Rabu, 06 Desember 2006

Menggugat Sinterklas

Berdasarkan hasil survei di Eropa dan Amerika, ternyata Sinterklas merupakan figur paling beken, setelah Yesus Kristus dan bunda Maria. Sayangnya meskipun terbilang ngetop, hanya sedikit orang yang mengatahui siapa sebenatnya Sinterklas ini. Bagaimana duduk perkaranya, sehingga dia bisa menjadi ikon di setiap perayaan Natal?
Sinterklas atau Santa Claus sesungguhnya adalah tokoh yang nyata dan pernah hidup yaitu, Santo Nicholas. Dia dilahirkan di Patara, Turki tahun 280 M. Ayahnya adalah seorang pedagang kaya dari Arab yang bernama Ephiphanius. Ibunya bernama Nonna. Dapat dikatakan, berdasarkan keturunan maupun tempat kelahiran, Nicholas adalah orang Arab.
Saat masih belia, dia sudah menjadi yatim piatu dan dibesarkan di biara. Pada usia 17 tahun, Nicholas sudah menjadi biarawan termuda. Pada usia itu, dia berziarah ke Pales­tina dan Mesir. Menurut legenda, dalam perjalanan itu kapalnya diterpa angin badai hingga salah satu tiang kapalnya patah, dan menimpa kepala seorang kelas kapal. Kelasi malang ini mati. Namun setelah didoakan oleh Nicholas, dia bisa hidup kembali. Nicholas muda juga berhasil menenangkan angin ribut itu. Berawal dari kisah ini, Nicholas di kemudian hari diangkat menjadi Santo (orang suci) pelindung para pelaut.
Pulang dari tanah suci, Nicholas diang­kat menjadi uskup Myra, Lycia. Pada masa itu, kaisar Romawi, Diocletes yang berkuasa melakukan penganiayaan terhadap orang Kristen. Uskup Nicholas dijebloskan dalam penjara. Akan tetapi ketika kaisar Konstantin Agung dan mendeklarasikan agama Kristen sebagai agama negara, Nicholas pun dibebaskan.

Menolong Gadis Miskin
Reputasi Nicholas sebagai sosok yang murah hati telah menciptakan legenda tentang perbuatan-perbuatan yang telah dilakukannya pada orang yang miskin tidak beruntung. Menurut legenda, Nicholas penah menolong tiga anak kecil yang dilukai oleh tukang jagal dan di­rendam dalam kolam air garam.
Cerita lain yang paling terkenal adalah ketika uskup Nicholas menolong tiga gadis miskin yang dipaksa menjadi pekerja seks, supaya bisa membayar mas kawin. Mendengar tragedi ini, Nicholas tergerak hatinya. Pada suatu malam, dia diam-diam merayap ke atap rumah keluarga miskin itu dan menjatuhkan sekantung uang emas melalui cerobong asap. Secara kebetulan, uang itu jatuh ke dalam kaos kaki yang sedang digantung di dekat perapian. Hal ini sempat diketahui oleh ayah dari ketiga gadis ini, yang lalu mengejarnya. Nicholas lalu berpesan supaya tidak menceritakan peristiwa ini, setidaknya selama dia (Nicholas) masih hidup. Kemungkinan, berawal dari kisah ini, lalu timbul kepercayan bahwa Sinterklas turun dari cerobong asap untuk memberi hadiah pada anak-anak.
Setelah wafat, jasad Nicholas dikuburkan di gereja Myra. Untuk menghormatinya, kaisar Romawi membangun gereja di Konstantinopel yang kemudian menjadi tempat peziarahan terkenal. Seperti dikisahkan sebelumnya, para pelaut sangat mengeramatkan Nicholas. Karena pada 9 Mei 1087, para pelaut dan pedagang Italia bertekad membongkar kuburan Nicholas dan memboyongnya ke Bari, Italia.
Pemindahan ini meningkat­kan popularitas Nicholas di Eropa, karena saat itu Bari sedang menjadi pusat perdagangan Eropa. Sebelum pemindahan, orang Italia percaya ada seorang nenek sihir bernama Befana. Dia mendapat tugas dari malaikat untuk memberi hadiah bagi bayi Yesus, tapi dia datang terlambat. Karena itu, Befana dihukum harus memberi hadiah pada anak-anak miskin setiap perayaan Natal. Rupanya para pemuka agama Italia tidak sreg dengan kepercayaan ini. Mereka lalu memutuskan untuk mengalihkan kepercayan pada Befana ini kepada Nicholas.

Iklan Coca-Cola
Setelah gerakan Reformasi gereja, reputasi Nicholas di kalangan gereja Protestan di Eropa mulai meredup. Beda halnya dengan yang di Belanda. Di negeri kincir angin inilah bemula legenda Sinterklaas ini (nama Belanda un­tuk Saint Nicholas). Perlahan-lahan figur Sinterklaas ini diadopsi oleh negara-negara lain yang mema­kai bahasa Inggris. Mereka menyebutnya Santa Claus, yang kemudian digabungkan dengan le­genda rakyat Nordic, yaitu seorang nujum yang menghukum anak-anak nakal dan memberi ha­diah pada anak-anak yang baik hati. Di sinilah lalu muncul tokoh Piet Hitam yang membawa karung untuk mengantongi anak-anak yang nakal.
Pendapat lain dikemukakan Herlianto. Menurutnya, figur Sinterklas merupakan campuran figur santo Nicholas dengan Odin, dewa yang disembah orang Norwegia. Gambaran mitologi Odini ini juga disertai dengan berbagai pertunjukan gaib dengan peri-peri yang membawa tongkat berujung bintang, yang bisa mendatangkan mukjizat.
Di Amerika, tradisi dan kepercayaan ini dibawa oleh koloni Belanda ketika mereka merantau ke New Amsterdam (sekarang New York City), abad ke-17. Di negeri paman Sam inilah figur Santa Claus mengalami pembiasan makna besar-besaran. Dengan sokongan modal dan kekuatan persebaran oleh media massa, Sinterklas telah berubah menjadi "tenaga pemasaran" yang menganjurkan konsumsi yang berlebihan di masa Natal. Ini tidak heran, karena karakter Santa Claus yang dikenal seluruh dunia selama ini, sesungguhnya merupakan hasil rekayasa Haddon Sundblom, manajer humas Coca Cola. Figur itu dibuat untuk keperluan iklan Coca-Cola (1931-1964). Iklan yang terpam­pang di majalah National Geographic ini menam­pilkan sosok Santa yang berjubah merah dengan hiasan bulu binatang berwarna putih di pinggirnya. Dia memakai sabuk dan sepatu boot kulit. Juga ber­janggut putih dan kantong goni penuh mainan yang tersampir di pundaknya
Ini sungguh ironis. Pada zaman ini, Santa Claus lebih senang nongkrong di supermal sambil memangku dan mengelus anak-anak orang berada ketimbang menolong orang yang kekurangan. Padahal jika St. Nicholas yang asli hidup di Indonesia, kemungkinan besar, dia memilih untuk diam-diam mendatangi barak-barak pengungsi korban konflik di Ambon, Poso atau Aceh. Mungkin dia juga akan mengunjungi para korban penggusuran di Jakarta.
Dalam perayaan Natal tahun ini, tepat bagi kita untuk melakukan demitologi atas sosok Sinterklas, untuk kembali meneladani St.Nicholas dalam hal kemurahan dan kepeduliannya terhadap sesama yang kurang beruntung. Bukankah itu juga makna kedatangan bayi Yesus yang sesungguhnya?
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It