Jumat, 19 Januari 2007

Satpamnya Galak!

Ashadi Siregar menulis bahwa citra sebuah lembaga banyak dipengaruhi oleh orang-orang yang berada di garis depan. Sebesar apa pun anggaran iklan yang dibelanjakan untuk membangun citra positif, semua itu akan runtuh dalam hitungan detik oleh ulah orang-orang di garis depan ini.
Saya mengalami kebenaran pendapat mantan dosen saya itu. Suatu hari saya ingin mendatangi sebuah lembaga Kristen. Sebenarnya saya sudah pernah ke sana, tapi karena hal itu sudah lama sekali, maka saya agak ragu-ragu. Ada banyak hal yang berubah sejak terakhir kali saya ke sana.

Perubahan yang mencolok adalah adanya bangunan untuk pos Satpam. Maka saya pun melangkah ke sana dengan harapan akan diantar ke bagian resepsionis. "Maaf Pak, numpang tanya. Benarkah ini kantor lembaga X?" Tanya saya dengan sopan pada Satpam di sana yang berpakaian serba hitam, tegap, beramput cepak.
"Anda siapa?" tanya Satpam itu dingin. 'Waduh, kayak di wayang saja. Dia belum menjawab pertanyaan malah ganti nanya,' batin saya.
"Saya Wawan. Saya punya janjian dengan bapak Anu," jawab saya.
Satpam lalu menyodorkan buku tamu dan berkata dengan nada perintah, "Isi dulu buku tamu ini dan tuliskan keperluannya."
Saya menuruti. Selesai mengisi buku tamu, satpam itu lalu menyerahkan ID card bertulis "Tamu".
"Tinggalkan kartu pengenal" katanya sambil menyudurkan ID card itu. Saya mengeluarkan KTP dari dompet dan menyerahkannya.
"Naik saja lewat tangga ini" kata satpam itu masih dengan suara dingin.
Saya melangkah sesuai yang ditunjuk satpam itu. Pada anak pertama, saya bertemu dengan satpam lain yang turun tangga. Tanpa basa-basa, satpam itu berkata pada saya dengan sorot tajam, "Tanda pengenalnya dipakai!" Waduuh! Tidak bisakah memakai kata yang lebih sopan sedikit?? Misalnya memakai kata "Maaf....tolong...."

Usai urusan di sana, saya diajak makan siang di luar. Karena sebagai tamu, saya mengikut saja. Dia mengajak saya melewati jalan pintas, yaitu melalui pintu belakang ruangan divisi lain, dalam perusahaan yang sama. Kemudian keluar melalui pintu utama divisi itu. Usai makan, kami berpisah jalan. Saya kembali melewati jalur semula untuk menukarkan ID-Card dengan KTP. Ketika melewati pintu belakang divisi itu, tiba-riba saya didatangi satpam itu.
"Mas, Anda tidak bisa seenaknya saja mondar-mandir di sini!" katanya dengan ketus.
"Lho tadi saya lewat di sini dengan salah satu karyawan di sini, Anda diam saja. Sekarang saya ditegur, bagaimana sih?" kata saya dalam hati. Saya agak enggan memulai pertengkaran. Saya lalu menyerahkan ID-Card pada satpam yang lain. Dia menyerahkan KTP saya tanpa ekspresi keramahan sedikit pun.

Saya tidak langsung pulang karena ada janjian menunggu teman. Daripada menunggu di luar, maka saya menunggu di dalam ruangan lembaga itu sambil numpang ngadem A.C. Ruangan itu adalah ruang publik. Artinya setiap orang boleh masuk ke sana. Namun saya merasakan, satpam itu terus mengawasi saya. Seolah-olah saya seperti musuh yang gerak-geraknya harus selalu diwaspadai. Beberapa kali dia lewat di dekat saya. Mungkinkah itu untuk mengintimidasi saya? Saya sih cuek saja.

Dalam perjalanan pulang, saya merenungkan kejadian itu. Dalam manajemen dikatakan bahwa perilaku karyawan dipengaruhi oleh budaya perusahaan dan kebijaksanaan manajemen. Jika ini benar, maka perilaku satpam yang serba curiga itu adalah cerminan dari kebijaksanaan yang ditetapkan oleh garis pimpinan. Dalam ranah militer ada dogma, "Setiap orang adalah musuh, kecuali kalau dia sudah terbukti sebagai kawan." Agaknya, lembaga Kristen ini secara tidak sadar menerapkan dogma ini. Setiap orang yang datang ke kantornya wajib dicurigai dulu. Kalau dia terbukti tidak membahayakan, barulah diperlakukan sebagai kawan.

Hal ini berbeda sekali dengan lembaga Kristen yang sejenis dengan lembaga di sana. Satpam di sana memperlakukan setiap orang sebagai tamu. Ketika ada orang yang akan ingin menemui salah satu pegawai di lembaga itu, sang satpam langsung menghantar tamu itu menemui pegawai yang bersangkutan. Dalam hal ini lembaga ini menganut prinsip, "Semua orang adalah kawan kita, kecuali kalau dia menjadi lawan kita." Bukankah ini prinsip yang sangat kristiani?
Waspada itu boleh saja, apakah harus ditunjukkan dengan sikap yang serba curiga begitu. Hari geneeee masih militeristik!!! Kunooo


Wawan
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It