Rabu, 29 Agustus 2007

PENGARUH KEMUNAFIKAN

        Di Jakarta ada bisnis baru yang unik, yaitu jasa penyewaan tas-tas mahal. Penggagas bisnis ini melihat bahwa orang Indonesia senang tampil bergaya di muka umum. Mereka berusaha mendandani diri dengan baju dan aksesoris bermerek terkenal. Semakin besar biaya yang dikeluarkan, semakin besarlah rasa percaya diri mereka.

Namun, jika terus-terusan berbelanja merek mahal tentu kantong akan jebol. Melihat hal ini, sang pengusaha mencium peluang bisnis. Dia membeli tas-tas merek terkenal dan menyewakannya. Ternyata jasa ini mendapat sambutan yang baik.

Lakunya bisnis ini menunjukkan gejala bahwa orang semakin enggan tampil apa adanya di depan orang lain. Sikap ini menunjukkan adanya kadar kemunafikkan dalam diri orang itu. Penyebabnya adalah perasaan gengsi dan keengganan untuk mengakui kenyataan hidupnya.

Perilaku kemunafikan ini tidak banyak merugikan orang lain, kecuali dirinya sendiri. Namun ada kemunafikan yang lebih membahayakan, yaitu kemunafikan untuk menutupi kesalahannya. Dalam film tentang gangster, kita melihat pemimpin mafia yang rajin berderma.  Ini dilakukannya untuk menutup-nutupi perilaku busuknya. Yang lebih gawat lagi, jika ada orang yang memanipulasi ajaran agama untuk menciptakan kesan kesalehan. Yesus mengecam keras perilaku ini: "Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran." (Matius 23:27)

Kerugian Kemunafikan

Ada harga yang harus dibayar oleh orang-orang yang memutuskan untuk berperilaku munafik:

1. Menguras Waktu, Tenaga dan Dana

Kemunafikan adalah hidup dalam kepalsuan. Orang itu harus hidup di dunia dunia: dunia nyata dan dunia rekaannya sendiri. Hal ini tentu saja membutuhkan banyak waktu, tenaga dan dana. Jika ada orang mengaku sebagai pengusaha sukses, maka dia akan mengeluarkan uang untuk membeli berbagai peralatan kaum eksekutif. Termasuk juga mengikuti gaya hidupnya. Misalnya, makan di restoran mewah dan main golf.

2. Hidup dalam Tekanan

Orang yang munafik selalu merasa takut kedoknya bakal terbongkar.  Dia harus berakting sedemikian rupa untuk meyakinkan orang lain. Otaknya selalu berputar mencari cara untuk menutupi kebohongannya. "Sebuah kebohongan hanya dapat ditutupi dengan kebohongan lain yang lebih besar."

3. Perasaan Tertuduh

Hati kecil orang yang munafik pasti berkata: "Ini bukan hidupku sesungguhnya." Dia mengakui bahwa hidup seperti ini sesungguhnya tidak benar. Dalam hatinya selalu dikejar-kejar perasaan bersalah.

4. Tuntutan Pertanggung-jawaban

Pada hari Penghakiman nanti, kita harus mempertanggungjawabkan kehidupan kita. Terhadap orang-orang yang munafik, Allah akan memberi hukuman "yang lebih berat" (Mat.23:14).

Yesus mengecam keras perilaku yang munafik. Dia memerintahkan pengikut-Nya supaya hidup secara jujur. "Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat" (Mat. 5:37). [Purnawan]

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Minggu, 26 Agustus 2007

Anak Penjual Keripik Dipagut Ular

Bagi pengunjung yang sering mengunjungi blog saya mungkin pernah membaca kisah penjual keripik. Namanya pak Tukiran. Umurnya sudah di atas 50-an tahun, orangnya sangat sederhana. Pekerjaannya menjuak keripik dari rumah ke rumah menggunakan sepeda onthel.  Hebatnya, dia malah sudah pernah pergi ke Perancis karena anaknya dipersunting negerinya Zenedine Zidane itu. Tapi dia juga pernah mengalami tragedi. Anak, mantu dan cucunya yang lain semuanya tewas dalam peristiwa gempa 27 Mei 2006.
Setelah lama sekali tidak muncul, hari ini (26/8) pak Tukiran datang ke rumah kami. Saya pikir dia menjual keripik lagi. "Wah sudah lama ditunggu-tunggu,pak," kata saya, "apakah Bapak membawa keripik kesukaan kami?"
"Maaf, Pak," kata pak Tukiran sambil tertunduk-tunduk. Begitulah kebiasaannya. Kedua tangannya dilipatkan di depan dada, seperti posisi menyembah cara orang Jawa, sambil berkali-kali minta maaf. "Saya mau memberitahukan layu-layu," lanjut pak Tukiran.  Saya sedikit kaget, soalnya saya tidak begitu mengenal keluarganya. "Siapa yang meninggal?" tanya saya.
"Anak saya meninggal empat hari lalu," jawab pak Tukiran dengan suara yang tercekat.
"Lho, meninggal karena apa?"
"Digigit ular, pak"
Saya kaget sambil merasa sedikit merinding. Sumpah, saya takut banget sama ular!
Pak Tukiran lalu bercerita bahwa dia dan anak laki-lakinya yang masih sekolah STM berburu belut di sawah. Malam itu dengan bekal penerangan seadanya, mereka mengumpulkan binatang licin untuk dijadikan kripik belut. Tiba-tiba, sang anak merasakan sakit pada tumitnya, tapi dia tidak begitu mempedulikan karena dipikirnya hanya tertusuk duri liar saja. Akibatnya sungguh fatal, hanya dalam beberapa jam tubuhnya sudah membiru. Dia segera dilarikan ke RSUD Tegalyoso, tapi pihak rumah sakit menolaknya. Sudah terlambat, kata mereka. Maka anaknya ini dilarikan ke R.S. dr. Oen di Solo. Meski sudah diberi pertolongan, akhirnya nyawa sang anak tak terselamatkan.
Itulah ceritanya. Setelah itu pak Tukiran mengutarakan maksud kedatangannya ke rumah kami.  Sambil berkali-kali meminta maaf, dia ingin meminjam sejumlah uang untuk menutup ongkos di rumah sakit. "Kalau boleh, saya akan mencicil dengan keripik tempe," pinta pak Tukiran.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Tongkol Anturium Dicuri Orang


Siang itu, seperti biasa ada banyak orang yang datang ke kebun bunga milik Agus Permadi. Ada yang sekadar melihat-lihat, tapi ada juga yang menawar harga bunga. "Demam bunga" sedang melanda di wilayah kami. Tiba-tiba ada banyak orang yang sedang memelihara bunga.

Ada dua pemuda berumur di atas 20 tahun yang tanya-tanya harga bunga. Tak lama kemudian, datanglah satu ibu paruh baya yang diantar seorang pemuda berusia sekitar 35 tahun. Sang ibu ini ingin membeli bunga.

Ditemani Agus Permadi, sang Ibu ini memilih bunga yang dikehendaki. Sementara dua pemuda tadi memisahkan diri untuk melihat bunga-bunga di sisi taman yang lain. Sang Ibu ini asyik mengobrol sambil ditemani pemuda yang mengantarnya dan Agus Permadi, si pemilik kebun bunga.

Tak berapa lama, mbak Widi, isteri Agus Permadi pulang dari bank. Dia melihat tongkol biji bunga Anturium dibawa pergi dua pemuda. Mbak Widi bergegas mencari suaminya. "Apakah Papa menjual tongkol biji bunga Anturium?" tanya mbah Widi.

"Nggak tuh" jawab Agus Permadi.

"Berarti dua orang itu mencuri tongkol biji bunga Anturium milik kita!!" kata mbak Widi.

Mereka bergegas keluar, tetapi dua pemuda itu sudah kabur menggunakan sepeda motor. Maka hilanglah uang 15 juta! Dari mana bisa didapatkan perhitungan itu? Saat ini orang sedang berburu bunga anturium, akibatnya harga melambung tinggi. Bahkan ketika masih berupa biji, orang bersedia membayar biji anturium yang masih ada di tongkolnya! Jika dijual perbiji, maka tongkol itu akan menghasilkan uang 15 juta rupiah.

Biji bunga anturium itu bentuknya seperti tongkol jagung. Biji-bijinya juga sebesar biji jagung, tapi berwarna merah. Agus Permadi menjualnya per biji. Dua pemuda tadi tampaknya memotong tongkol menggunakan cutter.

Ibu yang ingin membeli bunga tadi bertanya apa yang terjadi. Agus Permadi menceritakan peristiwa yang baru saja terjadi. Mendengar itu, sang Ibu ini merasa bersalah. Soalnya, gara-gara dia mengajak Agus Permadi mengobrol, akibatnya dua pemuda tadi punya kesempatan mencuri tongkol anturium.

"Ah, sudahlah. Tidak apa-apa." kata Agus Permadi,"Tuhan sudah banyak memberi berkat kepada saya."

Kini, bunga anturium itu sudah dijual dengan harga 19 juta.

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Sabtu, 25 Agustus 2007

Kirana "Ditinggal" Mamanya

Sejak lahir hingga umur 16 bulan, Kirana selalu tidur bersama mamanya [Papanya terpaksa mengalah dengan menggelar kasur busa di lantai kamar]. Kebiasaannya sebelum tidur adalah bermain-main dulu di tempat tidur, menyanyi-nyanyi, berdoa kemudian menyusu sambil berbaring. Setelah glebak sana, glebak sini, barulah dia mulai terlelap. Supaya tidurnya pulas, tak lupa diputarkan musik lembut. Kalau sedang bosan dengan koleksi lagu, maka jalan paling mudah adalah memutar stasiun radio KaravanFM.  Pilihan lagu-lagunya pas, dan yang penting stasiun ini siaran selama 24 jam! Biasanya Kirana 'nglilir' sebanyak 2-3 kali. Setiap kali bangun, dia minta menyusu hingga dia tertidur lagi.
 
Hari Minggu (26/8), mamanya Kirana mendapat tugas pelayanan ke Sidoarjo.  Seperti sudah-sudah, kami sempat mempertimbangkan untuk mengajaknya ikut dalam pelayanan ini. Tapi, karena jadwal pelayanan yang padat, kami khawatir Kirana akan kelelahan. Maka diputuskan isteriku,--mamanya Kirana-, berangkat sendiran saja. Sedangkan Kirana ditinggal di rumah, bersama saya dan baby sitternya. Keputusan ini juga dilandasi niat untuk mulai membiasakan Kirana untuk ditinggal pergi untuk pelayanan.
 
Yang menjadi kekhawatiran kami, bagaimana nanti malam harinya jika Kirana akan tidur.Bisakan dia tidur tanpa menyusu? Namun tekad sudah bulat. Mamanya Kirana berangkat ke Sidoarjo menggunakan kereta Sancaka, Sabtu (25/8), pukul 7:58.  Siang hingga sore hari, Kirana ternyata tidak mencari mamanya. Dia asyik bermain dengan anak-anak yang tinggal di depan rumah.
 
Malamnya, kekhawatiran kami ternyata benar. Kirana tidak mau tidur.  Sudah digendong oleh baby sitter-nya tapi tidak mau tidur juga. Dia malah menangis.  Untuk menenangkannya, baby sitter menggendongnya sambil berjalan-jalan ke luar rumah. Padahal sudah pulul 11 malam. Namun akhirnya, Kirana tidur juga. Setelah itu dibaringkan di tempat tidur.
 
Cilaka, pukul 2 pagi, Kirana bangun! Dia tidak mau ditidurkan lagi, malah mengajak ditemani bermain. Sambil terkantuk-kantuk, baby sitter, pembantu rumah tangga dan saya menemani Kirana yang justru tidak mengantuk. Ibarat lampu, kami berkekuatan 5 watt, sedangkan Kirana berkekuatan 20 watt! Terang benderang.
 
Pukul 5 pagi, Kirana mengajak jalan-jalan keluar. Bu Marni, pembantu kami, yang menemani Kirana. Pulang jalan-jalan, Kirana sudah tertidur, hingga pukul 8. Setelah itu dia bangun, mandi dan ikut Sekolah Minggu.  Anak ini memang betah melek. Mungkin ini turunan dari saya.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Senin, 20 Agustus 2007

Kirana Sudah Sembuh


Setelah meminum obat antibiotik selama enam bulan, Kirana akhirnya dinyatakan sembuh dari penyakit fleks di paru-parunya. Puji Tuhan! Semoga saja setelah ini, pertumbuhan badannya semakin pesat. Soalnya, akhir-akhir ini berat badannya sedikit sekali mengalami kenaikan.
Pada bulan Februari lalu, kami memeriksakan Kirana ke Tumbuh Kenang Anak di Wedi, Klaten. Kami khawatir melihat perkembangannya yang agak lambat karena pada usia 10 bulan, dia belum bisa merangkak. Sesuai dengan prosedur standar, maka Kirana harus menjalani screening dulu. Maksudnya, anak kami harus diperiksa kesehatannya dulu untuk mengetahui secara persis problem kesehatannya sehingga bisa ditentukan penanganan yang tepat.
Untuk itu, dadanya harus difoto ronsen dan darahnya diambil untuk test laborat. Hasil foto ronsen membuat kami was-was, sebab kata dokter anak yang memeriksanya, ukuran jantung Kirana kelihatan lebih besar dari ukuran normal. Tapi dokter ini tidak bisa memastikannya. Karena itu, dia merujuk kami ke dokter spesialis jantung anak di Rumah Sakit Sarjito. “Dokter ini spesialisnya, spesialis,” kata dr. Nursanti, “Dia sudah spesialis jantung, masih spesifik lagi yaitu spesialis jantung anak.”
Dengan jantung yang deg-degan, saya bersama isteri, membawa Kirana ke R.S. Sarjito. Ternyata dokter yang dirujuk itu sedang tidak ada di tempat. Kami ditawari untuk diperiksa dokter spesialis jantung anak yang lain, yang lebih muda. Setelah kami pikir-pikir, okelah tidak apa-apa.
Ketika melihat hasil ronsen dada Kirana, dokter itu mengatakan bisa jadi jantung anak kami kelihatan lebih besar karena ketika difoto Kirana bergerak. Saya membenarkan. Ketika difoto, Kirana memang menangis sambil memberontak. Tapi untuk memastikannya, dokter menawarkan supaya Kirana diperiksa menggunakan alat rekam jantung EKG. Kami setuju.
Supaya hasilnya optimal, maka selama proses rekam jantung, Kirana tidak boleh bergerak-gerak, demikian kata petugas EKG. Wah, rasanya mustahil, karena anak kami itu selalu merasa tidak nyaman jika bertemu dengan lingkungan asing atau orang asing. Dengan kabel-kabel yang menempel di tubuhnya, Kirana pasti akan segera merenggutnya sambil menangis.
Untuk itu, Kirana harus dibuat tidur dulu. Supaya cepat tidur, petugas EKG menawarkan obat tidur. Tapi kami akan mencoba menidurkan Kirana dengan cara alami dulu. Biasanya setelah disusui oleh Mamanya, Kirana mau tidur. Ternyata tidak, setelah disusui selama setengah jam, si kecil tidak mau tidur juga. Kelihatannya, dia tidak bisa tidur di ruangan yang terasa asing itu. Maka mau tak mau, kami harus meminumkan obat tidur pada Kirana. Lima belas menit berlalu, Kirana belum tidur juga. Wah gimana sih! Anak ini memang jago melek untuk ukuran anak sebayanya. Kalau anak sebayanya sudah tidur pada jam delapan malam, Kirana baru bisa tidur setelah jam sebelas malam. Bahkan beberapa kali sampai jam satu malam.
Setengah jam setelah minum obat, Kirana masih terjaga juga. Saya dan isteri mulai empot-empotan. Tangguh juga bocah ini! Isteri saya lalu membawa Kirana ke sebuah tempat yang lebih tenang. Setelah disusui selama 10 menit akhirnya Kirana terlelap juga. Tak menunggu lama, dia segera dibawa ke ruang rekam jantung. Cukup lima menit, pemeriksaan sudah selesai. Eh, lima menit kemudian, Kirana sudah bangun dengan mata terang. Tidak kelihatan kalau masih berada di bawah pengaruh obat tidur.
Puji Tuhan, hasil EKG menunjukkan bahwa jantung Kirana berfungsi normal. Dokter spesialis jantung itu kemudian menulis surat pengantar kembali ke dokter Nursanti, yang memeriksa Kirana pertama kali. Setelah membaca surat pengantar itu, dokter Nursanti berkata, “Menurut hasil pemeriksaan, jantung Kirana normal. Tapi menurut hasil tes darah, kelihatannya Kirana terkena penyakit flek di paru-parunya.”
Untuk pengobatannya, Kirana harus minum antibiotik selama enam bulan. Setelah itu periksa darah lagi. Kalau belum berhasil, maka pengobatan harus dilakukan. Harus minum obat selama setengah tahun, tentu akan mempengaruhi kesehatan hati Kirana. Apalagi dia masih anak-anak. Untuk melindungi hatinya, maka dokter meresepkan sirup curcuma atau temulawak.
Demikianlah, kami harus meminumkan obat secara teratur dua kali sehari, pagi dan malam. Tidak boleh kelupaan. Mula-mula, hal ini menjadi siksaan bagi Kirana, karena konon obatnya ini terasa sangat pahit. Tapi lama-kelamaan Kirana bisa “berdamai” dengan obat ini. Karena sudah terbiasa, kini dia bisa minum dengan santai, tidak disertai dengan tangisan.
Kini, setelah Kirana dinyatakan sembuh dari penyakit flek, kami berharap anak kami mengalami pertumbuhan yang lebih baik. Akibat penyakit ini, Kirana susah untuk makan. Karena asupan karbohidrat kurang, maka pertumbuhan otot-otot kasarnya kurang maksimal. Itu sebabnya, dia terlambat dalam aktivitas fisik seperti merangkak. Sampai usia 15 bulan ini, Kirana baru bisa rambatan (berjalan sambil berpegangan). Namun yang kami syukuri, kemampuan verbalnya berkembang dengan pesat. Dia bisa mengucapkan kata-kata, “Mama…Papa…main…duduk…gendong…uang…Tuhan Yesus..turun dll” dengan jelas. Memang belum sempurna, tapi sudah bisa dimengerti maksudnya. Semoga perkembangan ini diikuti perkembangan lainnya. Amin.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Minggu, 05 Agustus 2007

Writer's Corner: Purnawan Kristanto

Majalah Getlife memiliki rubrik baru: Writer's Corner.  Dalam setiap edisi kita akan mengenal lebih dekat satu sosok penulis Kristen Indonesia.  Penulis perdana kita kali ini adalah Purnawan Kristanto yang diwawancarai reporter GetLife, Hardhono:
 
Dari antara 13 judul buku pernah diterbitkan, yang paling berkesan yang mana?
Setiap buku melalui proses kreatif yang meninggalkan kesan sendiri-sendiri. Namun yang paling berkesan adalah "Misteri Gerbong Tua". Novel remaja ini ditulis hanya dalam waktu kurang tiga bulan, karena akan diikutkan ke dalam Lomba Penulisan Buku Fiksi Keagamaan tingkat Nasional 2003. Puji Tuhan, naskah ini meraih Juara Harapan II. Hal ini cukup memuaskan saya, mengingat baru pertama kali saya menulis buku fiksi.
 
Banyak buku Anda tentang permainan asyik atau seru. Definisi Anda mengenai permainan yang seru atau asyik itu apa?
Permainan yang asyik adalah permainan yang dapat mendorong banyak orang untuk terlibat secara sukarela dan hatinya merasa senang.  Orang yang hatinya sedang senang akan lebih terbuka dalam menerima kebenaran firman Tuhan dan ide-ide baru.  Dengan permainan, kita dapat menghangatkan relasi antar manusia dan belajar hal baru secara menyenangkan.
 
Inspirasi permainan asyik dan seru ini dari mana?
Sebagian besar berasal dari permainan yang pernah diterapkan dalam pengajaran Sekolah Minggu dan pelatihan LSM.  Saya juga terinspirasi dari permainan tradisional dan melakukan survei di internet. Tentunya dengan penyesuaian sesuai kebutuhan di Indonesia.
 
Apakah semua permainan itu selalu diuji coba dulu sebelum diterbitkan menjadi buku?
Belum semua. Sampai sekarang saya sudah menulis 485 permainan. Jika setiap minggu harus diuji coba satu permainan, maka dibutuhkan waktu 10 tahun lebih.
 
Anda juga menulis novel remaja dan cerpen. Menurut Anda fiksi Kristen yang baik itu seperti apa?
Sebaiknya fiksi Kristen itu dapat menjadi oase yang menyegarkan. Ia menawarkan nilai-nilai kristiani di tengah-tengah kemerosotan moral saat ini. Namun hal ini harus dikemas secara cerdas, elegan dan lemah lembut, sehingga setiap orang yang membacanya akan mengamininya.
 
Penulis favorit Anda? Mengapa?
Ada dua orang. Pertama, Remi Silado. Dia sangat kuat dalam diksi. Kedua, Xavier Quentin Pranata. Selama 2,5 tahun saya bekerja sama dengan dia. Saya mengagumi antusiasme dan kerendahanhatinya.
 
Catatan: Hasil wawancara di atas adalah versi asli dari penulis. Namun karena keterbatasan space, ada banyak kata-kata yang dipangkas (nama rubriknya saja Corner atau Pojokan. Jadi ya cuma kejatah se-upil).  Jika ingin mengetahui hasil editan redaktur Getlife, silakan beli dan baca di majalah Getlife edisi no.32
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Jumat, 03 Agustus 2007

Mendapat printer baru!

"Berapa harga printer laser jet sekarang?" tiba-tiba Agus Permadi tanya kepadaku usai acara persekutuan kelompok. Aku mengerutkan kening, tak segera menjawab. "Tumben, nanya printer. Kapan Sampeyan bisa pakai komputer," tanyaku heran.

Agus Permadi tidak menjawab pertanyaanku. Dia membuka dompetnya, mengambil segepok uang dan memasukkan di saku bajuku. "Ini buat beli printer laser.  Nanti kalau kurang bilang saja," katanya.

Aku kaget.  Malaikat apa yang baru saja menghampirinya?

"Apa maksudnya ini?" tanya ku semakin blo'on.

"Ingat 'kan kalau aku pernah berjanji mau membelikan printer laser jet?"

Aku menggelengkan kepala.

"Meski Sampeyan tidak ingat, ini aku memenuhi janjiku."

Dia lalu bercerita kalau setahun terakhir ini Tuhan memberkati keluarganya dengan berlimpah-limpah. Omset bisnis bunganya meningkat berkali-kali lipat.  Sejak bunga-bunga adenium, euporbia, bahkan anturium sedang naik daun, banyak orang yang membeli bunga kepadanya.  Aku kadang tak habis pikir dengan bisnis bunga ini.  Bayangkan saja, ada orang yang menjual bunga anturium kepadanya seharga Rp. 50.000,- kepadanya.  Sorenya, ada yang menawar bunga itu sebesar Rp. 200.000,- tapi, Agus Permadi tidak melepasnya.

Aku teringat sekitar setahun lalu lebih sedikit.  Ketika gempa bumi menggoncang Klaten 27 Mei 2006, Agus Permadi memutuskan untuk membuka posko kemanusiaan di daerah gempa. Aku bergabung dengannya dua hari kemudian.  Bersama-sama kami membersihkan puing-puing gereja di Pesu, supaya dapat dijadikan posko logistik dan klinik darurat. Sejak pagi hingga hari gelap, kami harus bekerja keras mengangkat bekas-bekas reruntuhan itu.

Itu artinya, kami tidak dapat bekerja mencari nafkah sebagaimana biasanya.  Aku yang berprofesi sebagai penulis dapat menghentikan sejenak aktivitas menulis. Kadang-kadang mencuri-curi waktu menulis di sela-sela istirahat.

Tapi beda dengan Agus Permadi yang menyebut dirinya sebagai Botanis.  Dengan menjadi relawan secara total di posko kemanusiaan, maka praktis dia tidak dapat mengurusi pekerjaannya.  Aku masih ingat ketika itu dia kehabisan uang untuk makan keluarganya.  Dia berkata kepada mbak Widi, isterinya, "Jual saja cincin kawin kita. Itu bisa untuk makan beberapa hari," kata Agus Permadi dengan enteng,"nanti kalau habis, Tuhan pasti akan memberikan berkat lagi."  Aku tidak tahu apakah mereka jadi menjual cincin itu atau tidak.  Tapi yang jelas, Agus Permadi hanya bisa menyandarkan diri kepada Tuhan.

Beberapa bulan kemudian, ketika Agus Permadi menekuni kembali bisnis bunga-bunganya, dia bercerita kepadaku bahwa usahanya mulai berkembang dengan baik. "Benar juga firman Tuhan.  Ketika kita mendahulukan mencari kerajaan Sorga, maka Tuhan akan menambahkan hal yang lain," kisahnya kepadaku suatu ketika.  Benar, aku menyaksikan dengan mataku sendiri, bagaimana Tuhan menambahkan berkat ke keluarga ini  Namun dia tidak mau menikmati berkat ini sendiri saja.  Dia membagi-bagikan sukacita itu kepada beberapa orang. Termasuk kepadaku. Puji Tuhan, akhirnya bisa membeli printer laserjet!!

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More