Rabu, 11 Juli 2007

Reporter Insert berlepotan

Hari ini, banyak mata yang menatap layar televisi. Mereka menyimak berita yang sangat mengejutkan: Taufik Savalas meninggal karena kecelakaan.  Saya memperkirakan pada hari-hari mendatang, peristiwa ini akan terus-menerus dibahas oleh media, terutama acara infotainment.
 
Di tengah-tengah banyaknya perhatian yang diberikan, sayangnya media infotainment kurang menyajikan berita yang berkualitas. Program Insert TransTV membuatan liputan secara langsung di rumah duka.  Sayangnya, reporternya tidak menguasai bahasa Indonesia yang benar. Kami sekeluarga sangat terganggu dengan banyaknya penggunaan kata "mungkin" dan "daripada".  Seorang jurnalis berusaha menghindari kata "mungkin", karena berita yang baik memberikan KEPASTIAN kepada khalayak.  Reporter itu mengatakan "Jenazah Taufik Savalas mungkin akan disemayamkan di rumahnya." Kalimat ini cukup mengganggu karena jenazahnya sendiri sudah dan pasti disemayamkan di rumahnya.
Kata "daripada" mestinya dipakai untuk membandingkan sesuatu (Misalnya, "Apel malang lebih manis daripada apel bali"). Sedangkan reporter itu menggunakan kata "daripada", untuk mengekspresikan kata "dari" (Misalnya, "Teman-teman Taufik Savalas daripada radio XYZ"). Selain itu ada ungkapan yang membuatelinga gatal: "Taufik adalah seorang entertainment besar" (mestinya "penghibur" atau "entertainer"). "Seorang  komedi nasional telah meninggalkan kita" (mestinya "komedian" atau "pelawak").
Mengapa bisa kacau-balau begitu? Menurut analisis saya ada dua penyebab:
1. Siaran langsung menyebabkan reporter yang bersangkutan gugup, sehingga tidak dapat menata bahasa dengan baik.  Ceritanya akan lain jika program itu direkam lebih dulu karena memberikan kesempatan untuk re-take atau editing.
2. Standar reporter infotainment di bawah kualitas reporter berita.  Karena "hanya" meliput berita-berita hiburan maka tidak dibutuhkan syarat yang berat bagi reporter infotainment.  Celakanya, acara infotainment diperkirakan justru ditonton oleh anak-anak, remaja dan orang-orang yang berpendidikan rendah. Mereka kurang menguasai bahasa Indonesia yang benar. Jika sinyalemen ini benar, maka acara infotainment telah melanggengkan penggunaan bahasa Indonesia yang  sembarangan.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It