Selasa, 22 Mei 2007

Kenangan untuk pdt Susanto Notodiryo

Saya baru dua kali bertemu dengan pdt. Susanto Notodiryo atau kami biasa memanggil beliau pak Noto.  Pertemuan pertama, pada bulan Desember 2005 di pastori, samping GKJ Gumulan. Sudah menjadi tradisi, setiap Desember kami mengadakan Christmas Carol.  Salah satu tempat yang kami kunjungi adalah Panti Wredha yang disesepuhi oleh pak Noto dan Ibu. Setelah dari panti wredha ini, kami melanjutkan kunjungan ke rumah beliau, yang berbatasan pagar dengan panti.
Pertemuan kedua, bulan desember 2006, pada acara yang sama pula. Secara fisik, badannya masih kelihatan tegap, walau rambutnya sudah memutih dan kulitnya berkeriput. Tatapan matanya masih menyala-nyala. Selera humornya juga belum hilang.
 
Bu Noto bercerita, bahwa selama ini pak Noto tidak mengalami gangguan kesehatan yang berarti.  Hanya saja, fungsi pendengarannya sudah menurun.  Untuk itu, beliau membutuhkan alat bantu pendengaran.  Sayangnya, alat ini mengalami kerusakan.  Namun hal ini tidak menghalangi pak Noto untuk beribadah di gereja.
Pulang dari gereja, pak Noto bercerita sambil tertawa: "Orang-orang di gereja tadi mungkin mengira saya bisa mendengar khotbah hari ini.  Padahal saya mendengar tidak sama sekali.  Saya hanya mengangguk-anggukkan kepala saja."
 
Tanggal 19 Mei 2007, Tuhan memanggil pulang pak Noto pada usia 83 tahun.  Sejak memulai pelayanan sebagai guru Injil pada tahun 1944, berarti sudah sekitar 63 tahun pak Noto telah melayani Tuhan.  Pada saat-saat terakhirnya, pak Noto berpesan supaya jenazahnya tidak dipakaikan toga pendeta.  Dia juga berpesan supaya dalam peti itu tidak disertakan Alkitab."Itu melecehkan Alkitab.  Masa' orang mati disuruh membaca Alkitab," pesan pak Noto.  Pak Noto juga sudah memilih sendiri lagu-lagu yang akan dinyanyikan pada kebaktian pangrukti laya nantinya.  Salah satunya adalah "Tiap Langkahku Diatur oleh Tuhan"
 
Dalam khotbahnya, pdt. Budianto mengatakan bahwa keinginan terbesar yang dimiliki oleh pendeta adalah mengakhiri tugas pelayanan dengan baik. Kerinduan itu telah didapatkan oleh pak Noto, sehingga dia dapat berbaring dengan lega dan berkata:"Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman." (2 Timotius 4:7)
 
Purnawan Kristanto
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It