Senin, 23 Juli 2007

Buku Terbaruku: Secret Bible Code

Penulis fiksi bernama Dan Brown pernah menghebohkan dunia kekristenan dengan menulis novel berjudul "The Da Vinci Code." Saya tidak akan menyinggung tentang kebenaran isi novel tersebut. Namanya saja sudah fiksi, itu artinya isinya adalah rekaan belaka. Namun jika dilihat dari teknik penulisan, kita patut mengacungi jempol padanya. Dengan menggunakan teknik suspense, Dan Brown sukses mempermainkan rasa penasaran kita sehingga memaksa kita untuk membaca novel ini sampai selesai.

Dalam novel ini diceritakan bahwa seniman lukis terkenal, Da Vinci, mewariskan sebuah kode atau sandi kepada sebuah sekte keagamaan. Kode atau sandi ini berisi sebuah rahasia yang telah disimpan selama berabad-abad. Rahasia apakah itu? Hal inilah yang menimbulkan penasaran di benak pembaca.

Setelah membaca novel ini, tiba-tiba muncul ide di kepala saya: Saya dapat memakai kode rahasia untuk mendorong orang Kristen mempelajari Alkitab secara menyenangkan. Caranya adalah dengan menciptakan rasa penasaran dan tantangan. Untuk itu, saya kemudian mengumpulkan kembali kode-kode rahasia yang sebagian besar saya dapatkan waktu aktif di kepramukaan.

Setelah itu saya menuliskan kode-kode rahasia seperti yang ada dalam buku ini. Tujuan pemakaian kode ini adalah untuk menimbulkan rasa penasaran pembaca sehingga mereka tergerak untuk memecahkan kode tersebut. Jika pembaca berhasil memecahkannya, maka di balik kode rahasia itu tersimpan sebuah pertanyaan atau soal. Selanjutnya pembaca ditantang untuk mencari jawaban yang benar dengan membuka Alkitab.

Pertanyaan-pertanyaan dalam kode rahasia ini dibagi menjadi enam kelompok, yaitu: Tokoh dalam Alkitab, Kota dalam Alkitab, Gunung dalam Alkitab, Sungai dalam Alkitab, Tumbuhan dalam Alkitab, dan Hewan dalam Alkitab

Buku ini dapat dipergunakan secara pribadi. Anda dapat menguji pengetahuan Anda dengan memecahkan semua kode dalam buku ini. Buku ini juga dapat digunakan untuk memeriahkan acara persekutuan, komsel, KTB atau Sekolah Minggu. Caranya, bentuklah kelompok, kemudian ajak mereka berlomba memecahkan kode dalam buku ini, kemudian mencari jawabannya dalam Alkitab. Jika Anda ingin mengecek kebenaran jawaban Anda, maka pada bagian akhir buku ini telah disertakan kunci jawabannya.

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Sabtu, 14 Juli 2007

Pelanggaran Peivasi oleh Pers:Kematian Taufik Savalas

Hari ini Atmakusumah menulis artikel yang cukup bagus di Kompas tentang etika privasi bagi pers. Menurutnya, ada empat hal yang menjadi privasi individu, yang seharusnya dihormati oleh pers, yaitu soal aborsi, kematian, kelahiran dan perkawinan.
Setelah membaca artikel ini, saya teringat tentang kehebohan liputan kematian Taufik Savalas kemarin.  TransTV secara "ekslusive" menayangkan detik-detik ketika isteri Taufik menerima kabar kematian suaminya.  Saya sebenarnya tidak begitu berminat melihatnya, tapi karena anggota keluarga lain menontonnya, maka saya terpaksa melihatnya juga.  Cuma dalam hati saya gelisah, apakah TransTV sudah melanggar etika privasi dalam hal ini? Apakah demi rating, mereka boleh menayangkan ekspresi orang yang sedang berkabung? Menayangkan ekpresi orang berkabung sih sebenarnya boleh saja asalkan itu berlangsung di ruang publik. Misalnya pada saat pelayatan.  Pada saat itu, orang yang berkabung mengetahui dan menyadari bahwa ekspresinya akan dilihat orang lain.  Namun dalam kaitan kematian Taufik ini, peristiwa perkabungan isteri Taufik itu berlangsung di dalam rumah. Di dalam wilayah yang seharusnya menjadi ruang privat. Pers seharusnya tahu diri dan bisa berempati.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Rabu, 11 Juli 2007

Mengenang pak Bagyo

 
Hari Rabu kemarin (11/7), Sasongko mengabarkan bahwa pak Bagyo, mantan teman kerja saya, telah dipanggil Tuhan pada hari Selasa malam.  Karena sedang ada di luar kota, saya tidak bisa melayat ke sana. Perjumpaan saya dengan pak Bagyo sebenarnya tidak banyak, karena ketika saya masuk sebagai karyawan di majalah BAHANA, pak Bagyo justru sudah pensiun.  Meski begitu, saya kadang masih bertemu dalam acara-acara kerohanian.
Pria Jawa ini meski berkulit gelap, tapi sering disangka sebagai suku Tionghoa karena bermata sipit. Salah satu ciri khasnya, dia mudah tertidur dimana saja. Termasuk di kursi kerjanya (beberapa tahun kemudian, ternyata ada karyawan yang seperti pak Bagyo yang mudah tidur dimana saja. Kayak iklan Coca Cola).
Tubuhnya subur dan ada cerita lucu mengenai hal ini, seperti yang berkali-kali dikisahkan pak Xavier kepada saya.
Suatu kali, pak Bagyo mengikuti sebuah Kebaktian Kebangunan Rohani.  Di akhir khotbah, sang pengkhotbah mengundang jemaat yang ingin diurapi Roh Kudus untuk maju.  Pak Bagyo pun ikut maju dan berbaris di depan panggung.  Sang pengkhotbah turun dari panggung dan mengimpartasiiak Roh Kudus satu demi satu dengan memegang keningnya.  Sesudah itu, biasanya orang yang diimpartasi ini jatuh terjengkang. Tapi untunglah ada usher di belakangnya yang siap menatang tubuhnya supaya tidak terbanting keras ke tanah.
Giliran pak Bagyo yang mendapat urapan itu. Sang pengkhotbah memegang keningnya sambil mengucapkan doa berkat.  Selesai berdoa, pak Bagyo tak juga terjengkang. Pengkhotbah mulai tak sabar. Tangannya mulai mendorong-dorong kening pak bagyo supaya terjengkang, tapi pak Bagyo tak juga terjatuh. Lama-lama pak Bagyo merasa tidak enak. Dia berpaling kepada usher di belakangnya yang lebih kurus dari dirinya dan berkata, "Kalau saya terjengkang, Anda pasti tidak kuat menyangga tubuh saya.  Sebaiknya saya rebahan sendiri saja deh." Setelah itu, pak Bagyo merebahkan diri dengan nyaman.
Begitulah pak Bagyo. Orang yang sangat sederhana, ingin menyenangkan semua orang tapi punya semangat yang kuat dalam melayani Tuhan. Selamat pulang pak Bagyo. Di sana, Sampeyan bisa tidur nyenyak sepuasnya.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Reporter Insert berlepotan

Hari ini, banyak mata yang menatap layar televisi. Mereka menyimak berita yang sangat mengejutkan: Taufik Savalas meninggal karena kecelakaan.  Saya memperkirakan pada hari-hari mendatang, peristiwa ini akan terus-menerus dibahas oleh media, terutama acara infotainment.
 
Di tengah-tengah banyaknya perhatian yang diberikan, sayangnya media infotainment kurang menyajikan berita yang berkualitas. Program Insert TransTV membuatan liputan secara langsung di rumah duka.  Sayangnya, reporternya tidak menguasai bahasa Indonesia yang benar. Kami sekeluarga sangat terganggu dengan banyaknya penggunaan kata "mungkin" dan "daripada".  Seorang jurnalis berusaha menghindari kata "mungkin", karena berita yang baik memberikan KEPASTIAN kepada khalayak.  Reporter itu mengatakan "Jenazah Taufik Savalas mungkin akan disemayamkan di rumahnya." Kalimat ini cukup mengganggu karena jenazahnya sendiri sudah dan pasti disemayamkan di rumahnya.
Kata "daripada" mestinya dipakai untuk membandingkan sesuatu (Misalnya, "Apel malang lebih manis daripada apel bali"). Sedangkan reporter itu menggunakan kata "daripada", untuk mengekspresikan kata "dari" (Misalnya, "Teman-teman Taufik Savalas daripada radio XYZ"). Selain itu ada ungkapan yang membuatelinga gatal: "Taufik adalah seorang entertainment besar" (mestinya "penghibur" atau "entertainer"). "Seorang  komedi nasional telah meninggalkan kita" (mestinya "komedian" atau "pelawak").
Mengapa bisa kacau-balau begitu? Menurut analisis saya ada dua penyebab:
1. Siaran langsung menyebabkan reporter yang bersangkutan gugup, sehingga tidak dapat menata bahasa dengan baik.  Ceritanya akan lain jika program itu direkam lebih dulu karena memberikan kesempatan untuk re-take atau editing.
2. Standar reporter infotainment di bawah kualitas reporter berita.  Karena "hanya" meliput berita-berita hiburan maka tidak dibutuhkan syarat yang berat bagi reporter infotainment.  Celakanya, acara infotainment diperkirakan justru ditonton oleh anak-anak, remaja dan orang-orang yang berpendidikan rendah. Mereka kurang menguasai bahasa Indonesia yang benar. Jika sinyalemen ini benar, maka acara infotainment telah melanggengkan penggunaan bahasa Indonesia yang  sembarangan.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Rabu, 04 Juli 2007

Mengapa Ada Penderitaan?

Jika Tuhan itu baik dan berkuasa, mengapa hal jahat masih saja terjadi? Mengapa Tuhan mengijinkan penderitaan terjadi pada Ayub, hambanya yang setia? Mengapa Tuhan membiarkan pembunuhan bayi-bayi "tak berdosa" di Betlehem?" Mengapa orang-orang harus binasa diterjang gelombang Tsunami? Mengapa banyak harus mati karena wabah flu burung? Apakah Tuhan tidak kuasa mencegah niat jahat para teroris?

Pertanyaan-pertanyaan ini dalam ilmu agama dikenal sebagai teodisi: Bagaimana mungkin penderitaaan dan hal jahat bisa terjadi di alam semesta yang diciptakan oleh Tuhan yang Mahakuasa dan Mahapenyayang? Melihat banyaknya musibah yang kita alami, mungkin kita akan mengamini nyanyian Ebiet G. Ade,"Mungkin Tuhan mulai bosan, melihat tingkah kita, yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa."

Benarkah musibah terjadi semata-mata karena dosa manusia?

Beberapa penderitaan memang ada yang berhubungan langsung dengan dosa. Apa yang kita tanam, itu pula yang akan kita tuai. Allah menghukum Hofni dan Pinheas, Daud, Ananias dan Safira karena melakukan perbuatan dosa. Akan tetapi Yesus juga pernah menolak generalisasi dosa sebagai kedok dari biang penderitaan. Dalam Yoh. 9 dan Luk.13, Yesus mengingatkan murid-murid-Nya supaya tidak seenaknya menuduh dosa sebagai pangkal dari penderitaan.

Musibah dapat dibagi menjadi dua sebab yaitu karena kejahatan moral dan peristiwa natural. Dalam Lukas 13, kita membaca perbuatan Pilatus yang membunuh orang Galilea dan mencampurkan darah mereka dengan darah korban yang akan dipersembahkan pada dewa-dewa. Ini adalah kejahatan moral. Hal yang sama juga berlaku pada serangkaian pengeboman di tanah air. Semua ini adalah kejahatan yang direncanakan oleh manusia. Di sini kita patut berseru perlunya pertobatan.

Sedangkan pada musibah karena peristiwa alam, kita perlu mengusut pangkal sebab dari gejala alam itu: apakah bencana alam itu terjadi karena kebodohan dan keserakahan manusia? Misal, luapan lumpur panas di Sidoarjo patut diduga terjadi karena pelaksana pengeboran sengaja mengabaikan prosedur yang benar. Namun ada juga bencana alam yang tidak berkaitan langsung dengan perbuatan manusia. Gempa bumi dan gunung meletus terjadi karena pergeseran lempeng bumi.

Lalu bagaimana kita menyikapi berbagai penderitaan yang kita alami? Kita tetap meyakini bahwa Tuhan itu Mahakuasa atas alam semesta ini. Tidak satu molekul pun di alam semesta ini berada di luar wilayah kekuasaan Tuhan. Tuhan itu juga Mahatahu. Tak seekor burung pun yang jatuh tanpa sepengetahuan Tuhan. Bahkan Tuhan pun tahu jumlah rambut kita.

Raja Nebukadnezar mengakui hal ini, "Allah akan menjadi raja untuk selamanya. Ia berkuasa sepanjang masa. Bangsa-bangsa di dunia tidak berarti. Allah menguasai malaikat di surga dan penduduk bumi. Tak seorang pun dapat melawan kehendak-Nya, tak ada yang berani menanyakan apa yang dilakukan-Nya" (Dan. 4:34-35 BIS). Tidak ada yang berani mempertanyakan kehendak Allah.

Pikiran manusia tidak mampu menyelami maksud Allah di balik berbagai musibah. Namun sebagai orang percaya, kita perlu selalu meyakini bahwa Allah berdaulat atas alam semesta ini. Semua hal yang terjadi itu masih dalam kerangka untuk kebaikan kita, yaitu orang "yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah" (Rom.8:28). Charles Spurgeon berkata, "ketika kita tidak mampu memahami karya tangan Tuhan, kita cukup percaya pada hati-Nya."

* * * *

Sebagian dari renungan dalam buku ini ditulis semasa saya menjadi relawan Gerakan Kemanusiaan Indonesia di Klaten. Posko kemanusiaan membantu korban gempa bumi, tanggal 27 Mei 2006 lalu. Pengalaman-pengalaman yang menakjubkan itu selanjutnya saya refleksikan dalam bentuk tulisan-tulisan yang dimuat dalam terbitan berkala "Blessing". Untuk melengkapinya, saya juga menyeleksi koleksi renungan saya yang pernah dimuat di "Renungan Malam."

Meski dengan topik yang berbeda-beda, renungan-renungan dalam buku ini memiliki satu benang merah, yaitu memberikan penguatan, penghiburan dan pengharapan dalam menghadapi penderitaan.

Saya berharap, Anda tidak sekadar ikut menumpang membaca, tapi juga membeli buku ini karena semua royalti dari penjualan buku ini akan diserahkan untuk membantu gereja-gereja di Klaten yang menjadi korban gempa bumi. Data kerusakan gereja yang saya kumpulkan, ada 4 gereja roboh, 13 gereja rusak berat dan 21 gereja rusak ringan.

Berkat lainnya yang saya dapatkan ketika menjadi relawan adalah sikap hidup positif dari penyintas (orang yang selamat dari sebuah musibah) dan sesama relawan. Mereka menyiasati tragedi ini dengan humor. Dengan begitu, beban penderitaan kami terasa lebih ringan. Untuk itu, pada bagian akhir buku ini saya ingin membagikan koleksi humor yang saya kumpulkan selama saya menjadi relawan posko kemanusiaan.

Purnawan

[Tulisan ini adalah kutipan kata pengantar dalam buku "Tuhan Yesus tidak Tidur", terbitan PBMR Andi, 2007]

 

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Buku:"Tuhan Yesus Tidak Tidur"


Telah terbit buku kumpulan renungan saya yang terbaru! Judulnya, "Tuhan Yesus tidak Tidur; 100 Renungan tentang Hikmah di Balik Musibah".Berikut ini tulisan di back covernya:
Kecelakaan dan bencana alam yang bertubi-tubi mendera bangsa Indonesia mulai dari kecelakaan pesawat terbang, kapal laut, gempa bumi sampai lumpur Lapindo yang menggoreskan luka mendalam di benak sejumlah korban dan para penyintas (orang-orang yang selamat dari musibah). Berbagai peristiwa yang mengharu biru, kesaksian akan perlindungan dan keselamatan yang nyata dari Tuhan, dan kesadaran akan keterbatasan manusia di tengah bencana yang dahsyat ini menjadi inspirasi bagi penulis untuk menuliskan permenungan di balik setiap kejadian dan mengambil hikmahnya. Di balik bencana ada hikmah yang bisa dipetik walaupun pahit. Kita sudah selayaknya berserah dalam segala situasi kehidupan yang berubah tiada tentu.
Melalui "Tuhan Yesus tidak Tidur", pembaca diajak menemukan mutiara ilahi di balik kepedihan dan di anatara gelimang air mata kesedihan serta keputusasaan. Tidak hanya itu, penulis juga ingin mempersembahkan sekelumit kisah konyol ketika ia berkesempatan menjadi relawan untuk menolong para korban gempa di Yogyakarta tanggal 27 Mei 2006. Jadi buku ini tidak hanya berisi kisah pilu nan mengetuk hati dan menderaskan air mata, tetapi juga memberi penghiburan lewat kisah konyol dan lucu yang didasarkan pada pengalaman nyata para relawan dan penyintas.
Sebuah kombinasi unik yang patut Anda baca di tengah membanjirnya buku-buku renungan. Buku ini menawarkan sesuatu yang membuat pembaca melihat berbagai sisi dari sebuah bencana. Semoga buku ini memberkati dan membuat Anda tersenyum, lalu menyadari bahwa "Tuhan Yesus tidak Tidur"!


Mari dapatkan berkat dengan membeli dan membaca buku ini, sekaligus juga memberkati gereja-gereja korban gempa di Klaten.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Permainan yang Benar-benar Asyik


Telah terbit buku permainan saya yang terbaru! Berikut ini kutipan kata pengantar dalam buku tersebut:


Hei Jud, jangan bermain saja! Ayo belajar!" Kata-kata ini sering kita dengar pada waktu kecil. Selama ini ada anggapan bahwa bermain adalah kegiatan yang tidak ada manfaatnya. Seorang anak tidak boleh bermain-main saja. Dia harus banyak belajar. Seorang karyawan harus bekerja dengan serius. Dia tidak boleh bekerja sambil bermain-main karena dianggap tidak produktif.


Pendapat ini tidak sepenuhnya benar. Manusia dilahirkan dengan naluri untuk bermain. Dengan bermain, manusia dapat menjalin relasi dengan sesamanya. Selain itu juga melatih otot-otot tubuh dan menciptakan perasaan rileks. Menurut sebuah penelitian, perasaan aman, nyaman dan rileks pada sat bermain, dapat mendorong otak untuk berpikir secara jernih dan lebih produktif. Ada banyak ide-ide yang muncul, justru pada saat otak kita sedang santai.


Ada dua jenis permainan: Permainan spontan dan permainan struktur. Permainan spontan dilakukan tanpa persiapan sebelumnya. Biasanya permainan ini dilakukan oleh anak-anak.


Sedangkan permainan terstruktur memiliki aturan main dan tujuan tertentu. Sebelum dilakukan permainan, biasanya didahului dengan persiapan sungguh-sungguh. Ada tujuan tertentu yang hendak dicapai. Ada peralatan yang harus dicari dan dilengkapi. Ada tempat yang harus dipersiapkan.


Permainan terstruktur biasanya dilakukan oleh sebuah perkumpulan, kelompok, lembaga atau gereja. Ada beberapa manfaat yang dapat dipetik dengan melakukan permainan yang terstruktur ini:


Ketrampilan Sosial – Interaksi antar partisipan yang terjadi di dalam permainan dapat meningkatkan ketrampilan sosial. Dengan bermain, seseorang dapat mengembangkan ketrampilan berkomunikasi, dan belajar memercayai orang lain. Partisipan juga mengembangkan kemampuannya dalam berempati, berbelas-kasih , solidaritas dan setia kawan. Kemampuan ini akan sangat berguna di dalam kehidupan nyata.


Kekuatan Pribadi – Melalui permainan partisipan belajar mengemban tanggung jawab dan mengukur kemampuan diri. Dengan melakukan aktivitas ini, mereka dapat mengetahui kelebihan dan kekurangan yang dia miliki. Dia juga dapat mengembangkan kemampuannya dalam beradaptasi.


Pembelajaran – Permainan merupakan pintu masuk pembelajaran. Permainan mengasah kemampuan kita memecahkan masalah. Permainan memancing rasa penasaran, yang menuntunnya menuju penjelajahan dan kreativitas. Komponen dalam permainan, --keinginan tahu, penemuan, inovasi, mengambil risiko, coba dan gagal, etiket sosial dan aturan permainan--, juga merupakan komponen dalam pembelajaran.


Kesehatan – Aktivitas fisik dalam permainan merupakan bentuk lain dari olah raga.


Keakraban – Suasana gembira yang tercipta selama permainan berlangsung dalam mendorong partisipan untuk membuka hatinya terhadap orang lain. Mengerjakan tugas bersama, tertawa bersama, merayakan kemenangan bersama dll, semakin mendekatkan jarak di antara partisipan.


n


Permainan dalam buku ini dikelompokkan menjadi tiga bagian: Ice Breaker Energizer, dan Brain Teaser. Permainan jenis Ice Breaker adalah sebuah aktivitas yang dirancang supaya di antara partisipan yang belum pernah berkenalan menjadi cepat saling mengenal dan akrab. Peremainan ini juga bermanfaat untuk mengurangi ketegangan yang biasanya terjadi di awal sebauah pertemuan. Biasanya, Ice Breaker dapat menjadikan suasana sebuah pertemuan menjadi hidup dan sangat interaktif.


Permainan jenis Energizer merupakan sebuah aktivitas yang bertujuan untuk membangkitkan kembali semangat partisipan yang sudah kelihatan lesu dan loyo. Sebuah acara yang menuntut perhatian serius dari partisipan selama berjam-jam dapat membuat mereka mengantuk, bosan dan kehilangan perhatian. Untuk itulah pemainan ini dibutuhkan untuk memberikan enerji baru kepada mereka.


Permainan jenis Brain Teaser bermanfaat untuk mendorong terjadinya proses pembelajaran dengan cara yang menyenangkan. Partisipan ditantang untuk memutar otak, mengingat pengalaman dan mengumpulkan informasi supaya dapat menyelesaikan sebuah tugas.


Pada bagian akhir buku ini, ditambahkan bonus 10 kuis. Kuis ini dapat digunakan memeriahkan acara Anda dengan cepat. Anda tidak perlu melakukan persiapan yang njlimet. Cukup dengan menggandakan lembaran soal tersebut dan membagikan kepada partisipan, maka Anda sudah memulai acara tersebut dengan menarik.


Buku ini merupakan kelanjutan buku permainan yang diterbitkan oleh Metanoia. Saya berharap buku ini dapat bermanfaat dalam acara Sekolah Minggu, Persekutuan, Retreat, Kebaktian Padang, Kelompok Sel, Seminar, Pelatihan, dan acara lainnya. Saya menunggu saran, kritik dan sharing dari pembaca. Hubungi saya via email: Purnawank@gmail.com.



Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More