Minggu, 04 Februari 2007

Pengorbanan Cinta

Thomas Baker seorang misionaris dari London Missionary Society, tewas dibunuh penduduk Navatusila pada 21 Juli 1867, karena mengambil sebuah sisir dari rambut seorang pemimpin di daerah itu. Ketika itu memang ada larangan keras menyentuh kepala pemimpin.
Misionaris itu lalu dimasak dan dimakan beramai-ramai. "Kami memakan segalanya kecuali sepatu botnya,"kata seorang saksi. (Buletin PINA)
Untuk sesaat, kelihatannya Baker gagal menjalankan misinya karena mati konyol. Biji gandum yang jatuh ke tanah memang mati. Tapi berkat kematian itu, justru menumbuhkan kehidupan baru yang menghasilkan buah berkali-kali lipat.
Siapa sangka, berkat peristiwa itu, kini umumnya penduduk di kepulauan Fiji itu memeluk agama Kristen. Mereka menyesal atas perbuatan nenek moyang mereka selama 136 tahun lalu itu. "Kami akan minta maaf secara tradisional kepada keturunan misionaris itu,"ujar saksi itu menambahkan.
Hal yang hampir sama pernah dilakukan oleh St. Valentine. Biarawan Katolik ini dihukum mati oleh kaisar Claudius II karena menentang peraturan yang melarang pemuda Romawi menjalin hubungan cinta dan menikah karena mereka akan dikirim ke medan perang.
Sebentar lagi kitaakan 'dihebohkan' oleh perayaan hari Valentine. Ini adalah momentum yang baik untuk merenungkan makna pengorbanan orang-orang Kristen supaya bisa mengasihiorang lain. Thomas Baker dan Valentine rela mempertaruhkan nyawanya demi kebenaran Injil. Mengapa mereka rela menempuh risiko ini? Karena ada luapan kasih pada sesamanya di dalam hati mereka.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It