Minggu, 30 Desember 2007

Nasi bungkus diminta lagi

Minggu siang (30 Des), pdt. Surya menelepon bahwa mereka membutuhkan nasi bungkus lagi. Sore hari sebelumnya, mereka menyatakan bahwa penyaluran bantuan nasi bungkus sudah dihentikan karena air telah surut dan pengungsi sudah pulang ke rumah masing-masing. Padahal kami sudah terlanjur mengerahkan jemaat untuk memasak. Daripada mubazir, maka hari Minggu sore kami akan membagikan nasi bungkus itu dari rumah ke rumah. Untuk itu, kami mendapat tenaga bantuan dari GSM (Guru Sekolah Minggu).
 
Tiba-tiba saya teringat salah satu prinsip relawan kemanusiaan: "Dalam situasi yang tidak normal, jangan berpikir normal." Situasi di wilayah bencana dapat berubah dengan cepat. Untuk itu harus ditanggapi dengan cepat. Kadang harus melanggar prosedur yang ditetapkan sendiri. Namun ada beberapa orang yang tidak paham prinsip ini. Ketika kami memutuskan untuk memobilisasi bantuan dari jemaat, ada salah satu jemaat yang mengingatkan bahwa "harus ada koordinasi" dulu dengan pihak-pihak yang berwenang di gereja. "Kalau harus menunggu rapat-rapat, korban keburu meninggal,"kata saya,"yang penting sekarang kita bergerak dulu dan bantuan dapat dipertanggungjwabkan."
 
Karena diminta lagi, maka nasi bungkus yang sedianya akan dibagikan langsung, kami kirimkan lagi ke gereja di Sangkrah. Yang menjadi masalah, saya sudah berjanji kepada salah satu Tempat Pembinaan Jemaat(TPJ) di Dadapsari untuk memberikan nasi bungkus. Sebegai gantinya kami menawarkan mie instant, beras, selimut, air minum kemasan dan pakaian pantas pakai. Mereka menerimanya.
 
 Saat menurunkan nasi bungkus di Sangkrah, para jemaat sedang beribadah. Supaya tidak mengganggu ibadah, kami buru-buru meluncur ke Dadapsari, sebuah perkampungan padat di pinggir aliran sungai. Karena tempatnya lebih rendah (daerah ledhok) maka pada banjir besar Minggu lalu, wilayah ini tergenang sampai sebatas kepala. Bantuan langsung diturunkan di TPJ. Warga menyambutnya dengan antusias. Berkali-kali mereka mengucapkan "Terimakasih" dan "Puji Tuhan." Menurut informasi teman, bantuan tersebut segera dibagikan dan dimasak.
 
Dalam perjalanan pulang, saya merenung. Kampung Dadapsari itu berada di belakang sebuah pusat perbelanjaan. Saya bertanya dalam hati, apakah pusat perbelanjaan itu telah memberikan bantuan kepada lingkungan di sekitarnya? Secara ekonomi, sebenarnya kota Solo memiliki kemampuan yang kuat untuk menolong diri sendiri. Namun saya menaangkap kesan bahwa pusat-pusat ekonomi di kota bengawan belum menunjukkan adanya sense of disaster. Aktivitas pusat-pusat perbelanjaan masih ramai. Business as usual.
 
Sesungguhnya pemerintah kota Solo dapat mengerahkan bantuan dari perusahaan dan bisnis perdagangan sebagai bagian dari Corporate Social Responsibility mereka. Saatnya bagi pelaku-pelaku bisnis untuk menjalankan salah satu pinsip etika bisnis yaitu kepedulian sosial. Untuk jangka panjang, sesungguhnya ini untuk keuntungan korporasi mereka juga. Dalam istilah rohaninya, "Tabur-tuai".
 
Senin, jam 9, pdt.Yanoe memberitahu bahwa air naik lagi di Solo. Warga mengungsi lagi. Mereka meminta tambahan bantuan nasi bungkus.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Sabtu, 29 Desember 2007

Banjir Surut

Sabtu (29/12) ini cuaca sangat cerah. Di banyak tempat air sudah surut. Daerah-daerah yang sehari sebelumnya digebangi air setinggi sekitar 30 cm, hari ini sudah tampak kering. Debit aliran sungai juga sudah berkurang, menyisakan sampah berserakan di sana-sini. Para pengungsi sudah kembali ke rumah masing-masing untuk mulai bersih-bersih.
Penduduk yang mengungsi di sebuah gereja di Sangkrah sudah pulang. Hal ini cukup menguntungkan mengingat hari Minggu besok tempat itu digunakan untuk beribadah. Hari ini kami dua kali mengirimkan nasi bungkus pada siang dan sore hari. Saat kami mengantarkan ransum untuk sore hari, relawan di Sangkrah menyatakan bahwa bantuan nasi bungkus sudah bisa dihentikan. Nanti kalau membutuhkan lagi, mereka akan menelepon lagi. Tapi untuk esok hari kami sudah terlanjur berbelanja dan menyiapkan nasi bungkus. Maka kami putuskan untuk membagikan langsung nasi bungkus itu satu-persatu ke para pengungsi. Untuk ini, kami mendapat bantuan dari para GSM (Guru Sekolah Minggu).
Semoga saja di hari-hari mendatang curah hujan tidak sehebat dua minggu terakhir. Dalam perjalanan pulang seorang teman membuat lelucon, "Kita salah dalam memberikan bantuan. Mestinya bukan nasi bungkus, melainkan dukun penolak hujan. Kalau hujan tidak datang 'kan tidak ada bencana banjir." Ada-ada saja.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Jumat, 28 Desember 2007

Catatan Perjalanan ke Solo baru

Teknologi SMS memang luar biasa. Dengan menyebarkan berita darurat via SMS, hanya dalam waktu setengah hari, kami dapat mengumpulkan bantuan sebanyak satu pick up untuk bencana banjir di Solo.
Dari komunikasi dengan teman-teman di Solo didapatkan informasi bahwa pengungsi sangat membutuhkan nasi bungkus karena sejak semalam banyak yang belum makan. Mereka tidak dapat memasak karena masih tergenang air. Sedangkan untuk mendapatkan bahan pangan dari tempat lain juga masih kesulitan. Selain itu mereka membutuhkan selimut dan baju kering. Teman yang lain meminta bahan pangan dan beras karena mereka membuka dapur umum. Mereka juga membutuhkan lampu badai dan genset.
Kami menyiapkan dua mobil pengangkut. Namun ketika akan berangkat, kami kebingungan menentukan rute perjalanan karena dari informasi yang didapat, sejumlah jalan utama di kota Solo ditutup karena tergenang air. Akhirnya kami memutuskan untuk melewati Baki, Sukoharjo. Pertimbangannya jika mobil kami tidak mampu menerobos halangan air, maka bantuan akan dititipkan di kantor salah satu jemaat yang tidak kebanjiran. Kemudian dari sana akan diangkuti menggunakan jip off road yang mesinnya ada di atas.
Namun ternyata air sudah mulai surut, sehingga kami bisa menembus Solo Baru. Kami berhenti di daerah Grogol, karena ada posko banjir yang dibuka teman di sana. Kami membagikan nasi bungkus yang segera dibagikan. Namun rupanya teman-teman di posko itu belum melakukan koordinasi yang baik sehingga mereka masih kebingungan apa yang harus dilakukan. Padahal banjir di sana sudah mencapai atap rumah tapi mereka tidak punya perahu atau rakit untuk distribusi bantuan. Alat komunikasi juga minim (Belajar dari pengalaman di posko gempa, alat komunikasi HT sangat membantu kerja kemanusiaan. Selain itu, handphone CDMA juga terbukti murah dan handal. Apalagi tidak ada BTS yang rusak karena bencana)
Setelah itu kami bergerak ke sebuah gereja di Coyudan. Air di jalan masih setinggi sekitar 20 meter, tapi iring-iringan mobil kami masih bisa menembusnya. Sesampai di sana, kami segera menemui pengurus gerejanya. Kami menanyakan bantuan apa yang dibutuhkan. Pengurus menjawab bahwa gerejanya tidak butuh apa-apa. Mereka sudah memiliki dana untuk menyediakan makanan selama dua minggu. Rupanya mereka hanya memberikan bantuan untuk anggota jemaat saja, tidak kepada pengungsi lain.  Karena gereja itu tidak membutuhkan bantuan, maka kami segera bergerak ke gereja di Sangkrah. Sebelum keluar dari gereja di Coyudan, mobil teman yang menyusul baru saja sampai. Dia membawa bantuan biskuit dan air minum yang cukup banyak. Rencananya akan disalurkan ke gereja di Coyudan itu. Tapi karena mereka tidak membutuhkan maka biskuit tersebut kami alihkan ke Sangkrah.
Sampai di Sangkrah sekitar pukul 3 sore. Di depan gereja terpasang kain putih dengan tulisan cat pylox seadanya "Posko Bencana Banjir." Di sana kami bertemu dengan teman-teman relawan. Tanpa disangka, kami melakukan "reuni" lagi. Teman-teman di Sangkrah ini termasuk relawan yang paling cepat datang ke Klaten ketika terjadi gempa 27 Mei 2007. Mereka membantu kami dengan sepenuh hati. Apa saja yang kami butuhkan, mereka berusaha mencarikannya. Mereka juga mengirimkan relawan-relawan. Selain itu, beberapa orang setiap sore mengunjungi posko kami selepas jam kerja. Maka sekarang waktunya bagi kami untuk "membalas budi."
Bantuan segera diturunkan beramai-ramai. Setengah jam kemudian, kami berpamitan karena langit sudah menghitam. Kami khawatir terjadi banjir lagi sehingga mengalami kesulitan pulang. Benar juga, hujan deras menyertai sepanjang perjalanan. Sesampai di Klaten, mobil yang lain sudah siap meluncur ke Sangkrah sambil membawa nasi bungkus. Siang tadi kami mengerahkan ibu-ibu untuk membuat dapur umum.
 
Untuk melihat video liputan saya tentang banjir, silahkan klik link berikut:
http://www.beoscope.com/watch.php?id=20070000095
 
 
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Jumat, 21 Desember 2007

Pengalaman Christmas Carol

Setiap kali mengikuti acara Christmas Carol, selalu ada saja pengalaman rohani yang aku dapatkan. Tahun ini, aku kebagian tugas membawakan renungan untuk kelompok III. Semuanya ada lima kelompok yang mendapat tugas mengunjungi orang-orang yang karena kondisi badannya lemah mereka tidak dapat merayakan Natal bersama-sama.

Setelah mendapat taklimat singkat dari gereja, setiap kelompok kemudian masuk ke dalam mobil masing-masing kemudian meluncur ke rumah-rumah anggota jemaat. Tiga tempat pertama yang kami kunjungi adalah orang-orang yag sudah lanjut usia. Meskipun pendengaran mereka sudah berkurang, tapi mereka terlihat senang. Pada setiap rumah, kami menyanyikan lagu-lagu Natal, mendengarkan renungan singkat, menyalakan lilin, berdoa syafaat dan membagikan bingkisan.

Ketika mengunjungi rumah yang keempat, hatiku berdesir melihat orang yang kami kunjungi. Adalah seorang anak perempuan berusia sepuluh tahun yang tergolek lunglai di tempat tidur. Virus polio dengan ganas menggerogoti kekuatan tubuhnya. Jangankan untuk berjalan, untuk duduk tegak saja dia tak perempuan manis ini tak berdaya. Dia harus dipangku dan ditopang ibunya supaya bisa duduk.

Tapi ketika kami menyanyikan lagu Natal, wajahnya menjadi cerah. Tangan dan kakinya bergerak tak beraturan. Menggapai-gapai kian kemari. Namun justru aku justru ingin menangis. Ya Tuhan, gadis kecil ini yang mestinya berjalan dan berlari menjelajahi dunianya, tapi sekarang dunianya sekarang ini hanya tempat tidur dan sekitar rumahnya. Renungan apa yang harus aku sampaikan kepadanya? Apakah aku bisa menyampaikan renungan tanpa harus mengeluarkan air mata?

Ketika akhirnya harus menyampaikan renungan, aku hanya membacakan kisah kelahiran Yesus dari kitab Matius. Suaraku tertahan di tenggorokan. Mataku kabur karena basah oleh air mata. Setelah itu, kami lebih banyak menyanyikan lagu-lagu Natal. Nampaknya gadis kecil ini lebih senang mendengarkan nyanyian.

Kunjungan kelima adalah kepada seorang nenek yang sudah tua, tapi masih sangat sehat. Hanya daya pendengarannya saja yang sudah berkurang. Kunjungan keenam adalah seorang perempuan dewasa yang tergolek koma. Sudah berbulan-bulan dia terbaring lemah. Perempuan yang berusia sekitar 25 tahun ini mengalami kecelakaan di Semarang. Sepeda motor yang ditumpanginya diseruduk oleh truk, yang kemudian melarikan diri. Sejak kecelakaan itu, perempuan ini belum mengalami kesadaran secara penuh.

Sekali lagi aku bingung harus menyampaikan renungan apa. Akhirnya aku putuskan untuk membaca salah satu pasal dari kitab Mazmur saja. Ketika berpamitan pulang, aku genggam tangannya. Terasa dingin, tapi dia memberikkan reaksi. Dia menggerakkan tangannya. Saat koh Yoyok mengucapkan kata-kata penghiburan, perempuan ini memberikan reaksi. Ekspresi wajahnya berubah. Meskipun tidak bisa berkata-kata, dia kelihatan senang dengan perkunjungan kami.

Tujuan terakhir kami adalah seorang ibu berusia limapuluan tahun yang dirawat di Rumah Sakit Islam. Saat memasuki kompleks rumah sakit, kami ragu-ragu apakah diperbolehkan menyanyikan pujian Natal di sana? Apakah tidak mengganggu pasien lain? Maka kami putuskan untuk menyampaikan renungan, berdoa syafaat dan memberikan bingkisan saja.

Winner, salah satu anggota rombongan, memulai acara dengan menyampaikan maksud kedatangan kami. Kemudian aku dipersilahkan menyampaikan renungan singkat. Selepas renungan, acara berikutnya adalah penyalaaan lilin. Aku tiba-tiba digerakkan untuk mengajak semua orang di ruangan itu untuk menyanyikan lagu Malam Kudus. Ternyata lagu itu sangat menyentuh hati sang ibu yang sedang sakit. Dia menitikkan air mata. Anggota keluarganya yang lain juga ikut terharu. "Terimakasih karena sudah menghadirkan perayaan Natal di tempat ini," kata ibu itu sambil terisak,"ini banyak memberikan penghiburan kepada kami."

Sekitar pukul setengah satu siang, kami menghadiri acara Christmas Carol. Semoga tahun depan tidak banyak orang yang harus kami kunjungi.

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Rabu, 19 Desember 2007

Pengumuman Ngawur

Ketika melewati pertokoan dan perkantoran saya sering membaca tulisan ini:
"Tidak menerima sumbangan dalam bentuk apa pun, kecuali seizin ketua RT"
Komentar: Kalau ada orang asing yang baru belajar bahasa Indonesia, dia pasti akan heran membaca tulisan itu: "Ternyata orang Indonesia itu sangat baik hati dan suka memberi ya. Buktinya, toko dan kantor sampai kewalahan menerima sumbangan sehingga memasang tulisan seperti ini."
 
Ada lagi tulisan di perumahan yang berbunyi:
"Ngamen gratis"
Komentar: Pemilik rumah ini sungguh baik hati. Kalau ada pengamen yang ingin mengamen di depan rumahnya, tidak perlu membayar alias gratis. 
 
Lain lagi bunyi pengumuman di sebuah rumah sakit:
INSTRUKSI
No.: 005/Ins.Dir/RS.I&A/THS/Ska/VII/91
Untuk meningkatkan penggunaan ASI, maka diinstruksikan kepada seluruh pegawai yang bertugas untuk :
Memberikan penyuluhan gizi kepada semua ibu hamil dan meneteki setiapkali ibu-ibu tersebut datang, kapan saja..
Komentar : Hiiii....amit-amit jangan sampai jadi pegawai di Rumah Sakit itu. Bayangkan kalau tiap hari ada 50 ibu-ibu yang datang, apa nggak 'gempor' pegawai itu karena harus meneteki ibu-ibu...  

 
Terakhir, di sebuah tempat parkir ada tulisan:
"Bagi yang membawa sepeda, harap dikunci."
Komentar: Ngeri....ah kalau harus dikunci. Bagian mana dari tubuh pemilik sepeda yang harus dicanteli gembok??!!!
 
 
"If any man wishes to write in a clear style, let him be first clear in his thoughts; and if any would write in a noble style, let him first possess a noble soul"
~ Johann Wolfgang von Goethe                                                                                                                      
::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+
http://purnawan-kristanto.blogspot.com
http://kisah-inspiratif.blogspot.com/
http://www.geocities.com/purnawankristanto/
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Selasa, 11 Desember 2007

Nostalgia SMA


Inilah foto kenangan ketika saya bersekolah di SMA 1 Negeri Wonosari. Foto diambil dalam perjalanan pulang, di jalan sebelah kantor kecamatan Wonosari. Tampak bangunan di belakang adalah sekolah kami.

Dari kiri ke kanan: Saya (naik sepeda), Suwarto yang dipanggil 'Simbah', Hariyantno yang dipanggil Hatno, Umi Anjariyah, Budi Kusumaningsing, Kardiyono yang dipanggil "Kalil", Ismadi (belakang) dan Oni Astuti (kelihatan sepotong). Dimana mereka kini?


Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Rabu, 28 November 2007

Homoseks: Keturunan atau Lingkungan?

Apakah homoseks itu karena pembawaan sejak lahir atau karena dibentuk oleh lingkungan? Topik ini mengalir dalam bincang-bincang saya dengan bu Nunuk dan Tutik, sambil menyantap makan siang (27/Nop).

Apa yang menyebabkan seseorang memiliki orientasi seks yang menyukai sesama jenis? Ada sebagian orang yang berpendapat bahwa orientasi ini dibentuk oleh faktor genetika di dalam tubuhnya. Sebagai contoh, ada anak-anak laki yang sejak kecil berperilaku lemah gemulai layaknya kaum perempuan. Jalannya genit, cara bicaranya lembut dan lebih senang bermain dengan teman perempuan.

Saya berpendapat, teori yang pertama ini memiliki implikasi teologis yang sangat serius. Jika seseorang dibentuk oleh gen-gen yang memiliki orientasi seksual menyukai sesama jenis, maka itu mengandung implikasi bahwa Allah merestui homoseksual. Buktinya, Allah memberikan gen-gen yang "bukan laki-laki" dan "bukan perempuan"

"Sebelum kamu menyimpulkan demikian, renungkanlah penjelasan berikut ini," kata bu Nunuk sambil menyuap makanan. Dia mengunyah sebentar, kemudian melanjutkan penjelasannya,"Pernahkah kamu kamu memikirkan dalam konteks apa teologi bi-seksual, yaitu ajaran yang hanya mengakui dua jenis kelamin: laki-laki dan perempuan itu dibuat? Dalam konteks budaya Patrarkhi di Timur Tengah. Pernah nggak kamu memikirkan bahwa bisa saja terjadi bias budaya di dalam pengajaran teologi biseksual?"

Saya terkesima mendengar penjelasan bu Nunuk. Nasi yang saya telan, seakan tercekat di tenggorokan. Saya buru-buru mengambil air minum untuk menggelontor makanan itu.

"Aku tahu, kamu pasti kaget mendengar logika ini," kata bu Nunuk sambil tersenyum, "Pada mulanya, aku pun terkejut karena hal ini bertentangan dengan iman Katolikku. Tetapi sebagai aktivis HAM, aku berkewajiban berpikir terbuka dan menerima pendapat dari siapa pun," lanjut anggota Komnas Perempuan ini.

"Bisa jadi, selama ini ada orientasi seksual ketiga, yaitu di luar orientasi laki-laki suka dengan perempuan dan perempuan suka dengan laki-laki. Namun selama berabad-abad hal ini direpresi dan ditekan oleh budaya Patriakhi."

"Saya belum bisa menerima pendapat bahwa Allah mungkin menciptakan orientasi seksual yang ketiga ini, bu" jawab saya jujur. "Meski begitu, saya coba memahaminya begini: Memang akhir-akhir ini terjadi perubahan genetika di dalam tubuh manusia. Hal ini akibat dari kemajuan teknologi, peningkatan tingkat kesehatan, membaiknya asupan makanan, tapi juga karena pencemaran. Sebagai contoh, manusia purba memiliki rahang dan gigi yang sangat kuat. Hal ini dibutuhkan untuk mengoyak dan mengigit daging dan makanan lainnya. Namun seiring dengan kemajuan peradaban, bentuk rahang dan gigi manusia mengalami perubahan."

"Maka tak mustahil, perubahan-perubahan ini juga mempengaruhi kromosom pembentuk orientasi seksual manusia. Misalnya, peternak ayam potong sering menyuntikkan hormon estrogen pada hewan ternaknya. Jika dikonsumsi secara berlebihan oleh kaum pria, maka ada kecenderungan pertumbuhan payudara pada kaum pria."

Bu Nunuk manggut-manggut. "Teori yang lain mengatakan bahwa orientasi homoseksual itu dibentuk oleh faktor lingkungan," kata bu Nunuk menimpali ucapan saya. "Pengalaman saya selama mengkonseling beberapa orang, ternyata ada orang yang menjadi homoseks karena pengalaman traumatis di masa lalu. Misalnya, ada anak perempuan yang melihat bapaknya sering menghajar ibunya. Akibatnya dia menjadi benci pada ayahnya dan semua kaum laki-laki."

"Orang yang seperti ini bisa mengalami perubahan,"lanjut pegiat lembaga konsumen ini," kalau punya kemauan yang kuat, dia bisa mengubah orientasi seksualnya menjadi menyukai lawan jenis."

Persoalannya, teori yang mana yang harus saya yakini? Untuk saat ini, saya belum bisa memutuskannya. Saya lalu teringat teman saya. Isterinya minggat bersama dengan teman perempuannya. Dia minta cerai, tapi teman saya menolak. Dia berkeyakinan, apa yang dipersatukan oleh Allah itu tidak dapat dipisahkan oleh manusia.

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Sabtu, 24 November 2007

Naskah Drama Natal

 

Menjelang perayaan Natal, biasanya gereja sibuk mempersiapkan diri dan latihan untuk dipentaskan pada perayaan Natal. Salah satu di antaranya adalah menyiapkan pementasan drama.  Sayangnya, saat ini belum banyak terdapat naskah-naskah drama untuk Natal.

Itu sebabnya, saya ingin membagikan dua naskah mini drama. Salah satu naskah ini pernah sukses dipentaskan di depan anak-anak retardasi mental di Panti Asuhan "Elisabeth," Salatiga.

Berikut sinopsis ceritanya:

1. Mencari Karung Santa

Drama ini bersifat interaktif. Penonton akan dilibatkan untuk melakukan aktivitas tertentu. Misalnya menempelkan gambar pada tempat yang cocok, menyanyi bersama, menghitung bersama dll.

Menjelang bulan Desember, Bu Santa Claus menyiapkan hadiah untuk dibagikan kepada anak-anak di seluruh dunia. Pak Santa sedang tidak ada di rumah karena sedang memperbaiki kereta saljunya. Bu Santa memasukkan semua hadiahnya ke dalam karung.

Sementara itu di sebuah pegunungan, tidak jauh dari rumah Santa Claus, hiduplah lima raksasa. Kelima raksasa itu bernama Raksasa Egois, Raksasa Iri Hati, Raksasa Kebencian, Raksasa Kemarahan dan Raksasa Pemberontak. Mereka sedang mengadakan rapat. Semua raksasa tidak senang pada pekerjaan Santa karena membuat anak-anak di seluruh dunia. Akibatnya, mereka tidak dapat menggoda anak-anak supaya berbuat jahat. Dalam rapat itu diputuskan akan mencuri karung hadiah Santa Claus.

Bu Santa pun harus mencari karung itu. Di tengah jalan, dia bertemu dengan Dora, Diego dan Bud. Santa menceritakan masalah yang dia hadapi. Mereka bergabung dengan perjalanan Santa.

Dalam perjalanan itu mereka menemui berbagai hambatan dari Kelima Raksasa. Supaya mendapatkan karung tersebut, Miss Santa cs harus bisa melewati semua tantangan. Untuk itu mereka harus meminta tolong penonton.

Berkat kekompakan dan kerjasama akhirnya bu Santa berhasil menemukan kembali karungnya yang hilang.  Dia segera membagi-bagikan isi karung kepada penonton.

 

2. Pengharapan di Tengah Kesesakan

Di padang Efrata, Zakaria bertengkar dengan Zebulon. Mereka berebut padang penggembalaan. Simeon menengahi pertengkaran itu. Mereka sepakat untuk menyampaikan persoalan ini kepada majikan masing-masing.

Di tempat lain, Naftali dan Dina (adik-adik Simeon) dikejar-kejar tentara Romawi karena mengamen di pasar. Dia bersembunyi di dalam rumah. Tentara Romawi menyusul sampai di rumah. Sarah (ibu Naftali) memintakan maaf untuk anak-anaknya. Tentara Romawi bersedia melepaskan setelah meminta uang suap.

Di rumah pak Yoas, Simeon menyampaikan persoalan di padang Efrata kepada majikannya itu. Pak Yoas malah mengeluhkan keadaan yang semakin sulit. Padang rumput semakin susah didapat karena dipakai oleh tentara Romawi untuk membangun benteng pertahanan dan pasar. Padang-padang rumput yang tersisa juga dikuasai oleh tentara Romawi. Setiap peternak harus membayar sewa untuk menggembalakan di situ. Yoas tidak merasa tidak mampu membayar sewa. Yoas punya rencana untuk berhenti berternak domba saja.

Simeon pulang ke padang Efrata dengan hati gundah. Kalau Yoas benar-benar menutup usahanya, maka dia akan kehilangan pekerjaan. Padahal dia harus menghidupi ibunya, yang sudah menjanda dan Naftali, adiknya. Saat Simeon sampai di padang Efrata, ibu dan adiknya sudah menyusul di sana. Mereka memberitahukan bahwa kehabisan uang untuk makan besok. Simeon hampir putus asa. Sebelum pulang, ibunya mengingatkan Simeon tentang janji Tuhan yang akan mengirimkan seorang Mesias, yang akan memerintah dengan adil. Simeon menanggapinya dengan dingin.

Tak lama kemudian, terjadi peristiwa luarbiasa. Malaikat mendatangi Simeon dan kawan-kawannya, untuk memberitahukan kedatangan Juruselamat. Para gembala segera pergi ke Betlehem, seperti yang diperintahkan malaikat. Sesudah itu Simeon pulang untuk memberitakan dua kabar baik. Pertama, kabar baik tentang kedatangan juruselamat. Kedua, tentang perkenalannya dengan para Majus di Betlehem. Para Majus itu memberitahukan ada padang rumput yang sangat subur dan luas di sebelah Timur. Simeon lalu berpamitan untuk  untuk menggembala di sana.

Jika Anda tertarik, silakan unduh naskah dalam format PDF pada situs saya:

Drama Natal

Menjelang perayaan Natal, biasanya gereja sibuk mempersiapkan diri dan latihan untuk dipentaskan pada perayaan Natal. Salah satu di antaranya adalah menyiapkan pementasan drama.  Sayangnya, saat ini belum banyak terdapat naskah-naskah drama untuk Natal.

Itu sebabnya, saya ingin membagikan dua naskah mini drama. Salah satu naskah ini pernah sukses dipentaskan di depan anak-anak retardasi mental di Panti Asuhan "Elisabeth," Salatiga.

Berikut sinopsis ceritanya:

1. Mencari Karung Santa

Drama ini bersifat interaktif. Penonton akan dilibatkan untuk melakukan aktivitas tertentu. Misalnya menempelkan gambar pada tempat yang cocok, menyanyi bersama, menghitung bersama dll.

Menjelang bulan Desember, Bu Santa Claus menyiapkan hadiah untuk dibagikan kepada anak-anak di seluruh dunia. Pak Santa sedang tidak ada di rumah karena sedang memperbaiki kereta saljunya. Bu Santa memasukkan semua hadiahnya ke dalam karung.

Sementara itu di sebuah pegunungan, tidak jauh dari rumah Santa Claus, hiduplah lima raksasa. Kelima raksasa itu bernama Raksasa Egois, Raksasa Iri Hati, Raksasa Kebencian, Raksasa Kemarahan dan Raksasa Pemberontak. Mereka sedang mengadakan rapat. Semua raksasa tidak senang pada pekerjaan Santa karena membuat anak-anak di seluruh dunia. Akibatnya, mereka tidak dapat menggoda anak-anak supaya berbuat jahat. Dalam rapat itu diputuskan akan mencuri karung hadiah Santa Claus.

Bu Santa pun harus mencari karung itu. Di tengah jalan, dia bertemu dengan Dora, Diego dan Bud. Santa menceritakan masalah yang dia hadapi. Mereka bergabung dengan perjalanan Santa.

Dalam perjalanan itu mereka menemui berbagai hambatan dari Kelima Raksasa. Supaya mendapatkan karung tersebut, Miss Santa cs harus bisa melewati semua tantangan. Untuk itu mereka harus meminta tolong penonton.

Berkat kekompakan dan kerjasama akhirnya bu Santa berhasil menemukan kembali karungnya yang hilang.  Dia segera membagi-bagikan isi karung kepada penonton.

 

2. Pengharapan di Tengah Kesesakan

Di padang Efrata, Zakaria bertengkar dengan Zebulon. Mereka berebut padang penggembalaan. Simeon menengahi pertengkaran itu. Mereka sepakat untuk menyampaikan persoalan ini kepada majikan masing-masing.

Di tempat lain, Naftali dan Dina (adik-adik Simeon) dikejar-kejar tentara Romawi karena mengamen di pasar. Dia bersembunyi di dalam rumah. Tentara Romawi menyusul sampai di rumah. Sarah (ibu Naftali) memintakan maaf untuk anak-anaknya. Tentara Romawi bersedia melepaskan setelah meminta uang suap.

Di rumah pak Yoas, Simeon menyampaikan persoalan di padang Efrata kepada majikannya itu. Pak Yoas malah mengeluhkan keadaan yang semakin sulit. Padang rumput semakin susah didapat karena dipakai oleh tentara Romawi untuk membangun benteng pertahanan dan pasar. Padang-padang rumput yang tersisa juga dikuasai oleh tentara Romawi. Setiap peternak harus membayar sewa untuk menggembalakan di situ. Yoas tidak merasa tidak mampu membayar sewa. Yoas punya rencana untuk berhenti berternak domba saja.

Simeon pulang ke padang Efrata dengan hati gundah. Kalau Yoas benar-benar menutup usahanya, maka dia akan kehilangan pekerjaan. Padahal dia harus menghidupi ibunya, yang sudah menjanda dan Naftali, adiknya. Saat Simeon sampai di padang Efrata, ibu dan adiknya sudah menyusul di sana. Mereka memberitahukan bahwa kehabisan uang untuk makan besok. Simeon hampir putus asa. Sebelum pulang, ibunya mengingatkan Simeon tentang janji Tuhan yang akan mengirimkan seorang Mesias, yang akan memerintah dengan adil. Simeon menanggapinya dengan dingin.

Tak lama kemudian, terjadi peristiwa luarbiasa. Malaikat mendatangi Simeon dan kawan-kawannya, untuk memberitahukan kedatangan Juruselamat. Para gembala segera pergi ke Betlehem, seperti yang diperintahkan malaikat. Sesudah itu Simeon pulang untuk memberitakan dua kabar baik. Pertama, kabar baik tentang kedatangan juruselamat. Kedua, tentang perkenalannya dengan para Majus di Betlehem. Para Majus itu memberitahukan ada padang rumput yang sangat subur dan luas di sebelah Timur. Simeon lalu berpamitan untuk  untuk menggembala di sana.

Jika Anda tertarik, silakan unduh naskah dalam format PDF pada situs saya:

http://www.geocities.com/purnawankristanto/download.html

 

 

 

 

"If any man wishes to write in a clear style, let him be first clear in his thoughts; and if any would write in a noble style, let him first possess a noble soul"
~ Johann Wolfgang von Goethe                                                                                                                      
::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+::+
** Kunjungi Blog saya:
http://purnawan-kristanto.blogspot.com
http://kisah-inspiratif.blogspot.com/
** Kunjungi situs saya:
http://www.geocities.com/purnawankristanto/
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Naskah Drama Natal

Menjelang perayaan Natal, biasanya gereja sibuk mempersiapkan diri dan latihan untuk dipentaskan pada perayaan Natal. Salah satu di antaranya adalah menyiapkan pementasan drama.  Sayangnya, saat ini belum banyak terdapat naskah-naskah drama untuk Natal.

Itu sebabnya, saya ingin membagikan dua naskah mini drama. Salah satu naskah ini pernah sukses dipentaskan di depan anak-anak retardasi mental di Panti Asuhan "Elisabeth," Salatiga.

Berikut sinopsis ceritanya:

1. Mencari Karung Santa

Drama ini bersifat interaktif. Penonton akan dilibatkan untuk melakukan aktivitas tertentu. Misalnya menempelkan gambar pada tempat yang cocok, menyanyi bersama, menghitung bersama dll.

Menjelang bulan Desember, Bu Santa Claus menyiapkan hadiah untuk dibagikan kepada anak-anak di seluruh dunia. Pak Santa sedang tidak ada di rumah karena sedang memperbaiki kereta saljunya. Bu Santa memasukkan semua hadiahnya ke dalam karung.

Sementara itu di sebuah pegunungan, tidak jauh dari rumah Santa Claus, hiduplah lima raksasa. Kelima raksasa itu bernama Raksasa Egois, Raksasa Iri Hati, Raksasa Kebencian, Raksasa Kemarahan dan Raksasa Pemberontak. Mereka sedang mengadakan rapat. Semua raksasa tidak senang pada pekerjaan Santa karena membuat anak-anak di seluruh dunia. Akibatnya, mereka tidak dapat menggoda anak-anak supaya berbuat jahat. Dalam rapat itu diputuskan akan mencuri karung hadiah Santa Claus.

Bu Santa pun harus mencari karung itu. Di tengah jalan, dia bertemu dengan Dora, Diego dan Bud. Santa menceritakan masalah yang dia hadapi. Mereka bergabung dengan perjalanan Santa.

Dalam perjalanan itu mereka menemui berbagai hambatan dari Kelima Raksasa. Supaya mendapatkan karung tersebut, Miss Santa cs harus bisa melewati semua tantangan. Untuk itu mereka harus meminta tolong penonton.

Berkat kekompakan dan kerjasama akhirnya bu Santa berhasil menemukan kembali karungnya yang hilang.  Dia segera membagi-bagikan isi karung kepada penonton.

 

2. Pengharapan di Tengah Kesesakan

Di padang Efrata, Zakaria bertengkar dengan Zebulon. Mereka berebut padang penggembalaan. Simeon menengahi pertengkaran itu. Mereka sepakat untuk menyampaikan persoalan ini kepada majikan masing-masing.

Di tempat lain, Naftali dan Dina (adik-adik Simeon) dikejar-kejar tentara Romawi karena mengamen di pasar. Dia bersembunyi di dalam rumah. Tentara Romawi menyusul sampai di rumah. Sarah (ibu Naftali) memintakan maaf untuk anak-anaknya. Tentara Romawi bersedia melepaskan setelah meminta uang suap.

Di rumah pak Yoas, Simeon menyampaikan persoalan di padang Efrata kepada majikannya itu. Pak Yoas malah mengeluhkan keadaan yang semakin sulit. Padang rumput semakin susah didapat karena dipakai oleh tentara Romawi untuk membangun benteng pertahanan dan pasar. Padang-padang rumput yang tersisa juga dikuasai oleh tentara Romawi. Setiap peternak harus membayar sewa untuk menggembalakan di situ. Yoas tidak merasa tidak mampu membayar sewa. Yoas punya rencana untuk berhenti berternak domba saja.

Simeon pulang ke padang Efrata dengan hati gundah. Kalau Yoas benar-benar menutup usahanya, maka dia akan kehilangan pekerjaan. Padahal dia harus menghidupi ibunya, yang sudah menjanda dan Naftali, adiknya. Saat Simeon sampai di padang Efrata, ibu dan adiknya sudah menyusul di sana. Mereka memberitahukan bahwa kehabisan uang untuk makan besok. Simeon hampir putus asa. Sebelum pulang, ibunya mengingatkan Simeon tentang janji Tuhan yang akan mengirimkan seorang Mesias, yang akan memerintah dengan adil. Simeon menanggapinya dengan dingin.

Tak lama kemudian, terjadi peristiwa luarbiasa. Malaikat mendatangi Simeon dan kawan-kawannya, untuk memberitahukan kedatangan Juruselamat. Para gembala segera pergi ke Betlehem, seperti yang diperintahkan malaikat. Sesudah itu Simeon pulang untuk memberitakan dua kabar baik. Pertama, kabar baik tentang kedatangan juruselamat. Kedua, tentang perkenalannya dengan para Majus di Betlehem. Para Majus itu memberitahukan ada padang rumput yang sangat subur dan luas di sebelah Timur. Simeon lalu berpamitan untuk  untuk menggembala di sana.

Jika Anda tertarik, silakan unduh naskah dalam format PDF pada situs saya:

http://www.geocities.com/purnawankristanto/download.html

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Sedan Hijauku Hilang (Cerpen Natal)

 Cerpen: Purnawan Kristanto

 

Memandang keluar dari jendela bis, aku melihat banyak perubahan yang terjadi di kampung halamanku. Aku menyaksikan banyak yang sudah berubah sejak aku meninggalkan kabupaten Gunungkidul sejak dua puluh tahun yang lalu. Jalannya masih berliku-liku, namun sudah mulus dengan aspal hotmix. Angkutan umum dari Jogja ke Wonosari juga sudah banyak. Kata sopir yang kutumpangi, setiap 3 menit sekali ada bis yang berangkat dari terminal.

Dulu, jumlah kendaran umum masih sedikit. Meski seluruh kursi sudah terisi penuh, sopir belum juga menjalankan kendaraannya. Dia masih akan menjejalkan penumpang sehingga deretan kursi untuk empat orang, harus diisi lima penumpang. Itu saja masih ditambah bangku kecil yang disebut dingklik yang diletakkan di dekat pintu samping. Penumpang yang tidak mendapat tempat duduk harus bergelayutan di pintu mobil atau duduk di atap mobil.

Mobil berjalan terseok-seok meninggalkan jejak asap dan debu. Perjalanan menyelusuri punggung bukit kapur itu sungguh menyiksa. Kami  melewati jalan-jalan yang berkelok-kelok dengan tanjakan yang curam. Setiap kali mobil merayapi tanjakan, kenek selalu memegang balok kayu seukuran paha manusia. Sewaktu-waktu mobil tidak kuat menanjak, dengan sigap dia melompat turun dan menyorongkan balok itu di belakang ban supaya mobil tidak melorot. Setelah itu, sebagian penumpang harus turun supaya beban menjadi ringan. Mereka harus berjalan kaki hingga puncak tanjakan.

Aku lebih suka duduk di atap kendaraan. Meski sedikit berbahaya, tapi di tempat ini bisa menghirup udara segar. Kalau duduk di dalam, mulutku menjadi mual-mual karena menghirup hawa panas bercampur keringat penumpang. Itu saja masih ditingkahi bau minyak angin yang dioles-oleskan penumpang untuk mencegah mabuk. Apalagi kalau pas hari pasaran. Aroma belanjaan seperti ikan asin, bawang dan terasi semakin menambah pengap.

Aku menyandarkan kepalaku di sandaran jok dan mencoba memejamkan mata. Tiba-tiba wajahku terpercik air. Rupanya tetesan air hujan memercik lewat jendela bis yang sengaja kubuka.  Hmmm.... aku senang mencium bau tanah kering yang tersiram air hujan. Warga desa kami selalu menyambut hujan dengan sukacita, karena itu berarti kami mulai bisa menanami ladang. Kami juga tidak lagi harus meminum air telaga yang kecoklaktan. Pada musim kemarau, belik dan sumur menjadi kering. Satu-satunya sumber air yang tersisa adalah telaga di pinggiri desa yang bersama-sama dipakai untuk mandi, mencuci baju, dan memandikan sapi. Entah mengapa, kami jarang sakit meskipun mengkonsumsi air yang tidak hiegenis itu. Mungkin ini karunia Tuhan.

Hujan mengingatkan aku pada perayaan Natal di desaku. Tidak ada perayaan Natal tanpa guyuran hujan. Dulu, aku biasa berpayung daun pisang ketika berangkat ke perayaan Natal. Sepatu kubungkus plastik, lalu aku berlari menerabas jalan berlumpur dengan bertelanjang kaki. Sampai di balai desa, barulah aku mencuci kaki dan memakai sepatu.

Sehari sebelumnya, seluruh jemaat mulai dari anak-anak sudah sibuk menyiapkan perayaan itu. Anak-anak datang ke balai desa sambil membawa kayu bakar dan gulungan daun pisang yang sudah dilepaskan dari batangnya. Kayu bakar dipakai untuk memasak.Daun pisang digunakan untuk membungkus nasi. Kaum pria sibuk menyiapkan panggung dan menata kursi. Beberapa pemuda menebang pucuk pohon cemara di hutan pinggrian desa dan menghiasinya. Ibu-ibu menanak nasi dan menyiapkan lauk-pauk. Setelah matang, nasi dan lauk dibungkus dengan daun pisang. Kedua ujungnya dilipat dan ditusuk dengan batang lidi sehingga secara sepintas seperti mobil sedan. Iti sebabnya sambil bergurau kami sering menjulukinya "sedan hijau". Nasi panas yang menyentuh daun pisang itu menimbulkan aroma masakan khas. Beda sekali jika nasi itu dibungkus dengan kertas minyak atau piring.

Natal yang sederhana, namun kami merasakan kehangatan kebersamaan sejak menyiapkan perayaan itu. Begitu memasuki bulan Desember, anak-anak Sekolah Minggu mulai giat menghapalkan ayat yang akan dipertunjukkan pada tamu undangan. Aku paling senang melatih drama anak-anak, memakai naskah buatanku sendiri.  Karena berbagai keterbatasan di desa saya memanfaatkan korden jendela dan sprei sebagai jubah pemeran orang-orang di tanah Palestina.

Sudah dua puluh tahun aku tidak merayakan Natal di desa.Seperti apakah Natal di desaku? Semoga saja masih seperti dulu. Bis berhenti di simpang tiga Mbranang. Aku turun di sini.

"Selamat datang, Mas," sambut Titus yang menjemputku dengan sepeda motor. Wah, anak ini sudah menjadi pemuda, batinku. Dia pernah menjadi murid Sekolah Mingguku. Waktu kecil, badannya kurus. Perutnya buncit karena cacingan. Hidungnya sering beringus. Tapi sekarang sudah menjadi pemuda yang berbadan tegap.

"Perayaan Natal nanti malam dimulai jam berapa?" tanyaku sambil melangkah di boncengan sepeda motor.

"Jam tujuh, di gedung gereja, Mas" jawab Titus.

"Lho, biasanya di Balai Desa, to?"

"Sekarang sudah lain, Mas?"

"Lain bagaimana maksudnya?".

"Sudah tiga tahun ini kami tidak boleh Natalan di Balai Desa?"

"Lho, mengapa begitu" tanyaku heran.

"Entahlah," jawab Titus,"Katanya sih ada peraturan kalau Balai Desa tidak boleh dipakai untuk kegiatan keagamaan."

"Alasanya apa?"

"Kata pak Lurah, ini untuk menjaga kerukunan antar umat beragama."

Aku tercenung sesaat. Lho, apa hubungannya penggunaan balai desa dengan kerukunan? Bukankah selama ini semaunya baik-baik saja? Sama seperti Lebaran, perayaan Natal sudah menjadi hari besar yang dirayakan seluruh warga desaku. Setiap kali perayaan Natal, hampir seluruh warga desa berbondong-bondong Balai Desa untuk melihat pertunjukkan hiburan. Maklumlah, di desa tidak banyak hiburan. Tapi aku diberitahu Titus kalau tradisi itu sudah menghilang. Perayaan keagamaan di desaku kini hanya menjadi milik umat agama itu saja.

Sampai di rumah, berbaring sejenak untuk melepas penat. Tidak banyak yang berubah di kamarku. Poster Gabriel Batistuta, pemain bola yang kukagumi,  masih terpampang di pintu lemari. Kain tirai jendela kamar juga tidak berganti. Warnanya sudah memudar, tapi bersih dan harum. Kasurnya terasa empuk. Pasti baru saja dijemur.

Menjelang petang, aku mandi. Sekarang aku tidak perlu lagi mandi di telaga karena orangtua sudah berlangganan air PAM. Airnya cukup jernih karena diambil dari sungai bawah tanah. Aku sudah tak sabar untuk segera pergi ke gereja. Hujan sudah turun sejak pukul tiga sore. Kami sekeluarga berangkat bersama-sama, menyusuri jalan desa yang sudah dikonblok..

Aha itu dia si Aris! "Selamat hari Natal. Sekarang kerja dimana?" sapaku.

Aris mengeluarkan kartu namanya. Rupanya dia menjadi Webmaster sebuah situs berita. Aku masih ingat, dulu pakaiannya selalu kusut. Kamarnya berantakan.Buku-buku berserakan di lantai. Berbagai komponen elektronik tersebar di berbagai tempat Orang ini memang jenius. Mungkin itulah sebabnya dia tidak sempat mengurus diri. Tapi penampilannya sekarang cukup rapi. Rambutnya masih panjang, tetapi diikat rapi di belakang.

Nah, itu Wahyudi, si pedagang kain di pasar Tanah Abang. Waktu kecil, dia jago main ketapel. Kami suka berburu tupai di kebun kelapa milik mbah Kromosentono. Itu ada Suwardi, yang waktu kecil suka mencari belalang kayu untuk tambahan lauk.. Wah, sekarang dia menjabat Dirjen di Departeman Keuangan. Wah, sudah sukses anak ini. Hey, bukankah itu Yuli., si ibu Bidan? Dulu, teman- teman sering menjodoh-jodohkan aku dengan gadis hitam manis ini.

Aku senang teman-temanku sudah sukses. Mereka pulang kampung dengan mengendarai. Tak lupa, mereka menggenggam Handphone model terbaru. Ada yang dilengkapi kamera digital. Ada pula yang berbentuk PDA. Selama acara berlangsung, HP mereka tak henti-henti berbunyi. Mereka terlihat sibuk membalas SMS. Mungkin itu ucapan selamat Natal dari relasi mereka.

Aku memilih duduk di pojok belakang. Acara sambutan-sambutan itu membuatku tersisa. Dari sejak aku kecil sampai kini isi sambutan ya hanya itu-itu saja. Orang yang memberi sambutan pun hanya orang itu-itu juga. Mengapa sih tidak dihilangkan saja?

"Wah tidak bisa, Wan" kata Ayahku saat aku mengusulkan agar sambutan itu dikurangi saja. "Itu adalah bagian tradisi dan penghormatan kita kepada orang yang dituakan."

"Tradisi 'kan bisa diubah. Lha wong Undang-undang Dasar saja sekarang bisa diubah kok," batinku sambil ngedumel.

Nah ini dia, waktunya makan. Aku sudah mengidamkan "sedan hijau" itu. Sudah lama aku tidak menikmati nasi merah, sayur lombok, sambel kering, plus telur ayam kampung yang dibungkus daun pisang. Aku menelan air ludah. Tapi,.... lho yang dibagikan kok bungkusan sterofoam? Mana bungkusan "sedan hijau itu? Dengan ogah-ogahan aku membuka tutup sterofoam itu. Isinya nasi dan ayam goreng tepung dari sebuah restoran siap saji dari Amerika. Hmm...globalisasi sudah merembes sampai di Gunungkidul, bantinku.

"Lho mana sedan hijaunya?" bisikku pada Titus.

"Sekarang sudah diganti, Mas. Jemaat sekarang sudah ogah direpoti urusan menyiapkan makanan," jawab Titus sambil membuka kotak stereofoam. Minumnya juga sudah diganti. Tidak lagi segelas teh melati, tapi air putih dalam kemasan gelas plastik

"Dengan memesan makanan begini, 'kan lebih praktis dan lebih bergengsi," lanjut Titus sambil melahap makanan. Aku menyisihkan bungkusan itu. Tiba-tiba, aku kehilangan selera makanan, padahal sejak siang tadi sengaja kukosongkan perutku demi sedan hijau itu.

"Tapi mengapa tidak memesan makanan yang khas di sini saja?" tanyaku kecewa.

"Kami sudah bosan dengan menu yang itu-itu saja. Lagi pula ini sumbangan dari mas Joko Susilo. Itu lho, teman Mas yang menjadi akuntan publik,"terang Titus dengan mulut penuh. Dia lalu mengatakan bahwa jemaat tidak lagi dipungut iuran untuk biaya Natal ini. Semua biaya sudah disumbang oleh teman-temanku yang sudah sukses itu.  Ada yang menyumbang makanan. Ada yang menanggung dekorasi dan video. Ada yang membayari penari profesional. Ada juga yang nanggap grup lawak untuk acara hiburan.

"Pantas ada banyak umbul-umbul dan spanduk perusahaan di depan gereja. Jadi, mereka mensponsori perayaan Natal ini, to?" tanyaku kaget.

Titus mengangguk bangga. Aku terdiam.

 Teman-temanku membanggakan keberhasilan mereka. Lalu apa yang bisa kubanggakan? Seorang penulis lepas sepertiku, jelas tidak punya logo perusahaan untuk kupasang di spanduk di depan gereja. Aha! Sebaiknya kutulis saja ceritaku ini, lalu kukirimkan ke koran. Semoga Natal tahun depan aku bisa memfotokopi cerpenku yang sudah dimuat dan menunjukkan pada  orang-orang di desaku.

Gunungkidul, Desember 2004

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Keajaiban Kasih

Kasih itu suatu keajaiban

Dan senantiasa demikian

Karena kasih tetap merupakan

Rahasia indah dari kehidupan !

 

Kasih bekerja dalam berbagai cara

Yang mengherankan

Dan mengagumkan tiada terkira

Dan tiada apapun dalam kehidupan

Yang kasih tak sanggup ubahkan,

 

Kasih dapat mengubahkan

Keadaan serba biasa

Menjadi luar biasa dan indah

Lembut dan penuh anugerah !

 

Kasih tiada serakah

Mau mengerti dan ramah

Karena kasih melihat dengan hati

Dan bukan dengan akal budi !

 

Kasih adalah jawaban

Yang dicari setiap insan

Kasih adalah bahasa

Sarana tiap hati berbicara,

 

Kasih tak dapat diperniagakan

Tak ternilai tetapi cuma-cuma

Kasih itu adalah keajaiban

Merupakan rahasia yang mengagumkan

 

Puisi ini pernah dibacakan pada Pertunangan kami, [Purnawan dan Pelangi]

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Menghindar dari Perangkap Trauma

Bencana sekecil apapun pasti meninggalkan jejak goresan yang tak terhapuskan dalam kenangan manusia. Sesaat setelah bencana, korban menjadi tertegun dan bingung. Dia tidak percaya atas apa yang terjadi. Dia masih berusaha menolak realitas di depan matanya.

Beberapa waktu kemudian, muncul berbagai reaksi lanjutan dari peristiwa yang traumatis seperti ini:

Perasaan memuncak dan tak terduga. Korban menjadi mudah tersinggung. Suasana hatinya mudah berubah-ubah. Dia mengalami kecemasan, kegugupan dan tertekan.

Pola pikir dan perilakunya terpengaruh trauma. Dia sering kali teringat lagi pada peristiwa itu. Kenangan ini muncul begitu saja, tanpa sebab, yang menyebabkan reaksi fisik seperti jantung berdebar atau keringat dingin. Dia juga kesulitan berkonsentasi, membuat keputusan dan mudah bingung. Pola tidur dan makannya juga terganggu.

Reaksi emosi yang berulang-ulang. Peringatan yang berkaitan dengan bencana itu bisa memicu lembali kenangan buruknya. Misalnya peringatan setahun bencana itu, suara sirene, suara gaduh, atau melihat pemandangan mengenaskan. "Pemicuan" kenangan ini disertai kekhawatiran bahwa kejadian itu akan terulang lagi.

Hubungan antar manusia menjadi tegang. Sering terjadi konflik di antara anggota keluarga atau antara korban dengan relawan kemanusiaan. Jika korban enggan berkonflik, dia menarik diri untuk mengisolasi diri.

Trauma psikis yang sangat berat kemungkinan besar akan disertai dengan gangguan fisik seperti kepala pusing, perut mual dan dada nyeri.  Bagaimana jika Anda mengalami peristiwa traumatis? Apa yang bisa Anda lakukan untuk memulihkan diri?

Persiapkan diri Anda. Sadarilah bahwa Anda akan mengalami masa-masa yang sulit. Biarkanlah Anda menangisi semua kehilangan Anda. Bersabarlah terhadap perubahan emosi Anda.

 Minta bantuan orang lain. Carilah orang yang rela mendengarkan keluh kesah dan berempati kepada Anda. Tapi ingat, pertolongan itu bisa sia-sia jika orang itu juga pernah mengalami atau menyaksikan bencana yang membuatnya trauma. Curahkan isi hati Anda pada keluarga atau sahabat Anda. Anda bisa juga menuangkannya dalam buku harian.

Temuilah Lembaga Swadaya Masyarakat.  Ada LSM yang memberi bantuan pemulihan trauma akibat bencana alam, konflik sosial atau korban penjahatan (misalnya perkosaan). Carilah LSM yang berpengalaman dan punya tenaga yang terlatih dan profesional. Biasanya mereka memfasilitasi kelompok diskusi yang anggotanya terdiri dari para korban. Diskusi ini mendorong antar korban untuk saling menghibur dan menguatkan.

Lakukan kebiasaan sehat. Olahraga yang teratur dapat meningkatkan daya tahan Anda terhadap stres. Makan dengan gizi seimbang dan istirahat yang cukup. Jika kesulitan tidur, gunakan teknik relaksasi. Hindari penggunaan alkohol dan obat tidur.

Ciptakan kembali pola rutinitas. Makan, tidur dan bangun pada jam-jam tertentu.

Hindari membuat keputusan besar. Misalnya berganti pekerjaan, berhutang dalam jumlah besar atau menikah. Keputusan ini berpotensi menimbulkan stres yang tinggi.

Sumber: www.psychworks.com; www.agnr.umd.edu; www.fcs.uga.edu

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Rabu, 21 November 2007

Video Panggung Boneka

Bulan September 2007 saya mengikuti Pelatihan Penanggulangan Gempa Berbasis Masyarakat di Bali. Dalam pelatihan tersebut, kami diajari cara menggunakan boneka. Sekembalinya ke tempat masing-masing, setiap peserta dibekali dengan film boneka tentang bencana, boneka muppet dan komik. Peserta diharapkan untuk memutar video tersebut di komunitas masing-masing dan menggunakan boneka sebagai media interaksi dengan anak-anak.
Berikut ini saya upload video tentang gempa. Ceritanya ckup bagus, informatif dan menarik untuk ditonton. Jika ada pengunjung yang ingin informasi lebih lanjut entang program ini, silakan kontak saya. Terimakasih.
Untuk melihat video tersebut, klik di sini:

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Belalang Goreng (Fried Locust)

Bagi sebagian besar orang, belalang dianggap sebagai hama. Tapi masyarakat Gunungkidul mengubah hama itu menjadi camilan yang lezat. Rasanya seperti udang goreng. Silakan coba makanan khas tempat kelahiran saya ini. Tapi hati-hati bagi orang yang alergi.Lihat video tentang belalang goreng ini, di sini!

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Selasa, 06 November 2007

Gereja pun Jadi Sasaran Penipuan

Para penipu sudah benar-benar nekat. Gereja pun sekarang menjadi target penipuan. Selasa sore (6 Nop), telepon di rumah kami berdering. "Apa betul ini (menyebut nama gereja kami)?" tanya penelepon. Dari suaranya, kelihatannya berdialek dari Indonesia bagian Timur.
"Ini rumah pastori. Silakan Bapak telepon kantor gereja," jawab saya.
"Apakah bisa bicara dengan pendetanya?" si penelepon tidak menggubris jawaban saya.
"Ini darimana?" tanya saya.
"Saya dari Depag," jawab suara di seberang [Cling.....! Saya teringat peristiwa serupa setahun yang lalu].
"Apa yang bisa saya bantu?" tanya saya.
"Apa bisa bicara dengan pendetanya?"
"Ya saya pendetanya," jawab saya berbohong. Padahal yang jadi pendeta itu isteri saya.
"Nama Bapak siapa?" tanyanya [Lho...Anda yang menelepon, tapi Anda tidak tahu siapa yang akan Anda telepon, batin saya]
"Lho Anda mencari siapa?" tanya saya mengelak.
"Saya mencari pendetanya"
"Ya saya pendetanya." [Isteri saya melihat sambil tersenyum-senyum]
"Oke, kalau begitu Bapak diminta untuk menelepon Dirjen Pembimas Kristen, Bapak....(menyebut seorang nama Jawa dengan nama baptis)."
"Ada perlu apa saya harus menelepon beliau?" tanya saya.
"Ada urusan yang sangat penting" jawabnya.
"Yang punya kepentingan itu 'kan dari Depag. Kalau memang itu sangat penting, mengapa bukan bapak dirjen Pembimas sendiri yang menelepon ke sini. Mengapa saya yang harus menelepon?" jawab saya.
Tuuuut...tuuuuut....tut!!! Telepon dimatikan.
Mungkin saya telah bersikap ketus dan kasar. Tapi ini bukan pengalaman yang pertama. Setahun yang lalu, isteri saya menerima telepon yang mengaku dari Depag.  Si penelepon mengatakan bahwa gereja kami akan menerima bantuan dari Depag. Namun ujung-ujungnya, mereka minta duit. Saat itu isteri saya menjawab, "Kalau bantuan itu memang benar, silakan kirim surat resmi ke Majelis Jemaat gereja. Nanti kami akan menanggapinya secara resmi." Saat itu juga telepon diputus.
Semoga kisah ini bermanfaat supaya kita tetap waspada.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Rabu, 03 Oktober 2007

Umpan Ampuh untuk Mengail Ide



Bagi penulis, “ide” adalah makhluk yang menggemaskan. Kedatangannya tak dapat dijadwal tepat waktu, mirip sekali dengan pelayanan kereta api di Indonesia. Ketika kita sangat membutuhkan, dia malah jual mahal, bersembunyi entah dimana. Ketika kita sedang tidak siap menulis, dia malah menari-nari menggoda otak kita.
Namun tidak usah khawatir. Anda sebenarnya dapat memasang umpan yang jitu untuk mengail ide pada saat membutuhkannya. Anda memiliki tiga jenis umpan, yaitu umpan ingatan, umpan pengamatan dan umpan riset.
1. Ingatan
Theodore Roosevelt berkata, “Do what you can, with what you have, where you are.” Kita dapat memulai mendapatkan bahan cerita dari apa yang sudah kita miliki saat ini, yaitu ingatan atau memori.
Pengalaman dan masa lalu Anda merupakan sumber cerita yang tak ada habis-habisnya. Sejak kecil kita mengumpulkan banyak kenangan mengenai orang, tempat, peristiwa dan benda-benda lainnya. Ingatan ini seringkali muncul begitu saja tanda diduga, terutama ketika dipicu oleh keadaan tertentu. Mencium parfum tertentu, mengingatkan pada cinta pertama Anda. Suara sirine memunculkan memori tentang tragedi yang pernah dialami di masa lampau. Melihat album foto membawa angan-angan Anda kembali mengenang masa kecil.
Namun ketika akan membuat cerita, ada kalanya pemicuan tersebut tidak terjadi sehingga kita kesulitan membangkitkan kenangan di masa lalu. Hal ini dapat disiasati dengan memakai empat metode berikut ini:



a. Kode Kata
Salah satu kunci untuk membuka peti ingatan kita adalah dengan kode kata. Cara yang dipakai adalah memilih kata kunci dari tema cerita atau premise yang sudah ditentukan. Kata ini dipakai sebagai pijakan awal yang akan menuntun kita untuk menemukan satu tema cerita yang spesifik. Setiap kata akan memicu Anda untuk memikirkan beberapa pengalaman. Ketika Anda mengingat kembali satu pengalaman, hal itu akan mendorong Anda untuk menghubungkannya dengan pengalaman lain yang mungkin terlupakan.
Berikut contohnya:
· Bunga
· Tukang Kebun
· Sederhana
· Anak banyak
· Nakal
· Polisi
· Kegaduhan
Perhatikan daftar di atas dimulai dari kata yang netral “bunga”. Kata tersebut berhubungan dengan “tukang kebun.” Demikian seterusnya, hingga akhirnya kita menemukan bahan cerita. Dari serangkaian kata-kata ini didapatlah bahan cerita tentang kehidupan tukang kebun yang sederhana, punya anak banyak tapi nakal-nakal sehingga terpaksa berurusan dengan polisi.
Anda bisa memulai metode ini dengan satu kata kunci dari pengajaran yang hendak Anda sampaikan. Misalnya, ketaatan, kerendahan hati, ketegaran, kasih, sukacita dll.

b. Curah Gagasan (Brainstorming)
Metode ini merupakan pengembangan dari metode kode kata. Berawal dari sebuah kata, kita menuliskan semua ide yang berkaitan dengan kata tersebut. Hal ini dapat diibaratkan seperti mencurahkan air di dalam gelas ke dalam baskom. Seluruh isi gelas dituangkan semuanya. Tidak ada yang dipilih-pilih. Demikian juga dalam menuliskan ide, tuliskanlah apa saja yang terlintas di otak Anda, tanpa menyeleksinya. Anda tidak perlu memusingkan urut-urutannya, alur logika atau ejaan tulisan.
Contoh:
Ikan
Rasul Petrus menjala ikan
Yesus ikut makan ikan
Ikan bakar bebas kolesterol
Memancing itu asyik
Menjala hasilnya lebih banyak
Yunus pernah ditelan oleh ikan besar
Hati-hati tertusuk duri ikan
Ketika semua ide sudah dituangkan, selanjutnya bacalah daftar ide Anda. Apakah Anda dapat menarik sebuah benang merah di antara daftar itu? Apakah ada ide yang perlu dibuang? Apakah ada kaitan diantara ide tersebut? Setelah membaca kembali daftar ide di atas, saya mendapat ide membuat cerita tentang petualangan dua ekor ikan pada zaman Yesus. Salah satu ikan tersebut tersangkut dalam jaring yang ditebarkan Petrus.

c. Menulis Bebas
Metode ini hampir mirip dengan melamun. Caranya diawali dengan suatu kata tertentu, Anda menulis secara bebas. Tidak harus berkaitan dengan kata kunci tertentu (inilah perbedaan dengan curah gagasan). Tujuan utamanya adalah menulis kalimat sebanyak-banyaknya dalam waktu tertentu (5-10 menit) tanpa berhenti. Anda tidak perlu merisaukan arah tulisan tersebut dan ketepatan ejaan. Tulis saja dengan bebas.
Contoh:
Cerita apa yang bisa kubuat? Ah aku belum punya ide sama sekali. Ide, ide, ide…mengapa ketika dibutuhkan justru tidak datang. Tapi ketika sedang tidak butuh, engkau datang tiba-tiba tanpa memberitahu dulu. Datangmu seperti pencuri. Tidak tahu kapan engkau datang. Engkau datang tanpa mengetuk, dan pergi tanpa permisi. Eh, ya…Tuhan Yesus ‘kan pernah juga memakai perumpamaan ini untuk menggambarkan waktu kedatangan-Nya yang kedua. Kita tidak akan pernah tahu, kapan Dia akan datang lagi sebagai Hakim Agung. Tapi di situlah asyiknya. Kita seperti bermain tebak-tebakan. Apakah hari ini Dia akan datang…. tidak….. datang… tidak… datang… tidak… datang… tidak. Apakah itu seperti menebak seperti ketika menghitung suara tokek? Enggak juga sih. Yesus sudah memberi tanda-tanda. Kita tinggal membaca tanda-tanda zaman saja, maka kita tahu kapan Dia akan datang. Yang dibutuhkan adalah soal kepekaan. Kita harus peka dalam membaca zaman. Ngomong-ngomong soal kepekaan. Dalam bahasa Inggris disebut sensibilitas. Akar katanya adalah sense. Menurut kamus berarti: pikiran, perasaan, kebijaksanaan dan indera. Itu artinya untuk mengasah kepekaan berarti kita melatih menggunakan indera, otak, hati dan roh.
Perhatikan contoh di atas. Berawal dari ketiadaan ide, tulisan tersebut bergerak bebas tanpa fokus yang jelas, namun dengan cara itu justru memunculkan gagasan-gagasan baru. Ini seperti melamun yang ngelantur kemana-mana.
Jika dirasa sudah cukup, maka baca kembali hasil tulisan bebas tersebut. Temukanlah ide-ide menarik yang dapat dikembangkan. Dari tulisan di atas, kita dapat mengembangkan cerita tentang menyambut kedatangan Yesus.

d. Pemetaan Pikiran
Pemetaan pikiran (mind mapping) adalah sistem perekaman pikiran supaya kita biasa menggunakan otak kiri maupun otak kanan dengan baik. Seluruh bagian otak digunakan untuk berpikir. Untuk melakukan ini, kita dapat menggunakan kata-kata kunci, lambang, dan warna. Mind mapping memungkinkan kita membangkitkan dan mengatur pikiran-pikiran pada waktu yang sama.
· Catat poin utama, pikiran atau ide utama.
· Lingkari gagasan utama, kemudian gunakanlah cabang-cabang yang saling menyambung untuk menunjukkan ide-ide yang berhubungan.
· Dalam membuat catatan, petakan hal-hal yang sedang Anda pikirkan. Anda akan membangkitkan lebih banyak ide, melihat hubungan di antara kata-kata kunci, dan lebih bersenang-senang!
Selesai melakukan pemetaan, lihat peta tersebut secara umum. Temukanlah apakah Anda dapat menarik jalinan cerita dari peta otak tersebut.

2. Pengamatan
Meskipun ingatan dapat menjadi sumber cerita yang kaya, tetapi Anda tidak semua hal masuk ke dalam ingatan Anda. Contohnya, kalau Anda dibesarkan di gunung, Anda mungkin tidak punya kenangan atas kehidupan di laut. Kalau Anda lahir dan besar di kota, Anda mungkin tidak memiliki kenangan atau pengalaman sebagai penggembala. Untuk itu, Anda dapat memakai teknik pengamatan atau observasi.
Di dalam kemiliteran sebelum menyerbu sebuah kota, sang perwira biasanya mengirimkan unit mata-mata untuk menyusup ke sasaran serbu. Tugas mereka adalah mengamati situasi di dalam kota dan mengumpulkan informasi intelijen sebanyak-banyaknya. Misalnya mencatat keadaan jalan, pembangkit listrik, instalasi militer, sarana komunikasi, jumlah penduduk dll.
Mirip dengan agen spionase, dalam metode ini Anda mendatangi sebuah tempat dan mencatat apa saja yang menonjol dan berkesan bagi Anda. Berikut caranya:
a. Bawalah bloknot dan alat tulis. Datangilah sebuah tempat yang ingin Anda amati, kemudian tentukan sudut pandang Anda. Ada empat sudut sudut pandang:
a.1. Sudut pandang wisatawan
Posisi mata Anda sejajar dengan objek yang akan diamati. Anda dapat mengamati salah satu sisi objek yang diamati:sebelah muka, belakang dan samping.
a.2. Sudut pandang burung
Posisi mata Anda di atas objek yang diamati. Misalnya, Anda mengamati lapangan parkir dari puncak gedung, menyaksikan pertandingan sepakbola dari tribun atas, melihat perkotaan dari pesawat terbang.
a.3. Sudut pandang katak
Posisi mata Anda di bawa objek yang diamati. Misalnya, Anda melihat patung jendral Sudirman di Jakarta, melihat puncak Monas, memeriksa kolong mobil dll.
a.4. Sudut pandang komidi putar
Pada komidi putar, kita dapat melihat seluruh sisi objek karena objek itu berputar. Karena tidak semua objek dapat diputar, maka dalam hal ini si pengamatlah yang berputar. Ia mengelilingi objek untuk mengamati semua sisinya.
b. Perhatikan objek tersebut dan tuliskan apa saja yang dapat Anda lihat, dengar, cium dan rasa. Pergunakan semua indera yang Anda miliki. Sama seperti dalam curah gagasan, Anda tidak perlu memusingkan masalah susunan kalimat, penulisan ejaan, alur logika dll. Tugas pokok Anda adalah menuliskan kesan dominan yang tertangkap oleh indera-indera Anda.
c. Setelah 15 menit, bacalah catatan yang Anda buat. Lihat objek yang diamati sekali lagi, untuk mengetahui jika ada sesuatu yang ketinggalan untuk dicatat. Akhirnya, tuliskan komentar singkat berdasarkan catatan tersebut.
Contoh
Lokasi: Alun-alun
Waktu: 15.00-17.00
Cuaca: Cerah
· Lapangan berdebu. Rumput kering karena lama tidak turun hujan
· Anak-anak laki-laki asyik bermain sepakbola. Bolanya sudah butut
· Ibu mengajak bayi jalan-jalan sambil menyuapi
· Bau busuk tercium dari selokan yang mampet
· Udara terasa hangat, angin berhembus semilir
· Seorang pengamen asyik menghitung hasil ngamennya di bawah pohon beringin
· Seorang anak menangis keras minta jajan es krim
· Penjual sate keliling membakar sate ayam di atas gerobak dorongnya. Baunya enak


3. Riset
Ada pepatah mengatakan, “Learn from other people's mistakes, life isn't long enough to make them all yourself.” Meski kelihatannya bercanda, tapi ada kebenaran indah di dalam kebenaran ini. Kita harus belajar dari orang lain. Tidak hanya dari kesalahan mereka saja, tetapi juga dari keberhasilan mereka.
Dengan belajar dari orang lain, kita bisa menghemat waktu, biaya dan sumberdaya lainnya. Sebagai contoh, Anda mungkin belum pernah melihat padang rumput di Israel karena untuk pergi ke sana membutuhkan ongkos besar. Hal ini dapat disiasati dengan riset, yaitu meminta informasi dari orang lain. Ada beberapa langkah yang baik untuk memulai riset:
a. Mulailah dengan perpustakaan pribadi. Kumpulkan kliping dari berbagai macam koran dan majalah yang menarik. Selain itu, Anda pun perlu melengkapi perpustakaan dengan buku‑buku tafsir yang baik, telaah Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, kamus‑kamus, konkordansi lengkap, ensiklopedia dan bermacam buku teologia, sejarah, arkeologi, penelitian penulis lain, geografi, kebudayaan dan lain sebagainya. Makin lengkap perpustakaan Anda, makin mudah Anda dalam membuat cerita menulis.
b. Gunakan sumber‑sumber informasi. Di Indonesia ada LINK (Lembaga Informasi Kristen), Pusat Perpustakaan Nasional dan sebagainya. Nah, mengapa kita tidak memanfaatkan sumber‑sumber informasi yang bisa memperkaya dan memberi bobot pada cerita Anda?
c. Mengunjungi para pakar. Di samping sumber‑sumber tertulis di atas, Anda pun bisa mendapatkan informasi dari berbagai pakar menurut bidang keahlian mereka masing‑masing. Mereka biasanya senang membagikan ilmu dan keahlian yang mereka miliki, asal kita menanyakan secara sopan serta menjelaskan untuk apa informasi yang kita tanyakan itu. Kalau sumber 'hidup' ini jaraknya dekat, kita bisa langsung datang ke rumahnya dengan perjanjian lebih dulu. Kalau jaraknya jauh, dan cerita dikejar oleh deadline, Anda bisa menyuratinya lebih dulu.
d. Akses internet. Kalau Anda memiliki komputer, modem dan saluran telepon, maka Anda bisa “menjelajahi dunia”. Ada informasi melimpah yang bisa didapatkan dari internet. Gunakan search engine semacam Google.com, Yahoo.com, Ask.com untuk mendapatkan informasi yang diinginkan.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Minggu, 23 September 2007

Kirana Sudah Bisa Berjalan

Pada tanggal 19 September Kirana, anak kami, akhirnya bisa berjalan. Saya tidak menduga prosesnya sedemikian cepat. Saya menyesal tidak dapat menyaksikkan langkah kecil pertamanya karena saat itu saya sedang mengikuti pelatihan di Bali. Sementara Kirana dan mamanya berlibur ke eyangnya di Jakarta.
Ketika saya tinggal, Kirana bahkan belum bisa berdiri tegak tanpa topangan apa-apa. Kalau ingin berdiri, dia harus menyandarkan punggungnya di dinding atau lemari. Beberapa anak biasanya melewati tahapan berdiri tegak dulu, kemudian mencoba melangkahkan kaki. Tapi Kirana tidak. Dia mencoba berdiri dan langsung berjalan dengan penuh percaya diri.
Menurut cerita mamanya, orang-orang di sekitar Kirana menirukan suara gamelan reog “tung dang tung, tung dang tung”. Dengan mengikuti irama itu, Kirana mendapat dorongan untuk mulai melangkahkan kakinya.
Mulai sekarang, kami harus lebih memasang mata lebar-lebar, sebab ia mulai menjelajahi setiap sudut rumah. Kalau terlena sedikit, dia bisa nyelonong keluar rumah, menuruni tangga yang curam. Kami merasa senang, tapi harus mulai waspada.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Hati-hati Penipuan Berkedok Fren

Pukul 17:11, telepon Fren kami berbunyi. Di layar HP tertera nomor 08886320127 yang memanggil. Nomor ini belum masuk dalam phonebook kami. Isteri saya yang mengangkatnya. "Halo, nama saya Drs. Wawan Setiawan dari Fren," kata si penelepon,"dengan siapa saya berbicara?" Isteri saya lalu menyebutkan namanya. "Ibu tinggal dimana?" tanya si penelepon. Isteri saya menyebutkan kota tempat kami berdomisili.
"Saya mengucapkan selamat. Nomor Ibu ini telah memenangkan undian dalam rangka bulan Ramadhan," kata si penelepon dengan suara yang bergembira. Sampai di sini, saya mulai curiga. Maka saya mengambil alih telepon.
"Halo, Bapak siapa?" tanya orang yang mengaku Wawan Setiawan. Saya mengatakan bahwa saya suaminya.
"Nama Bapak siapa?"
"Saya Joko" jawab saya berbohong.
"Saya dari Fren, memberitahukan bahwa Bapak Joko memenangkan hadiah undian dalam rangka bulan Ramadhan. Hadiah ini bebas pajak. Apakah Bapak punya buku tabungan untuk mentransfer hadiah?"
"Tunggu dulu," saya menyela,"bagaimana saya bisa memastikan bahwa Anda benar-benar dari Fren dan ini bukan penipuan. Apa buktinya?"
"Kalau Bapak tidak percaya, silakan lihat di LaTivi nanti malam," jawab Bapak itu.
"Saya tidak mau menunggu nanti malam,"sergah saya," Sekarang saya minta Anda meyakinkan saya bahwa Anda benar-benar dari Fren dan bahwa ini bukan penipuan!"
"Ya buktinya sekarang ini kita sedang saling mencocokkan data. Pembicaraan ini direkam, makanya jangan sampai pembicaraan kita ini putus," jawab orang di seberang. Kelihatannya dia mulai jengkel."Sekarang saya ingin tahu, apakah Bapak punya buku tabungan? Di Bank apa?"
"Saya tidak punya buku tabungan" jawab saya berbohong.
"Bagaimana kalau kartu ATM?" tanya orang itu.
"Tabungan saja tidak punya, apalagi kartu ATM," jawab saya.
"Bagaimana kalau Bapak mengambil sendiri hadiahnya? Bapak bisa mengambil di kantor kami di jl. Kebun Sirih" kata orang itu.
"Rumah saja jauh dari Jakarta," jawab saya.
"Apakah Bapak tidak punya Saudara di Jakarta?" tanya si penelepon.
"Tidak punya" jawab saya, lagi-lagi berbohong. Padahal mertua saya ada di Jakarta.
Tidak terdengar suara dari seberang. Rupanya dia telah memutuskan sambungan telepon.
Sejak semula saya sudah mencurigai bahwa ini adalah usaha penipuan karena ada beberapa kejanggalan:
1. Si penelepon menanyakan nama orang yang ditelepon. Mestinya, kalau ingin memberitahukan kemenangan, dia sudah tahu siapa yang akan ditelepon.  Ketika saya mengaku dengan nama "Joko", si penelepon percaya begitu saja. Padahal nomor telepon itu terdaftar atas nama saya [Purnawan]. Kalau dia benar-benar dari Fren, dia mestinya bisa memeriksa database-nya.
2. Si penelepon melakukan blunder dengan menyebut nama LaTivi. Kalau mau membuat acara pengundian pemenang, maka Fren pasti akan memilih stasiun TV yang masih "bersaudara" dengannya yaitu group MNC (TPI, RCTI, Global). Pemegang saham Fren adalah pemegang saham MNC juga.
3. Pengambilan hadiah bisa diwakilkan oleh orang lain. Memang dengan surat kuasa bisa saja dilakukan, tapi biasanya penyelenggara undian berharap pemenang menerima langsung. Ini untuk kepentingan publikasi.
 
Saya berkali-kali menerima SMS hoax yang memberitahukan saya memenangkan undian. Biasanya SMS sampah seperti ini langsung saya hapus. Namun baru kali ini saya mendapat telepon langsung dari si penipu. Ini modus baru. Saya menduga, si penipu berani menelepon karena ongkos telepon antar Fren memang murah.  Biasanya jika sang mangsa terpikat, dia digiring untuk pergi ke ATM terdekat. Selama itu, hubungan telepon tidak boleh terputus. Dengan teknik persuasi yang tinggi, si penelepon menggiring sang mangsa untuk mentransfer uang ke rekeningnya.
 
Kita perlu waspada dan kritis terhadap penyalahgunaan teknologi.
 
 
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Selasa, 18 September 2007

Galeri Foto Pelatihan





Boneka Muppet

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Galeri Foto

Berlatih di pinggir kolam renang
Ade Andreawan dan kembarannya




Peserta pelatihan berfoto bersama di pinggir kolam renang










Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Jurnal Pelatihan Hari ke -6

Latihan dimulai dengan diskusi tentang peace education. Peace education atau pendidikan damai adalah salah satu bagian dari peace building. Mengapa pendidikan damai itu perlu diberikan pada anak-anak? Karena dalam kehidupan ini kita tidak mungkin menghindari ketidaksepakatan. Yang penting adalah kita tidak menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan ketidaksepakatan ini. Untuk mencegah terus berlangsungnya siklus kekerasan, pendidikan semestinya mempromosikan damai dan toleransi, bukannya kebencian dan kecurigaan.
“Budaya Damai adalah transisi dari logika pemaksaan dan ketakutan menjadi kekuatan motivasi dan kasih sayang," kata Taka Gani, mengutip Federico Mayor, dari UNESCO. Berkaitan dengan ini, maka PBB telah menatapkan bahwa tahun 2001-2010 adalah Dekade Internasional untuk Budaya Damai dan Anti-Kekerasan terhadap Anak-Anak di Dunia.


***
Jika mendengar “konflik” apa yang terlintas di benak Anda? Ketika hal ini ditanyakan pada partisipan maka sebagian besar mengasosiakannya dengan situasi yang negatif. Padahal sebenarnya konflik itu positif. Untuk itu peace education diperlukan supaya anak-anak dapat menyikapi konflik secara tepat.
lebih melihat kepada diri sendiri.
***
Usai coffe break, partisipan diajak menjawab tiga pertanyaan ini:
Apa arti damai bagi diri sendiri?
Apa arti damai bagi dunia?
Bagaimana saya sebagai individu bisa membantu dunia menjadi damai?
Partisipan membagikan jawaban masing-masing. Setelah itu, mbak Taka menjelaskan tentang siklus “buah pikiranà perasaanà tindakanà kebiasaanàbuah pikiran”. Apa yang ada di kepala kita dapat menimbulkan perasaan. Perasaan itu mendorong tindakan untuk mengambil tindakan. Tindakan yang dilakukan berulang-ulang akan menciptakan kebiasaan dan kebiasaan inilah yang membentuk pikiran kita.
Dengan memahami siklus ini, aktivis dapat menyadari bahwa kekerasan menjadi lingkaran setan yang sulit diputuskan. Untuk itu, dalam pendidikan damai diajarkan tentang pentingnya berpikir positif.

Sessi terakhir Taka Gani mengajarkan ketrampilan mendengarkan aktif. Dalam Peace Building, ketrampilan ini merupakan syarat dasar untuk menyelesaikan konflik. Kita harus meyakinkan pihak-pihak yang berkonflik bahwa kita siap dan bersedia mendengarkan persoalan mereka.
Partisipan dibagi menjadi berkelompok, masing-masing tiga orang. Secara bergantian setiap anggota kelompok berperan sebagai orang yang berbicara, pendengar dan pengamat. Tugas pendengar adalah mendengarkan omongan lawan bicaranya secara sungguh-sungguh. Dalam mendengar itu, ia harus merefleksikan isi atau emosi lawan bicaranya. Dia harus menghindari bertanya, memberi solusi dan mengalihkan perhatian
Sementara itu, tugas pengamat adalah mengamati apakah si pendengar telah menjalankan tugasnya dengan baik atau tidak. Si pengamat juga harus mencatat, apakah si pendengar melanggar larangan ini:
Menuduh
Mengkritik dengan tajam
Menyalahkan
Merendahkan
Mengalihkan perhatian
Memberi solusi
Menghakimi
Menghukum
Mengasihani
***
Demikianlah catatan saya saat mengikuti Pelatihan Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat, di Bali. Saya pulang ke Klaten pada hari Senin, 17 September 2007. Di bandara, saya baru tahu bahwa arak Bali bisa dibawa masuk ke dalam kabin. Saya lalu mencari arak itu di kios bandara. Ternyata harganya dua kali lipat lebih mahal. Akhirnya saya mengurungkan niat itu.
Di bawah terik matahari Bali, kami boarding di gerbang 16. Sebelumnya, kami sempat dibuat bingung. Pada boarding pass tertulis gerbang 16, tapi pengumuman pihak bandara mengatakan kami harus lewat gerbang 17. Mendengar itu, kami buru-buru menuju gerbang 17 yang berlawanan arah. Di depan gerbang 17, kami ditolak oleh petugas. Katanya, gerbang ini untuk tujuan Jakarta. Sedangkan tujuan Jogja, melalui gerbang 16. Dengan perasaan dongkol kami berbalik lagi ke gerbang 16.
Sama seperti keberangkatan, udara di dalam kabin terasa sangat panas namun saya sudah tidak kaget lagi. Ketika di udara, suhu kabin mulai terasa dingin. Sampai di Jogja, cuaca sedikit berawan. Pesawat kami harus memutar dulu sampai di atas sungai Progo untuk menunggu giliran pendaratan. Kami mendarat mulus di Jogja. Sambil turun dari pesawat saya menyanyikan lagu KLA “Pulang ke kotamu, ada setangkup haru rasa rindu……” Selalu ada alasan untuk pulang ke Jogja.

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More