Minggu, 28 Januari 2007

Sipil yang Militeristik

Suatu kali saya ditugasi peliputan ke Polda DIY. Saya harus menemui seorang tersangka pembunuhan. Saya berangkat dengan perasaan deg-degan. Pengamanan di sana pati ketat sekali. Pasti saya akan menemui kesulitan menemui tahanan. Saya pernah dengar cerita kalau keluarga tahanan harus menyuap petugas supaya bisa ketemu anggota keluarganya yang ditahan. Mungkin Anda pernah mendengar cerita seperti ini: Pada zaman Orde Baru, ada sebuah kompleks militer pasukan khusus yang melarang mobil-mobil saling menyalip ketika melintasi kompleks itu. Jika ada yang nekad, maka mobil itu akan dihentikan dan pengendaranya akan dihukum oleh tentara yang berjaga. Teman saya pernah dihukum mandi di sebuah bak yang airnya sudah berwarnah hijau. Dia diberi sebatang sabun mandi yang masih baru. Dia harus menggosokkan sabun itu ke badannya hingga habis. Sesudah itu, baru boleh pergi.

Di benak saya, kompleks kepolisian ini masih seperti kompleks militer yang dijaga amat ketat. Masuk gedung utama saya langsung menemui petugas jaga. "Pak saya ingin menemui tahanan bernama X" kata saya dengan berdebar-debar. "Silakan ke gedung sayap Timur, lantai 3" jawab petugas. 'Lho cuma begitu doang?' tanya saya heran dalam hati. 'Kok nggak ditanya identitasnya?'
Saya mengikuti petunjuk itu. Sesampai di depan pintu sel, saya kembali mengutarakan maksud saya. Saya diminta meninggalkan identitas. Setelah itu, ada petugas lain yang menjemput tahanan. Saya bisa melakukan wawancara dengan bebas di sebuah ruang berukuran 4x6 meter sambil lesehan.
Pengalaman ini jelas jauh dari kesan angker yang saya bayangkan sebelumnya. Mungkinkah polisi mempermudah prosedur karena saya wartawan? Ah tidak juga. Karena ketika menemui polisi, saya tidak ngomong kalau saya wartawan.

Dugaan saya, paradigma kepolisian mungkin sudah berubah. Mereka memposisikan diri sebagai aparat sipil, yang bertugas "melindungi dan melayani" masyarakat. Itu sebabnya mungkin di pos polisi sekarang ini ada tulisan: "Kami siap melayani Anda." Sayangnya, di pos-pos satpam di lembaga sipil justru masih dipasang tulisan yang militeristik: "TAMU HARAP LAPOR!"

Saya prihatin melihat lembaga-lembaga sipil yang justru mengarah militeristik. Lihat saja satpam-satpam di mal (di EX Plasa Indonesia dan plasa Ambarukmo, contohnya). Mereka didandani alam polisi militer. Pakai topi baja bertuliskan PKD, entah singkatan dari apa. Kata teman saya, itu singkatan dari “Petugas Keamanan Dalam”. Mereka bersepatu bot hitam bergaris putih vertikal.
Lihat juga seragam satgas-satgas partai yang bermotif doreng dengan atribut yang sedapat mungkin mirip tentara. Perilaku mereka kadang berlebihan [Kepala saya pernah dipukul gara-gara kurang minggir ketika mereka berkonvoi. Untung saya pakai helm]. Ashadi Siregar pernah berkelakar,"Kalau banser NU ingin mempelopori demokratisasi, tinggalkan atribut militer pada seragamnya. Pakai saja sarung sebagai seragamnya."

Dalam ilmu manajemen modern dikatakan bahwa stake-holder sebuah lembaga tidak hanya pemilik/pemegang saham, tapi juga kastemer, konsumen, nasabah, dan masyarakat sekitar. Terhadap para stake-holder ini, para karyawan--termasuk satpam di dalamnya--wajib memberikan respek. Sama seperti ketika mereka mereka tunduk takzim pada big-bos. Sikap terhadap stake-holder akan mempengaruhi kelangsungan sebuah lembaga.
Sayangnya, masih banyak karyawan-karyawan yang di front-liner kurang menyadari hal ini. Saya beberapa mendapati petugas-petugas yang melayani konsumen dengan sikap ogah-ogahan, merengut atau kurang antusias. Jika mengalami hal ini,maka biasanya saya kapok untuk berhubungan dengan perusahaan atau lembaga itu lagi.

Bayangkan jika ini terjadi pada gereja! Gara-gara sikap satpam, koster atau pengerjanya yang arogan, bisa jadi orang-orang menjadi alergi untuk beribadah di gereja itu.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Rabu, 24 Januari 2007

Pengalaman Naik K.A. Taksaka

Pertengah bulan Januari ini, keluarga saya pergi ke Jakarta menggunakan jasa kereta api. Berikut ini pengalaman kami:

Seminggu sebelum keberangkatan, saya dan isteri saya pesan tiket ke stasiun Tugu. Lokasi reservasi ada di sebelah selatan rel, masuknya melalui jalan Pasar Kembang. Begitu masuk ruangan reservasi, saya langsung bisa merasakan penurunan mutu pelayanan kereta api.

Biasanya ada seorang satpam yang duduk di bagian resepsionis. Dia akan memberikan nomor antrian kepada calon penumpang. Selanjutnya, calon penumpang dipersilakan mengisi formulir pemesanan dan menunggu nomor urut dipanggil secara otomatis. Sistem ini kemudian juga dipakai oleh pengelola bank. Dalam hal ini, P.T. K.A.I sebenarnya menjadi pelopor pemakaian sistem antrian elektronik ini di DIY.

Sayangnya ketika lembaga pelayanan lain mengikuti sistem ini, P.T. K.A.I justru menghentikan sistem antrian. Mereka kembali menerapkan sistem antrian fisik. Entah mengapa begitu. Saya menduga karena terjadi kerusakan peralatan.

Kami memesan kereta Taksaka pagi. Pada hari H, terjadi keterlambatan pemberangkatan kereta selama setengah jam. Itu sudah untung, karena kereta Argo Lawu yang semestinya berangkat 15 menit lebih dulu dari kereta Taksaka, justru belum bisa diberangkatkan karena mendadak harus mencopot gerbong ke-8. (Di belakang gerbong ini masih ada gerbong ke-9).

Sesaat setelah kereta berangkat, kami mendapat suguhan secangkir teh manis. Setengah dua belas, kami mendapat sajian makan siang. Menunya: nasi putih yang keras, oseng-oseng tempe, telur dadar, ayam goreng, pisang.

Secara resmi kereta hanya berhenti lima kali, yaitu di stasiun Kutoarjo, Purwokerto, Cirebon, Jatinegara dan Gambir. Tapi secara tak resmi, kereta berhenti lebih tiga kali lipat angka resminya. Secara de jure, pedagang asongan dilarang masuk ke dalam gerbong kereta eksekutif. Tapi secara de facto, pedagang bebas menjajakan dan bertransaksi ketika kereta singgah agak lama di sebuah stasiun. Bahkan Polsuska yang mengawal kereta pun tidak ada niat untuk mencegah mereka masuk. Secara resmi, kereta menempuh perjalanan selama delapan jam. Tapi kenyataannya, kami mendapat bonus satu jam.

Meski kecewa dengan pelayanan PT KAI, pulangnya kami tetap memilih kereta juga. Kami tetap memilih Taksaka pagi juga. Dari stasiun Gambir, kereta diberangkatkan terlambat setengah jam. Melalui pengeras suara, pengatur lalu lintas kereta berkali-kali meminta maaf atas keterlambatan ini. Demikian juga atas keterlambatan kereta Parahyangan ke Bandung, dan juga keterlambatan kereta-kereta lainnya. Entah, apakah itu benar-benar merupakan rasa penyesalan atau sekadar dari rutinitas pekerjaannya?

Pengalaman pulang kami tidak lebih nyaman dari pengalaman keberangkatan. Bahkan mungkin lebih buruk. Suhu A.C. tidak dingin, sehingga anak kami keringatan. Pesawat TV tidak dinyalakan. Bahkan pesawat TV di gerbong kami yang biasanya ada dua, tinggal satu buah saja. Yang satu sudah tidak ada pesawat TV-nya.

Dalam perjalanan pulang ini, saya sempat melihat rangkaian kereta Bengawan yang diparkir di stasiun Karangsari dengan lilitan police line. Beberapa meter kemudian, saya dapat menyaksikan “bangkai” kereta ekonomi yang anjlok itu masih tergolek di dasar sungai. Masih ada banyak orang yang berkerumun untuk melihatnya. Gerbong itu sudah ditutup terpal plastik.
---****-----
Beberapa hari kemudian, harian Kompas (23/01) menurunkan laporan tentang semakin memburuknya kualitas pelayanan dan kinerja pengelola transportasi kereta api. Koran terkemuka ini menunjukkan indikator-indikator panjang lintasan yang berkurang hingga lebih dari 40 persen. Semakin menurunnya kemampuan persinyalan, hingga angka kecelakaan yang cukup tinggi.

Direktur Keuangan PT KAI berkilah, semua itu karena pemerintah menunggak pembayaran subsidi pada PT KAI. Akibatnya mereka terpaksa menurunkan mutu pelayanan. Salah satunya adalah kanibalisasi. Mereka juga menerapkan sistem 1-4. Artinya, di antara 4 gerbong, hanya 1 gerbong yang dipasangi rem. Bulu kuduk saya langsung bergidik. Pengelola kereta api ini sungguh berani bermain-main dengan nyawa banyak orang!
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Jumat, 19 Januari 2007

Satpamnya Galak!

Ashadi Siregar menulis bahwa citra sebuah lembaga banyak dipengaruhi oleh orang-orang yang berada di garis depan. Sebesar apa pun anggaran iklan yang dibelanjakan untuk membangun citra positif, semua itu akan runtuh dalam hitungan detik oleh ulah orang-orang di garis depan ini.
Saya mengalami kebenaran pendapat mantan dosen saya itu. Suatu hari saya ingin mendatangi sebuah lembaga Kristen. Sebenarnya saya sudah pernah ke sana, tapi karena hal itu sudah lama sekali, maka saya agak ragu-ragu. Ada banyak hal yang berubah sejak terakhir kali saya ke sana.

Perubahan yang mencolok adalah adanya bangunan untuk pos Satpam. Maka saya pun melangkah ke sana dengan harapan akan diantar ke bagian resepsionis. "Maaf Pak, numpang tanya. Benarkah ini kantor lembaga X?" Tanya saya dengan sopan pada Satpam di sana yang berpakaian serba hitam, tegap, beramput cepak.
"Anda siapa?" tanya Satpam itu dingin. 'Waduh, kayak di wayang saja. Dia belum menjawab pertanyaan malah ganti nanya,' batin saya.
"Saya Wawan. Saya punya janjian dengan bapak Anu," jawab saya.
Satpam lalu menyodorkan buku tamu dan berkata dengan nada perintah, "Isi dulu buku tamu ini dan tuliskan keperluannya."
Saya menuruti. Selesai mengisi buku tamu, satpam itu lalu menyerahkan ID card bertulis "Tamu".
"Tinggalkan kartu pengenal" katanya sambil menyudurkan ID card itu. Saya mengeluarkan KTP dari dompet dan menyerahkannya.
"Naik saja lewat tangga ini" kata satpam itu masih dengan suara dingin.
Saya melangkah sesuai yang ditunjuk satpam itu. Pada anak pertama, saya bertemu dengan satpam lain yang turun tangga. Tanpa basa-basa, satpam itu berkata pada saya dengan sorot tajam, "Tanda pengenalnya dipakai!" Waduuh! Tidak bisakah memakai kata yang lebih sopan sedikit?? Misalnya memakai kata "Maaf....tolong...."

Usai urusan di sana, saya diajak makan siang di luar. Karena sebagai tamu, saya mengikut saja. Dia mengajak saya melewati jalan pintas, yaitu melalui pintu belakang ruangan divisi lain, dalam perusahaan yang sama. Kemudian keluar melalui pintu utama divisi itu. Usai makan, kami berpisah jalan. Saya kembali melewati jalur semula untuk menukarkan ID-Card dengan KTP. Ketika melewati pintu belakang divisi itu, tiba-riba saya didatangi satpam itu.
"Mas, Anda tidak bisa seenaknya saja mondar-mandir di sini!" katanya dengan ketus.
"Lho tadi saya lewat di sini dengan salah satu karyawan di sini, Anda diam saja. Sekarang saya ditegur, bagaimana sih?" kata saya dalam hati. Saya agak enggan memulai pertengkaran. Saya lalu menyerahkan ID-Card pada satpam yang lain. Dia menyerahkan KTP saya tanpa ekspresi keramahan sedikit pun.

Saya tidak langsung pulang karena ada janjian menunggu teman. Daripada menunggu di luar, maka saya menunggu di dalam ruangan lembaga itu sambil numpang ngadem A.C. Ruangan itu adalah ruang publik. Artinya setiap orang boleh masuk ke sana. Namun saya merasakan, satpam itu terus mengawasi saya. Seolah-olah saya seperti musuh yang gerak-geraknya harus selalu diwaspadai. Beberapa kali dia lewat di dekat saya. Mungkinkah itu untuk mengintimidasi saya? Saya sih cuek saja.

Dalam perjalanan pulang, saya merenungkan kejadian itu. Dalam manajemen dikatakan bahwa perilaku karyawan dipengaruhi oleh budaya perusahaan dan kebijaksanaan manajemen. Jika ini benar, maka perilaku satpam yang serba curiga itu adalah cerminan dari kebijaksanaan yang ditetapkan oleh garis pimpinan. Dalam ranah militer ada dogma, "Setiap orang adalah musuh, kecuali kalau dia sudah terbukti sebagai kawan." Agaknya, lembaga Kristen ini secara tidak sadar menerapkan dogma ini. Setiap orang yang datang ke kantornya wajib dicurigai dulu. Kalau dia terbukti tidak membahayakan, barulah diperlakukan sebagai kawan.

Hal ini berbeda sekali dengan lembaga Kristen yang sejenis dengan lembaga di sana. Satpam di sana memperlakukan setiap orang sebagai tamu. Ketika ada orang yang akan ingin menemui salah satu pegawai di lembaga itu, sang satpam langsung menghantar tamu itu menemui pegawai yang bersangkutan. Dalam hal ini lembaga ini menganut prinsip, "Semua orang adalah kawan kita, kecuali kalau dia menjadi lawan kita." Bukankah ini prinsip yang sangat kristiani?
Waspada itu boleh saja, apakah harus ditunjukkan dengan sikap yang serba curiga begitu. Hari geneeee masih militeristik!!! Kunooo


Wawan
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Selasa, 16 Januari 2007

Tahan Gempa, tapi..

Pada masa rekonstruksi setelah gempa, banyak lembaga menawarkan konsep rumah tahan gempa.

Salah satu LSM dengan bersemangat membangun rumah tahan gempa menggunakan bahan dari kayu dan bambu. Dengan bersemangat salah satu aktivisnya menerangkan kelebihan bangunan itu. “Jika nanti ada gempa besar lagi, meski ikut bergoyang tapi bangunan ini tidak akan ambruk,” jelasnya dengan berapi-api.

“Numpang tanya, mas” salah satu warga berdiri,”apakah rumah itu juga tahan rayap dan angin besar. Soalnya di sini banyak rayap dan sering ada angin besar?”

Sang aktivis LSM hanya nyengar-nyengir saja.

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Panik Boleh, tapi Jangan Porno

Gempa pasti membuat orang panik. Gempa di Jogja dan Jateng terjadi sekitar pukul 6. Waktu itu banyak
orang yang sedang berada di kamar mandi. Salah seorang ibu, anggota jemaat kami mengaku waktu itu
dia sedang di kamar mandi.

Ketika terjadi goncangan hebat, dia segera keluar untuk menyelamatkan diri. Untunglah salah satu
pembantunya mengingatkan bahwa ibu itu tidak memakai sehelai benang pun di tubuhnya. Kontan, dia
menyambar selembar handuk sebelum akhirnya menghambur keluar rumah.

© Purnawan Kristanto (relawan tim Gerakan Kemanusiaan Indonesia di Klaten)

Penyintas=orang yang selamat dari musibah

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Ada Banyak Agus

Di Posko kami, ada banyak relawan yang memakai nama "Agus". Ada yang bernama"Agus Mulia”, “Agus Handoyo”, “Agoes Handojo”, “Agus Permadi”, dan “Agus Subagio.”

Suatu pagi, ada seorang perawat yang berasal dari Kalimantan masuk ke Posko. Dia juga menjadi relawan di posko kami.

"Saya mencari pak Agus?" kata perawat.

"Yang dicari Agus siapa? Di sini ada banyak Agus" jawab koh Yoyok yang memang senang mengusili orang. Dia sendiri bernama lengkap Agus Handoyo.

"Memangnya ada berapa orang yang bernama Agus di sini?" tanya perawat itu dengan heran.

"Di Klaten ini, semua pria dewasa dipanggil dengan nama Agus," jawab koh Yoyok dengan muka serius,"Contohnya, Agus Wawan, Agus Ajion, Agus Mulia."

Perawat itu menjadi bengong. "Oh, begitu ya. Jadi semua pria di sini dipanggil Agus?" tanya perawat itu dengan polos.

Semua orang yang di Posko mengiyakan sambil menahan geli.

Rupanya perawat itu termakan oleh keusilan koh Yoyok. Selama beberapa hari, perawat itu memercayai omongannya. Setiap kali memanggil pria, dia selalu mengawalinya dengan kata “Agus.”

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Lebih Baik Punya Mereka

Pada masa tanggap darurat setelah gempa di Jogja dan Klaten, kami menembus daerah-daerah terpencil
yang belum mendapat bantuan dari pihak lain. Salah satu wilayah yang susah dijangkau adalah
kecamatan Gedangsari, Gunungkidul. Medannya sangat sulit karena harus mendaki perbukitan kapur yang
terjal. Alat transportasi yang paling tepat umtuk wilayah ini adalah dengan sepeda motor. Mobil
tidak dapat menjangkau ke sana karena satu-satunya jembata yang menuju ke desa itu rusak parah
karena gempa.

Saya sebenarnya agak trauma berkendara ke wilayah itu, karena dulu saya pernah terjatuh hingga tak
sadarkan diri di sana.

Namun dengan meminta pertolongan Tuhan, kami akhirnya dapat menembus daerah itu. Saat bertemu
dengan warga di sana, kami meminta bantuan mereka untuk mengangkut bantuan logistik dari posko kami.
Mereka menyambut dengan antusias dan segera mengeluarkan beberapa sepeda motor dari dalam rumah.

Melihat sepeda motor mereka, kami sempat terpana sejenak. "Busyet! Sepeda motor mereka lebih bagus
daripada milik kami" demikian batin saya. Usia sepeda motor itu pun juga lebih muda.

Tetua di kampung itu sepertinya bisa menebak isi pikiran kami. "Alat transportasi paling tepat untuk
desa kami adalah sepeda motor. Karena medan di sini sangat terjal, maka kami membutuhkan sepeda
motor yang masih muda dan bertenaga. Kalau pakai sepeda motor tua, napasnya pasti habis untuk
mendaki lereng bukit ini," demikian katanya.

Saya hanya manggut-manggut saja. Ternyata memang benar. Selama beberapa hari kemudian, alat
trasnprortasi mereka terbukti handal dalam menyelesaikan tugas kemanusiaan ini.

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Sepeda Terjatuh

Seperti biasa, pagi itu mbak Widi belanja ke pasar. Dia mengayuh sepeda dengan santai sambil menikmati suasana pagi. Tapi tiba-tiba dia merasa ada sesuatu yang menggoyang sepedanya. Dia merasa sesuatu yang aneh terjadi pada sepedanya. Kereta anginnya itu mendadak tidak bisa dikuasai sehingga akhirnya dia jatuh terjerembab.

Mbak Widi segera bangun dan mengamati sepedanya untuk mencari tahu apa yang membuatnya terjatuh. Dia menjadi sangat heran karena tidak menemukan sesuatu yang tidak beres pada sepedanya. Jalan yang dilaluinya pun juga tidak ada yang berlubang.

Ketika sampai di pasar, dia baru menyadari apa yang terjadi. Rupanya sepedanya baru saja digoncang oleh gempa berkekuatan 5,9 skala Richter.

Untuk menjaga kebugaran tubuuhnya, mbak Indri dan bu Yono punya kebiasaan bersepeda pagi. Pada saat melewati perumahan, tiba-tiba bu Yono berteriak, "Lho...lho...lho...rumah-rumah itu kok pada ambruk!!!" Mbak Indri mengikuti arah tangan bu Yono. Dia menyaksikan rumah yang bergetar hebat dan ambruk.

Rupanya dia baru saja menyaksikan demonstrasi kekuatan alam, yaitu gempa bumi.


Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Mobil Jenazah

Untuk mengantarkan bantuan pak Yoyok merelakan truknya. Koh Yoyok yang menyopiri. Saya duduk di
sampingnya. Beberapa relawan duduk di bak belakang. Suatu kali, saya turun dari truk dan menutup
pintu mobil. Sambil tertawa koh Yoyok berkata, "Rupanya mas Wawan ini terbiasa menumpang mobil
jenazah!"

"Kenapa emangnya?" tanya saya heran.

"Anda tadi menutup pintu keras sekali, sampai saya terkaget-kaget. Tapi kalau itu mobil jenazah,
penumpangnya 'kan tidak pernah terkejut meskipun sekeras apapun Anda membanting pintu," katanya
sambil terkekeh.

Saya hanya tersenyum kecut karena merasa tersindir. Oke deh, lain kali saya akan pelan-pelan dalam
menutup mobil.

© Purnawan Kristanto (relawan tim Gerakan Kemanusiaan Indonesia di Klaten)

Penyintas=orang yang selamat dari musibah

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More