Rabu, 20 Desember 2006

Memahami Proses Komunikasi

Setiap hari kita melakukan komunikasi. Bahkan sebagian besar kegiatan dalam kehidupan kita adalah untuk berkomunikasi. Apapun yang Anda sampaikan--entah itu cerita lucu, kisah sedih, atau paparan teori Fisika yang rumit,--yang paling terutama pesan Anda itu harus bisa dimengerti oleh orang lain. Kalau pesan itu tidak bisa dimengerti maka kegiatan itu tidak bisa disebut sebagai komunikasi. Secara sederhana, komunikasi dapat didefinisikan sebagai sebuah tindakan mengirimkan pesan yang dapat dipahami kepada orang lain.

Di dalam komunikasi lisan, ada dua cara dasar di dalam berkomunikasi, yaitu: komunikasi verbal dan komunikasi non-verbal. Di dalam komunikasi verbal, kita menyampaikan pesan menggunakan kata-kata(bahasa). Sedangkan di dalam komunikasi non-verbal, kita mengirimkan pesan menggunakan tanda-tanda, simbol, sikap tubuh (gesture), ekspresi wajah, nada bicara dan tekanan kalimat.

Bagaimana sih cara kerja komunikasi? Faktor apa yang menunjang keberhasilan dalam berkomunikasi? Proses komunikasi sedikitnya melibatkan empat komponen, yaitu:

1. Komunikator, Sumber Komunikasi atau Pengirim Pesan, yakni seseorang atau sekelompok orang atau suatu organisasi yang mengambil inisiatif mengirimkan pesan.

2. Pesan, berupa lambang atau tanda, seperti kata-kata (dalam bentuk tertulis atau lisan) gesture dll.

3. Media atau Saluran Komunikasi, yakni sesuatu yang dipakai sebagai alat pengiriman pesan (misalnya telepon, radio, surat, suratkabar, email, SMS, TV atau gelombang udara

4. Komunikan atau Penerima Pesan, yakni seseorang atau sekelompok orang yang menjadi sasaran penerima pesan.

Di samping keempat elemen tersebut, masih ada tiga elemen atau faktor lain yang juga penting dalam proses komunikasi, yakni:

5. Dampak/Akibat/Hasil yang terjadi pada pihak penerima/komunikan.

6. Umpan balik (feedback), yakni reaksi atau tanggapan balik dari pihak penerima/komunikan atas pesan yang diterimanya.

7. Gangguan (noise) yakni faktor-faktor eksternal maupun internal (psikologis) yang dapat mengganggu atau menghambat kelancaran proses komunikasi.

Secara sederhana, proses komunikasi dapat digambarkan sebagai berikut:Pertama-tama, proses komunikasi selalu ditimbulkan oleh inisiatif seseorang yang ingin menyampaikan sebuah pesan kepada orang lain atau sekelompok orang. Orang yang memprakarsai komuniasi ini disebut sebagai Komunikator. Jika Anda berbicara kepada teman Anda, isi perkataan Anda itulah yang disebut dengan pesan (message) Anda. Ketika Anda mengirimkan SMS, Anda juga sedang mengirimkan pesan. Demikian juga, ketika Anda ingin menyampaikan cerita Alkitab pada anak-anak Sekolah Minggu, Anda pun sebenarnya mengambil inisiatif untuk menyampaikan pesan kepada orang lain.

Supaya bisa menyampaikan pesan, komunikator itu membutuhkan media atau saluran. Ibarat kantor Perusahaan Air Minum (PAM), mereka membutuhkan saluran untuk meneruskan air yang mereka olah supaya sampai kepada pelanggan. Mereka bisa memakai pipa, selang plastik, selokan, atau truk tangki. Demikian juga dalam proses komunikasi, ada berbagai pilihan saluran komunikasi: lewat kabel (telepon, TV kabel, internet), gelombang elektronik (handphone, televisi, radio), cetakan (surat kabar, surat, majalah, buku).

Lalu bagaimana dengan pembawa cerita? Mereka memakai saluran komunikasi apa? Di dalam ranah komunikasi lisan, saluran komunikasi yang digunakan adalah melalui panca indera manusia. Kita dapat menerima pesan itu menggunakan satu atau lebih indera kita. Ketika melihat langit yang mendung, kita menangkap pesan bahwa sebentar lagi akan turun hujan. Ketika kita mendengar suara bergemuruh di stasiun, kita mendapat pesan bahwa kereta api sebentar lagi akan lewat. Ketika kita merasa pahit ketika mencicipi makanan, kita memperoleh informasi bahwa makanan tersebut tidak enak.

Di dalam komunikasi lisan, indera yang paling sering digunakan untuk menerima pesan adalah penglihatan dan pendengaran kita. Itu sebabnya kalau Anda berkomunikasi dengan orang buta dan tuli, maka Anda akan menemui hambatan. Mengapa demikian? Karena kedua saluran komunikasi mereka yang paling utama telah tertutup. Banyak orang yang menganggap bahwa dalam komunikasi lisan, yang paling penting adalah berkomunikasi menggunakan kata-kata (suara). Pada kenyatannya, komunikan Anda, yaitu anak-anak, tidak hanya mendengar cerita Anda, tapi juga melihat Anda. Mereka mengamat-amati gerak-gerik Anda, ekspresi Anda, dandanan Anda, tekanan suara Anda,dll. Semua yang mereka lihat ini dapat memperkuat pesan yang Anda sampaikan; Tapi bisa juga berakibat sebaliknya, yaitu melemahkan pesan Anda.

Dalam penyampaian pesan melalui media, komunikasi ini ada kemungkinan akan menemui gangguan. Ibarat saluran pipa PAM, jika pipa ini yang mengalami kebocoran, maka akibatnya pelanggan menerima air yang berkualitas buruk. Demikian juga di dalam komunikasi. Karena ada gangguan (noise) dalam saluran komunikasi, maka akibatnya pesan yang diterima oleh komunikan mengalami gangguan.

Ada dua macam gangguan: gangguan eksternal dan gangguan internal dan. Gangguan eksternal adalah berbagai gangguan yang berasal dari luar komunikator dan komunikan. Gangguan ini dapat berupa suara gaduh, suhu udara yang panas, ada hal lain yang lebih menarik perhatian audiens, bau yang tidak sedap, udara yang terlalu dingin dll. Gangguan dari luar biasanya tidak banyak mengganggu media atau saluran komunikasi, sepanjang tingkat gangguan itu masih bisa ditoleransi. Akan tetapi gangguan yang lebih sulit untuk dikendalikan adalah gangguan internal. Gangguan ini berasal dari faktor-faktor psikologis. Misalnya rasa takut, kecewa, cemas, grogi atau gejolak emosi lainnya. Sebagai contoh, anak yang baru saja pindah ke kelompok Sekolah Minggu Anda, biasanya dia akan menemui kesulitan di dalam menerima pesan yang Anda sampaikan. Penyebabnya, karena dia merasa cemas sebagai anak baru. Dia merasa berada di dalam lingkungan yang masih asing. Dia tidak merasa aman, karena belum memiliki kenalam. Akibatnya, dia tidak bisa berkonsentrasi di dalam menyimak cerita Guru Sekolah Minggu.

Pesan yang disampaikan oleh komunikator ini harus melewati berbagai gangguan (noise). Pesan-pesan ini harus bisa lolos dari berbagai gangguan sebelum akhirnya bisa mencapai komunikan. Komunikasi terjadi apabila komunikan bisa mengerti pesan-pesan yang diterimanya.

Aspek berikutnya di dalam proses komunikasi adalah umpan balik. Umpan balik adalah informasi yang diberikan oleh komunikan kepada komunikator, yang menandakan bahwa pesan tersebut telah diterima dan dipahami. Melalui umpan balik ini, komunikator dapat memeriksa dan memastikan apakah penerima pesan atau komunikan sudah menerima pesan, sesuai dengan keinginannya atau tidak. Ada kemungkinan, pesan yang dipahami oleh komunikan itu berbeda dengan yang di yang dikehendaki. Hal ini bisa terjadi karena pesan tersebut mengalami gangguan selama pengiriman. Akibatnya, pesan tersebut tidak dapat diterima dengan utuh. Ilustrasi berikut ini bisa menjelaskan:

Seorang Ibu baru saja melahirkan bayi kembar empat. Dia segera meraih handphone-nya. Dia ingin membagikan kabar gembira ini kepada redaksi suratkabar di kotanya.

Namun dia karena berada di dalam gedung rumah sakit, maka sinyal di sana sangat lemah. Sambungan telepon itu buruk dan terputus-putus.

"Pak, saya mengabarkan bahwa saya telah melahirkan kembar empat," kata Ibu itu.

Dari ujung telepon, terdengar suara redaksi suratkabar, "Apakah Ibu bisa mengulanginya lagi?"

Dengan kesal Ibu itu menjawab, "Tidak,Pak. Punya anak empat saja sudah cukup banyak."

Di sini, ada kesalahan penerimaan pesan antara Ibu dan Redaksi. Redaksi sebenarnya meminta Ibu itu supaya mengulangi berita pertama karena dia tidak bisa mendengar dengan jelas. Akan tetapi Ibu itu mengira Redaksi tadi menanyakan apakah dia mau melahirkan kembar empat lagi!

Di dalam komunikasi lisan, umpan balik itu bisa berupa kata-kata. Akan tetapi yang lebih sering muncul justru berupa pesan nonverbal. Misalnya, komunikasn tersenyum yang menandakan bahwa dia merasa senang, mengangguk sebagai isyarat setuju, atau gelisah yang menunjukkan bahwa dia merasa bosan. Pada tulisan berikutnya, kita akan membahas tentang berbagai jenis umpan balik, cara mengenalinya dan bagaimana menghindari umpan balik yang negatif.

Kita menulis karena ingin mengekspresikan pikiran kita, bukan pikiran yang menjadi bos kita.”
--- Nawal el Saadawi.

Kunjungi SITUS saya di: http://www.geocities.com/purnawankristanto
dan BLOG saya di: http://purnawan-kristanto.blogspot.com





"Kita menulis karena ingin mengekspresikan pikiran kita, bukan pikiran yang menjadi bos kita.”
--- Nawal el Saadawi.


Kunjungi SITUS saya di: http://www.geocities.com/purnawankristanto
dan BLOG saya di: http://purnawan-kristanto.blogspot.com

Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Rabu, 06 Desember 2006

Lagu Langka

Pada tahun 1627, parlemen Inggris yang puritan melarang penggunaan lagu-lagu Natal (Christmas carol) karena mereka menganggap perayaan ini sebagai "festival duniawi". Akibatnya, hingga awal abad ke-18, terjadi kelangkaan lagu-lagu Natal. Lagu "Hark! The Herald Angels Sing" yang ditulis Charles Wesley termasuk di antara sedikit lagu yang ditulis pada masa itu. Sama seperti 6500 lagu lainnya yang ditulis Wesley, lagu ini juga mengandung doktrin-doktrin Alkitabiah dalam bentuk puisi. Bait pertama menceritakan lagu para malaikat yang mengundang untuk bergabung memuji Kristus.

Charles Wesley mengikuti jejak ayahnya dan John Wesley, kakaknya, masuk dalam kegiatan pelayanan. Tahun 1730-an, tidak berapa lama setelah pentahbisannya, Charles Wesley dan dua saudaranya mengikuti gubernur Oglethorpe melakukan perjalanan ke Amerika. Saat itu, Chares Wesley menjadi sekretaris gubernur. Dalam pelancongan ini Charles Wesley mengalami pertobatan. Sekembalinya ke Inggris, dia lalu memutuskan menjadi pengkhotbah keliling.
Setahun setelah pertobatannya, Wesley menciptakan lagu Natal yang oleh Yamuger diterjemahkan dengan judul "Gita Sorga Bergema" (1977). Menurut John Julian, pakar himne terkenal, lagu ini termasuk salah satu di antara empat himne paling populer di Inggris.
Lagu yang terakhir ini memiliki syair sederhana sehingga mudah dimengerti maknanya oleh anak-anak sekalipun. Itulah sebabnya, lagu ini termasuk lagu Natal yang pertama kali diajarkan pada anak-anak. Pada mulanya, lagu "Away in the Manger" ini berjudul "Luther Cradle Hymn". Konon, syair lagu ini sengaja ditulis Martin Luther untuk anak-anaknya. Tetapi melalui penelitian yang seksama, ternyata tidak ada bukti yang mendukung kebenaran klaim ini. Bait pertama dan kedua pertama kali dimuat di "Litle Children's Book", Philadelphia, tahun 1885. Sedangkan bait ketiga disusun oleh John T. Mcfarland, seorang pendeta Methodis.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Kebosanan Watts

"Gembira" atau "Joy" merupakan kata yang tepat untuk menggambarkan suasana hati orang Kristen pada masa Advent (saat-saat penantian menjelang Natal). Himne ini diciptakan oleh Isaac Watts (1674-1748), yang merupakan parafrase dari Mazmur 98:4-9. Perikop ayat ini menceritakan janji Tuhan untuk memulihkan dan melindungi umat-Nya.

Sejak kecil, Isaac Watts sudah menampakann kejeniusannya. Pada usia lima tahun, bocah Inggris ini sudah fasih bahasa Latin. Usia sembilan tahun menguasai bahasa Yunani. Belajar bahasa Perancis pada usia sebelas tahun dan bahass Ibrani pada umur tiga belas. Pada usia 18 tahun, dia merasa bosan dengan cara jemaat menyanyikan ayat-ayat mazmur pada masa Advent. Suatu hari Minggu, setelah kebaktian, ayahnya menantang Watts: "Anak muda, kalau kamu bosan, mengapa tidak menciptakan lagu yang lebih baik?"

Merasa mendapat tantangan, Watts bertekad menciptakan lagu berdasarkan kitab Mazmur. Maka terciptalah lagu yang aslinya berjudul "The Messiah's Coming and Kingdom". Untuk musiknya, Lawol Mason, seorang musisi Amerika mengadaptasi fragmen komposisi George Frederick Handel, seorang komponis Jerman. Tahun 1980, Yamuger menterjemahkan lagu Joy to the World" ini dengan judul "Hai Dunia, Gembiralah"
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Nada-nada dari Sorga

Lagu Natal lain yang juga terkenal adalah "O Litle Town of Betlehem". Lagu ini berasal dari coretan pena Phillips Brooks, seorang pengkhotbah ngetop di Amerika. Brooks menuliskan lagu ini setelah berkunjung ke Israel, tahun 1865. Dia mendapat kesan yang sangat mendalam ketika merayakan Natal di gereja kelahiran Kristus di Betlehem. Tiga tahun kemudian, ketika menjadi pendeta di gereja Holly Trinity, Philadelphia, Brooks mencari lagu Natal baru untuk dipentaskan dalam perayaan Natal Sekolah Minggu. Dia lalu teringat pengalamannya di Betlehem itu dan menuangkannya dalam bentuk syair lagu.

Brooks lalu memberikan syair itu pada Lewis H. Redner, pemain organ gereja dan pemimpin Sekolah Minggu. Brooks minta dibuatkan melodi untuk dipentaskan pada malam Natal. Selama beberapa hari Redner bekerja keras mencari nada-nada yang cocok, tetapi tidak juga ditemukan yang pas. Hingga pada sore hari sebelum malam Natal, tiba-tiba Redner terbangun dari tidurnya. Dia langsung menyusun komposisi lagu, yang tiba-tiba meluncur deras di batinnya. Sampai meninggal dunia, Redner tetap yakin bahwa nada-nada itu berasal dari Sorga. Yamuger menterjemahkannya menjadi "Hai Kota Mungil Betlehem", tahun 1978.
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

KISAH PENCIPTAAN LAGU NATAL

Malam itu, langit di lereng pegunungan Alpen, Austria, terlihat cerah. Joseph Mohr berjalan menulusuri jalan setapak, usai menonton pertunjukan drama Natal yang dipentaskan oleh sekelompok aktor keliling. Menurut rencana, sebenernya drama itu akan dipentaskan di gereja St. Nichoas, tetapi karena organ gereja rusak akibat digigiti tikus, maka pentas itu terpaksa dialihkan ke rumah salah satu jemaat.

Ketika sampai di puncak bukit, Mohr berhenti sejenak untuk melihat pemandangan di bawahnya. Dia begitu terpesona pada kerlap-kerlip lampu-lampu yang memancar dari dalam rumah penduduk. Suasananya sangat sunyi dan teduh. Hal itu membuat Mohr membayangkan suasana malam ketika Kristus lahir di kandang Betlehem. "Malam sunyi! Malam kudus!" Kata-kata itulah yang yang tiba-tiba terlintas di benak Mohr.

Sesampai di rumahnya, Mohr segera menyambar pena dan kertas untuk menuliskan baris-baris puisi yang meluap dari hatinya. Setelah itu, dia punya rencana untuk menyanyikan syair gubahannya itu pada malam kebaktian Natal di gerejanya. Keesokan harinya, dia segera menemui Franz Xaver Grüber, seorang guru desa dan pemain organ gereja. Pada hari itu juga, Grüber bisa merampungkan melodi untuk syair itu. Maka jadilah lagu "Malam Kudus" (Silent Night) yang beberapa abad kemudian menjadi "lagu wajib" pada setiap perayaann Natal.
Siapakah Joseph Mohr? Dia dilahirkan tahun 1792 di Steingasse, di sebuah perkampungan kumuh di Austria. Seorang pastor merasa kasihan melihat Mohr kecil terpaksa mengamen di jalanan. Imam Katolik itu lalu memungutnya dari jalanan dan menyekolahkan di Salzburg. Di sana, selain belajar agama, Mohr juga belajar bermain organ, biola dan gitar. Tahun 1818, Mohr ditempatkn sebagai asisten pastor di gereja St. Nicholas.

Sesuai dengan rencananya, pada malam Natal di tahun 1818, Mohr menyanyikan lagu ciptaanya itu dengan iringan gitar Grüber (karena organ gereja masih rusak). Lagu yang masih gres itu ternyata menyentuh hati jemaat yang datang beribadah.
Meski terbilang sukses, namun mereka tidak pernah punya niat untuk menyebarkan lagu itu ke luar desa. Seminggu kemudian, Karl Maurachen, tukang servis organ kenamaan dari Zillerthal datang untuk memperbaiki alat musik di gereja itu. Ketika sudah beres, Grüber dipersilahkan mencoba memainkan organ itu. Pada kesempatan itu, Grüber memainkan lagu yang baru diciptakan itu. Maurachen sangat terkesan mendengar lagu itu. Dia minta salinan komposisi lagu itu dan membawanya pulang.

Di tangan Maurachen, lagu itu mulai menyebar dan menjadi lagu rakyat di wilayah Tyrol. Lagu ini menjadi semakin populer ketika kuartet Strasser,--empat wanita bersaudara--, menyanyikan lagu ini berkeliling di seluruh Austria. Tahun 1838, lagu ini sudah dikenal di Jerman sebagai "lagu tidak jelas asal-usulnya."

Di Amerika, lagu ini diperkenalkan oleh Rainers, sebuah keluarga penyanyi dari Tyrol dalam sebuah tur konser, tahun 1839. Seperempat abad kemudian, Jane Campbell menterjemahkan syairnya ke dalam bahasa Inggris. Tahun 1980, Yayasan Musik Gereja (Yamuger) menterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Syairnya sebagai berikut: "Malam kudus, sunyi senyap. Dunia terlelap. Hanya dua berjaga terus. Ayah Bunda mesra dan kudus. Anak tidur tenang."
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More

Menggugat Sinterklas

Berdasarkan hasil survei di Eropa dan Amerika, ternyata Sinterklas merupakan figur paling beken, setelah Yesus Kristus dan bunda Maria. Sayangnya meskipun terbilang ngetop, hanya sedikit orang yang mengatahui siapa sebenatnya Sinterklas ini. Bagaimana duduk perkaranya, sehingga dia bisa menjadi ikon di setiap perayaan Natal?
Sinterklas atau Santa Claus sesungguhnya adalah tokoh yang nyata dan pernah hidup yaitu, Santo Nicholas. Dia dilahirkan di Patara, Turki tahun 280 M. Ayahnya adalah seorang pedagang kaya dari Arab yang bernama Ephiphanius. Ibunya bernama Nonna. Dapat dikatakan, berdasarkan keturunan maupun tempat kelahiran, Nicholas adalah orang Arab.
Saat masih belia, dia sudah menjadi yatim piatu dan dibesarkan di biara. Pada usia 17 tahun, Nicholas sudah menjadi biarawan termuda. Pada usia itu, dia berziarah ke Pales­tina dan Mesir. Menurut legenda, dalam perjalanan itu kapalnya diterpa angin badai hingga salah satu tiang kapalnya patah, dan menimpa kepala seorang kelas kapal. Kelasi malang ini mati. Namun setelah didoakan oleh Nicholas, dia bisa hidup kembali. Nicholas muda juga berhasil menenangkan angin ribut itu. Berawal dari kisah ini, Nicholas di kemudian hari diangkat menjadi Santo (orang suci) pelindung para pelaut.
Pulang dari tanah suci, Nicholas diang­kat menjadi uskup Myra, Lycia. Pada masa itu, kaisar Romawi, Diocletes yang berkuasa melakukan penganiayaan terhadap orang Kristen. Uskup Nicholas dijebloskan dalam penjara. Akan tetapi ketika kaisar Konstantin Agung dan mendeklarasikan agama Kristen sebagai agama negara, Nicholas pun dibebaskan.

Menolong Gadis Miskin
Reputasi Nicholas sebagai sosok yang murah hati telah menciptakan legenda tentang perbuatan-perbuatan yang telah dilakukannya pada orang yang miskin tidak beruntung. Menurut legenda, Nicholas penah menolong tiga anak kecil yang dilukai oleh tukang jagal dan di­rendam dalam kolam air garam.
Cerita lain yang paling terkenal adalah ketika uskup Nicholas menolong tiga gadis miskin yang dipaksa menjadi pekerja seks, supaya bisa membayar mas kawin. Mendengar tragedi ini, Nicholas tergerak hatinya. Pada suatu malam, dia diam-diam merayap ke atap rumah keluarga miskin itu dan menjatuhkan sekantung uang emas melalui cerobong asap. Secara kebetulan, uang itu jatuh ke dalam kaos kaki yang sedang digantung di dekat perapian. Hal ini sempat diketahui oleh ayah dari ketiga gadis ini, yang lalu mengejarnya. Nicholas lalu berpesan supaya tidak menceritakan peristiwa ini, setidaknya selama dia (Nicholas) masih hidup. Kemungkinan, berawal dari kisah ini, lalu timbul kepercayan bahwa Sinterklas turun dari cerobong asap untuk memberi hadiah pada anak-anak.
Setelah wafat, jasad Nicholas dikuburkan di gereja Myra. Untuk menghormatinya, kaisar Romawi membangun gereja di Konstantinopel yang kemudian menjadi tempat peziarahan terkenal. Seperti dikisahkan sebelumnya, para pelaut sangat mengeramatkan Nicholas. Karena pada 9 Mei 1087, para pelaut dan pedagang Italia bertekad membongkar kuburan Nicholas dan memboyongnya ke Bari, Italia.
Pemindahan ini meningkat­kan popularitas Nicholas di Eropa, karena saat itu Bari sedang menjadi pusat perdagangan Eropa. Sebelum pemindahan, orang Italia percaya ada seorang nenek sihir bernama Befana. Dia mendapat tugas dari malaikat untuk memberi hadiah bagi bayi Yesus, tapi dia datang terlambat. Karena itu, Befana dihukum harus memberi hadiah pada anak-anak miskin setiap perayaan Natal. Rupanya para pemuka agama Italia tidak sreg dengan kepercayaan ini. Mereka lalu memutuskan untuk mengalihkan kepercayan pada Befana ini kepada Nicholas.

Iklan Coca-Cola
Setelah gerakan Reformasi gereja, reputasi Nicholas di kalangan gereja Protestan di Eropa mulai meredup. Beda halnya dengan yang di Belanda. Di negeri kincir angin inilah bemula legenda Sinterklaas ini (nama Belanda un­tuk Saint Nicholas). Perlahan-lahan figur Sinterklaas ini diadopsi oleh negara-negara lain yang mema­kai bahasa Inggris. Mereka menyebutnya Santa Claus, yang kemudian digabungkan dengan le­genda rakyat Nordic, yaitu seorang nujum yang menghukum anak-anak nakal dan memberi ha­diah pada anak-anak yang baik hati. Di sinilah lalu muncul tokoh Piet Hitam yang membawa karung untuk mengantongi anak-anak yang nakal.
Pendapat lain dikemukakan Herlianto. Menurutnya, figur Sinterklas merupakan campuran figur santo Nicholas dengan Odin, dewa yang disembah orang Norwegia. Gambaran mitologi Odini ini juga disertai dengan berbagai pertunjukan gaib dengan peri-peri yang membawa tongkat berujung bintang, yang bisa mendatangkan mukjizat.
Di Amerika, tradisi dan kepercayaan ini dibawa oleh koloni Belanda ketika mereka merantau ke New Amsterdam (sekarang New York City), abad ke-17. Di negeri paman Sam inilah figur Santa Claus mengalami pembiasan makna besar-besaran. Dengan sokongan modal dan kekuatan persebaran oleh media massa, Sinterklas telah berubah menjadi "tenaga pemasaran" yang menganjurkan konsumsi yang berlebihan di masa Natal. Ini tidak heran, karena karakter Santa Claus yang dikenal seluruh dunia selama ini, sesungguhnya merupakan hasil rekayasa Haddon Sundblom, manajer humas Coca Cola. Figur itu dibuat untuk keperluan iklan Coca-Cola (1931-1964). Iklan yang terpam­pang di majalah National Geographic ini menam­pilkan sosok Santa yang berjubah merah dengan hiasan bulu binatang berwarna putih di pinggirnya. Dia memakai sabuk dan sepatu boot kulit. Juga ber­janggut putih dan kantong goni penuh mainan yang tersampir di pundaknya
Ini sungguh ironis. Pada zaman ini, Santa Claus lebih senang nongkrong di supermal sambil memangku dan mengelus anak-anak orang berada ketimbang menolong orang yang kekurangan. Padahal jika St. Nicholas yang asli hidup di Indonesia, kemungkinan besar, dia memilih untuk diam-diam mendatangi barak-barak pengungsi korban konflik di Ambon, Poso atau Aceh. Mungkin dia juga akan mengunjungi para korban penggusuran di Jakarta.
Dalam perayaan Natal tahun ini, tepat bagi kita untuk melakukan demitologi atas sosok Sinterklas, untuk kembali meneladani St.Nicholas dalam hal kemurahan dan kepeduliannya terhadap sesama yang kurang beruntung. Bukankah itu juga makna kedatangan bayi Yesus yang sesungguhnya?
Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com
]
Read More