Sabtu, 14 Juli 2007

Pelanggaran Peivasi oleh Pers:Kematian Taufik Savalas

Hari ini Atmakusumah menulis artikel yang cukup bagus di Kompas tentang etika privasi bagi pers. Menurutnya, ada empat hal yang menjadi privasi individu, yang seharusnya dihormati oleh pers, yaitu soal aborsi, kematian, kelahiran dan perkawinan.
Setelah membaca artikel ini, saya teringat tentang kehebohan liputan kematian Taufik Savalas kemarin.  TransTV secara "ekslusive" menayangkan detik-detik ketika isteri Taufik menerima kabar kematian suaminya.  Saya sebenarnya tidak begitu berminat melihatnya, tapi karena anggota keluarga lain menontonnya, maka saya terpaksa melihatnya juga.  Cuma dalam hati saya gelisah, apakah TransTV sudah melanggar etika privasi dalam hal ini? Apakah demi rating, mereka boleh menayangkan ekspresi orang yang sedang berkabung? Menayangkan ekpresi orang berkabung sih sebenarnya boleh saja asalkan itu berlangsung di ruang publik. Misalnya pada saat pelayatan.  Pada saat itu, orang yang berkabung mengetahui dan menyadari bahwa ekspresinya akan dilihat orang lain.  Namun dalam kaitan kematian Taufik ini, peristiwa perkabungan isteri Taufik itu berlangsung di dalam rumah. Di dalam wilayah yang seharusnya menjadi ruang privat. Pers seharusnya tahu diri dan bisa berempati.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It