Rabu, 20 Desember 2006

Memahami Proses Komunikasi

Setiap hari kita melakukan komunikasi. Bahkan sebagian besar kegiatan dalam kehidupan kita adalah untuk berkomunikasi. Apapun yang Anda sampaikan--entah itu cerita lucu, kisah sedih, atau paparan teori Fisika yang rumit,--yang paling terutama pesan Anda itu harus bisa dimengerti oleh orang lain. Kalau pesan itu tidak bisa dimengerti maka kegiatan itu tidak bisa disebut sebagai komunikasi. Secara sederhana, komunikasi dapat didefinisikan sebagai sebuah tindakan mengirimkan pesan yang dapat dipahami kepada orang lain.

Di dalam komunikasi lisan, ada dua cara dasar di dalam berkomunikasi, yaitu: komunikasi verbal dan komunikasi non-verbal. Di dalam komunikasi verbal, kita menyampaikan pesan menggunakan kata-kata(bahasa). Sedangkan di dalam komunikasi non-verbal, kita mengirimkan pesan menggunakan tanda-tanda, simbol, sikap tubuh (gesture), ekspresi wajah, nada bicara dan tekanan kalimat.

Bagaimana sih cara kerja komunikasi? Faktor apa yang menunjang keberhasilan dalam berkomunikasi? Proses komunikasi sedikitnya melibatkan empat komponen, yaitu:

1. Komunikator, Sumber Komunikasi atau Pengirim Pesan, yakni seseorang atau sekelompok orang atau suatu organisasi yang mengambil inisiatif mengirimkan pesan.

2. Pesan, berupa lambang atau tanda, seperti kata-kata (dalam bentuk tertulis atau lisan) gesture dll.

3. Media atau Saluran Komunikasi, yakni sesuatu yang dipakai sebagai alat pengiriman pesan (misalnya telepon, radio, surat, suratkabar, email, SMS, TV atau gelombang udara

4. Komunikan atau Penerima Pesan, yakni seseorang atau sekelompok orang yang menjadi sasaran penerima pesan.

Di samping keempat elemen tersebut, masih ada tiga elemen atau faktor lain yang juga penting dalam proses komunikasi, yakni:

5. Dampak/Akibat/Hasil yang terjadi pada pihak penerima/komunikan.

6. Umpan balik (feedback), yakni reaksi atau tanggapan balik dari pihak penerima/komunikan atas pesan yang diterimanya.

7. Gangguan (noise) yakni faktor-faktor eksternal maupun internal (psikologis) yang dapat mengganggu atau menghambat kelancaran proses komunikasi.

Secara sederhana, proses komunikasi dapat digambarkan sebagai berikut:Pertama-tama, proses komunikasi selalu ditimbulkan oleh inisiatif seseorang yang ingin menyampaikan sebuah pesan kepada orang lain atau sekelompok orang. Orang yang memprakarsai komuniasi ini disebut sebagai Komunikator. Jika Anda berbicara kepada teman Anda, isi perkataan Anda itulah yang disebut dengan pesan (message) Anda. Ketika Anda mengirimkan SMS, Anda juga sedang mengirimkan pesan. Demikian juga, ketika Anda ingin menyampaikan cerita Alkitab pada anak-anak Sekolah Minggu, Anda pun sebenarnya mengambil inisiatif untuk menyampaikan pesan kepada orang lain.

Supaya bisa menyampaikan pesan, komunikator itu membutuhkan media atau saluran. Ibarat kantor Perusahaan Air Minum (PAM), mereka membutuhkan saluran untuk meneruskan air yang mereka olah supaya sampai kepada pelanggan. Mereka bisa memakai pipa, selang plastik, selokan, atau truk tangki. Demikian juga dalam proses komunikasi, ada berbagai pilihan saluran komunikasi: lewat kabel (telepon, TV kabel, internet), gelombang elektronik (handphone, televisi, radio), cetakan (surat kabar, surat, majalah, buku).

Lalu bagaimana dengan pembawa cerita? Mereka memakai saluran komunikasi apa? Di dalam ranah komunikasi lisan, saluran komunikasi yang digunakan adalah melalui panca indera manusia. Kita dapat menerima pesan itu menggunakan satu atau lebih indera kita. Ketika melihat langit yang mendung, kita menangkap pesan bahwa sebentar lagi akan turun hujan. Ketika kita mendengar suara bergemuruh di stasiun, kita mendapat pesan bahwa kereta api sebentar lagi akan lewat. Ketika kita merasa pahit ketika mencicipi makanan, kita memperoleh informasi bahwa makanan tersebut tidak enak.

Di dalam komunikasi lisan, indera yang paling sering digunakan untuk menerima pesan adalah penglihatan dan pendengaran kita. Itu sebabnya kalau Anda berkomunikasi dengan orang buta dan tuli, maka Anda akan menemui hambatan. Mengapa demikian? Karena kedua saluran komunikasi mereka yang paling utama telah tertutup. Banyak orang yang menganggap bahwa dalam komunikasi lisan, yang paling penting adalah berkomunikasi menggunakan kata-kata (suara). Pada kenyatannya, komunikan Anda, yaitu anak-anak, tidak hanya mendengar cerita Anda, tapi juga melihat Anda. Mereka mengamat-amati gerak-gerik Anda, ekspresi Anda, dandanan Anda, tekanan suara Anda,dll. Semua yang mereka lihat ini dapat memperkuat pesan yang Anda sampaikan; Tapi bisa juga berakibat sebaliknya, yaitu melemahkan pesan Anda.

Dalam penyampaian pesan melalui media, komunikasi ini ada kemungkinan akan menemui gangguan. Ibarat saluran pipa PAM, jika pipa ini yang mengalami kebocoran, maka akibatnya pelanggan menerima air yang berkualitas buruk. Demikian juga di dalam komunikasi. Karena ada gangguan (noise) dalam saluran komunikasi, maka akibatnya pesan yang diterima oleh komunikan mengalami gangguan.

Ada dua macam gangguan: gangguan eksternal dan gangguan internal dan. Gangguan eksternal adalah berbagai gangguan yang berasal dari luar komunikator dan komunikan. Gangguan ini dapat berupa suara gaduh, suhu udara yang panas, ada hal lain yang lebih menarik perhatian audiens, bau yang tidak sedap, udara yang terlalu dingin dll. Gangguan dari luar biasanya tidak banyak mengganggu media atau saluran komunikasi, sepanjang tingkat gangguan itu masih bisa ditoleransi. Akan tetapi gangguan yang lebih sulit untuk dikendalikan adalah gangguan internal. Gangguan ini berasal dari faktor-faktor psikologis. Misalnya rasa takut, kecewa, cemas, grogi atau gejolak emosi lainnya. Sebagai contoh, anak yang baru saja pindah ke kelompok Sekolah Minggu Anda, biasanya dia akan menemui kesulitan di dalam menerima pesan yang Anda sampaikan. Penyebabnya, karena dia merasa cemas sebagai anak baru. Dia merasa berada di dalam lingkungan yang masih asing. Dia tidak merasa aman, karena belum memiliki kenalam. Akibatnya, dia tidak bisa berkonsentrasi di dalam menyimak cerita Guru Sekolah Minggu.

Pesan yang disampaikan oleh komunikator ini harus melewati berbagai gangguan (noise). Pesan-pesan ini harus bisa lolos dari berbagai gangguan sebelum akhirnya bisa mencapai komunikan. Komunikasi terjadi apabila komunikan bisa mengerti pesan-pesan yang diterimanya.

Aspek berikutnya di dalam proses komunikasi adalah umpan balik. Umpan balik adalah informasi yang diberikan oleh komunikan kepada komunikator, yang menandakan bahwa pesan tersebut telah diterima dan dipahami. Melalui umpan balik ini, komunikator dapat memeriksa dan memastikan apakah penerima pesan atau komunikan sudah menerima pesan, sesuai dengan keinginannya atau tidak. Ada kemungkinan, pesan yang dipahami oleh komunikan itu berbeda dengan yang di yang dikehendaki. Hal ini bisa terjadi karena pesan tersebut mengalami gangguan selama pengiriman. Akibatnya, pesan tersebut tidak dapat diterima dengan utuh. Ilustrasi berikut ini bisa menjelaskan:

Seorang Ibu baru saja melahirkan bayi kembar empat. Dia segera meraih handphone-nya. Dia ingin membagikan kabar gembira ini kepada redaksi suratkabar di kotanya.

Namun dia karena berada di dalam gedung rumah sakit, maka sinyal di sana sangat lemah. Sambungan telepon itu buruk dan terputus-putus.

"Pak, saya mengabarkan bahwa saya telah melahirkan kembar empat," kata Ibu itu.

Dari ujung telepon, terdengar suara redaksi suratkabar, "Apakah Ibu bisa mengulanginya lagi?"

Dengan kesal Ibu itu menjawab, "Tidak,Pak. Punya anak empat saja sudah cukup banyak."

Di sini, ada kesalahan penerimaan pesan antara Ibu dan Redaksi. Redaksi sebenarnya meminta Ibu itu supaya mengulangi berita pertama karena dia tidak bisa mendengar dengan jelas. Akan tetapi Ibu itu mengira Redaksi tadi menanyakan apakah dia mau melahirkan kembar empat lagi!

Di dalam komunikasi lisan, umpan balik itu bisa berupa kata-kata. Akan tetapi yang lebih sering muncul justru berupa pesan nonverbal. Misalnya, komunikasn tersenyum yang menandakan bahwa dia merasa senang, mengangguk sebagai isyarat setuju, atau gelisah yang menunjukkan bahwa dia merasa bosan. Pada tulisan berikutnya, kita akan membahas tentang berbagai jenis umpan balik, cara mengenalinya dan bagaimana menghindari umpan balik yang negatif.

Kita menulis karena ingin mengekspresikan pikiran kita, bukan pikiran yang menjadi bos kita.”
--- Nawal el Saadawi.

Kunjungi SITUS saya di: http://www.geocities.com/purnawankristanto
dan BLOG saya di: http://purnawan-kristanto.blogspot.com





"Kita menulis karena ingin mengekspresikan pikiran kita, bukan pikiran yang menjadi bos kita.”
--- Nawal el Saadawi.


Kunjungi SITUS saya di: http://www.geocities.com/purnawankristanto
dan BLOG saya di: http://purnawan-kristanto.blogspot.com

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It