Senin, 23 April 2007

Mengampuni itu Perintah, bukan Saran

Nasrudin sedang bersungut-sungut terhadap dirinya sendiri ketika kawannya bertanya apa yang ia risaukan.

Nasrudin berkata: "Ahmad yang goblok itu selalu menabok punggung saya setiap kali ia melihat saya. Maka hari ini saya menaruh satu dinamit di bawah jaket saya. Kalau kali ini ia menabok saya lagi, maka dia akan kehilangan tangannya sendiri.

Dendam hanya akan merugikan diri sendiri. Dalam perikop ini, Yusuf punya kesempatan yang bagus untuk membalas dendam. Dia punya kekuasaan yang maha besar, setelah raja Mesir. Apapun yang diperbuatnya, tidak seorang pun di Mesir yang dapat mencegahnya, kecuali sang raja Mesir. Sementara sang raja Mesir sudah menaruh kepercayaan yang besar kepada Yusuf.

Andaikata Yusuf memutuskan untuk membalas dendam, maka semua orang akan bisa memahaminya. Tidak ada orang yang akan menyalahkannya. Bagaimana tidak, gara-gara ulah kakak-kakaknya yang menceburkan Yusuf ke dalam sumur dan kemudian menjualnya sebagai budak ke Mesir, Yusuf harus menjalani penderitaan yang panjang. Pekerjaan menjadi budak, bukanlah pekerjaan yang enak. Apalagi waktu itu Yusuf terbiasa hidup enak, karena sangat dimanjakan oleh ayahnya. Ketika mendadak harus menjalani kehidupan yang sama sekali berbeda, Yusuf tentu merasakan penderitaan yang amat besar. Dari yang terbiasa dilayani, sekarang dia harus melayani. Dari manusia yang merdeka dan bebas berbuat apa saja, menjadi budak yang tidak punya kebebasan.

Untunglah ia mempunyai tuan yang baik, Potifar namanya. Yusuf diangkat menjadi "kepala rumah tangga", yang mengurusi segala keperluan rumah itu.

Namun Yusuf difitnah oleh isteri Potifar karena tidak mau diajak berselingkuh. Maka Yusuf pun dijebloskan ke dalam penjara. Jangan bayangkan kehidupan penjara saat itu seperti penjara jaman sekarang. Sangat memprihatinkan.

Di penjara itu, kemampuannya menafsirkan mimpi terlihat. Ia mampu menafsirkan mimpi juru makanan dan juru minuman raja. Kemampuannya itu menjadi jalan masuk sehingga ia bisa menafsirkan mimpi Firaun. Ia kemudian mengalami hidup yang baik, diangkat menjadi tangan kanan Firaun. Menjadi pengatur dan penyimpan gandum selama 7 tahun masa panen yang melimpah.

Ketika terjadi kelaparan, Mesir membuka lumbung-lumbungnya yang selama 7 tahun itu. Saudara-saudara Yusuf datang untuk membeli gandum. Mereka tidak menyangkan bahwa "orang Mesir" yang mereka ajak bercakap-cakap adalah Yusuf.

Tapi Yusuf mengenali saudara-saudaranya. Tapi Yusuf tidak segera memperkenalkan diri. Sekilas ia ingin mempermainkan saudara-sduaranya. Ia mengembalikan uang pembelian gandum ke karung masing-masing. Ia juga menahan Simeon dan meminta Benyamin datang.

Ketika Benyamin datang, Yusuf kembali mempermainkan mereka dengan menuduh Benyamin mencuri piala minuman. Inikah saatnya Yusuf membalas dendam? Tidak! Yang Yusuf lakukan adalah menguji sikap mereka, pakah ada perubahan dari sikap dengki, iri, marah, benci, kepada saudaranya yang lain (terutama dengan benyamin, yang seperti Yusuf dulu, juga diistimewakan).

Setelah dua kali menahan tangis, akhirnya Yusuf memperkenalkan diri pada saudara-saudaranya. Mula-mula para suadara Yusuf meras gentar sebab mengira Yusuf akan membalas dendam, Namun Yusuf tidak demikian. Ia tidak mau lagi mengingat pengalaman buruk dan perlakukan sewenang-wenang dari sduadar2nya.

Yang dia ingat adalah berkat Tuhan yang senantias menyertai hidupnya. Hingga mimpi menjadi kenyataan, saudara-saudaranya menyembah dia.

Campur tangan Tuhan dirasakan Yusuf. Sampai empat kali Yusuf menekankan perbuatan Allah (ay. 5,7,8 dan 9).

Kebencian

Setiap orang pasti pernah mengalami kejadian-kejadian negatif yang sangat mempengaruhi hidupnya. Salah satunya, pengalaman dilukai perasaannya oleh orang lain. Reaksi yang sering muncul setelah pelukaan perasaan ini adalah kebencian. Perasaan benci, menurut psikolog bernama Smedes, ibarat harimau yang menggeram dalam jiwa. Semdes mengatakan, "Kebencian adalah tanggapan alami kita terhadap rasa sakit hati yang mendalam dan tidak adil. Kebencian adalah pembalasan kita secara naluriah terhadap siapa saja yang melukai perasaan kita."

Ada kebencian yang sulit disembuhkan. Semakin lama seseorang membenci, semakin sulit penyembuhannya. Meski demikian, kebencian masih dapat disembuhkan. Caranya dengan pengampunan.

Mengapa harus mengampuni?

1. Karena kita sudah lebih dulu diampuni oleh Allah

"Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu." (Efesus 4:32 TB)

2. Tidak mau mengampuni adalah sebuah kejahatan

Perumpamaan raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya.

Seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta.

Lalu tergeraklah hati raja

ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain

berhutang seratus dinar kepadanya.

Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya. Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu. (Matius 18:23-35)

3. Tidak mengampuni justru akan merugikan diri sendiri

Mengampuni atau tidak adalah sebuah pilihan. Anda bisa memutuskan untuk mengampuni seseorang atau tidak sama sekali. Mengampuni memang berisiko. Kita berkorban perasaan, harga diri, dan lainnya. Dikatakan sudah lembek, tidak punya nyali, cemen, pengecut, dll.

Tapi tidak mengampuni pun juga pilihan berisiko. Ini dapat menyita energi, semangat bahkan kesehatan kita. Ketika kita mendendam pada seseorang maka seluruh energi kita tercurah untuk orang itu(kita mengamati-amati: pakai baju apa, cara omongnya dll). Dia merasa susah jika orang itu merasa senang. Sebaliknya merasa senang jika orang itu merasa susah.

Tidak mengampuni justru akan menghukum diri kita sendiri. Pepatah cina, "Siapa bermaksud membalas dendam, ia harus menggali dua lubang kubur.

Proses mengampuni

1. Menyadari dan menerima sakit hati akibat perbuatan orang lain. Jangan menolak, menyangkali atau menganggap remeh sakit hati Anda. Sadari juga akibat-akibat yang sudah ditimbulkannya.

2. Cobalah memahami alasan orang itu menyakiti hati Anda. Mengampuni hanya akan terjadi apabila kita menguluarkan tangan kita kembali pada pihak yang bersalah. Belajar melihat dari perspektif orang itu.

3. Sadarilah bahwa ada kalanya kita tidak sanggup memikul akibat itu sendirian. Curhat ke orang yang dapat dipercaya.

4. Muncul kemarahan. Kendalikan kemarahan, supaya tidak merugikan diri sendiri dan orang lain. Otak boleh panas, tapi hati dingin.

5. Mulai menerima kenyataan. Menerima kenyataan bawa Anda terluka. Kemudian belajar untuk mengampuni.

Pengampunan menurut Meninger: "Ketetapan hati yang menyatakan tidak ada gunanya lagi bersembunyi, menderita, membenci dan membalas dendam." Pengampunan adalah melepas semua emosi negatif yang berkaitan dengan peristiwa masa lampau. Pengampunan merupakan tanda dan landasan adanya harga diri yang positif dan selanjutnya membuatnya semakin kokoh. Karena energi yang ada di dalam diri tidak digunakan untuk membalas dendam, tetapu untuk mengerjakan hal-hal yang lebih baik. Dengan pengampunan, diri kita bebas untuk mencapai kematangan pribadi.

Mengampuni tidak harus melupakan. Kita sulit sekali melupakan peristiwa yang membekas dalam ingatan kita. Peristiwa dan orang yang memahitkan hidup kita bisa saja terus kita ingat.

Pengampunan yang kita berikan akan membuat kita merasa tidak sakit lagi terhadap kenangan itu. Kenangan itu justru akan mengajar kita untuk tidak melakukan hal yang sama kepada orang lain.

Pernah disampaikan pada kebaktian remaja GKI Klaten, 10 Sept 2006

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Menghindar dari Perangkap Trauma

Bencana sekecil apapun pasti meninggalkan jejak goresan yang tak terhapuskan dalam kenangan manusia. Sesaat setelah bencana, korban menjadi tertegun dan bingung. Dia tidak percaya atas apa yang terjadi. Dia masih berusaha menolak realitas di depan matanya.

Beberapa waktu kemudian, muncul berbagai reaksi lanjutan dari peristiwa yang traumatis seperti ini:

· Perasaan memuncak dan tak terduga. Korban menjadi mudah tersinggung. Suasana hatinya mudah berubah-ubah. Dia mengalami kecemasan, kegugupan dan tertekan.

· Pola pikir dan perilakunya terpengaruh trauma. Dia sering kali teringat lagi pada peristiwa itu. Kenangan ini muncul begitu saja, tanpa sebab, yang menyebabkan reaksi fisik seperti jantung berdebar atau keringat dingin. Dia juga kesulitan berkonsentasi, membuat keputusan dan mudah bingung. Pola tidur dan makannya juga terganggu.

· Reaksi emosi yang berulang-ulang. Peringatan yang berkaitan dengan bencana itu bisa memicu lembali kenangan buruknya. Misalnya peringatan setahun bencana itu, suara sirene, suara gaduh, atau melihat pemandangan mengenaskan. "Pemicuan" kenangan ini disertai kekhawatiran bahwa kejadian itu akan terulang lagi.

· Hubungan antar manusia menjadi tegang. Sering terjadi konflik di antara anggota keluarga atau antara korban dengan relawan kemanusiaan. Jika korban enggan berkonflik, dia menarik diri untuk mengisolasi diri.

Trauma psikis yang sangat berat kemungkinan besar akan disertai dengan gangguan fisik seperti kepala pusing, perut mual dan dada nyeri. Bagaimana jika Anda mengalami peristiwa traumatis? Apa yang bisa Anda lakukan untuk memulihkan diri?

· Persiapkan diri Anda. Sadarilah bahwa Anda akan mengalami masa-masa yang sulit. Biarkanlah Anda menangisi semua kehilangan Anda. Bersabarlah terhadap perubahan emosi Anda.

· Minta bantuan orang lain. Carilah orang yang rela mendengarkan keluh kesah dan berempati kepada Anda. Tapi ingat, pertolongan itu bisa sia-sia jika orang itu juga pernah mengalami atau menyaksikan bencana yang membuatnya trauma. Curahkan isi hati Anda pada keluarga atau sahabat Anda. Anda bisa juga menuangkannya dalam buku harian.

· Temuilah Lembaga Swadaya Masyarakat. Ada LSM yang memberi bantuan pemulihan trauma akibat bencana alam, konflik sosial atau korban penjahatan (misalnya perkosaan). Carilah LSM yang berpengalaman dan punya tenaga yang terlatih dan profesional. Biasanya mereka memfasilitasi kelompok diskusi yang anggotanya terdiri dari para korban. Diskusi ini mendorong antar korban untuk saling menghibur dan menguatkan.

· Lakukan kebiasaan sehat. Olahraga yang teratur dapat meningkatkan daya tahan Anda terhadap stres. Makan dengan gizi seimbang dan istirahat yang cukup. Jika kesulitan tidur, gunakan teknik relaksasi. Hindari penggunaan alkohol dan obat tidur.

· Ciptakan kembali pola rutinitas. Makan, tidur dan bangun pada jam-jam tertentu.

· Hindari membuat keputusan besar. Misalnya berganti pekerjaan, berhutang dalam jumlah besar atau menikah. Keputusan ini berpotensi menimbulkan stres yang tinggi.

Purnawan Kristanto/Sumber: www.psychworks.com; www.agnr.umd.edu; www.fcs.uga.edu

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Perusak Keharmonisan Keluarga

Waspadalah! Kehidupan modern mengandung ancaman bagi keluarga. Jika kita tidak berhati-hati, maka ikatan di dalam keluarga menjadi kendor, sehingga kesatuannya menjadi terancam. Kenali, apakah ancaman-ancaman berikut ini sudah ada di dalam keluarga Anda atau belum:

1. Egosentrisme

Dalam persaingan kerja yang sangat ketat di berbagai sektor, kita dituntut untuk menjadi manusia unggul. Supaya bisa tetap eksis, maka kita harus selalu meningkatkan kemampuan dan pengetahuan.

Karena sudah terbiasa mengasah diri,jika tidak berhati-hati maka kita dapat terjerumus menjadi manusia yang berpusat pada diri sendiri (self-centered-person). Kita merasa tidak lagi tidak membutuhkan bantuan orang lain [dan Tuhan]. Kita juga tidak peduli pada kepentingan anggota keluarga lain. Dalam hal ini, Paulus menasehati, 'Janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.'-(Fil. 2:4)

2. Ketiadaan Komunikasi

Sungguh ironis. Dalam era komunikasi yang serba canggih ini, banyak keluarga yang terancam pecah karena ketiadaan komunikasi! Penyebabnya sebenarnya sepele saja: masing-masing anggota tidak punya waktu untuk saling berbagi cerita atau sekadar bercengkerama. Mereka asyik dengan kesibukannya masing-masing. Rumah dianggap tidak lebih dari sekadar hotel, yang menjadi tempat menginap, dimana di antara penghuninya tidak saling mengenal secara akrab.

Sampai saat ini, belum ada yang bisa menggantikan keampuhan berkomunikasi lisan antar pribadi. Dengan komunikasi lisan ini, setiap anggota keluarga dapat berbagi kesuksesannya, kegagalannya, sukacitanya, pergumulannya. Setelah mengobrol, biasanya kita merasakan adanya kelegaan dan kesegaran baru. Raja Salomo berujar, "Perkataan orang dapat merupakan sumber kebijaksanaan dalam seperti samudra, segar seperti air yang mengalir."- (Ams.18:4)

3. Serba Penuntut

Bahaya lainnya adalah sikap serba menuntut. Sikap ini menuntut orang lain bersikap dan bertindak sesuai dengan ukuran dirinya. Dia tidak mau menerima orang lain apa adanya. Banyak orangtua yang menghendaki anaknya menjadi seperti yang mereka ingin mereka. Mereka kadang membanding-bandingkan anak mereka dengan anak orang lain. Mereka tidak menyadari bahwa setiap manusia diciptakan Allah secara unik.

Keluarga yang kristiani adalah keluarga yang menerima anggota lainnya, apa adanya. Mereka bisa menerima orang lain tanpa syarat karena Allah lebih dulu menerima mereka apa adanya pula. "Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang jugapun menurut ukuran manusia."- (2 Kor 5:16)

4. Bossisme

Saat ini kita sangat dimanjakan oleh teknologi dan fasilitas umum lainnya. Sekarang ini kita tidak perlu susah-susah memasak karena sudah masakan instan. Kita tidak perlu antri di bank untuk mengambil uang karena sudah ada ATM. Bahkan kalau kecapekan, kita dapat membeli kursi yang bisa memijat sendiri.

Jika tidak hati-hati, berbagai kemudahan ini akan membentuk mentalitas Bos! Kita terbiasa dimanjakan dan dilayani, sehingga enggan untuk melayani anggota keluarga lain. "Buat apa membuatkan teh hangat untuk suami! Toh, ada teh celup dan dispenser. Dia 'kan bisa bikin sendiri." Padahal bukan teh panas itu yang penting, melainkan sesendok "kasih" yang ditambahkan dalam seduhan teh itu. Telur ceplok yang digoreng oleh ibu dengan cinta, terasa lebih nikmat dibandingkan sebungkus sosis siap saji, yang diambil sendiri oleh anak di dalam kulkas. Yesus berkata, "Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu." [purnawan]

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

"Saved" by Coin

Darah Sunar tersirap. Matanya menatap lekat di layar TV. "Astaga, apa yang terjadi," batinnya terkesiap. Cepat-cepat dia menyambar handphone. Jari-jarinya meloncat-loncat gemetaran mencari nomor telepon kawannya.

"Tulalit-tulalit…Nomor yang Anda tuju berada di luar service area….," terdengar suara jawaban otomatis.

"Mungkin dia memakai nomor satunya," batinnya. Masih tersisa harapan.

Tapi tidak ada nada sambung sama sekali. Sunar lalu menelepon temannya.

"Sudah lihat berita di TV?" tanya Sunar

"Sudah. Bagaimana kabar Mayadi?" jawab suara di seberang.

"Justru itu, aku mau tanya."

Sunar terduduk lesu. Tangannya merogoh uang logam seratusam. Sejenak menimang-nimangya. Matanya menerawang kejadian lima hari sebelumnya.

Siang itu, Sunar baru saja memarkirkan sepeda motornya di halaman kantor jaringan LSM. Mayadi menghampiri dan menariknya di bawah pohon sawo.

"Biar aku saja yang berangkat," pinta Mayadi, "Minggu depan isteriku akan melahirkan. Aku butuh uang."

Sunar hanya mendengus. Dia sebenarnya juga membutuhkan uang. Kontrakan rumahnya sudah habis. Tapi Sunar tidak tega melihat wajah Mayadi yang memelas. Dia tahu, isteri Mayadi mengandung bayi yang sungsang. Bayinya dalam posisi duduk.

"Ayo kita tanya Pimpinan," ajak Sunar, "mungkin bisa diusahakan kita pergi berdua." Mereka masuk ruang pimpinan.

"Tidak bisa," jawab Pimpinan, "jatah dalam proposal hanya satu."

"Tapi kota ini adalah daerah konflik. Banyak terjadi pelanggaran HAM," kilah Sunar.

"Makanya perlu dikirim dua orang," tambah Mayadi.

"Anggarannya sangat terbatas," jawab Pimpinan pendek. Sunar tersenyum kecut. Dia tahu tabiat pimpinan. Kalau sudah menyangkut dana, tak bisa kompromi lagi.

"Baiklah. Kamu saja yang berangkat," kata Sunar kepada Mayadi.

Di jaringan LSM itu, mereka berdua sebenarnya berstatus relawan. Mereka.bekerja atas dasar dorongan panggilan hati. Meski begitu, mereka mendapat honor jika terlibat program kegiatan. Saat itu ada kesempatan mengadakan pelatihan di daerah konflik dengan dukungan dana dari luar negeri. Biasanya honornya lumayan, karena ditetapkan dengan standard Dollar.

Rapat pleno digelar. Ada dua kandidat yang dikirim: Sunar atau Mayadi. Sunar memberi kesempatan pada Mayadi.

"Tidak bisa begitu," kata Wulan, "kita harus memisahkan persoalan pribadi dengan profesionlsime."

"Supaya adil,kita undi saja" usul Anto.

Semua setuju. Sunar bangkit, merogoh uang logam di sakunya.

"Kamu pilih rumah atau kayon?" tanya Sunar

"Rumah," pilih Mayadi.

Uang koin berputar di udara. Gambar rumah di bagian atas. Mayadi yang berangkat.

Lima hari kemudian gelombang Tsunami menggulung kota yang dituju Mayadi.

***

Jaringan komunikasi sudah pulih, tapi Mayadi tak juga berkabar berita. Masih hidupkah dia? Karena jazadnya tidak ditemukan, berarti ada harapan Mayadi ditemukan masih hidup. Mungkin dia terluka berat.

Sunar memutuskan berangkat ke kota itu. Apapun juga, perjuangan mulia harus berjalan terus. Dia akan meneruskan rencana pelatihan itu sambil sedapat-dapatnya mencari Mayadi. Sunar ingin mengabarkan bahwa isterinya sudah melahirkan bayi perempuan. Dia diberi nama "Sunami".

~~~~Terinspirasi dari kisah nyata (alm) Mas Wijanarko


Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Jumat, 20 April 2007

Santai Sejenak

Mimpi
Seorang murid menemui Rabi. Dia bercerita bahwa semalam dia bermimpi bertemu dengan Tuhan Tuhan mengatakan bahwa murid ini akan menjadi rabi yang sangat berpengaruh. "Apa yang harus saya lakukan, Rabi?" tanya murid. "Berdoalah," kata gurunya," Supaya Tuhan menemui orang lain dalam mimpi dan menyuruh mereka agar menjadi pengikutmu."

Kalajengking
Seorang petapa sedang bertapa di bawah pohon yang akarnya menjalar sampai ke tepi sungai. Perhatiannya mulai terusik ketika melihat kalajengking yang terjerat di ujung akar pohon. Kalau tidak bisa segera melepaskan diri, kalajengking itu bisa mati tenggelam.
Sang petapa berusaha menolong kalajengking itu, tapi setiap kali berusaha memegangnya, kalajengkin itu menyengat tangan sang petapa.
Kebetulan ada petani yang melihat kejadian itu. "Apakah Anda tidak tahu kalau itu kalajengking, dan sudah menjadi sifat alaminya kalau dia menyengat?"
Sang petapa menjawab, "Saya tahu itu, tapi sudah menjadi sifat alami saya untuk memberi pertolongan. Apakah saya harus mengubah sifat alami saya hanya karena kalajengking ini tidak mau mengubah sifat alaminya."

Harmonika
Seorang pemuda berangkat ke Malaysia untuk sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Dia punya harapan besar bisa mendapatkan uang banyak untuk s egera menikahi tunangannya. Akan tetapi bekerja di tempat yang jauh dari teman dan kelaurga ternyata harus menahan banyak godaan. Sang pemuda menulis surat kepada pacarnya bahwa dia merasa kuatir kalau suatu saat tertarik pada wanita-wanita cantik di negeri jiran itu.
“Sejujurnya aku memang kadang tertarik pada gadis di sini, "tulisnya,"tapi aku berusaha keras untuk tetap setia kepadamu."
Dua Minggu kemudian, pemuda itu menerima kiriman paket berisi harmonika dan surat dari tunangannya. Gadisnya menulis,"Aku mengirimkan harmonika ini supaya perhatianmu teralih dari gadis-gadis itu dengan belajar memainkannya.
Pemuda TKI itu membalas,"Terimakasih untuk kiriman harmonika. Setiap malam aku akan berlatih memainkannya sambil memikirkan kamu."
Setelah dua tahun, pemuda itu pulang ke kampung sambil membawa sejumlah besar uang. Dia sudah tidak sabar untuk meminang pujaan hatinya. Belum genap sehari sampai di rumah, dia sudah mengunjungi rumah tunangannya sambil membawa oleh-oleh. Begitu kangennya, dia ingin segera memeluk gadis itu. Akan tetapi tunangannya menanggapi dengan dingin: "Tunggu dulu, mas. Sebelumnya aku ingin mendengar kamu bermain harmonika."
Bits & Pieces, October 15, 1992, pp. 17-18

Alasan Telat
Seorang perwira sedang murka karena ada 9 Taruna yang terlambat apel pagi setelah mendapat cuti selama 3 hari.
"Kenapa kamu terlambat," bentak komandan pada seorang Taruna.
"Siap, Kolonel. Saya berkunjung ke rumah pacar saya sampai lupa waktu. Akibatnya saya terlambat naik bis. Supaya tidak terlambat, saya lalu menyewa mobil. Tapi ketika hampir sampai, mobilnya mogok. Saya lalu membujuk petani yang ada di situ supaya mau menjual kudanya. Saya lalu memacu kuda itu tapi kuda itu mati karena kelelahan. Setelah itu saya berlari sepanjang sepuluh kilometer hingga sampai di sini."
Meski sebenarnya tidak percaya, tapi perwira memutuskan tidak akan menghukum taruna itu. Akan tetapi tujuh taruna lainnya juga mengajukan alasan keterlambatan yang sama. lupa waktu, terlambat naik bis,menyewa mobil, lalu mogok, naik kuda, jalan kaki. "Mengapa kamu terlambat," tanya Kolonel pada Taruna kesembilan.
“Siap. Saya berkunjung ke rumah pacar saya sampai lupa waktu. Akibatnya saya terlambat naik bis. Supaya tidak terlambat, saya lalu menyewa mobil...." jawab taruna itu.
“Hey, tunggu dulu!” Kolonel mulai kehilangan kesabaran, "apakah mobilnya juga mogok?"
“Tidak Kolonel,” jawab Taruna. “Mobil itu tidak mogok, tapi di tengah jalan ada banyak kuda yang mati sehingga saya kesulitan melewatinya."
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Selasa, 17 April 2007

Mereka Menuduhku Provokator!

"Kita harus mengambil tindakan!"

"Ya, ketidak adilan ini harus diakhiri!"

"Betul. Mereka tidak boleh menindas kita terus-menerus!"

"Pokoknya. Pimpinan kita harus diganti!"

Kamar kos yang sempit itu menjadi riuh. Udara yang panas dan pengap seolah membakar orang-orang yang berjejalan di dalamnya. Sutikno tersenyum puas karena berhasil membakar semangat teman-teman sekerjanya. Mereka sedang membicarakan tindakan Pimpinan unit yang dirasakan sudah keterlaluan. Giyono mengaku jengkel karena dimarahi di depan orang banyak. Sinta mengeluh karena berkali-kali tidak diijinkan untuk pergi ke kamar mandi. Buang mengaku sering disuruh kerja lembur tanpa uang tambahan. Semua kekesalan karyawan ditumpahkan di kamar yang pengap itu.

Aku sebenarnya berasal dari unit lain dan tidak ada urusan dengan persoalan itu. Sekalipun aku tidak peduli pada masalah mereka, tak seorang pun akan menyalahkan aku. Lagipula, aku juga tidak begitu suka dengan Sutikno yang memprakarsai pertemuan itu. Dulu aku pernah berteman dekat dengannya. Tapi, aku menyadari bahwa dia berteman karena ada maksud tersembunyi. Itu sebabnya, perlahan-lahan aku menjauhi dia.

Aku ikut pertemuan itu karena punya hubngan baik dengan beberapa orang di unit ini. Istilah kerennya, kehadiranku di sini adalah sebagai dukungan moral. Aku berusaha menjaga jarak dan tidak terlibat dalam rapat senja itu. Aku hanya mengabadikan suasana pertemuan dengan kamera video yang baru saja kubeli.

"Kalau kita melakukan aksi, kita mungkin akan dipecat. Apakah kalian sudah siap menerima risiko itu?" kata Sutikno.

"Itu adalah bagian dari perjuangan," kata Samboro bersemangat, "kalau kita tidak berani melakukan maka tidak akan ada perubahan."

"Meskipun sudah berkeluarga, aku tidak takut kalau nanti dipecat," timpal Rika.

"Baiklah, kalau begitu ayo kita rumuskan tuntutan kita," ajak Sutikno bersemangat.

Rika mengambil buku tulis dari tasnya. Dia mencatat kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh Sutikno. Teman-teman yang lain hanya manggut-manggut saja. Entah karena setuju, entah karena tidak tahu apa yang akan diusulkan. Hanya limabelas menit, rumusan tuntutan karyawan itu sudah selesai. Sutikno membacakan isinya dengan suara keras.

"Apakah ada yang keberatan atau ingin menambahi?" tanya Sutikno.

Aku melayangkan mata ke seluruh. Tidak ada yang member tanggapan. Suasana hening sejenak.

"Karena tidak ada yang bersuara, maka saya simpulkan semua setuju. Kalau begitu, silakan segera menandatangani tuntutan kita," kata Sutikno.

"Tunggu dulu. Jangan ditandatangani dulu,"kataku menyela. Entah dorongan darimana, tiba-tiba aku menginterupsi pertemuan itu. Sutikno kelihatan hera, tapi memberi kesempatan padaku untuk berbicara.

"Menurutku, rumusan tuntutan itu masih lemah.," ujarku.

"Maksudmu itu apa?" kejar Sutikno.

"Masih ada kata-kata emosional di dalamnya Contohnya, di situ ada tuduhan bahwa pimpinan kalian melakukan selingkuh. Apa kalian punya bukti? Kalau kalian menandatangani rumusan ini, kalian bisa dituntut secara hukum, lho!" jelasku. Kontan pertemuan itu menjadi gaduh. Orang-orang saling berbicara dengan teman di sampingnya.

"Lalu apa yang harus kami lakukan?" tanya Samboro.

"Rumuskan tuntutan yang seobjektif mungkin. Pusatkan perhatian pada soal pekerjaan saja, jangan sampai masuk ke wilayah pribadi," saranku sambil mematikan kamera video.

Mereka menganggu-angguk. Kelihatannya alasanku bisa diterima.

"Tapi kami ini buta hukum, Mas.Maklum, rata-rata hanya lulusan SMA," sahut Buang.

"Kalau begitu, mas Budi saja yang menyempurnakan rumusan ini," usul Sutikno sambil menunjuk aku.

"Lho, statusku di sini 'kan cuma sebagai peninjau. Tidak bisa begitum dong!" sergahku.

"Satu-satunya yang sarjana yanga ada di ruangan sini cuma mas Budi" sahut Sutikno.

"Tapi aku cuma sarjana olahraga"

"Setidak-tidaknya pernah kuliah, to!"

Aku melihat teman-teman menatapku dengan mata penuh harap. Aku ingin menolak permintaan itu, tapi tak tega rasanya memupuskan harapan mereka.

"Baiklah, aku mau membantu," jawabku dengan enggan. Mereka bertepuk tangan.

"Dengan catatan, aku ditemani dua orang di antara kalian untuk sama-sama merumukan tuntutan ini" cepat-cepat aku mengajukan syarat.

Peserta pertemuan menunjuk Sutikno dan Rika untuk mendampingi aku. Malam itu juga aku ajak mereka ke kamar kosku. Akan tetapi baru setengah jam merumuskan bersama, Rika pamit pulang karena harus menyiapkan makan malam keluarganya. Seperempat jam kemudian, Sutikno menyusul pamit pulang karena harus mengikuti arisan.

"Sudahlah, mas Budi yang rumuskan sajalah. Aku tinggal manut saja," pesan Sutikno sebelum pulang. Malam itu juga aku selesaikan rumusan tuntutan itu.

---*---

Pagi-pagi benar, aku menunggu Sutikno di depan pintu gerbang pabrik. Begitu dia datang, dengan gaya spionase, diam-diam aku berikan kertas tuntutan kepadanya. Aku lalu berjalan sewajar-wajarnya melewati pos satpam. Anehnya, aemakin berusaha berjalan wajar, justru aku merasa semakin kikuk. Rasanya, perjalanan menuju ruang kerjaku terasa berkilo-kilo jauhnya.

Di ruang kerjaku sudah beredar isu akan ada demonstrasi karyawan. Teman-temanku sudah ramai membeicarakan isu itu. Ada yang mendukung, ada pula yang sinis. Aku hanya tersenyum sendiri, tapi sengaja tidak ikut bergosip. Takut kelepasan bicara. "Rupanya ada yang membocorkan aksi ini," kataku dalam hati.

Pukul sepuluh, Sutrisno mengirim SMS: "Tx's, Mas. Rumusan sdh kubaca. Istrht nanti kuedarkan tmn2 utk ditandatangani." Aku menjawab singkat "Good luck. GBU." Pukul 15.00, aku dan teman-teman satu unitku dipanggil menghadap pimpinan unit. "Saya baru saja dipanggil oleh oleh pemilik pabrik ini. Dia mendengar rumor bahwa akan ada demonstrasi karyawan. Saya ingin tahu, ada di antara kalian yang akan ikut dalam demosntrasi itu," tanya pimpinan dengan wajah memerah. Semua karyawan terdiam. Aku hanya menunduk saja.

"Syukurlah. Tidak ada anak buahku yang terlibat. Soalnya, pemilik pabrik akan memecat karyawan yang menggerakkan demonstrasi ini. Sekarang kembalilah bekerja," kata pimpinan. Aku kembali ke meja kerjaku. Tiba-tiba ada SMS masuk.

"Sluruh unitku dipanggil utk menghdp big bos," tulis Buang. "Inilah kesempatan mereka untuk menyampaikan tuntutan secara langsung ke pemilik perusahaan," bantinku sambil mematikan komputer. Aku sudah tidak bisa berkonsentrasi kerja lagi. Aku heran dengan gerak cepat pemilik pabrik ini. Darimana mereka tahu rencana aksi ini? Mengapa mereka bisa segera mendeteksi adanya gejolak dalam pabrik ini? Pertanyaan-pertanyaan itu berkecamuk hingga malam hari. "Semoga pemilik pabrik bisa mengambil tindakan yang bijaksana," harapku sambil membaringkan tubuh.

---*---

Keesokan paginya, seperti biasa aku mengambil kartu absen untuk dimasukkan ke mesin absensi. Akan tetapi pagi itu, kartuku tidak ada. Aku cari-cari kemana-mana, tidak kutemukan juga. Aku lalu mendatangi satpam.

"Pak, kartu absesnku kok tidak ada?" laporku pada Satpam.

"Kartu mas Budi diambil oleh bagian Personalia. Saya dititipi pesan, supaya mas Budi segera menghadap Direktur Personalia," jawab Satpam.

"Ada apa ini?" tanyaku dalam hati. Biasanya, Direktur Personalia memanggil karyawan karena karyawan itu sering terlambar kerja. Selama ini, aku tidak pernah terlambat masuk kerja.

"Silakan duduk," kata Direktur Personalia sambil membuka laci mejanya.

"Mengapa Bapak memanggil saya," tanya saya.

Direktur Personalia menyorongkan amplop dan selembar kertas bermeterai.

"Pemilik pabrik meminta Budi supaya mengundurkan diri. Amplop ini berisi uang pesangon dan fasilitas-fasilitas lain yang menjadi hak mas Budi. Silakan tanda tangani surat pengunduran diri ini," katanya sambil menyodorkan ballpoint .

Darahku tersirap. "Apa-apa ini?!! Apa salah saya, Pak?!!," tanyaku.

"Pemilik pabrik tidak senang dengan cara kerja mas Budi," jawabnya.

"Maksudnya, bagaimana?!!"

"Sudahlah, tidak usah bersandiwara lagi, deh. Kami sudah tahu kok kalau Anda menjadi provokator sehingga terjadi gejolak di pabrik ini," jawab Direktur Personalia dengan wajah sinis.

"Jangan sembarang menuduh ya! Kalau tidak punya bukti, saya bisa menuntut Anda!" sahutku dengan suara tinggi. Perasaanku tidak karuan. Seluruh tubuhku bergetar.

Mendapat gertakan seperti itu, dia menjadi keder juga. "Mak..mak...maksudnya begini lho, Mas. Kemarin sore pemilik pabrik memanggil Sutikno, Buang, Reka, Samboro dan teman-teman satu unit mereka. Beliau menanyakan apakah benar unit itu akan melakukan demo," jelas Direktur Personalia.

"Apa jawaban mereka?"

"Mereka mengaku sebenarnya tidak ingin melakukan demonstrasi. Mereka ingin bekerja dengan tenang. Tapi mereka merasa dipanas-panasi terus oleh seseorang.'

Aku membayangkan seseorang yang mungkin telah memanas-manasi mereka.

"Pemiliki pabrik telah bersumpah akan memecat karyawan yang menjadi provoktor masalah ini," lanjutnya.

"Lalu apa hubungannya dengan saya?"

"Ya, Anda itu provokatornya!!" seru Direktur Personalia sambil menunjuk hidungku.

Aku bangkit dari kursi. Kemarahanku meluap.

"Apa buktinya, sehingga Anda berani menuduh saya sebagai provokator?!!

" Sutikno, Buang, Reka, Samboro dan seluruh teman-teman satu unit itu menunjuk Anda sebagai provokator aksi ini. Mereka malah mengatakan bahwa Anda yang menuliskan surat tuntutan ini," kata Direktur Personalia sambil membuka map dan menyodorkan isinya. Aku terkejut melihat fotokopi surat tuntutan dalam map itu. Bagaimana caranya surat itu sampai di tangan bagian Personalia.

"Mereka merasa akan dijerumuskan oleh Anda. Karena itulah mereka menolak menanda-tangani surat tuntutan ini. Sekarang butuh bukti apa lagi? Apa seluruh unit itu permu saya panggil untuk bersaksi?" tantang Direktur Personalia.

Ditantang begitu, aku kemarahanku meledak.

"Oke, saya juga punya bukti yang kuat," kataku sambil membuka tas kerjaku. Untunglah, aku selalu membawa kamera videoku. Aku akan memutar lagi rekaman rapat itu supaya dia tahu siapa yang sesungguhnya menggerakkan aksi ini. Tapi tiba-tiba sekelebat bayangan melintas di depanku. Aku membayangkan anak-anak dari karyawan di unit itu yang menangis kelaparan karena orangtua mereka dipecat . Aku mengurungkan niatku. Biarlah satu orang saja yang menjadi korban.

Direktur Personalia heran melihat perubahan sikapku. Aku mengambil amplop, lalu menyahut bollpoint dari tangan Direktur Personalia dan....... sreeet....sreeet...sreeeeett

Lembah kapur, 11 April 2005
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Minggu, 15 April 2007

Mami Vinolia alias Wakidjo

Nama aslinya sebenarnya Wakijo, tapi oleh teman-teman waria ia dipanggil mami Vinolia atau mami Vinny. Penampilannya biasa-biasa saja, bahkan malah terkesan macho. Tubuhnya gempal, bibirnya besar dan rambutnya keriting jarang-jarang. Saya mengenalnya ketika reportase tentang kesehatan reproduksi anak-anak jalanan. Dia mengasuh anak-anak jalanan di Yogyakarta yang biasa mangkal di stasiun Lempuyangan. Waria berusia di atas 40 tahun ini prihatin melihat anak perempuan di jalan-jalan yang sangat rentan terhadap penyakit pada alat reproduksinya.
Kami tidak menjalin kontak lagi selama hampir tiga tahun. Bulan kemarin panitia Paskah bertanya, sebaiknya kami melakukan aksi sosial kemana? Entah mengapa saya teringat kelompok anak jalanan ini. Saya menawarkannya pada panitia Paskah, dan mereka setuju. Saya lalu menghubungi mami Vinolia, setelah lebih dulu minta no HP-nya pada PKBI Jogja. Ternyata, dia sudah tidak mengasuh anak jalanan lagi. Dia sekarang menaruh perhatian pada sesama Waria yang sangat rentan tertular penyakit HIV-AIDS. Untuk itu dia mendirikan sebuah LSM bernama KEBAYA, singkatan dari Keluarga Besar Waria Yogyakarta dengan akta Notarisno 38, tgl 22 Januari 2007.
Visi mereka adalah turunnya angka infeksi HIV dan penangana kasus AIDS di kalangan Waria DIY. Sedangkan misinya, meningkatkan taraf hidup waria yang setara dengan anggaota masyarakat lainnya sebagai warga negara Indonesia. Dalam organisasi ini, mami Vinny sebagai manajer program, dan dibantu oleh Yuni Shara sebagai manajer keuangan dan Yetti Rumaropen sebagai koordinator lapangan.
"Fokus perjuangan kami saat ini adalah memberdayakan kaum waria dan berjuang supaya kaum waria mendapatkan hak-hak yang setara sebagai warga negara," kata mami Vinny. Ia mencontohkan, saat ini kaum waria mengalami kesulitan untuk mendapatkan KTP. Kaum waria juga sering dikejar-kejar oleh Satpol P.P. Untuk itu mereka bertekad untuk mengubah persepsi buruk masyarakat terhadap waria. "Contohnya banyaknya peran waria di Sinetron TV itu justru sangat tidak menguntungkan kami. Peran waria di sana paling sering hanya sebagai bahan tertawaan saja," jelas mami Vinny dengan penuh prihatin.
Di akhir pertemuan kami dengan Kebaya, mereka mengedarkan kardus sumbangan. Salah satu anggota mereka, yang bernama Fani, kini sedang dirawat di R.S. Bethesda dalam keadaan kritis. Hasil bantingan ini akan disumbangkan untuk membantu pengobatan Fani.


"If any man wishes to write in a clear style, let him be first clear in his thoughts; and if any would write in a noble style, let him first possess a noble soul"
~ Johann Wolfgang von Goethe
::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+
Kunjungi Blog saya:
http://purnawan-kristanto.blogspot.com
http://www.sabdaspace.org/blog/purnawan_kristanto

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Jumat, 06 April 2007

Monolog Ayam Jago (Cerpen)

Hari ini rasanya aneh sekali. Entah mengapa, rasanya malam lebih cepat menjelang daripada biasanya. Matahari memang sudah bergulir ke Barat, tapi masih tinggi. Tiba-tiba langit berubah menjadi gelap. Karena mengira hari sudah malam, betina-betina mulai masuk ke petarangannya. Anak-anak menciap-ciap mencari kehangatan di balik ketiak induknya. Mereka bersiap mulai tidur. Pandangan mataku juga mulai meremang. Walaupun sebenarnya belum merasa mengantuk, aku pun mulai bertengger di atas ranting pohon kesukaanku. Dengan perasaan aneh, aku juga mencoba untuk tidur.
Sambil memejamkan mata, aku mengingat kembali kejadian hari ini. Siang tadi, penduduk kota mengerumuni pinggir jalan di kota ini. Mereka sedang menunggu dan ingin menonton sebuah arak-arakan. Karena penasaran, aku menerobos di sela-sela kaki manusia untuk melihat apa yang terjadi. Tapi celaka, ketika aku melongokkan kepalaku, ada barisan tentara yang lewat. Satu tentara berusaha aku dengan garang. Aku berusaha berkelit, tapi tak urung, pantatku terkena juga. Sakitnya masih terasa sampai kini. Rupanya pasukan tentara itu sedang menyeret tiga orang pesakitan. Wajah mereka terlihat sangat kotor. Tubuh mereka penuh dengan luka. Darah mengering bercampur dengan debu jalan. Ketiganya berjalan terhuyung-huyung. Setiap kali terjatuh, tentara yang mengawal di belakangnya segera melecutkan cambuknya. Penonton bersorak. Seolah dendam mereka pada penjahat itu terbalas melalui tangan tentara itu.
Orang-orang sekitar mengatakan dua penjahat yang diarak di jalanan kota itu memang orang yang sangat kejam. Kejahatan kedua laki-laki ini sudah terkenal dan sangat merisaukaan warga kota. Sedangkan penjahat yang satunya lagi digelandang ke jalanan karena dituduh telah melawan pemerintah. Laki-laki ini juga dituduh telah menghina para pemimpin agama. Dia menyebut para pemimpin agama sebagai orang yang gila hormat, munafik dan buta. Laki-laki itu bahkan mengatai mereka sebagai ”keturunan ular beludak!” Pantas saja, aku melihat beberapa pemimpin agama yang membuntuti arak-arakan tadi. Meski penasaran, aku putuskan tidak mengikuti arak-arakan itu. Aku harus cari makan.
Tiba-tiba aku merasa ranting pohon, tempat aku bertengger, bergoyang-goyang. Padahal tidak ada angin yang berembus. Lama-lama goyangannya semakin hebat. Seluruh batang pohon bahkan ikut bergoncang. Aku mengepak-kepak sayapku untuk menjaga keseimbangan. Ups, aku nyaris jatuh. Apa yang terjadi? Sontak, suasana menjadi gaduh. Di dalam keremangan, samar-samar aku melihat manusia yang berlarian dengan panik. ”Gempa bumi....gempa bumi” teriak mereka. Pohon-pohon besar tumbang, tembok-tembok merekah, pilar-pilar berguguran, tanah merekah. Seluruh penghuni kota berusaha menyelamatkan diri.
Kegaduhan belum reda, tiba-tiba dari arah pintu gerbang kota terdengar jeritan ketakutan. ”Tolong-tolong..... ada orang mati yang hidup lagi.” Gempa bumi itu telah membelah bukit di pinggiran kota dan membongkar makam-makam yang ada di sana. Mayat-mayat yang ada di dalamnya keluar dari kuburnya dan berjalan-jalan di kota. Geger seluruh isi kota!

******
Tanda-tanda kegemparan di kota ini, sebenarnya sudah mulai terlihat sejak kemarin sore. Seperti biasa, begitu matahari terbenam aku bersiap untuk tidur. Aku tidak boleh tidur terlalu larut supaya besok tidak bangun kesiangan. Aku mengemban tugas yang mulia. Kalau besok aku bangun kesiangan, banyak orang yang akan mengomel-ngomel. Manusia memang aneh, kalau aku menjalankan tugasku dengan baik, mereka berlalu begitu saja. Tak sepotong ucapan terima kasih keluar dari mulut mereka. Aku seolah dianggap angin lalu saja. Tapi begitu aku melalaikan tugasku, mereka pasti tergesa-gesa berangkat kerja sambil bersungut-sungut. Bahkan kalau lagi apes, ada yang menyambit aku dengan batu kerikil. Meski begitu, toh aku tetap setia dengan tugasku ini: Setiap hari aku harus membangunkan manusia sepagi mungkin. Inilah satu-satunya hal yang bisa kubanggakan dalam hidupku. Inilah yang memberi arti pada hidupku.
Aku mulai memejamkan mataku, ketika tiba-tiba aku mendengar ribut-ribut dari arah rumah Imam Besar. Dari atas ranting pohon ini aku melihat sekelompok orang yang menggelandang seorang laki-laki ke halaman rumah Imam Besar itu. Mereka menggedor-gedor pintu rumah orang yang terhormat itu. Saat tuan rumah membuka pintu, mereka segera mendorong tubuh laki-laki itu masuk ke dalam rumah dengan kasar. Orang-orang yang mengiring di belakangnya turut masuk ke rumah besar itu. Beberapa orang memilih menunggu di luar.
Dalam sekejap, rumah itu menjadi riuh. Suara-suara yang keluar dari mulut-mulut manusia itu berdengung, seperti lebah yang berang karena sarangnya diusik. Para pelayan mulai menyalakan lampu rumah. Orang-orang terlihat menunduk takzim pada pemilik rumah. Tapi laki-laki itu, hanya dia sendiri yang berani menatap langsung wajah tuan rumah itu. Rasanya aku pernah melihat laki-laki itu. Sayangnya aku tidak bisa melihatnya dengan jelas. Selain jarak yang terlalu jauh, setiap malam begini mataku menjadi rabun. Yang kulihat hanyalah bayang-bayang orang-orang yang menghina laki-laki itu. Mereka meludahi mukanya. Ada juga yang menutup wajahnya dengan kain, lalu meninjunya. Mereka tertawa-tawa puas. Seolah-olah mereka ingin melampiaskan dendam pada laki-laki itu. Entah apa yang dilakukan oleh laki-laki itu sehingga harus dikeroyok dan dihina sekian banyak orang. Anehnya, laki-laki itu diam saja. Dia tidak melawan. Padahal, oh....ya aku ingat! Ya laki-laki itu punya kekuatan yang dahsyat. Aku pernah melihat dia mengusir setan. Waktu itu aku sedang mencari makan di Gadara. Ketika baru melihat wajahnya saja, setan-setan sudah gemetaran. Lalu laki-laki itu hanya memberi perintah sekali saja, maka ribuan setan itu lari terkencing-kencing seperti anjing yang kena gebuk.
Mengapa laki-laki itu tidak menggunakan kekuatannya itu untuk melarikan diri? Anehnya lagi, meskipun dihina seperti itu, dia malah melihat para penganiayanya dengan tatapan mata yang teduh. Seolah dia justru mengasihani orang yang menghinanya itu.
Aku berpaling melihat tingkah manusia yang ada di halaman rumah. Terlihat ada sekelompok tentara yang sedang menghangat tubuhnya di dekat perapian. Udara malam itu memang terasa lebih dingin dari biasanya. Rasanya hampir menusuk tulang. Setiap kali manusia-manusia di tempat itu berbicara, ada kabut putih keluar dari mulutnya. Seorang tentara melemparkan sebatang balok kayu ke dalam perapian. Api mulai membesar. Semakin banyak manusia yang mengerumuni perapian untuk mencari kehangatan. Mereka hanya membisu, seolah terbawa oleh suasana malam yang memang mencekam.
Tak lama kemudian, ada seorang laki-laki menerobos kerumunan perapian itu. Kulitnya legam karena terbakar sinar matahari. Otot-otot lengannya menonjol, menandakan dia seorang pekerja keras. Gurat-gurat di wajahnya menunjukkan laki-laki ini punya semangat yang menyala-nyala. Namun dia terlihat sangat murung. Dia menjulurkan kedua tangannya di atas perapian, sambil sesekali menempelkan di daun telinganya yang terasa dingin. Dengan sembunyi-sembunyi, dia sesekali melirik ke arah rumah Imam Besar. Rupanya dia ingin mengetahui apa yang terjadi di dalam rumah. Namun entah mengapa dia tidak masuk ke dalam rumah. Mungkin dia merasa sungkan atau bisa juga karena takut.
Malam telah merayap naik. Sebentar lagi fajar merekah. Aku mencoba memejamkan mataku lagi, tapi rasa kantuk itu telah hilang sama sekali. Masih banyak manusia yang berkerumun rumah itu. Di dalam rumah besar, para pembesar agama masih sibuk menyidang Laki-laki itu. Mereka terlihat suntuk dan bingung karena sedari tadi laki-laki itu hanya mendiam saja. Segala cara sudah dipakai untuk memprovokasi laki-laki itu. Tapi dia tidak terpancing.
Sementara itu, di halaman ada seorang wanita pelayan yang ikut bergabung untuk berdiang. Mereka tetap saja saling membisu. Sesekali mereka melemparkan senyum basa-basi. Tapi sesudah itu mereka tenggelam di dalam pikiran masing-masing.
Tiba-tiba, wanita itu mengamat-mati wajah laki-laki berkulit legam yang terlihat berkilat-kilat tertimpa cahaya lidah-lidah api. Sadar karena sedang diperhatikan, laki-laki legam itu berusaha menyembunyikan wajahnya, dengan sedikit menjauh. Tapi terlambat. ”Hey, aku mengenal orang ini. Bukankah dia pernah bersama-sama dengan laki-laki yang ada di dalam rumah itu?” kata wanita itu. Laki-laki legam itu tergagap-gagap. Tentara yang ada di dekatnya ikut menatap tajam wajahnya. Dia mengamati dengan teliti. Laki-laki legam itu semakin gugup. ”Kamu ini ngomong apa...aku...aku tidak mengenal laki-laki itu,” jawabnya terbata-bata. Tubuhnya bergetar. Laki-laki legam itu kemudian menyingkir ke beranda rumah. Dia terlihat gelisah. Tatapan matanya nanar dan waspada.
Ah, sebentar lagi fajar. Aku harus menjalankan tugasku. Tetapi buat apa? Toh sampai sekarang manusia-manusia itu malah belum tidur sama sekali. Ah, tapi tugas , tetaplah tugas. Aku harus menjalankan bagianku. ”Kukuruyuuuuuuk......!” Tugas pertamaku sudah selesai.
Hmmm.....manusia-manusia itu rupanya tidak peduli. Mereka masih saja berkasak-kusuk. Aku lebih tertarik mengamati laki-laki legam yang sedang duduk terpekur di beranda rumah. Sekarang dia terlihat lelah dan kuyu. Sepertinya dia baru saja melewati satu hari yang cukup berat. Setiap kali ada orang yang melihat ke arah dirinya, dia berusaha menghindar. Ada seorang pelayan yang lewat di dekatnya. Dia berpaling sejenak dan mengamati wajah laki-laki legam itu. ”Iya, nih....orang ini memang pernah bersama dengan laki-laki di dalam rumah itu,” kata pelayan itu dengan yakin. Laki-laki legam itu terkejut. Spontan dia berkata dengan lantang, ”A...aku....aku tidak mengenal laki-laki itu. ” Tapi suaranya ini justru menarik perhatian orang di sekitarnya. Mereka lalu mengerumuni laki-laki legam itu dan ikut-ikutan mengamati-amati wajahnya. Suasananya tambah ribut. Wah...aku harus mengingatkan mereka kalau hari sudah menjelang pagi. ”Kukuruyuuuuuuk!” Aku berkokok lagi, tetapi suaraku tenggelam oleh gumaman orang yang menerumuni laki-laki itu.
”Iya benar...laki-laki ini dulunya nelayan, terus menjadi pengikut laki-laki itu?” celetuk seseorang. ”Tidak salah lagi, dia pula yang menebas telinga Malthus hingga putus dengan pedangnya,” kata orang yang lain. ”Dia juga yang pernah berjalan di atas air. Lalu tenggelam dan ditolong Laki-laki di dalam rumah itu itu,” kata yang lain. ”Tidak salah lagi. Aku juga pernah melihat perahu orang ini hampir tenggelam karena kebanyakan menangkap ikan, setelah mengikuti perintah laki-laki itu.” ”Dari cara ngomongnya saja kelihatan kok. Dia memakai bahasa seperti yang digunakan laki-laki itu. Orang ini memang tangan kanan laki-laki itu. Dia sering bersama-sama dengan laki-laki di dalam rumah itu” Mendapat tuduhan yang bertubi-tubi itu, lidah laki-laki legam seperti kelu. Para tentara yang berjaga mulai tertarik pada ribut-ribut itu dan mendekati kerumunan. Laki-laki legam itu semakin panik. ”Berani sumpah, deh...aku tidak mengenal laki-laki itu,”teriaknya dengan suara tinggi. Kerumunan itu terkesima sejenak. Hening beberapa saat. Mereka lalu membubarkan diri satu per satu, meninggalkan laki-laki legam itu termangu. Dari dalam rumah, aku melihat laki-laki yang sedang disidang berpaling kepada laki-laki legam itu dengan sorot mata kecewa. Sepertinya laki-laki di dalam rumah itu justru merasakan sakit, saat mendengar teriakan dari halaman rumah itu.
Di halaman, laki-laki itu terpekur sambil menutupi wajahnya. Sesekali dia menebah-nebah dadanya. Seolah ingin menyingkirkan penyesalan yang mengganjal di dalam dadanya. ”Kukuruyuk!” Aku berkokok pendek. Entah mengapa, perasaanku ikut larut dengan kesedihan laki-laki legam itu. Laki-laki legam itu tersentak. Dia lalu berlari melewati pintu gerbang dan berbelok menulusuri lorong-lorong kota yang masih sunyi. Sayup-sayup kudengar laki-laki itu menangis pilu. Fajar merekah di langit Timur. Warnanya merah darah.

KA Jayabaya Selatan, 7 April 2004
[Cerpen ini pernah dimuat di harian "Sinar Harapan."]

http://www.sinarharapan.co.id/hiburan/budaya/2005/0326/bud1.html
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Rabu, 04 April 2007

Doa Anak

Doa Anak
Kakek mendengar cucunya berdoa, tapi dengan menyebut semua huruf. Ketika ditanya, cucu menjawab : "Biar Tuhan yang menyusun sendiri.Dia tahu keinginan saya.”

Doa Anak
Doa Anak: "Ya, Tuhan. Apakah Engkau sengaja menciptakan jerapah seperti itu, atau itu karena salah membuat?"


Doa Anak
Doa Anak: "Tuhan, terima kasih untuk adik laki-laki yang baru saja lahir. Tapi bukankah saya minta anak anjing yang lucu?"

Doa Anak
Doa Anak:"Tuhan, apa Engkau tidak kesulitan mengasihi semua orang di dunia. Sedangkan empat orang dalam keluargaku saja susah sekali untuk saling mengasihi."

Doa Anak
Doa Anak:"Tuhan, kakakku baru saja cerita bagaimana bayi dilahirkan. Tapi sepertinya tidak begitu.Apakah kakak saya sedang bercanda?"

Doa Anak
Doa Anak:"Tuhan kata guru Sekolah Minggu, aku harus mengikut Yesus.Tetapi kata ibuku, aku harus pulang setelah Sekolah Minggu.Siapa yang benar,sih?"

Doa Anak
Doa Anak: Tuhan, kalau Kain dan Habil punya kamar sendiri, mungkin mereka tidak akan bermusuhan. Buktinya, aku dan kakakku tidak pernah bertengkar lagi sejak aku mendapat kamar baru.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Selasa, 03 April 2007

Humor2

Baby Sitter
Guru Sekolah Minggu: "Mengapa Yusuf dan Maria membawa Yesus ke Mesir?"
Anak SM: "Karena tidak punya baby sitter"



Teka-teki 1
Siapakah yang punya nama terpanjang dalam Alkitab?
Maher-Syalal Hash-Bas.(Yesaya 8:1)

Teka-teki 2
Kitab apakah yang tidak terdapat kata "Tuhan"?
Kitab Ester


Ikut Yesus
Ayah:"Nak, potonglah rambutmu yang panjang itu"
Anak :"Tapi rambut Yesus juga panjang, kan"
Ayah: "Karena Yesus jalan kaki, berarti kamu juga harus jalan kaki"


Doa Anak
Kakek mendengar cucunya berdoa, tapi dengan menyebut semua huruf. Ketika ditanya, cucu menjawab : "Biar Tuhan yang menyusun sendiri.Dia tahu keinginan saya.”
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Humor

Pelajaran dari Daud vs Goliat
Guru Sekolah Minggu:"Pelajaran apa yang bisa diambil dari Daud vs Goliat?"
Anak SM : "Kita harus menunduk"

Cita-cita Anak
Ada anak pulang dari Sekolah Minggu dengan menangis. Saat ditanya ibunya, dia berkata:"Yesus menginginkan aku jadi terang dunia, padahal aku pingin jadi pilot."

Debat Doktrin
Usai debat doktrin, yang seorang berkata:"Tampaknya kita tidak sepakat. Yang penting kita dalam pekerjaan Tuhan. Kamu bekerja sesuai jalanmu dan saya sesuai jalan-Nya."

Istri Malaikat
Pria 1: "Bagaimana kabat istrimu?"
Pria 2: "Istriku benar-benar malaikat!"
Pria 1: "Kamu lebih beruntung. Istriku masih hidup"

Tidak Boleh Berisik di Gereja
Guru Sekolah Minggu: "Adik-adik, mengapa kita tidak boleh berisik di gereja?"
Anak SM : "Karena banyak orang tidur, Kak!"
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More