Sabtu, 24 Februari 2007

Cara Mengelola Relawan

Hampir sebagian besar tugas pelayanan dikerjakan oleh para relawan (volunteer). Mereka menyumbangkan tenaga, pikiran dan materi dengan sukarela. Karena sifat "sukarela", gereja biasanya kesulitan mendapatkan komitmen mereka. Berikut ini beberapa cara memotivasi para relawan:

1. Pastikan mereka mendapat "imbalan". Gereja tidak akan mampu menggaji seluruh relawannya, tetapi setiap orang yang telah menyumbang tenaga dan waktu layak mendapat "imbalan". Imbalan bagi mereka bisa berupa "kepuasan batin" jika bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik. Karena itu, gereja sebaiknya menyingkirkan semua yang berpotensi menghalangi penyelesaian tugas mereka.

Kebanyakan rekawan juga merasa senag jika mendapat penghargaan dari jemaat atau pemimpin yang dia hormati. Penghargaan itu bisa berupa surat pujian yang ditulis tangan, ucapan terimakasih dengan menyebutkan tindakan tertentu, Foto bersama lalu dipajang di tempat umum,atau bingkisan kecil.

2. Meninjau ketika relawan bekerja. Peninjauan ketika relawan bekerja dapat membesarkan hati mereka. Mereka akan merasa diperhatikan dan dibutuhkan. Peninjauan juga untuk mengetahui apa yang mereka butuhkan

3. Bantulah para relawan mengembangkan diri. Konsultan manajemen, Tom Peters, menyarankan lima cara pengembangan diri.Dalam konteks pelayanan, cara itu adalah sebagai berikut:

· Mendidik: Memberi orientasi pelayanan bagi relawab baru, melatih relawan pemula hingga menjadi terampil, dan memfasilitasi perubahan harapan di dalam pelayanan.
· Dukungan: Berikan kesempatan pada relawan berbakat untuk memberikan sumbangan khsusus dalam pelayanan dan bebaskan dia dari tugas-tugas yang menghambat dia.
· Pendampingan: Berikan dorongan semangat sebelum dan sesudah melakukan pekerjaan pelayanan. Berikan instruksi dan koreksi secara sederhana selama mereka bekerja.
· Konseling: Selesaikan masalah pribadi antar relawan yang bisa merusak pelayanan.
· Konfrontasi: Kurangi setiap hal yang bisa menghambat kinerja. Segera pindahkan relawan yang ada di tempat yang tidak sesuai.

4. Ciptakan komunitas relawan. Buatlah sebuah kelompok yang bisa menjadi sarana mereka untuk berkumpul. Di sini mereka bisa saling menguatkan, memperhatikan dan menguatkan.

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Berbicara Tanpa Sepatah Kata

Ada seorang yang bisu tuli masuk toko perhiasan. Kepada penjaga toko, dia menunjukkan perhiasan yang diinginkannya. Dengan gerakan pantomim, orang yang tidak bisa bicara ini "menjelaskan" bahwa dia ingin menghadiahkan perhiasan itu pada istrinya. Tak lama, dua orang itu sudah terlibat dalam canda bersama. Akhirnya dia pergi setelah membayar harganya dan pergi tanpa mengucapkan satu kata pun.

Kejadian ini menunjukkan bahwa kita bisa berkomunikasi meskipun tanpa harus berkata-kata. Kadang cara ini lebih efektif. Berikut kiat-kiatnya.

1. Menyimak Orang. Memang mudah bagi kita untuk melihat lawan bicara kita, tetapi yang susah adalah menyimaknya. Ada seorang mahasiswi yang walaupun wajahnya biasa saja, tetapi dia disukai banyak orang. Apa resepnya? Karena dia selalu tersenyum, mendengar dengan sungguh-sungguh dan menyimak setiap kali temannya berbicara kepadanya.

2. Menyentuh Secara Fisik. Seorang artis terkenal mengunjungi sebuah sekolah. Dia segera dikerubuti penggemarnya, tetapi dia bisa mengendalikan keadaan dengan baik. Caranya sederhana, dia memandang wajah tiap orang dan menepuk-nepuk pundaknya. Yesus menyentuh orang yang sakit kusta tanpa rasa takut dan jijik. Yesus juga sangat sensitif sehingga sekalipun di tengah kerumunan, Dia merasa ketika ada wanita yang menyentuh jubah-Nya.

3.Meluangkan Waktu Sejenak. Suatu hari, saya pernah menemani pendeta mengunjungi pasien di rumah sakit. Meskipun kami berkunjung tidak lebih dari sepuluh menit, tetapi pendeta itu bisa membuat pasien merasa bahwa dirinya adalah orang yang paling penting di dunia. Rahasianya, karena dia tidak pernah menunjukkan sikap bahwa dia tergesa-gesa. Setiap kali kami masuk bangsal, dia melepaskan jaketnya, menarik kursi dan duduk di samping ranjang pasien.

4.Berempati. Caranya dengan berusaha ikut merasakan apa yang dialami orang lain. Saat antri check in di bandara yang panjang, saya melihat petugas maskapai yang sangat lelah. Spontan saya berkata, "Pasti capek sekali ya berdiri seharian!" Hanya dengan enam kata itu, ternyata mendapat tanggapan keharuan dari petugas itu.

5.Membiarkan Orang Lain Mengasihi Anda. Komunikasi bukanlah jalan satu arah. Yesus memberi kesempatan pada anak kecil untuk membagikan bekal makan siangnya sehingga lebih dari lima ribu orang mendapat makan. Bayangkan betapa bangganya anak kecil ini ketika bercerita pada teman sebayanya, usai mukjizat itu. Yesus juga mengizinkan seorang wanita "memboroskan" parfum mahal untuk mengurapi kaki-Nya.

Dalam situsai tertentu, orang lain ingin punya kesempatan supaya bisa membantu kita. Kita tidak perlu malu mengakui jika butuh bantuan orang lain. Karena itu, jika Anda ingin berkomunikasi dengan orang lain, terimalah tawaran bantuan dari orang lain. Hal ini akan menciptakan kebangganan dan membuatnya merasa sebagai manusia yang berguna.

(terinspirasi tulisan Daniel Schantz)

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Rabu, 07 Februari 2007

pengalaman Relawan

Saya ingin membagikan pengalaman waktu menjadi relawan di posko kemanusiaan pada gempa bumi 27 Mei 2006. Siapa tahu ada manfaatnya buat teman-teman yang terjun sebagai relawan pada banjir awal tahun ini (baik di Jabodetabek dan tempat lain).
Dua hari pertama, setelah gempa, masing-masing relawan bergerak secara sporadis. Masing-masing menyalurkan bantuan sesuai dengan seleranya sendiri-sendiri. Namun pada hari ketiga, kami mulai mengadakan konsolidasi dan mengorganisasi diri. Kami lalu membuat prosedur pemberian bantuan.
Kami tidak lagi menyalurkan bantuan dengan mengasong. [Maksudnya,membawa bantuan tanpa tahu sasaran yang akan dituju. Siapa saja yang ditemui, diberi bantuan]. Kami mengamati, beberapa dermawan yang spontan membawakan bantuan biasanya “dicegat” di tengah jalan. Ini terjadi di daerah-daerah yang berdekatan dengan akses keluar-masuk. Padahal wilayah tersebut sebenarnya sudah dijangkau oleh bantuan lain. Akibatnya, wilayah yang “lebih dalam” belum mendapat bantuan.
Kami menyiasatinya dengan mengutus relawan untuk menerobos wilayah yang benar-benar belum tersentuh oleh pemberi bantuan. Di tempat itu, mereka harus mengumpulkan data-data vital, seperti:
(1). Berapa jiwa yang ada di sana?
(2). Apakah ada yang sakit?
(3). Berapa orang yang lansia?
(4). Berapa jumlah balita?
(5). Berapa yang hamil?
(6). Berapa jumlah yang wanita?
(7). Berapa jumlah anak-anak?
(7). Apa saja kebutuhan mereka? (pangan, baju, selimut, tenda, penerangan, obat-obatan dll).
Berdasarkan data tersebut, maka relawan tersebut dapat membuat daftar bantuan yang dibutuhkan oleh para korban. Dengan metode ini, maka bantuan dapat diberikan dengan tepat. Kami dapat mengurangi kemungkinan terjadinya penumpukan bantuan yang sejenis. Contohnya, kami melihat ada sekelompok warga yang berkali-kali menerima bantuan pakaian layak pakai. Karena terlalu kebanyakan, maka baju-baju itu dipakai untuk menghangatkan badan. Carannya bukan dengan memakainya, tapi membakarnya sebagai api unggun!
Untuk mendukung kelancaran tugas, maka setiap relawan yang bertugas mendata ini dilengkapi dengan alat komunikasi Handie Talkie. Pesawat HT ini ternyata memberi jasa yang sangat besar. Gempa bumi tahun kemarin juga ikut merobohkan menara-menara GSM. Akibatnya, selama beberapa hari komunikasi lewat handphone tidak dapat dilakukan. Namun dengan adanya HT ini, maka komunikasi dapat dilakukan dengan baik. Memang daya jangkau HT ini terbatas. Hal ini dapat disiasati dengan mendirikan repeater atau pesawat rig. Kami memasang dua rig dengan jarak sekitar 10 km. Daya jangkau rig jauh lebih luas, sehingga dapat merelay sinyal HT dalam radius sekitar 20-30 km.
Jika relawan selesai melakukan pendataan, maka dia segera menghubungi posko induk untuk meminta pengiriman bantuan yang diperlukan. Sementara bantuan sedang dalam perjalanan, maka relawan ini dapat berpindah untuk mencari “sasaran” berikutnya.
Pengalaman lain yang mungkin berguna adalah meminta bantuan tenaga dari korban bencana. Jumlah relawan sangat terbatas. Supaya energi kami tidak terkuras, maka kami mengajak warga setempat untuk mengambil sendiri bantuan yang diperlukan. Caranya dengan memberikan secarik memo yang berisi daftar kebutuhan, selanjutnya mereka yang akan mengangkut bantuan itu dari posko logistik.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah dukungan untuk relawan. Mereka sudah bekerja keras dan tidak kenal waktu. Untuk itu mereka membutuhkan dukungan supaya tidak jatuh sakit. Barang-barang seperti: air minum dalam kemasan, es, multivitamin, sunblock, topi lebar, kaos tangan, kopi dan teh panas biasanya sangat dibutuhkan relawan. Untuk menghindari kejenuhan, rotasi relawan juga perlu dilakukan.
Dalam situasi yang sulit, emosi gampang tersulut dan konflik mudah terjadi. Pertengkaran di antara relawan sangat mungkin terjadi. Untuk itu, pimpinan posko harus sudah mengantisipasi hal ini.
Apalagi ya? Ini saja dulu. Mungkin ada rekan-rekan yang mau membagikan pengalamannya?
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Minggu, 04 Februari 2007

Asal-usul Perayaan Valentine

Pada zaman modern ini, hari Valentine didominasi oleh hati berwarna pink dan yang dipanah oleh Cupid. Padahal asal-usul perayaan ini justru sangat berbeda jauh dengan simbol-simbol cinta ini. Valentine sebenarnya adalah seorang biarawan Katolik yang menjadi martir. Valentine dihukum mati oleh kaisar Claudius II karena menentang peraturan yang melarang pemuda Romawi menjalin hubungan cinta dan menikah karena mereka akan dikirim ke medan perang.

Ketika itu, kejayaan kekaisaran Romawi tengah berada di tengah ancaman keruntuhannya akibat kemerosotan aparatnya dan pemberontakan rakyat sipilnya. Di perbatasan wilayahnya yang masih liar, berbagai ancaman muncul dari bangsa Gaul, Hun, Slavia, Mongolia dan Turki. Mereka mengancam wilayah Eropa Utara dan Asia. Ternyata wilayah kekaisaran yang begitu luas dan meluas lewat penaklukan ini sudah memakan banyak korban, baik dari rakyat negeri jajahan maupun bangsa Romawi sendiri. Belakangan mereka tidak mampu lagi mengontrol dan mengurus wilayah yang luas ini.

Untuk mempertahankan kekaisarannya, Claudius II tak henti merekrut kaum pria Romawi yang diangap masih mampu bertempur, sebagai tentara yang siap diberangkatkan ke medan perang. Sang kaisar melihat tentara yang mempunyai ikatan kasih dan pernikahan bukanlah tentara yang bagus. Ikatan kasih dan batin dengan keluarga dan orang-orang yang dicintai hanya akan melembekkan daya tempur mereka. Oleh karena itu, ia melarang kaum pria Romawi menjalin hubungan cinta, bertunangan atau menikah.

Valentine, sang biarawan muda melihat derita mereka yang dirundung trauma cinta tak sampai ini. Diam-diam mereka berkumpul dan memperoleh siraman rohani dari Valentine. Sang biarawan bahkan memberi mereka sakramen pernikahan. Akhirnya aksi ini tercium oleh Kaisar. Valentine dipenjara. Oleh karena ia menentang aturan kaisar dan menolak mengakui dewa-dewa Romawi, dia dijatuhi hukuman mati.

Di penjara, dia bersahabat dengan seorang petugas penjara bernama Asterius. Petugas penjaga penjara ini memiliki seorang putri yang menderita kebutaan sejak lahir. Namanya Julia. Valentine berusaha mengobati kebutaannya. Sambil mengobati, Valentine mengajari sejarah dan agama. Dia menjelaskan dunia semesta sehingga Julia dapat merasakan makna dan kebijaksanannya lewat pelajaran itu.

Julia bertanya, "Apakah Tuhan sungguh mendengar doa kita?"

"Ya anakku. Dia mendengar setiap doa kita."

"Apakah kau tahu apa yang aku doakan setiap pagi? Aku berdoa supaya aku dapat melihat. Aku ingin melihat dunia seperti yang sudah kau ajarkan kepadaku."

"Tuhan melakukan apa yang terbaik untuk kita, jika kita percaya pada-Nya,"sambung Valentine.

"Oh, tentu. Aku sangat mempercayai-Nya," kata Julia mantap. Lalu, mereka bersama-sama berlutut dan memanjatkan doa.

Beberapa minggu kemudian, Julia masih belum mengalami kesembuhan. Hingga tiba saat hukuman mati untuk Valentine. Valentine tidak sempat mengucapkan perpisahan dengan Julia, namun ia menuliskan ucapan dengan pesan untuk semakin dekat kepada Tuhan. Tak lupa ditambahi kata-kata,"Dengan cinta dari Valentin-mu" (yang akhirnya menjadi ungkapan yang mendunia). Ia meninggal 14 Februari 269. Valentine dimakamkan di Gereja Praksedes Roma.

Keesokan harinya , Julia menerima surat ini. Saat membuka surat, ia dapat melihat huruf dan warna-warni yang baru pertama kali dilihatnya. Julia sembuh dari kebutaannya.

Pada tahun 496, Paus Gelasius I menyatakan 14 Februari sebagai hari peringatan St. Valentine. Kebetulan tanggal kematian Valentine bertepatan dengan perayaan Lupercalia, suatu perayaan orang Romawi untuk menghormati dewa Kesuburan Februata Juno. Dalam perayaan ini, orang Romawi melakukan undian seksual! Caranya, merka memasukka nama ke dalam satu wadah, lalu mengambil secara acak nama lawan jenisnya. Nama yang didapat itu menjadi pasangan hidupnya selama satu tahun. Lalu pada perayaan berikutnya mereka membuang undi lagi.

Rupanya Paus tidak sreg pada cara perayaan ini. Karena itulah, gereja sedikit memodifikasi perayaan ini. Mereka memasukkan nama-nama santo dalam kotak itu. Selama setahun setiap orang akan meneladani santo yang tertulis pada undian yang diambilnya. Untuk membuat acara itu sedikit lucu, gereja juga memasukkan nama Simeon Stylites. Orang yang mengambil nama ini dianggap apes alias tidak mujur,soalnya Simeon menghabiskan hidupnya di atas pillar, tidak beranjak satu kali pun.

Nama Valentine lalu diabadikan dalam festival tahunan ini. Di festival ini, pasangan kekasih atau suami istri Romawi mengungkapkan perasaan kasih dan cintanya dalam pesan dan surat bertuliskan tangan. Di daratan Eropa tradisi ini berkembang dengan menuliskan kata-kata cinta dan dalam bentuk kartu berhiaskan hati dan dewa Cupid kepada siapapun yang dicintai. Atau memberi perhatian kecil dengan bunga, coklat dan permen.

Di zaman modern, kebiasaan menulis surat dengan tangan diangap tidak praktis. Lagipula, tidak setiap orang bisa merangkaikan kata-kata yang romantis. Lalu muncullah kartu valentine yang dianggap lebih praktis. Kartu Valentine modern pertama dikirim oleh Charles seorang bangsawan Orleans kepada istrinya, tahun 1415. Ketika itu dia mendekam di penjara di Menara London. Kartu ini masih dipameran di British Museum. Di Amerika,Esther Howland adalah orang pertama yang mengirimkan kartu valentine. Kartu valentine secara komersial pertama kali dibuat tahun 1800-an.

Sayangnya dari hari ke hari, perayan Valentine telah kehilangan makna yang sejati. Semangat kasih dn pengorbanan St. Valentine telah dikalahkan oleh nafsu komesialisasi perayaan ini. Untuk itulah kita perlu mengembalikan makna perayaan ini, seperti dalam 1 Yohanes 4:16: "Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia"

Sumber: http://crosswalk.com/faith/ministry_articles/guestcolumns/509916.html;http://www.christianitytoday.com/ct/2000/107/11.0.html;Koran Tempo; majalah Hidup.



 
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Pengorbanan Cinta

Thomas Baker seorang misionaris dari London Missionary Society, tewas dibunuh penduduk Navatusila pada 21 Juli 1867, karena mengambil sebuah sisir dari rambut seorang pemimpin di daerah itu. Ketika itu memang ada larangan keras menyentuh kepala pemimpin.
Misionaris itu lalu dimasak dan dimakan beramai-ramai. "Kami memakan segalanya kecuali sepatu botnya,"kata seorang saksi. (Buletin PINA)
Untuk sesaat, kelihatannya Baker gagal menjalankan misinya karena mati konyol. Biji gandum yang jatuh ke tanah memang mati. Tapi berkat kematian itu, justru menumbuhkan kehidupan baru yang menghasilkan buah berkali-kali lipat.
Siapa sangka, berkat peristiwa itu, kini umumnya penduduk di kepulauan Fiji itu memeluk agama Kristen. Mereka menyesal atas perbuatan nenek moyang mereka selama 136 tahun lalu itu. "Kami akan minta maaf secara tradisional kepada keturunan misionaris itu,"ujar saksi itu menambahkan.
Hal yang hampir sama pernah dilakukan oleh St. Valentine. Biarawan Katolik ini dihukum mati oleh kaisar Claudius II karena menentang peraturan yang melarang pemuda Romawi menjalin hubungan cinta dan menikah karena mereka akan dikirim ke medan perang.
Sebentar lagi kitaakan 'dihebohkan' oleh perayaan hari Valentine. Ini adalah momentum yang baik untuk merenungkan makna pengorbanan orang-orang Kristen supaya bisa mengasihiorang lain. Thomas Baker dan Valentine rela mempertaruhkan nyawanya demi kebenaran Injil. Mengapa mereka rela menempuh risiko ini? Karena ada luapan kasih pada sesamanya di dalam hati mereka.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Apakah Dia Jodohku?

Kata orang, Februari adalah bulan yang romantis karena di dalamnya ada perayaan hari Valentine. Pada saat itu, setiap pasangan yang sedang kasmaran biasanya merayakannya secara khusus. Ada baiknya, moment ini juga dipakai untuk merenung, benarkah pacarku ini adalah jodoh yang diberikan Tuhan kepadaku? Berikut ini beberapa pertanyaan untuk Anda renungkan:
1. Apakah tujuan hidup pacar Anda itu untuk menyenangkan Tuhan?
2. Apakah Anda menikmati hubungan itu, saling menghormati dan menghargai?
3. Apakah Anda mengakui dan menyukai kelebihan dan kekurangan yang dimiliki pasangan Anda?
4. Bagaimana sikap orang tua Anda, sahabat Anda atau pendeta Anda terhadap pacar Anda?
5. Apakah Anda merasa betah dan nyaman dengan keluarga pacar Anda?
Jika Anda yakin bahwa pacar Anda adalah jodoh yang diberikan Tuhan, maka melangkahlah ke jenjang berikutnya dengan mantap. Dia berjanji akan memberikan apa yang Anda inginkan(Mzm.37:4)

 
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Orang yang Gembira selalu Berpesta

Hidup ini susah. Tentu semua orang setuju dan merasakannya. Hidup ini tidak adil. Banyak orang yang setuju dengan pernyataan ini. Lalu bagaimana sikap kita? Apakah mengeluhkan kondisi ini sepanjang hari?

Sikap/perilaku adalah sebuah kata yang penting untuk dimengerti pada waktu kita memikirkan tentang kehidupan. Kita mendengar ada sikap yang benar dan ada sikap yang salah. Apakah yang membuatnya berbeda apabila kita mempunyai salah satunya? Sikap itu menentukan bagaimana kita menghadapi kesulitan-kesulitan, masalah-masalah, sakit penyakit, keberhasilan dan pekerjaan - segala sesuatu yang terjadi pada kita setiap hari. Adalah penting bagi kita untuk mengetahui pengaruh dari sikap-sikap itu sendiri. Orang yang sukses atau gagal tergantung pada bagaimana mereka bereaksi pada situasi kehidupan ini.

Sikap yang angkuh akan menjauhkan kita dari teman. Sikap yang mencurigakan akan merenggangkaon persahabatan. Yang lebih penting lagi, sikap-sikap tersebut berpengaruh pada kesehatan kita. Jadi, tingkah laku apakah yang merusak dari sikap itu sendiri?

Ketika anda diabaikan dan sementara orang lain mendapatkan promosi, bagaimana perasaanmu? Ketika anda diberitahu bahwa penyakit gula anda mempengaruhi bagian mata anda dan secara perlahan-lahan kehilangan penglihatan, apakah yang anda pikirkan di benak anda?

Banyak orang menjadi sangat tidak enak, marah, dan jengkel. Mereka berbicara tidak ramah pada orang yang mereka sayangi. Mereka menjadi tidak sabar pada pendeta, bahkan mereka menjadi marah pada Tuhan. Yang lain beralih ke obat-obat bius, alkohol, atau jenis makanan untuk melupakan semua itu.

Bahkan yang lainnya berpikir seperti tidak ada yang berubah-seperti burung unta dengan kepalanya di pasir, seolah-olah bahwa tidak ada masalah terdapat disana.

Otak kita sangat menentukan dalam memandang sesuatu. Otak dapat memerintahkan pada tubuh kita untuk bersikap positif atau negatif. Contohnya gambar ini. Gambarnya sama, tapi kita bisa melihat dua gambar yang berbeda. Bisa melihat gambar gadis muda atau nenek-nenek tua. Otak juga menentukan sikap kita terhadap sebuah peristiwa. Contohnya dalam ulang tahun. Kita bisa bersikap: Aduh aku sudah semakin tua; atau, Puji Tuhan, Eben Haezer, sampai di sini Tuhan sudah menyertai dan memelihara saya.

Tuhan memberikan kehendak bebas kepada setiap manusia. Manusia bebas menentukan sikap. Dalam hal menghadapi situasi, raja Salomo menulis tiga amsal yang menarik:

“Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.” (Amsal 17:22)

“Hari orang berkesusahan buruk semuanya, tetapi orang yang gembira hatinya selalu berpesta.” (Amsal 15:15)

“Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat.” (Amsal 15:13)

Raja Salomo membuat dua perbandingan sikap hati yang sangat kontras. Pertama, “Hati yang gembira”; dan kedua, “semangat yang patah”.

Mari kita bahas satu-satu. Lebih dulu kita membahas “Semangat yang patah”, dalam versi New King James Version, berarti “roh/jiwa yang hancur.” Kata ini digunakan untuk melukiskan keadaan manusia yang telah kehilangan gairah hidup. Dia merasakan kesusahan, kekecewaan, kekuatiran, kepedihan hati, kepahitan dll. Terhadap situasi ini, raja Salomo menyebutkan akibatnya, yaitu dapat mengeringkan tulang atau mengganggu kesehatan.

Angka statistik menunjukkan bahwa ada 44 juta orang Amerika menderita karena tekanan darah dan 7 juta orang lainnya menderita penyakit-penyakit ringan, dimana kedua kondisi ini disebabkan karena stress yang begitu lama yang tak terselesaikan. Para peneliti mengatakan bahwa walaupun pola hidup berubah seperti, makan makanan yang bergizi, memulai latihan aerobik, tidur 6-8 jam setiap malam, berpantang pada alkohol, rokok dan obat-obat berbahaya lainnya, jika tingkat tekanan atau stress tetap tinggi, untuk jadi sehat sangatlah lambat.

Ketidakmampuan untuk menerima kenyataan bahwa kepedihan dan kesulitan-kesulitan itu merupakan hal yang biasa dalam hidup ini, dapat membawa kita pada rasa sakit pikiran, bahkan juga pada masalah kesehatan tubuh dan penyakit lain. Lebih dari seratus tahun yang lalu, E G White, seorang penulis terkenal menuliskan:

Penyakit pikiran terjadi dimana-mana. Sembilan dari sepuluh penyakit yang diderita manusia berasal dari pikiran.

Benarlah yang dikatakan oleh raja Salomo, “Orang muram harus terus berjuang dalam hidupnya.” (Amsal 15:15) “Hari orang berkesusahan buruk semuanya.” (Amsal 15:15 TB)

Sikap kedua yang ditulis raja Salomo adalah “Hati yang gembira.” Sikap hidup yang positif ini memberikan manfaat yang positif pula.

Norman Causins, seorang redaktur Saturday Review di Amerika, menderita suatu penyakit yang aneh dan langka. Ia akan merasakan sakit yang luar biasa meskipun cuma menggerakkan sedikit saja bagian tubuhnya.

Dokter yang merawatnya mengatakan bahwa peluang untuk sembuh dari penyakit jenis ini hanya 0,2% atau 1:500. Suatu nilai yang pasti akan melemahkan semangat hidup si penderita (apalagi berbagai obat telah dicoba, tapi kesehatannya tak kunjung membaik).

Dalam keadaan putus asa, Norman membaca Alkitabnya dan matanya tertuju pada Amsal 17:22, "Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tapi semangat yang patah mengeringkan tulang". Ia berpikir, mengapa tidak dari dulu aku melihat kebenaran ini ? Akhirnya atas persetujuan dari Dr.William Hitzig yang merawatnya, Norman mengganti semua obatnya dengan banyak tertawa dan bergembira serta mengkonsumsi vitamin C. Untuk membantunya supaya bisa sering tertawa terbahak-bahak, ia menonton berbagai film komedi.

Pada hari ke 8 setelah menjalani "terapi" ini, ia sudah bisa menggerakkan jempolnya tanpa rasa sakit. Juga tertawa selama 10 menit bisa membuatnya tidur nyenyak selama 2 jam (hal yang sebelumnya tidak bisa dilakukannya).

Akhirnya keadaannya semakin hari semakin membaik dan akhirnya ia mengalami kesembuhan total. Pengalamannya ini dibukukannya dalam "An Anatomy of Illness".

Dr. Lee Berk, seorang imunolog dari Loma Linda University mengatakan bahwa tertawa bisa mengurangi peredaran 2 hormon tubuh: efinefrin dan kortisol (hormon-hormon penghambat proses penyembuhan penyakit). Juga dalam salah satu risetnya, Dr. Rosemary Cogan dari Texas Tech University menemukan bukti bahwa rasa nyeri atau sakit akan berkurang setelah orang tertawa lepas. Tidak hanya itu saja, kekebalan tubuhpun bisa meningkat.

Sementara itu Dr. William Foy dari Stanford University berkata bahwa tertawa terbahak-bahak amat bermanfaat bagi orang sehat. Hasil penelitian menunjukkan, tertawa terbahak-bahak akan menggoyang otot perut, dada, bahu, serta pernafasan, sehingga membuat tubuh seolah-olah sedang jogging di tempat. Tertawa juga akan melatih diafragma torak, jantung, paru-paru, perut, dan membantu mengusir zat-zat asing dari saluran pernafasan.

Jika para dokter menemukan kebenaran ini baru pada abad-abad ini, tidakkah anda lihat bahwa Allah telah menyingkapkannya kepada Salomo lebih dari 2000 tahun yang lalu ?


Orang yang bergembira dan bahagia adalah karena mereka mengatasi masalah-masalah dan penderitaan hidup dengan penuh bijaksana, bukan karena mereka tidak mempunyai masalah dan penderitaan. Mereka menyadari bahwa masalah dan penderitaan adalah penting bagi pertumbuhan mental dan spiritual. Jauh dari keluhan-keluhan mengenai situasi atau penderitaan-penderitaan itu, kita harus berterima kasih karenanya. Ayub 5:11, "Sesungguhnya, berbahagialah manusia yang ditegur Allah; sebab itu janganlah engkau menolak didikan yang Mahakuasa."

Bagaimana Cara Membuat Hati yang gembira

1. Buang Kekuatiranmu

Yesus memberi perintah kepada kita:

“"Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?” (Matius 6:25-26 TB)

kekuatiran tidak akan membuat kehidupan kita semakin ringan, justru sebaliknya akan semakin memperberat. Kekuatiran tidak banyak gunanya. “Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?” (Matius 6:27 TB).

Apakah itu berarti kita pasrah saja dengan tidak berbuat apa-apa? Bukan begitu maksudnya. Burung-burung memang dipelihara oleh Tuhan, tapi Tuhan tidak melemparkan makanan ke sarangnya, bukan? Kita harus tetap bekerja maksimal, sambil dilandasi keyakinan bahwa Allah tetap memelihara kita.

Orang saleh pun memiliki banyak masalah. Namun, pada saat mereka menyadari keadaan mereka dan sangat membutuhkan pertolonganNya, mereka berdoa dan Tuhan menolong mereka. Ketergantungan pada Tuhan mendorong mereka bertumbuh, gembira dan bahagia. Selain itu, tiap kali anda mengatasi dengan benar-benar masalah-masalah yang anda hadapi, anda meningkatkan kesehatan dan kekuatan mental anda.

"Kecemasan adalah buta, dan tidak dapat melihat masa depan; tetapi Yesus dapat melihat dari awal hingga akhir. Dalam setiap kesusahan Dia mempunyai cara dalam memberikan kelegaan. Bapa kita di surga memiliki 1000 cara untuk menyediakannya bagi kita, yang kita tidak ketahui sama sekali. Mereka yang melayani dan menghormati Allah tidak akan merasa kebingungan dan akan memperoleh jalannya" Ellen G White.

Tidak ada satupun yang terjadi tanpa sepengetahuanNya dan itu semua adalah yang terbaik bagi kita. Menerima segala masalah-masalah dan penderitaan hidup dengan bersyukur berdasarkan Roma 8:28 "Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah" Segala sesuatu bekerja sama demi kebaikan kita. Adalah keuntungan bagi kita apabila kita berharap padaNya saat kita mengatasi segala masalah dan penderitaan dengan penuh tanggung jawab.

Yesaya 26:4, "Percayalah kepada Tuhan selama-lamanya, sebab Tuhan Allah adalah gunung batu yang kekal". Jika kita benar-benar percaya padaNya, hasilnya akan dinyatakan seperti dalam Yesaya 26:3, "Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepadaMu-lah ia percaya"

Ya, jika kita percaya pada Tuhan, kita akan mengalami kedamaian yang sempurna. Sempurna artinya suatu sikap yang sehat !



2. Memakai Kacamata Kekekalan

Pada saat menjalani penderitaan hidup, kita memandangnya dalam sudut pandang Allah. Kita menjalani penderitaan itu dengan tabah dilandasi keyakinan bahwa “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Rom.8:28). Allah memanggil kita untuk masuk ke dalam rencana-Nya. Untuk itu, Allah telah mengatur segala hal, sehingga menghasilkan yang baik untuk kita. “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11 TB)

Penderitaan ini tidak ada apa-apanya dibandingkan kemuliaan yang kelak akan kita rasakan.



3. Kepasrahan

Kita tidak bisa mengatur semua hal di dunia ini supaya sesuai dengan kehendak kita. Ada hal-hal tertentu, terutama faktor yang ada di luar diri kita, yang tidak dapat kita ubah. Misalnya, kita tidak bisa mengubah watak orang lain. Kita tidak bisa mengubah kenyataan, misalnya kehilangan suami. Sekeras apapun kita berusaha, hasilnya sia-sia.

Terhadap kenyataan yang tidak dapat kita ubah, kita sebaiknya bersikap pasrah dan menerima kenyataan dengan perasaan damai.



4. Menggunakan Humor dan Senyum



Orang yang sehat jiwanya, adalah orang yang mampu menertawakan diri sendiri secara positif. Karena itu, ingatlah beberapa hal berikut ini sebelum Anda menciptakan humor di rumah Anda:

Senyum itu menular. Tebarkan senyum, maka Anda akan menuai senyum.

• Jangan menggunakan kekurangan fisik pasangan sebagai obyek humor Anda.

• Humor yang baik menertawakan peristiwa atau kejadian yang dianggap lucu, bukan menertawakan orang yang melakukan atau mengalaminya.

• Sebelum menceritakan humor, pikirkan sekali lagi apakah yang akan Anda katakan itu akan menyinggung perasaan orang lain..

• Jangan mengatakan humor yang bersifat rasialis atau diskriminatif. Humor tersebut, selain tidak sehat juga mendidik anak menganggap rendah orang-orang yang berasal dari kelompok yang dijadikan bahan tertawaan.



5. Menghitung Berkat/Bersyukur

Bersyukur berarti berterimakasih dan menghargai apa yang kita miliki saat ini. Rsa syukur memenuhi perasaan hati kita dengan rasa gembira karena merasa diberkati dengan banyak karunia.

Benjamin Franklin mengatakan kita tidak pernah menghargai air sampai suatu saat nanti ketika sumber air kering. Kita kadang kurang menghargai orang-orang, benda atau kemudahan yang kita miliki, sampai suatu ketika kita kehilangan semua itu.

Yang penting bukanlah berapa banyak yang kita miliki, tetapi berapa banyak yang kita nikmati Charles Spurgeon.

“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” (1 Tesalonika 5:18 TB)



Penutup

Hidup ini memang susah dan tidak adil, tapi karena setiap orang merasakan hal ini, maka hidup ini menjadi adil. Kalau saya menderita karena sakit, orang lain juga merasakannya. Toh, saya bukan satu-satunya orang yang sakit. Kalau saya kehilangan suami, saya bukan satu-satunya orang yang mengalaminya sendiri. Untuk apa saya harus mengeluh?

Ada dua pilihan dalam menghadapi kehidupan ini: dengan bersukacita atau bersungut-sungut. Mana yang Anda pilih? Kalau saya memilih menghadapinya dengan sukacita. “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” (Filipi 4:4)



ဉ᎐ဉ���ǹ؈柪ǝྸȮ뗠Ⴈڱ
 
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More