Senin, 18 Juni 2007

Kuasa di Balik Pengampunan

 

Mengampuni bukanlah sebuah saran, melainkan perintah. Paulus menegaskan: "Ampunilah seorang akan yang lain …sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu" (Kol.3:13). Ternyata ada maksud baik di balik perintah ini. Ketika kita mengampuni orang lain, pada saat itulah kita menghentikan luka-luka dalam batin kita.  Ketika kita tidak membalas perbuatan jahat orang lain, maka dia pun berhenti melukai hati kita. Pada saat kita memutuskan untuk memaafkan kesalahan orang lain, ada perasaan lega dalam hati kita.  Itu sebabnya, tidak ada alasan untuk menolak perintah ini.

Apakah Anda sulitkah mengampuni? Jika ya, mari kita belajar dari tiga ayat berikut ini:

1. Yesus berkata: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat."  (Luk.23:34) Di atas kayu salib, Yesus merasakan penderitaan dan penghinaan dari orang-orang yang menyalibkan-Nya.  Yesus mengampuni mereka, pada saat Yesus masih merasakan sakit itu (fisik dan psikis). Kita pun tak perlu menunggu rasa sakit hati itu mereda sebelum bertekad untuk mengampuni.

Ada pepatah, "Waktu yang akan menyembuhkan luka-luka". Namun pepatah ini tidak berlaku jika ada infeksi di atas luka-luka itu.  Jika terdapat "infeksi kepahitan" di dalam luka-luka batin kita, maka perjalanan waktu malah semakin memperparah luka-luka kita. Tanpa kita sadari, luka-luka ini menggerogoti kesehatan batin dan jiwa kita.

2. "Dengan jalan inilah kita mengetahui cara mengasihi sesama: Kristus sudah menyerahkan hidup-Nya untuk kita. Sebab itu, kita juga harus menyerahkan hidup kita untuk saudara-saudara kita!" (1 Yoh.3:16) Di atas kayu salib, Yesus mendemonstrasikan kasih sejati.  Dia menyerahkah hidup-Nya kepada orang-orang yang menganiaya-Nya. Dia tidak melakukan perlawanan atau pembalasan. Ketika kita mengampuni, maka kita menyerahkan "hak" kita untuk membalaskan perbuatan orang itu terhadap kita.  Jika perbuatan orang itu sudah melanggar hukum, maka kita perlu melaporkan pada kepolisian, tapi kita harus mengampuninya. Antara keadilan hukum dan pengampunan dapat berjalan bersama-sama. Hal ini dimungkinkan karena kita sudah diampuni dan menjadi anak-anak Allah yang Mahaadil.

3. "Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia" (Luk.17:3) Kita wajib mengampuni, tapi kita tidak boleh menutup mata terhadap perbuatan orang itu. Jika ada anggota keluarga yang berbuat dosa, maka kita punya kewajiban untuk menasihati dan menegornya.  Jika dia menyesal, maka kita wajib mengampuninya. Berapa kali kita harus mengampuni? Sampai tujuh puluh kali tujuh kali, alias tak terbatas.

Lalu bagaimana kalau kita sudah mengampuni, tapi orang itu terus melakukan hal itu terus-menerus? Abaikan saja orang seperti itu (Mat.18:17-18). (purnawan)

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Sepuluh Kiat Mengampuni

 

1.       Hayatilah perasaan yang terluka dan berduka itu. Yesus berjanji"Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur." (Mat.5:4)

2.       Tundukanlah diri Anda di hadapan Allah. Ingatlah bagaimana Allah telah mengampuni Anda (lihat Luk.23:33,34; Kol.3:13). Hampirilah salib! Anda akan mendapat keadilan dan kekuatan!

3.       Mintalah karunia dan kuasa untu mengampuni (Luk.11:9,10). Mungkin batin kita berontak, "Aku tidak mungkin mengampuninya!" Tidak apa-apa. Ceritakan saja pada Yesus. Dia pasti bisa mengerti Anda.

4.       Sedapat mungkin jauhi orang yang akan menyakiti Anda. Jika hal itu tidak mungkin, maka Anda harus sabar, mengampuni dan merendahkan diri (Kol.3:13; Ef. 5:21)

5.       Hilangkan niat untuk menuntut balas karena pembalasan adalah hak Allah. (Rom.12:19)

6.       Jangan mengungkit-ungkit permasalahan di masa lampau yang sudah Anda ampuni. Di dalam keluarga, kadangkala sulit untuk menghindari godaan ini ketika sedang terjadi pertengkaran.

7.       Tetaplah mengampuni ketika memori tentang pengalaman pahit itu muncul kembali atau orang itu terus-menerus menyakiti kita(Mat.18:21-22). Iblis senang sekali menggunakan cara ini. Anda harus waspada terhadap kemungkinan ini terjadi.

8.       Tolaklah perbuatan jahat. Jangan memberi toleransi kepadanya (Rom.12:21). Jika perlu, galanglah kekuatan dengan orang lain untuk memerangi  perbuatan jahat itu. Tuhan tidak menghendaki Anda menjadi korban yang pasif, pasrah dan tidak mau melawan.

9.       Gantikan perasaan benci dengan kasih yang mengampuni. "Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu" (Ef.4:31-32). Kevakuman rohani adalah situasi yang membahayakan (Mat.12:43-45). Setelah menghilangkan perasaan marah dan benci, segera isi hati Anda dengan kasih illahi.

10.   Manfaatkan pelayanan konseling dan pemulihan yang ada di gereja Anda. Mereka menyediakan tenaga profesional yang dapat membantu Anda (purnawan)

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

KEKUATAN KATA-KATA

Alkitab telah menegaskan bahwa kata-kata yang diucapkan oleh lidah kita memiliki kekuatan yang dahsyat. Entah itu kekuatan yang menghancurkan, atau kekuatan yang membangun. Penulis Amsal mengatakan, "Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya" (18:21).  Hal yang serupa disampaikan oleh Yakobus, "Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi" (3:9-10).

Mengingat keampuhan kekuatan kata-kata, alangkah baiknya jika kita memanfaatkan kata-kata untuk tujuan yang baik. Misalnya kita berkata-kata untuk menghibur, menguatkan, memuji, menegur, menasehati dll.  Seperti halnya ketrampilan lain, kita dapat memilikinya dengan membiasakan diri melakukannya dan dengan pertolongan Tuhan. Ajang berlatih yang paling tepat adalah di dalam keluarga.

Apa saja yang dapat dilakukan oleh perkataan kita untuk tujuan baik? Pertama, kata-kata yang bijaksana dapat menyembuhkan luka-luka  yang diakibatkan oleh omongan yang sembarangan. Omongan seperti ini laksana pedang yang menggores luka dalam hati (Ams. 15:4).

Kedua, kata-kata yang yang baik menjadi sumber hidup berkelimpahan. (Ams.10:11,20;15:4). Ketiga, kata-kata yang ramah mampu meredakan amarah yang terjadi di dalam pertengkaran keluarga. "Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah." (Ams.15:1)

Keempat, perkataan ramah dapat menyehatkan tubuh kita "Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang." (Ams.16:24). Kelima, perkataan yang baik mampu membesarkan hati yang khawatir (Ams.12:25)

Keenam, perkataan yang baik menyimpan kekuatan untuk melakukan persuasi.  Dengan kata-kata-kata, kita dapat meyakinkan, membangkitkan motivasi dan menyalakan semangat hidup anggota keluarga kita. "Orang bijaksana dikenal dari pikirannya yang tajam; cara bicaranya yang menarik, membuat kata-katanya makin meyakinkan….Pikiran orang berbudi membuat kata-katanya bijaksana, dan ajarannya semakin meyakinkan"(Ams.16: 21,23).

Namun perkataan yang baik saja belumlah cukup. Masih ada dua komponen lagi yang mempengaruhi dampak dari ucapan kita, yaitu nada suara dan isyarat non-verbal. Yang dimaksud isyarat non verbal adalah gerak-gerik tubuh kita yang mengekspresikan perasaan dan keinginan kita. Agar maksud kita dapat tersampaikan dengan baik, maka ketiga komponen ini harus saling melengkapi. 

Jika ketiga komponen ini justru saling bertolak belakang, maka pesan yang disampaikan malah dapat membingungkan lawan bicaranya. Contohnya begini: ucapan "Baik sekali perbuatanmu", jelas mengandung kata-kata yang positif.  Akan tetapi jika kalimat ini diucapkan dengan nada suara yang sinis, maka maknanya berubah total.  Contoh lain, seorang Ayah bertanya pada anaknya yang pulang sekolah, "Bagaimana sekolahmu hari ini? Dapat nilai berapa?" Kita dapat membayangkan Ayah ini sangat menaruh perhatian pada pendidikan anaknya.  Akan tetapi apa yang Anda bayangkan jika pertanyaan itu dilontarkan sang Ayah sambil asyik membaca koran, dia tak berpaling sedikit pun dari baris-baris berita itu? Sebuah penelitian menunjukkan bahwa komunikasi yang berhasil terdiri dari 7% isi pesan(kata-kata), 38% nada suara dan 55% komunikasi non verbal.

Nah, sekarang mari memeriksa diri kita, apakah selama ini kita sudah berkata-kata dengan bijak, ramah dan manis didengar? [purnawan]

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Tiga Bahan Pembersih Alami

Di jaman modern ini tersedia berbagai macam cairan pembersih yang praktis. Kita tinggal menuangkan isinya, "crot...crot..crot" maka bersihlah perabotan kita. Meski begitu, cairan yang dipasarkan ini kebanyakan menggunakan bahan sintetis yang mencemari lingkungan. Untuk itulah, kita patut untuk menggunakan kembali bahan-bahan yang alami. Selain aman dan mudah didapat, bahan-bahan ini dapat menghemat pengeluaran kita.

·        Cuka

Cuka merupakan bahan pembersih yang ampuh. Larutkan satu bagian cuka dengan satu bagian air ke dalam botol semprot yang masih baru.

Semprotkan larutan cuka pada pinggiran bak mandi dan toilet untuk membersihkan noda-noda yang melekat. Lalu siramlah dengan air. Larutan cuka dapat membersihkan sisa-sisa sabun yang mengeras di sela-sela keramik kamar mandi. Larutan juga ampuh untuk membersihkan kotoran pada kompor gas dan peralatan dapur lainnya. Selain itu, juga dapat digunakan sebagai larutan untuk mengepel lantai kamar mandi.

·        Jeruk Nipis

Belahlah jeruk nipis dan taburkan baking soda di bekas irisannya. Gunakan irisan jeruk ini untuk mempersihkan piring dan membersihkan noda. Campurkan satu gelas minyak zaitun dengan ½ gelas perasan jeruk. Gunakan larutan ini untuk mengelap perabotan dar kayu.

·        Baking Soda

Baking soda dapat digunakan sebagai larutan pembersih. Bahan pembersih ini sama ampuhnya dengan larutan pembersih buatan pabrik. Baking soda juga dapat menghilangkan bau. Masukkan baking soda di dalam lemari es dan pada bagian pembeku (freezer) untuk menghisap bau-bau yang tidak sedap dalam kulkas. Anda juga dapat menamburkan baking soda ke tempat-tempat yang berbau tidak sedap. Misalnya di WC, gudang, dapur, tempat sampah dll.

Sediakan selalu tiga bahan ini di dalam lemari persediaan Anda.[Wwn]

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

"Sepuluh Perintah" Pernikahan

Alexander Pope, penyair abad ke-18 berkata, "Berbahagialah orang yang tidak berharap karena mereka tidak pernah dikecewakan." Pikiran yang logis. Semakin besar harapan orang itu, semakin besar kekecewaan yang didapatkan jika harapan itu tak terwujud. Ketika memasuki gerbang pernikahan, banyak pasangan menggenggam harapan yang tinggi. Akan tetapi setelah lewat bulan madu, bayang-bayang harapan itu seolah semakin menjauh. Banyak pasangan yang akhirnya memilih menyerah dan berhenti mengejar harapan itu.

Penelitian yang dilakukan Ted Huston, Ph.D dari A.S. menemukan bahwa pasangan yang berhasil melewati dua tahun pertama perkawinan, mereka lolos pula pada tahun-tahun berikutnya. Waktu selama 48 bulan ini merupakan masa-masa kritis untuk mengembangkan pola hubungan. Meraka membicarakan, mendiskusikan dan menyepakati cara menjalani hidup bersama-sama. Misalnya bagaimana mengelola keuangan, pembagian kerja di rumah, cara menghabiskan waktu luang bersama, memehami perbedaan masing-masing, belajar menghadapi konflik dan mmebicarakan masing-masing. Semua itu berlangsung dengan masing-masing berpikir positif dan respek terhadap pasangan.

Salah satu kiatnya adalah dengan mematuhi "Sepuluh Perintah Pernikahan" ini:

1.      Tetap memelihara rasa cinta dan kedekatan.

2.      Tidak mementingkan diri sendiri.

3.      Menyediakan waktu luang bersenang-senang berdua.

4.      Tidak menghindari konflik.

5.      Respek terhadap pasangan.

6.      Jangan terlalu tenggelam dalam aktivitas lain.

7.      Jangan boros.

8.      Jangan terlalu bergantung pada orangtua.

9.      Bicarakan secara terbuka jika ada masalah seksual.

10.  Memetok harapan yang masuk akal.

 

"Segala sesuatu menjadi lebih baik jika Anda berharap yang terbaik." Demikian tulis Norman Vincent Peale. Berharaplah tinggi pada pernikahan Anda, dan wujudkanlah bersama-sama di bawah anugerah kekuatan dari Tuhan. (Wwn/Chic)

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Minggu, 03 Juni 2007

Pelajaran Merendahkandiri

Ibu Inge (nama samaran) adalah seorang pengikut Kristus yang taat. Usianya di atas 50 tahun dan sudah setahun menjanda. Suatu hari, dia menarik uang di bank.

Di tempat parkir, tiba-tiba ada 3 orang yang menyapanya dengan sangat ramah. Sepertinya sudah kenal akrab, walau bu Inge sendiri merasa tidak kenal. "Sedang apa, Bu," tanya salah seorang pria dengan hangat.

"Ambil uang," jawab bu Inge. "Ambil berapa?" Bu Inge menyebutkan nilai nominal tertentu. "Ah, masih kurang. Ayo ambil lagi!" kata penyapa itu sambil menggamit lengan bu Inge dan mengajaknya kembali masuk bank.

Anehnya, bu Inge menurut saja. Dia kembali ke kasir dan mengambil seluruh tabungannya. Setelah itu, bu Inge 'dibimbing' masuk ke sebuah mobil. Di dalam mobil, orang-orang itu membujuk supaya bu Inge menitipkan segepok uang kepada mereka. Ini demi keamanan, kata mereka.  Mereka juga meminta perhiasan dan HP milik bu Inge.

Beberapa saat setelah diturunkan di pinggir jalan, bu Inge baru sadar bahwa telah ditipu habis-habisan. Dia segera melapor ke polisi.

"Tuhan, apa maksud-Mu atas semua ini?"tanya bu Inge dalam doa. Lalu suara hatinya berkata,"Kamu ambil uang itu untuk apa, sih?" Dia ingat sehari sebelumnya, dia tersinggung pada ucapan seseorang yang berkaitan dengan uang. Untuk menjaga harga dirinya, maka dia akan 'menyumpal' mulut orang itu dengan uang.

"Tuhan rupanya sedang mengajarkan tentang merendahkan diri kepadaku,"kata bu Inge. "Memang benar, ucapan ini: yen pingin andhap asor, kowe kudu nganti ndlosor [Merendahkan diri itu harus sampai mencium tanah]." [Purnawan]

 

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Sabtu, 02 Juni 2007

Melewatkan Mukjizat di Depan Mata

Pukul sepuluh malam, HP-ku berdering. "Mas, ini darurat. Anda diminta mendonorkan darah,"kata Agus Permadi di ujung telepon. "Oke, tunggu sebentar. Aku keluarkan sepeda motor dulu," jawabku.

"Tidak usah.  Nanti kami jemput dengan mobil.  Saat ini kami sedang menjemput pak Teguh," sahut Agus Permadi.

Mobil Chevrolet tua melesat membelah kesunyian malam di kota kami. Langit terlihat cerah, udara sangat gerah. Sudah lebih dari tiga bulan ini cuaca sangat panas di kota kami, baik itu siang atau malam.

Sesampai di rumah sakit, sudah ada banyak orang yang berkumpul di depan sebuah kamar. Ada pak Yono dan isteri, pak Giri, pak Lukas dan anaknya, pak Bambang Budiadi dan isteri.  Aku bersama dengan pak Teguh, koh Yoyok dan Agus Permadi bergabung dengan mereka.

Kami menyalami pak Hendro dan bu Dewi Retno Murni isterinya. Mata bu Retno terlihat sembab karena habis menangis. Yogi, anak mereka terbaring di ranjang karena terserang virus demam berdarah. Malam itu, jumlah trombosit dalam darahnya melorot sangat drastis ke angka 50 ribu. Padahal ambang batas minimalnya adalah 150 ribu.

Meski sudah banyak minum jus buah jambu merah yang dipercaya dapat meningkatkan kadar trombosit, tapi tidak terlihat perubahan yang berarti. Jika kondisi ini berlanjut, maka alternatifnya adalah tranfusi trombosit yang diambil dari darah orang lain.  Untuk mendapatkan sekantong trombosit, maka dibutuhkan tujuh pendonor. Trombosit ini harus "diekstrak" dari darah segar. Itu artinya, kami harus selalu siap mendonorkan darah jika sewaktu-waktu dibutuhkan.

Setelah setengah jam menunggu, kami mendapat kabar bahwa kepastian pendonoran darah itu baru diketahui besok jam enam pagi. Kami diminta pulang saja untuk menjaga kondisi.

Keesokan harinya, tidak ada panggilan telepon. Berarti tidak jadi donor darah. Siangnya, kami menjenguk Yogi. Meski kadar trombositnya sangat rendah, tapi dia masih bisa bercanda.

"Tadi malam ada banyak orang yang berkumpul di depan kamar saya," kata Yogi."Saya lalu berpikir, apakah sakitku ini sangat parah sehingga banyak orang yang berkumpul. Apa saya sudah akan mati."

Hari itu, beberapa kali bu Retno mengirim SMS. Setiap kali SMS masuk, beritanya tentang kadar trombosit Yogi yang terus menurun, dari 50 ribu, terjun bebas ke angka 25 ribu, 19 ribu, bahkan sampai hanya 12 ribu.

Pagi berikutnya--pukul enam, HP-ku berbunyi. "Pak, kami butuh darah untuk Yogi.  Kami tunggu di PMI ya?" suara bu Retno tersendat-sendat menahan tangis.

Aku segera cuci muka dan gosok gigi. Isteriku juga bersiap-siap. Dengan sepeda motor kami melaju ke kantor PMI yang berjarak sekitar 2 km dari Pastori II. Sesampai di sana, ternyata kami yang datang pertama. Pendonor lain belum ada yang datang. Penjaganya pun masih tidur-tiduran.

Selang sepuluh menit kemudian, pendonor lainnya datang: Pak Teguh, pak Bambang Budiadi, mas Alex dan pak tentara (aku tidak tahu namanya). Pukul delapan, darah yang dibutuhkan sudah mencukupi.

---****---

Berkat tranfusi itu, kadar trombosit Yogi mulai naik.  Setelah dirawat selama enam hari, Yogi dibolehkan pulang ke rumah. Empat hari kemudian, pak Hendro memberikan kesaksian di depan persektuan kelompok.

"Ketika kadar trombosit anak kami terus turun, terus terang saja kami merasa cemas. Sebagai dokter, saya tahu benar betapa gawatnya situasi ini," kata dokter Hendro. "Ada pasien lain yang kadar trombositnya 50 ribu, dan dia tidak bisa bertahan. Sedangkan pada Yogi, kadar trombositnya hanya 12 ribu.  Itu kurang dari sepersepuluh dari batas aman, yaitu 150 ribu."

"Saat itu kami berdoa dengan sungguh-sungguh minta mukjizat Tuhan.  Kami juga mengirim SMS ke banyak orang untuk mendukung dalam doa.    Kalau selama ini ada istilah "doa berantai", maka malam itu saya menciptakan istilah baru, yaitu "serbuan doa".  Saya yakin, ada banyak orang yang mendukung kami dalam doa. Kami "menyerbu" Tuhan dengan doa. Kami meminta mukjizat Tuhan berupa kenaikan kadar trombosit Yogi."

"Akan tetapi mukjizat itu tak kunjung datang.  Bahkan kadar trombositnya malah menurun.  Terus terang saja, iman menjadi goyah saat itu," papar pak Hendro dengan bergetar. "Namun ada satu SMS yang kemudian menguatkan kami,"lanjutnya sambil membuka kembali SMS itu. Dia membacakannya kembali. SMS itu mengutip Kolose 4:2:"Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur." Setelah itu, SMS itu disambung dengan kata-kata ini: "Yogi masih dapat bertahan dengan angka hanya 12 ribu, bukankah itu sebuah mukjizat?"

Seketika itu juga pak Hendro dikuatkan kembali. Dia telah diingatkan tentang adanya mukjizat yang telah dilakukan Tuhan. Ketika kita minta mukjizat, kita sering memintanya harus sesuai dengan kehendak kita. Jika mukjizat itu dalam bentuk yang tidak sesuai dengan keinginan kita, maka kita menganggapnya bukan sebagai mukjizat.

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More