Rabu, 28 Maret 2007

Tetanggaku Terluka

Isteri tetangga depan rumahku kelihatan gelisah. Pada pukul enam sore, dia menemui isteriku untuk meminjam Betadine. Wajahnya kelihatan gugup dan pucat. Dia bercerita bahwa suaminya mengalami luka di dagunya, karena terjatuh. Luka itu cukup dalam dan keluar banyak darah.
Aku menyarankan supaya menutup luka itu dengan plester berbentuk kupu-kupu. Dia menuruti. Sepuluh menit kemudian, dia kembali ke rumahku dengan wajah yang semakin pucat. Katanya, darahnya tak berhenti mengalir.
Mendengar hal itu, aku segera masuk ke rumah mereka. Suaminya terbaring di lantai ruang tanah. Bantalnya sudah berubah merah total, karena bersimbah darah. Astaga! Aku terkesiap sejenak. Ini luka yang cukup serius. Tadinya saya pikir hanya luka gores biasa.
“Ini harus segera dibawa ke rumah sakit,”saranku,”darah yang keluar sudah sangat banyak. Mas ini bisa kehabisan darah.”
“Tidak usah,” kata pria yang terluka itu dengan suara lemah,”nanti juga berhenti sendiri.”
“Tapi darah yang sudah keluar sudah terlalu banyak,” kataku menandaskan.
“Sudahlah. Saya sudah pernah mengalami begini sebelumnya, dan tidak apa-apa kok,” jawab pria itu.
Aku menghampiri isterinya. “Kita harus membawanya ke rumah sakit, atau setidaknya ke klinik terdekat,” kataku. Ia mengangguk menurut. “Saya akan mencari becak dulu,” lanjutku sambil mengeluarkan sepeda motor. Untunglah, masih ada tukang becak yang masih mangkal meski sudah malam.
Aku kembali ke rumah tetangga. Kondisi pria itu semakin lemah, tapi dia masih menolak dibawa ke rumah sakit. Isterinya membujuk-bujuk sambil menangis, pria ini tetap menolak. Aku segera membisiki anak perempuannya yang masih TK untuk membujuk ayahnya supaya mau dibawa ke rumah sakit. Dia menurut, tapi gadis kecil ini membujuknya sambil menangis, “Papa jangan mati, ya. Dibawa ke rumah sakit, ya Pa.”
Tapi tangisan anaknya pun tak mampu meruntuhkan benteng pertahanan itu. Kami pun sudah hampir kehabisan akal. Aku lalu ingat punya teman seorang paramedis. Kami pernah bekerja sama di posko kemanusiaan pada bencana gempa di kota kami. Aku hubungi HP-nya, tapi tidak diangkat. Aduh, apa lagi yang bisa dilakukan?
“Kita jemput mamanya saja, mas” saran ibu penjual gado-gado,”mungkin kalau mamanya yang membujuk, dia mau patuh!”. Usul yang bagus. Aku segera meluncur ke rumah ayahnya yang tidak seberapa jauh. Dengan sepeda motor, aku segera memboncengkan ibu yang sudah tua ini. Tapi usaha ini pun membentur tembok kekerasan hati juga.
Aku sudah mulai tak sabar. Aku sudah punya rencana untuk bersama membopongnya dengan setengah memaksa. Tukan becak masih menunggu di depan rumahnya. Dengan kondisi yang lemah, dia tidak punya tenaga untuk memberontak. Demikian pikirku. Tapi sebelum rencana itu dilaksanakan, teman paramedis itu menghubungi. Aku lalu menceritakan kejadiannya. Dia bersedia datang untuk melihat kondisinya.
Dengan peralatan medis seadanya, temanku itu segera melihat kondisi lukanya. “Luka bapak ini tidak lebar, tapi sangat banyak. Kemungkinannya kena pembuluh darah. Ini harus dijahit,” katanya meyakinkan.
Pria itu tidak membantah. “Saya tidak membawa peralatan. Jadi sebaiknya dibawa ke rumah sakit. Nanti tidak dijahit banyak kok. Paling satu atau dua jahitan,”lanjut temanku.
“Dibawa ke rumah sakit ya, pa?” kata isterinya.
Pria itu diam saja. Ini pertanda baik. “Oke, becak sudah siap. Kita ke rumah sakit,yuk,”kataku sambil menggamit lengannya. Pria ini akhirnya menurut ketika dipapah ke becak. Di atas becak, pria ini muntah.
“Itu salah satu tanda dia sudah kehilangan banyak darah,” kata temanku yang paramedis. Kami segera membawanya ke klinik terdekat. Dia segera mendapat pertolongan pertama. Tak sampai setengah, jam pendarahan pun berhenti.
Selama menanti di ruang tunggu UGD, saya menanyakan bagaimana kejadiannya pada isterinya. Dia lalu bercerita bahwa suaminya terjatuh ketika dibonceng oleh temannya. Dengan kondisi terluka, dia segera dibawa pulang. Sesampai di rumah, lukanya itu segera dirawat, tapi darahnya mengalir keluar terus. Kalau dihitung, sudah lebih dari enam jam darah itu tidak berhenti keluar.
Hebat juga bapak ini! Esoknya dia sudah berangkat kerja seperti biasa.
Minggu, 25 April 2007
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Dia Pernah Mengalahkan Taufik Hidayat

Siapa sangka pemuda ini pernah mengalahkan Taufik Hidayat. Pemuda ini pernah dipanggil mengikuti pelatnas bulutangkis. Talentanya sangat besar dan postur tubuhnya pun cukup ideal. Tapi hendak dikata, musibah cedera lutut menderanya.

Ketika lutut itu dioperasi oleh dokter-dokter Indonesia, mereka “hanya bisa membongkar, tapi tidak bisa memasangnya kembali.” Terpaksa, dia dibawa ke Singapura. Tapi sudah terlambat. Cedera lututnya sudah permanen. Dia tidak bisa lagi menekuni olahraga bulutangkis. Padahal, dia dulu pernah akan dikontrak oleh Singapura.

Akhirnya, dia kembali ke kota asalnya. Sekarang pekerjaannya “hanya” menjaga toko milik orangtuanya. Ketika gereja kami mengadakan pertandingan bulutangkis, kami mengajaknya untuk menjadi panitia. Dia terlihat antusias. Meskipun hanya berupa turnamen amatiran, tapi dia mempersiapkannya dengan bersemangat. Dia seperti menemukan lagi dunianya dulu. Seperti ikan kepanasan di darat yang dimasukkan ke dalam air.

Bicara soal bulutangkis, di kota kami sebenarnya berdomisili mantan pemain putri dunia. Namanya Huang Hua, dari China. Sekarang dia menetap di kota kami karena menikah dengan pria Indonesia. Ketika masih berkiprah di dunia bulutangkis, Huang Hua adalah lawan tangguh bagi Susi Susanti.
Dengan kehebatan itu, dia tentu banyak menyimpan ilmu perbulutangkisan yang dapat diserap untuk memajukan olahraga bulutangkis di Indonesia. Sayangnya, hingga kini kayaknya tidak ada pengurus PBSI yang mendekati Huang Hua.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

AKSI SOSIAL GKI KLATEN; Kebersamaan Umat Beragama Begitu Nyata

KLATEN (KR) - Tidak seperti biasanya, Sabtu (24/3) halaman Gereja Kristen Indonesia (GKI) Klaten atau sering disebut Gereja Jago cukup ramai, bukan oleh jemaat gereja, tetapi masyarakat umum berdesakan antre membeli beras murah. Suasana nampak semakin lain ketika acara penjualan beras murah untuk 1.500 warga kurang mampu itu pengamanannya bukan hanya dari polisi, melainkan juga dari Banser. Begitu juga nampak sejumlah aktivis Islam membantu kelancaran proses bhakti sosial umat Kristiani tersebut. Antara lain dari anggota komunitas pecinta rosul (Jam Piro), sejumlah santri dari Ponpes Al Muttaqien Pancasila Sakti pimpinan Kiai karismatik Mbah Lim, dan juga para aktivis Forum Kerja Sama Umat Beragama (FKUB) Klaten.
Bukan hanya nuansa bakti sosial yang semarak, tetapi kegiatan itu lebih mencerminkan contoh riil kebersamaan umat beragama di Klaten. Meskipun kecil, tetapi nyata bahwa perbedaan agama tidak membuat mereka untuk saling berhadap-hadapan, melainkan bisa saling membantu dalam kegiatan sosial.Beberapa Banser selain mengamakan acara, juga membantu warga yang kebetulan keberatan membawa beras hasil pembelian di acara tersebut.
Hari itu GKI Klaten mengadakan aksi sosial penjualan beras murah dalam rangka menyongsong HUT ke-40. Disediakan sebanyak 1.500 paket atau sebanyak 7,5 ton beras kualitas bagus C4 dan setaranya. Setiap paket berisi 5 kg beras dijual dengan harga Rp 15 ribu, atau hanya Rp 3.000,- per kilogram.Kualitas BagusNy Wito (60) yang tinggal di Ngasinan, Jimbung, jauh-jauh datang ke GKI Klaten juga untuk mendapatkan beras murah. Ia merasa senang, karena beras yang didapatkan ternyata kualitasnya bagus. Tidak seperti yang dibayangkan semula, karena selama ini beras-beras yang dijual murah khususnya oleh pemerintah kualitasnya jelek. ”Berasnya bagus, tadi saya menukarkan dua kupon,” kata Ny Wito sambil membetulkan beras pada gendongannya.
Sama seperti Ny Wito, Narto (40) warga Randulanang, Kecamatan Jatinom juga dengan wajah cerah membawa lima paket beras. Untuk memudahkan membawa sebanyak lima paket dalam kantong plastik hitam itu dimasukkan dalam karung. Tukang becak yang mengaku dengan penghasilan pas-pasan ini merasa kesulitan dengan harga beras di pasaran yang cukup tinggi sekarang ini. Dengan demikian ia merasa sangat terbantu dengan aksi beras murah yang dilakukan GKI. ”Ini lima paket, sekaligus membawakan punya teman-teman,” kata Narto.
Ketua Panitia penyelenggara Purnawan Kristanto mengemukakan, aksi sosial itu untuk membantu para keluarga kurang mampu yang saat ini menghadapi berbagai kesulitan akibat tingginya kebutuhan pokok terutama beras. Untuk itu pihak panitia menyiapkan beras dengan mutu yang baik agar warga merasa senang. ”Beras bagus yang kita jual, kita beli di pasar Rp 5.500,-/kg, lalu kita jual ke warga Rp 3.000,-/kg,” kata Purnawan Kristanto.Beras itu sengaja tidak diberikan gratis, agar ada kemandirian dari warga serta agar mereka ikut terlibat langsung dalam kegiatan tersebut. (Sit)-g

Sumber: http://www.kr.co.id/article.php?sid=117711
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Cinta Bertepuk Sebelah Tangan

Cinta bertepuk sebelah tangan, siapa yang mau? Semua orang ingin cinta kita mendapat tanggapan yang positif. Tanggapan yang kita harapkan adalah orang itu menyambut cinta kita. Kalau tidak, dunia ini akan runtuh. Hal ini seperti yang terjadi di Medan. Seorang polisi kasmaran pada seorang gadis. Hanya beberapa hari setelah berkenalan, sang polisi memutuskan untuk melamar gadis pujaan hatinya. Tapi apa hendak dikata, sang gadis menampik cintanya.
Si polisi tidak bisa menerima penolakan ini. Akhirnya dia bertekad, “Kalau aku tidak bisa menikahi gadis ini, maka tak seorang pun yang boleh menikahinya.” Dia mengambil pistolnya dan menembak gadis malang ini. Setelah itu, polisi ini menembak dirinya sendiri.
Pada Yohanes 13:1-5, kita membaca tentang cinta kasih yang dibalas dengan pengkhianatan. Seperti pepatah “air susu dibalas dengan air tuba”. Kisah ini dimulai dengan tradisi pembasuhan kaki. Pada zaman dulu, tamu-tamu yang datang pada sebuah pesta biasanya akan dibasih kaiinya lebih dulu sebelum masuk ke alam ruangan. Pada waktu itu, orang biasanya memakai semacam sandal jepit. Sedangkan jalan yang harus mereka lalui dipenuhi dengan pasir dan debu. Alhasil, kaki mereka akan sangat kotor dan tidak layak masuk dalam rumah orang. Itu sebabnya, di dekat pintu masuk rumah biasanya tersedia gentong besar bersisi air. Kalau tuan rumahnya orang biasa, tamu mencuci kakinya sendiri. Tapi kalau tuan rumahnya termasuk orang terpandang, maka ada budak yang bertugas mencuci kaki.
Setelah pembasuhan kaki, orang itu masuk dan makan bersama. Cara makan orang waktu itu adalah dengan setengah tidur (rebahan) dengan bertopang pada tangan kiri. Para tamu makan sambil mengobrol. Makan roti dalam satu meja adalah simbool persahabatan, kedekatan dan kesetiaan.
Coba bayangkan pesta makan pada waktu itu. Mungkinkah Yesus dan 12 murid makan dalam satu meja? Tidak. Satu meja, biasanya hanya muat untuk 2-3 orang saja. Dengan demikian ada banyak meja dalam ruangan itu. Setidaknya empat meja.
Pertanyaannya, siapa saja yang duduk semeja dengan Yesus? William Barclay pernah membuat rekonstruksi imajinatif, bagaimana kira-kira Yesus duduk semeja dengan sebagian murid-Nya. Ia memilih murid yang dikasihi-Nya “Seorang di antara murid Yesus, yaitu murid yang dikasihi-Nya, bersandar dekat kepada-Nya, di sebelah kanan-Nya” (Yohanes 13:23). dan Yudas! Lho kok bisa?!! Penjelasannya ada di ayat 27: “Dan sesudah Yudas menerima roti itu, ia kerasukan Iblis. Maka Yesus berkata kepadanya: "Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera" (Yohanes 13:27 TB). Penjelasannya begini: Yesus bisa berbicara kepada Yudas saja, sedangkan murid-murid yang lain tidak mendengarnya. Sehingga mereka mengira Yudas yang dipercaya sebagai pemegang kas itu pergi untuk berbelanja. Dengan demikian kita bisa mengatakan Yesus tetap menjadikan Yudas sebagai sahabat!
Ketika memulai Perjamuan Paskah ini, Yesus sudah mengetahui bahwa “waktunya” untuk menderita dan masti sudah datang. Ia juga sudah mengetahui sebelumnya siapa yang menjadi “pengkhianat”nya. Meski begitu, dia tetap mengasihi murid-murid-Nya. Bayangkan, betapa besar kasih yang ditunjukkan Yesus. Dia tahu bahwa Yudas akan mengkhianatinya, tapi dia tetap memberi tempat terhormat kepadanya. Yesus tahu bahwa Petrus akan menyangkalinya dan murid-murid-Nya akan akan kabur, tapi Yesus tetap menunjukkan cinta dengan membasuh kaki mereka.
Bagi Yesus, cinta itu tidak pernah salah, sebab bukan didasarkan pada prinsip “karena”. “Aku mencintai dia karena tampan”; “Aku mengasihi dia karena dia pintar”; “Aku suka pada orang ini karena ramah.”
Yesus menganut prinsip “cinta yang meskipun”
· Meskipun Yudas akan mengkhianati Aku, aku tetap mengasihi dia.
· Meskipun Petrus akan menyangkali Aku, aku tetap mengasihi dia.
· Meskipun murid-muridku yang lain akan kabur untuk menyelamatkan diri, aku tetap mengasihi mereka.

Pernah disampaikan pada kebaktian remaja, GKI Klaten, 11 Februari 2007
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Minggu, 18 Maret 2007

Alat Peraga untuk Pengajaran Sekolah Minggu(Part 1)

Ketika Tuhan menghendaki Nuh dan keluarganya mengetahui bahwa tidak akan ada air bah lagi, apa yang Dia lakukan? Ketika Tuhan meyakinkan bangsa Israel bahwa Dia sendiri yang akan menyertai mereka ketika meninggalkan Mesir, bagaimana Dia mengkomunikasikan hal itu? Ketika Tuhan ingin menarik perhatian raja Belsazar pada era Daniel, bagaimana Dia melakukannya?
Yap! Tuhan menggunakan alat peraga! Pelangi pada zaman Nuh adalah "over head projector" pertama di dunia. Ketika Tuhan membuat kehadiran-Nya diketahui melalui tiang awan dan tiang api, Dia sedang menggunakan properti. Dan ketika tulisan tangan tampak di tembok pada ruang istana Belsazar, Tuhan sedang menunjukkan kegunaan spidol!
Dalam bahasa Inggris, alat peraga disebut visual aid atau alat bantu untuk penglihatan mata. Namun alat peraga yang baik tidak hanya merangsang mata saja, tapi juga keempat indera manusia yang lainnya. yaitu:
· Pendengaran (melalui telinga)
· Pembauan (melalui hidung)
· Pencecap rasa (lidah)
· Peraba (lapisan kulit)
Dalam mengajar Sekolah Minggu, panca indera dan seluruh kesanggupan seorang anak perlu dirangsang, digunakan dan dilibatkan, sehingga ia tak hanya mengetahui, melainkan dapat memakai dan melakukan apa yang dipelajari.
Panca indera yang paling umum dipakai dalam belajar-mengajar adalah mendengar. Melalui mendengar, anak mengikuti peristiwa demi peristiwa dan ikut merasakan apa yang disampaikan. Seolah-olah telinga mendapat mata. Anak melihat sesuatu dari apa yang diceritakan. Dia membuat imajinasi berdasarkan informasi-informasi yang masuk ke dalam telinganya.
Namun ilmu pendidikan mengatakan bahwa dari apa didengar pada hari ini, manusia hanya sanggup mengingat sebanyak 20 persennya saja di kemudian hari. Angka ini akan meningkat jikalau apa yang diceritakan itu selain didengar juga dilihat. Melalui cara ini, seseorang atau anak memperoleh kesan yang jauh lebih dalam. Alat-alat peraga seperti: gambar, peta, papan tulis, boks pasir, dll. dapat menolong anak untuk mengingat dengan lebih baik, yaitu mampu mengingat 50 persen dari apa yang didengar dan dilihatnya.
Penelitian di Harvard University, Columbia menunjukkan bahwa alat peraga dapat meningkatkan tingkat ingatan sebanyak 14-38 persen dibandingkan presentasi tanpa alat peraga sama sekali. Penelitian lain membuktikan bahwa 80-90 persen dari apa yang kita pelajari, kita terima melalui mata.

I. Alat-alat Peraga dalam Alkitab
a. Perjanjian Lama
Tuhan selalu menggunakan alat peraga berupa media visual untuk berkomunikasi dengan umat-Nya. Dia berbicara dan pesan-Nya didokumentasikan di dalam Alkitab. Namun, Dia melakukan lebih banyak hal lagi selain berbicara. Dia juga menggunakan berbagai alat visual untuk menguatkan pesan-Nya, seperti yang dapat dilihat ketika Ia berhubungan dengan orang-orang Israel selama keluar dari Mesir dan mengembara di padang belantara.
Tuhan memimpin Israel keluar dari perbudakan di Mesir. Umat Israel benar-benar telah diyakinkan untuk meninggalkan Mesir, sebagian besar karena penglihatan akan kekuatan Tuhan melalui tulah dan pekerjaan malaikat maut (Kel.7-12). Namun, ketika orang-orang Israel ini akan melewati Laut Merah, keragu-raguan pun muncul. Selama ini, Mesir selalu mencukupi kebutuhan mereka, memberi mereka makan, dan menahan mereka. Namun sekarang, ketika orang-orang Mesir mengejar-ngejar mereka dengan penuh amarah, bagaimana mereka bisa bertahan? Di manakah Tuhan itu sekarang?
Tuhan memilih menjawab mereka dengan menggunakan penglihatan--campur tangan dalam bentuk suatu mujizat. Keluaran 14 mencatat bagaimana Allah membelah Laut Merah sehingga orang-orang Israel bisa menyeberang di tanah yang kering. Ketika orang-orang Mesir mengejar mereka dengan menyeberangi dasar laut, air laut menimpa mereka, dan mereka pun mati. Bagi orang-orang Israel, ini adalah sebuah tanda kekuatan Allah yang dramatis, dan kekuatan itu ada bersama dengan mereka.
Di tahun-tahun berikutnya, ketika orang-orang Israel sekali lagi siap untuk melewati aliran air (kali ini Sungai Yordan) untuk mulai menaklukkan tanah perjanjian, Tuhan menguatkan kepemimpinan Yosua dan meyakinkan mereka kembali akan penyertaan Tuhan ketika Dia membelah air sungai Yordan (Yosua 3:8-10; 14-16). Kembali Dia menguatkan firman-Nya dengan simbol-simbol yang dapat dilihat untuk membangun kepercayaan dalam hati orang-orang Israel.
Tuhan tidak hanya menggunakan media visual seperti mujizat, namun juga menempatkan alat-alat lain yang lebih abadi di tengah-tengah bangsa Israel. Contohnya, jumbai-jumbai. Bilangan 15:37-40 mencatat perintah Allah supaya orang-orang Israel menaruh jumbai-jumbai di ujung pakaian mereka sebagai suatu tAnda yang mengingatkan mereka akan perintah Allah dan pentingnya mematuhi perintah itu. Alat Peraga itu membuat mereka sulit untuk melupakan kewajiban mereka.
Perjamuan juga merupakan alat untuk mengingat. Allah menetapkan perayaan Paskah pada orang Israel untuk mengingat pembebasan mereka dari perbudakan di tanah Mesir. "Hari ini akan menjadi hari peringatan bagimu .... Dan apabila anak-anakmu berkata kepadamu: Apakah artinya ibadahmu ini, maka haruslah kamu berkata: Itulah korban Paskah bagi TUHAN yang melewati rumah-rumah orang Israel di Mesir, ketika Ia menulahi orang Mesir, tetapi menyelamatkan rumah- rumah kita" (Kel.12:14,26,27). Perjamuan merupakan peringatan yang hidup bagi orang-orang dewasa Israel atas kuasa dan kasih Tuhan. Perjamuan yang sama mendorong anak untuk bertanya, memberikan kesempatan yang baik untuk suatu pengajaran lisan tentang kasih Allah.

b. Perjanjian Baru
Yesus juga memanfaatkan alat peraga dalam pengajaran-Nya. "Lihatlah burung di udara," perintah-Nya, dengan menunjuk burung-burung yang terbang di atas kepala ketika Ia ingin menekankan bahwa kecemasan adalah sia-sia. "Perhatikanlah bunga-bunga bakung yang tumbuh di padang," tambah-Nya untuk menekankan konsep yang sama (Mat.6:26,28).
Untuk menyampaikan kebenaran yang abstrak, Yesus menceritakan perumpamaan yang kebanyakan mengambil gambaran kehidupan sehari-hari. Yesus memulai cerita ini, "Seorang penabur keluar untuk menabur…," Bagi orang Yahudi, konsep tentang penabur dan biji adalah hal yang diketahui secara umum dan mudah dimengerti.
Yesus menggunakan mata uang untuk mengajar tentang apa yang layak diberikan kepada Tuhan (Mat. 22:19-20). Dia juga memakai seorang anak untuk mengajar tentang sikap hati yang patut (Mat. 18:2). Dia juga menggunakan pohon ara untuk mengajarkan pelajaran tentang iman (Mat. 21:19).
Untuk mengingatkan jemaat-Nya tentang pengorbanan-Nya, Yesus menetapkan Perjamuan Kudus. "Ambillah dan makanlah; inilah tubuh-Ku," perintah Yesus ketika memberikan roti perjamuan kepada murid-murid-Nya. "Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa," kata-Nya sambil mengambil cawan Perjamuan Terakhir (Matius 26:26-29; Lukas 22:15-20; dan 1Korintus 10:16). Sampai saat ini perjamuan menandakan penderitaan dan kematian Yesus bagi semua orang yang percaya.
Bersambung……..
Pernah disampaikan dalam pembekalan GSM di GKI Klaten
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Alat Peraga untuk Pengajaran Sekolah Minggu (Part 2)

II. Manfaat Alat Peraga
Selain meningkatkan daya ingat anak terhadap sebuah pelajaran, penggunaan alat peraha juga memiliki sejumlah kegunaan lainnya.
1. Mempertahankan Konsentrasi
Di zaman modern ini, ada banyak sekali hal yang dapat mengalihkan perhatian anak dari pelajaran Sekolah Minggu. Misalnya, suara musik penjual es krim, gangguan teman sebaya yang bosan, temannya yang menangis. Semua itu dapat mengganggu konsentrasi anak dalam mendengarkan cerita anak. Belum lagi ada banyak media hiburan yang lebih menarik, seperti televisi, DVD, Playstation, mainan anak.
Mendapat pesaing-pesaing yang sedemikian berat ini, mau-tak-mau, para Guru Sekolah Minggu harus mencari cara yang dapat mempertahankan konsentrasi anak-anak. Ini bukan pekerjaan mudah, karena semakin muda seseorang, kemampuannya untuk mencurahkan perhatian pun semakin pendek. Jika GSM hanya bercerita secara lisan (apalagi caranya bercerita juga monoton), maka kurang dari 5 menit, perhatian anak—anak sudah berpindah ke hal lain. Untuk menyiasati hal ini, maka GSM dapat memanfaatkan alat peraga.

2. Mengajar dengan Lebih Cepat
Waktu untuk menyampaikan pelajaran sering kali sangat terbatas. Bila pelajaran hanya disampaikan dengan kata-kata saja mungkin dapat disalahpahami oleh pendengarnya, belum lagi waktu yang dipakai juga panjang. Namun dengan bantuan alat-alat peraga, guru bukan saja dapat menjelaskan banyak hal dalam waktu yang lebih singkat, juga dapat mencapai hasil mengajar dengan lebih cepat.
Penelitian di University of Pennsilvania's Wharton School of Business menunjukkan waktu yang dibutuhkan untuk menyampaikan maksud tertentu dapat dikurangi hingga 40 persen ketika alat peraga digunakan bersama presentasi kita. [1] Dengan kata lain, penggunaan alat peraga juga dapat menghemat waktu.

3. Mengatasi Masalah Keterbatasan Waktu
Waktu yang sudah berlalu tidak akan pernah kembali. Bagaimana mungkin kita bisa mengulang kembali peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi di masa lampau? Dengan alat-alat peraga, kita dapat menampilkan kembali peristiwa-peristiwa sejarah dalam bentuk alat-alat peraga tertentu. Dengan demikian masalah keterbatasan waktu dapat teratasi.

4. Mengatasi Masalah Keterbatasan Tempat
Hampir semua kejadian yang ditulis dalam Alkitab terjadi di wilayah Palestina. Jaraknya ribuan kilometer dari Indonesia. Kita hampir tidak mungkin mengajak anak-anak mengunjungi langsung ke sana. Kendala ini dapat disiasati dengan penggunaan alat peraga. Misalnya dengan menunjukkan peta atau foto wilayah Palestina.
Keterpisahan wilayah ini juga disertai dengan perbedaan kebudayaan. Perbedaan kebudayaan ini juga dapat menimbulkan pemahaman yang salah. Misalnya, bangsa Indonesia memiliki tradisi menguburkan mayat dalam tanah. Sementara pada zaman Yesus, jenazah orang mati dimasukkan ke dalam gua. Penggunaan alat peraga mampu mengatasi kesalahpahaman dan kekeliruan semacam itu.

5. Mengatasi Masalah Keterbatasan Bahasa
Kemampuan anak-anak untuk mengerti bahasa sangat terbatas. Pengalaman hidup yang pendek dan dangkal juga menyebabkan mereka tidak dapat mengerti istilah-istilah tertentu. Misalnya: mereka mungkin tidak mengerti arti "kerja sama", namun bila dijelaskan dengan sebuah gambar tentang anak yang bekerja bersama-sama, mereka pasti dapat mengerti maksud kata tersebut. Bagi orang dewasa bahasa juga mempunyai batasan tertentu. Sebab itu, ensiklopedia dan buku-buku ilmu pengetahuan lain, membutuhkan gambar-gambar untuk mengatasi keterbatasan dalam bahasa.

6. Membangkitkan Emosi Manusia
Ada pepatah: "sebuah gambar mewakili ribuan kata-kata." Menyampaikan suatu berita dengan gambar-gambar akan lebih berhasil dibandingkan dengan hanya melalui kata-kata. Apalagi bila ada suara hidupnya tentu akan lebih mudah menyampaikan berita tertentu dibandingkan dengan melalui kata-kata. Alat peraga juga dapat membangkitkan emosi manusia.
7. Menyampaikan Suatu Konsep dengan Bentuk yang Baru
Alat peraga yang berbentuk gambar sketsa, bagan dan lain-lain, memudahkan penerimaan suatu konsep yang jelas dengan segera, dapat merangsang pikiran, juga dapat memberikan penerangan dan penjelasan yang baru dan nyata.
8. Menambah Daya Pengertian
Jika nilai-nilai penggunaan yang telah disebutkan tadi disimpulkan, jelas bahwa alat peraga dapat membantu murid mengerti lebih baik. Melalui indera penglihatan dan pendengaran, murid dapat mengerti pelajaran dengan memahami perbedaan arti, perbedaan warna serta bentuk besar dan kecil. Dengan demikian hal itu akan menambah daya pengertian mereka.
9. Menambah Kesegaran dalam Mengajar
Cara mengajar yang monoton membuat orang merasa bosan, tetapi bila disampaikan dengan bentuk yang berbeda-beda akan memberikan kesegaran pada murid, menambah suasana belajar yang menyenang, dan mampu membangkitkan motivasi belajar. Penggunaan alat peraga harus bervariasi, supaya di tengah suasana yang segar dan menyenangkan murid dapat mempelajari kebenaran dengan lebih efektif.
Bersambung……..
Pernah disampaikan dalam pembekalan GSM di GKI Klaten
[1] Dianna Booher dalam The Confindent Communicator (Wheaton: Victor Book, 1990)
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Alat Peraga untuk Pengajaran Sekolah Minggu (Part 3)

III. Psikologi Anak
Sebelum melangkah dalam tahapan yang lebih praktis, yaitu menyiapkan alat peraga, kita perlu memahami lebih dulu tahapan perkembangan Psikologi Anak. Hal ini perlu dilakukan supaya Guru Sekolah Minggu dapat menyiapkan alat peraga yang tepat dan efektif.
a. Perkembangan Kognitif Anak
Menurut PIAGET perkembangan ini dibagi dalam 4 tahap:
1. Sensori Motor (usia 0-2 tahun)
Dalam tahap ini perkembangan panca indera sangat berpengaruh dalam diri anak. Keinginan terbesarnya adalah keinginan untuk menyentuh/memegang, karena didorong oleh keinginan untuk mengetahui reaksi dari perbuatannya.
Dalam usia ini mereka belum mengerti akan motivasi dan senjata terbesarnya adalah 'menangis'.
Menyampaikan cerita/berita Injil pada anak usia ini tidak dapat hanya sekadar dengan menggunakan gambar sebagai alat peraga, melainkan harus dengan sesuatu yang bergerak (panggung boneka akan sangat membantu).

2. Pra-operasional (usia 2-7 tahun)
Pada usia ini anak menjadi 'egosentris', sehingga berkesan 'pelit', karena ia tidak bisa melihat dari sudut pAndang orang lain. Anak tersebut juga memiliki kecenderungan untuk meniru orang di sekelilingnya. Meskipun pada saat berusia 6-7 tahun mereka sudah mulai mengerti motivasi, namun mereka tidak mengerti cara berpikir yang sistematis dan rumit.
Dalam menyampaikan cerita harus ada alat peraga.

3. Operasional Kongkrit (usia 7-11 tahun)
Saat ini anak mulai meninggalkan 'egosentris'-nya dan dapat bermain dalam kelompok. Dia patuh pada aturan kelompok dan bersedia bekerja sama. Anak sudah dapat dimotivasi dan mengerti hal-hal yang sistematis.
Namun dalam menyampaikan berita Injil harus diperhatikan penggunaan bahasa. Misalnya: konsep 'hidup kekal' – dapat disampaikan dengan menggunakan analogi keluarga. Orang yang hidup kekal adalah orang yang diangkat menjadi anak-anak-Nya dan menjadi anggota keluarga Tuhan.

4. Operasional Formal (usia 11 tahun ke atas)
Pengajaran pada anak pra-remaja ini menjadi sedikit lebih mudah, karena mereka sudah mengerti konsep dan dapat berpikir, baik secara konkrit maupun abstrak, sehingga tidak perlu menggunakan alat peraga.
Namun kesulitan baru yang dihadapi guru adalah harus menyediakan waktu untuk dapat memahami pergumulan yang sedang mereka hadapi ketika memasuki usia pubertas.

B. Perkembangan Psiko-Sosial
Menurut ERICK ERICKSON perkembangan Psiko-sosial atau perkembangan jiwa manusia yang dipengaruhi oleh masyarakat, dibagi menjadi 8 tahap. Namun karena kita membahas tentang Sekolah Minggu, maka di sini hanya diuraikan sampai batas usia remaja.
1. Trust >< Mistrust (usia 0-1 tahun)
Tahap pertama adalah tahap pengembangan rasa percaya diri. Fokus terletak pada Panca Indera, sehingga mereka sangat memerlukan sentuhan dan pelukan.

2. Otonomi/Mandiri >< Malu/Ragu-ragu (usia 2-3 tahun)
Tahap ini bisa dikatakan sebagai masa pemberontakan anak atau masa 'nakal'-nya. sebagai contoh langsung yang terlihat adalah mereka akan sering berlari-lari dalam Sekolah Minggu.
Namun kenakalannya itu tidak bisa dicegah begitu saja, karena ini adalah tahap dimana anak sedang mengembangkan kemampuan motorik (fisik) dan mental (kognitif), sehingga yang diperlukan justru mendorong dan memberikan tempat untuk mengembangkan motorik dan mentalnya.
Pada saat ini anak sangat terpengaruh oleh orang-orang penting di sekitarnya (Orang Tua - Guru Sekolah Minggu)

3. Inisiatif >< Rasa Bersalah (usia 4-5 tahun)
Dalam tahap ini anak akan banyak bertanya dalam segala hal, sehingga berkesan cerewet. Pada usia ini juga mereka mengalami pengembangan inisiatif/ide, sampai pada hal-hal yang berbau fantasi.
Mereka sudah lebih bisa tenang dalam mendengarkan Firman Tuhan di Sekolah Minggu.

4. Industri/Rajin >< Inferioriti (usia 6-11 tahun)
Anak usia ini sudah mengerjakan tugas-tugas sekolah - termotivasi untuk belajar. Namun masih memiliki kecenderungan untuk kurang hati-hati dan menuntut perhatian.
Bersambung……..
Pernah disampaikan dalam pembekalan GSM di GKI Klaten
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Alat Peraga untuk Pengajaran Sekolah Minggu (Part 4)

IV. Kriteria Pemilihan
1. Alat peraga harus dipilih untuk menjelaskan inti cerita yang mau disampaikan.
2. Alat peraga yang dipilih akan menolong anak mencapai tujuan khusus.
3. Alat peraga yang dipilih tepat bagi golongan usia yang diajar.
4. Alat peraga yang dipilih akan dapat membangkitkan rasa ingin tahu, berimajinasi, makin kreatif atau makin berani mengungkapkan ekspresinya.
5. Alat peraga yang dipilih mudah didapat, terjangkau secara ekonomi.
6. Guru yakin menguasai alat peraga itu, sehingga penyampaian pelajaran dapat terjadi dengan baik.
V. Jenis-Jenis Alat Peraga
Ada banyak pilihan alat peraga yang dapat kita gunakan atau ciptakan. Batasannya adalah imajinasi dan kreativitas kita. Semakin kita rajin berkreasi, semakin banyak alat peraga yang dapat digunakan. Berikut ini beberapa jenis alat peraga yang umum dijumpai:
1. Gambar
Gambar adalah suatu bentuk alat peraga yang nampaknya paling dikenal dan paling sering dipakai, karena gambar disenangi oleh anak berbagai umur, diperoleh dalam keadaan siap pakai, dan tidak menyita waktu persiapan. Sebelum digunakan, harus diketahui dulu cara pemakaiannya. Jika akan digunakan untuk mengulangi cerita minggu lalu, gambar harus dipasang sebelum anak datang. Bila gambar akan digunakan pada saat guru bercerita, tempelkan gambar pada saat peristiwa yang dilukis dalam gambar disampaikan. Kalau gambar digunakan untuk memperdalam cerita, pasanglah di dinding sesudah bercerita.
Tips: Kalau Anda merasa tidak punya talenta menggambar, jangan ragu-ragu memakai alat peraga. Anda dapat memanfaatkan teknologi komputer. Ada banyak clip-art kristiani yang dapat digunakan. Sumber ini sangat melimpah di internet. Anda dapat mengeprint-nya.
Supaya lebih menarik, jangan lupa menambah elemen warna. Semakin banyak warna yang digunakan, semakin menarik alat peraga itu.



2. Peta
Murid-murid harus tahu dengan baik tentang ilmu bumi dan sejarah Alkitab. Peta bisa menolong mereka mempelajari bentuk dan letak negara-negara dan kota-kota yang disebut di Alkitab. Satu hal yang harus diperhatikan, penggunaan peta sebagai alat peraga hanya cocok bagi Anak Besar/Kelas Besar. Cara pemakaiannya adalah peta dipasang pada dinding sebelum anak masuk ke kelas sehingga guru dengan bebas dapat menunjukkan tempat yang disebut pada waktu menyampaikan cerita. Paling sedikit empat peta yang dibutuhkan oleh GSM, yaitu:
· Mesopotamia dan Kanaan pada masa Abraham.
· Pembagian tanah Kanaan pada keduabelas suku.
· Palestina pada masa Tuhan Yesus.
· Asia Kecil dan Eropa pada masa pelayanan Paulus.
Tips: Ukuran peta harus cukup besar sehingga dapat dilihat oleh semua anak. Selain peta 2 dimensi, Anda dapat juga memanfaatkan peta 3 dimensi. Anda dapat memanfaatkan media boks pasir atau bubur kertas. Kelebihan peta 3 dimensi ini, murid-murid dapat melihat sendiri countur/tinggi-rendah wilayah yang diceritakan dalam Alkitab. Peta ini dapat pula memperlihatkan perbedaan antara daerah dekat sungai Yordan dan dataran tinggi yang berpegunungan sekitar Hebron di dalam cerita Abraham dan Lot. Peta ini juga dapat memperlihatkan perjalanan umat Israel, perjalanan Kristus, perjalanan Rasul Paulus, dll.

3. Papan Tulis
Peranan papan tulis tidak kalah pentingnya sebagai sarana mengajar. Papan tulis dapat diterima di mana-mana sebagai alat peraga yang sangat efektif. Tidak perlu menjadi seorang seniman untuk memakai papan tulis. Kalimat yang pendek, beberapa gambaran orang yang sederhana sekali, sebuah lingkaran, atau empat persegi panjang dapat menggambarkan orang, kota atau kejadian.
Papan tulis dapat digunakan untuk menulis sebuah motto, pertanyaan, ayat Alkitab sebelum pelajaran dimulai. Mengumpulkan kata-kata dari satu ayat yang tidak beraturan supaya diatur kembali oleh murid-murid, merupakan satu permainan yang menarik sebelum pelajaran dimulai. Papan tulis juga dapat digunakan untuk menerangkan garis besar, kata-kata kunci.
Tips: Yang perlu diperhatikan dalam memakai papan tulis adalah hindarkan detil yang terlalu banyak, jangan menghalangi pemAndangan, bicaralah sambil menulis tapi jangan berbicara kepada papan tulis, dan pakailah bagan atau grafik bilamana mungkin.

4. Boks Pasir
Anak Kelas Kecil dan Kelas Tengah sangat menggemari peragaan yang menggunakan boks pasir. Boks pasir dapat dipakai untuk menciptakan "peta" bagi mereka khususnya bagi Kelas Tengah karena pada umur tersebut mereka sudah mengetahui jarak dari desa ke desa. Melalui boks pasir dapat dibentuk gunung dan lembah danau (memakai kaca), sungai yang mengalir (dari kain atau kertas biru), orang-orangan (dibuat dari kertas manila), pohon dan tumbuhan (gunakan daun, tumbuhan kecil).
Mengajar dengan memakai alat peraga lebih banyak menuntut guru. Banyak waktu yang diperlukan untuk persiapan, juga perlu kesediaan berkorban secara materiil. Tetapi dengan memakai alat peraga secara tepat, guru akan menanamkan kesan yang jauh lebih dalam, yang mungkin akan mempengaruhi seluruh kehidupan dari anak yang diajar.


5. Gambar-gambar
Anda bisa mengumpulkan gambar-gambar mengenai kehidupan sehari-hari dari koran dan majalah yang sudah tidak dibaca atau kalender yang sudah tidak dipakai, misalnya gambar orang sedang naik bis, gambar ibu membuat kue, gambar anak-anak pergi ke sekolah sambil bergandengan tangan, gambar petani mencari rumput di sawah, gambar orang berdoa, gambar orang memegang Alkitab, gambar pengemis di pinggir jalan, atau juga juga gambar buah-buahan, gambar binatang, pohon-pohon dan sebagainya. Tempelkan gambar-gambar tersebut satu per satu pada kertas karton yang berukuran sama agar rapi. Susunlah gambar-gambar sesuai dengan urutan agar dapat membentuk cerita. Gambar-gambar ini dapat Anda gunakan sebagai alat peraga saat ingin menjelaskan kisah tertentu pada anak-anak, misalnya menunjukkan contoh penerapan, kejadian tertentu atau hal lain sesuai dengan tema dan tujuan pelajaran yang akan Anda sampaikan.

6. Surat Kabar/Koran bekas
Koran bekas dapat dilipat dan dibentuk menjadi beraneka ragam "topi," seperti topi bajak laut, topi koki, topi perawat, topi minang, mahkota raja dan sebagainya. Selain itu, koran bekas juga dapat dibuat baju, jubah, sarung dan sebagainya. Topi dan baju dari koran bekas ini dapat dikombinasikan dan digunakan saat Anda ingin memerankan tokoh tertentu dalam cerita yang akan Anda sampaikan, misalnya: Raja Herodes, Penggembala, Petani, Nabi, dan sebagainya menurut jalannya cerita.

7. Gambar Flanel
Gambar flanel adalah rangkaian gambar-gambar yang dapat dilekatkan pada sebidang papan. Ketika menceritakan sebuah peristiwa, GSM melakukannya sambil menempelkan gambar yang sesuai dengan isi cerita pada papan flanel. Kelebihan jenis ini, GSM dapat mereview/mengulang kembali cerita yang sudah disampaikan karena gambar-gambarnya masih tertempel di sana.
Tips: Sediakan papan flanel sebelum pelajaran dimulai dan susunlah gambar dengan teratur supaya mudah digunakan pada waktunya. Hati-hati menempel gambar supaya jangan salah tempel atau jatuh dan lain-lain. sehingga mengganggu perhatian murid-murid terhadap pelajaran.

8. Boneka
Anak-anak kecil menyenangi permainan boneka. Boneka dapat juga dipakai untuk mempertunjukkan cerita-cerita Alkitab supaya memudahkan murid-murid mengingat cerita itu.
Ada berbagai macam bahan boneka. Yang paling mudah dibuat adalah boneka dalam bentuk wayang, dari karton. Boneka juga dapat dibuat dari kaos kaki atau bubur kertas.

VI. Hambatan Utama Penggunaan Alat Peraga
Meskipun hampir semua GSM setuju bahwa alat peraga dapat menjadi sarana pengajaran yang efektif, herannya hanya sedikit GSM yang mengajar menggunakan alat peraga. Ada berbagai alasan yang diajukan:
1. "Begini saja 'kan cukup ... mau apa lagi?" (Hal ini biasanya diucapkan guru yang merasa pandai bercerita).
2. "Saya tidak bisa/tidak berpengalaman/saya tidak pandai membuat alat peraga" (bisanya diajukan oleh guru yang belum pernah mencoba membuat alat peraga).
3. “Saya tidak ada waktu untuk membuat alat peraga” (Biasanya diucapkan oleh GSM yang mengadakan persiapan mengajar pada menit-menit terakhir).
4. Keterbatasan dana.
Mengingat sangat pentingnya alat peraga dalam kelas Sekolah Minggu, hal berikut dapat dilakukan, yaitu:
Komisi Anak membuat tim kreatif, agar guru- guru merasa tidak sendiri dalam mempersiapkan alat peraga. Alat peraga dipersiapkan bersama-sama sehingga dapat disimpan sebagai koleksi Sekolah Minggu.
Pembuatan alat peraga ini membutuhkan waktu. Untuk itu, perlu diadakan persiapan beberapa hari sebelumnya.

Kalau saya tanya, “lebih hebat mana: Anda atau Tuhan Yesus?”, saya yakin Anda akan menjawab, “lebih hebat Tuhan Yesus, dong.” Tapi coba renungkan ini: Dalam pengajaran-Nya, Tuhan Yesus masih memerlukan alat peraga. Tapi kita, sebagai GSM, kadangkala merasa tidak perlu menggunakan alat peraga. Lalu siapa yang merasa dirinya lebih hebat di sini?


Referensi:
· Bruce Wilkinson, Teaching With Style
· Clarence H. Benson, Teaching Techniques, Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 1986.
· Dr. Mary Go Setiawani, Pembaruan Mengajar, Yayasan Kalam Hidup, Bandung.
· J. Reginald Hill, Penuntun Sekolah Minggu, Yayasan Komunikasi Bina Kasih.
· Ruth Lautfer, Pedoman Pelayan Anak, Yayasan Persekutuan Pekabaran Injil Indonesia, Malang, 1993.
· Ruth S. Kadarmanto, M.A, Tuntunlah ke Jalan yang Benar, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2004
· Situs Pepak
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More