengan pemerintah, dia mengalami kesulitan dalam menjalankan tugas kemanusiaan. Tapi sepelah MoU, kondisi sudah lebih baik meskipun masih ada trauma dan kecurigaan.
Yang menarik adalah pengalaman Sukhri. Sebagai pendudukAceh, dulu dia bingung harus berpihak pada siapa: TNI atau GAM. Semua memiliki resiko. Kalau berpihak GAM, maka dia pasti akan “hilang”, tidak ketahuan kemana. Kalau berpihak pada TNI, maka dia bisa dibunuh. Dia menceritakan salah satu keluarganya yang dipenggal oleh GAM dan kepalanya diletakkan di atas nampan.

Dari sharing pengalaman ini ditarik sebuah pelajaran bahwa konflik menyebabkan kita hilang kepercayaan pada orang lain. Kita menjadi curiga, takut, khawatir dan merasa terancam pada orang lain. Perasaan seperti ini tidak mudah dihilangkan. Kalau ada luka-luka fisik akibat bencana, kita bisa menyembuhkan dengan cepat. Namun yang lebih sulit disembuhkan adalah luka-luka batin. Karena itu Peace Building membutuhkan proses yang sangat panjang.
Sessi ini kemudian diakhiri dengan relaksasi lagi.

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Jurnal Pelatihan Hari ke -4



Hari keempat lebih banyak diisi dengan simulasi pertunjukkan boneka di depan anak-anak. Partisipan dibagi menjadi berpasang-pasangan. Setiap pasangan ditugaskan membuat rencana belajar selama 20 menit, yang terdiri dari perkenalan, ice breaker, pengantar pemutaran film, pemutaran film (8 menit), tanya jawab dan penutup.
Secara bergiliran, partisipan melakukan simulasi bercerita di depan anak-anak menggunakan boneka. Partisipan lain, berpura-pura sebagai anak-anak dan memberikan feedback kepada pasangan yang sedang beraksi. Sementara itu, fasilitator menjadi time keeper. Dari belakang, Ade memberitahukan berapa sisa waktu yang masih ada.
Meskipun sangat melelahkan, terutama bagi partisipan yang menjalani ibaah puasa, tapi acara ini berlangsung dengan meriah. Partisipan mengikuti sessi ini dengan penuh antusias.
Hari keeempat diakhiri dengan persiapan untuk bercerita di depan anak-anak SD. Partisipan dibagi menjadi dua kelompok. Masing-masing kelompok akan bercerita di SDN 08 dan SDN 13, Sanur.
Setiap kelompok diberi kesempatan untuk mendiskusikan rencana pembelajaran, pembagian waktu, dan pembagian tugas.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Boneka Lucu

Inilah boneka-boneka yang akan kami gunakan untuk menyebarkan informasi tentang bencana
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Aksi Ron


Ronald Binion memperagakan cara memainkan boneka yang sedang bernyanyi
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Jurnal Pelatihan Hari ke-3

Hari ketiga diawali dengan mengheningkan cipta untuk atas kejadian bencana gempa
yang terjadi di Bengkulu,Jambi dan Timor Leste. Yang menjadi fasilitator adalah Ade Andreawan. Ade lebih dulu memaparkan tentang arti penting kesiapsiagaan. Selanjutnya, ia memutarkan film dokumentasi dari pelatihan bencana yang dilakukan di sekolah dan di masyarakat.
Pertisipan kemudian dibentuk menjadi 4 kelompok. Masing-masing kelompok mendapat tugas untuk membuat Peta Ancaman (Hazard Mapping). Sebelumnya, Ade menuliskan hal penting yang harus ada dalam sebuah peta ancaman:
- Batas wilayah
- Arah utara
- Guna lahan
- Fasum/fasos
- Daerah rawan
- Jalur evakuasi
- Legenda

Perencanaan Belajar
Dalam sessi ini Ade Andrewan menjelaskan tentang posisi fasilitator dalam sebuah pelatihan. Ade menjelaskan bahwa ketika akan memulai pelatihan maka fasilitator harus lebih dulu memperhatikan lingkungan sekitarnya dulu, barulah kemudian berinteraksi dengan masyarakat.
Itu sebabnya, sebelum melakukan pelatihan, maka seorang fasilitator harus lebih dulu mengetahui keadaan tempat pelatihan. Berdasarkan keadaan itu, maka fasilitator merancang pelatihan supaya berlangsung secara efektif. Ade memberikan penjelasan tentang bagaimana mendesain sebuah tempat pelatihan, baik dalam ruamgan maupun luar ruangan. Ia juga menjelaskan tentang perbedaan metode pelatihan antara anak-anak dan orang dewasa.
Ade kemudian membagi partisipan menjadi 4 kelompok. Masing-masing kelompok mendapat tugas membuat rancangan tempat pelatihan di dalam ruangan (indoor) dan luar ruangan (outdoor). Masing-masing kelompok kemudian mempresentasikan hasil rancangan tempat pelatihan, sedangkan
kelompok lain memberikan tanggapan.
Sessi ini ditutup dengan permainan. Setiap kelompok membentuk lingkaran dan mendapat benang, ballpoint dan botol. Sempat benang diikat tepat di tengah-tengahnya. Pada bagian tengah benang digantungkan ballpoint. Keempat ujung benang dipegang oleh partisipan. Masing-masing memegang satu benang dengan menghadap keluar. Pada bagian bawah ballpoint diletakkan sebuah botol. Tugas setiap kelompok adalah memasukkan ballpoint ke dalam botol itu, berdasarkan aba-aba satu orang partisipan. Permainan ini untuk mengajarkan tentang kerjasama kelompok dan saling percaya antar anggota.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Jurnal Pelatihan Hari ke-2

Pelatihan hari kedua dimulai oleh Amanda dan Ronald dengan review hari pertama. Partisipan diajak mengingat kembali pelajaran-pelajaran yang sudah diterima pada hari sebelumnya. Selanjutnya, Amanda mengajak partisipan untuk melakukan latihan stretching (perenggangan badan). Teknik ini berguna untuk melatih kelenturan tubuh dan menyiapkan otot-otot untuk memainkan boneka.

Acting X Reacting
“Setiap boneka memiliki kehidupan dan dunianya sendiri,” kata Ronald untuk memulai sessi berikutnya. “Sebagai pemain boneka, kita harus percaya hal ini. Tugas pemain boneka adalah menghidupkan boneka.”
Untuk menghidupkan boneka, maka teknik yang dapat dipakai adalah Acting dan Reacting. Teknik Acting adalah menggunakan boneka untuk melakukan aksi. Sedangkan
Reacting – respon yang diberikan oleh boneka setelah menerima respon dari lawan bicara. Dengan teknik ini, interaksi jauh lebih menarik.
Partisipan diberi kesempatan untuk mempraktikkan teknik ini. Secara berpasang-pasangan, mereka membuat sebuah fragmen cerita untuk dipentaskan di depan partisipan lain.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Jurnal Pelatihan Hari ke-1

Seperti biasa, acara pelatihan selalu didahului dengan acara pembukaan. Selain peserta pelatihan, acara pembukaan ini dihadiri oleh pejabat pemerintah dan dari utusan dari lembaga donor. Dalam sambutannya, Georgina Jordan dari (Trocaire) memaparkan bahwa Trocaire lebih memilih fokus pada mitigasi bencana daripada merespon terhadap bencana. Els Coolen dari Jesuit Refugee Services (JRS) menjelaskan tentang JRS dan keterkaitannya dalam workshop ini.
Sementara itu Helen Bassini, menjelaskan tentang sejarah No Strings. Mereka telah menggunakan boneka untuk memberikan informasi kepada anak-anak tentang bencana di Srilangka dan tentang ranjau darat di Afghanistan.
Selanjutnya, dengan dipandu oleh Ade Andreawan partisipan diajak menuliskan harapan mereka. Setelah itu, Ronald dan Amanda langsung mengajarkan dasar-dasar pertunjukkan boneka:
Sebelum memainkan boneka, rapikan dulu rambut dan baju boneka. Soalnya, jika ada yang tidak rapi, maka hal ini akan mengalihkan perhatian anak-anak.Misalnya, baju boneka tersingkap. Hal ini membuat anak-anak tertawa.
Cara memegang boneka adalah dengan berdiri tegak dan mengangkat tangan tinggi-tinggi. Usahakan supaya boneka lebih tinggi daripada pemain boneka. Hal ini dimaksudkan supaya fokus perhatian anak-anak adalah pada boneka, bukan pada pemain boneka.
Jagalah mata boneka agar tetap menatap ke arah boneka.
Partisipan kemudian diberi kesempatan untuk latihan memegang boneka. Ternyata tidak mudah seperti kelihatannya. Memegang boneka tinggi-tinggi dalam waktu yang lama ternyata membuat lengan dan leher menjadi pegal-pegal.

Gerakan Menoleh
Latihan berikutnya adalah gerakan menoleh. Ron mengajarkan cara untuk menjalin interaksi antara boneka dan anak-anak, yaitu dengan menggerakkan boneka seolah-olah menyapukan pandangan ke arah penonton. Caranya, mula-mula menengok penuh ke kiri dan berhenti sejenak. Kemudian menatap lurus ke depan, berhenti sejenak. Menengok kanan secara penuh, berhenti sejenak. Menatap lurus, berhenti sejenak.
Setelah itu, menengok sedikit ke kiri, menatap lurus, menengok sedikit ke kanan dan terakhir menatap lurus. Dan boneka siap berkomunikasi dengan anak.
Sebelum coffe break, Ron memberi kesempatan pada partisipan untuk bertanya.
Q: Mengapa kita harus mengangkat boneka setinggi mungkin?
A: Karena bila banyak penonton hadir mereka dapat melihatnya. Juga untuk memisahkan fokus penonton kepada boneka, bukan pedalang.

Q: Bagaimana cara memegang boneka yang benar?
A: Lengan lurus ke atas. Lengan kita menjadi tulang belakang boneka. Ingat untuk selalu menegakannya. Jagalah jarak antara pedalang dengan boneka. Jangan sampai boneka terlalu dekat dengan pedalang sehingga anak-anak lebih memperhatikan pedalang daripada boneka.

Q: Bagaiman jika kita kidal, bolehkah memegang dengan tangan kiri?
A: Tidak masalah selama hal ini membuat kita nyaman

Q: Seberapa besar kita sebaiknya menggerakkan boneka?
A: Kadang-kadang gerakan kecil dapat membuat perbedaan yang besar, lebih daripada gerakan
besar. Banyaklah berlatih sehingga kita dapat belajar bahwa gerakan kecil seringkali diperlukan dan penting. Ini juga lebih enak bagi pedalang karena tidak membuat cepat lelah.

Q: Seberapa sering dan seberapa cepatkah kita harus menggerakan boneka?
A: Perlahan namun pasti. Lebih baik, dengan beberapa kali berhenti. Ini akan lebih mengena.

Q: Mana yang lebih penting , apakah tingginya boneka atau kontak mata boneka dengan
audience ?
A: Yang penting audience melihat bonekanya, bukan orang yang memainkannya.

Q: Bagaimana kalau orang yang memainkannya ingin berinteraksi dengan boneka?
A: Bisa saja pedalang berinteraksi dengan boenakanya. Untuk itu kita buisa menyejajarkan boneka dengan pedalang. Tapi yang penting tulang punggung boneka harus tetap tegak.

Latihan Lip Sync
Latihan berikutnya adalah menggerakkan mulut boneka selaras dengan omongan pedalang. Tekniknya cukup sederhana yaitu menggerakan jari jempol membuka dan menutup dengan empat jari lainnya. Yang boleh bergerak hanya jempolnya saja. Ketika berlatih tanpa boneka, hal ini mudah dilakukan. Tapi ketika sudah memegang boneka, gerakan ini sulit dilakukan, terutama menjaga supaya empat jari lainnya tetap stabil.
Sebagai permulaan, Ron mengajak partisipan berlatih berhitung dari satu sampai sepuluh, menggunakan boneka. Caranya, setiap terucap satu suku kata, maka mulut boneka membuka satu kali. Contoh, jika pedalang berkata “Sa-tu” maka mulut boneka terbuka sebanyak dua kali. Kalau berkata “se-pu-luh”, maka mulut boneka membuka tiga kali.

Berikutnya, Ron mengajarkan teknik berjalan. Ron mengajarkan cara membuat boneka seolah-olah sedang berjalan. Tekniknya adalag menggerakkan boneka maju, pandangan lurus ke depan (sesekali boleh menengok), lengan terayun-ayun kecil untuk menciptakan kesan sedang melenggang. Usahakan supaya boneka terayun dengan irama yang tetap.

Memainkan Boneka dengan Tandem
Sessi terakhir diisi dengan memainkan boneka secara teknik. Satu boneka dipegang oleh dua orang. Satu orang memegang boneka dan menggerakkan mulut; satu orang lagi menggerakkan tangan (mengusap hidung, pegang kepala, memajukan tangan ke depan, melambai). Partisipan dibagi secara berpasang-pasangan dan diberi satu boneka.
Selanjutnya setiap pasangan diminta mencari pasangan lainnya untuk membentuk satu tim. Tiap tim ditugaskan membuat satu scene pertunjukkan, dengan memainkan dua boneka. Waktu yang diberikan untuk mempersiapkan diri kurang lebih 10 menit.
Secara bergiliran setiap tim mendapat kesempatan untuk memperagakan sebuah adegan cerita
pendek yang mempraktekkan semua gerakan boneka (berjalan, gerak bibir, gerak tangan,
gerak tubuh, kepala, focus pandangan mata, dsb).
Pelatihan berakhir pukul sembilan malam. Cukup melelahkan, tapi peserta merasa senang dan menikmati workshop ini.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Jurnal Pelatihan Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat

Tepat pukul 13:50, saya boarding ke pesawat Garuda yang akan membawa saya Bali. Rencananya saya akan mengikti Pelatihan Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat, dari tanggal 10-17 September 2007.
Mengingat reputas Garuda selama ini, saya mengharapkan mendapat sedikit “kemewahan” dibandingkan dengan maskapai-maskapai lain yang bertarif murah. Ternyata harapan itu meleset. Ketika masuk pesawat, suhu udara di dalam kabin sangat panas. AC tidak difungsikan sehingga seluruh penumpang harus mandi keringat. Bahkan ketika pesawat bergerak menuju run way, udara panas ini masih sangat terasa.
Seperti biasanya, karena landasan yang pendek, pesawat harus mengudara dengan kecepatan. Saat roda-roda pesawat menggelinding di aspal landasan, terasa ada goncangan-goncangan kecil. Badan pesawat seperti berjalan zig-zag sehingga jantung saya agak berdebar-debar. Namun ketika mengudara, pesawat pun meluncur mulus.
Untuk mengisi waktu, saya mengobrol dengan penumpang di samping tempat duduk saya. Ternyata dia juga ikut dalam pelatihan Namanya Pembri, berasal dari Tanda Baca. LSM yang didirikan oleh mahasiswa-mahasiswa sastra ini bergerak di bidang pendampingan anak-anak. Untuk mendukung kegiatan sosial ini, mereka mendirikan badan usaha yang bergerak di bidang multi media, event organizer dan penerbitan. Keuntungan dari usaha inilah yang dipakai untuk mendukung idealisme mereka.
Sejam kemudian, roda pesawat menyentuh ujung landasan bandara Ngurah Rai Bali. Kami dijemput oleh mobil dari hotel dan langsung dibawa ke hotel Inna Sindu, Sinur. Saya sekamar dengan Ismed dari GFS, Aceh.
Wow, lokasinya hanya sepelemparan batu dari pantai Sanur. Dari balkon dari kamar, saya bisa langsung melihat hamparan putih pasir pantai Sanur. Yang lebih mengasyikkan lagi, kami bisa makan di pinggir pantai, di atas pasir putih.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Oleh-oleh dari Bali


Saya merasa sangat beruntung mendapat kesempatan mengikuti Pelatihan Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat. Betapa tidak, pelatihan ini mendatangkan langsung Ronald Binion dan Amanda Maddock dari Amerika Serikat. Ronald adalah pemain boneka pada acara Lazy Town produksi Nickelodeon (diputar oleh Global TV) dan Amanda adalah pemain boneka yang pernah terlibat dalam produksi Lazy Town dan Sesame Street.
Saya mengikuti pelatihan itu sebagai utusan dari Gerakan Kemanusiaan Indonesia di Klaten. Lembaga yang diinisiasi dan didukung oleh sinode am GKI ini bertugas memberikan bantuan darurat pada saat terjadi bencana. Ada 22 orang yang mengikuti pelatihan ini. Di antaranya berasal dari Jesuit Refuge Services, Serikat Anak Merdeka Indonesia (Samin)-Yogya, Tanda Baca-Yogya, Kogami-Padang, World Vision, Greenhand, Dolphin (Sulawesi Tengah), Perkumpulan Masyarakat Penanganan Bencana-Kupang, CBDRM NU-Jakarta, Surf Aid-Mentawai dan Nias, Bibi Bulak-Timor Leste, Cartas Czech-Aceh, Cordaid-Medan dan GFS-Aceh.

Pelatihan yang dilaksanakan selama 7 hari ini mengagendakan tiga materi utama yaitu:



1. Pelatihan Dasar Pertunjukan Boneka
Pembawa materinya berasal dari No String, sebuah LSM yang menggunakan boneka sebagai sarana pendidikan anak-anak di negara berkembang tentang "life-saving" dengan menggunakan pendekatan budaya lokal. (Lebih lengkap di http://www.nostrings.org.uk/). No String sukses memakai metode ini untuk kampanye anti ranjau darat di Afganistan.
Tidak tanggung-tanggung, No String mendatangkan Ronald Binion dan dan Amanda Maddock dari Amerika. Ron adalah seniman boneka dari New York selama 10 tahun. Dia telah berpengalaman sebagai pemain boneka di sejumlah produksi acara TV seperti Crank Yankers (Comedy Central), Lazy Town (Nickelodeon/MTV) dan dinominasikan Emmy Award untuk program Wubbulois World of Dr. Seuss. Selama lima tahn, Ron juga pernah menjadi perancang dan pembuat boneka di Jim Henson Company (Muppet Show).
Sedangkan Amanda adalah pemain boneka utama di acara The Book of Pooh, Bear in the Big Blue House, Lazy Town dan Magic Tent. Dia juga menjadi asisten pemain boneka di acara Between Lions dan Sesame Street.
Selama tiga hari kami dilatih dasar-dasar pertunjukkan boneka, baik itu bermain sendiri maupun tandem (satu boneka dua pemain). Boneka yang digunakan adalah sejenis boneka pada program Muppet Show.

2. Pelatihan Community Based Disaster Management (Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat)
Dalam pelatihan ini kami mendapat banyak informasi tentang cara-cara menghadapi. Mulai dari Persiapan, Saat Terjadi dan Sesudahnya. Kami mendapat sebuah kit yang cukup lengkap memuat detil-detil apa yang harus dilakukan untuk menyiapkan diri jika terjadi bencana. Pada dasarnya, materi ini dirancang bagi kelompok-kelompok masyarakat supaya mereka bisa mengantisipasi segala kemungkinan bahaya bencana. Sebagai contoh, ada kelompok masyarakat dilatih untuk membuat Peta Bahaya (Hazard Map), yang berguna untuk mengenali potensi bahaya/bencana di sekitar mereka, dan juga membuat jalur evakuasi ketika bencana itu terjadi. Dalam kit ini juga sudah disediakan form-form yang dapat langsung dipakai oleh posko kemanusiaan jika terjadi bencana. Contohnya, form Permintaan Pencarian Orang Hilang. Dalam bencana besar, biasanya ada banyak orang yang hilang. Form ini sangat berguna untuk mencatat secara detil ciri-ciri yang hilang.

Selain itu, kami juga mendapat materi film dalam format DVD tentang bencana: Tsunami, Gempa, Gunung Meletus, Banjir dan Peace Building. Film yang masing-masing berdurasi 8 menit ini berisi cerita boneka tentang apa yang seharusnya dilakukan ketika bencana tersebut terjadi. Filmnya sangat menarik. Pengambilan gambarnya di Amerika, disulih suara di Indonesia, tapi settingnya Indonesia.

3. Pelatihan tentang Peace Building
Materi pelatihan dibawakan oleh Taka Gani dari Jesuit Refugee Services. Kami mendapatkan dasar-dasar tentang Peace Building, khususnya tentang Peace Education.

Pelatihan ini kemudian diramu dan disajikan di depan anak-anak SD 8 dan SD 13, Sanur. Selama dua jam, kami memutar 3 film (Gempa, Tsunami dan Peace Building), berinteraksi dengan anak-anak menggunakan boneka dan membagikan komik. Hasilnya, anak-anak sangat antusias mengikuti acara ini sampai selesai. Bahkan orangtua yang menjemput anak-anak ikut menontonnya.

Materi pelatihan ini sangat bermanfaat bagi siapa saja. Gempa di Sumatera (Bengkulu) sekali lagi mengingatkan kita bahwa kita hidup wilayah cincin api (ring fire). Seluruh wilayah Indonesia sangat rawan terhadap bencana. Itu sebabnya, kita perlu waspada dan menyiapkan diri. Sayangnya, gereja protestan masih kurang berminat terhadap hal-hal ini. Saya salut dengan rekan-rekan dari gereja Katholik. Mereka tidak hanya mengkhotbahkan tentang bencana, tetapi langsung mengambil tindakan.
Jika Anda rindu menyiapkan jemaat dan masyarakat sekitar Anda untuk menghadapi bencana, saya dengan senang hati akan membantu.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Senin, 03 September 2007

Kisah Sukses Mantan Napi

    Prestasinya cukup spektakuler. Hanya dalam satu tahun, dia langsung menyabet peringkat dua di perusahannya sebagai wiraniaga yang paling banyak menjual polis asuransi. Sebagai hadiahnya, dia boleh melancong ke Swiss gratis. Tapi karena ada kendala teknis, tempat tujuannya diubah ke Beijing. Tahun berikutnya, tahun 2006, peringkatnya melorot satu tingkat, ke peringkat tiga. Dia sengaja mengurangi targetnya karena banyak nasabahnya yang sedang mengalami kesulitan ekonomi.
    Sebut saja namanya, Wahyu (bukan nama sebenarnya). Bapak berusia 43 tahun ini sekarang dengan bangga mengaku bahwa dia hanya lulusan STM jurusan listrik. Dia ingin menunjukkan bahwa dengan pendidikan yang minim pun bukan alasan untuk mencapai sukses, asal mau bekerja keras dan berkomitmen tinggi. Namun di balik itu, ada satu hal yang tidak banyak diketahui orang. Dia adalah mantan narapidana selama 5 tahun dan di antaranya pernah menghuni L.P. Nusakambangan. Dia dihukum karena mengedarkan narkotika.
    Selama Wahyu dalam penjara, anak dan isterinya mengalami masa-masa yang berat.  Termasuk juga dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.  Melihat hal ini, setiap bulan sebuah gereja memberikan beras kepada keluarga ini. Ketika Wahyu selesai menjalani hukuman, dia tidak tahu harus bekerja apa. Sebagai mantan narapidana, dia mendapat stigma buruk dari masyarakat. 
    Namun tidak semua orang curiga kepada Wahyu. Ada salah satu anggota jemaat yang memberi kesempatan kepadanya.  Sebut saya namanya pak Jeremia. Berkat relasinya yang kuat, pak Jeremia bisa memasukkan Wahyu ke sebuah perusahaan asuransi. Namun pak Jeremia tidak berhenti di sini. Dengan sabar dia memberikan bimbingan dan motivasi kepada Wahyu. Dia memberikan beberapa langkah strategis. "Kalau kamu melakukan langkah-langkah ini, aku jamin kamu akan sukses," kata pak Jeremia.
    Ternyata kepercayaan dan kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Wahyu. Setelah sukses sebagai agen pemasar top di perusahaannya, Wahyu menetapkan target baru. Dia ingin masuk dalam daftar  agen pemasaran asuransi paling sukses secara nasional. Langkah ke sana sudah dimulai. Tahun 2007 ini, dia masuk dalam 10 besar agen asuransi versi AAJI (Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia).
    Pelajaran apa yang bisa kita petik dari kisah ini?
1. Jangan menilai orang semata-mata dari masa lalunya. Setiap orang bisa berubah (entah itu ke arah perbaikan atau sebaliknya). Orang yang masa lalunya kelam, tidak selamanya akan menjadi orang yang jahat.
2. Berikan kesempatan kedua pada orang lain untuk memperbaiki diri.
3. Jika kita pernah berbuat kesalahan, bangkitlah kembali untuk memperbaikinya.
4. Pegang teguh kepercayaan yang telah diberikan orang lain kepada kita. Sebab di situlah terletak pintu menuju kesuksesan.
 
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Mendapat PDA gratis!

    Tuhan sedang mencurahkan berkat kepada saya. Bulan kemarin ada orang yang membelikan saya printer baru. Kemudian Tuhan memberikan berkat lagi. Tanggal 10-17 September ini, saya mendapat kesempatan mendapat pelatihan Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat yang akan diadakan IDEP. Tempat pelatihan di Bali. Ongkos pesawat, hotel dan akomodasi ditanggung oleh panitia.
Sebelum berangkat, saya membayangkan alangkah enaknya kalau punya PDA sehingga saya tetap bisa melakukan aktivitas menulis.  Kalau harus bawa laptop ke Bali, saya masih pikir-pikir apakah hotelnya cukup aman. Soalnya teman saya, Tutik, pernah kehilangan laptop ketika menginap di Guest House milik PKBI Jakarta.
    Tiga hari terakhir saya sedang mempertimbangkan untuk membeli PDA bekas atau setidaknya PDA yang masih layar monokrom sehingga harganya terjangkau. Yang penting ada program word prosesornya, sudah cukup.
Rupanya Tuhan mendengar suara hatiku. Ketika menghadiri sebuah acara di Solo, saya ketemu teman. Meski tinggal sekota, tapi belakangan ini kami jarang bertemu karena dia sedang menjalani kemoterapi. "Saya itu punya PDA, tapi tidak pernah saya pakai. Saya pikir, PDA ini lebih berguna kalau dipakai mas Wawan. Mau pakai, nggak?" kata teman saya.
    Astaga! Apa tidak salah dengar nih, kata saya dalam hati.
    "Wow, mau sekali. Itu yang memang sedang saya butuhkan," kata saya setengah berteriak karena kegirangan. Untuk, suara saya tenggelam oleh suara musik band yang riuh dalam acara itu sehingga tamu-tamu lain tidak melihat ke arah saya. "Berapa saya harus mengganti?" tanya saya.
    "Tidak usah. Pakai saja. Saya tidak membutuhkan kok," kata teman saya, "Tapi saya harus mencari buku petunjuknya dulu. Setelah itu saya antar ke rumah"
    "Nggak pakai buku petunjuk juga nggak apa-apa," kata saya antusias,"nanti saya ambil ke rumah Anda."
    "Oke, besok siang saya siapkan. Kalau saya tidak ada di rumah, minta saja pada orang yang ada di rumah," katanya.
    Esok siangnya, saya mengambil PDA itu. Masih kelihatan baru. Puji Tuhan!!!
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More